<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Yayuk Lestari Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/yayuk-lestari/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/yayuk-lestari/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 Oct 2024 23:29:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Yayuk Lestari Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/yayuk-lestari/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Slacktivism: Aktivisme Digital yang Berhenti di Layar</title>
		<link>https://langgam.id/slacktivism-aktivisme-digital-yang-berhenti-di-layar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayuk Lestari]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Oct 2024 23:17:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Yayuk Lestari]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=214202</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di era digital saat ini, muncul sebuah fenomena yang disebut sebagai slacktivism—gabungan dari kata &#8220;slack&#8221; (malas) dan &#8220;activism&#8221; (aktivisme). Slacktivism didefinisikan sebagai bentuk aktivisme online yang melibatkan aktivitas yang membutuhkan sedikit keterlibatan, serta waktu dan usaha yang minimal, biasanya tanpa mobilisasi aktif untuk menyelesaikan suatu masalah sosial. Ini adalah bentuk aktivisme yang kerap ditemukan di dunia maya, di mana seseorang merasa telah berpartisipasi dalam sebuah gerakan tanpa harus melakukan aksi nyata. Salah satu contoh platform yang paling sering diasosiasikan dengan slacktivism adalah Change.org, sebuah situs petisi online yang memungkinkan siapa pun untuk menggalang dukungan terhadap berbagai isu sosial, politik, dan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/slacktivism-aktivisme-digital-yang-berhenti-di-layar/">Slacktivism: Aktivisme Digital yang Berhenti di Layar</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Di era digital saat ini, muncul sebuah fenomena yang disebut sebagai <em>slacktivism</em>—gabungan dari kata &#8220;slack&#8221; (malas) dan &#8220;activism&#8221; (aktivisme). Slacktivism didefinisikan sebagai bentuk aktivisme online yang melibatkan aktivitas yang membutuhkan sedikit keterlibatan, serta waktu dan usaha yang minimal, biasanya tanpa mobilisasi aktif untuk menyelesaikan suatu masalah sosial. Ini adalah bentuk aktivisme yang kerap ditemukan di dunia maya, di mana seseorang merasa telah berpartisipasi dalam sebuah gerakan tanpa harus melakukan aksi nyata.</p>



<p>Salah satu contoh platform yang paling sering diasosiasikan dengan s<em>lacktivism </em>adalah Change.org, sebuah situs petisi online yang memungkinkan siapa pun untuk menggalang dukungan terhadap berbagai isu sosial, politik, dan lingkungan. Penandatangan petisi di Change.org adalah contoh nyata dari bagaimana orang merasa telah berbuat sesuatu untuk mendukung suatu isu hanya dengan memberikan tanda tangan digital, meski tanpa kontribusi lebih lanjut. Change.org telah menjadi platform populer bagi mereka yang ingin menyuarakan dukungan terhadap berbagai isu, dari hak-hak asasi manusia hingga perlindungan lingkungan. Banyak orang yang terlibat dalam Change.org merasa telah melakukan sesuatu yang signifikan hanya dengan menandatangani petisi, meskipun tindakan ini mungkin tidak berdampak langsung pada penyelesaian masalah.</p>



<p><em>Slacktivism</em> membuat seseorang merasa telah berbuat banyak melalui partisipasi digital. Dalam petisi online di Change.org, penandatangan adalah orang-orang yang merasa peduli terhadap suatu permasalahan atau isu tertentu dan kemudian merasa telah membantu dan berbuat sesuatu setelah menandatangani petisi tersebut. Namun, sering kali, partisipasi ini berhenti di situ, tanpa dilanjutkan dengan aksi nyata lainnya seperti advokasi publik atau tindakan nyata untuk mendorong perubahan kebijakan.</p>



<p>Banyak anak muda saat ini cenderung tidak mengikuti isu-isu publik dan lebih memilih untuk mengonsumsi informasi yang bersifat hiburan. Ketertarikan mereka yang lebih tinggi terhadap konten hiburan ini seringkali mengalihkan perhatian dari masalah sosial yang lebih serius, sehingga mengurangi partisipasi mereka dalam aktivisme digital. Meskipun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa penandatangan petisi online tetap memiliki dampak, walaupun mungkin tidak secara langsung. Penelitian menunjukkan bahwa tandatangan petisi online ini bisa membangkitkan kesadaran publik dan memberikan tekanan politik pada pembuat kebijakan, terutama ketika petisi tersebut berhasil menarik perhatian media atau memperoleh dukungan dalam jumlah besar.</p>



<p>Salah satu contoh terbaru yang sangat relevan adalah kasus Afif Maulana pada tahun 2023. Afif Maulana adalah seorang pemuda yang menjadi korban dalam kasus tawuran di Kota Padang. Setelah terjadinya insiden yang merenggut nyawanya, muncul petisi di Change.org yang menuntut keadilan untuk Afif. Petisi ini dengan cepat memperoleh ribuan tanda tangan, menarik perhatian media lokal dan menekan pihak kepolisian untuk menyelidiki kasus tersebut lebih lanjut.</p>



