Harga Ketidakpastian Ruang Kebijakan Moneter

Harga Ketidakpastian Ruang Kebijakan Moneter

Syafruddin Karimi. (Foto: Ist)

Pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia bukan sekadar pergantian pejabat. Peristiwa ini muncul ketika rupiah bergerak di sekitar Rp18.000 per dolar AS, BI-Rate telah mencapai 5,75%, yield SBN masih tinggi, dan pasar sedang menilai ulang risiko Indonesia. Karena itu, pasar tidak hanya bertanya siapa yang akan memimpin BI, tetapi juga apakah arah kebijakan moneter tetap konsisten, independen, dan berbasis data.

Respons intraday pada 27 Juli 2026 memberi pesan yang cukup jelas. IHSG berakhir naik tipis sekitar 0,09% dari posisi awal, sedangkan rupiah melemah sekitar 0,31% hingga Rp18.005 per dolar AS. Perbedaan arah ini menunjukkan bahwa pasar saham mampu bertahan melalui dukungan investor domestik dan aksi teknis, sedangkan pasar valas tetap memasukkan premi ketidakpastian. Stabilitas indeks belum mencerminkan pemulihan kepercayaan secara menyeluruh.

Pasar juga tidak memperlakukan seluruh aset secara sama. IDX Infrastructure melemah sekitar 0,84%, jauh lebih dalam dibandingkan IHSG. Investor mulai menghitung dampak biaya dana tinggi, depresiasi rupiah, dan risiko pembiayaan jangka panjang terhadap sektor padat modal. Banyak proyek infrastruktur bergantung pada utang, barang modal impor, serta kepastian dukungan fiskal. Ketika rupiah melemah dan suku bunga bertahan tinggi, biaya proyek naik, arus kas tertekan, dan valuasi saham turun.

Kinerja sektor keuangan memberi sinyal yang berbeda. Indeks finansial relatif bertahan karena pasar tidak melihat gangguan sistemik pada perbankan. Bank besar masih memiliki kapasitas likuiditas dan dapat memperoleh manfaat dari pendapatan bunga. Meski begitu, suku bunga tinggi juga meningkatkan biaya deposito, menekan permintaan kredit, dan memperbesar risiko penurunan kualitas aset. Karena itu, ketahanan saham perbankan tidak boleh dibaca sebagai tanda bahwa transisi kepemimpinan BI bebas risiko.

Rupiah memberikan sinyal yang lebih keras. Nilai tukar langsung mencerminkan arus modal, kebutuhan devisa, ekspektasi suku bunga, dan kepercayaan terhadap bank sentral. Ketika kurs bergerak melewati Rp18.000, pasar sedang menguji kredibilitas kebijakan, bukan sekadar level teknikal. BI dapat menahan tekanan melalui intervensi valas, pengelolaan likuiditas, dan suku bunga tinggi. Setiap langkah membawa biaya. Intervensi mengurangi ruang cadangan devisa, pengetatan likuiditas meningkatkan biaya dana, sedangkan suku bunga tinggi memperlambat investasi dan konsumsi.

Pengunduran diri Perry juga mempersempit ruang kebijakan moneter. Jika BI menaikkan suku bunga, pasar dapat membaca langkah itu sebagai pembelaan terhadap rupiah dan upaya menjaga kredibilitas. Jika BI menurunkan suku bunga, pasar dapat mencurigai adanya tekanan politik untuk mendorong pertumbuhan. Jika BI menahan suku bunga, investor tetap menuntut penjelasan yang kuat mengenai inflasi, arus modal, cadangan devisa, dan stabilitas kurs. Setiap pilihan kini membawa beban persepsi yang lebih besar.

Masalah utama akhirnya terletak pada proses suksesi. Pemerintah perlu memilih gubernur baru berdasarkan kompetensi moneter, pemahaman pasar keuangan, keberanian menjaga stabilitas, dan kemampuan mempertahankan jarak institusional dari kepentingan politik. Kandidat yang kredibel dapat menurunkan tekanan pada rupiah, CDS, dan yield SBN. Kandidat yang dipersepsikan terlalu dekat dengan pusat kekuasaan dapat memperbesar kekhawatiran tentang dominasi fiskal.

Pasar dapat menerima pergantian orang. Pasar sulit menerima perubahan aturan permainan. Karena itu, pemilihan gubernur BI berikutnya akan menentukan apakah tekanan saat ini hanya bersifat sementara atau berubah menjadi biaya struktural bagi rupiah, pembiayaan negara, dan investasi nasional.

*Penulis: Syafruddin Karimi (Guru Besar Departemen Ekonomi, FEB, Universitas Andalas)

Baca Juga

Bangsa-Negara (Nation-State) di dunia dan negara dalam system modern, jarang ditemukan runtuh karena miskin senjata. Bangsa dan negara
Londo Ireng dan Fatsoen Politik
Sehatkah Pendidikan Tinggi Indonesia?
Sehatkah Pendidikan Tinggi Indonesia?
Ekspor Satu Pintu
Ekspor Satu Pintu
Jalan Tol: Hasrat Hegemonik Negara dan Kebutaan atas Ruang Hidup
Jalan Tol: Hasrat Hegemonik Negara dan Kebutaan atas Ruang Hidup
Lentera Otoritas, Angin Kekuasaan
Lentera Otoritas, Angin Kekuasaan
Gagasan mencari kepala daerah yang dapat melobi pemerintah pusat merupakan gagasan demokrasi yang sesat, atau defisit demokrasi kata ilmuan
Dari Idealisme Romantis, Penetrasi Virtual, Hingga Keadilan Epistemologis