<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Teater Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/teater/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/teater/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Sun, 08 Feb 2026 23:27:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Teater Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/teater/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Kurniasih Zaitun Promosi Doktor Lewat Teater &#8216;Jual Bual&#8217; di ISI Surakarta</title>
		<link>https://langgam.id/kurniasih-zaitun-promosi-doktor-lewat-teater-jual-bual-di-isi-surakarta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2026 22:37:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Teater]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=243096</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id — Promovenda Program Doktor Penciptaan Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Kurniasih Zaitun, akan menggelar sidang promosi doktoral melalui pementasan karya teater berjudul Jual Bual, Senin (9/2/2026) malam. Pementasan dijadwalkan berlangsung di Teater Arena Taman Budaya Surakarta, Jawa Tengah, pukul 19.00–22.00 WIB. Pertunjukan tersebut merupakan bagian integral dari disertasi penciptaan seni berjudul Dramaturgi Kurenah dalam Penciptaan Teater Jual Bual. Disertasi ini menggunakan pendekatan penelitian berbasis praktik (practice-based research) yang berangkat dari pengamatan langsung terhadap praktik komunikasi pedagang obat kaki lima di pasar-pasar tradisional Minangkabau. Sidang promosi doktoral Kurniasih Zaitun dipromotori oleh Dr. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A., dengan Dr.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kurniasih-zaitun-promosi-doktor-lewat-teater-jual-bual-di-isi-surakarta/">Kurniasih Zaitun Promosi Doktor Lewat Teater &#8216;Jual Bual&#8217; di ISI Surakarta</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p></p>



<p><strong>Langgam.id</strong> — Promovenda Program Doktor Penciptaan Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Kurniasih Zaitun, akan menggelar sidang promosi doktoral melalui pementasan karya teater berjudul <em>Jual Bual</em>, Senin (9/2/2026) malam. Pementasan dijadwalkan berlangsung di Teater Arena Taman Budaya Surakarta, Jawa Tengah, pukul 19.00–22.00 WIB.</p>



<p>Pertunjukan tersebut merupakan bagian integral dari disertasi penciptaan seni berjudul <em>Dramaturgi Kurenah dalam Penciptaan Teater Jual Bual</em>. Disertasi ini menggunakan pendekatan penelitian berbasis praktik (<em>practice-based research</em>) yang berangkat dari pengamatan langsung terhadap praktik komunikasi pedagang obat kaki lima di pasar-pasar tradisional Minangkabau.</p>



<p>Sidang promosi doktoral Kurniasih Zaitun dipromotori oleh Dr. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A., dengan Dr. Yusril, M.Sn., sebagai kopromotor. Adapun tim penguji terdiri atas Dr. Bondet Wrahatnala, S.Sos., M.Sn. (ketua), Dr. Aries Budi Marwanto, S.Sn., M.Sn. (sekretaris), Prof. Dr. Sri Rohana Widyastutiningrum, S.Kar., M.Hum., Prof. Pande Made Sukerta, S.Kar., M.Si., Dr. Wahyu Novianto, S.Sn., M.Sn., Prof. Sardono W. Kusomo, serta Prof. Dr. Stepanus Hanggar.</p>



<p>Kurniasih, yang sehari-hari mengajar di ISI Padang Panjang, menjelaskan bahwa proses penciptaan karya teater <em>Jual Bual</em> memakan waktu hampir satu tahun, sementara riset artistik dan konseptual yang melandasinya berlangsung sekitar empat tahun.</p>



<p>“Untuk karya teaternya berjudul <em>Jual Bual</em>. Proses penciptaannya hampir satu tahun, sedangkan risetnya sekitar empat tahunan,” ujar Kurniasih, Sabtu (7/2/2026).</p>



<p>Ia menuturkan, ide penciptaan <em>Jual Bual</em> berakar dari pengalaman artistiknya sejak menyelesaikan Program Magister Penciptaan Seni di ISI Surakarta pada 2008 melalui karya <em>Komplikasi</em>. Karya tersebut mengangkat berbagai persoalan sosial dengan menjadikan praktik komunikasi pedagang obat kaki lima sebagai cermin relasi sosial masyarakat.</p>



<p>Dalam disertasinya, praktik jual obat tidak dipahami semata sebagai aktivitas ekonomi, melainkan sebagai peristiwa performatif. Di dalamnya, bahasa, tubuh, waktu, dan kepercayaan dipertaruhkan secara langsung di hadapan publik. Eksplorasi ini berlanjut melalui karya <em>ICU</em> dan <em>ICU+</em> yang dipentaskan pada 2010 dan 2023, hingga mencapai bentuk sintesisnya dalam <em>Jual Bual</em>.</p>



<p>Konsep kunci yang ditawarkan dalam disertasi ini adalah <em>kurenah</em>, istilah lokal Minangkabau yang merujuk pada kecerdikan sosial yang memadukan siasat, kelenturan bahasa, permainan tubuh, serta pengelolaan waktu dalam situasi komunikasi langsung. <em>Kurenah</em> tidak diposisikan sebagai objek representasi budaya, melainkan sebagai paradigma dramaturgis dan cara berpikir dalam penciptaan teater.</p>



<p>Melalui pendekatan teater postdramatik, <em>Jual Bual</em> tidak dibangun melalui alur cerita linear. Pertunjukan disusun dalam bentuk kolase peristiwa performatif, dengan teks yang cair dan improvisatif. Bahasa berfungsi menunda makna, sementara format pertunjukan menyerupai talkshow atau podcast interaktif yang mencairkan batas antara performer dan penonton.</p>



<p>“Salah satu kebaruan yang ditawarkan adalah perumusan jeda dramatik sebagai strategi dramaturgis yang berakar pada tubuh matrilineal. Jeda tidak dipahami sebagai kekosongan, melainkan sebagai tindakan performatif,” ujar perempuan yang akrab disapa Tintun ini.</p>



<p>Secara artistik, <em>Jual Bual</em> menawarkan model penciptaan teater yang cair, improvisatif, dan berakar pada praktik sosial rakyat. Sementara secara akademik, disertasi ini memperluas wacana teater Indonesia dengan menghadirkan dramaturgi <em>kurenah</em> sebagai paradigma lokal yang mampu berdialog dengan teori-teori global.</p>



<p>Dengan menjadikan praktik pedagang obat kaki lima sebagai basis penciptaan, <em>Jual Bual</em> menegaskan teater sebagai ruang perjumpaan antara seni, publik, dan realitas sosial—sebuah praktik artistik yang bekerja melalui risiko, kehadiran tubuh, serta penundaan makna.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kurniasih-zaitun-promosi-doktor-lewat-teater-jual-bual-di-isi-surakarta/">Kurniasih Zaitun Promosi Doktor Lewat Teater &#8216;Jual Bual&#8217; di ISI Surakarta</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">243096</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Membaca Ulang Hubungan Teater dengan penontonnya: Catatan Festival Teater Sumatra Barat 2025</title>
		<link>https://langgam.id/membaca-ulang-hubungan-teater-dengan-penontonnya-catatan-festival-teater-sumatra-barat-2025/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2025 12:46:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Teater]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=235462</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sekilas Tentang Disiplin Membaca Ulang Pembacaan ulang terhadap teks-teks dan konvensi teater yang mapan, sebagaimana tema Festival Teater Sumatra Barat 2025, pada intinya membaca kembali hubungan seni pertunjukan teater dengan penontonnya. Tulisan ini bermaksud mendedahkan bagaimana pembacaan itu terjadi baik secara konvensional maupun secara pragmatis.&#160; Secara konvensional, pertunjukan tanpa penonton tidak dapat dikatakan sebagai peristiwa teater yang dicirikan dengan adanya skenario, aktor, dan penonton. Ketiga unsur ini mesti ada dalam mendefinisikan peristiwa atau pertunjukan teater. Hubungan yang berpola&#160;tali tigo sapilin&#160;pada ketigaunsur ini tidak bisa dipisahkan.&#160; Secara pragmatis, seorang penonton memilih mengapresiasi teater karena menaruh harapan dapat “sesuatu” dari “layanan” pertunjukan.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/membaca-ulang-hubungan-teater-dengan-penontonnya-catatan-festival-teater-sumatra-barat-2025/">Membaca Ulang Hubungan Teater dengan penontonnya: Catatan Festival Teater Sumatra Barat 2025</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><em><strong>Sekilas Tentang Disiplin Membaca Ulang</strong></em></p>



<p>Pembacaan ulang terhadap teks-teks dan konvensi teater yang mapan, sebagaimana tema Festival Teater Sumatra Barat 2025, pada intinya membaca kembali hubungan seni pertunjukan teater dengan penontonnya. Tulisan ini bermaksud mendedahkan bagaimana pembacaan itu terjadi baik secara konvensional maupun secara pragmatis.&nbsp;</p>



