Dosen UNAND Dorong Keaktifan Masyarakat Perkuat Layanan Kesehatan Primer

Langgam.id – Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (UNAND), Yulizawati, mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam memperkuat layanan kesehatan primer. Menurutnya, keberhasilan pelayanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh fasilitas dan kemajuan teknologi, tetapi juga partisipasi masyarakat.

Gagasan tersebut disampaikan Yulizawati saat mempresentasikan hasil penelitiannya dalam International Conference on Health Sciences (ICHS) 2026 yang digelar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada 6–7 Agustus 2026.

Dalam forum internasional tersebut, Yulizawati mempresentasikan penelitian berjudul Strengthening Primary Health Care Through Community Empowerment and Cross-Sector Collaboration: A Community Engagement Initiative in Padang, Indonesia.

Yulizawati mengatakan berbagai persoalan kesehatan di Indonesia, seperti kesehatan ibu dan anak, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita, masalah gizi, penyakit tidak menular, hingga ketimpangan akses layanan kesehatan, membutuhkan pendekatan yang komprehensif, terintegrasi, dan berkelanjutan.

“Penguatan pelayanan kesehatan primer tidak hanya bergantung pada kemajuan teknologi maupun fasilitas kesehatan, tetapi juga pada keterlibatan aktif masyarakat melalui edukasi kesehatan, pemberdayaan keluarga, dan kolaborasi lintas sektor,” kata Yulizawati, dikutip Sabtu (8/8/2026).

Menurutnya, masyarakat perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan, bukan sekadar sebagai penerima layanan.

Salah satu strategi yang dinilai penting adalah edukasi kesehatan. Pendidikan kesehatan, kata Yulizawati, tidak cukup hanya dilakukan melalui penyampaian informasi satu arah.

Community education menjadi salah satu strategi penting dalam meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat untuk menjaga kesehatan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pendidikan kesehatan perlu diarahkan sebagai proses pemberdayaan yang mendorong masyarakat mengenali persoalan, potensi, sekaligus solusi kesehatan di lingkungan mereka.

Hasil penelitian yang dipresentasikan menunjukkan program pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan terpadu, kunjungan rumah, serta forum kemitraan lintas sektor mampu meningkatkan pengetahuan dan sikap masyarakat.

Peningkatan tersebut terutama terlihat dalam pemanfaatan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP), keluarga berencana, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita.

Intervensi tersebut juga meningkatkan perilaku masyarakat dalam keluarga berencana dan pemantauan tumbuh kembang balita. Namun, perubahan perilaku dalam pemanfaatan Posyandu ILP belum menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik.

Selain keterlibatan masyarakat, pemberdayaan perempuan, khususnya ibu dan bidan, juga dinilai memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas kesehatan keluarga dan masyarakat.

“Pemberdayaan perempuan, khususnya ibu dan bidan, memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas kesehatan keluarga dan masyarakat,” katanya.

Pendekatan tersebut sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 5 tentang kesetaraan gender, yang menempatkan perempuan sebagai aktor penting dalam pembangunan kesehatan.

Yulizawati juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, puskesmas, kader kesehatan, dan masyarakat.

“Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, puskesmas, kader kesehatan, dan masyarakat merupakan fondasi penting dalam mendukung keberlanjutan implementasi Integrasi Layanan Primer,” ujarnya.

Model pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan dalam penelitian tersebut dinilai memiliki potensi untuk diterapkan di daerah lain dengan karakteristik serupa guna memperkuat pelayanan kesehatan primer yang berorientasi pada masyarakat.

ICHS 2026 mempertemukan akademisi, praktisi, pembuat kebijakan, tokoh agama, pakar teknologi, serta mitra pembangunan dari berbagai negara. Konferensi tersebut mengangkat tema Health Technology Innovation, Religiosity, and Multisectoral Collaboration: Advancing Equity and Sustainability toward the SDGs.

Keikutsertaan Yulizawati dalam konferensi internasional tersebut menjadi bagian dari kontribusi UNAND dalam memperluas jejaring akademik global sekaligus mendiseminasikan hasil penelitian yang berkaitan dengan penguatan sistem kesehatan masyarakat.

Presentasi tersebut didukung pendanaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) atas nama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui EQUITY Program dengan Contract No. 4304/B3/DT.03.08/2025. (HER)

Tag:

Baca Juga

Dunia Kerja Berubah, FH UNAND Bahas RUU Ketenagakerjaan di Konferensi Nasional
Dunia Kerja Berubah, FH UNAND Bahas RUU Ketenagakerjaan di Konferensi Nasional
UNAND Resmikan Program Diaspora Berdampak, Perkuat Kolaborasi Riset Internasional
UNAND Resmikan Program Diaspora Berdampak, Perkuat Kolaborasi Riset Internasional
UNAND Terima Akreditasi LPH Pratama, Perkuat Layanan Sertifikasi Halal bagi UMKM
UNAND Terima Akreditasi LPH Pratama, Perkuat Layanan Sertifikasi Halal bagi UMKM
UNAND Terbitkan Buku Panduan Praktikum Biologi, Solusi Pembelajaran Sains di Sekolah Minim Laboratorium
UNAND Terbitkan Buku Panduan Praktikum Biologi, Solusi Pembelajaran Sains di Sekolah Minim Laboratorium
Hutan Nagari Dinilai Jadi Kunci Hadapi Perubahan Iklim, Dosen UNAND Dorong Perdagangan Karbon
Hutan Nagari Dinilai Jadi Kunci Hadapi Perubahan Iklim, Dosen UNAND Dorong Perdagangan Karbon
Jadi Pembicara di Forum China-ASEAN Youth Community, Rektor UNAND Bahas Pemanfaatan AI yang Bertanggung Jawab
Jadi Pembicara di Forum China-ASEAN Youth Community, Rektor UNAND Bahas Pemanfaatan AI yang Bertanggung Jawab