77 Tahun Peristiwa Situjuah: Siapa Sebenarnya Tambiluak?

Setiap kali ada yang berkhianat atau dianggap pengkhianat dalam barisan perjuangan, maka “urang awak” atau masyarakat Minangkabau yang hidup pasca perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, akan menjulukinya sebagai “Tambiluak”. Julukan ini semakin populer, setelah meletusnya Peristiwa Situjuh, 15 Januari 1949, sebagai mata rantai Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI); penyambung nafas bangsa saat Agresi Kedua Belanda.

Ya. Sejak Peristiwa Situjuah diperingati pertama kali pada 15 Januari 1968, atas prakarsa dari Mayor Makinuddin HS, pendiri Tentara Republik Indonesia (cikal bakal TNI) di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota. Sampai kini, 15 Januari 2026, memasuki 77 tahun peringatan Peristiwa Situjuah, nama Tambiluak tetap dicap sebagai pengkhianat. Stigma itu tertanam dalam memori kolektif. Dituturkan setiap tahun. Turun temurun. Dari satu generasi ke generasi lain.

Konon kabarnya, saat Bung Hatta, proklamator bangsa nan jujur, lugu, dan sederhana, berziarah ke makam pejuang Peristiwa Situjuah pada 1952, kisah-kisah tentang Tambiluak, tidak luput dari obrolan masyarakat. Bahkan, setiap tahun, topik seputaran Tambiluak, seakan tak ada habisnya.
Tidak jarang pula, obrolan tentang Tambiluak, berlalu-lalang dalam obrolan tentang tokoh besar lainnya dalam Peristiwa Situjuah. Seperti, Chatib Sulaiman, yang menurut Ketua Dewan Gelar dan Tanda Jasa Kehormatan Pusat, Fadli Zon, sudah masuk daftar tunggu penetapan pahlawan nasional dari Presiden Prabowo. Semoga saja.

Intel Tentara Penjual Candu

Lantas, siapa sebenarnya Tambiluak yang dicap pengkhianat dalam Peristiwa Situjuh? Tentu, sudah banyak yang tahu, Tambiluak bernama asli Kamaludin. Dia seorang tentara. Entah kenapa, lelaki pendek gempal, berambut tebal, suka berkacamata hitam, bertopi hitam, dan bermantel hitam itu bisa diterima jadi tentara. Apakah karena pengaruh dua saudaranya yang juga tentara, yakni Letnan Jalaluddin dan Letnan II Darwis, atau memang karena panggilan jiwanya dan tuntutan perjuangan bangsa semasa itu.

Sebagai tentara, Kamaludin Tambiluak, menyandang pangkat terakhir Letnan Satu. Pria asal “Kota Hujan” Padangpanjang ini sempat jadi Staf Bagian Perlengkapan dan Peralatan, Batalyon Singa Harau, pimpinan Mayor Makinudin HS. Kamaludin Tambiluak juga pernah menjabat Wakil Kepala Divisi Intilijen Sumatera Tengah. Dengan posisi sebagai intel, Tambiluak pernah ditugaskan ke Guntung di Pulau Sambu, dekat Selat Malaka, jalur pelayaran penghubung Pulau Sumatera dengan Singapura, untuk menjual getah dan candu, yang kemudian ditukar dengan senjata.

Letnan Satu Kamaludin dijuluki Tambiluak karena larinya kencang. Sekencang hewan sejenis serangga terbang yang hidup dalam pelepah kelapa atau batang kelapa. Orang Minang menyebut serangga berwarna hitam dengan garis orange di bagian tubuhnya itu sebagai tambiluak. Sedangkan dalam dunia pertanian, serangga ini sekarang dianggap hama kelapa sawit, dengan nama latin Rhynchophorus vulneratus.

Sudahlah lari Kamaludin kencang serupa serangga terbang. Postur tubuhnya bulat padat, atau “sabuku” dalam istilah orang Minang. Dengan warna kulit agak gelap, Kamaludin dianggap mirip tambiluak dalam pohon kelapa. Sehingga nama hewan penggirik tanaman itu menjadi julukan Kamaludin. Pembaca harap maklum, pada zaman itu nama orang belum banyak. Belum ada larangan bullyng ataupun persekusi. Di ujung nama orang, ada julukan “Badak”, “Kerbau”, “Pekak”, “Rimau”, “Belut”, dll, masih dianggap wajar sebagai panggilan akrab. Belum masuk perkara hukum semasa itu.