<p>Secara konvensional, pertunjukan tanpa penonton tidak dapat dikatakan sebagai peristiwa teater yang dicirikan dengan adanya skenario, aktor, dan penonton. Ketiga unsur ini mesti ada dalam mendefinisikan peristiwa atau pertunjukan teater. Hubungan yang berpola&nbsp;<em>tali tigo sapilin</em>&nbsp;pada ketigaunsur ini tidak bisa dipisahkan.&nbsp;</p>



<p>Secara pragmatis, seorang penonton memilih mengapresiasi teater karena menaruh harapan dapat “sesuatu” dari “layanan” pertunjukan. Lebih ke dalam, penonton mengidamkan pencerahan atas nilai yang sedang chaos dalam diri mereka. Mereka mendambakan bertemu oase yang membantu mereka sejenak melepas penat dan dahaga di tengah situasi kehidupan yang gersang dan kering-kerontang. Penonton teater adalah manusia-manusia yang membutuhkan energi baru agar teralihkan dari luka-derita kamanusiaan mereka.</p>



<p>Lantas, sekarang, bercermin kepada pertunjukan kelompok-kelompok teater pada Festival Teater Sumatra Barat 2025, bagaimana status hubungan masyarakat penonton teater itu dengan karya seniteater itu sendiri? Apakah hubungan kedua enetitas inisedang baik-baik saja, sedang memburuk, atau sudahputus, alias tidak ada lagi hubungan ideologis-estetis antara penonton dengan karya-karya teater? Atau, bisa jadi juga, hubungan itu masih ada, tetapi antara adadan tiada. Kedua belah pihak tidak pula berinisiatif untuk memprakarsai perbaikan kualitas hubungan tersebut.</p>



<p>Guna mencermati dan dan mengurai praduga-pradugaini, Festival Teater Sumatra Barat Alek Teater 9 yang digelar Dinas Kebudayaan Sumatra Barat melalui Unit Pelaksana teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya Sumatra Barat, dapat dijadikan studi kasus atau laboratorium untuk menjelaskannya. Kegiatan ini berlangganan selama dua minggu dengan titik kegiatan dibagi dua: pada tanggal 19-20 dan 26-27 September 2025. Tema yang siangkatkan pada penyelenggaraan kali ini adalah Membaca Ulang Kemapanan Teks dan Konvensi Teater.</p>



<p>Dilihat dari tema yang ddipilih penyelenggara, justru terkesan bahwa hubungan teater dengan penontonnya bukanlah aspek yang penting ditebalkan dalam festival ini. Aspek yang diarusutamakan festival ini adalah hubungan perkarya teater dengan teks-teks dan konvensi keteateran yang telah mapan. Informasi yang dapat dicuplik dari pilhan tema ini adalah bahwaproses kreatif teater sedang dilamun oleh kemapanan teks-teks dan konvensi teater itu sendiri.&nbsp;</p>



<p>Tema ini juga menunjukkan bahwa teater sebagai ilmu dan lapangan studi sedang membutuhkan daya dobrak seperti dekonstruksi teks dan reduksi konvensi panggung. Ini memang sebuah kebutuhan mendesak mengingat media-media penyaji pertunjukan sedang melesat dan berubah bentuk begitu cepat. Tontonan masyarakat digital hari ini terjadi secara instan darimonitor ke monitor. Mengaksesnya begitu mudah, dari ujung jari ke ujung jari dan dapat dinyalakan berpuluhjam dalam sehari.&nbsp;</p>



<p>Keterbatasan akses menuju gedung pertunjukan teater, dalam situasi seperti ini, adalah persoalan mendasar para penonton teater. Sehingga, ini menjadi salah satualasan mengapa teater harus membaca ulang teks dan konvensi teater, misalnya melalu pendekatan dekonstruksi atau alih wahana teater dari manual kedigital.</p>



<p>Keterbatasan waktu untuk mengakses pertunjukan teater ini semakin parah mengingat kondisi gedung pertunjukan di Sumatra Barat, utamanya yang ada di kota Padang saat ini masih dalam kondisi yang jauhdari kata representatif. Panggung yang dipakai untuk pelaksanaan Festival Teater ini saja menggunakan lantai empat yang rancang-bangunnya hanya layakuntuk ruang perkantoran. Uniknya, pertunjukan teater masih tetap berlangsung apa adanya dan dinikmati penonton apa adanya pula. &nbsp;</p>



<p>Memikirkan hubungan teater dengan penontonnya dalam kondisi gedung pertunjukan yang tidak menggembirakan mengakibatkan target yang hendak dicapai festival melalui tema membaca ulang kemapanan teks-teks dan konvensi teater menjadi begitu megah dan sangat tinggi. Bahkan terkesan naif mengharapkan capaian estetika terbaik pada pelaksanaan festival masih di panggung yang tidak memenuhi ukuran-ukuran konvensi teater.&nbsp;</p>



<p>Oleh karena hal demikian, hal-hal yang paling mungkin dibaca pada kegiatan ini hanyalah bagaimana upaya memperbaiki dan merawat kualitas hubungan antara peristiwa panggung teater dengan imajinasi penontonnya. Pembacaan seperti ini mengafirmasi pentingnya meninjau ulang pilihan estetika pegiat seniteater, sekaligus menegasikan bahwa teater adalah teater yang tidak peduli apakah energi panggung mereka terkoneksi dengan pikiran dan jiwa penontonatau tidak.</p>



<p><em><strong>Refleksi Panggung Festival Taater Sumatra Barat 2025</strong></em></p>



<p>Semula festival akan dihadiri 12 grup, namun satugrup (Teater Cermin Sastra Inggris Unand) mengundurkan diri. Sebelas Grup teater yang tampil yaitu: Komunitas Teater Aksara, Teater Asa, Teater Alai, Komunitas Teater Binggo, Unit Kegiatan Seni universitas Baiturramah. Teater Komunitas Seniku liek, Teater Langkah, Komunitas Seni Gaung ganto,Teater Oase (UK-Kes) UNP, Komunitas Seni ranah Sijunjung, dan Teater Rumah Teduh (UKS Unand). &nbsp;</p>



<p>Komunitas Teater Aksara menjadi penampil pertama (Jum’at 19 September 2025) dengan judul naskah timbangan Itu Miring yang ditulis oleh Sashy R. Han dan Sutradara Rivani Febiola. Konsep garapan ini memotret suara-suara perempuan yang kerap tenggelam dalam dunia yang timpang. Kehadiran perempuan cendrung dihadapkan kepada luka, amarah, dan mimpi yang terkubur ditimbun kuasalaki-laki. Situasi ini kemudian diprotes oleh para perempuan yang berani keluar dari lingkar pengekangan dan menyatakan sikap mereka bahwakesetaraan bukanlah hadiah dari laki-laki. Kesetaraan adalah pilihan berani untuk menimbang ulang, berbagi kendali, dan membangun ruang yang adil bagi semua.</p>



<p>Konsep yang tertata dengan baik belum tentu baikketika dihadapkan ke realitas panggung yang baikpula. Kaidah-kaidah panggung yang mendasar seperti penyutradaraan, menanamkan pemaknaan kepadaaktor dalam memainkan komposisi, laku dramatis, proporsi suara sangat diperlukan dalam membangun suasana panggung yang diharapkan. Hal ini terkesandari tabrakan suara-suara dan dialog pada awal pertunjukan Teater Aksara. Karena suasaa di menit-menit awal tidak tertaklukkan, ketidakstabilan komposisi menjalar hingga pertunjukkan diselesaikan.</p>



<p>Penampilan kedua di hari yang sama disajikan oleh Teater Langkah (Fakultas Ilmu Budaya Uanand) dengan judul naskah Roh karya Wisran Hadi dan sutradara Aidah Salsabil Azizah. Konsep Garapan ini menceritakan tentang pencarian jadi diri seorang tokoh yang dipanggil Ibu Suri. Ia bukan ibu seorang raja. Tokoh ini mempersepsikan dirinya sebagai ibu dariSuri, namun siapa Suri itu sendiri tetap mencari misteri yang sangat ingin dipecahkannya.</p>



<p>Gangguan Teknik muncul tidak ditemukan pada penampilan ini. Gangguan teknis justru muncul pada bagian dialog yang tidak diproduksi dengan vocal yang memadai. Ada problem artikulasi pada aktor yang membuat kata kekurangan tenaganya.</p>