<p>Kasus ini menunjukkan bagaimana petisi online dapat menjadi alat yang efektif untuk mendorong perubahan. Setelah petisi ini menjadi viral, berbagai kelompok masyarakat ikut menyuarakan keprihatinan mereka di media sosial dan media massa. Hasilnya, pihak kepolisian melakukan investigasi yang lebih mendalam dan mengungkapkan komitmen untuk mencegah tawuran serupa di masa depan. Kasus Afif Maulana menegaskan bahwa <em>slacktivism</em>, meski sering dikritik, tetap memiliki potensi untuk membawa dampak nyata, terutama ketika didukung oleh perhatian media dan partisipasi publik yang masif.</p>



<p>Kedua contoh di atas menunjukkan bagaimana Change.org mampu memobilisasi massa untuk berpartisipasi dalam bentuk dukungan digital. Namun, pada kenyataannya, aksi lanjutan atau tindak nyata dari pihak-pihak yang berwenang sering kali tetap diperlukan untuk menghasilkan perubahan yang substansial.</p>



<p><em>Slacktivism</em> sering dikritik karena dinilai hanya menawarkan bentuk dukungan yang dangkal. Namun, meskipun partisipasi ini tampak minim usaha, beberapa petisi di Change.org telah berhasil membawa perubahan, meskipun tidak selalu secara instan atau dalam skala besar. Contohnya adalah beberapa petisi yang telah memaksa perusahaan atau instansi pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan mereka setelah adanya tekanan dari publik.</p>



<p>Dalam beberapa kasus, Change.org berperan penting dalam mengangkat isu-isu yang selama ini terabaikan. Petisi yang mendapatkan banyak dukungan sering kali menjadi perhatian media dan dapat mempengaruhi opini publik. Petisi-petisi ini mampu mendorong diskusi lebih luas di masyarakat, meskipun perubahan kebijakan yang diharapkan mungkin membutuhkan waktu dan aksi lanjutan dari masyarakat sipil. Kritik utama terhadap slacktivism adalah bahwa bentuk aktivisme ini sering kali menghilangkan kebutuhan untuk terlibat lebih jauh dalam aksi nyata. Orang merasa sudah cukup membantu hanya dengan menandatangani petisi atau membagikan tautan di media sosial, tanpa merasa perlu untuk melakukan lebih banyak lagi.</p>



<p>Namun, <em>slacktivism </em>tidak selalu harus dipandang negatif. Petisi di Change.org bisa menjadi langkah awal bagi seseorang untuk mulai peduli terhadap suatu isu. Menurut sebuah studi oleh Pew Research Center (2021), sekitar 50% pengguna media sosial yang menandatangani petisi online melaporkan bahwa mereka merasa lebih terlibat dalam isu-isu sosial setelah melakukan tindakan tersebut. Ini menunjukkan bahwa partisipasi digital dapat meningkatkan kesadaran dan mendorong individu untuk melakukan tindakan lebih lanjut. Kesadaran yang ditumbuhkan melalui partisipasi digital ini dapat menjadi titik awal bagi mereka untuk mengambil tindakan lebih lanjut, seperti bergabung dengan gerakan advokasi atau berpartisipasi dalam kampanye nyata.</p>



<p>Media sosial sering digunakan untuk mendukung berbagai bentuk keterlibatan, baik online maupun offline, sebagai bagian dari <strong>&#8220;repertoar keterlibatan&#8221;</strong> yang saling terhubung. Dengan kata lain, media sosial berfungsi untuk membagikan informasi mengenai aksi dan kampanye <em>offline</em>, sehingga platform digital ini menjadi alat yang efektif dalam memfasilitasi aksi nyata. Oleh karena itu, aksi <em>online </em>di platform seperti Change.org tidak seharusnya berdiri sendiri; aksi tersebut harus diikuti dengan tindakan nyata di dunia offline untuk menyelesaikan masalah sosial yang ada. Kombinasi antara aksi <em>online </em>dan <em>offline </em>dapat menciptakan perubahan yang lebih efektif dan meningkatkan peluang untuk mendorong kebijakan serta perubahan sosial yang diinginkan. (*)</p>



<p><em><strong>Yayuk Lestari, S.Sos, MA, merupakan Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Andalas</strong></em></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/slacktivism-aktivisme-digital-yang-berhenti-di-layar/">Slacktivism: Aktivisme Digital yang Berhenti di Layar</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">214202</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Gosip Online</title>
		<link>https://langgam.id/gosip-online/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayuk Lestari]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Dec 2023 02:58:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Etika Media Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Yayuk Lestari]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=193628</guid>

