<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Ramadan 2020 Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/ramadan-2020/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/ramadan-2020/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Jun 2020 04:35:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Ramadan 2020 Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/ramadan-2020/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Video Ceramah Ramadan: Sambul Idul Fitri di Tengah Pandemi</title>
		<link>https://langgam.id/video-ceramah-ramadan-sambul-idul-fitri-di-tengah-pandemi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 May 2020 12:30:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Ceramah Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan 2020]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=42362</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id- Menyambut kedatangan Idul Fitri bagi umat Islam merupakan kebahagian tersendiri. Idul Fitri di tengah pandemi corona tidak akan mengurangi rasa kegembiraan menyambut hari raya tersebut. ﻿ Hal ini disampaikan Ketua MUI Padang Prof Duski Samad, dalam tausyiah live streaming program Ceramah Ramadan yang digelar langgam.id dan PT Paragon Technology and Innovation, Sabtu (23/05/2020).</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/video-ceramah-ramadan-sambul-idul-fitri-di-tengah-pandemi/">Video Ceramah Ramadan: Sambul Idul Fitri di Tengah Pandemi</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #993300;"><a style="color: #993300;" href="http://langgam.id"><strong>Langgam.id-</strong></a></span> Menyambut kedatangan Idul Fitri bagi umat Islam merupakan kebahagian tersendiri. Idul Fitri di tengah <span style="color: #993300;"><a style="color: #993300;" href="https://corona.sumbarprov.go.id/">pandemi corona</a></span> tidak akan mengurangi rasa kegembiraan menyambut hari raya tersebut.</p>
<p><iframe src="https://www.youtube.com/embed/Y1tLrvhrlhU?start=129" width="100%" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"><span data-mce-type="bookmark" style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" class="mce_SELRES_start">﻿</span></iframe></p>
<p>Hal ini disampaikan Ketua MUI Padang Prof Duski Samad, dalam tausyiah live streaming program Ceramah Ramadan yang digelar langgam.id dan PT Paragon Technology and Innovation, Sabtu (23/05/2020).</p>
<p><a href="https://langgam.id/melanggar-tapi-berpahala/iklan-wardah-1/" rel="attachment wp-att-38545"><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-38545" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2020/05/IKLAN-WARDAH-1.jpg?resize=600%2C314&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="600" height="314" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2020/05/IKLAN-WARDAH-1.jpg?w=600&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2020/05/IKLAN-WARDAH-1.jpg?resize=300%2C157&amp;ssl=1 300w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /></a></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/video-ceramah-ramadan-sambul-idul-fitri-di-tengah-pandemi/">Video Ceramah Ramadan: Sambul Idul Fitri di Tengah Pandemi</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">42362</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Video Ceramah Ramadan: Menjadi Pribadi Pemaaf</title>
		<link>https://langgam.id/video-ceramah-ramadan-menjadi-pribadi-pemaaf/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 May 2020 13:21:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Ceramah Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan 2020]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=42359</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id- Orang yang memiliki pribadi pemaaf itu memiliki kecenderungan berperilaku positif. Orang yang memiliki sifat pemaaf biasanya tidak menyimpan dendam dan berupaya memperbaiki hubungan. Hal ini disampaikan Faizin dalam tausyiah live streaming program Ceramah Ramadan yang digelar langgam.id dan PT Paragon Technology and Innovation, Jumat (22/05/2020).</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/video-ceramah-ramadan-menjadi-pribadi-pemaaf/">Video Ceramah Ramadan: Menjadi Pribadi Pemaaf</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><span style="color: #993300;"><strong>Langgam.id-</strong></span> </a>Orang yang memiliki pribadi pemaaf itu memiliki kecenderungan berperilaku <span style="color: #993300;"><a style="color: #993300;" href="https://corona.sumbarprov.go.id/">positif</a></span>. Orang yang memiliki sifat pemaaf biasanya tidak menyimpan dendam dan berupaya memperbaiki hubungan.</p>
