Langgam.id – PT KAI Divre II Sumatera Barat menilai jaringan rel kereta api di Sumbar memiliki posisi strategis dalam mendukung penguatan konektivitas Pulau Sumatra. Selain memiliki nilai sejarah, infrastruktur perkeretaapian yang telah terbangun dinilai masih menyimpan potensi besar untuk dikembangkan guna menunjang mobilitas masyarakat, pariwisata, hingga distribusi logistik.
Kepala Humas KAI Divre II Sumbar Reza Shahab mengatakan, sejarah panjang perkeretaapian di Sumbar menjadi modal penting dalam mendukung arah kebijakan nasional memperkuat konektivitas berbasis transportasi rel di Pulau Sumatra.
Menurutnya, rel kereta api di Sumbar tidak hanya menjadi bagian dari sejarah pembangunan daerah, tetapi hingga kini tetap dimanfaatkan masyarakat sebagai sarana transportasi menuju sekolah, tempat kerja, bandara, pusat ekonomi, hingga destinasi wisata.
“Perkeretaapian di Sumatera Barat memiliki nilai strategis, tidak hanya dari sisi sejarah, tetapi juga manfaat yang terus dirasakan masyarakat. Kereta api mendukung mobilitas harian, sektor pariwisata, distribusi logistik, hingga akses menuju bandara. Hal ini menunjukkan transportasi berbasis rel masih memiliki ruang yang sangat besar untuk terus dikembangkan,” kata Reza, Selasa (21/7/2026).
Ia menjelaskan, jaringan rel di Sumbar mulai dibangun pada akhir abad ke-19 untuk mendukung pengangkutan batu bara dari Ombilin menuju Pelabuhan Emmahaven atau kini Teluk Bayur. Seiring waktu, jaringan tersebut berkembang menghubungkan Padang, Pariaman, Kayu Tanam, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh, Solok hingga Sawahlunto.
Saat ini, KAI Divre II Sumbar mengelola jaringan rel sepanjang 312,232 kilometer spoor (kmsp), yang terdiri dari 110,910 kmsp jalur aktif dan 201,322 kmsp jalur nonaktif. Operasional didukung 20 stasiun dan shelter penumpang serta empat stasiun angkutan barang.
Layanan penumpang saat ini dilayani melalui KA Pariaman Ekspres, KA Minangkabau Ekspres, dan KA Lembah Anai. Sementara angkutan barang melayani distribusi semen dan klinker pada relasi Indarung–Bukit Putus.
Kepercayaan masyarakat terhadap moda transportasi kereta api juga terus meningkat. Sepanjang semester I 2026, KAI Divre II Sumbar melayani 1.140.586 pelanggan. Pada periode yang sama, volume angkutan barang mencapai 556.465 ton yang terdiri dari 362.740 ton semen dan 193.725 ton klinker.
Dalam lima tahun terakhir, jumlah pelanggan kereta api di Sumbar meningkat signifikan. Dari sekitar 1,09 juta pelanggan pada 2021, jumlahnya naik menjadi 1.978.241 pelanggan pada 2025 atau tumbuh sekitar 81 persen. KA Pariaman Ekspres masih menjadi layanan dengan jumlah pelanggan terbanyak, sementara KA Lembah Anai juga mencatat peningkatan setelah penyesuaian relasi perjalanan pada 2026.
Menurut Reza, besarnya potensi tersebut juga didukung pertumbuhan sektor pariwisata Sumbar. Sejumlah destinasi seperti Jam Gadang, Danau Singkarak, Sawahlunto, Padang Panjang, dan Bukittinggi dinilai memiliki peluang semakin terkoneksi melalui transportasi berbasis rel.
Di sisi lain, jalur nonaktif seperti Naras–Sungai Limau, Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi hingga Solok–Muaro Kalaban juga dinilai berpotensi direaktivasi pada masa mendatang.
“Apabila pengembangan jaringan maupun reaktivasi jalur dapat direalisasikan secara bertahap sesuai perencanaan pemerintah, kami optimistis kereta api akan semakin berperan dalam memperkuat konektivitas antardaerah, meningkatkan efisiensi logistik, memperluas akses menuju kawasan wisata, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata,” ujarnya.
Ia menambahkan, KAI Divre II Sumbar siap mendukung pengembangan perkeretaapian sebagai bagian dari pembangunan transportasi nasional yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan. (HER)






