<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Seni Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/seni/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/seni/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Tue, 16 Dec 2025 07:10:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Seni Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/seni/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Mahasiswa Seni Rupa UNP Gelar Pameran “Ilia Mudiak”</title>
		<link>https://langgam.id/mahasiswa-seni-rupa-unp-gelar-pameran-ilia-mudiak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Dec 2025 07:10:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[UNP]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=240488</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Mahasiswa Departemen Seni Rupa Universitas Negeri Padang (UNP) akan menggelar Pameran Seni Rupa bertajuk “Ilia Mudiak” di Galeri Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNP, pada 17–20 Desember 2025. Pameran ini melibatkan dosen, mahasiswa, dan alumni sebagai bentuk kolaborasi lintas generasi dalam ruang akademik seni rupa. Pameran “Ilia Mudiak” diselenggarakan sebagai respons konseptual atas undangan Pameran Seni Rupa “Hulu” yang digelar UPTD Taman Budaya Provinsi Sumatera Barat. Jika “Hulu” dimaknai sebagai titik awal, asal-usul, dan pangkal pembacaan makna, maka “Ilia Mudiak” menghadirkan gerak balik, sebuah arus yang terus bernegosiasi antara hulu dan hilir. Ketua Pelaksana Pameran, Salim Anshori, mengatakan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mahasiswa-seni-rupa-unp-gelar-pameran-ilia-mudiak/">Mahasiswa Seni Rupa UNP Gelar Pameran “Ilia Mudiak”</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Mahasiswa Departemen Seni Rupa Universitas Negeri Padang (UNP) akan menggelar Pameran Seni Rupa bertajuk “Ilia Mudiak” di Galeri Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNP, pada 17–20 Desember 2025. Pameran ini melibatkan dosen, mahasiswa, dan alumni sebagai bentuk kolaborasi lintas generasi dalam ruang akademik seni rupa.</p>



<p>Pameran “Ilia Mudiak” diselenggarakan sebagai respons konseptual atas undangan Pameran Seni Rupa “Hulu” yang digelar UPTD Taman Budaya Provinsi Sumatera Barat. Jika “Hulu” dimaknai sebagai titik awal, asal-usul, dan pangkal pembacaan makna, maka “Ilia Mudiak” menghadirkan gerak balik, sebuah arus yang terus bernegosiasi antara hulu dan hilir.</p>



<p>Ketua Pelaksana Pameran, Salim Anshori, mengatakan bahwa “Ilia Mudiak” dirancang bukan sekadar sebagai ajang pamer karya, tetapi juga sebagai ruang dialog dan refleksi kritis.</p>



<p>“Pameran Ilia Mudiak dihadirkan sebagai ruang dialog dan refleksi yang menyambut gagasan Hulu dengan perspektif akademik yang kritis dan dinamis. Melalui kolaborasi ini, kami ingin menghadirkan pameran yang tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga membuka ruang pertukaran pengetahuan, pengalaman, serta keberanian eksperimental antar generasi dalam lingkungan seni rupa Universitas Negeri Padang,” ujarnya, Senin (16/12).</p>



<p>Pameran ini melibatkan 42 seniman dengan dukungan 48 orang panitia, yang seluruhnya berasal dari lingkungan Departemen Seni Rupa UNP. Karya-karya yang ditampilkan merepresentasikan beragam pendekatan artistik dan pemikiran konseptual, sebagai hasil perjumpaan antara tradisi, akademik, dan konteks kekinian.</p>



<p>Pembina Pameran, Ferdian Ondira Asa menilai pameran ini sebagai bentuk kesinambungan penting dalam pengembangan pengetahuan seni rupa di lingkungan kampus.</p>



<p>“Pameran ini merupakan wujud kesinambungan antara pemaknaan asal-usul (hulu) dan gerak kembali (ilia mudiak) sebagai metafora penting dalam pembentukan pengetahuan seni rupa. Kolaborasi dengan Pameran Hulu menegaskan bahwa praktik seni di lingkungan akademik tidak berdiri terpisah, melainkan menjadi bagian dari arus besar kebudayaan yang terus bergerak, bernegosiasi, dan memperbarui diri melalui dialog antara tradisi dan konteks kekinian,” jelasnya.</p>



<p>Panitia mengajak masyarakat umum, pegiat seni, mahasiswa, dan pencinta seni rupa untuk datang dan meramaikan Pameran Seni Rupa “Ilia Mudiak”. Kegiatan ini gratis dan terbuka untuk umum, sebagai upaya memperluas akses apresiasi seni sekaligus memperkuat dialog antara kampus dan masyarakat.</p>



<p>Melalui pameran ini, mahasiswa seni rupa UNP berharap dapat menghadirkan ruang apresiasi sekaligus wacana kritis yang memperkuat posisi seni rupa akademik dalam lanskap kebudayaan Sumatera Barat dan Indonesia. (*/Yh)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mahasiswa-seni-rupa-unp-gelar-pameran-ilia-mudiak/">Mahasiswa Seni Rupa UNP Gelar Pameran “Ilia Mudiak”</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">240488</post-id>	</item>
		<item>
		<title>6 Koreografer Muda Unjuk Aksi dalam Pertunjukan Tari Kontemporer 3 di Taman Budaya Sumbar</title>
		<link>https://langgam.id/6-koreografer-muda-unjuk-aksi-dalam-pertunjukan-tari-kontemporer-3-di-taman-budaya-sumbar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2025 03:59:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=233606</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Taman Budaya Sumatera Barat kembali menghadirkan ruang ekspresi bagi seniman muda melalui Pertunjukan Tari Kontemporer 3 yang digelar pada 6–7 September 2025. Ajang ini menampilkan karya enam koreografer muda hasil seleksi dari workshop tari yang sebelumnya diikuti 25 peserta. Kepala Taman Budaya Sumbar, M. Devid, menyebut kegiatan ini merupakan bagian dari program pembinaan UPTD Taman Budaya Sumbar terhadap kesenian tari. Dengan mengusung tema “Ruang dan Waktu dalam Ingatan Kolektif Minangkabau,” acara ini diharapkan mampu memperkaya khazanah seni pertunjukan di Ranah Minang. “Melalui kegiatan ini, kami berkomitmen memberikan ruang bagi koreografer muda Sumbar untuk terus berkarya, berinovasi, serta melahirkan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/6-koreografer-muda-unjuk-aksi-dalam-pertunjukan-tari-kontemporer-3-di-taman-budaya-sumbar/">6 Koreografer Muda Unjuk Aksi dalam Pertunjukan Tari Kontemporer 3 di Taman Budaya Sumbar</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Taman Budaya Sumatera Barat kembali menghadirkan ruang ekspresi bagi seniman muda melalui Pertunjukan Tari Kontemporer 3 yang digelar pada 6–7 September 2025. Ajang ini menampilkan karya enam koreografer muda hasil seleksi dari workshop tari yang sebelumnya diikuti 25 peserta.</p>



<p>Kepala Taman Budaya Sumbar, M. Devid, menyebut kegiatan ini merupakan bagian dari program pembinaan UPTD Taman Budaya Sumbar terhadap kesenian tari. Dengan mengusung tema “Ruang dan Waktu dalam Ingatan Kolektif Minangkabau,” acara ini diharapkan mampu memperkaya khazanah seni pertunjukan di Ranah Minang.</p>



<p>“Melalui kegiatan ini, kami berkomitmen memberikan ruang bagi koreografer muda Sumbar untuk terus berkarya, berinovasi, serta melahirkan tafsir baru atas tradisi dalam konteks kekinian,” ujar Devid.</p>



<p>Menurutnya, tema “ruang” tidak hanya dimaknai sebagai wilayah geografis Minangkabau, tetapi juga ruang spiritual, psikologis, hingga imajinasi. Sedangkan “waktu” ditafsirkan sebagai perjalanan sejarah, siklus kehidupan, bahkan sesuatu yang kabur seperti dalam mimpi dan ingatan.</p>



<p><strong>Tiga Karya di Hari Pertama</strong></p>



<p>Di hari pertama pergelaran, tiga koreografer muda tampil dengan karya masing-masing. Yuni Pratiwi membuka panggung dengan karya berjudul “Maniti Golok.” Dibawakan oleh empat penari, tarian ini menggambarkan perjalanan hidup yang penuh tantangan. Gerakan para penari yang perlahan dan hati-hati di atas kayu sempit merepresentasikan pesan: setiap langkah sulit bisa dilalui dengan ketekunan, satu demi satu, hingga sampai tujuan.</p>



