<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Seni Tradisi Minang Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/seni-tradisi-minang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/seni-tradisi-minang/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Feb 2026 02:22:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Seni Tradisi Minang Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/seni-tradisi-minang/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Indang Baringin Sakti dan Perjuangan Budaya di Lubuk Gadang</title>
		<link>https://langgam.id/indang-baringin-sakti-dan-perjuangan-budaya-di-lubuk-gadang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Palanta]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2026 02:22:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Kesenian Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Tradisi Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=242896</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis: Hamka Fedriansyah Malam di Lubuk Gadang tak selalu sunyi. Pada waktu-waktu tertentu, dentuman rebana menggema dari ruang terbuka nagari, memanggil ingatan kolektif masyarakat akan sebuah tradisi lama bernama Indang Baringin Sakti. Irama yang sampai ke telinga bukan sekadar musik, lebih dari sekedar sejarah, dakwah, dan kebersamaan masyarakat yang selalu hadir puluhan tahun di jantung Solok Selatan. Di tengah gempuran hiburan modern dan layar gawai yang tak pernah tidur, Indang Baringin Sakti tetap berdiri meski perlahan semakin sepi dari generasi muda. Indang Baringin Sakti berakar dari perjalanan seorang perantau asal Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, yang dikenal masyarakat dengan sebutan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/indang-baringin-sakti-dan-perjuangan-budaya-di-lubuk-gadang/">Indang Baringin Sakti dan Perjuangan Budaya di Lubuk Gadang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Penulis: Hamka Fedriansyah</strong></p>



<p>Malam di Lubuk Gadang tak selalu sunyi. Pada waktu-waktu tertentu, dentuman rebana menggema dari ruang terbuka nagari, memanggil ingatan kolektif masyarakat akan sebuah tradisi lama bernama Indang Baringin Sakti. Irama yang sampai ke telinga bukan sekadar musik, lebih dari sekedar sejarah, dakwah, dan kebersamaan masyarakat yang selalu hadir puluhan tahun di jantung Solok Selatan. Di tengah gempuran hiburan modern dan layar gawai yang tak pernah tidur, Indang Baringin Sakti tetap berdiri meski perlahan semakin sepi dari generasi muda.</p>



<p>Indang Baringin Sakti berakar dari perjalanan seorang perantau asal Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, yang dikenal masyarakat dengan sebutan Guru Tami. Menetap di Jorong Durian Tarung lalu mulai memperkenalkan kesenian indang kepada warga, sebelum akhirnya menyebar ke seluruh Nagari Lubuk Gadang. Tahun pasti kemunculannya tak tercatat dalam arsip resmi, namun masyarakat memperkirakan indang ini telah berkembang sejak sebelum 1950-an. Dari sebuah kesenian kecil di satu jorong, kesenian ini tumbuh menjadi simbol budaya nagari.</p>



<p>Berbeda dengan pertunjukan musik biasa, Indang Baringin Sakti menyimpan filosofi dakwah. Syair-syair yang dilantunkan berkisah tentang para nabi, tauhid, dan perjuangan Islam masa lalu. Melalui irama dan lirik, indang menjadi sarana pendidikan keagamaan masyarakat di masa ketika akses pendidikan formal masih terbatas. Beberapa pola lagu yang masih dikenal hingga kini antara lain Gugua Maulai, Gugua Duo, Gugua Tigo, dan Gugua Ilala, yang terakhir memiliki irama lebih keras dan penuh semangat. Namun, banyak cerita lama yang dulu hidup dalam indang kini mulai dilupakan seiring bergantinya generasi. Pergeseran generasi membuat pengetahuan tentang narasi indang semakin menyempit.</p>



<p>Pertunjukan Indang Baringin Sakti dimainkan oleh sekitar 10 hingga 20 orang yang duduk berhadap-hadapan dalam dua barisan. Masing-masing memegang rebana, memukul irama serempak mengikuti pola sambil melantunkan syair dan gerakan sederhana yang penuh kekompakan. Indang juga kerap hadir rutin dalam hajatan masyarakat, peringatan hari besar Islam, dan agenda pariwisata serta pertunjukan akhir pekan di Ruang Terbuka Hijau Solok Selatan. Sebelumnya bila di sini lebih banyak organ tunggal, sekarang indang menjadi salah satu hiburan edukasi yang ditunggu masyarakat.</p>



<p>Keberlangsungan Indang Baringin Sakti hingga hari ini tidak lepas dari peran Kasul Munami, yang telah memimpin kelompok indang sejak 1970. Di usia 71 tahun, ia masih menjadi figur sentral dalam menjaga tradisi ini tetap hidup. Di masa kepemimpinannya, indang bendang sakti pernah tampil di berbagai daerah seperti Padang, Batusangkar, Pesisir Selatan, hingga Medan. Sebuah undangan tampil ke Jakarta sempat direncanakan meski akhirnya batal dikarenakan bencana yang sempat mengguncang Pulau Sumatera berapa waktu lalu. Namun aktivitas latihan kini tidak lagi rutin. Persiapan biasanya hanya dilakukan ketika ada undangan tampil ke luar daerah. Untuk acara di tingkat nagari, para pemain mengandalkan kebiasaan lama yang telah terbentuk selama puluhan tahun. Bagi Kasul Munami, indang bukan sekadar pertunjukan itu adalah amanah sejarah yang diampu.</p>



<p>Meski masih dicintai masyarakat, kondisi ini mencerminkan tantangan terbesar Indang Baringin Sakti hari ini adalah regenerasi. Minat generasi muda terhadap indang tergolong rendah. Modernisasi dan teknologi membuat kesenian tradisional kalah bersaing dengan hiburan digital. Mencari penerus menjadi semakin sulit, sementara pemain aktif sebagian besar berasal dari kelompok berusia lanjut yang kian menua. Jika kondisi ini terus berlanjut, indang baringin sakti berisiko berhenti bersama generasi terakhirnya.</p>



