Langgam.id — Musyawarah Wilayah (Muswil) Ikatan Alumni SMA Negeri 1 (IASMA 1) Landbouw Sumatera Barat di Auditorium Istana Gubernur, Minggu (3/5/2026), tak sekadar menjadi ajang silaturahmi.
Forum ini mengemuka sebagai momentum mendorong peran nyata alumni dalam pembiayaan pembangunan asrama sekolah, seiring penerapan sistem semi-boarding di SMAN 1 Bukittinggi.
Kepala Bappeda Sumbar, Zefnihan, terpilih secara aklamasi sebagai Ketua IASMA 1 Landbouw periode 2026–2029. Alumni angkatan 1993 itu dihadapkan pada dua tantangan utama, yakni menjembatani keterlibatan alumni muda serta memastikan dukungan konkret bagi siswa yang tengah menempuh pendidikan.
“Dua hal ini menjadi tantangan bagi kita. Sekaligus bagaimana menempatkan kembali SMAN 1 Landbouw pada posisi yang semestinya, baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Rekam jejak sekolah ini tidak diragukan sebagai salah satu SMA terbaik dalam menghasilkan sumber daya manusia,” ujar Zefnihan.
Sejumlah tokoh yang juga merupakan alumni SMAN 1 Bukittinggi turut hadir, di antaranya Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah, Sekjen IASMA Pusat Ridwan, anggota DPRD Sumbar Rafdinal, Wakil Ketua DPRD Bukittinggi Candra, Kabiro Adpim Setprov Sumbar Nolly Eka Mardianto, Direktur RSUP Achmad Mochtar Bukittinggi Busril, Ketua IASMA Wilayah Sumbar sebelumnya Prof Marlina, serta Kepala SMAN 1 Bukittinggi Hernandar.
Dalam kesempatan itu, Mahyeldi menegaskan bahwa peran alumni tidak lagi sebatas nostalgia, melainkan harus diwujudkan dalam kontribusi konkret bagi kemajuan sekolah.
“Peran alumni itu vital. Kalau tidak dioptimalkan, akan merugikan sekolah,” kata Mahyeldi di hadapan ratusan alumni.
Dorongan tersebut muncul seiring masih terbatasnya fasilitas asrama dalam mendukung program boarding school di SMAN 1 Bukittinggi. Pemerintah Provinsi Sumbar telah mengalokasikan anggaran Rp 5 miliar dalam APBD 2026 untuk pembangunan tahap awal asrama, namun jumlah itu dinilai belum mencukupi.
Kepala SMAN 1 Bukittinggi, Hernandar, menyebutkan kebutuhan total pembangunan asrama diperkirakan mencapai Rp 25 miliar, belum termasuk fasilitas penunjang.
“Anggaran yang ada baru cukup untuk memulai pembangunan fisik. Masih jauh dari kebutuhan keseluruhan,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuka ruang bagi keterlibatan alumni. Dalam forum Muswil, sejumlah alumni mulai menyatakan komitmen untuk berkontribusi, mulai dari membantu pembangunan satu lantai hingga satu gedung. Skema gotong royong berbasis alumni pun mengemuka sebagai solusi.
Bagi IASMA, langkah ini menjadi ujian kepemimpinan Zefnihan dalam mengonsolidasikan kekuatan alumni agar berkontribusi nyata, tidak hanya dalam bentuk solidaritas, tetapi juga investasi bagi masa depan sekolah.
Di sisi lain, penerapan sistem boarding school dinilai penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pembentukan karakter siswa, sekaligus mengejar ketertinggalan dari sekolah unggulan lain.
Sekjen IASMA Pusat, Ridwan, mengatakan pihaknya akan segera mengirimkan surat resmi kepada seluruh alumni untuk mengajak berpartisipasi dalam pembangunan asrama.
“Kita akan mengajak seluruh alumni untuk bersama-sama mendukung pembangunan ini. Dengan pengalaman kontribusi alumni selama ini, kami optimistis rencana ini dapat direalisasikan,” ujarnya.
Muswil IASMA 1 Landbouw Sumbar menegaskan bahwa masa depan sekolah tidak hanya bergantung pada pemerintah. Alumni kini dituntut berada di garis depan, menjadi bagian penting dalam mendorong perubahan dan kemajuan pendidikan.






