Langgam.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mempercepat penanganan darurat bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. Operasi lapangan dipimpin langsung oleh Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, yang menegaskan bahwa fokus utama tetap pada pencarian dan pertolongan korban, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, pembukaan akses wilayah terisolir, hingga percepatan distribusi logistik.
Di Sumatera Barat—wilayah yang mencatat perkembangan signifikan pada Sabtu (29/11), jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 90 orang, sementara 85 orang masih dinyatakan hilang dan 10 orang mengalami luka-luka. Kabupaten Agam menjadi daerah dengan korban paling banyak.
“Korban jiwanya ada 90 yang meninggal dunia, 85 hilang, dan 10 luka-luka,” kata Suharyanto, sebagaimana disampaikan dalam rilis, Minggu (30/11/2025).
BNPB melaporkan bahwa sebanyak 11.820 kepala keluarga atau sekitar 77.918 jiwa mengungsi di berbagai titik, terutama di Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan. Sejumlah ruas jalan provinsi dan nasional terputus akibat longsor dan kerusakan jembatan, mempersulit distribusi bantuan ke wilayah terdampak. Meski demikian, pengiriman logistik dari Padang Pariaman dan Pesisir Selatan berhasil tiba di sejumlah titik, sementara delapan titik tambahan sedang dalam proses pengiriman dengan pengawalan kepolisian.
Untuk mendukung percepatan operasi, BNPB telah menempatkan 24 personel pendamping, sementara bantuan darurat dari Presiden berupa alat komunikasi, genset, tenda, LCR, hingga ribuan paket makanan siap saji telah tiba di Bandara Internasional Minangkabau. Pesawat Caravan dan helikopter Bell 505 juga disiagakan untuk menjangkau wilayah-wilayah yang masih sulit diakses melalui jalur darat.
Sementara itu, Sumatera Utara menjadi provinsi dengan dampak paling luas. Hingga hari ketiga tanggap darurat, 166 korban meninggal dunia dan 143 masih hilang, dengan Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga mencatat kerusakan terparah.
“Dalam satu hari ini bertambah 60 korban jiwa berkat operasi pencarian dan pertolongan oleh tim gabungan,” ujar Suharyanto.
Akses utama seperti jalur nasional Sibolga–Padang Sidempuan dan Sibolga–Tarutung terputus total. Beberapa jembatan penting juga rusak berat. Ribuan warga mengungsi di berbagai titik, sementara sejumlah desa hanya dapat dijangkau menggunakan helikopter atau alat berat. Untuk mempercepat distribusi bantuan, lima helikopter ditempatkan di Bandara Silangit dan digunakan menembus wilayah-wilayah terisolir.
Di Aceh, dua hari setelah penetapan status tanggap darurat, tercatat 47 korban meninggal dunia, 51 orang hilang, dan 8 orang luka-luka. Pengungsi mencapai 48.887 kepala keluarga, dengan sebaran tertinggi di Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Singkil.
“Untuk wilayah Aceh, datanya akan terus berkembang karena operasi SAR masih berlangsung,” terang Kepala BNPB itu.
Kerusakan jembatan dan putusnya akses jalan nasional membuat sejumlah kabupaten seperti Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah belum bisa ditembus lewat darat. BNPB mengatasi hambatan komunikasi dengan mengaktifkan jaringan satelit Starlink, sekaligus memperkuat distribusi bantuan melalui helikopter dan pesawat Cessna Caravan.
BNPB memastikan bahwa penanganan di tiga provinsi dilakukan secara terkoordinasi dengan pemerintah daerah, kementerian/lembaga, TNI, Polri, serta para relawan. Suharyanto menegaskan percepatan pembukaan akses, pendataan lanjutan kerusakan, serta pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak akan terus menjadi prioritas utama.
Upaya bersama ini diharapkan dapat mempercepat penanganan di wilayah terdampak, sekaligus memastikan agar bantuan tepat sasaran dan menjangkau warga yang berada di lokasi-lokasi paling terisolir. (*/Yh)