<p>Pada Sabtu, 20 September 2025, penampilan dilanjutkan oleh Komunitas Seni Gaung Ganto dengangarapan berjudul Giransani, naskah dan Sutradara Widya Husin. Giransani bercerita tentang ketulusan dan pengorbanan demi cinta. Penampilan ini seakan menitipkan nasihat bahwa dinamika kehidupan percintaan perlu ditinjau secara berkala sebab ia bisa menularkan energi emosi kepada hal-hal lain. Tantangan panggung pertunjukkan ini secara menyeluruh dapat diatasi, namun terdapat kelonggaran grup ini dalam memilih naskah dan dalam menawarkan pembacaan ulang terhadap naskah tersebut.&nbsp;</p>



<p>Selanjutnya, Komunitas Seni Kuliek (Nilonali Sang Puti Bungo Karang), sebuah garapan adaptasi atasnama Wisran Hadi yang disutradarai oleh Rafdisyam. Pembacaan ulang yang ditawarkan penampilan ini menceritakan bagaimana memecahkan misteri hubungan antara Nilonali, Pawang, dan Kinanti. Ini semacam refleksi yang menjelaskan bagaimana sebaiknya mengelola diri dan lingkungan. Menambahkan Puti Bungo Karang menunjukkan upaya membaca ulang terhadap naskah Nilonali. Ini diperkuat dengan pilihan kostum yang mencerminkan keadaan biota laut yang dijajah sampah-sampah industri.&nbsp;</p>



<p>Teater Oase (UK-Kes) UNP menampilkan Singa podium Naskah Wisran Hadi dan Sutradara Muhammad Iqbal Rabbani Hamzah. Penguasaan artistik panggung juga bukan masalah berarti pada penampilan ini. Gangguan noise justru dirasakan pada potensi-potensi kejutan yang sangat berpeluang digarap, justru tidak digunakan secara maksimal. Misalnya, bagaimana kehadiran istri sang Singa podium kekuarangan sentakannya dan ditimpali enggan kehadiran tokoh Abu Tausi dengan berbagai persoalannya.</p>



<p>Pada Jumat, 26 September 2025, tampil UKS Universitas Baiturrahmah Garapan dengan judul Salah Siti Nurbaya. Ini merupakan dekonstruksi novel Siti Nurbaya Marah Rusli. Naskah ditulis oleh Rahmat Hidayat dan disutradarai Uncu Rahmad. Pertunjukkan menebalkan isu perlawanan Siti Nurbaya. Selain problem artistik yang masih “bocor”, pembacaan sutradara terhadap sosok Datuk Maringgih melompatdari porsi yang sewajarnya. Gelar Datuk Marigigih yang jelas bukan gelar adat, namun ditampilkan sebagai gelar adat yang diperkuat dengan marawa Minangkabau sebagai latar.</p>



<p>Teater Balai menampilkan naskah Terbuang dalam waktu. Sutradara Ravi Razak dan di buku kegiatan festival tidak ada keterangan tentang penulis naskah, padahal ini merupakan bagian penting sebagi bentuk etik dan kejujuran referensial. Pertunjukkan fokus pada kehidupan seorang aktor komedi yang mengalami kesunyian batin di ujung pencapaiannya sebagai seniman pemeranan. Juga tidak terdapat problem artiktik pada pertunjukan ini. Garapan musikyang ditawarkan tampil menonjol sebagai kekuatannya. Problem yang terdapat pada peertunjukan ini justru pada studi naskah belum sepenuhnya didekati dengan disiplin pembacaan ulang (re-reading). Pertunjukan bergulir dengan indah, namun belum menyentuh konteks sosial penonton secara lebih maksimal.</p>



<p>Teater Asa menampilkan Naskah Aljabar yang disusun oleh Zag Sorga dan disutradarai oleh SulastriWulandari. Pertunjukan ini menceritakan kehidupan seorang ayah dan anak yang diilustrasikan bekerja sebagai seorang pelukis. Sang ayah cenderung memaksakan perspektif dan idealisasinya. Ini kemudian menjadi musabab ketegangan relasinya dengan sang anak. Sang anak mulai jenuh hingga terbongkar rahasia, bahwa dirinya dilahirkan oleh ibu yang justru telah dihabisi sang ayah. Ini menyoal problematika eksistensi dan konflik identitas. Tawaranku aktoran dapat dibilang bagus. Hanya saja meluputkan bagian etik simbolik dimana kedua aktormenirukan gerakan menyakiti diri dan ini tidak aman bagi penonton yang secara medis ditetapkan sebagai penyintas sindrom disorder.</p>



<p>Komunitas Seni Budaya Ranah Sijunjung mengangkat naskah Dendang Agraris yang disutradarai oleh Zulkani Alfian. Pada buku katalog pertunjukan, juga tidak tertera siapa penulis naskah ini. Muncul kesan bahwa grup ini, termasuk yang dilakukan teater Balai, memahami pembacaan ulang kemapanan teks dan konvensi teater dengan “membunuh” sang pengarang(author). Pada kertas kerja penggarapan mereka yang diketahui publik tidak tersedia informasi yang memadai tentang muasal naskah/scenario dan pendekatan pembacaan yang mereka gunakan.</p>



<p>Komunitas Teater Binggo menampilkan Orang Kasarkarya Anton P Chekov dan disutradarai oleh Haikal Aulia Saputra. Ini menceritakan kehidupan seorang janda yang masih berkabung menghadapi tagihanhutang mendiang suaminya. Pilihan menggarap naskah realis tanpa tawaran pembacaan ulang yang memadai oleh grup ini menjelaskan betapa teks masih begitu mapan dan konvensi-konvensi teater belum mampu dobrak dobrak dengan tawaran-tawaran estetika baru.&nbsp;</p>



<p>Teater Rumah Teduh tampil sebagai penampil pamungkas dari kegiatan ini. Grup UKS Unand ini memilih naskah Nilonali Wisran Hadi, sama dengan pilihan Komunitas Seni Kuliek. Pengamatan kedua tontonan ini menjadi semakin menarik dan memiliki tantangan tersendiri terutama dalam melakukan perbandingan. Komposisi pembacaan ulang yang ditampilkan oleh kedua grupini secara tertulis di kertas kerja masing-masing grupsudah terstruktur dengan baik, namun kecelakaan-kecelakaan pemeranan seperti bentrokan musik-musim elektrik menghilangkan artikulasi aktor dan bunyi-bunyi akustik lainnya. Polusi suara pun tak terelakkan.</p>



<p><em>Catatan Penutu</em>p</p>



<p>Dari sebelas grup teater yang tampil, catatkan pengamatan ini berargumen bahwa hanya komunitas teater di kampus-kampus seni atau grup teater yang dikelola oleh sarjana-sarjana seni teater yang mempunyai kecapan artistic dalam membaca ulang kemapanan teks dan konvensi teater. Sementara itu, kelompok yang tidak terliterasi secara berkelanjutan tentang wawasan perkembangan keteateran, jangankan membaca ulang teks dan konvensi teater, memahami aspek-aspek mendasar keteateran saja belum cakap. Ada keterputusan disiplin kerja teater yang tergambar pada lebih dari separuh peserta festival ini.</p>



<p>Akhiru kalam, pertanyaan-pertanyaan yang sayasematkan selama menyaksikan Festival Teater Sumatra Barat 2025 ini, seperti Mengapa teater masih berproduksi? Apa yang mungkin ditawarkan panggung teater di tengah kehidupan yang serba bergegas? Bagiamana hubungan teater dengan penontonnya? Bagaimana cara pekerja teater Sumatra Barat memahami tema festival: membaca ulang kemapanan teks dan konvensi teater? Belum sepenuhnya dapat dijawab dan dijelaskan dengan jernih. Sebab, selain terlihat adanya kemunduran spirit dalam studi-studi kekaryaan dalam teater, hal takkalah penting mempengaruhi kelesuan y Sumatra Barat adalah ketersediaan gedung pertunjukan yang masih jauh dari standarnya, baik secara konvensi maupun kontemporer.</p>



<p>Pesona layanan media sosial yang tersaji berupa video singkat memenuhi ruang visual telah menggeserenergi panggung teater. Panggung teater tidak lagiterjadi secara luring, tetapi sudah tersaji dalam perwajahan daring. Kerja kreatif keteraturan mengalami guncangan. Pesonanya tidak lagi menjadiprimadona tontonan. Respon terhadap situasi ini dapat dilakukan dengan memproduksi teater yang kreatornya mengintegrasikan disiplin kerja pembacaanulang (re-reading) tidak saja terhadap kemapanan teksdan konvensi teater, tetapi lebih mendalam dari itu, yakni memaknai kembali keberadaan teater.&nbsp;</p>



