<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita tarekat Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/tarekat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/tarekat/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 03 Jun 2019 16:40:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita tarekat Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/tarekat/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Jemaah Naqsabandiyah Tetapkan Idul Adha 10 Agustus 2019</title>
		<link>https://langgam.id/jemaah-naqsabandiyah-tetapkan-idul-adha-10-agustus-2019/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rahmadi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Jun 2019 16:40:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[tarekat]]></category>
		<category><![CDATA[Tarekat Naqsabandiyah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=7953</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Jemaah Tarekat Naqsabandiyah Sumatra Barat (Sumbar) telah melaksanakan salat Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriah pada Senin (3/6/2019). Selain itu, ulama Naqsabandiyah juga telah menetapkan tanggal untuk perayaan Idul Adha yang diperingati setiap tanggal 10 Zulhijah. Penetapan hari raya kurban itu diyakini juga berbeda dari yang akan ditetapkan pemerintah kelak. Sekretaris Tarekat Naqsabandiyah Kota Padang Edizon Revindo mengatakan, perayaan Idul Adha untuk pengikut Naqsabandiyah akan berlangsung pada hari Sabtu, (10/8/2019. Menurutnya, setiap tahun, mulai pelaksanaan puasa Ramadan selalu sama hingga hari raya Idul Adha. Sebab, dalam hitungan yang diyakini Naqsabandiyah, awal Ramadan bertepatan dengan tanggal 10 Zulhijah. &#8220;Kemarin,</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/jemaah-naqsabandiyah-tetapkan-idul-adha-10-agustus-2019/">Jemaah Naqsabandiyah Tetapkan Idul Adha 10 Agustus 2019</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id &#8211;</strong> Jemaah Tarekat Naqsabandiyah Sumatra Barat (Sumbar) telah melaksanakan salat Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriah pada Senin (3/6/2019).</p>
<p>Selain itu, ulama Naqsabandiyah juga telah menetapkan tanggal untuk perayaan Idul Adha yang diperingati setiap tanggal 10 Zulhijah. Penetapan hari raya kurban itu diyakini juga berbeda dari yang akan ditetapkan pemerintah kelak.</p>
<p>Sekretaris Tarekat Naqsabandiyah Kota Padang Edizon Revindo mengatakan, perayaan Idul Adha untuk pengikut Naqsabandiyah akan berlangsung pada hari Sabtu, (10/8/2019.</p>
<p>Menurutnya, setiap tahun, mulai pelaksanaan puasa Ramadan selalu sama hingga hari raya Idul Adha. Sebab, dalam hitungan yang diyakini Naqsabandiyah, awal Ramadan bertepatan dengan tanggal 10 Zulhijah.</p>
<p>&#8220;Kemarin, kami mulai puasa hari Sabtu. Makanya nanti, perayaan Idul Adha juga jatuh di hari Sabtu,&#8221; kata Edizon Revindo di Musala Baitul Makmur, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Senin (2/6/2019).</p>
<p>Edizon menjelaskan penghitungan itu berdasarkan hasil hisab dan rukyat yang juga dilakukan untuk mencari awal Ramadan. Hisab yaitu metode menghitung dan rukyat melihat bulan. Metode tersebut berasal dari Kitab Munjid yang menjadi rujukan ulama-ulama Tarekat Naqsabandiyah sejak tahun 1906.</p>
<p>Menurutnya keputusan tersebut diambil berdasarkan musyawarah yang telah dilakukan oleh ulama-ulama tarekat Naqsyabandiyah di saat menentukan malam nisfu syaban di Musala Baitul Makmur.</p>