					<description><![CDATA[<p>Gosip, meski sering diidentifikasi sebagai stereotip bagi perempuan dan sering terkait dengan aspek negatif, sebenarnya memiliki kompleksitas yang menarik. Sejarah gosip tumpang tindih dengan kegiatan budaya lisan perempuan yang menjadi bagian integral dari interaksi sosial mereka. Ini bukan sekadar aktivitas mengoceh, melainkan sebuah cara bagi perempuan untuk menyampaikan pandangan, ide, atau bahkan memahami dinamika sosial di ruang yang seringkali terbatas dalam percakapan informal. Menurut McAndrew dan Milenkovic (2002), perempuan cenderung tertarik untuk berkomunikasi gosip tentang perempuan lain di sekitar mereka, terutama yang memiliki usia atau tingkatan yang serupa. Salah satu faktor pendorongnya adalah adanya dinamika persaingan antar perempuan. Baik kabar</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/gosip-online/">Gosip Online</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Gosip, meski sering diidentifikasi sebagai stereotip bagi perempuan dan sering terkait dengan aspek negatif, sebenarnya memiliki kompleksitas yang menarik. Sejarah gosip tumpang tindih dengan kegiatan budaya lisan perempuan yang menjadi bagian integral dari interaksi sosial mereka. Ini bukan sekadar aktivitas mengoceh, melainkan sebuah cara bagi perempuan untuk menyampaikan pandangan, ide, atau bahkan memahami dinamika sosial di ruang yang seringkali terbatas dalam percakapan informal.</p>



<p>Menurut McAndrew dan Milenkovic (2002), perempuan cenderung tertarik untuk berkomunikasi gosip tentang perempuan lain di sekitar mereka, terutama yang memiliki usia atau tingkatan yang serupa. Salah satu faktor pendorongnya adalah adanya dinamika persaingan antar perempuan. Baik kabar tentang musibah atau skandal maupun informasi positif menjadi daya tarik utama dalam percakapan. Informasi positif seperti prestasi seseorang menjadi penting untuk diketahui karena dapat menjadi tolok ukur atas pencapaian yang bisa dijadikan motivasi bagi orang lain. </p>



<p>Namun, menurut McAndrew, F. T. (2014), internet menyediakan sarana bagi para penggosip untuk menyelidiki, menyimpan, dan kemudian menyebarkan materi gosip. McAndrew menyebutnya sebagai &#8220;perilaku mencari gosip&#8221;. Berbeda dengan gosip yang terjadi secara langsung, kegiatan &#8220;kepo&#8221; atau rasa penasaran bisa dilakukan sendiri dengan memeriksa aktivitas dan timeline individu yang menjadi isu. Tindakan ini seringkali tidak menimbulkan kecurigaan dari orang lain karena dilakukan secara pribadi. Lebih dari itu, gosip yang tersebar melalui media sosial sering dianggap lebih autentik karena terdapat bukti-bukti konkret yang mendukungnya, tidak hanya sebatas perkataan semata.</p>



<p>Gosip awalnya cenderung berlangsung dalam percakapan kelompok kecil, seringkali di lingkaran dekat dengan orang-orang yang dikenal. Namun, dengan munculnya media sosial, pergeseran signifikan terjadi. Gosip tidak lagi terbatas pada lingkungan privat ini; ia telah meluas hingga melibatkan interaksi dengan orang-orang yang tidak dikenal secara pribadi. Ini berarti aktivitas gosip telah berubah menjadi pertukaran informasi yang melibatkan aspek positif dan negatif, terutama ketika melibatkan kritik atau komentar terhadap individu atau topik yang tidak hadir dalam obrolan.</p>



<p>Gosip bukan hanya sekadar sumber informasi. Fungsi utamanya adalah sebagai media informasi yang efisien dalam mengumpulkan dan menyebarkan berbagai informasi yang memengaruhi kesadaran individu akan lingkungan sekitarnya. Selain itu, gosip juga berfungsi sebagai hiburan, menjalin hubungan sosial, dan memperluas pemahaman seseorang terhadap perilaku dan peran individu dalam lingkungan sekitarnya.</p>



<p>Dalam konteks media sosial, gosip <em>online</em> cenderung terjadi lebih sering karena kemudahan dan kecepatan dalam pertukaran informasi. Kelebihan utamanya adalah gosip di media sosial dapat terjadi secara virtual tanpa memerlukan pertemuan fisik, sementara kontennya juga dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Sebagai contoh, platform-platform seperti Twitter, Instagram, atau Facebook memungkinkan pengguna untuk dengan cepat menyebarkan informasi, cerita, atau komentar terkait suatu peristiwa atau individu yang kemudian menjadi perbincangan yang luas.</p>



<p>Meski begitu, perlu dicatat bahwa efisiensi ini juga memiliki dampak negatif. Terkadang, gosip di media sosial menghasilkan konten yang tersebar dengan cepat melalui fitur-fitur seperti WhatsApp story atau dalam bentuk postingan yang dapat dengan mudah dilihat oleh banyak orang. Hal ini, dalam beberapa kasus, dapat menjadi alat untuk mengontrol atau memengaruhi opini dalam dunia maya. Misalnya, komentar atau cerita yang disebarkan oleh seorang pengguna dapat memiliki dampak besar dalam membentuk pandangan atau persepsi terhadap seseorang atau suatu isu.</p>



