Langgam.id – Nama Ketua DPRD Limapuluh Kota, Doni Ikhlas, belakang jadi sorotan usai polemik mobil dinasnya dipakai sang istri untuk ke kampus. Tidak sendiri, istri Doni berangkat bersama tiga orang temannya.
Bahkan, mobil dinas merek Toyota Camry warna hitam itu juga dikendarai oleh teman istri Doni. Mereka merekam suasana perjalanan sambil bercanda, melintasi jalan nasional hingga memasuki ruas Tol Padang–Sicincin.
Lalu, siapa sebenarnya Doni? Berikut profil singkatnya yang dirangkum Langgam.id dari berbagi sumber.
Doni cukup berpengalaman di legislatif. Ia telah duduk jadi wakil rakyat sejak periode 2019-2024. Selanjutnya, ia berhasil menjabat kembali dengan posisi sebagai Ketua DPRD Limapuluh Kota untuk periode 2024–2029.
Doni merupakan anak mantan Bupati Limapuluh Kota, Safaruddin. Karir politik pria kelahiran Payakumbuh ini cukup bagus, kini ia menjabat Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Limapuluh Kota.
Sebelum memiliki riwayat karir yang matang di dunia legislatif, Doni pernah menjabat sebagai Direktur di CV Andesbar (2008–2017). Untuk organisasi daerah, ia pernah jabat Ketua Karang Taruna dan Kormi Kabupaten Limapuluh Kota.
Kemudian, ia maju sebagai calon legislatif pada Pileg 2024 untuk dapil lima yang meliputi Kecamatan Gunung Omeh, Bukit Barisan dan Suliki. Doni berhasil meraup 4.249 suara sah ketika itu.
Terkait mobil dinasnya dipakai istri, Doni telah menyampaikan permohonan maaf kepada publik, khususnya masyarakat Kabupaten Lima Puluh Kota. Ia menyebutkan, kejadian itu berlangsung pada Sabtu (23/5/2026).
“Saya meminta maaf kepada publik, khususnya masyarakat Lima Puluh Kota atas kelalaian saya,” kata Doni dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).
Ia menjelaskan, mobil dinas terpaksa dipakai istrinya lantaran sopir pribadi sedang pulang kampung karena sakit. Sehingga si sopir tidak bisa masuk kerja pada hari itu.
“Di saat bersamaan, saya juga sedang di luar kota untuk keperluan dinas, dan istri saya ada keperluan ke kampus untuk urusannya. Rencananya, saya akan sama-sana untuk pulang dijemput dari luar kota sama istri saya,” jelasnya.
Doni menegaskan, istri dan teman-temannya tidak ada maksud untuk melukai hati masyarakat. Tindakan itu murni karena ketidaktahuan dalam memanfaatkan fasilitas negara.
“Sekali lagi, atas kondisi dan kelalaian, secara pribadi dan keluarga saya mohon maaf. Kejadian ini di luar dugaan kami dan semoga ke depan kami dapat lebih menjaga dan pergunakan fasilitas negara dengan sebaik-baiknya,” tuturnya. (WAN)






