<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Tradisi Minang Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/tradisi-minang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/tradisi-minang/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 Aug 2023 08:44:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Tradisi Minang Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/tradisi-minang/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Tradisi Marosok di Pasar Ternak Regional Palangki</title>
		<link>https://langgam.id/tradisi-marosok-di-pasar-ternak-regional-palangki/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Palanta]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 13 Aug 2023 08:39:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Palanta]]></category>
		<category><![CDATA[Sijunjung]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Andalas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=186376</guid>

					<description><![CDATA[<p>Delvi Yanti* &#38; Muhammad Taufiq Iqbal** Marosok merupakan bahasa asli Minang berasal dari kata rosok, yang artinya pegang atau raba. Tradisi marosok oleh sebagian besar pedagang di Pasar Ternak Palangki merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan mereka terutama dalam hal jual beli ternak. Marosok merupakan kegiatan transaksi yang dilakukan antara penjual dan pembeli yang dilakukan secara rahasia dengan cara menutupi tangan mereka menggunakan sarung atau kain sebagai penutupnya. Dalam konteks ini marosok berarti tawar menawar di balik kain penutup tangan. Tradisi marosok di Pasar Ternak Regional Palangki sendiri masih menjadi sesuatu hal yang utama dan masih tetap dilakukan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/tradisi-marosok-di-pasar-ternak-regional-palangki/">Tradisi Marosok di Pasar Ternak Regional Palangki</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Delvi Yanti* &amp; Muhammad Taufiq Iqbal**</p>



<p>Marosok merupakan bahasa asli Minang berasal dari kata rosok, yang artinya pegang atau raba. Tradisi marosok oleh sebagian besar pedagang di Pasar Ternak Palangki merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan mereka terutama dalam hal jual beli ternak. </p>



<p>Marosok merupakan kegiatan transaksi yang dilakukan antara penjual dan pembeli yang dilakukan secara rahasia dengan cara menutupi tangan mereka menggunakan sarung atau kain sebagai penutupnya. </p>



<p>Dalam konteks ini marosok berarti tawar menawar di balik kain penutup tangan.</p>



<p>Tradisi marosok di Pasar Ternak Regional Palangki sendiri masih menjadi sesuatu hal yang utama dan masih tetap dilakukan sampai sekarang. Pasar Ternak Palangki biasanya beroperasional setiap hari tetapi ada hari tertentu yang menjadi puncaknya pasar yaitu di hari Jumat-Sabtu. </p>



<p>Para pedagang bisa menjual ternaknya di pasar ternak ini tanpa dipungut biaya berapapun, dan hanya membeli surat jalan ketika sudah membeli ternak sebagai tanda bahwa ternak itu sudah sebagai hak milik pembeli.</p>



<p>Tradisi marosok merupakan tradisi asli yang berasal dari Minangkabau yang pada awal mulanya tradisi marosok ini hanya dilakukan oleh pedagang Minang, namun seiring berkembangnya zaman dan semakin banyaknya masuk pedagang dari luar wilayah Sumbar ke Pasar Ternak Regional Palangki ini, seperti dari Jambi, Aceh, Lampung, Bengkulu, bahkan dari Jawa para pedagang dari luar ini mulai belajar dan juga mempraktekkan kegiatan marosok ini sebagai media transaksi jual beli ternak. </p>



<p>Jika para pedagang belum mahir dalam mengartikan kode saat transaksi marosok, maka ada pihak yang akan membantu.</p>



<p>Budaya marosok secara historis, sangat erat kaitannya dengan rasa malu dan sopan santun. Di Minangkabau, hewan ternak seperti sapi dan kerbau, pada zaman dahulunya juga merupakan harta pusaka pada satu keluarga dan menjual harta pusaka dalam pandangan masyarakat Minangkabau merupakan hal yang memalukan. </p>



<p>Jika harta pusaka di Minang terpaksa harus dijual, maka mereka akan menjaga rahasianya. Harga jual harta pusaka orang Minang, akan menggambarkan pribadi orang yang punya harta, jika dijual murah maka akan dianggap mengobral harta pusaka, jika harga jual tinggi maka akan dianggap memanfaatkan harta pusaka untuk mendapatkan keuntungan. </p>



<p>Maka untuk menjaga kerahasian ini, lahirlah tradisi marosok saat jual beli hewan ternak di Minang.</p>



<p>Dalam tradisi marosok yang berlangsung di pasar ternak terdapat sebuah etika yang dijunjung tinggi antara penjual dan pembeli dalam melakukan transaksi. Marosok dilakukan dengan tujuan agar harga ternak yang akan diperjual belikan tetap terjaga kerahasiaannya dan dengan demikian keseimbangan harga ternak di pasar tetap terjaga sehingga tidak menimbulkan konflik antara pembeli satu dengan lainnya.</p>



<p>Dalam marosok, yang bermain hanyalah jari tangan sebagai media tawar menawar harga yang akan disepakati oleh kedua belah pihak tanpa ada sepatah kata yang terucap dari mulut antara penjual dan pembeli. Disinilah letak keunikan dari tradisi marosok tersebut, tanpa bicara sepatah katapun mereka para pedagang dan pembeli dapat mengetahui harga yang ditawarkan.</p>



<p>Marosok tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang dan dengan sembarangan cara, karena di dalam merosok terdapat sebuah teknik permainan jari tangan yang menentukan berapa harga yang ditawarkan, harga ternak bisa saja naik, harga ternak bisa turun dan harga ternak sudah tidak bisa ditawar. Dengan demikian kegiatan marosok ini harus dipelajari terlebih dahulu sebelum dipraktekkan langsung di lapangan.</p>



<p>Banyak sekali alasan tradisi marosok masih dipertahankan hingga sampai sekarang dan tidak dapat dipisahkan dalam transaksi di pasar-pasar ternak di Sumbar terutama di Pasar Ternak Palangki. Salah satu alasan tradisi ini harus tetap ada karena pada setiap hewan yang akan di perjual belikan terkadang terdapat beberapa keunikan yang tidak bisa ditimbang, seperti keunikan dari corak warna ternak, bentuk tanduk ternak, dan lain-lain.</p>



<p>Itulah mengapa tradisi marosok harus tetap dilestarikan karena tidak semua ternak dapat ditimbang untuk diambil dagingnya saja tetapi juga dapat dilihat dari keunikan yang ada pada masing-masing ternak tersebut. </p>



<p>Jika tradisi marok kehilangan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat, maka pasar ternak yang ada di Sumbar akan kehilangan pamornya sebagai salah satu pasat ternak terbesar di pulau Sumatera yang masih melestarikan kebudayaan dari nenek moyang secara turun temurun.</p>



<p>Tradisi marosok sendiri sudah mendapatkan penghargaan dari pemerintahan sebagai budaya tak benda yang harus tetap dilestarikan. Oleh karena itu kita sebagai generasi muda harus tetap melanjutkan dan melestarikan tradisi marosok ini. </p>



<p>Tidak hanya itu bagi para orang tua yang ahli dalam marosok ini hendaknya mengajari para generasi muda agar tradisi ini tetap ada dan tidak hilang tergerus oleh zaman.</p>