“Sayap Kanan” yang Berlari Kencang

Ditengarai, julukan Tambiluak mulai lekat sewaktu Kamaludin bermain sepakbola. Menurut HC Israr, pejuang kemerdekaan Indonesia, sekaligus mantan Ketua DPRD Limapuluh Kota dan mantan pendiri Kotamadya Payakumbuh, Kamaludin adalah pemain sayap kanan yang berlari kencang. Kamaludin Tambiluak memperkuat Horizon FC, satu dari sebelas klub sepakbola pada zaman sebelum dan setelah kemerdekaan Indonesia di Payakumbuh yang rutin mengikuti klasemen bertajuk Bond Eleftal (Kejuaran Kesebelasan).

Selain Horizon, klub lain yang ikut Bond Eleftal adalah Aroma Taram, Stom Padang Japang, Pios Simalanggang, dan Gaspar Lampasi yang sampai kini masih ada. Kemudian, Dagang Sport, Harau, Yellow, C.H.T.H, dan Most Ewan Koto Nan Ompek yang tak terdengar lagi kabar beritanya. Dari semua klub ini, Horizon yang bermaterikan Kamaludin Tambiluak, Amir Kapatabang, Ripin Kingkong, Syamsu, Johan, Haji Mukhtar, Kusor, Kanin, Kari Munaf, Jalal, Dakhtar Tamin, dan Darani, sering menjuarai klasemen.

Tak hanya menjajal klub lokal di Payakumbuh, Horizon FC yang diurus Demang Palin, Tjoa Seng Lian, Bahar Son, Datuk Batua, dan Hamzah Datuk Bandaro Kuniang, sering pula uji tanding dengan kesebelasan lain di Sumbar. Seperti, Padang Sejati, Sinar Dagang Bukittinggi, Gunung Sejati Padangpanjang, dan Remz Sawahlunto. Bahkan, Horizon FC pernah melawan PSMS Medan dan tim dari Singapura. Sayang, kompetisi semacam ini sudah jarang terdengar di Payakumbuh.

Tukang Cukur Dokter Pro-Belanda

Sambil bermain bola, Kamaludin Tambiluak jadi tukang gunting di pangkas rambut Sutan Kerajaan Barbier. Pangkas rambut ini berada di Pasar Payakumbuh. Dulu di Jalan Gadjah Mada. Kini di Jalan Arisun. Sekitaran Kampung China. Belum bisa dipastikan, apakah bangunan klasik yang kini masih jadi tempat pangkas rambut di Kampung China, adalah tempat Kamaludin dulu bekerja. Yang pasti, semasa jadi tukang cukur, Kamaludin punya pelanggan tetap. Yakni, dr. M. Anas, bekas kepala rumah sakit Payakumbuh, yang sebelum Indonesia merdeka, setuju dengan ide Belanda membentuk Negara “Boneka” Minangkabau.

Saya pernah diminta bantu oleh Dr. Surya Sunuri atau Suryadi Sunuri, pakar filologi dan ahli pernaskahan nusantara yang menjadi dosen di Universitas Leiden, Belanda, untuk mewawancarai keluarga dr. M. Anas yang tinggal di samping RS Ibnu Sina, Payakumbuh, atau di seberang balai kota saat ini. Dalam wawancara di rumah peninggalan dr. Anas itu, saya dapat cerita, ibu dr. Anas, bernama Jamilah, asal Koto Nan Gadang, Payakumbuh. Sedangkan ayahnya berdarah Jawa, bernama Raden Atmo Wisastro, yang konon masih masuk trah Sultan Hamengku Buwono 1.