<p>Meskipun berbagi gosip di media sosial terkadang dapat memiliki dampak negatif, aktivitas ini juga mampu menjadi sarana untuk melepas tekanan emosional. Sebagai contoh, ketika seseorang berbagi cerita atau pengalaman melalui media sosial yang kemudian mendapatkan dukungan atau pemahaman dari orang lain, hal tersebut bisa membantu meredakan perasaan stres atau kekhawatiran yang dirasakan. Namun, dalam prosesnya, gosip di media sosial sering kali rentan terhadap tuntutan hukum ITE karena dapat dengan mudah diabadikan, disimpan, dan dibagikan. Meskipun kasus-kasus semacam ini awalnya bersifat pribadi dan terbatas, melalui media sosial, dapat menjadi viral dan mengarah pada proses hukum yang kompleks dan dapat merusak hubungan personal. Karenanya perlu sekali memahami rambu-rambu hukum dalam bergosip di media online, jangan sampai demi melepas tekanan emosional kita akhirnya melanggar batas-batas norma dan hukum. (*)</p>



<p><em>Yayuk Lestadi, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Andalas</em></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/gosip-online/">Gosip Online</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">193628</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Keamanan Data Digital</title>
		<link>https://langgam.id/keamanan-data-digital/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayuk Lestari]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Oct 2023 04:45:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Keamanan Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Yayuk Lestari]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=190785</guid>

					<description><![CDATA[<p>Survei Kementerian Komunikasi dan Informatika pada 2021 terkait keamanan digital di Indonesia menunjukkan, indeks keamanan digital secara keseluruhan, termasuk aspek keamanan data pribadi dalam konteks tidak berbagi informasi melalui media sosial, mencapai angka 3,1 dalam rentang skala penilaian 1 hingga 5,43. &#160;Skor 3,1 tersebut mencerminkan tingkat kesadaran yang umumnya rendah dalam masyarakat terkait dengan pentingnya perlindungan data pribadi, baik data mereka sendiri maupun milik orang lain. Hasil ini menggambarkan potensi tingginya risiko terjadinya pelanggaran data yang bersifat tidak disengaja, yang sering kali bukan berasal dari niat jahat, melainkan disebabkan oleh kurangnya pemahaman yang memadai tentang bagaimana menjaga keamanan data pribadi</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/keamanan-data-digital/">Keamanan Data Digital</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Survei Kementerian Komunikasi dan Informatika pada 2021 terkait keamanan digital di Indonesia menunjukkan, indeks keamanan digital secara keseluruhan, termasuk aspek keamanan data pribadi dalam konteks tidak berbagi informasi melalui media sosial, mencapai angka 3,1 dalam rentang skala penilaian 1 hingga 5,43. &nbsp;Skor 3,1 tersebut mencerminkan tingkat kesadaran yang umumnya rendah dalam masyarakat terkait dengan pentingnya perlindungan data pribadi, baik data mereka sendiri maupun milik orang lain.</p>



<p>Hasil ini menggambarkan potensi tingginya risiko terjadinya pelanggaran data yang bersifat tidak disengaja, yang sering kali bukan berasal dari niat jahat, melainkan disebabkan oleh kurangnya pemahaman yang memadai tentang bagaimana menjaga keamanan data pribadi dan pentingnya melindunginya. Rendahnya kesadaran terhadap keamanan digital terlihat dengan mudahnya kita berbagi informasi pribadi misalnya informasi tempat tinggal, tempat kerja hingga hari lahir.</p>



<p>Memiliki pemahaman yang baik tentang risiko ketika kita membagikan data pribadi di internet sangat penting dalam era digital saat ini. Berikut adalah beberapa risiko utama yang dapat muncul ketika Anda membagikan data pribadi di internet:</p>



<div class="wp-block-group is-vertical is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-8cf370e7 wp-block-group-is-layout-flex">
<div class="wp-block-group is-vertical is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-8cf370e7 wp-block-group-is-layout-flex">
<p>1. Pelanggaran Privasi</p>



<p>Salah satu risiko utama adalah pelanggaran privasi. Informasi pribadi seperti nama, alamat, nomor telepon, dan alamat email dapat disalahgunakan oleh pihak yang tidak berwenang untuk melakukan penipuan, penyalahgunaan identitas, atau bahkan pencurian identitas.</p>
</div>
</div>



<div class="wp-block-group is-vertical is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-8cf370e7 wp-block-group-is-layout-flex">
<p>2. Pencurian Identitas</p>



<p>Data pribadi yang dibagikan di internet dapat digunakan oleh penjahat cyber untuk mencuri identitas Anda. Mereka dapat menggunakan informasi tersebut untuk membuka rekening palsu, mengajukan pinjaman atas nama Anda, atau melakukan aktivitas ilegal lainnya.</p>
</div>



<div class="wp-block-group is-vertical is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-8cf370e7 wp-block-group-is-layout-flex">
<p>3. Penipuan Online</p>