<p>*Dosen Teknik Pertanian dan Biosistem Universitas Andalas<br>**Mahasiswa KKN-PPM 2023 Nagari Palangki</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/tradisi-marosok-di-pasar-ternak-regional-palangki/">Tradisi Marosok di Pasar Ternak Regional Palangki</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">186376</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ranahisasi Kesenian Minang</title>
		<link>https://langgam.id/ranahisasi-kesenian-minang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Donny Syofyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2023 05:22:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Alam Pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[seniman minang]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=178582</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aktivitas berkesenian tidak pernah lesu di ranah Minang. Lewat kemajuan teknologi internet dan digital, produktivitas aktivias seni maunpun antusiasme publik Minang terhadap kesenian dan praktisi seni Minang—musik, tari bahkan film—yang berasal di ranah Minang memperlihatkan gelagat yang positif. Ratu Sikumbang, Ipank, Rayola, Fauzana dan Buset (penyanyi), Ery Mefri (pemimpin dan koreografer Nan Jombang Dance Company), Teguh Prasetyo, lebih dikenal dengan Praz Teguh, dan Rin Hermana (komedian) adalah sejumlah nama yang mewakili talenta-talenta kesenian Minang kontemporer yang bukan hanya berprestasi tapi juga berhasil mencuri perhatian publik secara luar biasa. Geliat ini sesungguhnya mewartakan apa yang dinamakan sebagai ranahisasi kesenian; terbitnya aktivitas</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ranahisasi-kesenian-minang/">Ranahisasi Kesenian Minang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Aktivitas berkesenian tidak pernah lesu di ranah Minang. Lewat kemajuan teknologi internet dan digital, produktivitas aktivias seni maunpun antusiasme publik Minang terhadap kesenian dan praktisi seni Minang—musik, tari bahkan film—yang berasal di ranah Minang memperlihatkan gelagat yang positif. </p>



<p>Ratu Sikumbang, Ipank, Rayola, Fauzana dan Buset (penyanyi), Ery Mefri (pemimpin dan koreografer Nan Jombang Dance Company), Teguh Prasetyo, lebih dikenal dengan Praz Teguh, dan Rin Hermana (komedian) adalah sejumlah nama yang mewakili talenta-talenta kesenian Minang kontemporer yang bukan hanya berprestasi tapi juga berhasil mencuri perhatian publik secara luar biasa.</p>



<p>Geliat ini sesungguhnya mewartakan apa yang dinamakan sebagai ranahisasi kesenian; terbitnya aktivitas dan produktivitas kegiatan berkesenian dari ranah Minang sendiri alih-alih dari rantau. Sungguhpun pelbagai aktivitas seni tidak pernah menunjukkan kevakuman di ranah Minang, namun sulit dipungkiri bahwa gaungnya amat terbatas di ‘kandang’ sendiri, <em>dari awak untuak awak</em>, belum secara merata berdampak di tingkat nasional. </p>



<p>Kalaupun dikenal di Tanah Air, masyarakat lebih mengenal kiprah kesenian artis-artis di tingkat nasional yang kebetulan berdarah Minang. Sayangnya aroma seni Minangnya tidak kelewat semerbak karena banyak yang tidak bisa berbahasa Minang, mengenal budaya Minang dan memilih berkiprah di dunia hiburan di Ibu Kota, semisal musik pop dan sinetron.</p>



<p>Titik balik dunia berkesenian di ranah Minang ini bukanlah realitas yang terjadi secara tiba-tiba. Setidaknya, ia berkelindan dengan dengan dua faktor utama. Pertama, menguatnya kreativitas para pelaku kesenian di ranah Minang. </p>



<p>Untuk produktivitas artis dan pencipta lagu Minang, misalnya, jangan ditanya. Baik yang senior maupun pendatang baru seolah-olah kompak untuk tidak berhenti menyemarakkan dunia kesenian di Sumatera Barat. Hanya saja produktivitas ini tidak selalu beriring jalan dengan kreativitas.</p>



<p>Kesenian Minang atau aktivitas seni orang-orang Minang di ranah belakangan mulai serius menggarap kreativitas. Ini tidak terlepas dari dari kontribusi anak-anak muda yang ingin menghasilkan sesuatu yang baru dan beda.</p>



<p>Kemunculan Praz Teguh sebagai komedian pendatang di tingkat nasional dan Ipank, Fauzana, atau Arief sebagai artis Minang yang memiliki penggemar bukan saja di ranah Minang tapi juga di rantau, bukan saja orang Minang tapi juga mereka yang berbilang suku di Tanah Air, meneguhkan keyakinan bahwa anak muda adalah ‘makhluk’ yang kreatif dan inspiratif.  </p>



<p>Bila Praz Teguh mengilhami banyak orang bahwa orang daerah bisa sukses di Jakarta sepanjang memiliki kepercayaan diri dan kebanggaan dengan identitas lokal, Ipank Fauzana, atau Arief dan lain-lain mengajarkan kita bahwa kesuksesan bermusik Minang juga terbuhul dengan kemampuan menggarap mozaik kekayaan Minang dalam seni musik—adat, musyawarah, dan perkawinan dalam adat—tidak melulu mendendangkan asmara muda-mudi.</p>



<p>Kreativitas juga bermakna kemampuan mengontekstualisaikan dan memutakhirkan mozaik dan khazanah budaya.Meskipun sudah tak muda lagi, tak sedikit praktisi seni senior tetap eksis lantaran berjiwa muda. Ery Mefri—pendiri, pemimpin dan koreografer Nan Jombang Dance Company—adalah seorang koreografer yang melahirkan karya- karya kontemporer, acuan atau pijakan tetap tidak terlepas dari adat dan budaya Minangkabau. </p>



<p>Bagi Ery Mefri, yang telah menghasilkan 50 karya dan menjelajahi empat benua memenuhi undangan banyak pihak, kreativitas berkesenian adalah menciptakan keseimbangan yang indah antara seni tradisi dan seni kontemporer.</p>



<p>Kedua, kecakapan memanfaatkan teknologi internet dan digital. Anak-anak muda Minang yang menghiasi dunia kesenian hari ini di ranah Minang sangat piawai memanfaatkan teknologi internet, semisal media sosial dan Youtube. </p>



<p>Popularitas Praz Teguh tak bisa dilepaskan oleh postingan video Youtubenya lewat slogan ‘Minangkan Indonesia’, di antaranya <em>Pacah Paruik</em>. Lagu Ipank feat Rayola berjudul “<em>Rantau Den Pajauah</em>” menjadi salah satu lagu daerah yang paling banyak ditonton di Youtube di Tanah Air, mencapai angka puluhan juta. Angka ini diprediksi terus meningkat mengingat peminatnya bukan saja orang Minang tapi juga suku lain di Tanah Air.  </p>



<p>Ketenaran Ratu Sikumbang dan produktivitas Ajo Buset yang sudah menelorkan puluhan album juga dipengaruhi oleh konsistensi mereka menggunakan media sosial dan internet dalam menjaga eksistensi mereka. Begitu juga duet Fauzana dan Frans dengan tembangnya <em>Panek Diawak Kayo Diurang</em> yang sudah ditonton lebih 100 juta kali.</p>



<p>Dalam banyak hal, kemelekan artis-artis Minang memanfaatkan perkembangan teknologi internet, digital dan informasi tersebut mengantarkan mereka untuk berjiwa kompetitif, bukan sekadar jago kandang.</p>