Di rumah dr. M. Anas, pernah menginap Bung Hatta, Rosihan Anwar, dan Abdul Muis. Pengarang roman Salah Asuhan ini adalah ipar kontan dr. M. Anas karena mengawini kakaknya, Nuriah, yang mati muda. Salah seorang sahabat dr. M. Anas adalah Prof. Dr. Amir Hakim Usman, linguis Unand dan UNP yang meninggal 2006. Panjang juga cerita tentang dr. Anas ditulis Dr Suryadi Sunuri. Saya ulang mengulasnya karena dr. Anas sering dikaitkan dengan Kamaludin Tambiluak, tokoh kontroversi yang dikupas lewat tulisan ini.

Meski dianggap dekat dengan dr. M. Anas yang pro-Belanda dan hingga akhir hayatnya menetap di Belanda bersama istrinya, Ny. Jus Anas. Tapi, dari literatur yang ada, Kamaludin Tambiluak, punya rekam jejak cukup mengejutkan, terkait dengan cita-cita persatuan Indonesia. Pada 10 sampai dengan 11 Nofember 1945, Kamaludin Tambiluak tercatat sebagai peserta Kongres Pemuda Indonesia III di Alun-Alun Utara dan Balai Mataram Yogyakarta. Selain Kamaludin Tambiluak, pemuda lain dari Sumatera Tengah, Syamsul Bahar, juga mengikuti kongres tersebut.

Seperti diketahui, Kongres Pemuda Indonesia III di Yogyakarta tahun 1945 diikuti 332 orang utusan dari 30 organisasi pemuda di Indonesia.
Kongres dihadiri Presiden Soekarno, Wapres Mohammad Hatta,, Sri Sultan HB IX, Sri Paku Alam VIII, dan sejumlah menteri negara. Kongres memutuskan penggabungan semua gerakan pemuda dalam satu badan bernama Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BKPRI), yang dipimpin Dewan Pimpinan Pusat Republik Indonesia, dibantu Dewan Pekerja Perjuangan dan Dewan Pekerja Pembangunan.

Cukup mengejutkan memang, Kamaludin Tambiluak, yang pada akhir hayatnya dicap pengkhianat, bisa ikut dalam kongres pemuda Indonesia yang diketuai Charul Saleh. Padahal kongres itu tujuannya membangun persatuan dari seluruh organisasi pemuda di Indonesia. Belum diketahui organisasi pemuda yang mengutus Kamaludin ikut kongres. Yang jelas, sepulang kongres pemuda, Kamaludin bertemu Nurcahaya, perempuan yang kemudian dinikahinya. Dari pernikahan itu, lahirlah seorang anak perempuan, yang ikut terbunuh bersama Nurcahaya, setelah Kamaludin dicap pengkhianat Peristiwa Situjuh.

Ihwal Sebuah Pengkhianatan

Ihwal Kamaludin Tambiluak dituding pengkhianat dalam Peristiwa Situjuah, tentu tak bisa dinafikan pula. Menurut kesaksian Syamsul Bahar, Staf Majelis Pertahanan Rakyat Daerah (MPRD) Sumatera Tengan yang ikut rapat di Lurah Kincia, Situjuah Batua, dan pernah ikut Kongres III Pemuda Indonesia di Jogyakarta bersama Kamaludin Tambiluak, selepas rapat pejuang di surau milik Mayor Makinudin HS pada dini hari 15 Januari 1949 itu, Kamaludin Tambiluak terdengar bersemangat bercerita tentang kehebatan Belanda dan kekalahan Indonesia.

Sayangnya, Syamsul Bahar yang saat itu sedang tidur-tidur ayam, tidak bisa mengonfirmasi langsung apakah Kamaludin serius memuji Belanda atau hanya sekadar berkelakar. Karena sesaat kemudian, surau tempat rapat pejuang PDRI di Lurah Kincia, Situjuah Belanda, sudah dikepung tentara Belanda dari atas tebing. Pejuang PDRI yang sebagian masih tertidur karena lelah sehabis mengikuti rapat dan letih akibat berjalan jauh, mendadak dihujani peluru Belanda. Tembak menembak terjadi di subuh itu.