<p>Ketika Anda membagikan data pribadi, Anda berisiko menjadi korban penipuan online. Penipu dapat mencoba menjebak Anda dengan mengirimkan email atau pesan palsu yang mengecoh Anda untuk mengungkapkan informasi pribadi atau mengklik tautan berbahaya.</p>
</div>



<div class="wp-block-group is-vertical is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-8cf370e7 wp-block-group-is-layout-flex">
<p>4. Spam dan Serangan Phishing</p>



<p>Data pribadi yang dibagikan di internet juga dapat digunakan untuk mengirimkan spam atau pesan phishing kepada Anda. Ini dapat mengganggu kotak surat elektronik Anda dan mencoba mencuri informasi tambahan dengan menyamar sebagai entitas terpercaya.</p>
</div>



<div class="wp-block-group is-vertical is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-8cf370e7 wp-block-group-is-layout-flex">
<p>5. Penyebaran Data Tidak Sah</p>



<p>Informasi pribadi yang Anda bagikan di internet dapat tersebar secara tidak sah jika tidak dijaga dengan baik. Ini bisa terjadi jika Anda mempostingnya di media sosial, forum, atau situs web yang tidak aman, dan data tersebut dapat diakses oleh siapa saja.</p>
</div>



<div class="wp-block-group is-vertical is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-8cf370e7 wp-block-group-is-layout-flex">
<div class="wp-block-group is-vertical is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-8cf370e7 wp-block-group-is-layout-flex">
<p>6. Kurangnya Kontrol atas Data</p>



<p>Ketika Anda membagikan data pribadi, Anda mungkin kehilangan kendali atas bagaimana data tersebut digunakan dan dengan siapa data tersebut dibagikan. Perusahaan atau platform online tertentu mungkin menjual atau berbagi data Anda tanpa sepengetahuan Anda.</p>
</div>
</div>



<div class="wp-block-group is-vertical is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-8cf370e7 wp-block-group-is-layout-flex">
<p>7. Penyadapan Komunikasi</p>



<p>Informasi pribadi yang Anda bagikan dalam komunikasi online, seperti pesan teks atau obrolan, dapat rentan terhadap penyadapan oleh pihak yang tidak berwenang, termasuk pemerintah atau peretas.</p>
</div>



<div class="wp-block-group is-vertical is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-8cf370e7 wp-block-group-is-layout-flex">
<div class="wp-block-group is-vertical is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-8cf370e7 wp-block-group-is-layout-flex">
<p>8. Ketergantungan pada Layanan Online</p>



<p>Memasukkan data pribadi di berbagai situs web atau layanan online dapat membuat Anda semakin tergantung pada layanan tersebut. Ketika data Anda tersebar luas, Anda mungkin merasa sulit untuk keluar dari layanan atau menghapus informasi Anda.</p>
</div>
</div>



<div class="wp-block-group is-vertical is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-8cf370e7 wp-block-group-is-layout-flex">
<div class="wp-block-group is-vertical is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-8cf370e7 wp-block-group-is-layout-flex">
<p>9. Penyusupan Keamanan</p>



<p>Data pribadi yang dibagikan dengan lembaga atau situs web yang rentan terhadap serangan siber dapat menyebabkan risiko penyusupan keamanan, di mana data Anda dapat dicuri oleh peretas.</p>
</div>
</div>



<div class="wp-block-group is-vertical is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-8cf370e7 wp-block-group-is-layout-flex">
<p>10. Paparan Data Anak-Anak</p>



<p>Jika Anda adalah orang tua, membagikan data pribadi anak-anak di internet juga memiliki risiko. Data anak-anak dapat disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.</p>
</div>



<p>Untuk mengurangi risiko ini, penting untuk selalu berhati-hati dan waspada ketika membagikan data pribadi Anda di internet. Periksa kebijakan privasi situs web dan layanan online yang Anda gunakan, gunakan kata sandi yang kuat, perbarui perangkat lunak keamanan Anda, dan hindari membagikan informasi yang tidak perlu atau yang tidak relevan secara publik. Selalu pertimbangkan risiko dan manfaat ketika memutuskan untuk membagikan data pribadi Anda secara online. (*)</p>



