<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita seniman minang Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/seniman-minang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/seniman-minang/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Oct 2023 04:32:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita seniman minang Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/seniman-minang/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>60 Perupa dari 5 Negara Bakal Pameran di Padang</title>
		<link>https://langgam.id/60-perupa-dari-5-negara-bakal-pameran-di-padang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Oct 2023 02:23:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Padang]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[seniman minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=190780</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Sebanyak 60 orang perupa dari lima negara mengikuti kegiatan pemeran seni rupa yang diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya Sumatera Barat bersama Departemen Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (UNP), Kamis (26/10/2023) lalu. Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat Syaifullah mengatakan penyelenggaraan pameran seni rupa ini dalam rangka ulang tahun Departemen Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang ke-60, yang mulai dibuka pada tahun 1963. &#8220;Kita sangat menghargai Pameran Internasional Departemen Sini Rupa FBS UNP ini,&#8221; kata Syaifullah, dilansir pada Sabtu (28/10/2023). Menurutnya Pameran Seni Rupa ini sekaligus momentum kebangkitan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/60-perupa-dari-5-negara-bakal-pameran-di-padang/">60 Perupa dari 5 Negara Bakal Pameran di Padang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Sebanyak 60 orang perupa dari lima negara mengikuti kegiatan pemeran seni rupa yang diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya Sumatera Barat bersama Departemen Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (UNP), Kamis (26/10/2023) lalu.</p>



<p>Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat Syaifullah mengatakan penyelenggaraan pameran seni rupa ini dalam rangka ulang tahun Departemen Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang ke-60, yang mulai dibuka pada tahun 1963.</p>



<p>&#8220;Kita sangat menghargai Pameran Internasional Departemen Sini Rupa FBS UNP ini,&#8221; kata Syaifullah, dilansir pada Sabtu (28/10/2023).</p>



<p>Menurutnya Pameran Seni Rupa ini sekaligus momentum kebangkitan seni rupa dan desain sebagai suatu kebudayaan di Sumatera Barat, serta sebagai salah satu bentuk kemajuan kebudayaan.</p>



<p>Ia menjelaskan, dalam perspektif kebudayaan, seni seperti seni rupa, seni kriya, dan desain yang dihasilkan seniman selalu didorong untuk melihat kesenian dengan unsur-unsur budaya yang tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang saja.</p>



<p>&#8220;Ketika kita memilih kebudayaan sebagai suatu konsep, artinya kebudayaan bersifat fungsional dan berbeda dari suatu tempat dengan tempat lainnya,&#8221; terangnya.</p>



<p>Ia menambahkan, penciptaan seni rupa dan desain tidak hanya dilakukan di studio-studio atau sanggar- sanggar yang bersifat individual, tetapi telah masuk ke wilayah yang lebih luas yang membuka ruang untuk berinteraksi, berkolaborasi, dan memahami masyarakat.</p>



<p>&#8220;Dari aspek penciptaan karya, seniman lebih dari sekedar mengandalkan intuisi, emosi, kepekaan rasa, dan keahlian,&#8221; ucapnya.</p>



<p>Pada kesempatan ini Kadis juga mengucapkan selamat berpameran dan selamat ulang tahun ke-60 untuk Departemen Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang semoga selalu jaya serta menjadi institusi yang selalu eksis di bidang seni.</p>



<p>Sementara petua pelaksana kegiatan Hendra Afriwan mengatakan, pameran berskala internasional itu juga disertai dengan konferensi yang berlabel International Conference of Arts Education and Design” (ICONADD 3.0) mengangkat tema besar “Mutuality”.</p>



<p>Hendra menjelaskan, untuk keynote speaker kegiatan konferensi berasal dari negara Malaysia, Singapura, jerman, serta dua orang berasal dari Indonesia.</p>



<p>Untuk pameran sendiri kata Hendra, diikuti oleh tujuh peserta luar negeri yakni dari India, Perancis, Finlandia, Ceko, serta 60 peserta Indonesia yang berasal dari berbagai propinsi baik dosen, mahasiswa, alumni maupun para perupa dan desainer komunikasi visual yang menampilkan beragam jenis, bentuk, gaya serta konsep berkarya.</p>



<p>&#8220;Melalui kegiatan ini diharapkan mampu menghadapi tantangan dan menciptakan peluang agar tetap eksis dan lebih baik ke depannya,&#8221; pungkas Hendra. (*/Yh)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/60-perupa-dari-5-negara-bakal-pameran-di-padang/">60 Perupa dari 5 Negara Bakal Pameran di Padang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">190780</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ranahisasi Kesenian Minang</title>
		<link>https://langgam.id/ranahisasi-kesenian-minang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Donny Syofyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2023 05:22:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Alam Pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[seniman minang]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=178582</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aktivitas berkesenian tidak pernah lesu di ranah Minang. Lewat kemajuan teknologi internet dan digital, produktivitas aktivias seni maunpun antusiasme publik Minang terhadap kesenian dan praktisi seni Minang—musik, tari bahkan film—yang berasal di ranah Minang memperlihatkan gelagat yang positif. Ratu Sikumbang, Ipank, Rayola, Fauzana dan Buset (penyanyi), Ery Mefri (pemimpin dan koreografer Nan Jombang Dance Company), Teguh Prasetyo, lebih dikenal dengan Praz Teguh, dan Rin Hermana (komedian) adalah sejumlah nama yang mewakili talenta-talenta kesenian Minang kontemporer yang bukan hanya berprestasi tapi juga berhasil mencuri perhatian publik secara luar biasa. Geliat ini sesungguhnya mewartakan apa yang dinamakan sebagai ranahisasi kesenian; terbitnya aktivitas</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ranahisasi-kesenian-minang/">Ranahisasi Kesenian Minang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Aktivitas berkesenian tidak pernah lesu di ranah Minang. Lewat kemajuan teknologi internet dan digital, produktivitas aktivias seni maunpun antusiasme publik Minang terhadap kesenian dan praktisi seni Minang—musik, tari bahkan film—yang berasal di ranah Minang memperlihatkan gelagat yang positif. </p>