<p>Upaya pelestarian sejauh ini masih bertumpu pada kesadaran masyarakat dan dukungan terbatas pemerintah nagari. Warga tetap memilih indang sebagai pertunjukan dalam acara adat dan keagamaan, serta mengumpulkan sumbangan untuk memperbarui peralatan. Pemerintah daerah pun kerap menampilkan indang dalam acara resmi sebagai representasi budaya Solok Selatan.</p>



<p>Namun langkah-langkah tersebut dinilai belum cukup untuk menjawab persoalan regenerasi. Tanpa program pembinaan berkelanjutan, pelibatan sekolah, dan ruang ekspresi yang menarik bagi anak muda, keberlanjutan indang akan terus berada di posisi rentan.</p>



<p>Indang Baringin Sakti hari ini berada di persimpangan. Ia masih hidup dalam ingatan dan praktik masyarakat, tetapi perlahan kehilangan pewaris. Tradisi ini bukan soal seni pertunjukan melainkan identitas, jejak dakwah, ruang kebersamaan dan berkumpul masyarakat Lubuk Gadang. Di tengah zaman yang bergerak cepat, indang berdiri sebagai pengingat bahwa budaya tidak hanya untuk dikenang, tetapi untuk diwariskan. </p>



<p>Pertanyaannya kini bukan apakah indang masih hidup melainkan siapa yang akan melanjutkannya. Selama rabana masih berdentum dan masyarakat masih berkumpul dalam iramanya, Indang Baringin Sakti terus melawan lupa. (*)</p>



<p><em>Hamka Fedriansyah, mahasiswa KKN Universitas Andalas di Lubuk Gadang</em></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/indang-baringin-sakti-dan-perjuangan-budaya-di-lubuk-gadang/">Indang Baringin Sakti dan Perjuangan Budaya di Lubuk Gadang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">242896</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Panggung Publik Sumatera Ke-5 di Padang Panjang Berakhir Sudah</title>
		<link>https://langgam.id/panggung-publik-sumatera-ke-5-di-padang-panjang-berakhir-sudah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Nov 2021 09:33:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Padang Panjang]]></category>
		<category><![CDATA[Pentas Seni]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Tradisi Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=138752</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id- Pemerintah Kota Padang Panjang resmi melakukan kegiatan penutupan perhelatan Panggung Publik Sumatera ke-5 (PPS 5). Digelar selama dua hari dengan mengusung tema &#8220;Kabar dari Stasiun Kereta Api&#8221; kegiatan tersebut ditutup secara langsung oleh Wali Kota Padang Padang Panjang, Fadly Amran. Perhelatan yang dipusatkan di Stasiun Kereta Api Padang Panjang tersebut, resmi ditutup pada Kamis (18/11/2021) malam. Disemarakan dengan berbagai penampilan seni dari para penggiatnya penutupan kegiatan tersebut berlangsung meriah. “Penampilan pantomime dengan tema &#8220;Romantisme di Stasiun Kereta Api&#8221;, Teater Sakata kolaborasi dengan seniman Dede Dablo dan Della Nasution, penampilan tari eksperimental oleh Susas Rita Loravianti yang dikolaborasikan dengan musik</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/panggung-publik-sumatera-ke-5-di-padang-panjang-berakhir-sudah/">Panggung Publik Sumatera Ke-5 di Padang Panjang Berakhir Sudah</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id-</strong> Pemerintah Kota Padang Panjang resmi melakukan kegiatan penutupan perhelatan Panggung Publik Sumatera ke-5 (PPS 5). Digelar selama dua hari dengan mengusung tema &#8220;Kabar dari Stasiun Kereta Api&#8221; kegiatan tersebut ditutup secara langsung oleh Wali Kota Padang Padang Panjang, Fadly Amran. <br /><br />Perhelatan yang dipusatkan di Stasiun Kereta Api Padang Panjang tersebut, resmi ditutup pada Kamis (18/11/2021) malam. Disemarakan dengan berbagai penampilan seni dari para penggiatnya penutupan kegiatan tersebut berlangsung meriah. <br /><br />“Penampilan pantomime dengan tema &#8220;Romantisme di Stasiun Kereta Api&#8221;, Teater Sakata kolaborasi dengan seniman Dede Dablo dan Della Nasution, penampilan tari eksperimental oleh Susas Rita Loravianti yang dikolaborasikan dengan musik Galuik Sirompak Grup Talago Buni, serta penampilan instrumen musik noise oleh Avant Garde Dewa Gugat,” tulis <em>Kominfo Padang Panjang</em>, Jumat (19/11/2021)<br /><br />Salah seorang seniman yang terlibat dalam Grup Talago Buni, Susas Rita Loravianti mengungkapkan bahwa perhelatan ini merupakan salah satu langkah untuk mengakrabkan seni dikehidupan masyarakat. <br /><br />“Dalam kegiatan ini, saya bersama Grup Talago Buni menyuguhkan karya seni tari eksperimental. Tari ini digarap dengan waktu yang singkat, dengan menafsirkan musik Galuik Sirompak tentang Gasiang Tengkorak di beberapa daerah di Sumbar,” terang wanita yang kerap disapa Lora itu.<br /><br />Wako Fadly Amran saat menutup PPS 5 menngungkapkan rasa apresiasianya atas pagelaran yang sudah dilaksanakan. Orang nomor satu di kota Padang Panjang tersebut juga menyampaikan harapannya bahwa kegiatan ini dapat menjadi penggerak para seniman agar terus berkarya. <br /><br />“Selain Kota Serambi Mekkah, Padang Panjang juga menjadi Kota Seni. Dengan hadirnya panggung-panggung seni seperti ini, mampu menggerakkan para seniman untuk terus berkarya di Kota Padang Panjang ini,” ungkap Fadly.<br /><br />Fadly juga menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Padang Panjang melalui Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Porapar) akan senantiasa mendukung setiap kegiatan yang dihelat di Kota Serambi Mekah tersebut. <br /><br />&#8220;Kegiatan seni yang mampu meramaikan dengan meningkatkan kunjungan ke Kota Padang Panjang yang nantinya berimbas kepada ekonomi masyarakat, akan selalu kita support dan dorong pelaksanaannya,” sebut Fadly. </p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/panggung-publik-sumatera-ke-5-di-padang-panjang-berakhir-sudah/">Panggung Publik Sumatera Ke-5 di Padang Panjang Berakhir Sudah</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">138752</post-id>	</item>