<p><em>Yayuk Lestadi, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Andalas</em></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/keamanan-data-digital/">Keamanan Data Digital</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">190785</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Orang Tua dan Berita Hoaks</title>
		<link>https://langgam.id/orang-tua-dan-berita-hoaks/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayuk Lestari]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Sep 2023 02:09:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Hoaks]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Yayuk Lestari]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=187961</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berita bohong yang dikirim melalui pesan singkat WhatsApp cenderung lebih cepat penyebarannya karena platform ini memungkinkan pesan untuk dengan mudah dan cepat berpindah dari satu pengguna ke pengguna lainnya tanpa batasan waktu atau kendala berbagi. WhatsApp juga memiliki fitur grup dengan jumlah banyak anggota, sehingga pesan bohong dapat dengan cepat mencapai banyak orang hanya dalam satu kali pengiriman. Hoaks di Whatsapp lebih sulit terdeteksi karena aplikasi ini dirancang untuk pesan pribadi dan tidak seperti media sosial publik yang sering memiliki algoritma dan moderasi konten. Ini berarti bahwa pesan yang berisi berita bohong tidak selalu terekspos ke publik secara luas, dan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/orang-tua-dan-berita-hoaks/">Orang Tua dan Berita Hoaks</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Berita bohong yang dikirim melalui pesan singkat WhatsApp cenderung lebih cepat penyebarannya karena platform ini memungkinkan pesan untuk dengan mudah dan cepat berpindah dari satu pengguna ke pengguna lainnya tanpa batasan waktu atau kendala berbagi. WhatsApp juga memiliki fitur grup dengan jumlah banyak anggota, sehingga pesan bohong dapat dengan cepat mencapai banyak orang hanya dalam satu kali pengiriman. Hoaks di Whatsapp lebih sulit terdeteksi karena aplikasi ini dirancang untuk pesan pribadi dan tidak seperti media sosial publik yang sering memiliki algoritma dan moderasi konten. Ini berarti bahwa pesan yang berisi berita bohong tidak selalu terekspos ke publik secara luas, dan seringkali hanya dilihat oleh anggota grup tertentu. Selain itu, pesan di WhatsApp biasanya dienkripsi <em>end-to-end</em>, yang berarti bahwa platform tersebut tidak memiliki akses langsung ke konten pesan, membuatnya sulit untuk melakukan pemantauan atau pemfilteran otomatis terhadap berita bohong.</p>



<p>Selain itu, berita bohong di WhatsApp sering kali disertai dengan klaim yang membuatnya terdengar meyakinkan, dan karena pesan ini berasal dari kontak yang dikenal atau dalam grup yang sama, orang cenderung lebih mudah mempercayai dan menyebarkannya tanpa melakukan verifikasi yang cermat. Hal ini menjadikan WhatsApp sebagai wadah yang potensial untuk penyebaran informasi palsu dengan cepat dan efektif.</p>



<p>Salah satu kelompok yang rentan sebagai penyebar hoaks adalah orang tua. Data analisis yang dilakukan oleh Kominfo pada tahun 2018 menunjukkan bahwa penyebar berita hoaks yang paling banyak bukanlah anak muda, melainkan orang tua yang berumur di atas 45 tahun. Dengan kata lain, semakin bertambahnya usia pengguna media sosial, semakin tinggi kemungkinan mereka terpengaruh oleh berita bohong dan semakin besar kecenderungan untuk menyebarkan informasi palsu ini kepada orang lain. Hal ini mungkin disebabkan oleh kurangnya pengalaman dalam memeriksa keaslian berita atau kurangnya keterampilan digital yang dapat membantu dalam mengidentifikasi berita palsu. Salah satu contoh perilaku bermedia orang tua bisa dilihat di Whatsapp Grup. Di dalam grup WhatsApp keluarga misalnya, seringkali beredar pesan-pesan terkait dengan topik kesehatan, dan pesan-pesan ini sering menggunakan nama dokter untuk memberikan kesan kredibilitas. Pesan-pesan tersebut dapat menimbulkan kepercayaan di antara anggota keluarga yang menerimanya. Namun, fenomena ini seringkali disertai dengan pesan-pesan berantai yang telah diproses berulang kali dan hal ini cenderung lebih umum terjadi pada kalangan orang tua. Mengapa penyebaran pesan berita palsu (hoaks) lebih banyak dilakukan oleh orang tua?</p>



<p><strong>Kurangnya Keterampilan Digital</strong>: Generasi yang lebih tua cenderung memiliki kurangnya keterampilan digital dibandingkan dengan generasi yang lebih muda. Mereka mungkin tidak terlalu terbiasa dalam memeriksa keaslian berita atau pesan online, sehingga lebih rentan untuk menyebarkan informasi palsu tanpa verifikasi yang memadai. <strong>Kepercayaan Buta:</strong> Orang tua sering kali lebih rentan terhadap pesan-pesan yang mereka terima, terutama jika pesan tersebut mengklaim berasal dari sumber yang mereka percayai, seperti seorang dokter. Mereka mungkin kurang skeptis terhadap informasi yang mereka terima. <strong>Kurangnya Waktu</strong>: Orang tua sering memiliki jadwal yang lebih padat, mengurus keluarga, pekerjaan, dan tanggung jawab lainnya. Hal ini bisa membuat mereka kurang memiliki waktu untuk melakukan verifikasi terhadap informasi yang mereka terima, sehingga lebih mudah untuk hanya meneruskan pesan tersebut. <strong>Rasa Tanggung Jawab</strong>: Orang tua sering merasa bertanggung jawab untuk melindungi keluarga mereka. Mereka mungkin merasa bahwa dengan menyebarkan pesan-pesan kesehatan, mereka sedang melakukan yang terbaik untuk keluarga mereka, tanpa menyadari bahwa pesan tersebut mungkin tidak benar.</p>



