Langgam.id- Anggota DPR RI Fraksi Demokrat Mulyadi mengatakan, kecelakaan kereta api di Indonesia umumnya disebabkan perlintasan sebidang.
Hal ini dinyatakan Mulyadi saat menjadi narasumber di program Sapa Malam Indonesia di Kompas TV pada Selasa (28/4/2026), yang soroti kecelakaan Kereta Api Agro Bromo Angrek dengan KRL Cikarang Line di Stasiun Bekasi Timur.
“Kita harus tegas menutupi perlintasan sebidang yang ilegal. Apalagi kejadian sekarang ini berada di perlintasan tidak resmi,” ujarnya.
Mulyadi turut berduka cita atas kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur. Korban meninggal dunia mencapai 15 orang.
“Saya atas nama pribadi dan sebagai anggota DPR RI, turut berduka cita mendalam untuk para korban kecelakaan kereta api yang terjadi semalam di Stasiun Bekasi,” ujarnya.
Ia mengatakan, program zero accident dapat terwujud dengan mehilangkan perlintasan sebidang yang rawan kecelakaan dan padat lalu lintas dan menutup perlintasan sebidang liar.
Selain itu, melengkapi perlintasan sebidang yang ada dengan palang pintu otomatis, memastikan kehandalan sistem sinyal (signaling system), serta rel memenuhi standarisasi yang menjamin keamanan.
Mulyadi mengaku ketika dirinya sebagai Pimpinan Komisi V periode 2009-2014, selalu menyoroti persoalan perlintasan sebidang tersebut. Apalagi perlintasan sebidang khususnya ilegal tidak memiliki palang pintu, yang sangat berisiko tinggi.
“Saya dari dulu memang menyoroti ke pemerintah bahwa memang alokasi khusus segera mungkin untuk menyelesaikan perlintasan sebidang yang rawan kecelakaan, khususnya yang jalur double track atau single track yang padat lalu lintas,” ucapnya.
Ketua DPD Demokrat Sumbar itu mengapresiasi Presiden Prabowo yang telah mengalokasikan anggaran untuk permasalahan perlintasan sebidang sebesar Rp4 triliun.
“Mudah-mudah dalam anggaran tersebut Kementerian Perhubungan bersama Komisi V action membangun flyover atau underpass atau palang pintu otomatis untuk perlintasan sebidang. Sehingga kecelakaan dapat diminimalisir,” imbuhnya.
Ia mengatakan, kecelakaan kereta api Agro Bromo Angrek dengan KRL Cikarang Line masih ditangani KNKT.
“KNKT masih menyelidiki. Bisa jadi human error atau mungkin signal yang kita miliki sekarang keadaan perlu kita tingkatkan,” pungkasnya.






