<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita seni minang Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/seni-minang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/seni-minang/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 May 2024 04:11:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita seni minang Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/seni-minang/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Kolaborasi dengan Koreografer Jerman, Masyarakat &#8216;Negeri Seribu Menhir&#8217; Sibuk Siapkan Festival Maek</title>
		<link>https://langgam.id/kolaborasi-dengan-koreografer-jerman-masyarakat-negeri-seribu-menhir-sibuk-siapkan-festival-maek/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 May 2024 04:10:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Maek]]></category>
		<category><![CDATA[seni minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=202747</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Masyarakat Maek tengah sibuk mempersiapkan Festival Maek. Bersama Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, digelar Workshop Kekaryaan selama 3 hari (8-11 Mei) di Nagari Maek, Kec Lima Puluh Kota. Workshop Kekaryaan ini diadakan guna menyiapkan beberapa karya seni pertunjukan yang akan ditampilkan pada puncak acara Festival Maek, 17-20 Juli mendatang. Dalam workshop ini 20 pemuda dan pemudi ‘negeri seribu menhir’ akan berkolaborasi dengan koreografer Jerman Bianca Sere Pulungan. Koreografer Jefriandi Usman koreografer dan musisi Sendi Orysal juga terlibat dalam workshop ini. Mereka akan berkolaborasi dengan pemuda-pemudi Maek memainkan pertunjukan yang diangkat dari narasi-narasi sejarah dan budaya yang ada di</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kolaborasi-dengan-koreografer-jerman-masyarakat-negeri-seribu-menhir-sibuk-siapkan-festival-maek/">Kolaborasi dengan Koreografer Jerman, Masyarakat &#8216;Negeri Seribu Menhir&#8217; Sibuk Siapkan Festival Maek</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p></p>



<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Masyarakat Maek tengah sibuk mempersiapkan Festival Maek. Bersama Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, digelar Workshop Kekaryaan selama 3 hari (8-11 Mei) di Nagari Maek, Kec Lima Puluh Kota. </p>



<p>Workshop Kekaryaan ini diadakan guna menyiapkan beberapa karya seni pertunjukan yang akan ditampilkan pada puncak acara Festival Maek, 17-20 Juli mendatang.</p>



<p>Dalam workshop ini 20 pemuda dan pemudi ‘negeri seribu menhir’ akan berkolaborasi dengan koreografer Jerman Bianca Sere Pulungan. Koreografer Jefriandi Usman koreografer dan musisi Sendi Orysal juga terlibat dalam workshop ini.</p>



<p>Mereka akan berkolaborasi dengan pemuda-pemudi Maek memainkan pertunjukan yang diangkat dari narasi-narasi sejarah dan budaya yang ada di Maek, terutama terkait menhir.</p>



<p>Bianca Sere Pulungan, misalnya, mengajak anak nagari Maek berkolaborasi untuk merancang karya tari kontemporer yang akan dipentaskan di sekitar situs menhir.</p>



<p>“Saya bayangkan nanti lahir semacam seni instalasi yang bergerak. Saya juga akan upayakan agar anak-anak lepas dari estetik tari yang biasa, mengajak mereka mengeksplor gerak tubuh yang bebas” terang koreografer perempuan yang telah malang melintang di dunia tari internasional ini.</p>



<p>Ia juga mengakatan karya ini adalah upaya eskplorasinya atas hasil interpretasinya terhadap sejarah dan kebudayaan Maek. Karya ini, lanjutnya, juga berangkat dari hubungan tubuh anak-anak dengan anak lainnya, hubungan anak-anak dengan sejarah dan situasi budaya Maek hari ini.</p>



<p>“Karya ini bisa dikatakan semacam translasi dari hubungan-hubungan tersebut”, ujarnya penuh semangat.</p>



<p>Sendi Orysal juga mengatakan hal senada. Ia bilang ingin mengeksplorasi kemisteriusan menhir dan tebing-tebing eksotis yang mengurung Maek menjadi musik.</p>