<p>&#8220;Kita melakukan pertemuan lalu dilanjutkan dengan koordinasi yang terus bejalan. Karena kita berpencar di berbagai kecamatan, kabupaten dan daerah. Pertemuan sekali itu ketika menentukan nisfu syaban. Kita ada yang dari Solok, Payakumbuh, Pesisir Selatan dan daerah lain juga ada,&#8221; katanya.</p>
<p>Saat ini, ada sekitar 200-an jemaah Naqsanbandiyah di Kota Padang. Sedangkan di Sumbar, pengikut tarekat ini berada di kisaran angka 5.000 orang lebih<strong>. (Rahmadi/RC)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/jemaah-naqsabandiyah-tetapkan-idul-adha-10-agustus-2019/">Jemaah Naqsabandiyah Tetapkan Idul Adha 10 Agustus 2019</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">7953</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Khotbah Idul Fitri Naqsabandiyah Pakai Bahasa Arab, Ini Alasannya</title>
		<link>https://langgam.id/khotbah-idul-fitri-naqsabandiyah-pakai-bahasa-arab-ini-alasannya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rahmadi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Jun 2019 10:34:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[tarekat]]></category>
		<category><![CDATA[Tarekat Naqsabandiyah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=7934</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Jemaah Tarekat Naqsabandiyah Sumatra Barat (Sumbar) telah melaksanakan salat Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriah, Senin (3/6/2019). Menariknya, Khotbah Hari Raya di Tarekat ini menggunakan bahasa Arab. Sekretaris Tarekat Naqsabandiyah Kota Padang Edizon Revindo mengatakan, khotbah menggunakan bahasa Arab merupakan aturan ulama-ulama Naqsabandiyah terdahulunya. Khatib membacakan teks khotbah yang sama setiap tahunnya. &#8220;Isi khotbahnya masalah puasa, hakikat tentang puasa, apa yag diinginkan oleh puasa itu. Apa yang harus kita hindari, bisa nggak menyelamatkan kita setahun ke depan. Puasa kan membawa kita ke arah yang lebih baik,&#8221; kata Edizon di Musala Baitul Makmur, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Setiap tahunnya,</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/khotbah-idul-fitri-naqsabandiyah-pakai-bahasa-arab-ini-alasannya/">Khotbah Idul Fitri Naqsabandiyah Pakai Bahasa Arab, Ini Alasannya</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Jemaah Tarekat Naqsabandiyah Sumatra Barat (Sumbar) telah melaksanakan salat Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriah, Senin (3/6/2019). Menariknya, Khotbah Hari Raya di Tarekat ini menggunakan bahasa Arab.</p>
<p>Sekretaris Tarekat Naqsabandiyah Kota Padang Edizon Revindo mengatakan, khotbah menggunakan bahasa Arab merupakan aturan ulama-ulama Naqsabandiyah terdahulunya. Khatib membacakan teks khotbah yang sama setiap tahunnya.</p>
<p>&#8220;Isi khotbahnya masalah puasa, hakikat tentang puasa, apa yag diinginkan oleh puasa itu. Apa yang harus kita hindari, bisa nggak menyelamatkan kita setahun ke depan. Puasa kan membawa kita ke arah yang lebih baik,&#8221; kata Edizon di Musala Baitul Makmur, Kecamatan Pauh, Kota Padang.</p>
<p>Setiap tahunnya, khatib selalu mengingatkan bahwa pasa merupakan sarana latihan. Penerapan apa yang dilatih dilakukan 11 bulan yang akan datang.</p>
<p>&#8220;Khotbah salat Jumat kita juga pakai bahasa Arab. Begitu juga Idul Fitri dan Idul Adha, juga pakai bahasa Arab. Semua beda-beda teksnya, setiap tahun sama. Kita buat satu saja. Setiap tahun itu-itu saja kita pakai,&#8221; katanya.</p>
<p>Senada dengan itu, khatib Idul Fitri Afrizal Tanjung mengatakan, inti dari puasa Ramadan adalah fitrah. Dengan kata lain, setelah satu bulan lamanya melaksanakan puasa, muslim kembali bersih seperti bayi yang tidak berdosa di Idul Fitri.</p>