<p>Pertunjukan berikutnya hadir dari Muhammad Fadhlan Dhaifullah melalui karya “Antara Aku dan Aku.” Ditarikan oleh lima penari, karya ini menjadi cermin tentang pilihan hidup, konsekuensi, luka, dan proses bertahan. Gerakan yang kontras menampilkan pergulatan batin antara jatuh, tumbuh, dan bertahan tanpa perubahan.</p>



<p>Penutup malam pertama adalah karya Alsafitro berjudul “Diam Adalah Siksa.” Enam penari membawakan tarian ini dengan tubuh terbungkus plastik, melambangkan perasaan terpendam yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Karya ini terinspirasi dari pituah Minangkabau “bialah rabab nan manyampaian,” sebuah ungkapan tentang bagaimana rasa yang terdalam mencari jalannya lewat medium lain.</p>



<p>Pertunjukan akan berlanjut hingga hari kedua dengan tiga karya lainnya, memperlihatkan beragam interpretasi para koreografer muda terhadap ruang dan waktu dalam ingatan kolektif masyarakat Minangkabau.</p>



<p>&#8220;Kegiatan ini sejalan dengan program strategis Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya yang dicanangkan Kementerian Kebudayaan yang dilaksanakan Taman Budaya Sumbar dalam bentuk pembinaan talenta seni budaya secara komprehensif mulai dari pelatihan (workshop), pembinaan lanjutan (pendampingan produksi karya), hingga presentasi karya berupa festival,&#8221; terang M. Devid.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/6-koreografer-muda-unjuk-aksi-dalam-pertunjukan-tari-kontemporer-3-di-taman-budaya-sumbar/">6 Koreografer Muda Unjuk Aksi dalam Pertunjukan Tari Kontemporer 3 di Taman Budaya Sumbar</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">233606</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Memukau Penonton, Komunitas Seni Kuflet Sukses Pentaskan “Sayap-Sayap Proklamasi</title>
		<link>https://langgam.id/memukau-penonton-komunitas-seni-kuflet-sukses-pentaskan-sayap-sayap-proklamasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Dec 2024 06:06:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ISI Padang Panjang]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=218038</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id – Pertunjukan teater spektakuler bertajuk “Sayap-Sayap Proklamasi” sukses digelar Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang, Kamis (12/12/2024) malam, di Desa Wisata Kubu Gadang, Kelurahan Ekor Lubuk. Acara yang berlangsung di tengah hujan deras ini berhasil memukau ratusan penonton, memperlihatkan semangat luar biasa dari semua pihak yang terlibat. Pertunjukan yang merupakan produksi ke-55 Kuflet ini didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan RI. Untuk mengantisipasi hujan, panitia menyediakan jas hujan yang dibagikan kepada penonton, menciptakan pemandangan unik dengan penonton yang mengenakan jas hujan dan berpayung. Hal ini justru menambah nuansa artistik di panggung utama Desa Wisata Kubu Gadang. Pertunjukan dimulai dengan lantunan Saluang</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/memukau-penonton-komunitas-seni-kuflet-sukses-pentaskan-sayap-sayap-proklamasi/">Memukau Penonton, Komunitas Seni Kuflet Sukses Pentaskan “Sayap-Sayap Proklamasi</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> – Pertunjukan teater spektakuler bertajuk <em>“Sayap-Sayap Proklamasi”</em> sukses digelar Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang, Kamis (12/12/2024) malam, di Desa Wisata Kubu Gadang, Kelurahan Ekor Lubuk.</p>



<p>Acara yang berlangsung di tengah hujan deras ini berhasil memukau ratusan penonton, memperlihatkan semangat luar biasa dari semua pihak yang terlibat. Pertunjukan yang merupakan produksi ke-55 Kuflet ini didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan RI.</p>



<p>Untuk mengantisipasi hujan, panitia menyediakan jas hujan yang dibagikan kepada penonton, menciptakan pemandangan unik dengan penonton yang mengenakan jas hujan dan berpayung. Hal ini justru menambah nuansa artistik di panggung utama Desa Wisata Kubu Gadang.</p>



<p>Pertunjukan dimulai dengan lantunan Saluang dan Rabab, diiringi musik tradisional dan tarian, yang membawa penonton menyelami perjalanan hidup Proklamator Bung Hatta. Dari masa kecil hingga dewasa, perjuangan Bung Hatta bersama Bung Karno dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia disajikan dengan penuh khidmat dan estetik. Totalitas para aktor menuai pujian dari penonton yang terharu.</p>



<p>Penjabat Sekdako, Winarno, memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan ini.<br>“Pemko mendukung penuh kegiatan seni seperti ini, yang tidak hanya memperkenalkan tokoh sejarah, tetapi juga membangun kesadaran generasi muda akan pentingnya menghargai jasa-jasa pahlawan bangsa,” ujarnya.</p>



<p>Dirinya juga menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Kebudayaan RI atas dukungannya melalui program fasilitasi kebudayaan.</p>



<p>Kurator pertunjukan, Rita Matumona, yang hadir bersama Tim Verifikator Kementerian Kebudayaan RI, menyampaikan kebanggaannya atas keberhasilan acara ini.<br>“Pertunjukan ini menunjukkan bahwa seni budaya memiliki peran penting dalam menyatukan nilai-nilai sejarah dan pendidikan dengan hiburan. Kami akan terus mendukung kegiatan seperti ini. Ini adalah pertunjukan yang luar biasa. Saya sangat mengapresiasi Kuflet sebagai penyelenggara,” ungkapnya.</p>



<p>Rita menambahkan, pertunjukan ini menunjukkan betapa seni teater efektif sebagai media untuk menyampaikan pesan sejarah kepada generasi muda.<br><em>&#8220;Sayap-Sayap Proklamasi tidak hanya memukau secara visual tetapi juga menggugah emosi penonton dengan pengemasan kisah sejarah yang apik,&#8221;</em> tuturnya.</p>



<p>Kehadiran pertunjukan ini, sebut Rita, membuktikan bahwa seni teater tetap relevan sebagai media edukasi dan hiburan, bahkan di tengah tantangan cuaca.</p>



<p>Sementara itu, Sutradara <em>Sayap-Sayap Proklamasi</em>, Sulaiman Juned mengungkapkan kepuasannya atas hasil pertunjukan.<br>“Saya sangat bahagia melihat penampilan luar biasa para aktor, meskipun waktu latihan terbatas. Ini adalah ujian yang berhasil kami lewati dengan baik,” tuturnya.</p>



<p>Penulis naskah <em>Sayap-Sayap Proklamasi</em>, S. Hasanah Nst menyatakan kebanggaannya terhadap karya ini.<br>“Pertunjukan ini lebih dari sekadar teater. Ini adalah pengingat perjuangan besar Bung Hatta dalam memerdekakan bangsa ini. Kami berharap pesan ini dapat menyentuh hati penonton,” ujarnya.</p>



<p>Muhammad Subhan, selaku Pimpinan Produksi menambahkan, keberhasilan acara ini adalah hasil kerja keras tim yang luar biasa. Ia menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, termasuk panitia, aktor, dan penonton yang setia hadir, baik dari Padang Panjang maupun luar kota.<br>“Ini adalah tantangan yang berhasil kami atasi dengan baik. Terima kasih kepada tim produksi dan semua pihak yang telah mendukung acara ini,” ujar Muhammad Subhan.</p>



