Hasil Lab Ada Bakteri Bacillus Cereus, Kasus 25 Anak Keracunan Bakso Tusuk di Pasbar Berakhir Damai 

Hasil Lab Ada Bakteri Bacillus Cereus, Kasus 25 Anak Keracunan Bakso Tusuk di Pasbar Berakhir Damai 

Polisi dan warga mendatangi rumah pedagang boksu tusuk usai puluhan anak keracunan. (Foto: Polsek Sungai Beremas)

Langgam.id – Kasus dugaan keracunan 25 anak usai menyantap bakso tusuk yang dijual seorang pedagang gerobak, berakhir damai. Peristiwa ini terjadi di Jorong Pigogah Patibubur, Nagari Air Bangis, Kecamatan Sungai Beremas, Kabupaten Pasaman Barat, 15 April 2026. 

Meskipun hasil laboratorium uji sampel muntahan para korban ditemukan bakteri bacillus cereus, pihak keluarga korban memilih tidak perkarakan dan melaporkan pedagang bakso tusuk berinisial H (40) tersebut ke polisi.

Kapolsek Sungai Beremas, AKP Elvis Susilo mengakui tidak ada satu pun keluarga korban yang membuat laporan polisi terkait peristiwa itu. 

“Orang tua sudah membuat surat pernyataan tidak menuntut secara hukum,” ujar Elvis kepada Langgam.id, Senin (25/5/2026).

Ia menjelaskan, pihak kepolisian telah melakukan penanganan awal dan berkoordinasi dengan pihak puskesmas setempat. Namun karena tidak ada laporan resmi dari keluarga korban, maka pedagang bakso dipulangkan ke pihak keluarganya.

“Tidak ada masukan laporan oleh pihak keluarga, tukang bakso sudah dipulangkan,” ujarnya.

Menurut Elvis, keputusan untuk melanjutkan proses hukum tetap berada pada kewenangan penyidik. Namun pihak keluarga korban memilih untuk menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan.

“Keluarga korban memilih jalur damai,” ungkapnya.  

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Pasaman Barat, Gina Alecia, bakteri bacillus cereus dapat menyebabkan gejala mual, muntah hingga diare. Ia menjelaskan, bakteri ini kemungkinan kontaminasi karena penyimpanan daging yang tidak baik, mulai dari penjemputan di penggilingan sampai ke rumah. 

“Kemudian bisa juga karena daging disimpan tidak di pendingin sampai di rumah, atau disimpan di kulkas yang suhunya kurang dingin dan tidak di freezer serta diolah pada dini hari dan pagi hari,” jelasnya.  

Selain itu, kata Gina, wadah tempat penyimpanan daging di dalam kulkas tidak tertutup juga bisa menjadi penyebab. Termasuk, wadah penyimpanan bakso di gerobak pada kotak yang kemungkinan sudah terkontaminasi oleh bahteri.

“Selanjutnya proses pembakaran bakso tusuk dilakukan hanya sebentar, kemungkinan tidak membunuh bahteri. Serta makanan yang disiapkan dibungkus menggunakan plastik dalam keadaan masih panas, dan sudah terkontaminasi oleh bahteri,” katanya. 

Lanjut Gina, Dinas Kesehatan Pasaman Barat akan memberikan penyuluhan kepada pedagang bakso bakar tusuk tentang keamanan pangan dan tatalaksana pengolahan makanan. Sehingga kejadian serupa tidak terulang kembali.  

“Kami berikan pembinaan kepada pedagang mulai dari bagaimana pemilihan bahan baku, proses pemasakan, pendistribusian, dan penyimpanan makanan. Selanjutnya, pembinaan tentang hygiene sanitasi makanan serta penjamah makanan oleh seksi penyehatan,” imbuhnya. (WAN) 

Baca Juga

BPOM Padang menduga penyebab keracunan puluhan siswa SDN 29 Gunung Sariak, Kecamatan Kuranji, Kota Padang karena mikroba.
Update Kasus 25 Anak Keracunan Bakso Tusuk di Pasaman Barat, Hasil Lab Ditemukan Bakteri Bacillus Cereus
Polisi saat mendatangi lokasi kejadian tiga remaja di Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, diduga menjadi korban keracunan asap genset. (Dok. Polisi)
7 Fakta Kematian Tragis Dua Pelajar di Tanah Datar, Diduga Keracunan Asap Genset Saat Mati Listrik Massal
Ilustrasi jenazah. (Dok. Langgam.id)
Petaka Asap Genset di Tanah Datar Saat Mati Listrik Massal, Dua Pelajar Meninggal Beda Sekolah
Ilustrasi jenazah. (Dok. Langgam.id)
Tragisnya Kematian Dua Santri Diduga Keracunan Asap Genset di Tanah Datar, Cas HP Saat Lampu Mati Massal
keracunan
Polisi Benarkan Dua Orang Meninggal Diduga Akibat Keracunan Asap Genset di Pandai Sikek
Kondisi Bus ALS usai kecelakaan. (Foto: Polres Pasaman Barat)
Kronologi Bus ALS Tabrak Pelajar hingga Meninggal di Pasaman Barat