<p>Ratu Sikumbang, Ipank, Rayola, Fauzana dan Buset (penyanyi), Ery Mefri (pemimpin dan koreografer Nan Jombang Dance Company), Teguh Prasetyo, lebih dikenal dengan Praz Teguh, dan Rin Hermana (komedian) adalah sejumlah nama yang mewakili talenta-talenta kesenian Minang kontemporer yang bukan hanya berprestasi tapi juga berhasil mencuri perhatian publik secara luar biasa.</p>



<p>Geliat ini sesungguhnya mewartakan apa yang dinamakan sebagai ranahisasi kesenian; terbitnya aktivitas dan produktivitas kegiatan berkesenian dari ranah Minang sendiri alih-alih dari rantau. Sungguhpun pelbagai aktivitas seni tidak pernah menunjukkan kevakuman di ranah Minang, namun sulit dipungkiri bahwa gaungnya amat terbatas di ‘kandang’ sendiri, <em>dari awak untuak awak</em>, belum secara merata berdampak di tingkat nasional. </p>



<p>Kalaupun dikenal di Tanah Air, masyarakat lebih mengenal kiprah kesenian artis-artis di tingkat nasional yang kebetulan berdarah Minang. Sayangnya aroma seni Minangnya tidak kelewat semerbak karena banyak yang tidak bisa berbahasa Minang, mengenal budaya Minang dan memilih berkiprah di dunia hiburan di Ibu Kota, semisal musik pop dan sinetron.</p>



<p>Titik balik dunia berkesenian di ranah Minang ini bukanlah realitas yang terjadi secara tiba-tiba. Setidaknya, ia berkelindan dengan dengan dua faktor utama. Pertama, menguatnya kreativitas para pelaku kesenian di ranah Minang. </p>



<p>Untuk produktivitas artis dan pencipta lagu Minang, misalnya, jangan ditanya. Baik yang senior maupun pendatang baru seolah-olah kompak untuk tidak berhenti menyemarakkan dunia kesenian di Sumatera Barat. Hanya saja produktivitas ini tidak selalu beriring jalan dengan kreativitas.</p>



<p>Kesenian Minang atau aktivitas seni orang-orang Minang di ranah belakangan mulai serius menggarap kreativitas. Ini tidak terlepas dari dari kontribusi anak-anak muda yang ingin menghasilkan sesuatu yang baru dan beda.</p>



<p>Kemunculan Praz Teguh sebagai komedian pendatang di tingkat nasional dan Ipank, Fauzana, atau Arief sebagai artis Minang yang memiliki penggemar bukan saja di ranah Minang tapi juga di rantau, bukan saja orang Minang tapi juga mereka yang berbilang suku di Tanah Air, meneguhkan keyakinan bahwa anak muda adalah ‘makhluk’ yang kreatif dan inspiratif.  </p>



<p>Bila Praz Teguh mengilhami banyak orang bahwa orang daerah bisa sukses di Jakarta sepanjang memiliki kepercayaan diri dan kebanggaan dengan identitas lokal, Ipank Fauzana, atau Arief dan lain-lain mengajarkan kita bahwa kesuksesan bermusik Minang juga terbuhul dengan kemampuan menggarap mozaik kekayaan Minang dalam seni musik—adat, musyawarah, dan perkawinan dalam adat—tidak melulu mendendangkan asmara muda-mudi.</p>



<p>Kreativitas juga bermakna kemampuan mengontekstualisaikan dan memutakhirkan mozaik dan khazanah budaya.Meskipun sudah tak muda lagi, tak sedikit praktisi seni senior tetap eksis lantaran berjiwa muda. Ery Mefri—pendiri, pemimpin dan koreografer Nan Jombang Dance Company—adalah seorang koreografer yang melahirkan karya- karya kontemporer, acuan atau pijakan tetap tidak terlepas dari adat dan budaya Minangkabau. </p>



<p>Bagi Ery Mefri, yang telah menghasilkan 50 karya dan menjelajahi empat benua memenuhi undangan banyak pihak, kreativitas berkesenian adalah menciptakan keseimbangan yang indah antara seni tradisi dan seni kontemporer.</p>



<p>Kedua, kecakapan memanfaatkan teknologi internet dan digital. Anak-anak muda Minang yang menghiasi dunia kesenian hari ini di ranah Minang sangat piawai memanfaatkan teknologi internet, semisal media sosial dan Youtube. </p>



<p>Popularitas Praz Teguh tak bisa dilepaskan oleh postingan video Youtubenya lewat slogan ‘Minangkan Indonesia’, di antaranya <em>Pacah Paruik</em>. Lagu Ipank feat Rayola berjudul “<em>Rantau Den Pajauah</em>” menjadi salah satu lagu daerah yang paling banyak ditonton di Youtube di Tanah Air, mencapai angka puluhan juta. Angka ini diprediksi terus meningkat mengingat peminatnya bukan saja orang Minang tapi juga suku lain di Tanah Air.  </p>



<p>Ketenaran Ratu Sikumbang dan produktivitas Ajo Buset yang sudah menelorkan puluhan album juga dipengaruhi oleh konsistensi mereka menggunakan media sosial dan internet dalam menjaga eksistensi mereka. Begitu juga duet Fauzana dan Frans dengan tembangnya <em>Panek Diawak Kayo Diurang</em> yang sudah ditonton lebih 100 juta kali.</p>



<p>Dalam banyak hal, kemelekan artis-artis Minang memanfaatkan perkembangan teknologi internet, digital dan informasi tersebut mengantarkan mereka untuk berjiwa kompetitif, bukan sekadar jago kandang.</p>



