Langgam.id — Rutinitas Nayla Irza Ramadhani nyaris tak mengenal kata santai. Enam hari dalam sepekan, siswi SMA Semen Padang itu menghabiskan waktunya untuk belajar, baik di sekolah maupun di sejumlah tempat bimbingan belajar.
Usai mengikuti pelajaran di sekolah, Nayla kembali melanjutkan aktivitasnya dengan mengikuti les matematika, kimia, dan fisika di tempat yang berbeda. Hari Minggu menjadi satu-satunya waktu baginya untuk beristirahat.
Bagi Nayla, jadwal padat itu bukan beban. Sebaliknya, belajar telah menjadi bagian dari kesehariannya sekaligus jalan untuk mengejar cita-cita menjadi seorang ilmuwan.
“Saya memang tidak bisa bermalas-malasan. Rasanya tidak nyaman kalau tidak ada kegiatan. Karena itu, saya selalu mencari aktivitas di luar rumah, salah satunya mengikuti les dari Senin sampai Sabtu,” ujar Nayla saat ditemui di SMA Semen Padang.
Kedisiplinan yang dijalaninya selama bertahun-tahun mulai membuahkan hasil. Lulusan SMA Semen Padang Tahun Pelajaran 2025/2026 itu berhasil diterima di sejumlah perguruan tinggi bergengsi, baik di dalam maupun luar negeri.
Di Indonesia, Nayla lolos di Program Studi Farmasi Universitas Andalas (UNAND), Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad), serta memperoleh tawaran beasiswa untuk Program Studi Kedokteran President University.
Tak hanya itu, peluang juga datang dari luar negeri. Nayla dinyatakan lolos seleksi ke Monash University, Australia, untuk bidang penelitian sains. Sementara dari The University of Hong Kong, ia masuk dalam daftar tunggu (waiting list) untuk program biomedis.
Meski demikian, perjalanan Nayla belum sepenuhnya selesai. Ia masih menunggu hasil Program Beasiswa Garuda yang dijadwalkan diumumkan pada Agustus 2026 sebagai penentu keberangkatannya ke Australia.
“Untuk Monash University, saya masih menunggu hasil Beasiswa Garuda. Kalau mendapat beasiswa penuh, saya ingin melanjutkan studi di Australia,” katanya.
Hal serupa juga berlaku untuk peluangnya di The University of Hong Kong. Menurut Nayla, kepastian diterima di kampus tersebut juga bergantung pada dukungan pembiayaan melalui beasiswa.
Memilih Jalan yang Paling Realistis
Di tengah berbagai pilihan yang dimiliki, Nayla memilih tetap melakukan daftar ulang di Program Studi Farmasi UNAND. Keputusan itu diambil agar dirinya tetap dapat melanjutkan pendidikan tanpa membebani kondisi keuangan keluarga apabila beasiswa luar negeri belum berhasil diraih.
“Saya bersyukur atas semua kesempatan yang diperoleh. Saya memilih UNAND karena ingin tetap kuliah tanpa membebani orang tua. Namun, saya tetap berharap bisa memperoleh beasiswa penuh ke Monash University,” ujarnya.
Baginya, kuliah di UNAND merupakan pilihan yang aman sekaligus berkualitas. Namun, impian menimba ilmu di kampus internasional tetap menjadi target yang ingin diwujudkannya.
“Kalau belum diterima tahun ini, saya akan mencoba lagi. Kalau memang belum rezeki, berarti jalan terbaik saya ada di pilihan yang sekarang,” katanya.
Bermimpi Menjadi Ilmuwan
Australia menjadi negara yang paling ingin dituju Nayla. Selain memiliki universitas bereputasi internasional, lokasinya yang relatif dekat dengan Indonesia membuatnya lebih percaya diri menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di luar negeri.
“Saya memilih Monash University karena kampusnya bagus dan Australia dekat dengan Indonesia. Jadi saya tidak terlalu takut pergi sendiri dibanding harus ke Eropa atau Amerika. Begitu juga Hong Kong yang masih di kawasan Asia. Selain itu saya juga sudah menguasai bahasa Mandarin,” ujarnya.
Keinginan melanjutkan studi ke luar negeri, kata Nayla, juga mendapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya. Mereka aktif membantu mencari informasi mengenai universitas, proses pendaftaran, hingga berbagai peluang beasiswa.
“Orang tua ikut membantu mencari informasi, menyiapkan dokumen, sampai akun pendaftaran. Dukungan mereka sangat berarti bagi saya,” katanya.
Bahasa Asing Jadi Modal
Selain fokus pada akademik, Nayla juga membekali diri dengan kemampuan bahasa asing. Saat ini ia menguasai bahasa Inggris dan Mandarin sebagai bekal untuk beradaptasi di lingkungan internasional.
Selama bersekolah di SMA Semen Padang, Nayla mencatatkan nilai rata-rata rapor 94 dan konsisten berada di lima besar di kelas.
Ia pun berpesan kepada pelajar lain agar tidak takut mencoba kesempatan kuliah di luar negeri.
“Jangan takut mencari informasi dan jangan takut kuliah di luar negeri. Sekarang banyak program beasiswa. Yang penting kita juga meningkatkan kemampuan, terutama bahasa asing,” ujarnya.
Dukungan Sekolah
Nayla mengaku lingkungan SMA Semen Padang menjadi salah satu faktor yang mendukung perkembangannya.
“Lingkungan SMA Semen Padang sangat suportif, termasuk para gurunya. Saya merasa nyaman bersekolah di sini,” katanya.
Kepala SMA Semen Padang, Moethia Varina Oemar, mengatakan keberhasilan Nayla merupakan hasil kerja keras siswa yang didukung keluarga, guru, sekolah, dan yayasan.
“Prestasi Nayla menunjukkan bahwa dengan disiplin dan semangat belajar yang tinggi, siswa mampu bersaing hingga memperoleh kesempatan di berbagai perguruan tinggi unggulan,” ujarnya.
Moethia berharap pencapaian tersebut menjadi motivasi bagi siswa lain untuk terus bermimpi besar dan berani bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Apresiasi juga disampaikan Ketua Yayasan Semen Padang Schools, Hasfi Rafiq. Menurutnya, keberhasilan Nayla menjadi bukti pentingnya kolaborasi antara sekolah, yayasan, guru, orang tua, dan peserta didik dalam membangun pendidikan yang berkualitas.
“Semoga keberhasilan Nayla menjadi inspirasi bagi seluruh siswa SMA Semen Padang untuk terus belajar, berinovasi, dan mengukir prestasi terbaik,” katanya.
Sementara itu, ayah Nayla, Irwan Kartadi Putra, mengaku bangga atas pencapaian putrinya. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan buah dari kerja keras, doa, serta kedisiplinan yang dibangun sejak lama.
“Bagi kami, keberhasilan Nayla bukan hanya diterima di berbagai perguruan tinggi bergengsi, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati, mandiri, dan memahami kondisi keluarga,” ujarnya.
Kini Nayla masih menunggu hasil Beasiswa Garuda yang akan menentukan langkah berikutnya. Apa pun hasilnya, ia telah membuktikan bahwa kerja keras, disiplin, dan keberanian bermimpi mampu membuka jalan hingga ke kampus-kampus terbaik di Indonesia maupun dunia. (HER)






