Mengenal Sosok Abdullah Kamil, Nama Gedung yang Diaktivasi Lagi di Padang

Sosok Abdullah Kamil

Sumber: Wikipedia

Langgam.id – Setelah rampungnya kegiatan Penataan dan Aktivasi Sarana Prasarana Kebudayaan Gedung Abdullah Kamil, yang merupakan bantuan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2025, Gedung Abdullah Kamil dijadwalkan akan diresmikan kembali pada Jumat, 23 Januari 2026.

Peresmian ulang gedung bersejarah tersebut akan dilakukan langsung oleh Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon. Rangkaian acara peresmian juga akan diisi dengan Diskusi Panel bertema “Diplomasi Budaya Minangkabau”, yang menghadirkan kalangan budayawan, akademisi, dan pemerhati sejarah.

Pekerja budaya yang terlibat dalam aktivasi gedung ini, Edy Utama mengatakan, pemilihan tema diskusi tersebut tidak terlepas dari sosok almarhum Abdullah Kamil, diplomat asal Minangkabau yang menjadi penggagas berdirinya gedung tersebut sebagai rumah budaya.

“Gedung Abdullah Kamil sejak awal memang diniatkan sebagai rumah diplomasi budaya. Sosok Abdullah Kamil adalah contoh bagaimana budaya Minangkabau dibawa ke panggung dunia melalui jalur diplomasi,” ujar Edy Utama, Kamis (22/1/2026).

Menurut Edy, Gedung Abdullah Kamil memiliki nilai sejarah yang kuat bagi Sumatera Barat dan Indonesia. Gedung ini mulai dibangun pada akhir tahun 1988 oleh Yayasan Genta Budaya dan secara resmi diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 7 Maret 1992.

“Dengan penataan dan aktivasi yang dilakukan saat ini, kita berharap Gedung Abdullah Kamil tidak hanya menjadi bangunan fisik, tetapi kembali hidup sebagai ruang dialog, ekspresi, dan pengembangan kebudayaan Minangkabau,” kata Edy.

Ia menambahkan, keberadaan gedung tersebut diharapkan dapat berkontribusi bagi kemajuan peradaban, tidak hanya bagi Minangkabau dan Indonesia, tetapi juga dalam konteks budaya dunia.

“Ini adalah warisan pemikiran dan perjuangan almarhum Abdullah Kamil. Sudah sepantasnya kita melanjutkan semangat beliau,” tuturnya.

Menutup pernyataannya, Edy Utama mengajak masyarakat untuk menjadikan momentum peresmian kembali Gedung Abdullah Kamil sebagai refleksi atas pentingnya kebudayaan dalam membangun identitas dan peradaban.

Abdullah Kamil

Mengenal Sosok Abdullah Kamil

Nama Abdullah Kamil kembali bergema di Kota Padang seiring dengan aktivasi gedung di dekat Taman Budaya Sumatra Barat. Penamaannya sebagai nama gedung sejak tahun 1992, merupakan sebuah penghormatan bagi sosok diplomat senior Indonesia yang hidupnya diabdikan untuk diplomasi, pers, dan kebudayaan Minangkabau.

Boleh dikata, Abdullah Kamil adalah contoh langka seorang diplomat yang mengawali kariernya sebagai wartawan. Lahir di Binjai, Sumatera Utara, 27 Desember 1919, Kamil berasal dari keluarga berdarah Minangkabau. Pendidikan dasarnya ditempuh di Khalsa English School, Medan, sebelum melanjutkan ke Senior Cambridge di Kuala Lumpur, Malaysia, dan kemudian Seskoad di Bandung.

Diplomat kawakan Abdullah Kamil wafat di Yogayakarta pada Kamis, 11 Juli 1991, pukul 14.10 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta, dalam usia 72 tahun, setelah dua bulan dirawat karena kanker. Ia meninggalkan empat orang anak, salah satunya Ny. Halimah, istri Bambang Trihatmojo, putra Presiden Soeharto.