<p>Pertunjukan ini juga menarik perhatian pengunjung yang kebetulan berada di Desa Wisata Kubu Gadang. Mereka terpesona oleh bagaimana seni dapat menyampaikan narasi sejarah dengan cara yang menghibur.<br>“Ini pengalaman luar biasa. Saya tidak menyangka akan melihat pertunjukan sebesar ini di desa wisata,” ujar seorang pengunjung yang datang dari Kabupaten Padang Pariaman. (*/Yh)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/memukau-penonton-komunitas-seni-kuflet-sukses-pentaskan-sayap-sayap-proklamasi/">Memukau Penonton, Komunitas Seni Kuflet Sukses Pentaskan “Sayap-Sayap Proklamasi</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">218038</post-id>	</item>
		<item>
		<title>60 Perupa dari 5 Negara Bakal Pameran di Padang</title>
		<link>https://langgam.id/60-perupa-dari-5-negara-bakal-pameran-di-padang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Oct 2023 02:23:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Padang]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[seniman minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=190780</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Sebanyak 60 orang perupa dari lima negara mengikuti kegiatan pemeran seni rupa yang diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya Sumatera Barat bersama Departemen Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (UNP), Kamis (26/10/2023) lalu. Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat Syaifullah mengatakan penyelenggaraan pameran seni rupa ini dalam rangka ulang tahun Departemen Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang ke-60, yang mulai dibuka pada tahun 1963. &#8220;Kita sangat menghargai Pameran Internasional Departemen Sini Rupa FBS UNP ini,&#8221; kata Syaifullah, dilansir pada Sabtu (28/10/2023). Menurutnya Pameran Seni Rupa ini sekaligus momentum kebangkitan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/60-perupa-dari-5-negara-bakal-pameran-di-padang/">60 Perupa dari 5 Negara Bakal Pameran di Padang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Sebanyak 60 orang perupa dari lima negara mengikuti kegiatan pemeran seni rupa yang diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya Sumatera Barat bersama Departemen Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (UNP), Kamis (26/10/2023) lalu.</p>



<p>Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat Syaifullah mengatakan penyelenggaraan pameran seni rupa ini dalam rangka ulang tahun Departemen Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang ke-60, yang mulai dibuka pada tahun 1963.</p>



<p>&#8220;Kita sangat menghargai Pameran Internasional Departemen Sini Rupa FBS UNP ini,&#8221; kata Syaifullah, dilansir pada Sabtu (28/10/2023).</p>



<p>Menurutnya Pameran Seni Rupa ini sekaligus momentum kebangkitan seni rupa dan desain sebagai suatu kebudayaan di Sumatera Barat, serta sebagai salah satu bentuk kemajuan kebudayaan.</p>



<p>Ia menjelaskan, dalam perspektif kebudayaan, seni seperti seni rupa, seni kriya, dan desain yang dihasilkan seniman selalu didorong untuk melihat kesenian dengan unsur-unsur budaya yang tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang saja.</p>



<p>&#8220;Ketika kita memilih kebudayaan sebagai suatu konsep, artinya kebudayaan bersifat fungsional dan berbeda dari suatu tempat dengan tempat lainnya,&#8221; terangnya.</p>



<p>Ia menambahkan, penciptaan seni rupa dan desain tidak hanya dilakukan di studio-studio atau sanggar- sanggar yang bersifat individual, tetapi telah masuk ke wilayah yang lebih luas yang membuka ruang untuk berinteraksi, berkolaborasi, dan memahami masyarakat.</p>



<p>&#8220;Dari aspek penciptaan karya, seniman lebih dari sekedar mengandalkan intuisi, emosi, kepekaan rasa, dan keahlian,&#8221; ucapnya.</p>



<p>Pada kesempatan ini Kadis juga mengucapkan selamat berpameran dan selamat ulang tahun ke-60 untuk Departemen Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang semoga selalu jaya serta menjadi institusi yang selalu eksis di bidang seni.</p>



<p>Sementara petua pelaksana kegiatan Hendra Afriwan mengatakan, pameran berskala internasional itu juga disertai dengan konferensi yang berlabel International Conference of Arts Education and Design” (ICONADD 3.0) mengangkat tema besar “Mutuality”.</p>



<p>Hendra menjelaskan, untuk keynote speaker kegiatan konferensi berasal dari negara Malaysia, Singapura, jerman, serta dua orang berasal dari Indonesia.</p>



<p>Untuk pameran sendiri kata Hendra, diikuti oleh tujuh peserta luar negeri yakni dari India, Perancis, Finlandia, Ceko, serta 60 peserta Indonesia yang berasal dari berbagai propinsi baik dosen, mahasiswa, alumni maupun para perupa dan desainer komunikasi visual yang menampilkan beragam jenis, bentuk, gaya serta konsep berkarya.</p>



