Manusia Menggugat Hujan atas Kesalahannya

Manusia Menggugat Hujan atas Kesalahannya

Prof. Ir. Yazid Bindar, M.Sc. Ph.D (Foto: Dok. Pribadi)

HUJAN sejak awal peradaban manusia selalu dipahami sebagai karunia. Ketika kemarau panjang melanda, tanah merekah, tanaman mengering, dan kehidupan terasa tertahan, manusia menengadahkan tangan, memohon kepada Yang Maha Kuasa agar hujan diturunkan. Hujan adalah simbol rezki dan rahmat. Hujan menumbuhkan, membersihkan, dan menghidupkan. Doa untuk hujan bukan sekadar permintaan air, melainkan pengakuan keterbatasan manusia di hadapan alam dan Penciptanya. Pada titik ini, manusia sadar bahwa ada kuasa yang lebih tinggi yang mengatur siklus kehidupan.

Namun ironi muncul ketika doa itu dikabulkan. Ketika hujan turun dengan limpahan yang melimpah, bukan rasa syukur yang mengemuka, melainkan kegelisahan dan kemarahan. Air yang semestinya menjadi sumber kehidupan berubah menjadi ancaman, merendam rumah, melumpuhkan kota, dan merenggut harta bahkan nyawa. Hujan yang dahulu dinanti kini dituding sebagai penyebab bencana. Di sinilah pertanyaan mendasar muncul: benarkah hujan yang salah, atau cara manusia memperlakukan bumi yang keliru?

Saluran Air yang Diputus atau Dihilangkan oleh Keserakahan

Selama berabad-abad, alam menyediakan sistem pengaliran air yang nyaris sempurna. Sungai, rawa, dan daerah resapan bekerja bersama untuk menampung dan mengalirkan air hujan. Hutan berfungsi seperti spons raksasa, menyerap air dan melepaskannya perlahan ke sungai dan tanah. Tanah yang sehat memberi ruang bagi air untuk meresap, mengisi cadangan air tanah yang kelak akan kembali keluar sebagai mata air. Semua ini adalah sistem yang tidak diciptakan manusia, tetapi dititipkan kepadanya.

Akan tetapi, pembangunan yang tak terkendali mengubah segalanya. Sungai disempitkan, dibeton, bahkan dialihkan demi kepentingan sesaat. Daerah resapan ditutup aspal dan bangunan. Hutan ditebang tanpa pemulihan yang sepadan. Air hujan yang dahulu disambut oleh bumi kini dipantulkan dan dipaksa mengalir cepat ke tempat yang tidak siap menampungnya. Banjir pun menjadi keniscayaan, bukan karena hujan berlebihan semata, tetapi karena manusia memutus jalur alami air dan menggantinya dengan struktur yang rapuh.

Banjir sebagai Cermin Kesalahan Manusia

Banjir sering diperlakukan sebagai peristiwa alam semata, seolah-olah manusia hanyalah korban pasif. Padahal, banjir adalah cermin yang memantulkan keputusan-keputusan manusia di darat. Ia memperlihatkan tata ruang yang abai, pengelolaan lingkungan yang serampangan, dan keserakahan yang menutup mata terhadap keseimbangan. Air hujan hanya mengikuti hukum alam dengan mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Ketika jalurnya disempitkan atau ditutup, air akan mencari jalan sendiri.

Dalam konteks ini, menyalahkan hujan adalah bentuk pengingkaran tanggung jawab. Hujan tidak memilih untuk turun di kota atau desa tertentu dengan niat mencelakakan. Ia turun sebagai bagian dari siklus alam yang menjaga kehidupan. Yang memilih untuk membangun di bantaran sungai adalah manusia. Yang memilih menutup tanah dengan beton tanpa ruang resapan adalah manusia. Maka ketika air meluap, sesungguhnya yang sedang berbicara adalah akumulasi dari pilihan-pilihan tersebut.

Modifikasi Cuaca Diluar Daya yang Diberikan

Ketika banjir datang berulang, muncullah tawaran solusi instan berupa modifikasi cuaca. Teknologi ini diperlakukan seolah-olah manusia kini memiliki kendali atas hujan, bisa memindahkannya ke wilayah lain, atau menahannya agar tidak turun di daerah tertentu. Di titik ini, terjadi pergeseran cara pandang yang berbahaya. Dari manusia yang memohon hujan, menjadi manusia yang ingin mengatur hujan sesuai kepentingannya. Seakan-akan langit adalah ruang yang bisa dinegosiasikan dengan teknologi semata.

Masalahnya bukan pada ilmu pengetahuan itu sendiri, melainkan pada sikap yang menyertainya. Ketika modifikasi cuaca diposisikan sebagai alat untuk menghindari tanggung jawab di darat, ia berubah menjadi ilusi kuasa. Alih-alih membenahi sungai, memperluas daerah resapan, dan memulihkan hutan, manusia memilih untuk menggeser hujan. Ini menciptakan kesan bahwa masalah selesai, padahal akar persoalan tetap utuh, bahkan kian mengeras.