<p>Sebagai seni kolektif, teater mengandung kompleksitas disiplin kerja dramaturgi, studikepenulisan naskah pertunjukan, studi penyutradaraandan keaktoran, manajemen produksi dan unsurpendukung teater lainnya yang berfokus pada bagaimana membuat konektor dengan penonton. Ini supaya garapan teater tidak hanya sebatas dekorasi akrobatik di atas panggung. Tanpa pembacaan ulang, akan ada banyak pertanyaan yang belum terjawab: apaalasan masuk akal bagi seseorang untuk menontonteater hari ini?</p>



<p>Apa yang digemakan panggung teater meresponrealitas? Piliohan estetika seperti apa yang relevanuntuk zaman yang sedang tidak berketentuan (hyper reality). Selain itu, keharusan meninjau ulang hubungan teater dengan penontonnya berdasarkan atasan petunjukan Festival Teater Sumatra Barat 2025, menemukan problem mendasar yang mendesak untuk diselesaikan dan didiskusikan secara berkelanjutan.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/membaca-ulang-hubungan-teater-dengan-penontonnya-catatan-festival-teater-sumatra-barat-2025/">Membaca Ulang Hubungan Teater dengan penontonnya: Catatan Festival Teater Sumatra Barat 2025</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">235462</post-id>	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Malin Kundang Lirih&#8221; Bukan Anak Durhaka, Telaah Dilema Antropologis Sebuah Monolog</title>
		<link>https://langgam.id/malin-kundang-lirih-bukan-anak-durhaka-telaah-dilema-antropologis-sebuah-monolog/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Iis Wulandari]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Dec 2024 12:03:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[ISI Padang Panjang]]></category>
		<category><![CDATA[Teater]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=217784</guid>

					<description><![CDATA[<p>Legenda &#8220;Malin Kundang&#8221; tak habis menjadi sumber inspirasi bagi dunia seni pertunjukan di Tanah Air. Yang terkini adalah pertunjukan &#8220;Malin Kundang Lirih&#8221; yang dipentaskan pada Selasa, (3/12/2024) pukul 20.00 WIB lalu di Gedung Arena Mursal Esten di ISI Padang Panjang. Karya Pandu Birowo yang dimainkan oleh Fajar Eka Putra itu, merupakan peserta terpilih kelas penciptaan karya Solo: Kelas Napak Tilas dalam program Lab Indonesiana: Dapur LTC 2024 yang diselenggarakan oleh Lab Teater Ciputat pada bulan September 2024 lalu. Karya Fajar terpilih karena memberikan interpretasi baru dari mitos maling kundang yang dikenal sebagai anak durhaka berasal dari Sumatera Barat. Pertunjukan teater</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/malin-kundang-lirih-bukan-anak-durhaka-telaah-dilema-antropologis-sebuah-monolog/">&#8220;Malin Kundang Lirih&#8221; Bukan Anak Durhaka, Telaah Dilema Antropologis Sebuah Monolog</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Legenda &#8220;Malin Kundang&#8221; tak habis menjadi sumber inspirasi bagi dunia seni pertunjukan di Tanah Air. Yang terkini adalah pertunjukan &#8220;Malin Kundang Lirih&#8221; yang dipentaskan pada Selasa, (3/12/2024) pukul 20.00 WIB lalu di Gedung Arena Mursal Esten di ISI Padang Panjang.</p>



<p>Karya Pandu Birowo yang dimainkan oleh Fajar Eka Putra itu, merupakan peserta terpilih kelas penciptaan karya Solo: Kelas Napak Tilas dalam program Lab Indonesiana: Dapur LTC 2024 yang diselenggarakan oleh Lab Teater Ciputat pada bulan September 2024 lalu. Karya Fajar terpilih karena memberikan interpretasi baru dari mitos maling kundang yang dikenal sebagai anak durhaka berasal dari Sumatera Barat.</p>



<p>Pertunjukan teater Monolog, membawa penonton ke dalam perjalanan batin tokoh Malin yang terperangkap dalam dilema antropologi seorang laki-laki yang lahir di tanah Minangkabau. Berbeda dengan cerita yang sering didongengkan oleh seorang Ibu kepada anaknya yang mengkontruksi Malin sebagai anak durhaka, pertunjukan ini menawarkan perspektif yang baru, menggali lebih dalam konflik batin yang ada dalam diri Malin Kundang.</p>



<p>Malin, yang lahir dan besar dalam budaya Minangkabau, kental dengan adat-istiadat, harus menanggung beban stigma sebagai anak durhaka dari pandangan orang-orang di luar sana. Pada saat itu, ia tidak bisa membantah, sehingga melalui pertunjukan ini, ia akan mengungkapkan kebenarannya.</p>



<p>Ketika penonton pertama kali masuk ke dalam gedung pertunjukan, mereka disuguhi setting di tepi laut. Di atas panggung, tampak kapal-kapal yang terbelah menjadi tiga, dengan kondisi sudah berlumut dan hancur. Diinterpretasikan bahwa peristiwa ini sudah lama terjadi, namun detail ini kurang mencerminkan suasana laut yang autentik. Kapal seharusnya terlihat berkarat karena korosi, bukan berlumut hijau. Apalagi, kondisi kapal ini sebenarnya bisa menunjukan umur dari peristiwa Malin Kundang.<br>Selain itu, pasir yang digunakan di atas panggung, juga kurang pas dengan pasir pantai yang sebenarnya yakni bewarna kecoklatan, namun pasir yang tampak di panggung malah berwarna kuning seperti tanah liat. Ini mengurangi esensi surealisme dari latar peristiwa yang akan di imajinasikan oleh penonton.</p>



<p>Pertunjukan dimulai dengan alunan musik yang sendu mengiringi suasana. Pemusik dan Pendendang turut menjadi bagian dari setting di atas panggung, duduk di tengah kepingan kapal yang menjadi latar utama. Musik yang dimainkan secara langsung, berhasil membawa penonton larut dalam suasana, diperkuat dengan efek suara semilir angin laut. Namun, posisi duduk pemusik, mempengaruhi fokus penonton saat adegan bersamaan dengan bangkitnya Malin.<br>Meskipun berformat menolog, pertunjukan ini melibatkan empat aktor di atas panggung, yang membingungkan penonton awam yang mengira monolog hanya dimainkan oleh satu aktor. Setelah musik dimainkan, terlihat satu aktor yang terbaring di kepingan ujung kapal, sementara tiga aktor lainnya memerankan batu yang diselimuti oleh pasir-pasir laut.</p>



<p>Ketika musik bermain, suara retakan batu terdengar, diikuti dengan bangkitnya para aktor yang memerankan batu. Ketiga batu ini, merupakan simbolis dari batu Malin Kundang yang bangkit dari kutukan. Adegan ini memberikan kesan mendalam kepada penonton, bahwa mereka menyaksikan kebangkitan batu-batu yang melambangkan Malin Kundang. Namun, ini menjadi pertanyaan dibenak penonton, kenapa ada tiga batu? Kan legenda sebenarnya hanya ada satu batu Malin Kundang. Alasan ini tidak tercermin dipertunjukan. Namun suasana yang dihadirkan oleh batu-batu tersebut, berhasil menciptakan sensasi mencekam dan membuat penonton bergidik, seolah menyaksikan mumi yang bangkit dari kuburnya.</p>



<p>Peran utama dalam pertunjukan ini dimainkan oleh Fajar Eka, memerankan tokoh Malin Kundang yang akan melirihkan kisahnya kepada penonton. Dalam Malin Kundang Lirih, Fajar Eka menunjukan kedalaman luar biasa dalam memerankan sosok Malin yang penuh lirih. Kebangkitannya dimulai dengan dialog yang kuat, ”Akulah yang akan bicara, telah sekian lama kau bungkam dan tak kau perbolehkan aku bersuara”.</p>



<p>Dengan vokal yang tegas, kuat dan intonasi suara yang sangat menggambarkan kekesalan sosok Malin, Fajar berhasil menghadirkan sosok Malin yang merasa kesal dicap sebagai anak durhaka. Ekspresi dan emosi yang ditampilan sangat menggambarkan perjuangan Malin sebagai seorang laki-laki Minang. Ia lahir di tanah Minang, namun harus merantau dan mencapai kesuksesan di peratauan.</p>



<p>Sayangnya, kepulangannya ke kampung halaman berujung pada tragedi, di mana ia harus menghadapi ibunya dan menerima kutuka sebagai anak durhaka. Penampilan Fajar Eka yang memukau berhasil menghidupkan kompleksitas dan kedalaman karakter Malin Kundang di atas panggung.</p>



<p>Selain aktor utama, terdapat tiga aktor lainnya yang berperan sebagai simbol batu-batu Malin Kundang. Ketiga aktor ini lebih banyak bermain dengan body movement, di mana mereka bergerak hanya saat terdengar suara musik batu, lalu kembali membeku (freeze). Dalam pelajaran keaktoran ini disebut sebagai eksplorasi body movement. Dalam gerakan mereka, terdapat inspirasi dari seni bela diri silek (silat Minangkabau). ”Sebagai batu, gerakan-gerakan yang dimainkan seolah-olah menggambarkan batu yang pecah, sehingga gerakannya bersifat stakato. Selain itu, gerakan juga diambil dari silek yang diekplorasi kembali” ungkap Rahmad.</p>