<p>Prestasi Praz Teguh dan Rin Hermana dalam kompetisi pencarian bakat komedi lewat <em>Stand-Up Comedy</em> di Ibu Kota, penampilan Nan Jombang Dance Company di manca negara, hingga penghargaan dunia perfilman nasional terhadap film-film besutan sineas muda ranah Minang menunjukkan kepercayaan diri dan keyakinan seniman ranah Minang bahwa kompetisi dan kolaborasi menjadi niscaya demi eksistensi, reputasi dan popularitas.</p>



<p>Semarak kesenian yang berbasiskan ranah ini mewujud sebagai antitesis bahwa untuk sukses menjadi artis, selebriti atau bintang harus hijrah ke atau dimulai di Jakarta. Ranah merupakan tempat tumbuh kembangnya talenta-talenta paten berkesenian yang menyuguhkan pesona ganda: ranah atau rantau.</p>



<p>Buset, Ipank, Rayola, Fauzana, Praz Teguh, Ery Mefri dan lain-lain adalah seniman atau artis Minang, berdomisili dan memulai debutnya di ranah dengan kredibiltas dan popularitas yang diakui di ranah dan di rantau. </p>



<p>Sementara Ratu Sikumbang, kendatipun hidup di rantau, perlu ‘pulang kampuang’ ke ranah Minang untuk ‘hidup’ menyapa penggemarnya. Dalam konteks dunia kesenian Minang mutakhir ini, relasi antara ranah dan rantau bersifat saling mengisi. Pameo bahwa orang harus merantau dulu untuk hidup agaknya tidak serta merta relevan dicermati dari perkembangan dunia kesenian di Sumatera Barat dewasa ini.</p>



<p>Dalam konteks yang lebih luas, geliat kesenian di kampung halaman ini mendorong perlunya keinsafan besar pentingnya sinergisitas; bahwa tak ada perbedaan atau pembedaan yang juga tidak hierarkis antara rantau dengan darat, adat dengan Islam, anak dengan kemenakan. bahkan modernitas dengan tradisi. <em>Wallâhu a`lam</em>.</p>