<p>“Maek adalah peradaban tua yang penuh misteri, dengan menhir-menhir dan panorama alamnya. Ini sangat menarik untuk diolah menjadi musik,” kata Sendi.</p>



<p>Menhir-menhir warisan peradaban masa lalu di Maek memang mengandung banyak cerita yang belum terungkap. Banyak kisah tersimpan di baliknya. Para peneliti misalnya, mengatakan bahwa menhir bukan benda mati belaka. Lebih dari itu, ia punya kisah panjang, bagian dari perkembangan sejarah yang panjang.</p>



<p>Selain untuk menyimbolkan kematian, mennhir juga menyimbolkan kehidupan. Selain digunakan sebagai nisan, menhir juga dibangun untuk menandakan lahirnya seorang anak.</p>



<p>Hal-hal serupa itulah yang salah satunya yang akan direspon oleh para seniman yang berkolaborasi bersama anak nagari Maek, terang Direktur Program Festival Maek Roby Satria.</p>



<p>“Program-program Festival Maek, dirancang agar masyarakat Maek bisa terlibat aktif dalam merespon secara kreatif serta mengembangkan warisan-warisan budaya Maek” tambah Roby sambil menambahkan bahwa festival ini adalah milik masyarakat Maek.</p>



<p>Sejak tahun 2023 lalu telah diadakan sejumlah program dalam rangka persiapan Festival Maek. Mulai dari Focus Group Discussion dengan Bundo Kanduang, Niniak Mamak, Pemuda, dan pejabat Nagari, untuk menggali bersama potensi-potensi budaya di Maek baik yang terkait dengan menhir mau pun seni budaya yang hidup dan berkembang di Maek.</p>



<p>Penelitian dan penelusuran bukti-bukti arkeologi terkait menhir dan kebudayaan megalitik di Maek juga dilakukan oleh tim ahli.&nbsp; Tim ahli yang didampingi Ketua DPRD Sumbar Supardi juga telah menelurusi ‘nasib’ dari 7 tengkorak hasil eskavasi di Maek yang selama ini berada di UGM. Kini sampel dari kerangka tersebut telah dikirim ke Australia untuk dilakukan uji karbon.</p>



<p>Selain seni pertunjukan juga ada sejumlah program lainnya, seperti residensi penulis. Dua sastrawan yaitu Iyut Fitra dan Yudilfan Habib akan mengadakan residensi di Maek lalu menghasilkan karya sastra sebagai respon atas warisan budaya Maek.</p>



<p><strong>Dukungan Penuh dari Pemerintahan Nagari</strong></p>



<p>Wali Nagari Maek Efrizal Hendri Dt Pakiah, menyambut antusias pembukaan workshop. Menurutnya, untuk mempersiapkan event seperti Festival Maek memang dibutuhkan persiapan yang matang. Terlebih event itu adalah upaya bersama untuk mempromosikan dan mengembangkan pariwisata Maek.</p>



<p>“Kita sangat mendukung kegiatan ini,” ujarnya sambil memberi apresiasi pada lembaga-lembaga Nagari dan masyarakat Maek umumnya yang juga hadir dalam kesempatan tersebut.</p>



<p>Lebih jauh, ia mengatakan workshop tersebut penting untuk menumbuhkan bakat seni di tengah generasi muda Maek untuk selanjutnya bisa berkarya mandiri dan menjadi bagian dari dunia pariwisata Maek.</p>



<p>“Ini adalah kesempatan langka, bisa bertukar ilmu dengan seniman-seniman kita dari luar dan dalam negeri. Ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya”, tambahnya.</p>



<p>Festival Maek sendiri adalah serangkaian kegiatan untuk menggali dan merayakan potensi warisan budaya Maek dengan festival sebagai acara puncak.</p>