		<item>
		<title>50 Peserta Ikuti Worskhop Pengembangan Seni Kreasi Berbasis Tradisi di Solok Selatan</title>
		<link>https://langgam.id/50-peserta-ikuti-worskhop-pengembangan-seni-kreasi-berbasis-tradisi-di-solok-selatan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Jun 2021 01:51:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Dinas Kebudayaan Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Tradisi Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=109972</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Sebanyak 50 peserta dari komunitas dan sanggar seni yang berada di Kabupaten Solok Selatan mengikuti Workshop Pengembangan Seni Kreasi Berbasis Tradisi. Kegiatan ini digelar Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) selama tiga hari di Muara Labuh, Solok Selatan, pada 22-24 Juni 2021. Acara ini merupakan kontribusi dari pokok pikiran Anggota DPRD Provinsi Sumbar Mario Syah Johan melalui dinas kebudayaan. Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar Gemala Ranti dalam sambutannya mengatakan, pemprov bersama DPRD memberikan perhatian untuk pembangunan dan peningkatan sumber daya manusia khususnya urusan kebudayaan. Menurutnya, untuk program pembinaan kepada seniman dan budayawan difokuskan kepada generasi muda dengan berbagai</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/50-peserta-ikuti-worskhop-pengembangan-seni-kreasi-berbasis-tradisi-di-solok-selatan/">50 Peserta Ikuti Worskhop Pengembangan Seni Kreasi Berbasis Tradisi di Solok Selatan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><strong>Langgam.id</strong></a> &#8211; Sebanyak 50 peserta dari komunitas dan sanggar seni yang berada di Kabupaten Solok Selatan mengikuti Workshop Pengembangan Seni Kreasi Berbasis Tradisi. Kegiatan ini digelar Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) selama tiga hari di Muara Labuh, Solok Selatan, pada 22-24 Juni 2021.</p>
<p>Acara ini merupakan kontribusi dari pokok pikiran Anggota DPRD Provinsi Sumbar Mario Syah Johan melalui dinas kebudayaan. Kepala <a href="http://sumbarprov.go.id">Dinas Kebudayaan</a> Provinsi Sumbar Gemala Ranti dalam sambutannya mengatakan, pemprov bersama DPRD memberikan perhatian untuk pembangunan dan peningkatan sumber daya manusia khususnya urusan kebudayaan.</p>
<p>Menurutnya, untuk program pembinaan kepada seniman dan budayawan difokuskan kepada generasi muda dengan berbagai kegiatan. Seperti, workshop, lokakarya, bimbingan teknis dan residensi melalui bimbingan para maestro seni, akademisi, praktisi seni dan budayawan.</p>
<p>&#8220;Berbagai program dari dinas kebudayaan provinsi tidak akan optimal tanpa adanya dukungan dari pemerintah kabupaten/kota, komunitas seni dan budaya, media dan <em>stake holders</em> lainnya. Bergerak dan maju bersama untuk kebudayaan harus dijadikan visi kita bersama, karena kejayaan sebuah bangsa/negara dilihat dari bagaimana bangsa tersebut menghargai serta melestarikan budayanya,&#8221; kata Gemala, dalam rilis kepada media, Rabu (23/6/2021).</p>
<p>Anggota DPRD Sumbar Mario Syah Johan yang hadir saat pembukaan mengatakan, kebangkitan kebudayaan Minangkabau tergantung pada program dan kegiatan yang diformulasikan dengan skala prioritas dan kebutuhan pelaku seni dan budaya tersebut.</p>
<p>Sementara, Kepala Bidang Kesenian dan Diplomasi Budaya Dinas Kebudayaan Sumbar Ilfitra menyampaian, kegiatan tersebut digelar untuk meningkatkan kapasitas para pelaku seni dalam tata kelola, kreativitas dan pengembangan ide dalam penciptaan karya-karya kreasi berbasis tradisi.</p>
<p>&#8220;Keterlibatan kantong-kantong seni dan budaya di nagari dalam menumbuhkan iklim berkesenian merupakan salah satu indikator utama untuk peningkatan indeks pemajuan kebudayaan,&#8221; katanya.</p>
<p>Workshop sendiri dijalankan dengan mematuhi protokol kesehatan covid-19. Pada kegiatan ini, dinas kebudayaan menghadirkan narasumber dari seniman, akademisi dan praktisi seni, yaitu Eri Mefri, Rafi Loza, Yola Oksandra dan Viveri Yudi. (*/SS)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/50-peserta-ikuti-worskhop-pengembangan-seni-kreasi-berbasis-tradisi-di-solok-selatan/">50 Peserta Ikuti Worskhop Pengembangan Seni Kreasi Berbasis Tradisi di Solok Selatan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">109972</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ronggeng Pasaman, Seni Pertunjukan Padukan 3 Budaya Berbeda</title>
		<link>https://langgam.id/ronggeng-pasaman-seni-pertunjukan-yang-padukan-3-budaya-berbeda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Mar 2021 06:58:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pasaman]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Tradisi Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=96292</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Ronggeng selama ini dikenal sebagai salah satu seni pertunjukan di Jawa. Namun, Sumatra Barat (Sumbar) ternyata juga memiliki kesenian tradisional yang bernama Ronggeng Pasaman. Ronggeng Pasaman adalah kegiatan berbalas pantun dalam bentuk nyanyian dengan iringan musik dan tarian yang masih eksis hingga sekarang. Alat musik pendukung kesenian ini diantaranya biola, gitar, rebana, dan tamburin.Seperti namanya, kesenian ini berkembang di sekitar Kabupaten Pasaman dan Pasaman Barat. Dilansir dari wikipedia, Ronggeng Pasaman biasanya dimainkan oleh minimal sembilan orang yang terdiri dari satu orang ronggeng, tiga orang penampil pria dan lima pemain musik. Seorang ronggeng berperan mendendangkan pantun-pantun dalam pertunjukan. Seorang</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ronggeng-pasaman-seni-pertunjukan-yang-padukan-3-budaya-berbeda/">Ronggeng Pasaman, Seni Pertunjukan Padukan 3 Budaya Berbeda</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><strong>Langgam.id</strong></a> &#8211; Ronggeng selama ini dikenal sebagai salah satu seni pertunjukan di Jawa. Namun, Sumatra Barat (Sumbar) ternyata juga memiliki kesenian tradisional yang bernama Ronggeng Pasaman.</p>