<p>Prestasi Praz Teguh dan Rin Hermana dalam kompetisi pencarian bakat komedi lewat <em>Stand-Up Comedy</em> di Ibu Kota, penampilan Nan Jombang Dance Company di manca negara, hingga penghargaan dunia perfilman nasional terhadap film-film besutan sineas muda ranah Minang menunjukkan kepercayaan diri dan keyakinan seniman ranah Minang bahwa kompetisi dan kolaborasi menjadi niscaya demi eksistensi, reputasi dan popularitas.</p>



<p>Semarak kesenian yang berbasiskan ranah ini mewujud sebagai antitesis bahwa untuk sukses menjadi artis, selebriti atau bintang harus hijrah ke atau dimulai di Jakarta. Ranah merupakan tempat tumbuh kembangnya talenta-talenta paten berkesenian yang menyuguhkan pesona ganda: ranah atau rantau.</p>



<p>Buset, Ipank, Rayola, Fauzana, Praz Teguh, Ery Mefri dan lain-lain adalah seniman atau artis Minang, berdomisili dan memulai debutnya di ranah dengan kredibiltas dan popularitas yang diakui di ranah dan di rantau. </p>



<p>Sementara Ratu Sikumbang, kendatipun hidup di rantau, perlu ‘pulang kampuang’ ke ranah Minang untuk ‘hidup’ menyapa penggemarnya. Dalam konteks dunia kesenian Minang mutakhir ini, relasi antara ranah dan rantau bersifat saling mengisi. Pameo bahwa orang harus merantau dulu untuk hidup agaknya tidak serta merta relevan dicermati dari perkembangan dunia kesenian di Sumatera Barat dewasa ini.</p>



<p>Dalam konteks yang lebih luas, geliat kesenian di kampung halaman ini mendorong perlunya keinsafan besar pentingnya sinergisitas; bahwa tak ada perbedaan atau pembedaan yang juga tidak hierarkis antara rantau dengan darat, adat dengan Islam, anak dengan kemenakan. bahkan modernitas dengan tradisi. <em>Wallâhu a`lam</em>.</p>