<p>&#8220;Melalui kegiatan ini diharapkan mampu menghadapi tantangan dan menciptakan peluang agar tetap eksis dan lebih baik ke depannya,&#8221; pungkas Hendra. (*/Yh)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/60-perupa-dari-5-negara-bakal-pameran-di-padang/">60 Perupa dari 5 Negara Bakal Pameran di Padang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">190780</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pandemi Hahahihi, Lain Sakit Lain Diobat Karya Komunitas Seni Nan Tumpah</title>
		<link>https://langgam.id/pandemi-hahahihi-lain-sakit-lain-diobat-karya-komunitas-seni-nan-tumpah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Jul 2022 09:33:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=158466</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Komunitas Seni Nan Tumpah (KSNT) kembali menggelar festival seni Pekan Nan Tumpah dengan mengusung tema Pandemi Hahahihi, Lain Sakit Lain Diobat yang digelar dari tanggal 1 sampai 7 Juli 2022 di Taman Budaya Sumatra Barat (Sumbar). &#8220;Perhelatan ini harusnya digelar tahun 2021, karena terhalang pandemi, maka kegiatan diundur ke tahun ini dan tetap menggunakan Pekan Nan Tumpah 2021,&#8221; ujar Ketua Pelaksana, Tenku Raja Ganesha di Padang, Sabtu (2/7/2022). Menurut Tenku, pemilihan tema kegiatan kali ini berkaitan dengan beragam persoalan yang yang dialami masyarakat sejak tahun 2020. Menurutnya, semasa pandemi, ada banyak persoalan dengan beragam tawaran solusi, hanya saja,</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pandemi-hahahihi-lain-sakit-lain-diobat-karya-komunitas-seni-nan-tumpah/">Pandemi Hahahihi, Lain Sakit Lain Diobat Karya Komunitas Seni Nan Tumpah</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Komunitas Seni Nan Tumpah (KSNT) kembali menggelar festival seni Pekan Nan Tumpah dengan mengusung tema <strong><em>Pandemi Hahahihi, Lain Sakit Lain Diobat</em></strong> yang digelar dari tanggal 1 sampai 7 Juli 2022 di Taman Budaya Sumatra Barat (Sumbar).</p>
<p>&#8220;Perhelatan ini harusnya digelar tahun 2021, karena terhalang pandemi, maka kegiatan diundur ke tahun ini dan tetap menggunakan Pekan Nan Tumpah 2021,&#8221; ujar Ketua Pelaksana, Tenku Raja Ganesha di Padang, Sabtu (2/7/2022).</p>
<p>Menurut Tenku, pemilihan tema kegiatan kali ini berkaitan dengan beragam persoalan yang yang dialami masyarakat sejak tahun 2020.</p>
<p>Menurutnya, semasa pandemi, ada banyak persoalan dengan beragam tawaran solusi, hanya saja, apa yang ditawarkan kerap tidak sesuai dengan kebutuhan.</p>
<p>Perhelatan yang digelar selama sepekan itu, kata Tenku, melibatkan puluhan seniman dari berbagai bidang dan latar belakang, mulai dari seni rupa hingga seni pertunjukan.</p>
<p>Pada even keenam yang digelar oleh Komunitas Nan Tumpah ini, lanjut Tenku, juga terdapat 27 perupa yang terlibat, baik secara perorangan maupun secara kelompok. Selanjutnya, ada delapan grup musik, dan tiga pendongeng. Selain itu, juga terlibat tiga kelompok lapak baca yang ikut memeriahkan kegiatan.</p>
<p>Seorang kurator Pekan Nan Tumpah 2021, Mahatma Muhammad menyebutkan, penampil pada kegiatan ini akan dibagi pada dua kelompok, yaitu tematik dan eksebisi.</p>
<p>Kelompok tematik, kata Mahatma, peserta yang dipilih untuk menyajikan karya berdasarkan tema yang sudah ditetapkan panitia. Sementara, kelompok eksibisi merupakan para penampil yang diundang sebagai penyaji yang tidak terikat pada tema kegiatan.</p>
<p>Lebih lanjut ia mengatakan, mengingat Taman Budaya yang masih dalam tahap renovasi, maka Pekan Nan Tumpah kali ini akan memyesuaikan dengan kondisi yang ada. Setiap pengkarya dapat menentukan tempat mana saja yang ingin digunakan untuk pertunjukan.</p>
<p><strong>Baca juga: <a href="https://langgam.id/festival-bumi-rempah-nusantara-untuk-dunia-komunitas-seni-nan-tumpah-pentaskan-catatan-si-padang/">Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia, Komunitas Seni Nan Tumpah Pentaskan &amp;#8220;Catatan si Padang&amp;#8221;</a></strong></p>
<p>&#8220;Jadi, seluruh area Taman Budaya ini adalah gedung pertunjukan dan penonton bisa datang dari mana saja.” ucapnya.</p>
<p>Selain menghadirkan pertunjukan seni, gelaran Pekan Nan Tumpah kali ini juga akan mengadakan bazar UMKM dengan berbagai macam produk, seperti kuliner, fashion serta kerajinan tangan.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pandemi-hahahihi-lain-sakit-lain-diobat-karya-komunitas-seni-nan-tumpah/">Pandemi Hahahihi, Lain Sakit Lain Diobat Karya Komunitas Seni Nan Tumpah</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">158466</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sosok Syekh Adam BB, Ulama yang Juga Pandeka dari Padang Panjang</title>
		<link>https://langgam.id/mengenal-sosok-syekh-adam-bb-ulama-yang-juga-pandeka-dari-padang-panjang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Jun 2022 07:40:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Padang Panjang]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=158056</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Syekh Haji Adam BB atau yang akrab dikenal dengan nama Syekh Adam Balai-balai merupakan seorang ulama terkemuka asal Padang Panjang yang tercatat hingga pertengahan abad ke-20. Awalnya, Syekh Haji Adam BB merupakan seorang pendekar dan parewa gadang dan juga dikenal sebagai ulama dan guru yang menginginkan lulusan surau yang ideal, yaitu kobinasi ulama, pandeka dan jiwa seni yang mandiri serta terampil. Adam BB juga merupakan pendiri Surau Pasar Baru (SPB) Padang Panjang yang akhirnya dijadikan Madrasah Irsyadin Naas (MIN). Berkat jasanya di bidang pendidikan dan kesenian itu, kini Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang menggelar sebuah kegiatan dengan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengenal-sosok-syekh-adam-bb-ulama-yang-juga-pandeka-dari-padang-panjang/">Mengenal Sosok Syekh Adam BB, Ulama yang Juga Pandeka dari Padang Panjang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Syekh Haji Adam BB atau yang akrab dikenal dengan nama Syekh Adam Balai-balai merupakan seorang ulama terkemuka asal Padang Panjang yang tercatat hingga pertengahan abad ke-20.</p>
<p>Awalnya, Syekh Haji Adam BB merupakan seorang pendekar dan parewa gadang dan juga dikenal sebagai ulama dan guru yang menginginkan lulusan surau yang ideal, yaitu kobinasi ulama, pandeka dan jiwa seni yang mandiri serta terampil.</p>
<p>Adam BB juga merupakan pendiri Surau Pasar Baru (SPB) Padang Panjang yang akhirnya dijadikan Madrasah Irsyadin Naas (MIN).</p>
<p>Berkat jasanya di bidang pendidikan dan kesenian itu, kini Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang menggelar sebuah kegiatan dengan tema Ranah Pas’Art Festival.</p>
<p>Festival dengan berbagai kegiatan yang digelar di Lapangan Kompi Markas Secata B Padang Panjang itu untuk mengenang jasa Syekh Adam BB.</p>
<p>Sekdako Padang Panjang, Sonny Budaya Putra mengucapkan terimakasih kepada ISI Padang Panjang yang telah menggelar kegiatan untuk mengenang jasa Syekh Adam BB.</p>
<p>&#8220;Terimakasih kepada para seniman, mahasiswa seni, dan penikmat seni yang terlibat pada kegiatan Ranah Pas’Art ini dengan tema mengenang pejuang pendidikan dan kesenian Kota Padang Panjang Syekh Adam BB,&#8221; ujar Sonny.</p>
<p>Menurut Sonny, Syekh Adam BB merupakan pahlawan bidang pendidikan dan kesenian di Kota Padang Panjang. Di samping itu, Syekh Adam BB juga merupakan perintis berdirinya Madrasyah Irsyadin Naas (MIN) yang dimulai dengan halaqah sederhana di Surau Pasar Baru, kemudian menjadi cikal bakal Masjid Raya Jihad.</p>
<p>Keluarga Adam BB, lanjut Sonny, juga memiliki peran penting dalam perkembangan seni. Direalisasikan lewat kiprah keempat anaknya, Boestanul Arifin Adam, Irsjad Adam, Akhyar Adam, dan Hoerijah Adam.</p>
<p>Dikutip dari buku <em>Rebbellion to Integration West Sumatra And The Indonesian Polity</em> karangan <a href="http://books.google.co.id/books?id=AlF14JYwA_wC&amp;pg=PA316&amp;lpg=PA316&amp;dq=Syekh+Adam+B.B.&amp;source=bl&amp;ots=NOXynK3mwX&amp;sig=0S35WgUC4jxAiqlG8n4yhCIsyqA&amp;hl=en&amp;sa=X&amp;ei=PWI0UsDbG8mqrAeHl4CwCw&amp;ved=0CD0Q6AEwAw#v=onepage&amp;q=Syekh%20Adam%20B.B.&amp;f=false">Audrey Kahin</a>, Syekh Adam BB lahir 31 Agustus 1889, ia merupakan putra dari Sami&#8217;un Datuak Bagindo.</p>
