Langgam.id – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumatera Barat mengingatkan sejumlah faktor yang berpotensi memicu kenaikan inflasi pada paruh kedua 2026. Salah satu risiko yang perlu diantisipasi adalah dampak El Nino yang dapat mengganggu produksi komoditas pangan dan memengaruhi stabilitas harga di Sumbar.
Kepala Perwakilan BI Sumatera Barat, Mohamad Abdul Madjid Ikram, mengatakan meski inflasi Sumbar hingga Juni 2026 masih terkendali, berbagai potensi risiko tetap perlu diwaspadai agar sasaran inflasi nasional tetap dapat tercapai.
“Inflasi Sumatera Barat secara akumulatif masih terjaga sehingga kami memprakirakan inflasi tahun 2026 tetap berada dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen. Namun, terdapat sejumlah risiko yang harus terus diantisipasi, salah satunya potensi kenaikan harga pangan akibat dampak El Nino,” katanya dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (4/7/2026).
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Sumatera Barat pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,50 persen secara bulanan (month to month/mtm), lebih rendah dibandingkan Mei yang mencapai 0,90 persen. Secara kumulatif Januari hingga Juni 2026, inflasi Sumbar masih berada di level 0,98 persen.
Menurut Ikram, dampak El Nino berpotensi memengaruhi pasokan sejumlah komoditas pangan dari daerah pemasok yang selama ini menjadi sumber kebutuhan masyarakat Sumbar. Kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan harga apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Selain El Nino, BI juga mencermati sejumlah risiko lainnya, seperti kenaikan harga energi global, gangguan rantai pasok, meningkatnya biaya logistik, potensi keluarnya komoditas pangan ke daerah lain akibat disparitas harga, bencana alam, hingga pelemahan nilai tukar rupiah yang dapat memicu imported inflation.
Meski demikian, BI optimistis tekanan inflasi tetap dapat dikendalikan melalui penguatan sinergi bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Ikram menjelaskan, pengendalian inflasi akan difokuskan pada penguatan pasokan, kelancaran distribusi, serta pengelolaan ekspektasi masyarakat. Langkah yang dilakukan antara lain mempercepat rekonstruksi sarana dan prasarana pascabencana untuk mendukung distribusi barang, mengintensifkan operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM), mengoptimalkan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) berbasis neraca pangan, serta memperkuat ketahanan produksi hortikultura melalui pengembangan urban farming dan kelompok tani.
Di sisi lain, tekanan inflasi pada Juni 2026 tercatat mulai melandai. Perlambatan terutama dipengaruhi menurunnya tekanan pada kelompok bahan pangan bergejolak (volatile food), seiring turunnya harga cabai merah serta berlanjutnya penurunan harga daging ayam ras dan telur ayam ras.
Sementara itu, tekanan inflasi pada Juni berasal dari kelompok transportasi, terutama akibat penyesuaian harga BBM non-subsidi dan meningkatnya tarif angkutan udara selama periode libur sekolah.
“Ke depan, sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan seluruh anggota TPID akan terus diperkuat agar inflasi tetap terkendali, sehingga daya beli masyarakat dan momentum pemulihan ekonomi Sumatera Barat tetap terjaga,” ujar Madjid. (HER)