<p><strong>*Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ranahisasi-kesenian-minang/">Ranahisasi Kesenian Minang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">178582</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Gubernur : Kemah Seniman Sumbar, Obat Kerinduan untuk Silaturahmi dan Berkarya</title>
		<link>https://langgam.id/gubernur-kemah-seniman-sumbar-obat-kerinduan-untuk-silaturahmi-dan-berkarya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Nov 2021 05:49:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Kemah Seniman]]></category>
		<category><![CDATA[Mahyeldi Ansharullah]]></category>
		<category><![CDATA[seniman minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=137955</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi mengatakan Kemah Seniman adalah pengobat kerinduan bagi para seniman karena saat pandemi banyak batasan sehingga tidak leluasa melaksanakan kegiatan. &#8220;Kemah Seniman ini semoga jadi jawaban dan pengobat kerinduan, membangun silaturahim dan kerjasama antara semua seniman di Sumbar,&#8221; katanya saat membuka Kemah Seniman di Payakumbuh, Kamis malam (11/11/2021). Gubernur mengatakan pada masa pandemi ini, seluruh komponen harus bersinergi untuk bisa membangun sesuatu karena banyaknya keterbatasan. Seniman diharapkan juga bisa bersinergi berkolaborasi untuk menciptakan karya-karya yang luar biasa. Selain itu Kemah Seniman juga diharapkan menjadi ajang menampung aspirasi dan menghadirkan inovasi karya masa depan untuk pengembangan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/gubernur-kemah-seniman-sumbar-obat-kerinduan-untuk-silaturahmi-dan-berkarya/">Gubernur : Kemah Seniman Sumbar, Obat Kerinduan untuk Silaturahmi dan Berkarya</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="kvgmc6g5 cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q">
<div dir="auto"><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi mengatakan Kemah Seniman adalah pengobat kerinduan bagi para seniman karena saat pandemi banyak batasan sehingga tidak leluasa melaksanakan kegiatan.</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q">
<div dir="auto">&#8220;Kemah Seniman ini semoga jadi jawaban dan pengobat kerinduan, membangun silaturahim dan kerjasama antara semua seniman di Sumbar,&#8221; katanya saat membuka Kemah Seniman di Payakumbuh, Kamis malam (11/11/2021).</div>
</div>
<div class="o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q">
<div dir="auto"></div>
<div dir="auto">Gubernur mengatakan pada masa pandemi ini, seluruh komponen harus bersinergi untuk bisa membangun sesuatu karena banyaknya keterbatasan. Seniman diharapkan juga bisa bersinergi berkolaborasi untuk menciptakan karya-karya yang luar biasa.</div>
</div>
<div class="o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q">
<div dir="auto"></div>
<div dir="auto">Selain itu Kemah Seniman juga diharapkan menjadi ajang menampung aspirasi dan menghadirkan inovasi karya masa depan untuk pengembangan Seni di Ranah Minang sehingga mampu bersaing di tengah revoluasi industri demi kemajuan Sumbar.</div>
</div>
<div class="o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q">
<div dir="auto"></div>
<div dir="auto">&#8220;Ini adalah waktu untuk melindungi, memanfaatkan dan mewariskan kebudayaan pada generasi selanjutnya,&#8221; katanya.</div>
</div>
<div class="o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q">
<div dir="auto"></div>
<div dir="auto">Ketua DPRD Sumbar Supardi mengatakan dalam kegiatan itu berkolaborasi enam kurator dari berbagai bidang seperti teater, tari, musik, sastra sehingga menjadi sebuah pertemuan yang berbeda dengan kegiatan sebelumnya.</div>
</div>
<div class="o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q">
<div dir="auto"></div>
<div dir="auto">Ia mengatakan Kemah Seniman Sumbar sudah vakum sejak 2004. Tahun ini dilaksanakan kembali dan diharapkan bisa menjadi agenda rutin bahkan jika bisa dikembangkan jadi Kemah Seniman Nusantara.</div>
</div>
<div class="o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q">
<div dir="auto"></div>
<div dir="auto">Kadis Kebudayaan Sumbat Gemala Ranti berharap ke depan akan terbentuk iklim kolaborasi antara seminan di Sumbar sehingga menjadi lebih kaya.</div>
<div dir="auto"></div>
<div dir="auto">Wali Kota Payakumbuh Riza Falepi berharap Kemah Seniman bisa memperkuat kebudayaan karena budaya adalah hal yang patut untuk dipertahankan, dikembangkan dan diwariskan pada generasi muda.</div>
<div dir="auto">&#8220;Karena itu Pemkot Payakumbuh sedang memikirkan membuat tempat literasi budaya Minang agar bisa dipelajari banyak pihak,&#8221; pungkasnya, sebagaimana dilansir dari saluran resmi <em>ADPIM Sumbar.</em></div>
</div>
<div class="o9v6fnle cxmmr5t8 oygrvhab hcukyx3x c1et5uql ii04i59q"></div>
<p>The post <a href="https://langgam.id/gubernur-kemah-seniman-sumbar-obat-kerinduan-untuk-silaturahmi-dan-berkarya/">Gubernur : Kemah Seniman Sumbar, Obat Kerinduan untuk Silaturahmi dan Berkarya</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">137955</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Seniman Nasional &#8216;Urang Awak&#8217; Bicara Pameran Besar Seni Rupa di Sumbar</title>