<p>Konsep pertunjukan Malin Kundang Lirih, sebenarnya inovasi baru dalam pertunjukan monolog, menambahkan karakter yang unik. Namun, kadang penonton lebih tertarik pada gerakan ketiga batu ini dibandikan cerita utama. Mereka sering kali menuggu gerakan apa yang akan dilakukan berikutnya, sehingga fokus terhadap narasi Malin Kundang sebagai tokoh utama menjadi terganggu.</p>



<p>Jika kita melihat dari konsep penyutradaraan dalam pertunjukan ini, khususnya dari segi blocking aktor utama, Malin Kundang, terbaring di ujung kapal yang terbelah. Malin bergerak ke arah depan, batu pertama, kembali lagi ke belakang, kemudian baru ke arah samping kiri serpihan kapal yang jarang dijamah oleh Malin. Blocking ini kurang mengeksplor seluruh area panggung, terutama bagian lambung kapal kiri dan tengah. Eksplorasi properti juga terbatas. Malin hanya sering berinteraksi dengan serpihan ujung kapal tempat kebangkitannya, sementara serpihan lainnya lebih banyak dieksplor oleh aktor yang berperan sebagai batu. Properti di atas panggung pun minimalis, , hanya menghadirkan kapal yang patah secara simbolis, memberikan makna bahwa malin terperangkap dalam ruang sempit dan terbatas, tetapi juga menimbulkan kekurangan, dengan properti yang hanya dihadirkan secara simbolik, kadang membuat penonton merasa ada ruang yang hilang dalam pengalaman visual yang seharusnya lebih kaya. Selain itu, pencahayaan yang dramatis memberikan kesan surealis yang mendalam. Hal ini memperkuat suasana lirih yang menyelimuti karakter Malin Kundang dan menambah dimensi emosional pada pertunjukan.</p>



<p>Malin Kundang Lirih adalah pertunjukan teater yang menarik. Naskah yang ditulis dengan penuh pertimbangan menawarkan interpretasi baru dari mitos Malin Kundang, dengan menggali aspek antropologis dan psikologis yang jarang dieksplorasi dalam pertunjukan sejenis. Pertunjukan ini berhasil, menyampaikan hal tersebut. Malin, sebagai seorang pemuda Minangkabau, mencoba mengubah nasibnya dengan merantau, namun ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa setiap tindakan yang ia lakukan memiliki dampak terhadap keluarganya, terutama ibunya.</p>



<p>Malin Kundang Lirih, menunjukkan bahwa Malin bukanlah sosok yang jahat atau durhaka, melainkan seorang individu yang menghadapi dilema besar dalam hidupnya yang dilahirkan sebagai seorang laki-laki di tanah Minang. Pertunjukan ini diakhiri dengan gemuruh tepuk tangan dari seluruh penonton di dalam gedung pertunjukan. Keberhasilkan ini terlihat dari banyaknya penonton yang larut dalam emosi, bahkan meneteskan air mata saat merasakan kelirihan hidup Malin.</p>



<p>”Cerita ini sangat relate banget dengan persoalan anak laki-laki di tanah minang yang harus berkembang di rantau orang, kalau tidak sukses di rantau, mereka tidak akan berani pulang,” kata salah seorang penonton.</p>