Hujan Rezki Air yang Diturunkan dari Langit

Hujan adalah air bagi kehidupan seluruh makhluk hidup, bukan hanya manusia. Tanaman, hewan, mikroorganisme tanah, semuanya bergantung pada siklus hujan yang seimbang. Ketika hujan diminta untuk tidak turun di suatu wilayah demi kenyamanan manusia, sering kali dilupakan bahwa wilayah lain juga bagian dari ekosistem yang sama. Air yang dipindahkan tetap akan jatuh di tempat lain, membawa konsekuensi yang mungkin tidak dipikirkan secara utuh.

Memperlakukan hujan sebagai musuh adalah kesalahan konseptual. Hujan adalah amanah, bukan ancaman. Ia menuntut kesiapan, bukan penolakan. Ketika manusia berusaha menghentikan hujan tanpa memperbaiki daratan, yang terjadi adalah ketegangan antara teknologi dan alam. Teknologi menjadi alat untuk menghindar, bukan untuk merawat. Padahal, perawatanlah yang seharusnya menjadi inti dari relasi manusia dengan lingkungan.

Manusia Lebih Realistis Mengelola Air Hujan di Darat

Jika manusia diberi memiliki daya, daya ini lebih efektif digunakan di darat untuk mengelola air hujan. Daya yang digunakan untuk mengubah perilaku langit supaya tidak turun hujan dapat tergolong sebuah kesombongan. Manusia punya daya menentukan tata ruang, menjaga atau merusak hutan, membersihkan atau mengotori sungai. Di sinilah wilayah tanggung jawab manusia yang nyata dan langsung. Mengelola aliran air hujan di darat dilakukan melalui drainase yang adil, sungai yang dipulihkan, dan tanah yang diberi ruang bernapas adalah bentuk kuasa yang sejati dan bermakna.

Upaya-upaya ini memang tidak instan dan menuntut kesabaran, biaya, serta perubahan cara berpikir. Namun, di sanalah letak keadaban. Membiarkan hujan turun sebagaimana mestinya, sambil memastikan bumi siap menerimanya, adalah sikap yang selaras antara iman, akal, dan etika. Manusia tidak perlu merasa kalah dengan hujan, karena hujan tidak pernah berniat mengalahkan manusia.

Menuju Kerendahan Hati

Kecenderungan untuk mengatur hujan mencerminkan kesombongan halus dengan keyakinan bahwa teknologi bisa menggantikan kebijaksanaan alam. Kesombongan halus ini sering dibungkus dengan bahasa kemajuan dan keselamatan, padahal di dalamnya tersimpan penundaan tanggung jawab. Manusia lupa bahwa semakin ia merasa berkuasa penuh, semakin besar pula risiko ketidakseimbangannya dengan alam.

Sebaliknya, kerendahan hati mengajak manusia kembali pada peran aslinya sebagai penjaga, bukan penguasa mutlak. Menjaga berarti mendengarkan tanda-tanda alam, termasuk banjir, sebagai peringatan, bukan sebagai gangguan. Dari sikap ini, manusia bisa belajar bahwa solusi paling mendasar sering kali bukan di langit, melainkan di tanah yang ia pijak setiap hari.

Pengingatan untuk Masa Depan

Ini sebagai pengingatan bahwa hujan tidak perlu dihentikan, tetapi dipahami. Banjir tidak cukup diatasi dengan memindahkan awan, melainkan dengan memperbaiki daratan. Selama manusia terus menolak bercermin dan memilih jalan pintas, bencana akan berulang dengan wajah yang sama. Hujan akan terus turun, sebagaimana mestinya, sementara manusia terus berdebat tentang siapa yang salah.

Masa depan yang lebih selaras menuntut keberanian untuk mengakui kesalahan dan kembali ke tanggung jawab yang nyata. Biarkan hujan turun sebagai rahmat bagi seluruh makhluk hidup. Tugas manusia adalah memastikan bahwa ketika rahmat itu datang, bumi siap menerimanya dengan lapang, bukan dengan amarah. Di sanalah letak kebijaksanaan dan bukan pada upaya menghentikan hujan, tetapi pada kesungguhan merawat kehidupan.

*Penulis: Yazid Bindar (Dosen dan Guru Besar Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung)

Baca Juga

Memastikan Arah Kebijakan
Memastikan Arah Kebijakan
Rupiah, Premi Risiko, dan Ujian BI
Rupiah, Premi Risiko, dan Ujian BI
Karier dan Kuasa: Relasi Patron–Klien di Dunia Kerja Modern
Karier dan Kuasa: Relasi Patron–Klien di Dunia Kerja Modern
Ekonomi Indonesia Menutup Tahun 2025: Stabil, Namun Rapuh
Ekonomi Indonesia Menutup Tahun 2025: Stabil, Namun Rapuh
Lulusan Sekolah Islam di Indonesia: Antara Kesalehan Individual dan Kontribusi Sosial
Lulusan Sekolah Islam di Indonesia: Antara Kesalehan Individual dan Kontribusi Sosial
Negeri Terdegredasi dalam Kepungan Kepalsuan
Negeri Terdegredasi dalam Kepungan Kepalsuan