		<link>https://langgam.id/seniman-nasional-urang-awak-bicara-pameran-besar-seni-rupa-di-sumbar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Nov 2021 02:21:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[seniman minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=137013</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Pelukis kaligrafi Islam, sang maestro Syaiful Adnan (64 th) dan sejumlah perupa lain dari Yogyakarta menyambut gembira dan merasa bersyukur karena mendapat undangan khusus untuk mengikuti pameran besar seni rupa yang difasilitasi Pemprov dan DPRD Sumbar melalui Dinas Kebudayaan UPTD Taman Budaya yang tahun ini digelar di Agam Jua Art Culture Payakumbuh sejak 8-13 November 2021 mendatang. Rasa syukur dan gembira itu ditandai dengan keikutsertaan teman-teman perupa &#8220;urang awak&#8221; yang berada di Yogyakarta untuk mengirim langsung karya-karya yang dibutuhkan sesuai tema pameran &#8220;Minangkabau Kini&#8221; kepada panitia pameran di Agam Jua Art Culture Payakumbuh, Sumatera Barat, ujar Syaiful Adnan,</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/seniman-nasional-urang-awak-bicara-pameran-besar-seni-rupa-di-sumbar/">Seniman Nasional &#8216;Urang Awak&#8217; Bicara Pameran Besar Seni Rupa di Sumbar</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Pelukis kaligrafi Islam, sang maestro Syaiful Adnan (64 th) dan sejumlah perupa lain dari Yogyakarta menyambut gembira dan merasa bersyukur karena mendapat undangan khusus untuk mengikuti pameran besar seni rupa yang difasilitasi Pemprov dan DPRD Sumbar melalui Dinas Kebudayaan UPTD Taman Budaya yang tahun ini digelar di Agam Jua Art Culture Payakumbuh sejak 8-13 November 2021 mendatang.</p>
<p>Rasa syukur dan gembira itu ditandai dengan keikutsertaan teman-teman perupa &#8220;urang awak&#8221; yang berada di Yogyakarta untuk mengirim langsung karya-karya yang dibutuhkan sesuai tema pameran &#8220;Minangkabau Kini&#8221; kepada panitia pameran di Agam Jua Art Culture Payakumbuh, Sumatera Barat, ujar Syaiful Adnan, Jumat (5/11/2021).</p>
<p>Menurut Syaiful yang kini bermukim di Gamping Kidul RT 02/RW19 Ambar Ketawang, Yogyakarta itu, menyebutkan, suatu kehormatan bagi kami urang awak di perantauan memperoleh undangan khusus untuk ikut berpartisipasi dalam pameran besar ini. Bagaimana pun suksesnya seniman di perantauan, tidak akan bisa terlepas dari kampung halaman tempat seniman itu lahir dan besar.</p>
<p>Ini kesempatan terbaik bagi para perupa yang berada di perantauan untuk membangun kampung halaman dalam menunjang pembangunan sektor kebudayaan dan banyak sektor pembangunan lain yang turut mempengaruhinya, ujar Syaiful Adnan lagi.</p>
<p>Sementara Yusman (56 th) pematung yang kini bermukim dan berkarya di Tegal Senggotan, RT 02 / RW 11 No. 53 Tirtonirmolo, Kasihan Bantul, Yogyakarta, Senin (1/11/21) menyebutkan, keikutsertaanya dalam pameran seni rupa yang baru pertama kali digelar di kota Payakumbuh tersebut merupakan suatu bentuk apresiasi pemerintah Sumatera Barat baik dari eksekutif maupun legislatif untuk para seniman &#8220;urang awak&#8221; yang berada dan bermukim di perantauan.</p>
<p>Karena dengan adanya kolaborasi karya seniman urang awak di perantauan dengan yang ada di Sumatera Barat dalam suatu acara pameran bersama, maka paling tidak dapat menjadi barometer karya antara &#8220;urang awak ranah Minang jo urang awak yang berada di perantauan&#8221; yang dapat dilihat dalam banyak perspektif, bisa dilihat aspek kebudayaan yang dapat memperkuat banyak sektor lainnya, apalagi sektor pariwisata dan sektor-sektor lainnya, ujar Yusman yang siap pulang saat pameran berlangsung.</p>
<p>Di tempat berbeda, pematung Yulhendri (57 th) yang telah puluhan tahun bermukim dan berkarya di studio patung miliknya, Nyemengan RT 04, Jalan Mrisi Tirtonirmolo Kasihan Bantul, Yogyakarta di sela-sela kesibukannya sebagai pematung dan mengerjakan sejumlah pesanan karya patung serta sejumlah karya monumental, masih menyempatkan diri membuat karya idealismenya yang berangkat dan bertolak dari pengalaman bathinnya sebagai pematung selama ini.</p>
<p>Saat diberitahu kegiatan pameran besar di Sumatra Barat, dirinya sangat antusias untuk bisa ambil bagian. Yulhendri yang di era tahun 2000 an produksi patung Indian yang dikerjakannya sempat melambungkan namanya di banyak negara Eropa dan Asia.</p>
<p>Selain Syaiful Adnan, Yusman dan Yulhendri dari ada nama Bazrisal Albara, Ali Umar dari Yogyakarta ada nama muda milenial Alif Lamra, Iin Risdawati dan Melta Desyka.</p>
<p>Kemudian, dari Bandung terdapat nama perupa Ricon Ibdar, Kimat dan Suciati. Dari Pekanbaru ada nama Herisman Is, Yunizah dari Bengkulu dan beberapa daerah lain yang turut mewarnai kegiatan pameran yang bertajuk &#8220;Minangkabau Kini&#8221;.</p>
<p>Dari tuan rumah sendiri ada nama perupa Amir Syarif, Ardim, Firman Ismail, Rizal MS, Hendra Buana, Hendra Sardi, Ismet Sajo, Maryeni, Widdi Yanti, Hidayat Di Kincie dan lainnya dan dua peserta kehormat C, Israr (1922-2006) dan Amir Syarif (82 th).</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/seniman-nasional-urang-awak-bicara-pameran-besar-seni-rupa-di-sumbar/">Seniman Nasional &#8216;Urang Awak&#8217; Bicara Pameran Besar Seni Rupa di Sumbar</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">137013</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mural di Padang Gambarkan Kegelisahan Seniman Hadapi Covid-19</title>
		<link>https://langgam.id/mural-di-padang-gambarkan-kegelisahan-seniman-hadapi-covid-19/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2020 16:23:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Padang]]></category>
		<category><![CDATA[seniman minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=67830</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Pandemi covid-19 yang tak kunjung berakhir membuat seniman mural di Padang terpancing. Mereka mengekspresikan kegelisahan lewat gambar dan tulisan di dinding jalanan kota Padang. Mural buatan seniman itu kini tambil di dinding bangunan di Jalan Merpati, Nanggalo, Padang. Mural tersebut merukan hasil polesan tangan sembilan seniman. &#8220;Ada sembilan seniman yang berpartisipasi dalam kegiatan ini, mereka mengekspresikan diri lewat karya-karya mural atau grafiti,&#8221; kata salah satu seniman mural Teguh Eko Saputra, Senin (5/9/2020). Pengerjaan mural itu sudah dimulai sejak Sabtu (3/10). Karya itu pun selesai pada Senin (5/10) sekitar pukul 18.00 WIB. Teguh mengatakan, setiap seniman bebas memilih karya</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mural-di-padang-gambarkan-kegelisahan-seniman-hadapi-covid-19/">Mural di Padang Gambarkan Kegelisahan Seniman Hadapi Covid-19</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id &#8211;</strong> Pandemi covid-19 yang tak kunjung berakhir membuat seniman mural di <a href="https://www.padang.go.id/">Padang</a> terpancing. Mereka mengekspresikan kegelisahan lewat gambar dan tulisan di dinding jalanan kota Padang.</p>