<p>Juga dituliskan, Syehk Adam BB meninggal dunia tahun 1853 dalam usia 64 tahun.</p>
<p>Disebutkan, Syekh Adam BB juga memiliki perhatian besar terhadap dunia persilatan, sehingga hingga usia 25 tahum, Syekh Adam BB menimba ilmu silat dari puluhan guru dan bermacam aliran.</p>
<p>Bahkan, dengan ilmu silat yang dimiliki, Syelh Adam BB juga disebut mampu mengalahkan seekor harimau dalam perkelahian di tepi hutan di sebuah bukit di wilayah Kabupaten Agam.</p>
<p>Selain memiliki ilmu beladiri kuat, Syekh Adam BB yang memiliki perawakan tinggi dan kekar itu juga menggemari sepakbola dan musik.</p>
<p>Setelah merasa matang sebagai seorang laki-laki dengan bekal ilmu bela diri yang kuat, Syekh Adam BB mulai mengadu peruntungan dengan merantau ke wilayah Sawahlunto.</p>
<p>Di Sawahlunto, Syekh Adam BB dipercayai sebagai mandor yang mengawasi para pekerja tambang. Setelah beberapa bulan bekerja, ia pulang ke Padang Panjang dengan membawa uang yang cukup banyak.</p>
<p>Uang itu ia serahkan kepada ibunya, namun sang ibu tak menerimanya, lantaran pekerjaan Syehk Adam BB dinilai tak layak, karena telah mempekerjakan pribumi.</p>
<p>Saat itulah, Syekh Adam BB muda merasa sangat terpukul dan merasa bersalah terhadap apa yang telah ia lakukan.</p>
<p>Setelah dimarahi sang ibu, Syekh Adam BB tak tau lagi hendak bekerja kemana. Ia juga sempat melangkahkan kaki untuk kembali ke Sawahlunto. Namun, dalam perjalanan, di tepian Danau Singkarak, ia melihat memperhatikan seorang anak kecil dan ia terpikir bahwa pendidikan itu sangat berguna. Syekh Adam BB kembali ke Padang Panjang.</p>
<p>Kembali ke Padang Panjang, Syekh Adam BB mulai membulatkan tekad untuk berusaha bisa mengaji di Surau Jembatan Besi, sebuah surau yang merupakan basis ulama Minangkabau pada awal zaman ke-20.</p>
<p>Ia diterima di surau tersebut dan dijadikan murid Syekh Abdul Karim Amrullah. Setelah itu, ia berguru lagi pada Syekh Daud Rasjidi yang dekat dipanggil Inyiak Daud di Balingka, Agam, yang baru saja pulang dari Mekkah dan membuka surau di kampungnya.</p>
<p>Karena musibah galodo (banjir bandang) surau Inyiak Daud di Balingka porak-poranda, sehingga semua muridnya pulang ke kampung halaman masing-masing, namun Adam tetap setia menemani gurunya.</p>
<p>Pada tahun 1914, Adam diantar Inyiak Daud kembali ke Padang Panjang, diusahakan untuk bisa mengaji di Surau Muhammad Jamil Jaho yang dekat dipanggil Inyiak Jaho.</p>
<p><strong>Baca juga: <a href="https://langgam.id/syekh-muhammad-saad-ulama-besar-mungka-mendebat-syeh-ahmad-khatib-lewat-buku/">Syekh Muhammad Saad: Ulama Besar Mungka, Mendebat Syekh Ahmad Khatib Lewat Buku</a></strong></p>
<p>Setahun mengaji di Surau Inyiak Jaho, Syekh Adam BB merasa ilmu agamanya cukup matang, saat itulah ia membulatkan tekad untuk membuka surau sendiri.</p>
<p>1916, Syekh Adam BB mulai merintis sebuah halaqah sederhana di Kampung Pasar Baru, Padang Panjang.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengenal-sosok-syekh-adam-bb-ulama-yang-juga-pandeka-dari-padang-panjang/">Mengenal Sosok Syekh Adam BB, Ulama yang Juga Pandeka dari Padang Panjang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">158056</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pasar Seni Payakumbuh 2022: Mempromosikan Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal</title>
		<link>https://langgam.id/pasar-seni-payakumbuh-2022-mempromosikan-ketahanan-pangan-berbasis-kearifan-lokal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Jun 2022 00:15:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Kesenian Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar seni payambuh]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=156744</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Sumatera Barat memiliki beragam budaya, mulai tari tradisi dari Minangkabau atau dari Mentawai, cerita rakyat, dan seterusnya.  Selain bentuk-bentuk seni tradisi tersebut, kebudayaan yang ada di Sumatera Barat juga harus dilihat sebagai kearifan lokal yang berpotensi untuk dihadirkan sebagai solusi atas  berbagai persoalan hari ini, termasuk isu ketahanan pangan. Hal tersebut tampak, salah satunya, dari bagaimana tata letak Rumah Gadang di Minangkabau dengan Lumbuang atau Rangkiangnya, dari bagaimana masyarakatnya memandang tanah ulayat serta merawat tradisi pesta panen, serta dari beragam  produk kuliner lokal. Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, UPTD Taman Budaya Sumatera Barat menggelar iven bertajuk “Pasar Seni Payakumbuh</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pasar-seni-payakumbuh-2022-mempromosikan-ketahanan-pangan-berbasis-kearifan-lokal/">Pasar Seni Payakumbuh 2022: Mempromosikan Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Sumatera Barat memiliki beragam budaya, mulai tari tradisi dari Minangkabau atau dari Mentawai, cerita rakyat, dan seterusnya.  Selain bentuk-bentuk seni tradisi tersebut, kebudayaan yang ada di Sumatera Barat juga harus dilihat sebagai kearifan lokal yang berpotensi untuk dihadirkan sebagai solusi atas  berbagai persoalan hari ini, termasuk isu ketahanan pangan.</p>
<p>Hal tersebut tampak, salah satunya, dari bagaimana tata letak Rumah Gadang di Minangkabau dengan Lumbuang atau Rangkiangnya, dari bagaimana masyarakatnya memandang tanah ulayat serta merawat tradisi pesta panen, serta dari beragam  produk kuliner lokal.</p>
<p>Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, UPTD Taman Budaya Sumatera Barat menggelar iven bertajuk “Pasar Seni Payakumbuh 2022” di kompleks Ngalau Indah, Payakumbuh, pada 15-17 Juni mendatang.</p>
<p>“Tak hanya elok secara visual, Rumah Gadang merupakan representasi ketahan pangan”, jelas Zuari Abdullah, kurator Pasar Seni Payakumbuh 2022.</p>
<p>Sebagaimana tergambar pada arsitektur rumah gadang dengan segala kelengkapannya, lanjut Zuari Adbullah, sejak dari konsep bangunannya memperhatikan aspek ketahanan pangan.</p>
<p>“Sejak dari <em>lumbuang</em> hingga <em>lasuang</em> tempat menyimpan dan mengolah hasil pertanian, kolam dengan berbagai jenis ikan. Sampai tanaman rempah dan rimpang sebagai bumbu masakan. Termasuk berbagai jenis obat-obatan. Semuanya tertata rapi dalam lingkungan rumah gadang”, tambahnya.</p>
<p>Zuari juga menjelaskan bahwa dalam petatah petitih terlihat bagaimana masyarakat Minangkabau sangat memperhatikan aspke ketahana pangan ini, misalnya dalam petatah petitih:  <em>Nan lereng tanami padi</em>, <em>Nan tunggang tanami bambu, Nan gurun jadikan parak</em>, <em>Nan bancah jadikan sawah</em>, <em>Nan padek ka parumahan</em>, <em>Nan munggu jadikan pandam</em>, <em>Nan gauang ka tabek ikan</em>, <em>Nan padang tampek gubalo</em>, <em>Nan lacah kubangan kabau</em>, <em>Nan</em> <em>rawa ranangan itiak. </em></p>
<p>Sebelum Pasar Seni Payakumbuh tersebut dibuka, terlebih dahulu diadakan <em>Focus Group Discussion</em>  (FGD) di Hotel Malindo, Bukittinggi pada 2 Juni 2022 ini.</p>
<p>Dalam FGD tesebut akan dibahas berbagai potensi yang bisa diambil dari kebudayaan Minangkabau terkait isu ketahanan pangan. Sejumlah pihak yang dihadirkan dalam FGD, mulai dari seniman, sanggar, praktisi dan akademisi, akan mengusulkan pandangannya soal kebudayaan Minangkabau dan kaitannya dengan isu tersebut.</p>
<p>“FGD ini salah satu tujuannya adalah mengumpulkan pandangan dan usulan terkait kontribusi dari kebudayaan Minangkabau, melalui warisan budaya benda dan takbenda, pada persoalan ketahanan pangan dan perubahan iklim” papar Heru Joni Putra yang akan memoderatori FGD tersebut.</p>
<p>“Pandangan-pandangan ini, melalui pemerintah pusa, akan coba direkomendasikan pada forum G-20 mendatang dimana Indonesia menjadi tuan rumah,” lanjut Heru.</p>
<p>Sebagai informasi, G-20 sendiri merupakan forum kerja sama multilateral yang terdiri dari 19 negara utama dan Uni Eropa (EU).</p>
