Tentang Bangsa-Negara Angkuh dan Runtuh

Bangsa-Negara (Nation-State) di dunia dan negara dalam system modern, jarang ditemukan runtuh karena miskin senjata. Bangsa dan negara

Abdullah Khusairi. [foto: Dok. Pribadi]

Bangsa-Negara (Nation-State) di dunia dan negara dalam system modern, jarang ditemukan runtuh karena miskin senjata. Bangsa dan negara yang runtuh justru yang dijalankan oleh aparaturnya dengan angkuh dan percaya diri. Tanpa membaca fakta-data, bahkan cenderung memanipulasinya. Abai dengan aspirasi dan cenderung merasa benar. Buta nalar, tuli nurani.

Keangkuhan para pemimpinnya menumpuk pelan, mengeras menjadi kebijakan, lalu membeku sebagai watak negara. Sejarah mencatatnya berulang kali, dan para sejarawan menuliskannya dengan bahasa yang berbeda, tetapi maknanya sama. Ibnu Khaldun (1332-1406) dalam buku Muqaddimah, menyatakan penyebab kehancuran negara banyak factor dari dalam, sedikit dari luar. Menurutnya, secara alamiah negara lahir dari solidaritas dan kesediaan mendengar (‘asabiyyah). Negara runtuh saat penguasa menikmati kemewahan, memerintah dengan jarak, dan menganggap kritik sebagai gangguan.

Keangkuhan, bagi Khaldun, selain sikap personal juga penyakit struktural. Penguasa yang berhenti mendengar rakyat bersegera memasuki usia senjakala. Selain Bani Abbasyiyah (750-1258 M) dan Ummayah (661 hingga 750 Masehi M), dicontohkan juga Dinasti Murabitun dan Muwahhidun (1100-1200 M), yang berkuasa di Afrika Utara dan Andalusia.

Berabad-abad kemudian, Edward Gibbon (1737-1794) menulis The History of the Decline and Fall of the Roman Empire. Sejarawan Inggris satu ini menggambarkan Roma, imperium yang melemah dari dalam. Elit politik Roma sibuk mempertahankan simbol kejayaan, sementara rakyat kehilangan kepercayaan. Aparat menegakkan hukum dengan kekerasan berdasarkan kecurigaan yang mengganggu kekuasaan. Tidak berdasarkan nurani keadilan. Menurut Gibbon, kejatuhan Roma (476-1453 M) bermula ketika penguasanya berhenti belajar dari keterbatasannya sendiri. Keangkuhan membuat Roma yakin bahwa ia abadi. Keyakinan itulah yang menipu.

Joseph A. Tainter melalui buku The Collapse of Complex Societies (1988), menerangkan negara runtuh terjadi karena kompleksitas kekuasaan tidak lagi memberi manfaat bagi rakyat. Aparat bertambah, regulasi menumpuk, biaya sosial membengkak, sementara hasilnya menyusut (diminishing marginal returns). Elite terus memaksa sistem bekerja, walau rakyat sudah lelah. Keangkuhan di sini berwujud teknokratis, keyakinan sistem selalu benar, meski manusia di dalamnya menderita. Aparatur negara menolak berbagai solusi dari luar kekuasaan. Bebal untuk mengakui mengakui kegagalan. Buku ini mencontohkan Kekaisaran Romawi Barat yang terpisah pada tahun 395 Masehi, mencakup Eropa Barat, Italia, sebagian Afrika Utara, dan Britania, dengan ibu kota di Roma (kemudian Ravenna). Kekaisaran ini runtuh pada tahun 476 M.

Jared Diamond dalam buku Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed (2005), mengajukan tesis yang lebih telanjang. Masyarakat runtuh karena pilihan yang keliru dan kesombongan kolektif. Elite mengetahui tanda bahaya, tetapi memilih menunda. Mereka melindungi kepentingan sendiri, menutup telinga dari suara bawah, dan menganggap krisis sebagai sesuatu yang bisa dikelola dengan pidato. Penulis buku The Third Chimpanzee (1991) ini mengungkapkan, kehancuran sebuah negara sebagai peristiwa pelan-pelantapi pasti, hasil dari penyangkalan panjang dari keadaan sosial politik yang gaduh. Jared Diamond mencontohkan sebuah pulau Paskah dan Peradaban Maya (250-900 M) di dataran rendah Mesoamerika (Meksiko tengah-selatan hingga Amerika Tengah utara).