<p>Mural buatan seniman itu kini tambil di dinding bangunan di Jalan Merpati, Nanggalo, Padang. Mural tersebut merukan hasil polesan tangan sembilan seniman.</p>
<p>&#8220;Ada sembilan seniman yang berpartisipasi dalam kegiatan ini, mereka mengekspresikan diri lewat karya-karya mural atau grafiti,&#8221; kata salah satu seniman mural Teguh Eko Saputra, Senin (5/9/2020).</p>
<p>Pengerjaan mural itu sudah dimulai sejak Sabtu (3/10). Karya itu pun selesai pada Senin (5/10) sekitar pukul 18.00 WIB.</p>
<p>Teguh mengatakan, setiap seniman bebas memilih karya yang berkaitan dengan covid-19. Gambar dan tulisan sembilan seniman itu dibuat di sisi dinding yang sama sehingga menjadi satu kesatuan.</p>
<p>Sejumlah gambar yang dihasilkan yakni berupa manusia, masker, gerobak, dan lain-lain dengan warna yang berbeda-beda. Gabungan karya itu diartikan sebagai gambaran covid-19 yang mempengaruhi pola sosial hingga kondisi ekonomi.</p>
<p>&#8220;Mulai dari PSBB dan hal lainnya tentu berpengaruh ke aktivitas, pola pikir, serta ide karya, ini yang coba diekspresikan,&#8221; ucapnya. <strong>(Ldi/ABW)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mural-di-padang-gambarkan-kegelisahan-seniman-hadapi-covid-19/">Mural di Padang Gambarkan Kegelisahan Seniman Hadapi Covid-19</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">67830</post-id>	</item>
		<item>
		<title>In Memoriam Nazif Basir (1)</title>
		<link>https://langgam.id/in-memoriam-nazif-basir-1/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Esha Tegar Putra]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 May 2020 23:17:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[budaya minang]]></category>
		<category><![CDATA[seniman minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=38711</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Samar-samar, jika kita memerhatikan sampul piringan hitam dan kaset pita lagu-lagu Minang periode 70-90an, maka sesekali akan muncul nama Nazif Basir. Ia memang kerap bersanding, atau namanya dibuat garis miring, dengan musisi dan pencipta lagu Nuskan Syarif atau Zaenal Combo. Biasanya Nazif berlaku sebagai penulis lirik dan musisi seperti Zaenal dan Nuskan sebagai penggubah irama. Tapi pada beberapa kaset musik instrumen atau paduan lagu yang disusun seperti opera (bercerita), maka Nazif muncul tunggal sebagai penulis naskah. Salah satunya kita dapat melihat pada keset pita cukup populer dan kerap diputar untuk mengiringi jalannya peristiwa baralek: Baralek Gadang (P’Rindu Record,</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/in-memoriam-nazif-basir-1/">In Memoriam Nazif Basir (1)</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Samar-samar, jika kita memerhatikan sampul piringan hitam dan kaset pita lagu-lagu Minang periode 70-90an, maka sesekali akan muncul nama Nazif Basir. Ia memang kerap bersanding, atau namanya dibuat garis miring, dengan musisi dan pencipta lagu Nuskan Syarif atau Zaenal Combo.</p>
<p>Biasanya Nazif berlaku sebagai penulis lirik dan musisi seperti Zaenal dan Nuskan sebagai penggubah irama. Tapi pada beberapa kaset musik instrumen atau paduan lagu yang disusun seperti opera (bercerita), maka Nazif muncul tunggal sebagai penulis naskah. Salah satunya kita dapat melihat pada keset pita cukup populer dan kerap diputar untuk mengiringi jalannya peristiwa <em>baralek</em>: Baralek Gadang (P’Rindu Record, NAC 770).</p>
<p>Pada kaset ini, Nazif menyusuan dengan saksama naskah musik pengiring suasana penjemputan marapulai oleh keluarga <em>anak daro</em> (mempelai wanita) dan suasana penjemputan marapulai di rumah keluarga <em>anak daro</em> (oleh keluarga marapulai), serta beragam susunan musik acara hiburan.</p>
<p>Pada kaset ini pula Nazif berkolaborasi untuk menyusun satu peristiwa baralek dalam musik diiringi musisi populer Minang, selain istrinya Elly Kasim: Band 4 Sapilin (Asbon, Yusaf Rachman, Suryaman, Aswin Hamir), Rustam Raschany, Elsa Mardian, Lenny Bahar, Fadian, Fachri, dll.</p>
<p>Penulisan naskah memang adalah bagian dari perjalanan hidup Nazif. Kelak, ia dikenal sebagai salah seorang kreator terbaik dalam dunia entertain yang berhubungan dengan tradisi Minang—salah satunya sebagaimana diingat pada pembukaan MTQ 1983, Nazif juga adalah orang belakang panggung atas kesuksesan acara tersebut. Tapi penulisan naskah, khususnya dunia teater, adalah pendidikan pokoknya.</p>
<p>Kedekatan Nazif dengan penulisan naskah dan teater sudah dimulai sebalum ia melanjutkan SMP di Bukittinggi dan SMA Budaya Yogyakarta (masuk tahun 1951 dan selesai 1954). Ia kerap menonton pertunjukan sandiwara (tonil) di kampungnya, Balingka, Agam, setiap Hari Raya Idul Fitri.</p>
<p>Pertunjukan tersebut, kata Nazif dalam sebuah catatan, dengan mengosongkan sekolah dan menyusun bangku-bangku rata sebagai pentas, kemudian dilengkapi dengan layar untuk membuka tutup panggung, para penonton berjejer duduk dikursi dalam ruang-ruang kelas yang lain yang telah dibuka dinding-dinding penyekatnya.</p>
<p>Pertunjukan tersebut biasa dipimpin oleh kakak beradik Rasyidin Rasyid dan Anis Rasyid yang pernah menempuh pendidikan jaman Jepang di INS Kayu Tanam di bawah pimpinan Engku Syafei. Pertunjukan Tonil di Balingka itu dilakukan dengan mempergunakan naskah yang ditulis dalam Bahasa Indonesia. Nazif sendiri ketika itu sudah ikut dibawa main untuk peran-peran pembantu.</p>