Jenazah disemayamkan di rumah duka Jalan Tanjung 23, Jakarta Pusat, dan dimakamkan pada Jumat, 12 Juli, selepas salat Jumat di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Mencuplik laporan jurnalistik Marthias Dusky Pandoe untuk Harian Kompas, bagi Abdullah Kamil, dunia jurnalistik menjadi pintu masuknya ke panggung nasional dan internasional. Ia memulai karier sebagai koresponden Kantor Berita Antara dan harian Pewarta Deli. Pada masa sebelum dan selama Perang Dunia II, Abdullah Kamil aktif di berbagai media penting kawasan Asia Tenggara: menjadi koresponden Warta Malaya di Kuala Lumpur (1941), redaktur Berita Malaya dan Semangat Asia di Singapura (1942–1943), hingga konsultan Lembaga Internasional untuk Hubungan Kebudayaan di Tokyo. Setelah Indonesia merdeka, ia tercatat sebagai redaktur Majalah Indonesia (1944–1947).

Jejak jurnalistik itulah yang kemudian mengantarkannya ke dunia diplomasi. Pada periode 1948–1952, Kamil bertugas di Kedutaan Besar Indonesia di Thailand, khususnya di bidang penerangan. Sekembalinya ke Tanah Air, ia dipercaya menjadi Kepala Bagian Penerangan Departemen Luar Negeri di Jakarta (1952–1955).

Karier diplomatiknya terus menanjak. Abdullah Kamil pernah bertugas sebagai Sekretaris Pertama KBRI di Belanda, Konsul RI di Kuala Lumpur, serta pejabat Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1955–1960. Ia kemudian menjabat Kepala Direktorat PBB dan Organisasi Internasional Deplu (1960–1965), penasihat KBRI di Tunisia (1965–1966), dan Kepala Perwakilan Indonesia di PBB (1966–1977). Kepercayaan negara kepadanya ditutup dengan penugasan sebagai Duta Besar RI untuk Yugoslavia, Austria, dan PBB.

Namun, di satu dekade terakhir hidupnya, Abdullah Kamil memilih kembali ke akar budayanya. Ia memusatkan perhatian pada pelestarian kebudayaan Minangkabau. Di Padang, ia mendirikan Yayasan Genta Budaya, sebuah ikhtiar untuk menggali, merawat, dan mengembangkan warisan budaya Minang. Sebuah gedung didirikan untuk menghimpun berbagai dokumen kebudayaan Minangkabau yang ia kumpulkan dari beragam negara, antara lain Belanda, Prancis, dan Amerika Serikat.

Gedung yang kini kembali diresmikan di Padang itu bukan sekadar bangunan fisik. Ia menjadi simbol dedikasi Abdullah Kamil, seorang wartawan, diplomat, dan budayawan yang menjembatani Indonesia dengan dunia, tanpa pernah melepaskan identitas Minangkabaunya.

Baca Juga

Bergelintinnya Akulturasi Islam dan Adat di Minangkabau, Refleksi Tangkapan Lensa Bung Edy Utama
Bergelintinnya Akulturasi Islam dan Adat di Minangkabau, Refleksi Tangkapan Lensa Bung Edy Utama
Ritus-ritus budaya kerap kali terlupakan karena dianggap usang dan menunggu waktu untuk punah. Pelbagai ruang diskusi dan tulisan-tulisan
Berziarah ke Hulu Budaya
Memaksa Orang untuk Tidak Memaksa Tuhan
Memaksa Orang untuk Tidak Memaksa Tuhan
Bendera Bajak Laut Di Bulan Agustus: Antara Budaya Populer dan Patriotisme
Bendera Bajak Laut Di Bulan Agustus: Antara Budaya Populer dan Patriotisme
Etos Jalanan dan Ekonomi Tikungan
Etos Jalanan dan Ekonomi Tikungan
Dalam pembukaan Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Sumatra Barat 2024, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III Sumatra Barat, Undri,
Menggali “Deposit Budaya”: Kekayaan Tak Ternilai di Sumatra Barat