<p><strong>*Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ranahisasi-kesenian-minang/">Ranahisasi Kesenian Minang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">178582</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Usaha Menjaga Silat Tradisi, Dompet Dhuafa Gelar Serambi Budaya</title>
		<link>https://langgam.id/usaha-menjaga-silat-tradisi-dompet-dhuafa-gelar-serambi-budaya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Dec 2021 23:33:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[budaya minang]]></category>
		<category><![CDATA[Pencak Silat]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=143015</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id-Dompet Dhuafa (DD) Singgalang menggelar event Serambi Budaya dan Sarasehan Silek Tradisi di Lapangan Futsal Salingka, Koto Tangah, Kota Padang, Senin (12/27/2021). Kegiatan bertujuan menjaga tradisi silat dengan menjalin silaturahmi antar perguruan silat. Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Singgalang Hadien Bandarian Syah mengatakan tujuan dari kegiatan Serambi Budaya dan Sarasehan adalah untuk mengembangkan serta mempertahankan kearifan lokal dan sosial budaya Silek Minangkabau. Menurut dia, indikator keberhasilan program ini adalah hadirnya sepuluh perguruan silat yang berkomitmen untuk terus mempertahankan kebudayaan silatnya di daerah masing-masing. &#8220;Kita harapkan tetap terawat silaturahmi antar perguruan silek di Minangkabau,” katanya lewat keterangan tertulis, Senin (27/12/2021). Ketua Ikatan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/usaha-menjaga-silat-tradisi-dompet-dhuafa-gelar-serambi-budaya/">Usaha Menjaga Silat Tradisi, Dompet Dhuafa Gelar Serambi Budaya</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id-</strong>Dompet Dhuafa (DD) Singgalang menggelar event Serambi Budaya dan Sarasehan Silek Tradisi di Lapangan Futsal Salingka, Koto Tangah, Kota Padang, Senin (12/27/2021). Kegiatan bertujuan menjaga tradisi silat dengan menjalin silaturahmi antar perguruan silat.</p>
<p>Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Singgalang Hadien Bandarian Syah mengatakan tujuan dari kegiatan Serambi Budaya dan Sarasehan adalah untuk mengembangkan serta mempertahankan kearifan lokal dan sosial budaya Silek Minangkabau.</p>
<p>Menurut dia, indikator keberhasilan program ini adalah hadirnya sepuluh perguruan silat yang berkomitmen untuk terus mempertahankan kebudayaan silatnya di daerah masing-masing.</p>
<p>&#8220;Kita harapkan tetap terawat silaturahmi antar perguruan silek di Minangkabau,” katanya lewat keterangan tertulis, Senin (27/12/2021).</p>
<p>Ketua Ikatan Silat Jampang area Bogor, Depok, dan Tangerang Herman mengatakan iven ini adalah salah satu bagian kegiatan Dompet Dhuafa untuk mengembangkan budaya, sosial dan agama.</p>
<p>&#8220;Budaya itu penting dilestarikan, budaya merupakan sebuah peradaban, kegiatan silat ini menjadi bagian untuk melestasikan budaya tersebut,” katanya.</p>
<p>Selain itu, kegiatan bukan hanya sebatas melestarikan budaya, namun juga menyonsong keberkahan dunia dan akhirat. Dia menyebut silat tradisi mesti diperjuangkan agar bisa lestari.</p>
<p>“Hari ini perdana kita launching acara, Insya Allah gongnya tahun 2022. Kita tahu masyarakat terkadang tidak kenal silat tradisi, tapi dengan ikhtiar kita perlahan tapi pasti,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Dia melanjutkan, semua harus bangga pada 19 Desember 2019 lalu UNESCO yelah menetapkan Pencak Silat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage). Dia mengajak semua saling mendukung dan mengembangkan tradisi silat agar jangan sampai penghargaan itu dicabut.</p>
<p>Pencak Silat harus menjadi way of life atau jalan hidup, bukan hanya sebatas latihan fisik, namun juga menjadi wadah pembentukan moral dan budi pekerti.</p>
<p>&#8220;Kita doakan para anggota pencak silat baik di Sumbar dan daerah lain sukses. Jangan sampai ada iri dengki antar pesilat, dengan acara saresehan ini semakin kuat terjalin tali persaudaraan antar perguruan,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Diketahui dalam iven ini diikuti oleh 10 perwakilan perguruan silat di Sumbar diantaranya, Silek Taralak Minangkabau (Aliran Taralak), PPS Talago Biru Pusat / Pasaman ( Aliran Taralak ), PPS Jambak Sejati ( Aliran Kumango ), PPS Talago Sakti (Aliran Silek Gadang), dan SKPS Silek Kumango Padang Sago (Aliran Kumango Padang Sago).</p>
<p>Kemudian Sasaran Silek Kumango Pauah Malayu Saiyo ( Aliran Kumango Pauah), Grup Pusako Minang RKB Padang ( Aliran Silek Tuo), Perguruan Silat Alang Gea Sirukam, Perguan Silat Kuciang Lia, dan PS Karang Indah (Aliran Paninjauan). <strong>(*/Rahmadi)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/usaha-menjaga-silat-tradisi-dompet-dhuafa-gelar-serambi-budaya/">Usaha Menjaga Silat Tradisi, Dompet Dhuafa Gelar Serambi Budaya</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">143015</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Baganang, Tradisi Melepas Ikan ke Sawah di Agam</title>
		<link>https://langgam.id/mengenal-baganang-tradisi-melepas-ikan-ke-sawah-di-agam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Lisa Septri Melina]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Nov 2021 00:22:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Agam]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Agam]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[Sawah]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=139578</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Masyarakat Jorong Tanjuang Barulak, Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, punya cara unik dalam budidaya ikan. Mereka menjadikan sawah untuk budidaya ikan, suatu hal yang mereka sebut baganang. Sudah puluhan tahun baganang atau membudidaya ikan di sawah tidak dihelat di sana. Kemarin, baganang kembali dihelat di lahan Gapoktan Talago Agam. Bupati Agam Andri Warman turut serta dalam kegiatan itu, melepaskan 40 ribu ekor bibit ikan rayo ke lahan sawah. “Kini bibit sudah tersedia 40 ribu ekor bibit ikan rayo dan dilepas di lahan baganang yang dipinjamkan warga,” terang, salah seorang warga di sana. Ia mengatakan baganang</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengenal-baganang-tradisi-melepas-ikan-ke-sawah-di-agam/">Mengenal Baganang, Tradisi Melepas Ikan ke Sawah di Agam</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Masyarakat Jorong Tanjuang Barulak, Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, punya cara unik dalam budidaya ikan. Mereka menjadikan sawah untuk budidaya ikan, suatu hal yang mereka sebut <em>baganang</em>.</p>
<p>Sudah puluhan tahun <em>baganang</em> atau membudidaya ikan di sawah tidak dihelat di sana. Kemarin, <em>baganang </em>kembali dihelat di lahan Gapoktan Talago Agam.</p>
<p>Bupati Agam Andri Warman turut serta dalam kegiatan itu, melepaskan 40 ribu ekor bibit ikan rayo ke lahan sawah. “Kini bibit sudah tersedia 40 ribu ekor bibit ikan rayo dan dilepas di lahan baganang yang dipinjamkan warga,” terang, salah seorang warga di sana.</p>
<p>Ia mengatakan <em>baganang</em> ini terlaksana ketika Palupuah dan Kamang Magek masih bergabung dengan Tilatang Kamang yang menjadi penghasilan tambahan bagi masyarakat.<br /><br />“Dulu <em>baganang</em> ini jadi swasembada di Tilatang Kamang, bahkan jadi salah satu menu utama ketika ada pesta pernikahan,” katanya, sebagaimana dicuplik dari <em>AMCNews.</em><br /><br />Lanjut dia, karena telah lama tidak dilakukan baganang maka kini katanya dihidupkan kembali dengan penyediaan bibit melalui swadaya.<br /><br />Dengan begitu, ia berharap setiap jorong di Nagari Koto Tangah melaksanakan baganang, karena kegiatan ini memkliki manfaat besar bagi masyarakat. &#8220;Ini adalah kegiatan yang bermanfaat, semoga setiap nagari dapat menerapkannya,&#8221; harap dia.</p>