Kekuatan tak seimbang. Pejuang PDRI yang hadir rapat, satu per satu berguguran. Ada Chatib Sulaiman (Ketua MPRD Sumatera Tengah), Arisun Sutan Alamsyah (Bupati Militer Limapuluh Kota), Mayor Munir Latief (Danyon III Resimen Sungai Penuh), Kapten Zainudin “Tembak” (Danyon Singa Harau), Kapten Thantowi Abdullah (Wadanyon Merapi), Lettu Azzinar (Danki Yon Merapi), Letda Syamsul Bahri (Staf Gubernur Militer). Mereka dikebumikan di Lurah Kincia.

Sedangkan, Panglima Divisi IX TNI Banteng, Letkol Dahlan Ibrahim, yang ikut dalam rapat tersebut, selamat dari maut. Karena setelah rapat, Dahlan Ibrahim yang sempat menjabat Menteri Negara Urusan Veteran, bermalam di Nagari Tungkar, bersama Wali Nagari Tungkar saat itu, Wahid Datuak Bandaro Kayo. Serta, Bupati Militer Tanahdatar, Sidi Bakaruddin, yang kemudian juga menjabat sebagai Bupati Militer Agam.

Sementara, Wakil Kepala Staf Gubernur Militer Sumatera Tengah, Mayor A Thalib, mengalami luka tembak akibat serangan Belanda pada 15 Januari 1949. Bekas Dubes RI di Singapura ini dirawat di Situjuah Batua dan sempat disembunyikan di Tungkar, sebelum “ditandu” ke Situjuah Gadang, terus ke Nagari Andaleh, dan Gaduik di Halaban, untuk kemudian dirawat di kampungnya di Lintau. Saat ditandu beberapa waktu setelah peristiwa 15 Januari 1949, Mayor A Thalib yang dikawal Mayor Syofyan Ibrahim, Perwira Intel Divisi Banteng, bertemu Kamaludin Tambiluak, dalam perjalanan.

Adapun Kamaludin Tambiluak, memang selamat dari pengepungan dan penyerangan tentara Belanda di Situjuah Batua, 15 Januari 1949. Bahkan, setelah Belanda meninggalkan surau tempat rapat dan mengumpulkan masyarakat sipil di belakang Balai Adat Nagari Situjuah Batua, Kamaludin Tambiluak, seperti kesaksian Burhan Datuak Rajo Pangulu, terpantau seolah-olah ikut mengatur tentara Belanda sepagi itu. Kamaludin Tambiluak berada di dekat Balai Adat, tapi tidak ikut disuruh tentara Belanda untuk baris-berbaris seperti pemuda dan masyarakat sipil lainnya.

Inilah yang membuat masyarakat dan pejuang PDRI peserta rapat 15 Januari 1949, mencurigai keterlibatan Kamaludin Tambiluak, sebagai pengkhianat. Asumsi yang berkembang, jika Kamaludin Tambiluak disuruh baris-berbaris dan mengikuti aba-aba yang disuruh tentara Belanda, tentul nasib Kamaludin Tambiluak, akan serupa dengan nasib warga sipil saat itu. Dimana, warga sipil yang betul gerakan baris-berbarisnya, langsung dianggap Belanda sebagai pejuang terlatih, sehingga dihantam dengan popor senjata dan ditembak mati. Sisanya, disuruh mengangkut rampasan perang ke Kota Payakumbuh.

Benar-benar kejam tentara Belanda saat itu. Aksi kekejaman tentara Belanda yang didominasi “tentara hitam” atau KNIL (orang-orang berkulit hitam yang dibayar sebagai tentara Belanda), sempat dibalas pejuang kemerdekaan Indonesia. Para pejuang, sempat mencegat tentara Belanda yang melintas di Situjuah Banda Dalam. Namun, delapan pejuang Indonesia juga gugur. Mereka dikebumikan di Kuburan Salapan, Situjuah Banda Dalam. Termasuk diantaranya, kakek dari Rezka Oktoberia, mantan anggota DPR-RI yang kini Staf Khusus Menteri ATR/BPN Nusron Wahid.