<p>Ronggeng Pasaman adalah kegiatan berbalas pantun dalam bentuk nyanyian dengan iringan musik dan tarian yang masih eksis hingga sekarang. Alat musik pendukung kesenian ini diantaranya biola, gitar, rebana, dan tamburin.Seperti namanya, kesenian ini berkembang di sekitar Kabupaten Pasaman dan Pasaman Barat.</p>
<p>Dilansir dari wikipedia, Ronggeng Pasaman biasanya dimainkan oleh minimal sembilan orang yang terdiri dari satu orang ronggeng, tiga orang penampil pria dan lima pemain musik. Seorang ronggeng berperan mendendangkan pantun-pantun dalam pertunjukan.</p>
<p>Seorang ronggeng adalah orang yang mahir dan ahli dalam berpantun. Selain itu, dia juga harus bersedia berpenampilan seperti perempuan dan biasanya memiliki &#8220;paga diri&#8221; (ilmu batin penjaga diri). Paga diri diperlukan untuk memastikan keamanan ketika sedang tampil.</p>
<p>Dalam pertunjukannya, seorang ronggeng didampingi setidaknya tiga penampil pria. Satu dari tiga penampil bertugas membalas pantun yang dilontarkan ronggeng, sementara dua orang lainnya mendampingi sambil menari.</p>
<p>Penampil pria ini bebas dari mana saja, termasuk dari kalangan penonton, tidak harus ahli dalam berpantun dan biasanya bertugas secara bergiliran. Bahkan, seorang penampil tidak masalah ketika harus bertanya ke orang lain bahkan ke penonton untuk dapat membalas pantun-pantung ronggeng.</p>
<p>Pemain musik terdiri dari lima orang yakni satu orang pemain biola, dua orang pemain gitar, satu orang pemain rebana dan satu orang pemain tamburin. Pemain musik bertanggung jawab pada iringan musik selama pertunjukan berlangsung.</p>
<p>&#8220;Biasanya Ronggeng Pasaman itu digelar kalau lagi ada pesta nikah, atau acara turun mandi,&#8221; kata Erniwati (68) salah seorang warga Lubuk Sikaping, Pasaman saat dihubungi Langgam.id, Selasa (23/3/2021).</p>
<p>Ia menyebut, biasanya pertunjukan dimulai pada malam hari hingga menjelang subuh. Pertunjukan juga murni hanya sebagai hiburan warga, tanpa ada unsur magis atau &#8220;sawer&#8221; seperti di Jawa.</p>
<p>&#8220;Ini memang hanya untuk hiburan saja, sudah dari dulu. Nggak ada itu pakai sawer-sawer seperti di Jawa. Ini berbalas pantun,&#8221; ujarnya.</p>
<p><strong>Sejarah Ronggeng Pasaman<br />
</strong>Dikutip dari <a href="https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbsumbar/ronggeng-pasaman-potret-perpaduan-beda-budaya/">situs resmi</a> Kemendikbud, munculnya ronggeng di Pasaman tidak lepas dari migrasi penduduk pada masa lalu. Beberapa dugaan menyatakan bahwa ronggeng pasaman berasal dari masyarakat Jawa yang migrasi ke Pasaman.</p>
<p>Mereka dibawa penjajang Jepang untuk kerja paksan di perkebunan karet. Kedatangan orang Jawa sekaligus membawa adat kebiasaan mereka, termasuk kesenian ronggeng.</p>
<p>Seiring berjalannya waktu, ronggeng kemudian diadaptasi sesuai dengan adat dan kepercayaan yang ada di Pasaman. Ronggeng pun kemudian mengalami modifikasi sesuai adat masyarakat setempat seperti bahasa syair yang umum menggunakan bahasa Minangkabau dan Mandailing.</p>
<p>Pemainnya yang berganti menjadi pria yang didandani seperti perempuan dan pertunjukannya hanya dimaksudkan sebagai hiburan. Kesenian ini juga menjadi marak ditampilkan pada acara-acara adat dan agama.</p>
<p><strong>Perpaduan Beda Budaya<br />
</strong>Ronggeng Pasaman merupakan adaptasi seni sesuai kekhasan daerah Pasaman yang mayoritas dihuni oleh suku Minangkabau dan Mandailing. Pertama, bahasa yang digunakan adalah Minangkabau dan Mandailing.</p>
<p>Ronggeng yang ditampilkan juga adalah pria yang dimake up seperti layaknya perempuan. Hal itu untuk menyesuaikan dengan keyakinan masyarakat yang beragama Islam yang tidak menampilkan perempuan di muka umum.</p>
<p>Tujuan penampilan ronggeng juga diperluas. Tidak hanya dilakukan pada acara pesta saja, tapi juga pada acara-acara keagamaan. Ronggeng ini juga telah sering ditampilkan pada acara-acara adat lainnya seperti acara turun mandi.</p>
<p>Keberadaan Ronggeng Pasaman pada masa kini sesungguhnya tidak lagi sebagaimana jayanya pada masa lampau. Namun nilai toleransi yang diwariskan telah memberikan kita pencerahan yang penting untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.<strong>(*/Ela)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ronggeng-pasaman-seni-pertunjukan-yang-padukan-3-budaya-berbeda/">Ronggeng Pasaman, Seni Pertunjukan Padukan 3 Budaya Berbeda</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">96292</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tari Tanduk, Wujud Syukur Petani Nagari Lubuk Tarok di Musim Panen</title>