<p>Nazif mengenang, periode ini pertunjukan-pertunjukkan <em>randai</em> juga  sangat populer serta sering diadakan dihalaman-halaman rumah di kampung-kampung. Di Bukittinggi dikenal nama-nama Rasyid Manggis dan DT. Nurdin Ya’kub yang pernah menyutradarai pertunjukan-pertunjukan sandiwara.</p>
<p>Kemudian terdapat pula Kelompok SEMI (Seniman Muda Indonesia) dibawah pimpinan Zetka dan A.A. Navis pernah mempegelarkan Drama Modern “Bunga Rumah Makan” karya Utuy Tatang Sontani.</p>
<p>“Semua itu terjadi sebelum saya meneruskan sekolah ke Jogyakarta,” tulis Nazif</p>
<p><strong>Pertunjukan Teater Modern di Padang</strong></p>
<p>Sejak Nazif bersekolah di Yogya, tahun 1953, ia juga sudah mulai menjajal dunia karang-mengarang. Diawali dengan menulis cerita-cerita pendek yang dimuat oleh Majalah Minggu Pagi, Majalah Wanita, Majalah Bikini terbitan Yogjakarta, Majalah Cermin terbitan Surabaya, Majalah Waktu terbitan Medan, Majalah Lukisan Dunia (Parada Harahap) dan Majalah Aneka Terbitan Jakarta.</p>
<p>Selepas dari SMA Budaya Yogyakarta Nazif diterima masuk Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi). Di akademi inilah Nazif menjajal kemampuan berteater dan menulis naskah. Ia termasuk mahasiswa senior dan kedua berasal dari Sumatera setelah S.A. Karim (Aceh) dan lebih dahulu dari Kusno Sujarwadi, Hendra Cipta dan Iman Sutrisno.</p>
<p>Karena ia senior, ia selalu diberi peran-peran utama dalam naskah-naskah Sri Murtono (Direktur Asdrafi) yang dipagelarkan dalam berbagai kegiatan oleh Asdrafi. Di akademi ini WS Rendra pernah ikut sebentar, juga Steve Lim (Teguh Karya) yang kemudian pindah ke Jakarta karena telah dibukanya Akademi Teater  Nasional Indonesia (ATNI).</p>
<p>Di tahun ketiga Nazif di Asdrafi, ia pulang libur ke Bukittinggi (1956). Menurut Nazif, karena kawan-kawan-kawan dan guru-gurunya di Gajah Tongga, Bukittinggi, tahu ia kuliah di Asdrafi, mereka meminta Nazif menyutradarai dua pagelaran drama untuk dipertunjukkan di Gedung Nasional Bukittinggi dalam rangka Ulang Tahun Gerakan Pemuda Sosialis (GPS).</p>
<p>Naskah yang digarap Nazif adalah “Awal dan Mira” karya Ututy Tatang Sontani di mana ia merangkap sebagai sutradara dan memerankan tokok Awal. Kedua ia menyutradarai drama Minang “Sabai Nan Aluih” naskah Tulis Sutan Sati dengan pemain Ratna Mahyar, Syafri Segeh, Basri Segeh, dll.</p>
<p>Tahun 1961, setelah selesai kuliah dan bekerja di Jakarta dan pulihnya masa PRRI, Nazif pindah ke Padang dan langsung bekerja di Harian Res Publika. Ketika itu, menurut Nazif, kelompok seniman di Padang banyak bergabung dengan grup Kuntum Mekar yang dikelola Harian Panarangan di bawah pimpinan Rasyidin Bey yang kemudian hari dikenal sebagai aktivis komunis.</p>
<p>Harian Panarangan dan Res Publika tempat Nazif bekerja kerap berpolemik. Di Res Publika kegiatan kebudayaan dipimpin oleh Abdul Muis S. Bakry dengan nama samaran Ananda Madah Bangau. Koran ini beraliran “Nasionalis” di bawah pimpinan Kepala Japenprop Sumbar, Bapak Daranin, seorang tokoh PNI. Karena Nazif selain wartawan dikenal sebagai seniman, ia diminta untuk membentuk kelompok teater yang waktu itu diberinama “Teater Kota Padang”.</p>
<p>Nazif mengatakan, pada waktu itu Abdul Muis S. Bakry (waktu Kaharudin Dt Rangkayo Basa menjabat Gubernur Sumbar) duduk di DPRD dan mempunyai banyak relasi dan koneksi dikalangan pejabat di Padang.</p>
<p>Dan di ruangan sastra-budaya Res Publika banyak  tampil seniman-seniman dan sastrawan-sastrawan muda dengan menulis puisi serta eseis budaya yang yang bertendesi Anti Komunis (mereka menganut paham Humanisme Universal) seperti: Mursal Esten, MS. Sukmajata, Chairul Harun, Rusli Marzuki Saria, Leon Agusta, dll.</p>
<p>Para seniman dan penulis muda tersebut praktis menjadi pendukung pertama lahirnya “Teater Kota Padang”. Oktober 1961, ketika Palang Merah Indonesia mengadakan acara di Gedung Pancasila, melalui Abdul Muis S. Bakry mereka meminta Teater Kota Padang dapat menampilkan pertunjukan Drama.</p>
<p>Waktu itu dipentaskan naskah “Penggali Intan” karya Kirjomulyo dengan menampilkan pemain seperti Mira Darjis, Syafril Zein, Nurjani Musa. Nazif sendiri berlaku sebagai sutradara merangkap pemain.</p>
<p>Peristiwa ini kelak dianggap sebagai pertunjukan teater mdoern di Kota Padang dan barangkali yang pertama mengangkat naskah-naskah drama yang ditulis oleh sastrawan terkenal periode itu.</p>
<p>Suatu ketika Nazif mengenang bagian paling berkesan ketika ia berpreses dalam kegiatan drama dan teater di Padang, yaitu ketika pertunjukan naskah “Bung Besar”, yang ia tulis dan ikut memerankan. Pertunjukan ini diadakan bulan Februari 1966 di Aula Don Bosco, Padang, dalam rangka Hari Ulang Tahun PWI. “</p>
<p>Waktu itu kawan baik saya  Ridwan Isa fotografer terkenal di Padang, menyuruh saya melapisi perut dan dada dengan lempengan besi. Kuatir sedang main nanti ada tentara yang menembak saya dari jauh,” tulis Nazif.</p>
<p>Sebab mereka takut pengikut setia Bung Karno marah besar karena pertunjukan mereka adalah parodi terhadap Bung Karno.</p>
<p>Nasif mengenang, berturut-turut tiap tahun sesudah pagelaran pertama (1961) sampai runtuhnya Gedung Pancasila diterjang ombak, Teater Kota Padang menampilkan pertunjukan-pertunjukan drama dengan mengangkat naskah-naskah drama dunia terkenal, seperti: “Tanda Silang” oleh Eugene Oneil dan “Hanya Satu Kali” karya John Galworty.</p>
<p>Pada acara Dies Natalis Unand tahun 1963, Teater Kota Padang juga pernah menampilkan pergelaran naskah: “Penghuni-penghuni Gua”. Yang memegang peranan ketika itu selain Nazif juga diperani oleh Leon Agusta. Sedangkan Dekorasi ditangani oleh pelukis  Arby Samah.</p>
<p>Latihan-latihan naskah ini juga disaksikan oleh budayawan Umar Qayam dari Jogja.</p>