<p>Secara keseluruhan, pertunjukan ini berhasil menyampaikan pesan dan kelirihan Malin Kundang, Namun karya ini akan lebih baik, dengan beberapa penyempurnaan dalam aspek penyutradaraan seperti blocking aktor yang lebih di pertimbangkan, maksimalkan dan pertimbangan mengenai karakter simbolis tiga batu Malin Kundang, posisi pemusik yang memang ingin menjadi bagian setting di atas panggung, Malin Kundang Lirih akan menjadi pertunjukan yang lebih seimbang dan memukau. (*)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/malin-kundang-lirih-bukan-anak-durhaka-telaah-dilema-antropologis-sebuah-monolog/">&#8220;Malin Kundang Lirih&#8221; Bukan Anak Durhaka, Telaah Dilema Antropologis Sebuah Monolog</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">217784</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Gelar Karya Budaya di Padang Panjang, Sejak Pertunjukan Hingga Diskusi</title>
		<link>https://langgam.id/gelar-karya-budaya-di-padang-panjang-sejak-pertunjukan-hingga-diskusi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2021 02:28:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[ISI Padang Panjang]]></category>
		<category><![CDATA[Teater]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=137577</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Dua karya Wisran Hadi tampil dalam Gelar Karya Budaya (GKB) di Teater Arena ISI Padangpanjang. Komunitas Seni Kuflet menampilkan ‘Kemerdekaan’ sedangkan Teater Binggo mempertunjukkan Nurani. Keduanya tampil pada pukul 13.00 WIB dan Pukul 14.30 WIB, Selasa (9/11/2021). “Sudah tiga versi saya menggarap Kemerdekaan. Semuanya dengan dramaturgi yang berbeda,” kata sutradara Kuflet, Sulaiman Juned, sebagaimana dirilis panitia. Pertama ia tampilkamn dengan lokalitas Aceh, kemudian umum saja susuai dengan kondisi naskah. &#8220;Sekarang dengan ke-minangkabau-an,&#8221; ujarnya. Sementara Desi Fitriani menyebut, karya yang digarap kali ini sudah menjalani proses hampir setahun. “Sejak Januari, saya mulai memroses. Beberapa kali terjadi perubahan. Karena saya</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/gelar-karya-budaya-di-padang-panjang-sejak-pertunjukan-hingga-diskusi/">Gelar Karya Budaya di Padang Panjang, Sejak Pertunjukan Hingga Diskusi</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Dua karya Wisran Hadi tampil dalam Gelar Karya Budaya (GKB) di Teater Arena ISI Padangpanjang. Komunitas Seni Kuflet menampilkan ‘Kemerdekaan’ sedangkan Teater Binggo mempertunjukkan Nurani.</p>
<p>Keduanya tampil pada pukul 13.00 WIB dan Pukul 14.30 WIB, Selasa (9/11/2021). “Sudah tiga versi saya menggarap Kemerdekaan. Semuanya dengan dramaturgi yang berbeda,” kata sutradara Kuflet, Sulaiman Juned, sebagaimana dirilis panitia.</p>
<p>Pertama ia tampilkamn dengan lokalitas Aceh, kemudian umum saja susuai dengan kondisi naskah. &#8220;Sekarang dengan ke-minangkabau-an,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Sementara Desi Fitriani menyebut, karya yang digarap kali ini sudah menjalani proses hampir setahun. “Sejak Januari, saya mulai memroses. Beberapa kali terjadi perubahan. Karena saya ingin naskah ini tetap bisa ditonton oleh generasi sekarang,” ujarnya.</p>
<p>Teater Binggo termasuk pemenang dalam Alek Teater V yang dilaksanakan Taman Budaya Sumbar September lalu.</p>
<p>Usai pementasan juga dilangsungkan diskusi. Tampil sebagai pembicara adalah Heru Joni Putra dengan dimoderatori oleh Kurniasih Zaitun. Tema diskusi, selain pementasan juga akan menyinggung soal ‘Seniman dan Pandemi’.</p>
<p>“Ini tema yang menarik. Saya akan memulai dari situasi saat ini dan akan dikaitkan dengan pementasan,” ujar Heru.</p>
<p>Tema yang sama ditampilkan pada bimbingan teknis dan diskusi pada Senin (8/11/2021). Untuk bimtek Anggota DPRD Sumbar Hidayat tampil sebagai pembicara.</p>
<p>Ia mengajak peserta, untuk tidak menyerah dengan keadaan. Tetap berkarya. Ia mengajak mahasiswa untuk menonton pertunjukan agar bisa mengikuti lomba esai. Banyak pertanyaan terlontar dari mahasiswa usai Hidayat memberikan materi. Setidaknya ada 7 pertanyaan dari dua alokasi waktu yang disediakan panitia.</p>
<p>Sementara Yuhirman, yang menjadi pemateri dalam diskusi menyoal Teater Digital. Walau bukan soal baru, ia menginsyaratkan bagaiaman panggung ini sudah tak terbatas. Ia mulai mengimpikan teater muncul di kafe.</p>
<p>“Dan sebagai dokumentasi, digital menjadi tempat permanen dan abadi,’ ujarnya. Materi yang dilontarkan Yuhirman mendapatkan sambutan. Setidakanya ada lima pertanyaa dari dua sesi yang disediakan. Misalnya, ada yang menanyakan, kenapa kesenian itu asik?</p>
<p>GKB juga akan menampilkan dua pertunjukan yang akan berlangsung Rabu (10/11/2021). Teater Batuang Sarumpun Padang dan Teater Selembayung dari Pekanbaru akan jadi penampil. (*/SS)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/gelar-karya-budaya-di-padang-panjang-sejak-pertunjukan-hingga-diskusi/">Gelar Karya Budaya di Padang Panjang, Sejak Pertunjukan Hingga Diskusi</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">137577</post-id>	</item>
		<item>
		<title>ISI Tampilkan Opera Malin Nan Kondang</title>
		<link>https://langgam.id/isi-tampilkan-opera-malin-nan-kondang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2021 01:06:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[Teater]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=91918</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berawal dari tahun 2019 suatu wabah di Kota Wuhan, China, akrab di dengar dengan sebutan virus corona. Siapa sangka, akibat penyebarannya yang begitu cepat, virus ini dengan mudahnya menjangkit hampir keseluruh dunia. Bahkan hanya dalam waktu beberapa bulan status virus ini sudah masuk pada tingkat pandemi. Sudah beranjak satu tahun pandemi ini meresahkan, segala kegiatan yang melibatkan banyak orang dilarang dan dihentikan sementara demi pemutusan mata rantai penyebarannya. Mulai dari kegiatan belajar mengajar, pertunjukkan kesenian, bahkan diawal masa pandemi kegiatan perkantoran sempat dihentikan sementara, dan segala macam kegiatan itu beralih menggunakan sistem daring. Dunia kesenian merupakan salah satu bidang yang</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/isi-tampilkan-opera-malin-nan-kondang/">ISI Tampilkan Opera Malin Nan Kondang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;"><strong>B</strong>erawal dari tahun 2019 suatu wabah di Kota Wuhan, China, akrab di dengar dengan sebutan virus corona. Siapa sangka, akibat penyebarannya yang begitu cepat, virus ini dengan mudahnya menjangkit hampir keseluruh dunia. Bahkan hanya dalam waktu beberapa bulan status virus ini sudah masuk pada tingkat pandemi.</span></p>
<p><span style="font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;"> Sudah beranjak satu tahun pandemi ini meresahkan, segala kegiatan yang melibatkan banyak orang dilarang dan dihentikan sementara demi pemutusan mata rantai penyebarannya. Mulai dari kegiatan belajar mengajar, pertunjukkan kesenian, bahkan diawal masa pandemi kegiatan perkantoran sempat dihentikan sementara, dan segala macam kegiatan itu beralih menggunakan sistem daring.</span></p>
<p>Dunia kesenian merupakan salah satu bidang yang terdampak akibat pandemi ini. Dilarangnya perkumpulan orang banyak membatasi gerak kesenian mulai dari produksi, hingga proses mendapatkan apresiasi.</p>
<p>Oleh karena itu banyak dari pelaku-pelaku kesenian harus memutar otak sekuat tenaga untuk bertahan di era-era sulit seperti ini. Institusi pendidikan bidang kesenian, organisasi kesenian, bahkan hingga pelaku seni perorangan.</p>
<p>Salah satu yang mungkin dapat sedikit menolong adalah dengan melakukan penampilan-penampilan kesenian secara virtual. Seperti acara lomba FLS2N yang diadakan secara online, ajang pencarian bakat dangdut secara online, bahkan ujian-ujian dibeberapa institusi kesenian diadakan secara online.</p>
<p>Namun sekarang mulai beranjak pada status new normal. Semua kegiatan mulai kembali dilakukan namun masih ada protokol kesehatan yang mesti dijalankan. Para penggiat seni dari kampus ISI Padang Panjang telah berhasil menampilkan karyanya di tengah keadaan new normal ini.</p>
<p>Penampilan Opera Minangkabau dengan judul &#8220;Malin Nan Kondang&#8221; yang ditampilkan di Anjungan Seni Idrus Tintin Pekanbaru, menjadi bukti suksesnya para penggiat seni di status new normal ini. Pertunjukan ini menafsirkan ulang cerita Malin Kundang dan melahirkannya dalam bentuk lakon baru, yang kemudian diberi tanjuk &#8220;Malin Nan Kondang&#8221;.</p>
<p>Oleh sebab itu, Opera Minangkabau ini merupakan salah satu upaya untuk menelusuri seni garapan atau kreasi baru yang berbeda dari kosepsi opera pada umumnya, namun tak terlepas dari dasar opera itu sendiri.</p>
<p>Muhammad Iqbal adalah pemeran utama opera ini, beliau adalah seorang penari kelahiran Solok 23 tahun silam.</p>
<p>Menurutnya inilah pengalaman pertamanya dalam berakting di teater modern. Selain penari ia juga dikenal sebagai pemain randai yang handal. Kepiawaian nya dalam bidang ini meyakinkan Yesriva Nursyam, koreografer dalam karya ini.</p>
<p>Beliau adalah koreografer tari yang sangat produktif di kampus ISI Padang Panjang. Selain produktif ia juga memiliki segudang prestasi baik tingkat Sumbar maupun Nasional. Untuk mengisi musik dalam karya ini beliau dibantu oleh Al Falah. Beliau adalah komposer dan pemusik yang dikenal sebagai pecinta instrumen tradisional Minangkabau.</p>
<p>Berkat kecintaannya itulah beliau berhasil tour ke berbagai negara untuk menampilkan keahliannya. Naskah karya ini ditulis oleh Edi Susisno. Pria kelahiran Wonogiri yang terkenal sebagai penggiat penulisan lakon, beliau pernah mementaskan tulisannya sendiri sejak duduk di bangku perkuliahan.</p>
<p>Wen Hendri, adalah salah satu generasi baru dalam pengembangan teater tradisional Minangkabau di ISI Padang Panjang, disini beliau berperan sebagai sutradara dan bahkan ikut langsung di dalam pementasan. Dan swandi adalah pimpinan produksi dalam karya ini. Beliau bersama tim sukses untuk membawa Opera Minangkabau ini tampil di Anjungan Seni Idrus Tintin Pekan Baru.</p>
<p>Berikut sinopsis Opera Minangkabau : &#8220;Malin Nan Kondang&#8221;</p>
<p><em>Hari itu, Malin Kundang galau. Pikirannya berkecamuk merenungi nasibnya yang tak berubah. Ia dan Mandehnya memang tak pernah kelaparan tetapi hati Malin berontak: jika saja ia kaya, pasti akan dapat memenuhi semua keinginan mandehnya dan Nilam kekasihnya. Maka Malin pun berbulat hati untuk memutuskan merantau. Setelah mendapat restu dari mamaknya, Malin pun berangkat menuju ke Malaya. Malin pun mendapatkan pekerjaan pada sebuah perniagaan rempah-rempah, yang dimiliki seorang wanita bernama Puan Hamidah. Ternyata, setelah setahun bekerja Malin telah sanggup meningkatkan penjualan rempah-rempah diusaha Puan Hamidah hingga berlipat-lipat. Puan Hamidah pun jatuh hati atas kejujuran dan kerja Malin. Hingga suatu saat Puan Hamidah pun, menyatakan isi hatinya bahwa dirinya jatuh cinta pada Malin. Sayang sekali, Malin menolaknya dengan tegas dengan dalih: ia hanya mencintai Nilam.</em></p>
<p><em>Sesaat setelah Malin pulang kampung. Malin pun meradang, terlebih setelah mamaknya menceritakan sikap Mandehnya yang telah menganjurkan Nilam untuk menerima tawaran Datuk Kayo, seorang saudagar kaya raya yang seusia ayahnya, yang menginginkan Nilam menjadi istrinya. Hal itu memang telah disengaja oleh orang tua Nilam, demi mendapatkan pertolongan Datuk Kayo dari kebangrutan usaha yang dialaminya. Malinpun menemui Mandehnya. Terjadilah pertengkaran antara Malin dan Mandehnya, tetapi Mandeh tetap kukuh pada pendiriannya, Malin harus meninggalkan Nilam. Sebaliknya pula Malin tetap pada pendiriannya untuk menikahi Nilam. Iapun pergi dari rumahnya untuk mencari keberadaan Nilam, Mandeh meradang memandangi kepergian Malin. Saat itulah mamak Malin datang untuk menasehati dan mengingatkan Mandeh tentang cinta Nilam dan Malin yang tak mungkin di padamkan. Mandeh pun terhenyak pada kesadaran, bahwa cinta sejati memang tidak akan bisa direbut dan digantikan dengan kenyamanan dan kemewahan apapun.</em></p>