		<link>https://langgam.id/tari-tanduk-wujud-syukur-petani-nagari-lubuk-tarok-di-musim-panen/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2021 03:59:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Tradisi Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Sijunjung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=93328</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id&#8211; Lubuk Tarok adalah salah satu Nagari di Kabupaten Sijunjung yang ternyata memiliki salah satu tradisi unik yaitu Tari Tanduk. Tari Tanduk biasanya ditampilkan saat upacara Bakawuah, yaitu upacara yang dilakukan sebagai bentuk syukur setelah panen. Tari Tanduk adalah tari tradisional warisan Kerajaan Jambu Lipo. Kisah dalam tari ini yaitu adu kerbau antara Suku Pulau Paco di Minangkabau dengan Kerajaan Medang Kamulan. Kisah lainnya adalah pendirian Nagari Lubuk Tarok yang diawali oleh perselisihan antara masyarakat Sembilan Koto di Koto Tuo Muaro Karimo dengan Duo Baleh Koto Halaban Muaro Sibakua. &#8220;Tari Tanduk merupakan tari yang berasal dari kerajaan Jambu Lipo dan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/tari-tanduk-wujud-syukur-petani-nagari-lubuk-tarok-di-musim-panen/">Tari Tanduk, Wujud Syukur Petani Nagari Lubuk Tarok di Musim Panen</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><strong>Langgam.id</strong></a>&#8211; Lubuk Tarok adalah salah satu Nagari di Kabupaten <a href="https://infopublik.sijunjung.go.id/">Sijunjung</a> yang ternyata memiliki salah satu tradisi unik yaitu Tari Tanduk. Tari Tanduk biasanya ditampilkan saat upacara Bakawuah, yaitu upacara yang dilakukan sebagai bentuk syukur setelah panen.</p>
<p>Tari Tanduk adalah tari tradisional warisan Kerajaan Jambu Lipo. Kisah dalam tari ini yaitu adu kerbau antara Suku Pulau Paco di Minangkabau dengan Kerajaan Medang Kamulan. Kisah lainnya adalah pendirian Nagari Lubuk Tarok yang diawali oleh perselisihan antara masyarakat Sembilan Koto di Koto Tuo Muaro Karimo dengan Duo Baleh Koto Halaban Muaro Sibakua.</p>
<p>&#8220;Tari Tanduk merupakan tari yang berasal dari kerajaan Jambu Lipo dan diadakan setiap acara Bakawuah untuk menyambut tamu undangan,&#8221; kata Malin Putiah (65) salah seorang petuah adat, saat dihubungi Langgam.id Selasa (2/3/2021).</p>
<p><a href="https://langgam.id/selain-basapa-tradisi-unik-ini-hanya-ada-di-ulakan-padang-pariaman/"><strong>Baca juga: Selain Basapa, Tradisi Unik Ini Hanya Ada di Ulakan Padang Pariaman</strong></a></p>
<p>Tari Tanduk dimaknai sebagai wujud gotong-royong dan kebersamaan masyarakat Nagari Tarok dalam membangun negeri. Tari tanduk memiliki 22 kaca yang menyimbolkan bahwa masyarakat Lubuk Tarok memiliki 4 undang-undang, 4 sarak, 4 adat, 4 kata, 4 nagari dan 2 cupak.</p>
<p>Jumlah penari Tari Tanduk sebanyak 8 orang yang terdiri dari 2 orang pemain tanduk, 2 orang pengibar marawa, 1 orang pemain payung dan 3 orang pemain musik. Mereka memakai kostum serawa tapak itiak, baju taluak balango, deta dan kain sencong.</p>
<p>&#8220;Salah satu keunikan Tari Tanduk yaitu gerakannya yang menyerupai perilaku kerbau&#8221; ujarnya Malin.</p>
<p>Tarian memiliki beberapa keunikan tersendiri dalam gerakannya. Pertama gerak Langkah Ampek seperti memberi penghormatan kepada tamu undangan, khalayak dan penonton yang ada di dalam acara Bakawuah. Kedua, gerak Selo seperti gerak berlawanan antara penari dengan properti (tanduk) yang mereka gunakan.</p>
<p><a href="https://langgam.id/mengenal-mambadak-surau-tradisi-unik-dari-nagari-salimpek-solok/"><strong>Baca juga: Mengenal Mambadak Surau, Tradisi Unik dari Nagari Salimpek Solok</strong></a></p>
<p>Gerakan ini menunjukkan bahwa ada upaya yang sungguh-sungguh dalam menyelesaikan pertikaian. Ketiga, gerak Sambah seperti payung panji sebagai penopang diantara kedua Tanduk yang sedang bertikai. Fungsi payung panji sebagai pelerai antara kedua tanduk.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/tari-tanduk-wujud-syukur-petani-nagari-lubuk-tarok-di-musim-panen/">Tari Tanduk, Wujud Syukur Petani Nagari Lubuk Tarok di Musim Panen</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">93328</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Randai Benteng Milenial di Zaman Kini</title>
		<link>https://langgam.id/randai-benteng-milenial-di-zaman-kini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2020 07:32:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[kesenian]]></category>
		<category><![CDATA[Milenial]]></category>
		<category><![CDATA[seni minang]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Tradisi Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=67541</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Di Agam, randai sepertinya tak lekang oleh panas, tak lepuk oleh hujan. Meski zaman milenial yang serba digital, nyatanya anak muda Lubuk Basung masih semangat mendalami teaterikal ala Minangkabau tersebut. Bagi Kelompok Randai Antokan Sakti, seni yang mengombinasikan gerak silat dan kepiawaian bertutur itu dijadikan sarana membentengi generasi muda dari huru-hara. Pada dasarnya, selain melestarikan tradisi klasik nenek moyang, kami juga ingin mengajak anak-anak sekarang untuk tidak terpengaruh dengan huru-hara yang merusak masa depan,” ujar Ketua Randai Antokam Sakti, Maizul Amri St. Pamenan, Sabtu (3/10). Selain itu, pendirian sangar randai yang dinakhodainya juha ingin mengembalikan jati diri generasi Minang</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/randai-benteng-milenial-di-zaman-kini/">Randai Benteng Milenial di Zaman Kini</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Di Agam, randai sepertinya tak lekang oleh panas, tak lepuk oleh hujan. Meski zaman milenial yang serba digital, nyatanya anak muda Lubuk Basung masih semangat mendalami teaterikal ala Minangkabau tersebut.</p>
<p>Bagi Kelompok Randai Antokan Sakti, seni yang mengombinasikan gerak silat dan kepiawaian bertutur itu dijadikan sarana membentengi generasi muda dari huru-hara.</p>
<p>Pada dasarnya, selain melestarikan tradisi klasik nenek moyang, kami juga ingin mengajak anak-anak sekarang untuk tidak terpengaruh dengan huru-hara yang merusak masa depan,” ujar Ketua Randai Antokam Sakti, Maizul Amri St. Pamenan, Sabtu (3/10).</p>