<p>Isu ketahan pangan memang tengah menjadi perhatian saat ini. Selain pandemi, situasi geo-politik global juga dikhawatirkan bakal mengakibatkan krisis pangan di tingkat global. Seperti dikatakan Menteri Keuangan Sri Mulyani ke media, bahwa ketegangan geopolitik akibat perang Rusia-Ukraina telah menimbulkan krisis pangan dan energi di berbagai penjuru dunia. Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia juga akan terkena dampaknya.</p>
<p>Isu ini juga marak dibicarakan para akademisi. Dikutip dari greencampus.ipb.ac.id, situs Insitut Pertanian Bogor (IPB), pangan lokal merupakan solusi bagi krisis pangan dan iklim.  Dr. Yayuk Farida Baliwati, dosen IPB  sekaligus pakar Manajemen Sumberdaya Pangan dan Gizi mengungkapkan pentingnya pangan berbasis sumberdaya lokal. J</p>
<p>“Keberlanjutan ekosistem pangan harus memperhatikan penduduk, kesehatan, dan lingkungan hidup baik alam maupun sosial. Tolak ukur keberlanjutan sistem pangan bisa dilihat dari sisi kuantitas dan kualitas ketersediaan dan konsumsi pangan sesuai dengan kecukupan gizi seimbang. Pangan yang diutamakan adalah pangan lokal untuk mengurangi dampak negatif kerusakan lingkungan,” ungkap Dr Yayuk.</p>
<p>Pasar Seni Payakumbuh 2022 akan menghadirkan berbegai bentuk ritual dan kesenian tradisi yang berhubungan ketahanan pangan, seperti ritual <em>bakaua</em> <em>adat</em>. Selain itu, juga akan dipamerkan berbagai ragam kuliner Minangkabau yang merupakan produk dari lingkungan rumah gadang dan pertanian di Sumatra Barat.</p>
<p>Tidak hanya dipamerkan, kuliner tersebut bisa dinikmati dalam bentuk penampilan ala tradisi mulai dari memasak hingga menghidangkannya. Setiap produk kuliner akan ditempatkan dalam sebuah stand dengan jumlah total 22 stand. (<strong>rls</strong>)</p>
<p>&#8212;</p>
<h4>Dapatkan update berita Padang – berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini dari Langgam.id. Mari bergabung di Grup Telegram <strong>Langgam.id News Update</strong>, caranya klik <a href="https://t.me/langgamid" rel="nofollow">https://t.me/langgamid</a>, kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.</h4>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pasar-seni-payakumbuh-2022-mempromosikan-ketahanan-pangan-berbasis-kearifan-lokal/">Pasar Seni Payakumbuh 2022: Mempromosikan Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">156744</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Seniman Tato Asal Brasil Ini Buat Tato Unik Stiker Holografi yang Tampak Asli</title>
		<link>https://langgam.id/seniman-tato-asal-brasil-ini-buat-tato-unik-stiker-holografi-yang-tampak-asli/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Putri Radila]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Nov 2021 01:30:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[Viral]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=136285</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seniman tato asal Brasil buat tato unik seperti stiker holografi yang tampak asli dengan karakteristik kilau metalik. Langgam.id &#8211; Saat ini tato menjadi hal yang biasa di lingkungan masyarakat. Bahkan tidak sedikit orang yang mengoleksi banyak tato di tubuhnya untuk menunjang penampilan. Jika biasanya tato identik dengan warna gelap, hal ini sedikit berbeda dengan tato hasil seniman asal Brasil ini. Seniman tersebut membuat tato unik yang terlihat seperti stiker holografi dengan warna-warna cerah. Melansir dari Odditycentral.com, seniman tato asal Brasil bernama Clayton Dias belum lama ini menarik perhatian publik karena hasil karyanya yang unik. Dia membuat tato yang terlihat seperti</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/seniman-tato-asal-brasil-ini-buat-tato-unik-stiker-holografi-yang-tampak-asli/">Seniman Tato Asal Brasil Ini Buat Tato Unik Stiker Holografi yang Tampak Asli</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="intro-text">
<p>Seniman tato asal Brasil buat tato unik seperti stiker holografi yang tampak asli dengan karakteristik kilau metalik.</p>
</div>
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Saat ini tato menjadi hal yang biasa di lingkungan masyarakat. Bahkan tidak sedikit orang yang mengoleksi banyak tato di tubuhnya untuk menunjang penampilan.</p>
<p>Jika biasanya tato identik dengan warna gelap, hal ini sedikit berbeda dengan tato hasil seniman asal Brasil ini. Seniman tersebut membuat tato unik yang terlihat seperti stiker holografi dengan warna-warna cerah.</p>
<p>Melansir dari <a href="https://www.odditycentral.com/art/talented-tattoo-artist-specializes-in-holographic-sticker-tattoos.html"><em>Odditycentral.com</em></a>, seniman tato asal Brasil bernama Clayton Dias belum lama ini menarik perhatian publik karena hasil karyanya yang unik. Dia membuat tato yang terlihat seperti stiker holografi khasnya yang tidak hanya memiliki karakteristik kilau metalik yang asli, tetapi juga tampak diaplikasikan sangat baik pada kulit.</p>
<p><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-136288" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/Tato-stiker-holografi2-Langgam.id_.jpg?resize=800%2C475&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="800" height="475" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/Tato-stiker-holografi2-Langgam.id_.jpg?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/Tato-stiker-holografi2-Langgam.id_.jpg?resize=300%2C178&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/Tato-stiker-holografi2-Langgam.id_.jpg?resize=768%2C456&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/Tato-stiker-holografi2-Langgam.id_.jpg?resize=750%2C445&amp;ssl=1 750w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /></p>
<p>Akhir-akhir ini, tato stiker memang tengah sangat populer di kalangan masyarakat, salah satunya di Brasil. Bahkan artis seperti Lucke Cormier juga memiliki tato stiker di tubuhnya.</p>
<p>Popularitas tato stiker ini menarik seniman berbakat tato asal Brasil untuk membuat karya yang memukau. Clayton Dias yang berasal dari Porto Alegre, Brasil, ini telah mengembangkan tekniknya sendiri dalam memberikan tato stiker perawatan holografik. Tato tersebut tampak unik lantaran miliki kilau metalik yang khas.</p>
<p>“Idenya berasal dari studi warna yang saya putuskan untuk diterapkan dalam bentuk gambar holografik,” kata Dias kepada <em>My Modern Met</em>.</p>
<p>“Dalam gaya ini, sangat berbeda dari teknik yang sudah saya gunakan, sangat bagus untuk berinovasi. Tato holografik membutuhkan teknik yang baik dalam menerapkan warna,” tambahnya.</p>
<p><img data-recalc-dims="1" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-136287" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/Tato-stiker-holografi1-Langgam.id_.jpg?resize=800%2C475&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="800" height="475" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/Tato-stiker-holografi1-Langgam.id_.jpg?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/Tato-stiker-holografi1-Langgam.id_.jpg?resize=300%2C178&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/Tato-stiker-holografi1-Langgam.id_.jpg?resize=768%2C456&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/Tato-stiker-holografi1-Langgam.id_.jpg?resize=750%2C445&amp;ssl=1 750w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /></p>
<p>Beberapa hasil karya Dias dibagikan seniman tato itu di akun Instagram miliknya. Meski tato tersebut sudah sangat memukau, namun Dias mengaku dirinya masih mengasah teknik holografi agar karyanya dapat lebih memukau lagi.</p>
<p>Dilihat dari unggahan Dias di Instagram, cukup banyak hasil tato stiker holografi yang telah berhasil dibuat seniman tato itu. Seiring waktu juga terlihat tato buatan Dias tampak terus berkembang.</p>
<p><img data-recalc-dims="1" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-136289" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/Tato-stiker-Langgam.id_.jpg?resize=800%2C475&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="800" height="475" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/Tato-stiker-Langgam.id_.jpg?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/Tato-stiker-Langgam.id_.jpg?resize=300%2C178&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/Tato-stiker-Langgam.id_.jpg?resize=768%2C456&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/Tato-stiker-Langgam.id_.jpg?resize=750%2C445&amp;ssl=1 750w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /></p>