<p><em>Tafsir ulang cerita rakyat Malin Kundang itulah yang pada akhirnya dilahirkan dalam bentuk lakon baru, yang kemudian diberi tajuk &#8220;Malin Nan Kondang&#8221;. Lakon Malin Nan Kondang diharapkan dapat berimplikasi pada formulasi penanggungan yang kebih kreatif, di mana latar peristiwa, tema, dan interaksi antar tokoh dalam teks cerita dapat dijadikan wahana yang sangat terbuka dalam usaha menemukan makna baru, bukan hanya sebagai kritik atas penampilan atau sajian yang baru dalam bentuk opera Minangkabau.</em></p>
<p><strong>*Mahasiswa Sastra Minangkabau, Universitas Andalas</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/isi-tampilkan-opera-malin-nan-kondang/">ISI Tampilkan Opera Malin Nan Kondang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">91918</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Hujan Pertanyaan untuk Ranah PAC dalam Ekskavasi Swarnabumi</title>
		<link>https://langgam.id/hujan-pertanyaan-untuk-ranah-pac-dalam-ekskavasi-swarnabhumi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Mar 2019 04:10:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[Teater]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=4597</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Ranah Performing Arts Company (Ranah PAC), grup Teater asal Padang tampil membawakan ‘Sandiwara Pekaba’ dalam acara Ekskavasi Swarnabumi #1 di Medan, Sumatra Utara, Sabtu (23/3/2019). Ekskavasi Swarnabumi #1 yang digelar di Museum Situs Kotta Cina No. 65, Kelurahan Paya Pasir, Medan Marelan itu berlangsung pada 22-24 Maret 2019. Usai tampil, pertunjukan yang sudah pernah digelar di Padang, Pekanbaru, Solo dan Singapura itu dapat banyak pertanyaan dalam diskusi yang dipimpin Direktur Festival Ekskavasi Swarnabhumi #1 Agus Susilo. Umumnya pertanyaan merujuk pada proses dan maksud dari pertunjukan. Marlina Tarigan misalnya, ia mengaku sangat dekat dengan beberapa bunyi yang dihasilkan pertunjukan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/hujan-pertanyaan-untuk-ranah-pac-dalam-ekskavasi-swarnabhumi/">Hujan Pertanyaan untuk Ranah PAC dalam Ekskavasi Swarnabumi</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Ranah Performing Arts Company (Ranah PAC), grup Teater asal Padang tampil membawakan ‘Sandiwara Pekaba’ dalam acara Ekskavasi Swarnabumi #1 di Medan, Sumatra Utara, Sabtu (23/3/2019).</p>
<p>Ekskavasi Swarnabumi #1 yang digelar di Museum Situs Kotta Cina No. 65, Kelurahan Paya Pasir, Medan Marelan itu berlangsung pada 22-24 Maret 2019.</p>
<p>Usai tampil, pertunjukan yang sudah pernah digelar di Padang, Pekanbaru, Solo dan Singapura itu dapat banyak pertanyaan dalam diskusi yang dipimpin Direktur Festival Ekskavasi Swarnabhumi #1 Agus Susilo.</p>
<p>Umumnya pertanyaan merujuk pada proses dan maksud dari pertunjukan. Marlina Tarigan misalnya, ia mengaku sangat dekat dengan beberapa bunyi yang dihasilkan pertunjukan ini.</p>
<p>Akan tetapi, ia agak sulit mencari jalan cerita. “Saya menikmati tapai tidak mengerti (jalan ceritanya),” kata Marlina, sebagaimana dirilis siaran pers Ranah PAC.</p>
<p>Sutradara pertunjukan, S Metron Masdison menjelaskan, ia memilih jalur lain dalam pertunjukannya. Bukan teater konvensional seperti yang mungkin banyak disaksikan penonton di Medan. Ia menyebutnya ‘teater bunyi’. Di mana, bahasa mau dikembalikan dalam bentuknya yang paling purba, bebunyian.</p>
<p>“Saya ingin, penonton pernah mendengar bunyi yang sama di masa lalu dengan pertunjukan dan bunyi yang akan didengarnya di masa depan. Satu denting saja cukup. Ketika penonton mendengar bunyi yang sama dengan pertunjukan ini, lima atau lima belas tahun kemudian,” jelasnya.</p>
<p>Metron menjelaskan, ia memilih jalur ini karena ingin bereksperimen. Tradisi yang dimiliki Minangkabau sangat kaya bunyi. Tidak hanya pada musik tapi petatah-petitih. “Jika didengarkan secara seksama, petatah-petitih itu menghasilkan bunyi,” alasannya.</p>
<p>Karena itu, ia ingin menjadikannya model pementasan. Pertunjukan ini sudah diproses sejak 2014.</p>
<p>Pertanyaan lain bermunculan selepas itu. Agus menutup sesi ini dan meminta penonton jika ingin masih meminta penjelasan, langsung saja ditanyakan ke personel Ranah PAC.</p>
<p>Sebelum itu, sastrawan dan dramawan Medan, Thompson Hs menyatakan bahwa sutradara sudah menyatakan inti pertunjukannya, post-tradisi.</p>
<p>“Satu jawabannya sudah memudahkan dan langsung dari Metron. Mereka tidak mau mengikuti ketunggalan dalam persoalan Teater Indonesia, yang mungkin dari modernitasnya sudah melangkah kepada posmo-posmoan. Namun garapan mereka boleh disebut post-tradisi,’ ungkap sutradara ‘Opera Batak’ itu.</p>
<p>Penonton langsung menyerbu ke tengah pentas usai itu. Ada yang mewawancarai sutradara atau pemain.</p>
<p>Saat ditanya tentang proses, Syahrul Huda, salah seorang Pekaba mengatakan, ia sudah ikut Ranah PAC selama 7 tahun. Tapi sempat berhenti untuk skripsi. Ia melanjutkan lagi latihan usai wisuda.</p>
<p>Sementara Afdal Zikri, Pekaba yang lain mengaku, menikmati proses di Ranah PAC walau mesti belajar melangkah silek (silat). “Terutama pada langkah. Belajarnya lama sekali. Tapi karena itu (langkah silat) jadi syarat utama, saya menjalaninya sepenuh hati,” ujar mahasiswa STKIP Padang ini.</p>
<p>Esok harinya (24/3), baca puisi tingkat umum berlanjut. Seperti biasa, pada sore, Teater Selembayung tampil membawakan “Situs”. Naskah ini sejak 2016 diproses. Intinya mengenai kehancuran Candi Muara Takus.</p>
<p>Sebelumnya pada Jumat sore (22/3), Ekskavasi Swarnabhumi #1 dibuka dengan diskusi di Museum Situs Kotta Cina No. 65, Kelurahan Paya Pasir, Medan Marelan, Medan Sumatra Utara. Temanya ‘Tentang Situs Kotta Cinna’ dari berbagai perspektif, misal dari sampah dan hutan Mangrove.</p>
<p>Tampil sebagai pembicara adalah Phil. Ichwan Azhari, penggagas Museum Kotta Cinna serta Repelit Wahyu Oetomo dan Wibi Nugroho.</p>
<p>Tampil sore itu Teater Rumah Mata dengan “Repro-Diksi Tanda: Kisah-kisah Tembikar”. Agus Susilo bertindak sebagai sutradara dan pemain. Ia mengajak tiga dara kecil dari lingkungan Situs Kotta Cinna. “Agar mereka juga belajar tentang lingkungan mereka sejak dini,” ujarnya. (*/HM)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/hujan-pertanyaan-untuk-ranah-pac-dalam-ekskavasi-swarnabhumi/">Hujan Pertanyaan untuk Ranah PAC dalam Ekskavasi Swarnabumi</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4597</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sandiwara Pekaba Versi Bertiga Tampil di Medan Akhir Pekan Ini</title>
		<link>https://langgam.id/sandiwara-pekaba-versi-bertiga-tampil-di-medan-akhir-pekan-ini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Mar 2019 16:31:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[Teater]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=4244</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Ranah Performing Arts Company (Ranah PAC) dari Padang bakal menampilkan pertunjukan Sandiwara Pekaba pada Ekskavasi Swarnabumi #1 di Medan, Sumatera Utara. Kelompok teater ini akan tampil dua kali, pukul 15.00 WIB dan 19.30 WIB, Sabtu (23/3/2019). Ekskavasi Swarnabumi #1 yang digelar di Museum Situs Kotta Cina No. 65, Kelurahan Paya Pasir, Medan Marelan akan berlangsung pada 22-24 Maret 2019. &#8220;Sandiwara Pekaba bercerita tentang para Pekaba atau juru cerita yang menghendaki pertarungan antar sesama pekaba,&#8221; kata Direktur Artistik Ranah PAC S. Metron Masdison, dalam siaran pers yang diterima Langgam.id, Rabu (20/3/2019). Bermain kata-kata bagi para juru cerita, kata Metron,</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/sandiwara-pekaba-versi-bertiga-tampil-di-medan-akhir-pekan-ini/">Sandiwara Pekaba Versi Bertiga Tampil di Medan Akhir Pekan Ini</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Ranah Performing Arts Company (Ranah PAC) dari Padang bakal menampilkan pertunjukan Sandiwara Pekaba pada Ekskavasi Swarnabumi #1 di Medan, Sumatera Utara.</p>
<p>Kelompok teater ini akan tampil dua kali, pukul 15.00 WIB dan 19.30 WIB, Sabtu (23/3/2019). Ekskavasi Swarnabumi #1 yang digelar di Museum Situs Kotta Cina No. 65, Kelurahan Paya Pasir, Medan Marelan akan berlangsung pada 22-24 Maret 2019.</p>
<p>&#8220;Sandiwara Pekaba bercerita tentang para Pekaba atau juru cerita yang menghendaki pertarungan antar sesama pekaba,&#8221; kata Direktur Artistik Ranah PAC S. Metron Masdison, dalam siaran pers yang diterima Langgam.id, Rabu (20/3/2019).</p>
<p>Bermain kata-kata bagi para juru cerita, kata Metron, lumrah belaka. Mereka sepakat mengembalikan kata ke bunyi, bentuk paling purba dari bahasa. &#8220;Maka, pertikaian terjadi tentang siapa yang paling bertuah diantara mereka melalui bunyi.&#8221;</p>
<p>Metron mengatakan, pementasan kali ini disebut dengan ‘versi bertiga’. “Pertunjukan ini pernah dimainkan lima dan empat pemain. Sekarang hanya bertiga. Jauh lebih menantang,” komentar alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas ini.</p>
<p>Sebelumnya pada Desember lalu, kata Metron, Sandiwara Pekaba dipentaskan di Singapura.</p>
<p>Menurut Agus Susilo, panitia penyelenggara Ekskavasi Swarnabumi, Ranah PAC akan menjadi referensi segar bagi pegiat teater di Medan.</p>
<p>“Pertunjukan ini menjadikan bunyi sebagai metode dan bentuk pementasan. Sebuah pertunjukan yang tentunya akan memberi wawasan baru di Sumatra Utara dengan konsep teater bunyi yang diusung Ranah PAC. Ini tentu menjadi refrensi segar bagi pegiat teater di Medan,” tuturnya.</p>
<p>Agus Susilo juga menjelaskan Ekskavasi Swarnabumi merupakan gerakan kebudayaan dengan menggunakan strategi seni teater. Namun juga melibatkan ekosistem lain di luar teater.</p>
<p>&#8220;Melakukan penggalian kembali jejak-jejak peradaban tua Sumatera, terutama di wilayah pesisir timur Sumatera Utara. Di sini =banyak tersebar situs-situs peradaban kuno. Fokusnya peradaban kota kosmopolitan kuno Situs Kotta Cinna di Paya Pasir, Medan Marelan.&#8221;</p>
<p>Agus berharap Ekskavasi Swarnabumi ini akan menjadi ikon even teater yang membangun harmonisasi dengan ekosistem-ekosistem lain, wisata, kemaritiman, sejarah, arkeologi, antropologi, sosial, ekonomi kreatif, pendidikan.</p>
<p>Dalam agenda Ekskavasi Swarnabumi #1 kali ini akan tampil teater tiga kota yaitu, Padang, Medan, dan Pekan Baru. Dari Medan Teater Rumah Mata akan menampilkan Repro-Diksi Tanda karya/sutradara Agus Susilo, dan dari Pekan Baru, Teater Selembayung akan menampilkan Situs karya/sutradara Fedli Aziz. (*/HM)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/sandiwara-pekaba-versi-bertiga-tampil-di-medan-akhir-pekan-ini/">Sandiwara Pekaba Versi Bertiga Tampil di Medan Akhir Pekan Ini</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4244</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Inilah jadwal Kegiatan Komunitas Seni Nan Tumpah Selama 2019</title>
		<link>https://langgam.id/1163-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Jan 2019 09:21:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[kesenian]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Teater]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=1163</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Komunitas Seni Nan Tumpah (KSNT) Padangpariaman, Sumatra Barat menyiapkan berbagai program kesenian yang siap digelar selama tahun 2019. Berbagai kegiatan tersebut mulai dari pementasan hingga program pendidikan yang disiapkan bagi pelajar yang ada pada beberapa sekolah di Sumbar. &#8220;Program-program tersebut tidak hanya melibatkan pekerja seni, akan tetapi juga masyarakat umum serta pelajar,&#8221; kata Direktur KSNT, Mahatma Muhammad, Selasa (15/1/2019). Program pertama adalah Nan Tumpah Akhir Pekan, merupakan program baru yang diluncurkan oleh KSNT pada tahun 2019. Mahatma menyebutkan, program ini dilakukan setiap hari Sabtu dan Minggu. Pada program tersebut, selain kegiatan yang dirancang oleh anggota komunitas, pihaknya juga</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/1163-2/">Inilah jadwal Kegiatan Komunitas Seni Nan Tumpah Selama 2019</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; <a href="https://www.nantumpah.org/">Komunitas Seni Nan Tumpah</a> (KSNT) Padangpariaman, Sumatra Barat menyiapkan berbagai program kesenian yang siap digelar selama tahun 2019.</p>