<p>Selain itu, pendirian sangar randai yang dinakhodainya juha ingin mengembalikan jati diri generasi Minang yan cintai budaya sendiri.</p>
<p>Menurutnya, pergaulan muda-mudi di zaman moderen ini akan tidak terkontrol jika tidak ada wadah yang dapat menempa karakter dan kepribadian.</p>
<p>Dijelaskan lebih lanjut soal randai, Maizul Amri St. Pamenan menyebut randai merupakan salah satu permainan tradisional asli Minangkabau.</p>
<p>Dalam permainan ini, sekelompok pemain akan berdiri membentuk lingkaran kemudian berjalan perlahan-lahan dengan gerakan silat yang sudah dimodifikasi.</p>
<p>“Masing-masing pemain akan menyampaikan nyanyian-nyanyian yang bercerita, juga ada satu tukang dendang yang menyampaikan alur cerita,” jelasnya, sebagaimana dicuplik dari <a href="https://amcnews.co.id/2020/10/04/randai-teaterikal-minangkabau-yang-sarat-pesan-moral/"><em>AMCNews.co.id</em></a>.</p>
<p>Dikatakan, randai dalam sejarah Minangkabau konon kabarnya sempat dimainkan oleh masyarakat Pariangan Padang Panjang ketika masyarakat tersebut berhasil menangkap rusa yang keluar dari laut.</p>
<p>Randai di Minangkabau seni teaterikal yang memainkan kaba atau hikayat Minang, seperti cerita Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, dan cerita rakyat lainnya.</p>
<p>Pada awalnya, tukasnya lagi, randai merupakan media untuk menyampaikan kaba atau cerita rakyat melalui gurindam atau syair yang didendangkan dan galombang (tari) yang bersumber dari gerakan-gerakan silat Minangkabau.</p>
<p>Maizul Amri St. Pamenan menambahkan melalui gerakan dan cerita yang dimainkan ada hikmah atau pesan moral yang dapat diambil. Menurutnya sebelum memulai permainan ataupun alur cerita yang dimainkan menggambarkan jati diri Minangkabau yang mempedomai falsafah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK).</p>
<p>“Ini yang kita yakini bisa menjadi pegangan anak-anak muda untuk menghadapi masa depan, tak lakang dek paneh dan tak lapuak dek hujan,” ujarnya.</p>
<p>Meski anak muda sekarang sudah terlanjur terlena dengan hiburan masa kini, dirinya optimis seni teaterikal ala Minangkabau tersebut tetap mendapat tempat di hati generasi muda Minangkabau.</p>
<p>“Buktinya kita bisa lihat malam ini, sejumlah anak muda tetap semangat mengikuti latihan hingga selarut ini,” pungkasnya. <strong>(Osh)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/randai-benteng-milenial-di-zaman-kini/">Randai Benteng Milenial di Zaman Kini</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">67541</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Gurau Saluang dan Dendang, Cara Silaturahmi 3 Luhak di Sungai Tarab</title>
		<link>https://langgam.id/gurau-saluang-dan-dendang-cara-silaturahmi-3-luhak-di-sungai-tarab/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Nov 2019 03:25:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Tradisi Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Tanah Datar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=18711</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Masyarakat Jorong Koto Hiliang, Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar menggelar bagurau samalam suntuak (satu malam), Jum&#8217;at (15/11/2019). Meski digelar di Luhak Tanah Datar, acara yang diisi dengan dendang dan saluang itu, juga diisi oleh seniman tradisi dari Luhak Limapuluh Kota dan Agam. Ketua Pelaksana Irdawalis menyebut, acara malam itu, dihadiri pecandu gurau dan pedendang dari ketiga luhak. &#8220;Selain menghibur masyarakat, juga untuk memperat silaturahmi melalui gurau dendang. Panitia juga melakukan penggalangan dana melalu lelang singgang ayam,&#8221; katanya, sebagaimana dilansir rilis Humas Pemkab Tanah Datar. Wakil Bupati Zuldafri Darma yang hadir dalam acara itu mengatakan, sebagai kekayaan tradisi Minangkabau,</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/gurau-saluang-dan-dendang-cara-silaturahmi-3-luhak-di-sungai-tarab/">Gurau Saluang dan Dendang, Cara Silaturahmi 3 Luhak di Sungai Tarab</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Masyarakat Jorong Koto Hiliang, Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar menggelar bagurau samalam suntuak (satu malam), Jum&#8217;at (15/11/2019).</p>
<p>Meski digelar di Luhak Tanah Datar, acara yang diisi dengan dendang dan saluang itu, juga diisi oleh seniman tradisi dari Luhak Limapuluh Kota dan Agam.</p>
<p>Ketua Pelaksana Irdawalis menyebut, acara malam itu, dihadiri pecandu gurau dan pedendang dari ketiga luhak.</p>
<p>&#8220;Selain menghibur masyarakat, juga untuk memperat silaturahmi melalui gurau dendang. Panitia juga melakukan penggalangan dana melalu lelang singgang ayam,&#8221; katanya, sebagaimana dilansir rilis Humas Pemkab Tanah Datar.</p>
<p>Wakil Bupati Zuldafri Darma yang hadir dalam acara itu mengatakan, sebagai kekayaan tradisi Minangkabau, saluang dan dendang harus dilestarikan.</p>
<p>&#8220;Bagurau saluang jo dendang, merupakan salah satu seni tradisi pertunjukan yang penting di Minangkabau. Tradisi ini telah tumbuh sejak lama, untuk itu ini sangat penting dilestarikan,&#8221; kata Zuldafri.</p>
<p>Menurutnya, selain searah dengan program pemerintah melestarikan tradisi, kegiatan ini juga untuk mempererat silaturahmi. &#8220;Apalagi, malam ini mempererat silaturahmi dari tiga luak. Saya mengapresiasi panitia,” kata wabup.</p>
<p>Ia meminta OPD pemda terkait untuk lebih memperhatikan budaya tradisi. &#8220;Budaya tradisi yang turun temurun ini, selain untuk mensejahterakan masyarakat juga mendukung pariwisata,&#8221; katanya.</p>