<p>Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa generasi milenial memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengolah informasi yang tersedia di media dibandingkan dengan generasi baby boomers. Perbedaannya dapat dilihat dalam latar belakang pengalaman mereka. Generasi baby boomers lahir sebelum adanya perkembangan signifikan dalam akses informasi yang terjadi saat ini. Mereka tumbuh dalam era di mana sumber informasi utama adalah surat kabar, televisi, dan buku cetak. Sebaliknya, generasi milenial tumbuh dan sangat dekat dengan dunia digital yang penuh dengan internet, media sosial, dan akses cepat ke berbagai jenis informasi. Kemampuan generasi milenial untuk mengelola informasi di media sering kali dipengaruhi oleh kebiasaan digital mereka, seperti kemampuan untuk melakukan penelusuran online, memilah informasi yang relevan, memverifikasi kebenaran berita, dan memahami dinamika media sosial. Mereka lebih terbiasa dengan aliran informasi yang cepat dan kompleks, serta lebih rentan untuk terlibat dalam diskusi dan berbagi informasi secara daring.</p>



<p>Penting untuk meningkatkan literasi digital di kalangan semua generasi, termasuk orang tua, sehingga mereka dapat menjadi lebih sadar akan risiko berita palsu dan memahami pentingnya verifikasi informasi sebelum menyebarkannya. Selain itu, keluarga dapat berperan penting dalam membantu mengedukasi anggota keluarga yang lebih tua tentang cara mengidentifikasi dan menghindari hoaks di media sosial dan aplikasi pesan. (*)</p>



<p><em>Yayuk Lestadi, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Andalas</em></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/orang-tua-dan-berita-hoaks/">Orang Tua dan Berita Hoaks</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">187961</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Langkah Mengatasi Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus</title>
		<link>https://langgam.id/langkah-mengatasi-kekerasan-seksual-di-lingkungan-kampus/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yayuk Lestari]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 30 Jun 2023 10:17:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Seksual]]></category>
		<category><![CDATA[Yayuk Lestari]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=183455</guid>

					<description><![CDATA[<p>Munculnya kasus kekerasan seksual di kampus sebagai berita rutin yang sering muncul di media massa menunjukkan bahwa masalah ini masih belum teratasi dengan baik. Mengapa terus muncul kasus kekerasan seksual di kampus, dapat terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya adalah kurangnya kesadaran dan pemahaman tentang isu kekerasan seksual di kalangan mahasiswa. Terkadang, budaya yang meremehkan seriusnya masalah ini atau mengabaikan hak-hak individu juga dapat memperburuk situasi. Korban kekerasan seksual, yang sebagian besar adalah mahasiswa, seringkali membutuhkan waktu lama untuk berani berbicara. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai alasan yang kompleks. Beberapa korban mungkin mengalami trauma yang mendalam dan kesulitan untuk</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/langkah-mengatasi-kekerasan-seksual-di-lingkungan-kampus/">Langkah Mengatasi Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Munculnya kasus kekerasan seksual di kampus sebagai berita rutin yang sering muncul di media massa menunjukkan bahwa masalah ini masih belum teratasi dengan baik. Mengapa terus muncul kasus kekerasan seksual di kampus, dapat terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya adalah kurangnya kesadaran dan pemahaman tentang isu kekerasan seksual di kalangan mahasiswa. Terkadang, budaya yang meremehkan seriusnya masalah ini atau mengabaikan hak-hak individu juga dapat memperburuk situasi.</p>



<p>Korban kekerasan seksual, yang sebagian besar adalah mahasiswa, seringkali membutuhkan waktu lama untuk berani berbicara. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai alasan yang kompleks. Beberapa korban mungkin mengalami trauma yang mendalam dan kesulitan untuk mengungkapkannya. Selain itu, stigma sosial yang melekat pada korban kekerasan seksual juga dapat membuat mereka takut untuk melaporkan kejadian yang mereka alami. Mereka khawatir akan disalahkan atau tidak dipercaya, serta takut akan konsekuensi negatif yang mungkin timbul dari pengungkapan.</p>



<p>Untuk mendukung lingkungan yang aman bagi mahasiswa, komunitas perguruan tinggi perlu melakukan tindakan konkret. Penting untuk menciptakan budaya kampus yang mendukung setiap anggota komunitas merasa aman, dihormati, dan memiliki kepercayaan dalam melaporkan kekerasan seksual tanpa takut akan reprisal atau stigma. Ini melibatkan menghilangkan pola pikir yang mengabaikan atau meremehkan isu kekerasan seksual serta meningkatkan kesadaran tentang pentingnya memberikan dukungan kepada korban. Dalam mencapai tujuan ini, ada beberapa langkah yang dapat diambil oleh lingkungan kampus:</p>