<p>Sebagai informasi, di Maek terdapat banyak warisan budaya ‘unik’ selain menhir. Ada randai yang bisa dimainkan oleh perempuan dan laki-laki. Juga ada petatah petitih yang khusus dimainkan oleh kaum perempuan yang disebut <em>badantang</em>. (*/Fs)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kolaborasi-dengan-koreografer-jerman-masyarakat-negeri-seribu-menhir-sibuk-siapkan-festival-maek/">Kolaborasi dengan Koreografer Jerman, Masyarakat &#8216;Negeri Seribu Menhir&#8217; Sibuk Siapkan Festival Maek</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">202747</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Randai Benteng Milenial di Zaman Kini</title>
		<link>https://langgam.id/randai-benteng-milenial-di-zaman-kini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2020 07:32:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[kesenian]]></category>
		<category><![CDATA[Milenial]]></category>
		<category><![CDATA[seni minang]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Tradisi Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=67541</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Di Agam, randai sepertinya tak lekang oleh panas, tak lepuk oleh hujan. Meski zaman milenial yang serba digital, nyatanya anak muda Lubuk Basung masih semangat mendalami teaterikal ala Minangkabau tersebut. Bagi Kelompok Randai Antokan Sakti, seni yang mengombinasikan gerak silat dan kepiawaian bertutur itu dijadikan sarana membentengi generasi muda dari huru-hara. Pada dasarnya, selain melestarikan tradisi klasik nenek moyang, kami juga ingin mengajak anak-anak sekarang untuk tidak terpengaruh dengan huru-hara yang merusak masa depan,” ujar Ketua Randai Antokam Sakti, Maizul Amri St. Pamenan, Sabtu (3/10). Selain itu, pendirian sangar randai yang dinakhodainya juha ingin mengembalikan jati diri generasi Minang</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/randai-benteng-milenial-di-zaman-kini/">Randai Benteng Milenial di Zaman Kini</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Di Agam, randai sepertinya tak lekang oleh panas, tak lepuk oleh hujan. Meski zaman milenial yang serba digital, nyatanya anak muda Lubuk Basung masih semangat mendalami teaterikal ala Minangkabau tersebut.</p>
<p>Bagi Kelompok Randai Antokan Sakti, seni yang mengombinasikan gerak silat dan kepiawaian bertutur itu dijadikan sarana membentengi generasi muda dari huru-hara.</p>
<p>Pada dasarnya, selain melestarikan tradisi klasik nenek moyang, kami juga ingin mengajak anak-anak sekarang untuk tidak terpengaruh dengan huru-hara yang merusak masa depan,” ujar Ketua Randai Antokam Sakti, Maizul Amri St. Pamenan, Sabtu (3/10).</p>
<p>Selain itu, pendirian sangar randai yang dinakhodainya juha ingin mengembalikan jati diri generasi Minang yan cintai budaya sendiri.</p>
<p>Menurutnya, pergaulan muda-mudi di zaman moderen ini akan tidak terkontrol jika tidak ada wadah yang dapat menempa karakter dan kepribadian.</p>
<p>Dijelaskan lebih lanjut soal randai, Maizul Amri St. Pamenan menyebut randai merupakan salah satu permainan tradisional asli Minangkabau.</p>
<p>Dalam permainan ini, sekelompok pemain akan berdiri membentuk lingkaran kemudian berjalan perlahan-lahan dengan gerakan silat yang sudah dimodifikasi.</p>
<p>“Masing-masing pemain akan menyampaikan nyanyian-nyanyian yang bercerita, juga ada satu tukang dendang yang menyampaikan alur cerita,” jelasnya, sebagaimana dicuplik dari <a href="https://amcnews.co.id/2020/10/04/randai-teaterikal-minangkabau-yang-sarat-pesan-moral/"><em>AMCNews.co.id</em></a>.</p>
<p>Dikatakan, randai dalam sejarah Minangkabau konon kabarnya sempat dimainkan oleh masyarakat Pariangan Padang Panjang ketika masyarakat tersebut berhasil menangkap rusa yang keluar dari laut.</p>