Selain dicegat di Situjuah Banda Dalam, tentara Belanda yang membawa rampasan perang ke Payakumbuh juga dicegat pejuang PDRI di kawasan Limau Kapeh, Limbukan.Saat itu. pejuang PDRI yang tergabung dalam Kompi Istimewa Batalyon Singa Harau dipimpin Bainal Dt Paduko Malano mendengar kabar di Situjuah Godang, jika Belanda telah menghabisi pejuang yang rapat di Situjuah Batua. Karenanya, Bainal bersama pasukannya, termasuk Burhanudin Putiah (pernah jadi Bupati Limapuluh Kota), menyergap tengara Belanda di Limau Kapeh atau dikenal juga sebagai kawasan Pajak Tendek.

Akibat serangan balasan pejuang PDRI ini, tentara Belanda kocar-kacir. Diantaranya ada yang mati dan luka berat terkena granat dan peluru. Hingga dilarikan dengan truk. Pejuang PDRI yang melihat tentara Belanda terdesak, terus memburu. Hingga terjadi tembak-menembak di Kapalokoto, Limbukan. Malangnya, tujuh pejuang PDRI gugur. Mereka, Sersan Raudani asal Pangkalan, Sersan Abdul Hadis, Sersan Daruhan dari Payakumbuh, Kopral Rasyid Sirin dari Banuhampu, Prajurit Lahasun, Sikar, dan Lasip (dari Payakumbuh)) dikebumikan di Situjuah Gadang.

Diadili di Padang Mangatas

Selepas tragedi 15 Januari 1949 yang menelan banyak korban jiwa, pejuang PDRI terus berkonspolidasi. Sekaligus menyelidiki penyebab bocornya rapat di Surau Lurah Kincia yang dulu berfungsi sebagai masjid nagari, sebelum Masjid Pahlawan saat ini berdiri tahun 1950-an. Dari penyelidikan yang dilakukan semasa itu dugaan adanya kepengkhianatan semakin menguat dan mengarah kepada Kamaludin Tambiluak. Sehingga, gerak-gerak Tambiluak, dan saudaranya, Jalaludin, terus diawasi.

Puncaknya, sewaktu pejuang PDRI menggelar pertemuan di kawasan Aiarandah (kini masuk Kecamatan Lareh Sago Halaban) pada 23 Januari 1949, diperoleh benang merah, bahwa Letnan Satu Kamaluddin Tambiluak memang telah menjadi pengkhianat. Karenanya, dia harus diadili. Rapat di Aia Randah yang menyimpulkan Tambiluak adalah pengkhianat ini dipimpin langsung oleh Dahlan Ibrahim. Dalam rapat, hadir Syofyan Ibrahim, Kamaruddin Datuk Machudum, B Datuk Paduko Malano, dan Mayor A Thalib, yang mulai membaik dari sakit di kakinya.

Saat pejuang PDRI rapat terbatas di Aiarandah ini, Kamaludin Tambiluak sedang berada di Gaduik. Peserta rapat sepakat untuk menjemputnya guna meminta keterangan. Agar Tambiluak tidak curiga, pejuang PDRI menginformasikan bahwa mereka akan melanjutkan rapat di kawasan Padangmangateh (Padangmengatas) dan Tambiluak diminta hadir dalam rapat tersebut. Entah karena percaya dengan undangan rapat atau memang sengaja ingin memata-matai rapat pejuang PDRI, Tambiluak ikut pergi bersama-sama pejuang PDRI Padangmangateh

Selama dalam perjalanan dari Aiarandah, Gaduik, ke Padangmengatas yang kini dikenal sebagai “New Zealand-nya” Sumatera Barat, Tambiluak diawasi pejuang PDRI bernama Martinus Hadi dan Datuak Machudum yang diakhir hayatnya punya hotel ternama Padang (Hotel Machudum). Selain diawasi kedua pejuang, Tambiluak dalam perjalanan dsri Gaduik ke Padangmengatas, sempat hendak dibisi oleh Syofyan Ibrahim. Tapi, Dahlan Ibrahim dapat mengendalikan emosi Syofyan Ibrahim, dengan menyebut, nanti saja Tambiluak diadili di Padangmangateh.