<p>“Menjaga kebersihan itu selama sebulan kita digembleng, kita pertahankan lah untuk puasa selanjutnya, sebenarnya itulah intinya,&#8221; katanya.</p>
<p>Menurut Afrizal, semua jemaah dapat memahami khotbah yang ia sampaikan. Bagi jemaah yang tidak mengerti bahasa Arab, sudah dijelaskan terlebih dahulu oleh pemimpin jemaah tarekat Naqsyabandiyah yakni, Buya Syafri Malin Mudo sebelum khatib naik mimbar. <strong>(Rahmadi/RC)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/khotbah-idul-fitri-naqsabandiyah-pakai-bahasa-arab-ini-alasannya/">Khotbah Idul Fitri Naqsabandiyah Pakai Bahasa Arab, Ini Alasannya</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">7934</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tradisi Suluk Naqsabandiyah, Membersihkan Diri Menyambut Mati</title>
		<link>https://langgam.id/tradisi-suluk-naqsabandiyah-membersihkan-diri-menyambut-mati/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rahmadi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 May 2019 06:21:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[naqsabandiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[tarekat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=6287</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Bulan suci Ramadan adalah waktu yang dinanti-nanti oleh seluruh umat Islam di dunia. Sebab, semua aktivitas ibadah selain puasa bakal diganjar pahala berlipat ganda oleh Allah SWT dibandingkan bulan-bulan biasa. Ramadan identik dengan bulan perbaikan diri umat muslim untuk menggapai kesucian kelak saat merayakan hari kemenangan Idul Fitri. Salah satu amalan mendekatkan diri kepada Allah SWT adalah dengan tradisi suluk. Aktivitas suluk ini lazim dilakukan jamaah tarekat Naqsabandiyah di Sumatra Barat. Jamaah yang sudah memulai puasa hari ini, Sabtu (4/5/2019) selalu bersuluk selama bulan Ramadan. Pimpinan Tarekat Naqsabandiyah Buya Syafri Malin Mudo mengatakan, suluk adalah kegiatan mengasingkan diri</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/tradisi-suluk-naqsabandiyah-membersihkan-diri-menyambut-mati/">Tradisi Suluk Naqsabandiyah, Membersihkan Diri Menyambut Mati</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id &#8211;</strong> Bulan suci Ramadan adalah waktu yang dinanti-nanti oleh seluruh umat Islam di dunia. Sebab, semua aktivitas ibadah selain puasa bakal diganjar pahala berlipat ganda oleh Allah SWT dibandingkan bulan-bulan biasa.</p>
<p>Ramadan identik dengan bulan perbaikan diri umat muslim untuk menggapai kesucian kelak saat merayakan hari kemenangan Idul Fitri. Salah satu amalan mendekatkan diri kepada Allah SWT adalah dengan tradisi suluk.</p>
<p>Aktivitas suluk ini lazim dilakukan jamaah tarekat Naqsabandiyah di Sumatra Barat. Jamaah yang sudah memulai puasa hari ini, Sabtu (4/5/2019) selalu bersuluk selama bulan Ramadan.</p>
<p>Pimpinan Tarekat Naqsabandiyah Buya Syafri Malin Mudo mengatakan, suluk adalah kegiatan mengasingkan diri dari kegiatan duniawi dengan berzikir di tempat ibadah seperti surau atau masjid.</p>
<p>Jamaah yang bersuluk akan berdiam diri di dalam bilik berukuran 1&#215;2 meter dengan lantai beralaskan kasur. Bilik itu ditutupi kain dan tidak bisa terlihat dari luar.</p>
<p>&#8220;Suluk dilakukan sepuluh hari sebelum memasuki bulan Ramadan,&#8221; kata Pimpinan Tarekat Naqsabandiyah Buya Syafri Malin Mudo, ketika ditemui langgam.id di Musala Baitul Makmur, Pauh, Kota Padang, Jumat (3/5/2019).</p>
<p>Dalam hitungannya, terang Buya Syafri, aktivitas Suluk dilakukan selama 40 hari dan nantinya berakhir tepat saat 1 Syawal atau Idul Fitri. Namun, tidak semua jamaah mengikuti suluk sejak awal. Ada yang bergabung setelah 10 atau 20 hari suluk berjalan.</p>