<p>Pada awalnya, Dias hanya membuat stiker tato sederhana. Kemudian seniman itu berhasil menemukan cara untuk membuat tato seperti tampak terkelupas dari kulit.</p>
<p><strong>Baca juga: <a href="https://langgam.id/kisah-gadis-yang-seluruh-tubuhnya-ditato-dicaci-maki-hingga-dilarang-tidak-boleh-punya-anak/">Kisah Gadis yang Seluruh Tubuhnya Ditato, Dicaci Maki Hingga Dilarang Tidak Boleh Punya Anak</a></strong></p>
<p>Akhirnya, Dias mengembangkan teknik itu untuk membuat stiker tampak holografik. Dia pun fokus pada pengetahuan yang kuat tentang bayangan, pantulan cahaya dan perubahan warna yang halus.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/seniman-tato-asal-brasil-ini-buat-tato-unik-stiker-holografi-yang-tampak-asli/">Seniman Tato Asal Brasil Ini Buat Tato Unik Stiker Holografi yang Tampak Asli</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">136285</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Seniman Asal Sumbar Gusmen Heriadi Gelar Pameran Tunggal Ke-10 di Yogyakarta</title>
		<link>https://langgam.id/seniman-asal-sumbar-gusmen-heriadi-gelar-pameran-tunggal-ke-10-di-yogyakarta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Nov 2021 22:23:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Pameran]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=136859</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Seniman Gusmen Heriadi menggelar pameran tunggal di Jogja Gallery, Yogyakarta, pada 7–30 November 2021. Ini adalah pameran tunggal Gusmen ke-10. Gusmen Heriadi adalah seniman asal Sumatra Barat yang telah berkarya selama 25 tahun. Pada pameran kali ini, ia menampilkan karya-karya terbaik selama proses kreatif berkesenian. Dalam siaran pers yang diterima langgam.id pada Rabu (3/11/2021) malam, Gusmen menyebut gelar karya bertajuk “Belum Selesai&#8221; ini sebagai pameran restrospektif. Sebanyak 150 karya yang dipamerkan, terdiri dari sketsa, drawing, lukisan, hingga karya tiga dimensi. Gusmen menunjukkan kekayaan teknik dan keberagaman tema yang diangkatnya. Gusmen mengundang delapan penulis dari berbagai latar untuk memperkaya</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/seniman-asal-sumbar-gusmen-heriadi-gelar-pameran-tunggal-ke-10-di-yogyakarta/">Seniman Asal Sumbar Gusmen Heriadi Gelar Pameran Tunggal Ke-10 di Yogyakarta</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Seniman Gusmen Heriadi menggelar pameran tunggal di Jogja Gallery, Yogyakarta, pada 7–30 November 2021. Ini adalah pameran tunggal Gusmen ke-10.</p>
<p>Gusmen Heriadi adalah seniman asal Sumatra Barat yang telah berkarya selama 25 tahun. Pada pameran kali ini, ia menampilkan karya-karya terbaik selama proses kreatif berkesenian.</p>
<p>Dalam siaran pers yang diterima langgam.id pada Rabu (3/11/2021) malam, Gusmen menyebut gelar karya bertajuk “Belum Selesai&#8221; ini sebagai pameran restrospektif.</p>
<p>Sebanyak 150 karya yang dipamerkan, terdiri dari sketsa, drawing, lukisan, hingga karya tiga dimensi. Gusmen menunjukkan kekayaan teknik dan keberagaman tema yang diangkatnya.</p>
<p>Gusmen mengundang delapan penulis dari berbagai latar untuk memperkaya pembacaan dan tafsir atas karya-karyanya. Mereka adalah AA Nurjaman (penulis seni rupa), Sudjud Dartanto (kurator dan dosen seni rupa ISI Yogyakarta), Heru Joni Putra (sastrawan), Yaya Marjan (jurnalis), Wenri Wanhar (sejarawan dan jurnalis), Rijal Tanmenan (etnomusikolog), Syam Terrajana ( perupa dan jurnalis) dan Syofiardi Bachyul Jb, penulis dan jurnalis yang tak lain kakak kandung Gusmen Heriadi.</p>
<p>Gusmen Heriadi lahir di Pariaman pada 18 Agutus 1974. Ia menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Padang Panjang, Sumatera Barat (1994) dan melanjutkan studi ke Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dia tamat pada 2005.</p>
<p>Tajuk “Belum Selesai” sengaja dipilihnya, sebagai penanda pergumulan proses kreatifnya yang terus-menerus bereksplorasi. Tanpa dikekang batas, tema, ataupun sesuatu yang jadi ciri khas.</p>
<p>“Bagi Gusmen, suatu ciri khas kesenimanan tidaklah penting, yang penting justru mengembangkan hasrat berkarya yang kemudian diarahkan melalui kekuatan konsepsinya. Kekuatan dorongan hasrat inilah yang kemudian mampu mengkonseptualisasikan untuk ‘berbeda’ dan ‘menjadi’, yang dikaitkan dengan keterbukaan seiring perubahan sistem-sistem,” tulis AA Nurjaman dalam salah satu pengantarnya.</p>
<p>Menurut AA Nurjaman, pada periode awal proses kreatifnya (1995-2004), Gusmen sudah menunjukkan keragaman gaya. Itu seperti mempertegas kebebasannya dari kungkungan ciri khas kesenimanan. Suatu ketika ia menampilkan lukisan realistik, di saat lainnya bergaya surealistik, kubistik, bahkan abstrak.</p>
<p>“Seperti seorang pekerja nomad, Gusmen tidak peduli dengan pengkategorian gaya-gaya lukisan ala Barat. Klasifikasi para filsuf Barat terhadap karya seni hanya berakibat mempersempit daya imajinasi seniman,” tulisnya.</p>
<p>Sedangkan pada periode kedua (2005-2021) Gusmen mulai membuat karya-karya seri tematik, antara lain: seri kotak kaca, seri kota, seri kembang alam, seri kabar, seri kitab, seri tamu, seri fashions, seri hening, seri puncak, seri bunyi, dan seri semesta intuisi. Lukisan-lukisan seri tematik Gusmen juga menampilkan beragam gaya atau style, mempertegas kebebasannya dari kungkungan ciri khas kesenimanan.</p>
<p>Sejarawan dan jurnalis, Wenri Wanhar, yang didapuk jadi perespon untuk karya serial “Kitab” dan “Kembang Alam” menilai Gusmen bukan sekadar pelukis. Tapi juga filsuf.</p>
<p>Melalui fragmen lukisan Seri Kitab, Gusmen mempertontonkan hamparan buku, wajah-wajah para pemikir yang mempengaruhi selapis peradaban dunia. Jika buku adalah lambang pengetahuan, semakin manusia menceburkan diri ke dalamnya, maka harapannya relasi manusia dengan semesta semakin baik. Karena yang memimpin adalah ilmu pengetahuan.</p>
<p>Sedangkan pada Seri Kembang Alam, Gusmen merepresentasikan kenyataan berkebalikan. Ia menggunakan simbol satwa—termasuk manusia, dan yang tak terlihat&#8211; pada ruang hidup yang seolah menanti kemusnahan di ujung jalan.</p>
<p>“Dua seri lukisan ini mengajak kita membaca kontradiksi. Landskap kehidupan yang berjalan menuju arah saling membelakang. Manusia merasa bergerak maju dengan ilmu pengetahuannya, namun keselarasan alam raya malah mengalami kemunduran. Ada relasi yang rusak. Ada kausalitas yang sesat,” tulisnya.</p>
<h2>Sketsa Penjara</h2>
<p>Di antara ratusan karyanya itu, Gusmen menyisipkan babak kecil dalam perjalanannya berkesenian. Itu berupa sketsa-sketsa yang dibuatnya saat mendekam selama satu setengah bulan di penjara di Yogyakarta. Peristiwa itu terjadi 1997 silam. Gusmen masuk bui karena terjaring operasi razia senjata tajam. Polisi mendapati sebilah rencong dalam tasnya di kawasan Malioboro. Padahal rencong itu adalah cenderamata dari kawannya asal Aceh.</p>
<p>Di penjara, Gusmen membuat belasan sketsa. Menggambarkan suasana kehidupan orang-orang pesakitan. Kertas dan bolpoin dia peroleh dari Ibrahim. Kawan sesama perupa dan mahasiswa ISI Yogyakarta.</p>
<p>“Ada satu hal kuperoleh dari pergaulanku dengan sesama napi; rata-rata dari mereka tak merasa benar-benar bersalah dan pantas dihukum. Dalam penjara, aku juga mahfum. Hukum bisa dibeli. Seorang jaksa menemui kawanku. Meminta sejumlah uang untuk meringankan hukumanku,” tulis Gusmen dalam pengantar karya sketsa penjara yang dia beri tajuk “rencong”.</p>
<p>Gusmen Heriadi lahir di Pariaman, 18 Agutus 1974. dia menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Padang Panjang, Sumatera Barat (1994) dan melanjutkan studi ke Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dia tamat pada 2005.</p>