<p>“Meski sudah lama tidak dilaksanakan, tapi berkat kerja sama masyarakat baganang ini kembali dihidupkan,” ujar Bupati Agam Andri Warman.</p>
<p>Menurutnya, ini akan jadi salah satu sumber penghasilan bagi masyarakat, sehingga diharapkannya budidaya ikan kembali meluas di wilayah ini.<br /><br />“Kita merasa senang banyak program yang diluncurkan untuk kepentingan masyarakat, salah satunya baganang,” tuturnya. (*/Lisa)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengenal-baganang-tradisi-melepas-ikan-ke-sawah-di-agam/">Mengenal Baganang, Tradisi Melepas Ikan ke Sawah di Agam</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">139578</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pemkab Padang Pariaman Bolehkan Tradisi &#8220;Basapa&#8221; dengan Prokes Ketat, Ini Jadwalnya</title>
		<link>https://langgam.id/pemkab-padang-pariaman-bolehkan-tradisi-basapa-dengan-prokes-ketat-ini-jadwalnya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nabila Hanum]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Sep 2021 01:47:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Padang Pariaman]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=127771</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Padang Pariaman mengizinkan tradisi Basapa digelar tahun ini. Namun, masyarakat yang mengikuti harus menerapkan protokol kesehatan ketat, salah satunya melakukan rapid test di lokasi. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Rina saat rapat koordinasi kesiapan melaksanakan kegiatan basapa tahun ini, Selasa (21/9/2021). Ia mengatakan, dinkes telah menyiapkan posko kesehatan diberbagai titik. Seperti di depan Makam Syekh Burhanuddin merupakan posko utama. Selain itu juga disediakan test antigen serta rapid test guna memastikan keamanan setiap pengunjung dalam melakukan kegiatan basapa tahun ini serta terhindar dari penyebaran virus. “Kita telah menyediakan posko di setiap titik masuk kawasan basapa</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pemkab-padang-pariaman-bolehkan-tradisi-basapa-dengan-prokes-ketat-ini-jadwalnya/">Pemkab Padang Pariaman Bolehkan Tradisi &#8220;Basapa&#8221; dengan Prokes Ketat, Ini Jadwalnya</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Padang Pariaman mengizinkan tradisi Basapa digelar tahun ini. Namun, masyarakat yang mengikuti harus menerapkan protokol kesehatan ketat, salah satunya melakukan rapid test di lokasi.</p>
<p dir="ltr">Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Rina saat rapat koordinasi kesiapan melaksanakan kegiatan basapa tahun ini, Selasa (21/9/2021).</p>
<p dir="ltr">Ia mengatakan, dinkes telah menyiapkan posko kesehatan diberbagai titik. Seperti di depan Makam Syekh Burhanuddin merupakan posko utama.</p>
<p dir="ltr">Selain itu juga disediakan test antigen serta rapid test guna memastikan keamanan setiap pengunjung dalam melakukan kegiatan basapa tahun ini serta terhindar dari penyebaran virus.</p>
<p dir="ltr">“Kita telah menyediakan posko di setiap titik masuk kawasan basapa guna melakukan screening kepada setiap pengunjung guna memastikan kemanan pengunjung. Kita juga mengadakan Tes Antigen dan Rapid Test diposko utama yang akan beroperasi 24 jam selama kegiatan berlangsung” Ujarnya</p>
<p dir="ltr">Pada rapat koordinasi kesiapan melaksanakan kegiatan basapa tahun ini, beberapa OPD terkait dan perwakilan dari Kepolisan dan Dandim 0308 Pariaman juga telah menyatakan kesiapan nya dalam mendukung kegiatan basapa pada tahun ini.</p>
<p dir="ltr">Diketahui, Basapa adalah suatu upacara yang dilakukan oleh masyarakat Muslim di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat khususnya di kecamatan Ulakan.</p>
<p dir="ltr">Kegiatan utama yang dilakukan dalam tradisi ini adalah berziarah ke makam Syekh Burhanuddin, salah satu tokoh yang berperan penting dalam penyebaran agama Islam di Sumbar pada masa pemerintahan Kerajaan Pagaruyung.</p>
<p dir="ltr"><strong>Baca juga: <a href="https://langgam.id/tradisi-basapa-di-padang-pariaman-ditetapkan-jadi-warisan-budaya-non-benda/">Tradisi “Basapa” di Padang Pariaman Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda</a></strong></p>
<p dir="ltr">Kegiatan ini bertujuan untuk mengenang jasa sang ulama dalam upayanya menyebarkan agama Islam. Basapa dilakukan setiap bulan Safar dalam penanggalan kalender Islam atau Hijriah.</p>
<p dir="ltr">Basapa pada tahun ini akan dilaksanakan pada tanggal 22-29 September 2021 yang terpusat di Nagari Ulakan Tapakis. Tradisi ini bisa  dikunjungi berbagai lapisan masyarakat Kabupaten Padang Pariaman dan dari berbagai daerah di Sumatra Barat.</p>
<p dir="ltr">Asisten 1 Pemkab Padang Pariaman, Rudi Rahmad, menyampaikan bahwa kegiatan Basapa kali ini melihat level PPKM yang saat ini sudah berada di level 2.</p>
<p dir="ltr">“Pada kegiatan kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena dunia saat ini sedang dilanda pandemi Covid-19 tak terkecuali kabupaten Padang Pariaman. Kegiatan basapa kali ini akan dilaksanakan dengan prokes yang ketat,&#8221; ujarnya.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pemkab-padang-pariaman-bolehkan-tradisi-basapa-dengan-prokes-ketat-ini-jadwalnya/">Pemkab Padang Pariaman Bolehkan Tradisi &#8220;Basapa&#8221; dengan Prokes Ketat, Ini Jadwalnya</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">127771</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Fakta di Balik Suksesnya Orang Minang di Perantauan</title>
		<link>https://langgam.id/fakta-di-balik-suksesnya-orang-minang-di-perantauan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Jun 2021 08:10:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=108204</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Sejak pada zaman dahulu, orang Minang memiliki jiwa dagang dan semangat merantau. Dua hal ini sulit dipisahkan dan telah melekat dalam diri serta jiwa masyarakat Minangkabau. Banyaknya perantau Minang yang sukses menimbulkan banyak pertanyaan, apa kunci membuat orang Minang mampu bertahan diperantauan. Apakah nasib yang memaksa atau kesuksesan yang mudah dicapai? Berdasarkan catatan sejarah dan pengalaman para perantau Minang dari beberapa daerah mereka mampu bertahan karena bisa menempatkan diri dan selalu berpedoman pada falsafah &#8220;Dima bumi dipijak, disitu langik dijunjuang&#8221;. Bahkan tak jarang, perantau Minang gampang sekali untuk mendapatkan kepercayaan karena mampu beradaptasi dan bergaul. Sehingga muncul istilah</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/fakta-di-balik-suksesnya-orang-minang-di-perantauan/">Fakta di Balik Suksesnya Orang Minang di Perantauan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><strong>Langgam.id</strong></a> &#8211; Sejak pada zaman dahulu, orang Minang memiliki jiwa dagang dan semangat merantau. Dua hal ini sulit dipisahkan dan telah melekat dalam diri serta jiwa masyarakat Minangkabau.</p>
<p>Banyaknya perantau Minang yang sukses menimbulkan banyak pertanyaan, apa kunci membuat orang Minang mampu bertahan diperantauan. Apakah nasib yang memaksa atau kesuksesan yang mudah dicapai?</p>
<p>Berdasarkan catatan sejarah dan pengalaman para perantau Minang dari beberapa daerah mereka mampu bertahan karena bisa menempatkan diri dan selalu berpedoman pada falsafah &#8220;Dima bumi dipijak, disitu langik dijunjuang&#8221;.</p>