<p>&#8220;Tujuannya melatih diri, membersihkan diri dan mendekatkan diri kepada Allah. Kita semua calon mati, jadi bersihkan dulu diri sebelum mati,&#8221; kata Buya.</p>
<p>Selama suluk, semua jamaah berzikir. Lalu, salat wajib dan sunat seperti biasa. Semua aktivitas dilakukan di sekitar surau dan tidak pulang sampai suluk selesai.</p>
<p>Selain itu, selama suluk, jamaah Naqsabandiyah dilarang memakan makanan berdarah. Seperti daging, ikan dan sebagainya. Makanan yang boleh dikonsumsi hanya sayuran, nasi dan buah.</p>
<p>Menurut Buya Syafri, pengikut suluk di sana hanya jamaah tarekat Naqsabandiyah. &#8220;Orang biasa tidak bisa. Kalau ingin suluk, harus masuk jadi jamaah tarekat Naqsabandiyah dulu,&#8221; katanya.</p>
<p>Salah seorang jamaah pengikut suluk, Ramani (79) mengatakan dirinya sudah bersuluk sejak Selasa (23/4/2019) lalu. Rencananya, warga Sungai Balang Lubuk Kilangan itu akan mengikuti suluk hingga Idul Fitri.</p>
<p>Selama bersuluk, Ramani tidak pernah pulang ke rumah. Makanan dan kebutuhan sehari-hari hanya diantar oleh anak-anaknya sekali dalam tiga hari. &#8220;Disini, kami salat berjamaah dan berzikir,&#8221; katanya.</p>
<p>Menurut Ramani, dengan berzikir, hatinya menjadi tentram. Dengan suluk, Ramani juga mengaku semakin siap menghadapi kematian. Ia sendiri sudah tiga kali Ramadan bersuluk di musala Baitul Makmur itu.</p>
<p>&#8220;Kita tidak memikirkan dunia lagi, sudah habis. Hanya mengingat bekal yang akan dibawa mati untuk menjawab pertanyaan malaikat di dalam kubur,&#8221; katanya.</p>
<p>Senada dengan itu, jamaah lainnya, Nurjanna (69) warga Baringin Lubuk Kilangan mengatakan, pikiran dan hatinya lebih tenang selama melakukan suluk. Ia juga telah mengikuti suluk selama empat kali Ramadhan.</p>
<p>&#8220;Pikiran jadi tenang, tidak memikirkan dunia lagi. Kita juga tidak takut mati, kalau panggilan datang, saya sudah siap,&#8221; ujarnya. <strong>(Rahmadi/RC)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/tradisi-suluk-naqsabandiyah-membersihkan-diri-menyambut-mati/">Tradisi Suluk Naqsabandiyah, Membersihkan Diri Menyambut Mati</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">6287</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Besok, Jamaah Tarekat Naqsabandiyah Mulai Berpuasa</title>
		<link>https://langgam.id/besok-jamaah-tarekat-naqsabandiyah-mulai-berpuasa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rahmadi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 May 2019 15:06:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[naqsabandiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[tarekat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=6257</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Jamaah Naqsabandiah di Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar) melaksanakan salat tarawih, Jumat malam (3/5/2019). Pengikut tarekat ini mulai berpuasa Ramadan 1440 hijriah pada Sabtu (4/5/2019). Seperti biasa, jamaah Naqsabandiyah selalu berpuasa dan lebaran lebih awal dari pemerintah maupun dari penetapan Ramadan yang dilakukan sejumlah ormas Islam di Indonesia. Dari informasi yang diterima langgam.id, penentuan awal masuknya bulan ramadan Naqsabandiyah menggunakan metode hisab munjid. Dengan kata lain, tidak menggunakan motode rukyat alias melihat bulan dengan cara meneropong seperti yang dilakukan pemerintah dalam menentukan masuknya 1 ramadan. Metode hisab munjid ini berlandaskan kitab munjid yang telah dipercayai sejak turun-temurun oleh</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/besok-jamaah-tarekat-naqsabandiyah-mulai-berpuasa/">Besok, Jamaah Tarekat Naqsabandiyah Mulai Berpuasa</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<hr />