Penguasa pulau Paskah (Isla de Pascua), mengizinkan penduduk menebang seluruh hutan untuk patung moai, perahu, dan bahan bakar. Deforestasi memicu krisis pangan, konflik internal, dan kolaps sosial. Sedangkan peradaban Maya, runtuh karena kombinasi deforestasi, kekeringan, perang, dan overpopulasi.

Buku baru dari Luke Kemp bertajuk Goliath’s Curse (2025) lebih menakutkan dan mempertegas pola-pola itu dengan data lintas peradaban. Kemp menyimpulkan, semakin besar negara, semakin besar potensi kebangkrutannya. Elite yang angkuh menciptakan jarak, merawat ilusi stabilitas, dan menormalisasi kekerasan aparat. Negara besar sering runtuh karena kelelahan internal. “Goliath tumbang oleh berat tubuhnya sendiri,” tulis Luke. Kisah Goliath ini ada dalam Al-Kitab dan Al-Quran. Tentang penguasa, raksasa yang jahat dilawat kaum lemah.

Seiring dengan Luke, Eric H. Cline dalam 1177 BC: The Year Civilization Collapsed (2014) menulis kehancuran sebagai rangkaian kegagalan elite membaca situasi. Para pemimpin dunia terlalu percaya pada jaringan kekuasaan mereka. Saat krisis datang berlapis—ekonomi, pangan, keamanan mereka kehilangan kemampuan beradaptasi. Eric menunjukkan keruntuhan Zaman Perunggu Akhir melalui contoh konkret runtuhnya sistem dunia Mediterania Timur, Kekaisaran Het ambruk saat ibu kota Hattusa ditinggalkan dan administrasi berhenti. Dunia Mykenai di Yunani kehilangan istana, jaringan dagang, kota pelabuhan Ugarit hancur secara tiba-tiba, bahkan meninggalkan surat raja yang memohon bantuan saat musuh sudah di depan gerbang.

Mesir menghadapi serangan Sea Peoples, krisis pangan, dan inflasi, sehingga melemah walau tidak runtuh total. Sedangkan Siprus sebagai pusat tembaga gagal memasok bahan strategis, memicu efek domino pada perdagangan internasional, dan Babilonia serta Assyria mengalami tekanan besar dengan hasil berbeda karena kapasitas adaptasi yang tidak sama.

Melalui contoh-contoh ini, Cline menegaskan kehancuran sekitar 1177 SM lahir dari sebab perfect storm. Akumulasi beerbagai sebab, berupa perang, migrasi, gempa, perubahan iklim, dan runtuhnya jaringan perdagangan yang saling terhubung, sehingga ketika satu simpul gagal, seluruh sistem peradaban ikut tumbang. Negara-negara itu hancur karena satu kesalahan, karena keangkuhan yang membuat mereka lamban berubah.

Sejarah yang berkisah tentang masa lalu, sedang memperingatkan masa kini agar lebih baik di masa depan. Negara yang aparatnya angkuh, pemimpinnya tuli, dan kebijakannya memaksa diri adalah negara yang sedang menulis sejarah kehancurannya sendiri. Kejatuhan selalu berlangsung sunyi, kepercayaan menguap, kepatuhan menjadi pura-pura, dan negara tetap berdiri hanya sebagai bangunan administratif. Seterusnya, bangkrut! []

*Penulis: Abdullah Khusairi (Pengajar Islam Komprehensif pada Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang)

Baca Juga

Didaulat Jadi Presiden Dewan HAM PBB, Tapi Antrian Tapol Sangat Panjang
Didaulat Jadi Presiden Dewan HAM PBB, Tapi Antrian Tapol Sangat Panjang
Lulusan Sekolah Islam di Indonesia: Antara Kesalehan Individual dan Kontribusi Sosial
Lulusan Sekolah Islam di Indonesia: Antara Kesalehan Individual dan Kontribusi Sosial
77 Tahun Peristiwa Situjuah: Siapa Sebenarnya Tambiluak?
77 Tahun Peristiwa Situjuah: Siapa Sebenarnya Tambiluak?
Petani Pesisir Selatan Harapkan Harga Gambir Stabil Kisaran Rp 30 Ribu
Hilirisasi Cepat Gambir
Muhayatul, S.E., M.Si. (Dok. IST)
Kearifan Lokal sebagai Fondasi Ketahanan Sosial–Ekologis, Refleksi Pascabencana
Apakah 2024-2029 Sama Dengan 1984?
Apakah 2024-2029 Sama Dengan 1984?