<p>Randai di Minangkabau seni teaterikal yang memainkan kaba atau hikayat Minang, seperti cerita Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, dan cerita rakyat lainnya.</p>
<p>Pada awalnya, tukasnya lagi, randai merupakan media untuk menyampaikan kaba atau cerita rakyat melalui gurindam atau syair yang didendangkan dan galombang (tari) yang bersumber dari gerakan-gerakan silat Minangkabau.</p>
<p>Maizul Amri St. Pamenan menambahkan melalui gerakan dan cerita yang dimainkan ada hikmah atau pesan moral yang dapat diambil. Menurutnya sebelum memulai permainan ataupun alur cerita yang dimainkan menggambarkan jati diri Minangkabau yang mempedomai falsafah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK).</p>
<p>“Ini yang kita yakini bisa menjadi pegangan anak-anak muda untuk menghadapi masa depan, tak lakang dek paneh dan tak lapuak dek hujan,” ujarnya.</p>
<p>Meski anak muda sekarang sudah terlanjur terlena dengan hiburan masa kini, dirinya optimis seni teaterikal ala Minangkabau tersebut tetap mendapat tempat di hati generasi muda Minangkabau.</p>
<p>“Buktinya kita bisa lihat malam ini, sejumlah anak muda tetap semangat mengikuti latihan hingga selarut ini,” pungkasnya. <strong>(Osh)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/randai-benteng-milenial-di-zaman-kini/">Randai Benteng Milenial di Zaman Kini</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">67541</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Berbekal Utang, Sanggar Asal Garegeh Bukittinggi Pentas di Paris</title>
		<link>https://langgam.id/berbekal-utang-sanggar-asal-garegeh-bukittinggi-pentas-di-paris/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Sep 2019 03:04:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bukittinggi]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[seni minang]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Pertunjukan]]></category>
		<category><![CDATA[Tari Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=14721</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Sanggar Tari Nusantara Minangkabau (Gastarana) asal Kelurahan Garegeh, Kota Bukittinggi, tampil dalam &#8220;Bulan Indonesia&#8221;, Kamis (19/9/2019) di Paris, Prancis. Grup ini tampil di Prancis atas undangan KBRI Prancis dan KWRI UNESCO. Duta Besar/Wakil Delegasi Tetap RI UNESCO, Surya Rosa Putra menyebutkan, &#8220;Bulan Indonesia&#8221; adalah kegiatan untuk mempromosikan keragaman warisan budaya Indonesia. &#8220;Selain itu, juga jadi kampanye beberapa nominasi budaya tak benda (intangible cultural heritage) Indonesia oleh UNESCO,&#8221; terang Surya. Hal itu disebutkannya dalam surat undangan yang dilayang ke Sanggar Gastarana tertanggal 22 Juli 2019 lalu. Selain tari, dalam acara tersebut, juga ada pameran seni rupa, musik, pantun serta festival kuliner</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/berbekal-utang-sanggar-asal-garegeh-bukittinggi-pentas-di-paris/">Berbekal Utang, Sanggar Asal Garegeh Bukittinggi Pentas di Paris</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="https://langgam.id/tag/seni/">Langgam.id</a> &#8211; </strong>Sanggar Tari Nusantara Minangkabau (Gastarana) asal Kelurahan Garegeh, Kota Bukittinggi, tampil dalam &#8220;Bulan Indonesia&#8221;, Kamis (19/9/2019) di Paris, Prancis. Grup ini tampil di Prancis atas undangan KBRI Prancis dan KWRI UNESCO.</p>
<p>Duta Besar/Wakil Delegasi Tetap RI UNESCO, Surya Rosa Putra menyebutkan, &#8220;Bulan Indonesia&#8221; adalah kegiatan untuk mempromosikan keragaman warisan budaya Indonesia.</p>
<p>&#8220;Selain itu, juga jadi kampanye beberapa nominasi budaya tak benda (<em>intangible cultural heritage</em>) Indonesia oleh UNESCO,&#8221; terang Surya. Hal itu disebutkannya dalam surat undangan yang dilayang ke Sanggar Gastarana tertanggal 22 Juli 2019 lalu.</p>
