Langgam.id – Tumpukan ban bekas yang selama ini identik dengan limbah kini mendapat kehidupan kedua di pesisir Teluk Kabung Tengah, Kota Padang, Sumatera Barat. Sebanyak 100 unit ban bekas mobil tangki dimanfaatkan sebagai alat pemecah ombak untuk membantu menahan laju abrasi yang terus mengancam kawasan pantai tersebut.
Program yang diberi nama Appostraps (Alat Pemecah, Peredam Ombak, dan Sedimen Traps) itu merupakan inisiatif PT Elnusa Petrofin dalam mengubah limbah operasional menjadi solusi lingkungan bagi masyarakat pesisir.
Di Teluk Kabung Tengah, ban-ban bekas tersebut tidak dibiarkan menjadi sampah. Ban disusun membentuk struktur tertentu yang berfungsi meredam energi gelombang laut sekaligus menjebak sedimen yang terbawa arus. Dengan cara itu, laju pengikisan pantai dapat diperlambat secara alami.
Kawasan Teluk Kabung selama ini menjadi salah satu wilayah pesisir di Kota Padang yang rentan terhadap abrasi. Gelombang laut yang terus menerjang garis pantai tidak hanya menggerus daratan, tetapi juga berpotensi mengancam aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada kawasan pesisir.
Manager Corporate Communication & Relation PT Elnusa Petrofin, Putiarsa Bagus Wibowo, mengatakan program Appostraps lahir dari semangat perusahaan untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas dari setiap aktivitas operasional yang dijalankan.
“Melalui Appostraps, kami berupaya menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan mengubah ban bekas armada mobil tangki menjadi sarana perlindungan pesisir. Kami ingin memastikan bahwa limbah operasional yang masih memiliki nilai guna dapat dimanfaatkan kembali untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” ujarnya, Selasa (2/6/2026).
Menurut Putiarsa, program tersebut merupakan bagian dari komitmen keberlanjutan perusahaan yang dijalankan melalui pilar lingkungan #PetrofinResik. Tidak hanya berfokus pada pengelolaan limbah, Elnusa Petrofin juga mendorong berbagai program konservasi, termasuk penanaman pohon dan pengurangan sampah plastik.
“Keberlanjutan bukan hanya tentang menjaga operasional perusahaan tetap berjalan, tetapi juga bagaimana kami dapat berkontribusi terhadap upaya pelestarian lingkungan. Karena itu, setiap program dirancang agar memberikan dampak yang terukur dan berkelanjutan bagi masyarakat,” katanya.
Pemanfaatan ban bekas sebagai pemecah ombak menawarkan alternatif yang relatif sederhana dan berbiaya rendah dibandingkan pembangunan struktur pelindung pantai permanen. Selain itu, program ini sekaligus mengurangi jumlah limbah ban yang dihasilkan dari operasional armada distribusi bahan bakar.
Dari sisi lingkungan, keberadaan struktur Appostraps diharapkan tidak hanya mengurangi dampak abrasi, tetapi juga membantu proses pembentukan sedimentasi yang dapat mendukung pemulihan ekosistem pesisir dalam jangka panjang.
Program di Teluk Kabung menjadi lokasi pertama penerapan Appostraps sebelum kemudian direplikasi di sejumlah daerah lain, termasuk Balikpapan dan Poso. Inovasi tersebut menunjukkan bahwa solusi terhadap persoalan lingkungan tidak selalu harus berbiaya mahal, tetapi dapat dimulai dari pemanfaatan limbah yang selama ini kerap dipandang tidak bernilai.
“Harapannya, program ini dapat menjadi contoh bahwa limbah dapat dikelola secara kreatif dan produktif. Kami percaya kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan solusi lingkungan yang berkelanjutan,” tutur Putiarsa.
Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan kerusakan kawasan pesisir, langkah sederhana seperti mengubah ban bekas menjadi benteng abrasi memberi pesan bahwa keberlanjutan dapat lahir dari inovasi yang dekat dengan aktivitas sehari-hari.