<p>Bahkan tak jarang, perantau Minang gampang sekali untuk mendapatkan kepercayaan karena mampu beradaptasi dan bergaul.</p>
<p>Sehingga muncul istilah perantau Minang itu hanya mengandalkan &#8220;tulang delapan potong&#8221;. Artinya hanya mengandalkan apa yang ada di badan. Namun memiliki tekad dan usaha yang keras serta selalu berpegang pada falsafah Minang.</p>
<p>Dilansir dari <a href="http://sumbarprov.go.id">situs resmi</a> Pemprov Sumbar, kunci sukses pertama orang Minang di perantauan adalah taat ibadah. Perantau Minang yang lahir dalam lingkungan islami membuat pondasi diri lebih kokoh sehingga tidak mudah terpengaruh pergaulan negatif.</p>
<p>Kemudian ada kepercayaan. Banyak perantau Minang mendapatkan kepercayaan dari orang tua asuh atau angkatnay di rantau untuk memegang suatu tanggung jawab. Dan perantau Minang bisa dipercaya.</p>
<p>Berikutnya cepat belajar, hal ini suatu kelebihan dari peratau Minang. Banyak orang yang mengatakan kalau orang Minang itu hanya 3 hari bodoh di perantauan, setelah itu ia akan sama dengan orang tinggal di situ 3 tahun. Itu karena orang Minang mengandalkan otak dulu baru bekerja.</p>
<p>Kunci berikutnya berani spekulasi. Perantau Minang berani mengambil resiko, itu yang membuat orang Minang yang menjadi pedagang walau dominan pedagang kaki lima. Rata–rata dikota besar pedagang kaki lima nya orang Minang.</p>
<p><a href="https://langgam.id/10-orang-minang-yang-berpengaruh-di-dunia-ada-presiden-pertama-singapura/"><strong>Baca juga: 10 Orang Minang yang Berpengaruh di Dunia, Ada Presiden Pertama Singapura</strong></a></p>
<p>Kecermatan dalam memilih usaha juga menjadi kunci. Selama ini perantau Minang dominan memilih berusaha dibidang makanan dan pakaian. Kedua bidang sampai kapan pun akan selalu dibutuhkan.</p>
<p>Hal ini terbukti dengan terkenalnya rumah makan Padang. Tidak hanya itu, suksenya perantau Minang juga karena mereka pintar memimpin. Seperti banyaknya perantau asal Minang menjabat di pemerintahan meski berada di luar Sumbar.</p>
<p>Sebut saja Muhamad Padang yang menjadi Gubernur Maluku pada perode 1968 – 1973. Kemudian Usman Padang, menjabat sebagai Ketua DPRD Maluku selama tiga periode selama masa Orde Baru.</p>
<p>Pasca reformasi juga masih banyak, seperti Walikota Pekan Baru, Walikota Batam, hingga Anggota DPR. Saking banyaknya perantau Minang, diyakini jumlah perantau Minang lebih banyak dari pada penduduk Sumatra Barat yang menetap dikampung halaman.<strong>(Ela)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/fakta-di-balik-suksesnya-orang-minang-di-perantauan/">Fakta di Balik Suksesnya Orang Minang di Perantauan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">108204</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tradisi Unik Masyarakat Pariangan Rayakan &#8220;Hari Rayo Anam&#8221; di Pekuburan</title>
		<link>https://langgam.id/tradisi-unik-masyarakat-pariangan-rayakan-hari-rayo-anam-di-pekuburan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 May 2021 09:26:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Tanah Datar]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=104703</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Setiap tahunnya masyarakat Jorong Sikaladi Nagari Pariangan, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar memiliki cara dan tradisi tersendiri dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri, tepatnya di Hari Rayo Anam atau 6 hari pasca lebaran. Masyarakat di daerah ini biasa menyambutnya dengan berbagai tradisi dan permainan anak nagari. Uniknya perayaan ini dilaksanakan setiap hari Kamis walaupun sudah lewat dari enam hari. Dilansir dari situs resmi Humas Tanah Datar, masyarakat setempat percaya bahwa arwah para leluhur akan datang pada hari Kamis tersebut, jadi masyarakat sangat mempercayai hari Kamis hari yang baik untuk dirayakan. Tradisi diawali dengan melakukan ziarah dan berdoa bersama keluarga</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/tradisi-unik-masyarakat-pariangan-rayakan-hari-rayo-anam-di-pekuburan/">Tradisi Unik Masyarakat Pariangan Rayakan &#8220;Hari Rayo Anam&#8221; di Pekuburan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><strong>Langgam.id</strong></a> &#8211; Setiap tahunnya masyarakat Jorong Sikaladi Nagari Pariangan, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar memiliki cara dan tradisi tersendiri dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri, tepatnya di Hari Rayo Anam atau 6 hari pasca lebaran.</p>
<p>Masyarakat di daerah ini biasa menyambutnya dengan berbagai tradisi dan permainan anak nagari. Uniknya perayaan ini dilaksanakan setiap hari Kamis walaupun sudah lewat dari enam hari.</p>
<p>Dilansir dari <a href="https://tanahdatar.go.id/berita/3270/ratik-tagak-tradisi-adat-sikaladi-yang-masih-terjaga.html">situs resmi</a> Humas Tanah Datar, masyarakat setempat percaya bahwa arwah para leluhur akan datang pada hari Kamis tersebut, jadi masyarakat sangat mempercayai hari Kamis hari yang baik untuk dirayakan.</p>
<p>Tradisi diawali dengan melakukan ziarah dan berdoa bersama keluarga masing-masing kaum setelah selesai melakukan puasa enam di bulan Syawal. Hal ini mereka namakan katompat yaitu ziarah ke makam (pandam perkuburan). Masyarakat akan melakukan doa bersama dan kaum ibu akan membawa dulang yang berisikan makanan.</p>
<p>Setiap rumah membawa bekal dengan talam ke pemakaman. Di dalam talam berisikan nasi bungkus untuk diserahkan kepada masyarakat yang hadir, mulai dari anak-anak hingga tokoh masyarakat dan para perantau.</p>
<p>Puncaknya, warga yang berkumpul melakukan tahlil dan zikir bersama yang mereka namakan Ratik Tagak atau tahlilan sambil berdiri.</p>
<p>Mamak Pakiah Batuah dari persukuan Pisang salah seorang mamak kaum mengatakan, acara tersebut sudah menjadi tradisi dari nenek moyang di Jorong Sikaladi dan masih bertahan sampai saat ini.</p>
<p>Konon katanya, merayakan Hari Rayo Anam bermula di bawah kepemimpinan Kampuang Panji Datuak Tanjuang, kemudian turun kepada Datuak Garang, dari Datuak Garang turun temurun hingga saat ini.</p>
<p>Diperkirakan acara tersebut sudah diwariskan sekitar 400 tahun yang silam dan akan diturunkan kepada anak kamanakan di setiap generasi berikutnya.</p>
<p>Kendati demikian, merayakan Hari Raya Anam bukan sembarangan dapat dirayakan. Harus ditentukan hari dan waktunya agar doa yang dibacakan benar-benar tepat tujuan dan maksudnya.</p>
<p><a href="https://langgam.id/mengintip-pesona-rakik-rakik-di-danau-maninjau-dalam-menyambut-hari-kemenangan/"><strong>Baca juga: Mengintip Pesona Rakik-rakik di Danau Maninjau dalam Menyabut Hari Kemenangan</strong></a></p>
<p>Biasanya, masyarakat Sikaladi merayakannya pada Kamis pertama setelah puasa enam dibulan Syawal. Puncaknya pada petang Kamis di pandam pekuburan Sipuan Raya Suku Pisang dengan menggelar doa, zikir, dan tahlil bersama.</p>
<p>Mereka meyakini petang Kamis dan malam Jumat adalah waktu kembalinya arwah nenek moyang mereka ke dunia untuk melihat anak cucunya.</p>
<p>Bagi masyarakat Sikaladi, Hari Rayo Anam lebih meriah jika dibandingkan dengan hari raya Idul Fitri. Karena pada Hari Rayo Anam ini, seluruh anak kemenakan Jorong Sikaladi, baik yang tinggal di kampung halaman maupun di perantauan akan pulang kampung dan berkumpul semuanya.</p>
<p>Selain itu, Hari Rayo Anam juga sebagai bentuk merajut tali silaturahmi masyarakat kaum dari pesukuan itu. Dengan berkumpul bersama, seluruh masyarakat kaum dapat saling mengenal satu sama lain.</p>
<p>Slah seorang warga Sikaladi, Sukarni (56) mengatakan Hari Rayo Anam adalah waktunya anak kemanakan Sikaladi berkumpul di kampung halaman. Yaknidengan berziarah ke pandam pekuburan kaum bersama-sama.</p>
