Langgam.id – Perumda Air Minum (AM) Kota Padang memastikan proses rehabilitasi Instalasi Pengolahan Air (IPA) Gunung Pangilun masih terus berlangsung. Selama proses tersebut, sekitar 50.000 pelanggan yang berada di wilayah pusat Kota Padang terdampak penurunan kualitas layanan, mulai dari air yang keruh, berwarna kecokelatan, berbau, hingga debit yang mengecil.
Dalam beberapa pekan terakhir, keluhan pelanggan terkait kualitas air bersih ramai disampaikan melalui media sosial maupun layanan pengaduan Perumda AM. Sejumlah warga mengeluhkan air yang tidak layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, terutama untuk memasak dan minum.
Direktur Utama Perumda AM Padang, Hendra Pebrizal, mengakui pihaknya menerima banyak laporan dari masyarakat terkait kondisi tersebut. Menurutnya, persoalan itu tidak terlepas dari usia dan kondisi IPA Gunung Pangilun yang sudah beroperasi hampir 70 tahun, dan memerlukan perbaiki menyeluruh.
“Kami menerima berbagai laporan dari masyarakat terkait kondisi air PDAM. Ada yang airnya keruh, debitnya kecil, dan berbagai keluhan lainnya. Kami mengakui memang banyak kendala, terutama di IPA Gunung Pangilun. Untuk itu kami dari manajemen meminta maaf dan mengupayakan secepat mungkin kondisi ini kembali normal,” kata Hendra, Jumat (10/7/2026).
Ia menjelaskan, IPA Gunung Pangilun dibangun pada 1957 dengan desain yang disesuaikan dengan tingkat kekeruhan air baku pada masa itu.
“Dengan usia yang sudah cukup tua, banyak peralatan yang kini rapuh dan tidak lagi mampu mengolah air secara optimal saat tingkat kekeruhan sungai meningkat drastis,” ujarnya.
Saat ini Perumda AM bersama pemerintah tengah melakukan rehabilitasi Intake Kampung Koto dan IPA Gunung Pangilun. Proyek tersebut sudah dimulai sejak 22 Desember 2025 dan ditargetkan selesai pada 22 Desember 2026.
Menurut Hendra, pekerjaan yang sedang dilakukan meliputi perbaikan alat pemurnian air di Intake Kampung Koto, rehabilitasi 12 unit filter di IPA Gunung Pangilun yang 10 unit di antaranya telah selesai, serta perbaikan peralatan lainnya.
“Kami tetap berupaya menyalurkan air kepada pelanggan sesuai kemampuan instalasi yang ada sambil proses perbaikan terus berjalan,” katanya.
Direktur Teknik Perumda AM Padang, Andri Satria, mengatakan kerusakan di IPA Gunung Pangilun memang cukup besar, sehingga tidak mampu mengolah air secara optimal.
Apalagi, ketika cuaca buruk dengan intensitas hujan tinggi yang menyebabkan tingkat kekeruhan tinggi dan keasaman juga meningkat.
Ia mengungkapkan sekitar 90 persen sumber air baku Perumda AM berasal dari sungai yang kualitasnya sangat dipengaruhi kondisi cuaca.
“Karakteristik air baku kita saat ini memang kualitasnya cukup rendah dengan tingkat kekeruhan yang tinggi karena cuaca. Karena itu, instalasi yang ada saat ini juga tidak lagi mampu mengolah air secara maksimal ketika kondisi sungai memburuk,” ujarnya.
Ia menjelaskan, IPA Gunung Pangilun melayani sekitar 50.000 pelanggan yang berada di kawasan pusat Kota Padang. Saat ini Perumda AM melayani lebib dari 150.000 pelanggan atau baru mencakup 51 persen rumah tangga di Kota Padang.
Menurutnya, percepatan rehabilitasi IPA dan intake sebenarnya bisa dilakukan, namun konsekuensinya distribusi air harus dihentikan total selama dua hingga tiga bulan.
“Kami memilih tetap mengalirkan air meskipun kualitasnya menurun daripada pelanggan sama sekali tidak mendapatkan air. Untuk sementara, khusus pelanggan yang dilayani IPA Gunung Pangilun, kami menyarankan air tidak digunakan untuk diminum sampai kualitasnya kembali normal,” katanya.
Untuk meringankan pelanggan, Perumda AM juga terus menyalurkan bantuan air bersih menggunakan mobil tangki kepada pelanggan yang terdampak.
Hendra mengimbau pelanggan yang membutuhkan bantuan air bersih segera menghubungi call center atau media sosial resmi Perumda AM Padang dengan menyertakan ID pelanggan dan nomor kontak.
“Kami akan menyalurkan air bersih secara gratis kepada pelanggan yang membutuhkan,” katanya. (HER)






