Langgam.id – Aroma nasi goreng hangat itu menyebar dari dapur kecil rumah Risa (34) di Padang. Pagi belum terlalu siang, tapi wajan sudah sibuk bergeser di atas kompor. Menu sederhana itu nyaris tak pernah absen dari meja makan, terutama saat anak-anaknya bersiap berangkat sekolah.
“Kalau nasi goreng dari beras pulen, anak-anak makannya lebih lahap. Teksturnya lembut, enggak keras,” kata Risa, ibu rumah tangga yang hampir setiap hari menyiapkan bekal untuk buah hatinya, Rabu (14/1/2026).
Selama ini, Risa mengaku tak terlalu mempersoalkan jenis beras. Beras lokal maupun beras pera tetap ia gunakan untuk memasak nasi goreng. Menurutnya, soal rasa tak banyak berbeda. Namun, urusan selera anak-anak ternyata berkata lain.
“Kalau buat orang dewasa, mau pera atau pulen sama saja. Tapi anak-anak lebih suka yang pulen. Nasinya empuk, mudah dikunyah, apalagi buat bekal ke sekolah,” ujarnya sambil tersenyum.
Beras pulen memang memiliki tekstur nasi yang lebih lembut dan sedikit lengket, sehingga mudah dibentuk dan tidak cepat mengeras saat dingin. Karakter ini membuat nasi goreng tetap enak meski disantap beberapa jam setelah dimasak—sebuah kelebihan yang pas untuk bekal sekolah.
Cerita dari dapur Risa ini sejalan dengan upaya yang tengah didorong Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Barat. BI Sumbar saat ini memaksimalkan pemasaran dan penerimaan beras pulen di tengah masyarakat, sebagai bagian dari strategi pengendalian inflasi daerah.
Di Sumatera Barat, beras menjadi salah satu komoditas utama penyumbang inflasi. Ketergantungan pada jenis beras tertentu, terutama beras lokal, kerap memicu tekanan harga saat pasokan terganggu. Karena itu, diversifikasi dan penerimaan masyarakat terhadap beras pulen dinilai penting.
Kepala Perwakilan BI Sumbar, Mohamad Abdul Madjid Ikram, menegaskan bahwa beras pulen tidak kalah kualitas maupun rasa. Bahkan, cocok diolah menjadi berbagai menu favorit keluarga.
“Harus bisa juga menerima beras pulen. Enak kok,” ujarnya.
Menurutnya, ketika masyarakat semakin terbuka menggunakan beras pulen, stabilitas pasokan akan lebih terjaga dan gejolak harga bisa ditekan. Dampaknya bukan hanya terasa di angka inflasi, tetapi juga langsung menyentuh dapur rumah tangga.
Bagi Risa, urusan inflasi mungkin terdengar jauh dari keseharian. Namun, selama anak-anaknya lahap menyantap nasi goreng pulen buatan rumah, ia merasa tak ada yang perlu dipermasalahkan.
“Yang penting anak suka dan kenyang. Soal beras pulen atau tidak, ternyata bisa disesuaikan,” katanya.
Dari wajan sederhana di dapur rumah hingga kebijakan pengendalian inflasi daerah, nasi goreng beras pulen menemukan jalannya sendiri—menjadi menu favorit anak-anak sekaligus bagian dari solusi menjaga stabilitas harga pangan.