<p>Masing-masing kaum datang ke pemakaman dengan membawa nasi dengan talam. Di pemakaman itu warga akan melakukan doa, zikir, serta makan bersama di pemakaman tersebut.</p>
<p>&#8220;Biasanya kalau hari bagus, diperkirakan 200-250 talam yang dibawa ke pandam pekuburan Sipuan Raya tersebut. Dan semua yang ada pertalian atau hubungan kekeluargaan dengan suku Pisang akan datang ke acara tersebut, acara ini juga dimeriahkan dengan permainan anak nagari panjat pohon pinang,&#8221; ujarnya dilansir dari situs resmi Humas Tanah Datar, Minggu (16/5/2021).<strong>(*/Ela)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/tradisi-unik-masyarakat-pariangan-rayakan-hari-rayo-anam-di-pekuburan/">Tradisi Unik Masyarakat Pariangan Rayakan &#8220;Hari Rayo Anam&#8221; di Pekuburan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">104703</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mengintip Pesona Rakik-rakik di Danau Maninjau dalam Menyambut Hari Kemenangan</title>
		<link>https://langgam.id/mengintip-pesona-rakik-rakik-di-danau-maninjau-dalam-menyambut-hari-kemenangan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 May 2021 06:41:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Agam]]></category>
		<category><![CDATA[Lebaran 2021]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=104311</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Rakik-rakik adalah salah satu tradisi anak Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, dalam memeriahkan malam takbiran jelang Hari Raya Idul Fitri. Dalam tradisi itu, rakik-rakik dibuat dari bambu yang dirancang seperti rumah adat. Juga terdapat hiasan miniatur rumah gadang dan masjid yang diberi lampu sebagai penerang. Suasana makin terasa meriah dan sakral, ketika takbir berkumandang diiringi tambua tansa. Sekali-sekali terdengar dentuman meriam bambu dari rakik yang semakin jauh ke tengah danau, sehingga hanya kelihatan kelap-kelip lampu dari kejauhan. Camat Tanjung Raya Handria Asmi mengatakan, tradisi rakik-rakik sudah lama dijalankan masyarakat salingka Danau Maninjau. Bahkan sejak zaman penjajahan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengintip-pesona-rakik-rakik-di-danau-maninjau-dalam-menyambut-hari-kemenangan/">Mengintip Pesona Rakik-rakik di Danau Maninjau dalam Menyambut Hari Kemenangan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><strong>Langgam.id</strong></a> &#8211; Rakik-rakik adalah salah satu tradisi anak Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, dalam memeriahkan malam takbiran jelang Hari Raya Idul Fitri.</p>
<p>Dalam tradisi itu, rakik-rakik dibuat dari bambu yang dirancang seperti rumah adat. Juga terdapat hiasan miniatur rumah gadang dan masjid yang diberi lampu sebagai penerang.</p>
<p>Suasana makin terasa meriah dan sakral, ketika takbir berkumandang diiringi tambua tansa. Sekali-sekali terdengar dentuman meriam bambu dari rakik yang semakin jauh ke tengah danau, sehingga hanya kelihatan kelap-kelip lampu dari kejauhan.</p>
<p>Camat Tanjung Raya Handria Asmi mengatakan, tradisi rakik-rakik sudah lama dijalankan masyarakat salingka Danau Maninjau. Bahkan sejak zaman penjajahan dulu dan berkembang sampai sekarang.</p>
<p>“Sampai sekarang tradisi itu masih tetap dilestarikan anak nagari setiap tahunnya,” kata Handria, dikutip dari <a href="https://amcnews.co.id/2019/06/05/meriahkan-malam-takbiran-anak-nagari-maninjau-barakik-rakik/">AMCNews</a>, Rabu (12/5/2021).</p>
<p>Menjelang malam takbiran, pemuda setempat membuat rakik bambu yang dihiasi lampu obor dan lampion agar terlihat indah dan megah di perairan danau. Rata-rata setiap rakik menggunakan 20 unit meriam bambu. “Biasanya barakik-rakik mulai pukul 22.00 WIB sampai subuh,” ujarnya.</p>
<p>Saat acara dimulai, rakik-rakik akan berlayar ke tengah danau. Sekali-sekali terdengar dentuman meriam bambu. Itu, menurut para sesepuh, merupakan lambang perlawanan terhadap penjajah. Dentuman meriam bambu itu diibaratkan tembakan meriam terhadap penjajah.</p>
<p>Suasana makin terasa meriah,dan sakral, ketika takbir berkumandang. Pertunjukan tambua tansa di pinggir danau semakin memantapkan acara tersebut.</p>
<p>Dikatakan, kegiatan itu selain untuk melestarikan nilai dan kebiasaan, juga sebagai ajang silaturahmi bagi masyarakat. <strong>(*/Ela)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengintip-pesona-rakik-rakik-di-danau-maninjau-dalam-menyambut-hari-kemenangan/">Mengintip Pesona Rakik-rakik di Danau Maninjau dalam Menyambut Hari Kemenangan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">104311</post-id>	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Pai Manambang&#8221;, Suka Cita Anak-anak di Sumbar Rayakan Idul Fitri</title>
		<link>https://langgam.id/pai-manambang-suka-cita-anak-anak-di-sumbar-rayakan-idul-fitri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 May 2021 06:07:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Lebaran 2021]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=104129</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Menjelang Hari Raya Idul Fitri, tentu ada banyak persiapan yang dilakukan masyarakat Indonesia menyambut hari yang biasanya dirayakan besar-besaran ini. Nah, perayaan hari lebaran juga tidak lepas dari berbagai macam tradisi khas yang ada di berbagai daerah di Indonesia. Seperti di Sumatra Barat (Sumbar), ada satu tradisi unik yang biasanya dilaksanakan ketika hari raya tiba yaitu tradisi manambang. Berbeda dengan tradisi lebaran pada umunya yaitu bersalam-salaman kepada kedua orang tua dan sanak saudara, tradisi manambang ini dilakukan oleh segerombolan anak-anak yang akan mengunjungi rumah warga seusai melaksanakan shalat idul fitri. Segerombolan anak-anak ini nantinya akan bersilaturahmi ke rumah</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pai-manambang-suka-cita-anak-anak-di-sumbar-rayakan-idul-fitri/">&#8220;Pai Manambang&#8221;, Suka Cita Anak-anak di Sumbar Rayakan Idul Fitri</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><strong>Langgam.id</strong></a> &#8211; Menjelang Hari Raya Idul Fitri, tentu ada banyak persiapan yang dilakukan masyarakat Indonesia menyambut hari yang biasanya dirayakan besar-besaran ini.</p>
<p>Nah, perayaan hari lebaran juga tidak lepas dari berbagai macam tradisi khas yang ada di berbagai daerah di Indonesia. Seperti di Sumatra Barat (<a href="http://sumbarprov.go.id">Sumbar</a>), ada satu tradisi unik yang biasanya dilaksanakan ketika hari raya tiba yaitu tradisi manambang.</p>
<p>Berbeda dengan tradisi lebaran pada umunya yaitu bersalam-salaman kepada kedua orang tua dan sanak saudara, tradisi manambang ini dilakukan oleh segerombolan anak-anak yang akan mengunjungi rumah warga seusai melaksanakan shalat idul fitri.</p>
<p>Segerombolan anak-anak ini nantinya akan bersilaturahmi ke rumah warga sekitar dengan harapan mendapat uang lebaran atau Tunjangan Hari Raya (THR) dari si pemilik rumah.</p>
<p>Rombongan anak-anak tanpa didampingi orang dewasa yang biasanya terdiri dari 5 hingga 8 orang tersebut melakukan tradisi manambang ini untuk mengincar uang baru.</p>
<p>Yap, seperti yang kita ketahui ketika lebaran tiba banyak masyarakat yang melakukan penukaran uang baru mulai dari pecahan kecil hingga besar untuk dijadikan uang tunjangan hari raya.</p>
<p><a href="https://langgam.id/5-kue-lebaran-tradisional-khas-minang-ini-bikin-rindu-kampung-halaman/"><strong>Baca juga: 5 Kue Lebaran Tradisional Khas Minang Ini Bikin Rindu Kampung Halaman</strong></a></p>