<p>Selain tari, dalam acara tersebut, juga ada pameran seni rupa, musik, pantun serta festival kuliner nusantara.</p>
<p>Pimpinan Sanggar Gastarana Zami Sofa yang dihubungi via layanan percakapan Whatsapp mengucapkan berterima kasih atas undangan Duta Besar/Wakil Delegasi Tetap RI UNESCO, Surya Rosa Putra.</p>
<p>&#8220;Dapat undangan dan berkesempatan untuk mengisi acara kesenian bertaraf internasional, merupakan kebanggaan dan kehormatan besar bagi kami. Bahkan, setiba kami di Paris, kami langsung dijamu dan diundang nginap di rumah Pak Dubes,&#8221; kata Alumni ASKI Padang Panjang angkatan 93 ini.</p>
<p>Menurut pria yang akrab dipanggil Da Oz ini, undangan tersebut membuat sanggar kecil dari Garegeh itu bisa tampil di pentas internasional. Hal yang membuat Gastarana bisa memperkenalkan dan mengembangkan budaya Minangkabau di pentas internasional.</p>
<p>&#8220;Pada <a href="https://langgam.id/tag/seni-pertunjukan/">pementasan</a> di Paris, sanggar Gastarana menampilkan Tari Rantak yang berkalaborasi dengan Ibu Dubes. Penampilan kedua adalah <a href="https://langgam.id/tari-piring-menghentak-panggung-luxor-mesir/">Tari Piring</a> Tigo Sapilin. Dan, Insya Allah pada tahun 2020 nanti, Sanggar Gastaran akan diundang lagi dengan karya-karya tarian yang baru. semoga tahun depan, kita bisa didampingi oleh Pemda Sumbar ataupun Pemko Bukittinggi,&#8221; harap Da Oz, Jumat (20/9/2019).</p>
<p>&#8220;Kami juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu sanggar Gastarana baik bantuan secara moril maupun materil,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Rombongan sanggar Gastarana berangkat dari Bukittinggi ke Paris sebanyak sembilan orang. Untuk biaya keberangkatan, Oz mengaku harus berutang &#8220;Untuk berangkat ke sini, kami harus berutang pada seseorang,&#8221; katanya.</p>
<p>Ia berharap, setiba di Indonesia, ada dermawan baik pejabat pemerintah maupun swasta yang mau membatu dalam membayar utang biaya perjalanan mereka ke Paris.</p>
<p>Ramdalel, salah satu pemerhati budaya di Bukittinggi,  mengapresiasi dan ikut bangga hati atas diundang serta tampilnya Sanggar Gastarana di Paris.</p>
<p>&#8220;Kami, dari sekumpulan pemerhati budaya, tentunya amat berbangga atas prestasi Sanggar Gastarana. Apalagi, ini murni sebuah undangan,&#8221; katanya dalam siaran pers Sanggar Gastarana yang diterima langgam.id.</p>
<p>Tokoh generasi muda Bukittinggi, Yofialdi M Jufri juga mengaku bangga. &#8220;Sanggar ini aset berharga bagi kita semua,&#8221; tutur Yofialdfialdi.</p>
<p>Sanggar Gastarana dan <a href="https://langgam.id/menjaga-tradisi-melalui-pentas-seni-anak-nagari/">sanggar-sanggar lain</a>, menurutnya, patut diberi perhatian lebih oleh Pemko Bukittinggi untuk membantu <a href="https://langgam.id/karya-seniman-asal-bukittinggi-dipamerkan-di-venice-art-biennale/">kemajuan</a> serta perkembangan terhadap sanggar seni di Bukittinggi. (Rilis/Osh)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/berbekal-utang-sanggar-asal-garegeh-bukittinggi-pentas-di-paris/">Berbekal Utang, Sanggar Asal Garegeh Bukittinggi Pentas di Paris</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">14721</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sebentar Lagi Tugu Rabab Pasisia Berdiri di Painan</title>
		<link>https://langgam.id/sebentar-lagi-tugu-rabab-pasisia-berdiri-di-painan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Palanta]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Apr 2019 16:05:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati dan Wali Kota]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[rabab pasisia]]></category>
		<category><![CDATA[seni minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=4978</guid>