<p><iframe src="https://www.youtube.com/embed/GogFeJM_t10?start=95" width="100%" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p>Hal ini disampaikan Faizin dalam tausyiah live streaming program Ceramah Ramadan yang digelar langgam.id dan PT Paragon Technology and Innovation, Jumat (22/05/2020).</p>
<p><a href="https://langgam.id/membantu-di-saat-sulit/iklan-wardah/" rel="attachment wp-att-38540"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-38540" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2020/05/IKLAN-WARDAH.jpg?resize=600%2C314&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="600" height="314" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2020/05/IKLAN-WARDAH.jpg?w=600&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2020/05/IKLAN-WARDAH.jpg?resize=300%2C157&amp;ssl=1 300w" sizes="auto, (max-width: 600px) 100vw, 600px" /></a></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/video-ceramah-ramadan-menjadi-pribadi-pemaaf/">Video Ceramah Ramadan: Menjadi Pribadi Pemaaf</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">42359</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Cristine Dobbin: Kebangkitan Islam dan Gerakan Sosial di Minangkabau</title>
		<link>https://langgam.id/cristine-dobbin-kebangkitan-islam-dan-gerakan-sosial-di-minangkabau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Nasir]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 May 2020 02:01:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan 2020]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=41698</guid>

					<description><![CDATA[<p>Gerakan Padri kata Cristine Dobbin mengutip E.J. Hobsbawn (1962) digambarkan sebagai sebuah gerakan dalam masa kebangkitan Islam sedunia dalam akhir abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19. Namun ia berkeyakinan, bahwa gerakan dari Minangkabau adalah gerakan yang berdiri sendiri, meskipun  berada dalam satu semangat gerakan kebangkitan Islam di seluruh dunia. Ia juga setuju bahwa secara keseluruhan gerakan Padri merupakan ekspresi &#8216;ketidakpuasan sosial, kebencian terhadap orang asing, dan puritanisme agama yang bercampur dalam satu gerakan. Namun, dalam bukunya Gejolak Ekonomi Kebangkitan Islam dan Gerakan Padri: Minangkabau 1784-1847, ia mengajak pembaca untuk melihat dan membaca fenomena gerakan ini pada konteks sosial dan ekonomi</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/cristine-dobbin-kebangkitan-islam-dan-gerakan-sosial-di-minangkabau/">Cristine Dobbin: Kebangkitan Islam dan Gerakan Sosial di Minangkabau</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span class="dropcap " style="background-color: #ffffff; color: #993300; border-color: #ffffff;">G</span>erakan Padri kata Cristine Dobbin mengutip E.J. Hobsbawn (1962) digambarkan sebagai sebuah gerakan dalam masa kebangkitan Islam sedunia dalam akhir abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19. Namun ia berkeyakinan, bahwa gerakan dari Minangkabau adalah gerakan yang berdiri sendiri, meskipun  berada dalam satu semangat gerakan kebangkitan Islam di seluruh dunia.</p>
<p>Ia juga setuju bahwa secara keseluruhan gerakan Padri merupakan ekspresi &#8216;ketidakpuasan sosial, kebencian terhadap orang asing, dan puritanisme agama yang bercampur dalam satu gerakan. Namun, dalam bukunya Gejolak Ekonomi Kebangkitan Islam dan Gerakan Padri: Minangkabau 1784-1847, ia mengajak pembaca untuk melihat dan membaca fenomena gerakan ini pada konteks sosial dan ekonomi masyarakat Minangkabau, tempat terwujudnya gerakan Padri itu sendiri.</p>