<p>Berbagai kegiatan tersebut mulai dari pementasan hingga program pendidikan yang disiapkan bagi pelajar yang ada pada beberapa sekolah di Sumbar.</p>



<p>&#8220;Program-program tersebut tidak hanya melibatkan pekerja seni, akan tetapi juga masyarakat umum serta pelajar,&#8221; kata Direktur KSNT, Mahatma Muhammad, Selasa (15/1/2019).</p>



<p>Program pertama adalah Nan Tumpah Akhir Pekan, merupakan program baru yang diluncurkan oleh KSNT pada tahun 2019. Mahatma menyebutkan, program ini dilakukan setiap hari Sabtu dan Minggu.</p>



<p>Pada program tersebut, selain kegiatan yang dirancang oleh anggota komunitas, pihaknya juga mengakomodasi pihak lain yang ingin berkegiatan di komunitasnya.</p>



<p>Program selanjutnya adalah Ke Rumah Nan Tumpah, program ini melibatkan masyarakat sekitar sekretariat KSNT, yakni di Jorong Kasai Nagari Batang Anai, Padangpariaman dengan kegiatan berupa pertunjukan seni tradisi, lokakarya, pemutaran film dan kegiatan literasi.</p>



<p>Selama tahun 2019, program ini digelar sebanyak tiga kali, pada 6 April dimulai dengan pertunjukan Kelompok Randai Saedar Siti. </p>



<p>Pada 3 hingga 8 agustus dilanjutkan dengan pameran foto serta pemutaran film oleh Street Photo Festival serta Lokakarya Menggambar oleh Gang Arang. Pada 1 Desember akan dilakukan Pertujukan Drama Musikal Anak Korong Kasai.</p>



<p>Selanjutnya, Nan Tumpah Masuk Sekolah adalah program KSNT yang melibatkan pelajar pada sekolah yang telah ditentukan. </p>



<p>Melalui program ini Mahatma menyebutkan pihaknya ingin membagi pengetahuan tentang dasar seni pertujukan serta membangun apresiasi serta iklim berkesenian di antara para pelajar.</p>



<p>Program Nan Tumpah Masuk Sekolah digelar selama tiga kali, program pertama dilakukan pada 4-16 Februari, kemudian pada 25 Februari dan terakhir pada 25-27 April.</p>



<p>Pada 30-31 Agustus, KSNT juga akan melakukan pementasan teater berjudul Kaba-kaba yang Membunuh Tukang Kaba dan Ibu-ibu yang Selalu Mengutuki Diri Sendiri. Naskah ini merupakan bagian kedua dari trilogi Alam Takambang Jadi Batu karya Mahatma Muhammad.</p>



<p>Perhelatan lain yang juga disiapkan untuk tahun 2019 adalah Pekan Nan Tumpah. Program ini telah dimulai sejak tahun 2011 lalu dan dilaksanakan selama sepekan.</p>



<p>Pekan Nan Tumpah dijadwalkan digelar pada 9-15 Oktober dengan mengedapankan seni pertunjukan kontemporer berbasis tradisi, pameran seni rupa dan pagelaran sastra.<strong>(SR)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/1163-2/">Inilah jadwal Kegiatan Komunitas Seni Nan Tumpah Selama 2019</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1163</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 24/200 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-05-02 00:42:58 by W3 Total Cache
-->