					<description><![CDATA[<p>PalantaLanggam &#8211; Sebentar lagi Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), bakal memiliki Tugu Rabab Pasisia sebagai ikon daerah setempat yang rencananya akan di bangun di kawasan Bukit Putus, Kecamatan IV Jurai, Kota Painan. Bupati Pessel Hendrajoni mengatakan, berdirinya sebuah tugu di suatu daerah merupakan ciri khas yang melambangkan wilayah tersebut. Menurut dia, untuk wilayah Sumatera Barat (Sumbar), Kabupaten Pesisir Selatan adalah satu-satunya daerah yang terkenal dengan gesekan Biola Rabab. &#8220;Sebab di Pesisir Selatan ini kebudayaan itu tidak boleh hilang. Jadi, tahun ini akan kita dirikan patung Rabab Pasisia sebagai ikon daerah agar kelak anak cucu kita tidak lupa,&#8221; ujar Hendrajoni tempo hari. Menurutnya,</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/sebentar-lagi-tugu-rabab-pasisia-berdiri-di-painan/">Sebentar Lagi Tugu Rabab Pasisia Berdiri di Painan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PalantaLanggam &#8211; </strong>Sebentar lagi Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), bakal memiliki Tugu Rabab Pasisia sebagai ikon daerah setempat yang rencananya akan di bangun di kawasan Bukit Putus, Kecamatan IV Jurai, Kota Painan.</p>
<p>Bupati Pessel Hendrajoni mengatakan, berdirinya sebuah tugu di suatu daerah merupakan ciri khas yang melambangkan wilayah tersebut. Menurut dia, untuk wilayah Sumatera Barat (Sumbar), Kabupaten Pesisir Selatan adalah satu-satunya daerah yang terkenal dengan gesekan Biola Rabab.</p>
<p>&#8220;Sebab di Pesisir Selatan ini kebudayaan itu tidak boleh hilang. Jadi, tahun ini akan kita dirikan patung Rabab Pasisia sebagai ikon daerah agar kelak anak cucu kita tidak lupa,&#8221; ujar Hendrajoni tempo hari.</p>
<p>Menurutnya, ide membuat Tugu Rabab Pasisia sudah muncul sejak lama, namun baru direalisasikan oleh pemerintah daerah 2019 ini melalui APBD.</p>
<p>&#8220;Anggarannya sekitar 1 miliar lebih. Pemborongnya sudah oke. Nanti kita datangkan ahli patung dari Sukabumi,&#8221; katanya.</p>
<p>Bupati menjelaskan, keberadaan Tugu Rabab Pasisia tidak sekadar simbol daerah semata, namun gesekan rabab oleh yang empunya sudah dikenal dikalangan para raja-raja yang saat itu Pesisir Selatan masih dikenal dengan sebutan Banda Sapuluah.</p>
<p>&#8220;Dari cerita nenek moyang kita terdahulu, saat raja-raja berkuasa pada masa penjajahan Belanda dan Portugis, rakyat kita hidup sejahtera, aman dan sentosa. Hasil padi dan laut berlimpah. Jadi, kegembiraan itu ditandai dengan gesekan biola rabab,&#8221; ucapnya.</p>
<p>Menurut bupati, sesuai masterplan dari dinas terkait, patung yang berdiri kokoh di kawasan Bukit Putus, Kacamatan IV Jurai, Painan itu, nantinya dibuat persis seperti orang sedang berabab, namun siapa tokoh yang menjadi sosok pada patung itu tidak disebutkan namanya.</p>
<p>&#8220;Siapa orangnya kita tidak sebutkan. Kalau di pajang nama orangnya, takut yang lain komplain. Sebab, kita tahu masyarakat Pessel banyak yang pintar-pintar main rabab. Jika perlu, nanti patung saya saja yang di pajang,&#8221; katanya.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/sebentar-lagi-tugu-rabab-pasisia-berdiri-di-painan/">Sebentar Lagi Tugu Rabab Pasisia Berdiri di Painan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4978</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 26/58 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-08-03 14:59:48 by W3 Total Cache
-->