<p>Naskah “The Proposal” karya Anton Chekov pernah diadaptasi Zazif dalam “Kumidi Bagalau” dengan judul “Udin Pamalu” yang dipertunjukan dengan pelaku-pelaku Burhan Bur dan Lucian Idris serta Nazif sendiri melakonkan Udin Pamalu yang dipentaskan di bioskop Raya Padang.</p>
<p><strong>Catatan</strong>: <em>beberapa sumber disusun dari catatan pribadi Nazif Basir</em></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/in-memoriam-nazif-basir-1/">In Memoriam Nazif Basir (1)</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">38711</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Karya Seniman Asal Bukittinggi Dipamerkan di Venice Art Biennale</title>
		<link>https://langgam.id/karya-seniman-asal-bukittinggi-dipamerkan-di-venice-art-biennale/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Jun 2019 12:26:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[seniman minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=9141</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Handiwirman Saputra, menjadi seniman Indonesia diundang khusus Paviliun Internasional di ajang Venice Art Biennale (VAB) ke-58, di kota Venice, Italia. Seniman yang berasal dari kota Bukittinggi ini akan memboyong karya-karyanya pada pameran seni tertua dan terbesar di dunia tersebut hingga 24 November 2019 nanti. Handiwarman merupakan orang Indonesia ketiga yang ikut ambil bagian di ajang Venice Art Biennale ini. Sebelumnya, pada tahun 1958 ada Affandi, dan Heri Dono pada tahun 1990. Venice Art Biennale merupakan pameran seni tertua, terbesar dan terkemuka di dunia, dimulai pada tahun 1895, dan menjadi barometer karya-karya seni bernilai tinggi, dan diikuti oleh 90 negara.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/karya-seniman-asal-bukittinggi-dipamerkan-di-venice-art-biennale/">Karya Seniman Asal Bukittinggi Dipamerkan di Venice Art Biennale</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Handiwirman Saputra, menjadi seniman Indonesia diundang khusus Paviliun Internasional di ajang Venice Art Biennale (VAB) ke-58, di kota Venice, Italia.</p>
<p>Seniman yang berasal dari kota Bukittinggi ini akan memboyong karya-karyanya pada pameran seni tertua dan terbesar di dunia tersebut hingga 24 November 2019 nanti.</p>
<p>Handiwarman merupakan orang Indonesia ketiga yang ikut ambil bagian di ajang Venice Art Biennale ini. Sebelumnya, pada tahun 1958 ada Affandi, dan Heri Dono pada tahun 1990.</p>
<p>Venice Art Biennale merupakan pameran seni tertua, terbesar dan terkemuka di dunia, dimulai pada tahun 1895, dan menjadi barometer karya-karya seni bernilai tinggi, dan diikuti oleh 90 negara.</p>
<p>&#8220;Ada empat obyek karya seni instalasi dan satu buah lukisan yang akan dipamerkan paja ajang Venice Art Biennale tersebut,&#8221; ucap Alumni SMA 1 N Bukittinggi, tempo hari.</p>
<p>Salah satu karya seni instalasi yang bakal dipajang oleh pria yang akrab dipanggil dengan sapaan Kamang ini adalah karya berbentuk pemangkasan tanaman yang dipotong-potong, lalu tumbuh lagi.</p>
<p>&#8220;Untuk mendapatkan bentuk tanaman yang diharapkan, kita memotong-motongnya. Itu ada maksud dan tujuan filosofisnya,&#8221; lanjut Handiwirman yang juga merupakan Alumni SMP 1 N Bukittinggi ini.</p>
<p>Sementara Yofialdi M. Jufri salah satu pengurus Masika ICMI Sumbar sekaligus perwakilan dari Santri Preneur Sumbar sempat berkunjung ke kediaman Handiwirman di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu, turut bahagia dan senang ketika mendengar bahwa kawan satu sekolah, satu kampung dan satu permainan denganya ikut pameran pada ajang internasional sekelas ajang Venice Art Biennale tersebut.</p>
<p>“Saya ikut bangga dan senang ketika mengetahui bahwa karya-karya seniman asal Sumbar, yakni Handiwirman akan dipajang di ajang Venice Art Biennale. Dan, Saya tidak terkejut akan itu, karena sepanjang yang Saya ketahui, sosok dari Handiwirman adalah seorang seniman yang sederhana, cerdas, kreatif, pekerja keras, dan paling penting beliau adalah sosok seniman idealis yang berkarya tidak diperbudak oleh materi,” ungkap pria yang akrab di panggil Yofi ini.</p>
<p>Sementara Ibrahim salah satu dosen di ISI Padang Panjang yang juga ikut berkunjung ke kediaman Handiwirman bersama Yofialdi M. Jufri pada saat itu mengungkapkan bawah mereka bertiga memiliki tujuan dan visi yang sama untuk mendorong anak-anak muda Sumbar untuk berkarya seperti senior-senior mereka di Yogyakarta.</p>
<p>“Kita berharap, anak-anak muda Sumbar juga bisa berkarya seperti Handiwirman yang mana, karyanya sudah mendunia. Kita akan berjuang bersama untuk saling besar dan membesarkan sehingga karya seni anak-anak muda Sumbar nantinya juga bisa mendunia,” ungkap Ibrahim dosen Perupa ISI Padang Panjang dan salah satu pentolan komunitas Sakato Art Community.</p>
<p>Lau Ibrahim melanjutkan, bahwa pada kesempatan itu, mereka bertiga juga berkeinginan untuk membuat agenda tahunan untuk melaksanakan ajang pameran karya seni anak muda atau seniman di Sumbar.</p>
<p>“Pada 2018 lalu, di Sumbar telah dilaksanakan pameran lukisan di Bukittinggi, dan kita berharap event tahunan pameran karya-karya seni di Sumbar bisa dilakasnakan secara rutin dan berkesinambungan,” tambah dosen Perupa ISI Padang Panjang ini.</p>
<p>Baik Handiwirman, Ibrahim maupun Yofialdi berharap semua pihak bisa membantu terselenggaranya event tahunan pameran karya seni dari seniman Sumbar, seperti Yogya Art dan Venice Art. <strong>(Osh)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/karya-seniman-asal-bukittinggi-dipamerkan-di-venice-art-biennale/">Karya Seniman Asal Bukittinggi Dipamerkan di Venice Art Biennale</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9141</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 26/81 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-07-24 09:57:26 by W3 Total Cache
-->