<p>Pada saat melakukan tradisi manambang, anak-anak kecil ini akan memberi salam kepada pemilik rumah lalu disuguhi kue-kue lebaran. Jika beruntung, anak-anak tersebut juga akan dipersilahkan oleh tuan rumah untuk makan makanan hari raya seperti rendang dan lontong.</p>
<p>Bahkan anak-anak tersebut akan memperkenalkan diri ketika pemilik rumah yang didatangi belum saling mengenal.</p>
<p>Usai menikmati kue-kue lebaran, saatnya anak-anak tersebut menerima uang THR mulai dari pecahan Rp 1.000 hingga Rp 2.000.</p>
<p>Tradisi manambang ini menjadi momen menyenangkan bagi masyarakat Sumbar yang hanya bisa dirasakan sekali dalam setahun. Tidak hanya anak-anak yang menerima THR, pemilik rumah yang kedatangan rombongan anak-anak tersebut juga akan ikut merasakan kebahagian di momen lebaran Idul Fitri.</p>
<p>Walaupun tradisi manambang ini sudah mulai berkurang akibat pandemi covid-19, namun masih banyak anak-anak yang menjalankan tradisi manambang ini di setiap lebaran Idul Fitri.<strong>(*/Ela)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pai-manambang-suka-cita-anak-anak-di-sumbar-rayakan-idul-fitri/">&#8220;Pai Manambang&#8221;, Suka Cita Anak-anak di Sumbar Rayakan Idul Fitri</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">104129</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tradisi &#8220;Bantai Adat&#8221; Sambut Datangnya Idul Fitri di Padang Pariaman</title>
		<link>https://langgam.id/tradisi-bantai-adat-sambut-datangnya-idul-fitri-di-padang-pariaman/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 May 2021 06:00:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Lebaran 2021]]></category>
		<category><![CDATA[Padang Pariaman]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=103932</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Berakhirnya bulan suci Ramadan disambut dengan suka cita oleh umat Islam. Dengan berakhirnya Ramadan, maka datanglah Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal. Berbagai cara dilakukan umat Islam menyambut hari yang penuh kegembiraan ini. Tidak saja dengan pakaian baru, bermacam-macam kue, hidangan makanan, perkakas rumah baru dan sebagainya, akan tetapi tradisi yang tumbuh di tengah umat Islam pun beragam. Di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat (Sumbar) tepatnya di Nagari Sintuak, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang menggelar tradisi menyembelih kerbau yang disebut &#8220;bantai adat&#8221;. Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Padang Pariaman, Zeki Aliwardana mengatakan, persiapan tradisi bantai adat telah</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/tradisi-bantai-adat-sambut-datangnya-idul-fitri-di-padang-pariaman/">Tradisi &#8220;Bantai Adat&#8221; Sambut Datangnya Idul Fitri di Padang Pariaman</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><strong>Langgam.id</strong></a> &#8211; Berakhirnya bulan suci Ramadan disambut dengan suka cita oleh umat Islam. Dengan berakhirnya Ramadan, maka datanglah Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal. Berbagai cara dilakukan umat Islam menyambut hari yang penuh kegembiraan ini.</p>
<p>Tidak saja dengan pakaian baru, bermacam-macam kue, hidangan makanan, perkakas rumah baru dan sebagainya, akan tetapi tradisi yang tumbuh di tengah umat Islam pun beragam. Di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat (Sumbar) tepatnya di Nagari Sintuak, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang menggelar tradisi menyembelih kerbau yang disebut &#8220;bantai adat&#8221;.</p>
<p>Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Padang Pariaman, Zeki Aliwardana mengatakan, persiapan tradisi bantai adat telah dilakukan sejak 15 hari puas Ramadan.</p>
<p>&#8220;Pada waktu itu setiap masjid atau surau di masing-masing korong mulai mendata siapa saja yang ingin ikut bantai adat. Jemaah dan masyarakat korong mendaftar kepada pengurus,&#8221; kata Zeki seperti dilansir dari <a href="https://www.nu.or.id/post/read/69607/tradisi-bantai-adat-padangpariaman-di-hari-lebaran-idul-fitri">nu.or.id</a>, Senin (10/5/2021).</p>
<p>Kemudian pada hari ke-27 Ramadan, dilakukan pembayaran uang yang sudah disepakati bersama. Setelah semua pembayaran lunas, dapat dipastikan berapa uang terkumpul untuk membeli ternak kerbau. Pengurus sebelumnya sudah meninjau ternak yang akan dibeli di pasar ternak atau Talaok.</p>
<p>Bantai adat biasanya dilakukan di setiap korong atau surau. Ada korong yang hanya melakukan bantai adat di masjid, ada pula di satu korong terdapat beberapa surau yang juga melakukan bantai adat. Sehingga satu korong ada yang melakukan bantai adat di 3 lokasi, karena ada 3 surau yang melakukannya.</p>
<p>Dilansir dari situs resmi Kabupaten Padang Pariaman, usai salat Idul Fitri, kerbau yang sudah dibeli langsung disembelih di satu lokasi di Nagari Sintuak. Lokasi pembantaian ternak ini sengaja digabungkan agar lebih memudahkan penyelenggaraannya.</p>
<p>Setelah dibantai, daging tersebut dionggok (dilonggokan) sesuai dengan jumlah yang sudah disepakati sebelumnya. Pembagian daging tersebut bukan dengan sistem berat per kilogram, melainkan onggok (longgokan).</p>
<p><a href="https://langgam.id/tradisi-mambantai-cara-masyarakat-taram-limapuluh-kota-peringati-nuzulul-quran/#:~:text=Langgam.id%20%E2%80%93%20Masyarakat%20muslim%20di,terjadi%20pada%20malam%2017%20Ramadan.&amp;text=Masyarakat%20di%20sana%20biasa%20memperingati,biasa%20disebut%20tradisi%20%E2%80%9Cmambantai%E2%80%9D."><strong>Baca juga: Tradisi &#8220;Mambantai&#8221;, Cara Masyarakat Taram Limapuluh Kota Peringati Nuzulul Quran</strong></a></p>
<p>Satu orang minimal memesan 1 onggok. Ada pula yang memesan lebih dari satu onggok, misalnya sampai 10 onggok. Semua jenis tubuh kerbau dibagi rata di masing-masing onggok, seperti daging, hati, kulit, usus, tulang dan sebagainya.</p>
<p><strong>Talaok dan Pasar Ternak<br />
</strong>Kerbau untuk bantai adat biasanya didapat dari talaok dan pasar ternak. Talaok merupakan lokasi berkumpulnya penjual kerbau sekali setahun menjelang lebaran.<br />
Ternak yang dijual dikhususkan untuk kebutuhan bantai adat. Yang membelinya adalah korong atau surau yang melaksanakan bantai adat, dan kerbau umumnya berbadan besar.</p>
<p>Di Nagari Sintuak sendiri sudah ada pasar ternak yang sekaligus talaok yang terletak beberapa meter di belakang kantor Wali Nagari Sintuak. Kurang lebih 100 meter dari lokasi ini, terdapat lokasi pembantaian bantai adat di hari lebaran.</p>
<p>Pasar ternak Sintuak ini mulai dirintis sejak 2013 lalu. Ada 44 pedagang ternak yang setuju diadakan pasar ternak di Sintuak.</p>
<p>&#8220;Alhamdulillah, hingga kini masih bisa jalan. Walaupun masih belum memiliki fasilitas pendukung layaknya pasar ternak,&#8221; kata Zulkifli (45) seorang pedagang ternak dilansir dari <a href="https://kp-galapuangulakan.padangpariamankab.go.id/index.php/artikel/2020/3/19/tradisi-bantai-adat-se-nagari-ulakan#!">situs resmi</a> Padang Pariaman.</p>
<p>&#8220;Jelang lebaran ini, ada sekitar 150 ekor ternak khususnya kerbau yang terjual di talaok atau pasar ternak Sintuak ini. Di hari biasa, cuma bisa terjual 15-20 ekor saja. Harga ternak yang dijual berkisar Rp 18,5 hingga 37 juta per ekor. Ternak yang berharga Rp 37 juta tersebut bisa memiliki berat 650 kg,&#8221; sambungnya.<strong>(*/Ela)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/tradisi-bantai-adat-sambut-datangnya-idul-fitri-di-padang-pariaman/">Tradisi &#8220;Bantai Adat&#8221; Sambut Datangnya Idul Fitri di Padang Pariaman</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">103932</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 28/44 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-06-19 01:21:29 by W3 Total Cache
-->