Singkat cerita, sesampai di Padangmangateh, sebagian rombongan yang pura-pura menghadiri rapat, langsung masuk ke dalam sebuah rumah bekas tempat tinggal dokter hewan. Sedangkan sebagian lain, berjaga-jaga di luar rumah yang pada zaman Belanda adalah kawasan peternakan kuda tersebut. Dari dalam rumah, Tambiluak mulai diinterogasi. Ditanya ini dan itu. Namun dia ‘dianggap’ bertele-tele menjawab. Tak lama kemudian, Tambiluak dipanggil ke luar rumah oleh seseorang. Belum sampai di luar rumah atau baru tiba di pintu. Seorang bernama Tobing, tiba-tiba tak bisa menahan amarahnya. Diserangnya Tambiluak dengan golok. Ditebasnya bagian kepala itu hingga tinggal rambut di golok.

Ajaib sekali. Serangan mendadak buat Tambiluak tidak tepat sasaran. Mungkin rambutnya terlalu tebal, mungkin juga karena dia pakai topi warna hitam. Bahkab, beberapa pelor yang ditembakkan juga melenceng. Sehingga Tambiluak bisa melarikan diri dalam kegelapan malam. Dia melompat tebing. Melewati sungai kecil.
Orang-orang yang ada di Padangmangateh, berupaya untuk mengejar. Tapi sia-sia. Tambiluak menghilang tanpa jejak. Mereka yang mencari, terpaksa kembali dengan tangan kosong.

Tak lama kemudian, seluruh rombongan di Padangmangateh berkumpul kembali. Mereka mengambil keputusan, bahwa berdasarkan bukti dan data, Letnan Satu Kamaluddin Tambiluak benarlah pengkhianat yang membocorkan kepada
Belanda, tentang pertemuan pemimpin perjuangan di Situjuah Batua, tanggal 15 Januari 1949 .Atas bukti-bukti itu dikeluarkan pernyataan untuk umum, bahwa Letnan Satu Kamaluddin Tambiluak yang merupakan kaki tangan Belanda, harus ditangkap, baik hidup ataupun mati!

“Dihabisi Pasukan Panah Beracun

Munculnya maklumat dari pejuang PDRI kepada khalayak ramai untuk menangkap Tambiluak dalam keadaan hidup atau mati, membuat lari Sang Letnan tak lagi kencang. Tambiluak nyaris menghilang tanpa jejak setelah “diadili” ” di Padangmengatas. Baru seminggu kemudian beredar kabar, Tambiluak yang menderita luka parah pada bagian kepala, berjalan kaki dari Padangmengatas menuju kawasan Simalagi, Tanjuangpauah, dan Ibuah, Payakumbuh. Hingga terus ke Balai Nan Duo, Koto Nan Ompek. Di sinilah, Tambiluak bertemu dengan Letnan Satu Nurmatias dan Pembantu Letnan Syamsir Rauf.

Pertemuan Tambiluak ini diceritakan oleh rekan satu klubnya di Horizon FC, Amir Kapatabang, kepada HC Israr, tokoh Luak Limopuluah yang menulis cerita bergambar “Dari Celah-Celah Peristiwa Situjuah”. Menurut Amir Kapatabang kepada HC Israr, Tambiluak bertemu Letnan Satu Nurmatias dan Pembantu Letnan Syamsir Rauf, saat Nurmatias datang dari Talang sebagai basis sektornya, untuk berangkat ke tempat pengungsian keluarganya di Jorong Sumua. Melihat luka di pundak Tambiluak sudah parah dan membusuk, Numatias menyarankan agar Tambiluak pergi berobat ke dalam Kota Payakumbuh. Tetapi Tambiluak menolak dan mengatakan akan pulang ke kampungnya. Biarlah dia mati dan menanggung penyakit.