<p>Pertama, kesetaraan gender dalam pendidikan. Mendukung pendidikan tentang gender dalam kurikulum di bangku kuliah dapat membantu menghilangkan stigma gender dan budaya patriarki. Dosen dapat memberikan kuliah dan diskusi yang mempromosikan kesetaraan gender, memahami isu-isu yang terkait dengan kekerasan seksual, serta mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis tentang hal tersebut. Salah satu langkah yang dapat diambil untuk menciptakan lingkungan yang memberikan keberanian bagi perempuan adalah melalui pendidikan di bangku kuliah. Penting untuk menjadikan kuliah sebagai wadah yang terbuka, dimana mahasiswa merasa bebas untuk berpendapat dan didorong untuk mendorong kesetaraan gender. Dengan demikian, mahasiswa dapat menjadi individu yang kritis dan berani dalam menyikapi isu-isu tersebut. Sayangnya, masih ada beberapa dosen yang berpandangan bahwa materi tentang kesetaraan gender tidak penting, karena dianggap terkait dengan agenda westernisasi bahkan ada yang menyalahkan feminisme sebagai pintu masuk bagi LGBTQ.</p>



<p><strong>Baca Juga: <a href="https://langgam.id/mendorong-lingkungan-kampus-yang-nyaman-bebas-dari-kekerasan-seksual/">Mendorong Lingkungan Kampus yang Nyaman, Bebas dari Kekerasan Seksual</a></strong></p>



<p>Kedua, penghapusan stigma. Penting untuk menghilangkan stigma terhadap korban kekerasan seksual. Mengedukasi seluruh komunitas kampus tentang dampak negatif dari stigma ini dapat membantu menciptakan lingkungan yang mendukung bagi korban. Kampanye pencegahan, diskusi terbuka, dan pertemuan kelompok dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang isu ini dan mengubah sikap yang berkontribusi terhadap stigma.</p>



<p>Ketiga, sistem pelaporan yang aman. Membangun sistem pelaporan yang aman dan terpercaya adalah langkah penting untuk mendorong korban kekerasan seksual melaporkan insiden tersebut. Kampus harus memiliki kebijakan yang jelas dan prosedur yang efektif untuk menangani laporan kekerasan seksual. Jaminan kerahasiaan, perlindungan terhadap pembalasan, dan penanganan yang sensitif terhadap korban harus menjadi prioritas.</p>



<p>Keempat, kolaborasi dengan organisasi masyarakat, lembaga penegak hukum, dan kelompok advokasi juga dapat membantu dalam penanganan dan pencegahan kekerasan seksual di kampus. Kolaborasi dengan pihak eksternal: kerja sama dengan organisasi masyarakat, lembaga penegak hukum, dan kelompok advokasi adalah penting untuk penanganan dan pencegahan kekerasan seksual di kampus. Mengadakan pelatihan, workshop, dan kampanye bersama dapat meningkatkan kesadaran tentang isu kekerasan seksual dan memperluas jaringan dukungan bagi korban.</p>



<p>Kelima, pemanfaatan teknologi. Perkembangan teknologi, seperti platform media sosial, dapat menjadi alat penting dalam memberikan ruang bagi korban untuk menyampaikan pengalaman mereka secara anonim atau melalui saluran aman. Mendukung penggunaan teknologi ini dengan bijak dan memberikan edukasi tentang keamanan digital dapat membantu korban merasa lebih berani untuk menyuarakan pengalaman mereka. Kekerasan seksual di kampus dengan berbagai bentuk bukan hal yang baru. Sebelum internet informasi tentang kekerasan seksual hanya sebatas katanya atau informasinya terbatas. Tak banyak informasi yang bisa digali, korban lebih memilih diam karena mungkin takut atau tak tahu kemana harus mengadu, bukti juga susah untuk didapatkan. Perkembangan teknologi menjadikan korban berani untuk speak out dengan menggunakan platform social media. Ada yang mengadu ke akun menfess, dimana biasanya identitas korban dilindungi, namun kronologis dan pelaku bisa ia beberkan dengan leluasa. Ada juga yang menggunakan saluran WAG dimana informasi bisa cepat viral.</p>



<p>Keenam, peningkatan kesadaran. Mengadakan kegiatan dan acara yang bertujuan meningkatkan kesadaran tentang kekerasan seksual di kampus dapat membantu membangun budaya yang lebih peduli dan mendukung. Diskusi panel, seminar, dan kampanye kesadaran dapat mengajak seluruh komunitas kampus untuk terlibat dan bertindak.</p>



<p>Perlu diingat bahwa masalah kekerasan seksual tidak dapat diselesaikan dengan cepat atau tanpa upaya bersama. Semua langkah ini perlu didukung oleh komitmen yang kuat dari seluruh anggota komunitas kampus, termasuk mahasiswa, dosen, staf administrasi, dan pihak berwenang. (*)</p>



<p><em><strong>Yayuk Lestari, S.Sos, MA, merupakan Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Andalas</strong></em></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/langkah-mengatasi-kekerasan-seksual-di-lingkungan-kampus/">Langkah Mengatasi Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">183455</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 22/62 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-08-04 08:13:27 by W3 Total Cache
-->