<p>Langgam.id<strong> &#8211;</strong> Jamaah Naqsabandiah di Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar) melaksanakan salat tarawih, Jumat malam (3/5/2019). Pengikut tarekat ini mulai berpuasa Ramadan 1440 hijriah pada Sabtu (4/5/2019).</p>
<p>Seperti biasa, jamaah Naqsabandiyah selalu berpuasa dan lebaran lebih awal dari pemerintah maupun dari penetapan Ramadan yang dilakukan sejumlah ormas Islam di Indonesia.</p>
<p>Dari informasi yang diterima langgam.id, penentuan awal masuknya bulan ramadan Naqsabandiyah menggunakan metode hisab munjid. Dengan kata lain, tidak menggunakan motode rukyat alias melihat bulan dengan cara meneropong seperti yang dilakukan pemerintah dalam menentukan masuknya 1 ramadan.</p>
<p>Metode hisab munjid ini berlandaskan kitab munjid yang telah dipercayai sejak turun-temurun oleh jamaah Naqsabandiyah.</p>
<p>Pimpinan Tarekat Naqsabandiyah Padang Buya Syafri Malin Mudo mengatakan, penghitungan setiap bulan hijriah ada 29 hari dan 30 hari. Setiap tahun, jumlah itu selalu berselang-seling. Menurut penghitungan Naqsabandiyah, ramadan 1440 hijriah penuh 30 hari.</p>
<p>Dalam menentukan awal ramadan, lanjut Buya Syafri Malin Mudo, Naqsabandiyah juga memiliki tim sendiri yang telah berunding sejak bulan Rajab.</p>
<p>&#8220;Ada jamaah kami di Yogyakarta, kami tanya bagaimana keadaan bulan di sana. Ada juga di sini (Padang) dan di Dharmasraya, kami tanyakan juga keadaan bulan. Setelah itu kami rundingkan,&#8221; kata Buya Syafri, Jumat (3/5/2019).</p>
<p>Metode penentuan awal ramadan ala Naqsabandiyah ini juga pernah diperlombakan di Kota Mekah pada tahun 1911 lalu oleh guru Naqsabandiyah yaitu Haji Rasul (Ayah Hamka). Lalu Haji Munir, Labai Zainuddin, Inyiak Djambek.</p>
<p>Metode hisab Naqsabandiyah keluar sebagai pemenang dalam lomba tersebut. Setelah itu, diakuilah oleh Raja Husain yang memimpin kala itu sebagai metode melihat awal ramadan. &#8220;Ilmu tentang penghitungan ini kami ambil dari mereka. Jadi karena itulah masih kami pegang sampai hari ini,&#8221; kata Buya Syafri.</p>
<p>Pihak Kementerian Agama (Kemenag) juga pernah tiga kali mengundang Buya Syafri ke Jakarta untuk berunding soal penentuan ramadan. Di sana, Buya meyaksikan metode rukyat melihat bulan melalui teropong. Saat itu dia melihat bulan, namun orang-orang belum juga berpuasa.</p>
<p>&#8220;Metode pakai teropong saya akui. Tapi mengapa mereka waktu itu tidak berpuasa padahal sudah melihat bulan. Kalau saya waktu itu sudah berpuasa,&#8221; katanya.</p>
<p>Kendati demikian, Buya mengaku tidak menyalahkan hal tersebut. Menurutnya, pemerintah juga memiliki perhitungan sendiri menentukan awal bulan ramadan. Apalagi dalam Islam, setiap perbedaan harus disikapi dengan saling menghormati.</p>
<p>Di sisi lain, Kementerian Agama baru akan menggelar sidang isbat (penetapan) awal ramadan 1440 hijriah pada 5 Mei 2019. Sidang itu direncanakan berlangsung di Auditorium HM Rasjidi Kantor Kemenag, Jakarta. <strong>(Rahmadi/RC)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/besok-jamaah-tarekat-naqsabandiyah-mulai-berpuasa/">Besok, Jamaah Tarekat Naqsabandiyah Mulai Berpuasa</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">6257</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 25/58 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-06-21 16:03:14 by W3 Total Cache
-->