<p>Anggota DPRD Tanah Datar Beni Afero yang juga hadir memberi apresiasi serupa. &#8220;ini akan menjadi perhatian khusus, aspirasi masyarakat dalam melestarikan tradisi budaya,” tuturnya. (*/SS)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/gurau-saluang-dan-dendang-cara-silaturahmi-3-luhak-di-sungai-tarab/">Gurau Saluang dan Dendang, Cara Silaturahmi 3 Luhak di Sungai Tarab</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">18711</post-id>	</item>
		<item>
		<title>13 Kekayaan Tradisi Sumbar Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia</title>
		<link>https://langgam.id/13-kekayaan-tradisi-sumbar-ditetapkan-sebagai-warisan-budaya-tak-benda-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Oct 2019 02:55:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Tradisi Minang]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Mentawai]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=16172</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Sebanyak 13 kekayaan tradisi Minangkabau dan Mentawai ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia (WBTbI) tahun 2019. Gubernur Sumatra Barat Irwan Prayitno menerima lembar penetapan tersebut pada acara Apresiasi Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2019, Selasa (8/20/2019). Sebanyak 13 karya budaya yang telah ditetapkan ini terdiri atas domain seni pertunjukan, domain adat istiadat masyarakat, ritus dan perayaan, domain kemahiran kerajinan tradisional serta domain Seni pertunjukan, yakni Babiola, Tari Benten, Tari Sikambang Manih dan Tari Kain (Pesisir Selatan), Talempong Unggan (Sijunjung) dan Diki Pano (Pasaman). Domain adat istiadat masyarakat, yakni Sikerei (Mentawai), Botatah (Pasaman), Arak Bako (Kota Solok)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/13-kekayaan-tradisi-sumbar-ditetapkan-sebagai-warisan-budaya-tak-benda-indonesia/">13 Kekayaan Tradisi Sumbar Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Sebanyak 13 kekayaan tradisi Minangkabau dan Mentawai ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia (WBTbI) tahun 2019.</p>
<p>Gubernur Sumatra Barat Irwan Prayitno menerima lembar penetapan tersebut pada acara Apresiasi Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2019, Selasa (8/20/2019).</p>
<p>Sebanyak 13 karya budaya yang telah ditetapkan ini terdiri atas domain seni pertunjukan, domain adat istiadat masyarakat, ritus dan perayaan, domain kemahiran kerajinan tradisional serta domain</p>
<p>Seni pertunjukan, yakni Babiola, Tari Benten, Tari Sikambang Manih dan Tari Kain (Pesisir Selatan), Talempong Unggan (Sijunjung) dan Diki Pano (Pasaman).</p>
<p>Domain adat istiadat masyarakat, yakni Sikerei (Mentawai), Botatah (Pasaman), Arak Bako (Kota Solok) dan Patang Balimau (Pesisir Selatan).</p>
<p>Domain Kemahiran Kerajinan Tradisional yakni Songket Silungkang (Sawahlunto). Sementara, domain tradisi dan ekspresi lisan yakni Anak Balam dan Badampiang dari Pesisir Selatan,</p>
<p>Kekayaan tradisi Sumbar tersebut ditetapkan dalam Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia pada 13-16 Agustus 2019 di Jakarta.</p>
<p>Tiga di antara 13 karya budaya Minangkabau tersebut ditampilkan dalam malam apresiasi, Selasa. Yakni, Tari Benten dan Babiola dari Kabupaten Pesisir Selatan serta Talempong Unggan dari Kabupaten Sijunjung.</p>
<p>Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Kebudayaan juga mengundang Bupati Pesisir Selatan dan Bupati Sijunjung untuk hadir dalam kegiatan Apresiasi Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia.</p>
<p>Badan Penghubung Pemprov Sumbar di situs resmi Pemprov pada Rabu (9/10/2019) melansir, 13 Karya Budaya Sumatera Barat ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2019. Penetapan itu bersama 267 Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang ditetapkan tahun 2019.</p>
<p>&#8220;Penetapan ini melalui proses panjang. Diawali sejak bulan Februari 2019 melalui Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatra Barat. Diusulkan 52 karya budaya WBTB dari 16 Kabupaten/Kota. Dari verifikasi tim provinsi, 32 usulan disampaikan ke Direktorat Warisan Budaya dan Diplomasi Budaya, Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud untuk diverifikasi,&#8221; tulis rilis tersebut.</p>
<p>Apresiasi penetapan WBTbI tahun 2019 merupakan salah satu rangkaian kegiatan Pekan Kebudayaan Nasional 2019 yang diikuti 34 provinsi.(*/SS)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/13-kekayaan-tradisi-sumbar-ditetapkan-sebagai-warisan-budaya-tak-benda-indonesia/">13 Kekayaan Tradisi Sumbar Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">16172</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Seni Pertunjukan Tanah Datar Diajukan Jadi Bagian Sistem Ekonomi Kreatif Nasional</title>
		<link>https://langgam.id/seni-pertunjukan-tanah-datar-diajukan-jadi-bagian-sistem-ekonomi-kreatif-nasional/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Mar 2019 01:30:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Pertunjukan]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Tradisi Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=4435</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Seni Pertunjukan dipilih sebagai subsektor unggulan dari Kabupaten Tanah Datar yang kemudian diajukan menjadi bagian dari sistem Ekonomi Kreatif Nasional. Demikian hasil program penilaian mandiri kabupaten/kota kreatif Indonesia yang dilakukan atas kerja sama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) RI dengan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar. Hal tersebut di dilansir Humas Pemkab Tanah Datar di portal resmi Pemkab, Sabtu (23/3/2019). Sehari sebelumnya, berita acara hasil uji petik tersebut ditandatangani Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Bekraf Ahmad Rekotomo, dihadiri Bupati Tanah Datar Irdinansyah Tarmizi, Wakil Bupati Zuldafri Darma, Ketua DPRD Anton Yondra dan sejumlah pejabat, Jum’at (22/3/2019). Ahmad Rekotomo mengatakan program penilaian</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/seni-pertunjukan-tanah-datar-diajukan-jadi-bagian-sistem-ekonomi-kreatif-nasional/">Seni Pertunjukan Tanah Datar Diajukan Jadi Bagian Sistem Ekonomi Kreatif Nasional</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Seni Pertunjukan dipilih sebagai subsektor unggulan dari Kabupaten Tanah Datar yang kemudian diajukan menjadi bagian dari sistem Ekonomi Kreatif Nasional.</p>