Lantaran Tambiluak menolak pergi berobat, Nurmatias menyarankan Tambiluak pergi ke Kamang, menemui Letkol Dahlan Djambek, untuk melaporkan peritiwa yang dialaminya. Sebab, Dahlan Djambek saat itu adalah tentara paling disegani di Sumatera Tengah. Dia menjabat Komandan Divisi IX Banteng yang dibentuk pada masa perang kemerdekaan (1945–1950) dengan wilayah operasi meliputi empat provinsi saat ini, yakni Sumbar, Riau, Jambi, dan Kepri. Mungkin Nurmatias menyarankan Tambiluak bertemu Dahlan Jambek, untuk mengklarifikasi masalah dan tuduhan beray yang sedang dihadapinya.

Cerita Amir Kapatabang kepada HC Israr ini, memang agak berbeda dengan tulisan sejarah di buku karangan Amir Husein dkk. Apalagi HC Israr menyebutkan, bahwa Tambiluak pada malam harinya, justru tidur bersama dengan Nurmatias dan Amiruddin Hamidy, di sebuah rumah kecil dekat Masjid Ihsan. Besok paginya mereka berpisah. Tambiluak berangkat menuju ke Kamang. Nurmatias dan Amiruddin kembali ke tempat tugas masing-masing. Namun beberapa hari kemudian, terdengar kabar, kalau Tambiluak dibunuh oleh rakyat dan pasukan “Panah Beracun” dibawah pimpinan Datuk Bandaro Hitam, dekat kawasan Padang Tarok.

Sejak dinyatakan terbunuh itu, Tambiluak benar-benar tak lagi ditemukan. Hingga kini, belum ada yang i mengaku sebagai kerabatnya. Juga belum diketahui, dimana Tambiluak dikuburkan setelah terbunuh. Apakah jasadnya sempat dimakamkan atau dibiarkan begitu saja. Tapi, puluhan tahun kemudian, kepengkhianatan Tambiluak menjadi kontroversi. Menurut Indonesianis, Profesor Audrey R. Kahin PHd, yang banyak menulis sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, tak ada bukti kuat menunjukkan bahwa Tambiluak terlibat dalam pembocoran rapat rahasia para petinggi PDRI di Situjuah kepada Belanda.

Sependapat dengan Profesor Audrey Kahin, sejarawan Indonesia Profesor Mestika Zed yang memberi pengantar untuk buku saya berjudul “Tambiluak, Tentang PDRI dan Peristiwa Situjuah” (ISBN 9793458178, 9789793458175), juga menyatakan, Tambiluak bukanlah pengkhianat. Ditegaskan Profesor Mestika Zed, tidak ada data kuat yang menunjukkan, bahwa Tambiluak adalah pengkhianat dalam peristiwa Situjuah Batua 15 Januari 1949. Karena itu hanya sebatas isu yang sengaja dibesar–besarkan. Untuk mendukung pendapatnya, Pak Mestika Zed memunculkan argumen dengan teori dan logika. Bahwa ketika Peristiwa Situjuah terjadi, Tambiluak lari mencari Dahlan Jambek, untuk menyampaikan klarifikasi.

Tak hanya sejarawan, mantan pejuang PDRI, Letnan Satu Nurmatias, lewat tulisan yang dimuat surat kabar di Sumbar, juga pernah meragukan kepengkhianatan Tambiluak. Sementara, Haji Khairuddin Makinuddin, putra mantan Wedana Militer Payakumbuh Selatan Mayor Makinudin HS, semasa hidupnya juga meragukan tudingan pengkhianat yang diberikan kepada Tambiluak. Sebab, menurut H Khairuddin, beberapa hari menjelang tanggal 15 Januari 1949, pesawat capung alias helikopter milik Belanda, telah berputar-putar di sekitar Lurah Kincia. Haji Khairuddin yang mengaku sudah berusia 17 tahun pada saat itu, menduga awak pesawat capung tersebut sedang mengawasi kegiatan yang dilakukan warga dan pejuang PDRI.

Sehingga menurut Haji Khairuddin, pihak yang melaporkan kepada Belanda perihal akan adanya rapat di Lurah Kincia pada 15 Januari 1949, tidak bisa disebut seratus persen Tambiluak. Bisa jadi, awak pesawat capung pengintai milik Belanda inilah yang memberi kaba Selain alasan tersebut, Haji Khairuddin yang pernah menjadi anggota Brimbob Polri menganalisa, bisa jadi Tambiluak dicap pengkhianat, karena kecumburuan sosial. Alasannya, secara ekonomi Tambiluak lebih mapan dari beberapa pejuang. Sebab, sebelum Agresi Belanda Kedua, Tambiluak pernah dipercaya menukar getah dan candu dengan senjata ke Singapura. Waktu itu, Tambiluak berangkat menaiki kapal lewat Sungai Siak.