<p>Sejumlah penghargaan bergengsi yang dia raih antara lain “Best Works BAKABA #6 Sakato Art Community, Yogyakarta, Indonesia” 2017. “Special Appreciation of Jakarta Art Award, Indonesia” 2006. “CP BIENNALE Jakarta, Indonesia” 2003, “Finalist of Indofood Art Award, Indonesia” 2002. “Finalist of Philip Morris Art Award, Indonesia” 2000–1998, The Best Acrylic Painting, ISI Yogyakarta, Indonesia” 1997, ”The Best Watercolor Painting, ISI Yogyakarta, Indonesia” 1996.</p>
<p>Kakak kandung Gusmen Heriadi, Syofiardi Bachyul jb mengenang adiknya itu sebagai anak nakal. “Mungkin pengaruh ia lahir bulan Agustus dan berbintang Leo. Bisa juga campuran nakal dengan keingintahuan yang tinggi. Waktu masih bisa merangkak ia pernah hanyut dan nyaris digilas truk fuso,” tulisnya.</p>
<p>Gusmen juga pernah diusir Guru Fisika dari kelas dan disuruh menghormat bendera di lapangan hingga jam pelajarannya usai. Ia dihukum karena saat Bu Guru menerangkan pelajaran Gusmen kedapatan asyik menggambar.</p>
<p>Kesukaan membaca komik juga berpengaruh besar kepada Gusmen untuk menjadi pelukis.</p>
<p>“Saya sering memintanya membuat ilustrasi untuk halaman cerpen yang saya kelola,“ tulis Syofiardi yang berprofesi jurnalis dan menyukai karya sastra.</p>
<p>Ayah dan Ibu, tulis Syofiardi, bukanlah orang terpelajar dalam pengertian mengenyam sekolah formal. Mereka tidak tamat sekolah dasar. Keluarga besar Gusmen Heriadi juga tidak ada yang seniman. Ayahnya seorang tukang.</p>
<p>“Tetapi Ayah seseorang yang menghargai karya, meski dalam bentuk karya pertukangan. Ia tidak pernah menceritakan hasil pekerjaannya dari jumlah uang yang ia dapatkan, melainkan mengagumi bentuk dan kekuatannya. Ia tak kenal lelah dan juga tidak menyukai ada kekurangan pada ciptaanya. Terkadang ketika melihat Gusmen melukis, saya teringat Ayah mengerjakan pembuatan pintu rumah, meja, atau menghaluskan plester dinding. Mungkin dari situlah darah itu mengalir dengan medium yang berbeda: ketekunan, keinginan sempurna, dan tak kenal lelah,” tulisnya.</p>
<p>Penulis Sudjud Dartanto mengatakan Gusmen adalah sedikit perupa yang tak perlu diragukan lagi soal penguasaan teknis, terutama pada caranya melahirkan rupa puitik dari percakapan dan pengamatan atas objek dan fenomena sosial-budaya.</p>
<p>“Ia adalah aset perupa Indonesia yang mewartakan spirit universal, dalam arti karya-karyanya dapat diapreasiasi oleh manusia tanpa batas,&#8221; katanya.</p>
<p>Pameran retrospeksi merupakan program Jogja Gallery. Ditawarkan pada seniman yang memiliki rentang waktu proses kreatif minimal 25 tahun. “Tujuannya, untuk merekam dan melakukan pembacaan utuh atas karya-karya yang dihasilkan seniman dalam rentang waktu itu. Gusmen Heriadi mendapatkan kehormatan, jadi seniman pertama dalam program ini,” ujar General Manager Jogja Gallery, Daru Artono.(*)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/seniman-asal-sumbar-gusmen-heriadi-gelar-pameran-tunggal-ke-10-di-yogyakarta/">Seniman Asal Sumbar Gusmen Heriadi Gelar Pameran Tunggal Ke-10 di Yogyakarta</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">136859</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Lestarikan Seni dan Budaya, Silek Arts Festival 2021 Digelar di Payakumbuh</title>
		<link>https://langgam.id/lestarikan-seni-dan-budaya-silek-arts-festival-2021-digelar-di-payakumbuh/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2021 14:48:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Payakumbuh]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=124217</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Wakil Wali Kota Payakumbuh Erwin Yunaz membuka secara resmi Silek Arts Festival (SAF) 2021, Sabtu (28/8/2021). Kegiatan tersebut digelar di Kampung Adat Balai Kaliki, Kelurahan Koto Kociak Kubu Tapak Rajo. Kegiatan Silek Arts Festival (SAF) 2021 ini dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang ketat. Erwin Yunaz mengucapkan terima kasih atas kepercayaannya menunjuk Kota Payakumbuh sebagai salah satu dari enam kabupaten/kota tuan rumah penyelenggaraan SAF 2021 ini. Ia mengharapkan, SAF ini sebagai salah satu cara untuk melestarikan adat dan budaya Minangkabau. Sebab, bangsa yang beradat adalah masyarakat yang melestarikan nilai budayanya. &#8220;Ini merupakan tanggung jawab kita bersama untuk</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/lestarikan-seni-dan-budaya-silek-arts-festival-2021-digelar-di-payakumbuh/">Lestarikan Seni dan Budaya, Silek Arts Festival 2021 Digelar di Payakumbuh</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id &#8211;</strong> Wakil Wali Kota Payakumbuh Erwin Yunaz membuka secara resmi Silek Arts Festival (SAF) 2021, Sabtu (28/8/2021). Kegiatan tersebut digelar di Kampung Adat Balai Kaliki, Kelurahan Koto Kociak Kubu Tapak Rajo.</p>
<p>Kegiatan Silek Arts Festival (SAF) 2021 ini dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang ketat.</p>
<p>Erwin Yunaz mengucapkan terima kasih atas kepercayaannya menunjuk Kota Payakumbuh sebagai salah satu dari enam kabupaten/kota tuan rumah penyelenggaraan SAF 2021 ini.</p>
<p>Ia mengharapkan, SAF ini sebagai salah satu cara untuk melestarikan adat dan budaya Minangkabau. Sebab, bangsa yang beradat adalah masyarakat yang melestarikan nilai budayanya.</p>
<p>&#8220;Ini merupakan tanggung jawab kita bersama untuk melestarikan budaya Minangkabau. Sebab generasi muda kita adalah pewaris untuk masa yang akan datang,&#8221; ujar Erwin Yunaz.</p>
<p>Ia menambahkan, bahwa kegiatan SAF ini merupakan salah satu upaya menjaga budaya yang telah melekat ke Ranah Minang.</p>
<p>&#8220;Mari kita berjuang bersama-sama melestarikan budaya Minangkabau,&#8221; harap Erwin Yunaz.</p>
<h2>Digelar di 6 Kabupaten/Kota</h2>
<p>Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar Gemala Ranti mengatakan, kegiatan ini merupakan program tahunan Indonesiana Flatform Kebudayaan Kementerian Dikbud dan Ristek Republik Indonesia.</p>
<p>Kegiatan ini terangnya, pelaksanaannya sejak 21 Agustus lalu dan berakhir 31 Agustus 2021. SAF digelar di enam kabupaten/kota, yakni Padang, Solok, Sijunjung, Agam, Payakumbuh dan Pasaman.</p>
<p>&#8220;Untuk Kota Payakumbuh pelaksanaannya selama dua hari, 28-29 Agustus. Kemudian penutupan di Pasaman 30-31 Agustus,&#8221; bebernya.</p>
<p>Gemala menjelaskan, SAF kegiatan ini telah dilaksanakan sejak 2018 lalu dan menjadi kegiatan tahunan yang digelar oleh Dinas Kebudayaan Sumbar.</p>
<p>&#8220;Kegiatan ini sempat terhenti pada tahun 2020 akibat pandemi covid-19,&#8221; ucap Gemala.</p>
<p>Gemala mengungkapkan, kegiatan SAF sebagai ajang melestarikan warisan budaya Minangkabau. Hal ini agar generasi muda semakin mencintai keindahan dan keaneka ragaman budaya yang ada di Sumbar serta mampu menjaga dan melestarikan warisan tersebut.</p>
<p>&#8220;Ajang ini bukan kompetisi, tapi sebagai wadah dalam menjaga dan melestarikan seni dan budaya. Sekaligus menjalin silaturahmi antar perguruan silat,&#8221; tuturnya.</p>
<p><strong>Baca juga: <a href="https://langgam.id/oktober-eks-balai-kota-payakumbuh-beroperasional-jadi-tempat-isolasi/">Oktober, Eks Balai Kota Payakumbuh Beroperasional Jadi Tempat Isolasi</a></strong></p>
<p>Kadisparpora Kota Payakumbuh Desmon Corina mengatakan untuk SAF 2021 di Kota Payakumbuh menggunakan sistem tanpa pengunjung.</p>
<p>Namun masyarakat sebutnya, masih bisa menyaksikan secara virtual melalui media sosial youtube dan Instagram.</p>
<p>&#8220;Untuk peserta SAF 2021 kali ini khusus warga Balai Kaliki yang terdiri dari niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang dan generasi muda Karang Taruna Kembang Delima Balai Kaliki,&#8221; katanya.</p>
<p>Desmon Corina menambahkan, kegiatan dalam SAF ini yaitu pameran Kurambik, workshop Kurambik. Kemudian, FGD kelurahan pemajuan kebudayaan, atraksi lempar pisau dan atraksi tebas golok.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/lestarikan-seni-dan-budaya-silek-arts-festival-2021-digelar-di-payakumbuh/">Lestarikan Seni dan Budaya, Silek Arts Festival 2021 Digelar di Payakumbuh</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">124217</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 26/99 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-06-12 17:10:18 by W3 Total Cache
-->