<p>Demikian hasil program penilaian mandiri kabupaten/kota kreatif Indonesia yang dilakukan atas kerja sama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) RI dengan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar. Hal tersebut di dilansir Humas Pemkab Tanah Datar di portal resmi Pemkab, Sabtu (23/3/2019).</p>
<p>Sehari sebelumnya, berita acara hasil uji petik tersebut ditandatangani Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Bekraf Ahmad Rekotomo, dihadiri Bupati Tanah Datar Irdinansyah Tarmizi, Wakil Bupati Zuldafri Darma, Ketua DPRD Anton Yondra dan sejumlah pejabat, Jum’at (22/3/2019).</p>
<p>Ahmad Rekotomo mengatakan program penilaian mandiri kabupaten/kota kreatif Indonesia<br />
(PMK3I) merupakan salah satu program unggulan dari Deputi Infrastruktur Bekraf.</p>
<p>&#8220;Tujuannya untuk membangun sistem ekonomi kreatif Indonesia, dengan jalan memetakan potensi dan tantangan yang dihadapi dalam pengembangan ekonomi kreatif di daerah,&#8221; katanya.</p>
<p>Tim Asesor PMK3I melakukan assessment di Tanah Datar sejak tanggal 19 Maret hingga 22 Maret 2019. Mereka meneliti apa yang akan menjadi potensi unggulan di Tanah Datar setelah sebelumnya didapat empat subsektor ekraf di Tanah Datar yang menjadi pertimbangan, yaitu kriya, seni pertunjukan, kuliner, dan fesyen.</p>
<p>“Selama di Tanah Datar, kita melakukan uji petik dengan cara wawancara mendalam dan bottom up scale bersama dengan ke empat aktor ekraf (quadruple-helix). Gunanya untuk menghitung nilai ekonomi yang dihasilkan oleh setiap subsektor ekraf,&#8221; kata Ahmad.</p>
<p>Empat aktor tersebut, yakni pemerintah daerah, komunitas kreatif, akademisi dan pebisnis daerah.</p>
<p>Dari hasil diskusi, ditemukan pelaku subsektor seni pertunjukan sebanyak 269 sanggar atau kelompok seni pertunjukan. Selain itu juga 520 produsen, distributor dan penjual eceran di bidang kuliner. Lalu, 68 pelaku di subsektor fesyen. Serta, 84 kelompok di subsektor kruya yang terdiri dari pelaku tenun sulam, kriya tenun singket, kriya rajut dan kriya batik.</p>
<p>Subsektor kuliner di Tanah Datar, disebutkan tumbuh merujuk pada kebudayaan kuliner lokal yang didukung oleh bahan baku setempat tercatat dilakukan oleh 500 lebih UKM.</p>
<p>Walaupun nilai uang beredar bersar, tetapi kelompok pelaku subsektor ini belum dapat dikategorikan berdasarkan besaran kekuatan maupun jangkauan. Adapun yang menjadi sorotan, antara lain: aneka keripik sebagai kudapan, aneka rendang, kopi dan panganan manis.</p>
<p>Sementara, pada subsektor kriya, tenun songket dan batik yang menjadi sorotan utama. Uji petik pada 86 kelompok usaha, menunjukan nilai uang yang beredar belum terlalu siginifikan.</p>
<p>&#8220;Tapi subsektor ini merujuk pada pedoman dan rujukan tradisional sehingga subsektor ini berfungsi antara lain sebagai sarana konservasi dan pengembangan dari kriya dalam hal ini batik dan tenun.&#8221;</p>
<p>Subsektor fesyen tidak terindikasi dari uji petik ini karena sedikitnya pelaku yang dapat diverifikasi. Akan tetapi subsektor ini memiliki potensi yang luar biasa, mengingat kekayaan khasanah adat Minangkabau sehingga subsektor ini memiliki potensi besar untuk ekonomi kreatif di masa datang.</p>
<p>Kemudian, pada subsektor seni pertunjukan, ternyata dilaksanakan di 75 Nagari yang mencakup lebih dari 150 sanggar dan kelompok seni pertunjukan. Pada Maret 2019, 52 sanggar di antaranya telah menyusun organisasi komunitas seni pertunjukan.</p>
<p>Potensi ini dinilai terbesar dan perlu dikoordinasikan melalui kumpulan komunitas<br />
sekaligus merangkul kelompok-kelompok mewakili kekhususan budaya dan unggulan masing-masing nagari</p>
<p>&#8220;Bahwa dengan demikian kondisi dan potensi ekosistem ekonomi kreatif Kabupaten Tanah Datar pada tahun 2019 menunjukkan kekuatan terbesar ada pada subsektor seni pertunjukan,&#8221; sebut publikasi tersebut.</p>
<p>Karena itu, hasil uji petik PMK3I pun menentukan bahwa seni pertunjukan dipilih sebagai subsektor unggulan dari Kabupaten Tanah Datar yang kemudian diajukan menjadi bagian dari sistem Ekonomi Kreatif Nasional</p>
<p>Bupati Irdinansyah Tarmizi dalam sambutannya menyampaikan terima kasih dan menyambut baik atas kesempatan yang diberikan kepada Tanah Datar khususnya pelaku ekraf untuk nantinya bisa mendapat bimbingan, pendampingan dan pembinaan dari Bekraf.</p>
<p>&#8220;Selama ini pelaku ekonomi kreatif dengan berbagai macam jenis berjalan seperti air mengalir. Mengalir secara alami. Namun ketika ada kendala, sering mentok sendiri tanpa mendapat jalan keluarnya tepat. Mudah-mudahan bagi pelaku ekraf yang terpilih akan terbantu dalam peningkatan skala usaha maupun kreatifitas yang semakin beragam,” katanya. (*/SS)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/seni-pertunjukan-tanah-datar-diajukan-jadi-bagian-sistem-ekonomi-kreatif-nasional/">Seni Pertunjukan Tanah Datar Diajukan Jadi Bagian Sistem Ekonomi Kreatif Nasional</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4435</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 28/32 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-05-22 21:38:47 by W3 Total Cache
-->