Namun kemudian, getah dan candu yang dibawah Tambiluak ini tidak jadi bertukar dengan senjata. Karena dia dicegat oleh kapal patroli Belanda yang ada di Sungai Siak. Menurut Haji Khairuddin, bisa jad icandu dan getah yang dibawa Tambiluak, tidak diisetor atau dijual seluruhnya. Sehingga, Tambiluak punya sisa untuk tambahan hidup. Karenanya, tentu ada pejuang yang cemburu sosial kepada Tambiluak. Hanya saja, segala argumen yang “kontra” dengan tudingan pengkhianat buat Tambiluak ini, tentu masih perlu diteliti dan dikaji lebih jernih dan lebih ilmiah.

Terlepas dari berbagai kontraversi di atas, ungkapan metafora dalam sejarah Perancis, bahwa revolusi kerap memakan anak-anaknya sendiri, agaknya tak bisa dilepaskan dari kisah Tambiluak. Namun, revolusi juga tak bisa disalahkan. Yang jelas, Peristiwa Situjuah 15 Januari 1949, merupakan tragedi paling heroik, dengan korban gugur paling banyak, selama Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), berkumandang di Pulau Sumatera, demi menyambung nafas bangsa Indonesia yang hampir putus ulah Agresi Kedua Belanda.

Peristiwa Situjuah, 15 Januari 1949 tentu lebih pentin dari sekadar urusan siapa Tambiluak sebenarnya. Bahkan, Peristiwa Situjuah 15 Januari 1949, harusnya lebih besar dari fenomena sinkhole di Situjuah Batua yang sekali jepret, lansung viral. Tulisan ini, sungguh-sungguh sudah diperbaharui, di seberang sinkhole Situjuah Batua. Selepas upacara peringatan Peristiwa Situjuah ke-77 tahun, yang pelaksanaannya, Alhamdulillah, sudah diambil alih Pemprov Sumbar. Tapi sayang sedikit, upacaranya pada tahun ini, tidak dihadiri pucuk tertinggi Sumbar karena dampak bencana alam. Akhirnya, Dirgahayu Peristiwa Situjuah. Bencana membawa hikmah untuk negeri, betapa nasionalisme kita tak bertepi. Merdeka! (***)

M. Fajar Rillah Vesky adalah penulis buku “Tambiluak, Tentang PDRI dan Peristiwa Situjuah. Saat ini, mendapat amanah sebagai anggota DPRD Kabupaten Limapuluh Kota.

Baca Juga

Fenomen tanah amblas (sinkhole) terjadi di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Lereng Gunung Sago,
Kata Guru Besar UNAND Soal Fenomena Sinkhole di Limapuluh Kota
Tim ahli dari Badan Geologi sudah melakukan kajian terdahap fenomena sinkhole di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah
Ini yang Ditelusuri Badan Geologi Selama 3 Hari Pantau Sinkhole di Limapuluh Kota
Fenomen tanah amblas (sinkhole) terjadi di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Lereng Gunung Sago,
Kaji Sinkhole di Limapuluh Kota, Kementerian ESDM Turunkan Tim Ahli dari Badan Geologi
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebutkan bahwa fenomena amblesan (sinkhole) di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua,
Badan Geologi Rekomendasikan Sinkhole di Limapuluh Kota Jadi Tempat Penyimpanan Air
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebutkan bahwa fenomena amblesan (sinkhole) di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua,
Ahli Geologi Jelaskan Soal Fenomena Sinkhole di Situjuh Batua
Bupati Limapuluh Kota, Safni melantik 1.316 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu di RTH kawasan Komplek
Bupati Limapuluh Kota Lantik 1.316 PPPK Paruh Waktu