<p>Ia menilai, tak kalah penting untuk memahami gerakan Padri itu sebagai sebuah evolusi masyarakat Islam di Minangkabau. Misalnya, ia tak semata melihat gerakan Padri sebagai gerakan kebangkitan Islam an sich, namun faktor pertanian justru ia lihat sebagai “trigger” yang tak boleh dikecilkan.</p>
<p>Jika ditinjau dari segi corak karya sejarahnya, Cristine Dobbin meletakkan gerakan Padri sebagai gerakan sosial. “Dengan cepat saya menyadari bahwa menulis tentang gerakan Padri berarti juga merekonstruksi sebuah masyarakat yang berada dalam gejolak transformasi pertanian,” demikian tulis Dobbin dalam prakata bukunya yang diterbitkan pertama kali oleh Curzon Press, London tahun 1983.</p>
<p>Namun, tulisan ini akan mencoba melihat bagaimana hubungan antara kebangkitan Islam dengan gerakan sosial di Minangkabau itu dalam perspektif sejarawan kelahiran 28 Maret 1941 di Bishop Auckland, County Durham, Inggris itu. Batas temporal peristiwa yang diulas dalam tulisan ini adalah gerakan Padri gelombang pertama, 1803-1821 (Dobbin menulisnya 1803-1819)</p>
<p><strong>Kebangkitan Kaum Terdidik</strong></p>
<p>Dobbin memulai analisis kebangkitan Islam dalam masyarakat Minangkabau melalui jalur tarekat. Menurut Dobbin Tarekat bisa masuk dalam sistem surau yang sudah ada di Minangkabau sejak zaman pra-Islam tanpa pergesekan apa pun. Selain itu, tarekat bisa diterima sebagai tambahan dalam kehidupan desa dan dengan gesit dapat menerima warna lokal.</p>
<p>Pada abad ke-18, ada tiga tarekat sufi di Minangkabau, yaitu Naqsyabandiyah, Syattariyah, dan Qadiriyah. Ketiga tarekat ini memiliki kesamaan ciri, yaitu ketaatan para murid surau terhadap Syekh (Tuanku) yang telah mengajari mereka tentang Islam.</p>
<p>Menurut Dobbin, ciri-ciri khas tarekat-tarekat yang ada di Minangkabau adalah ortodoks dan egaliter. Tidak yang ditinggikan dalam ritus (mungkin maksudnya amalan) dan hukum (fikih). Artinya, kurikulum, pembelajaran dan perlakuan terhadap murid-murid tarekat relatif sama. Dalam hal amalan tarekat, semua mengamalkan bacaan wirid dan zikir yang sama. Hal-hal yang sifatnya mistis hanya diajarkan kepada beberapa murid saja yang dianggap sudah mempunyai kemampuan lebih.</p>
<p>Dalam amalan fikih, bagian terbesar adalah pelajaran mengenai kewajiban dasar Islam (maksudnya mungkin fikih ibadah paktis). Buku pedoman yang terkenal untuk kajian syariat adalah kitab Minhaj at-Thalibin. Kitab ini ditulis oleh Imam al Nawawi dan dipakai sebagai rujukan di seluruh surau Minangkabau.</p>
<p>Berdasarkan paparan Dobbin di atas, sepertinya literasi beragama itu tidak semata menunjukkan orientasi keagamaan masyarakat Minangkabau yang hanya terfokus kepada aspek tarekat. Peran Surau tarekat dalam pengajaran ilmu syari’at (fikih) dan ilmu-ilmu alat untuk mendalami agama justru terlihat signifikan.</p>
<p>Hal ini bisa dikonfirmasi dengan catatan Verkerk Pistorius berjudul De Priester en Zijn lnvloed op de Samenleving in de Padangsche Bovenlanden (1869). Pistorious yang seorang kontrolir Belanda mengatakan bahwa waktu itu di Minangkabau sudah banyak tempat-tempat belajar agama Islam yang muridnya mencapai ribuan.</p>
<p>Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa akhir abad ke-18, praktik beragama masyarakat Minangkabau sudah mulai berdasarkan ilmu pengetahuan agama yang memadai. Kebangkitan kaum tarekat sebagaimana ditulis Dobbin akan lebih pas disebut dengan kebangkitan kaum terdidik.</p>
<p>Kaum terdidik inilah yang menjadi pionir gerakan kembali ke syari’at di kampung mereka masing-masing. Mereka ini melakukan pembaruan di nagari-nagari masing-masing disebabkan mereka sendiri merupakan bagian dari institusi yang berperan dalam pemerintahan nagari, demikian istilah yang digunakan Elizabeth E Graves  dalam bukunya berjudul Asal-usul Elite Minangkabau Modern: Respons terhadap kolonial Belanda Abad XIX/XX (2007)</p>
<p><strong>Dari Tarekat ke Syari’at</strong></p>
<p>Selanjutnya, menarik membahas tesis Dobbin tentang transformasi gerakan murid-murid tarekat menjadi gerakan syari’at. Surau tarekat ini, kata Dobbin dianggap sebagai alternatif untuk cara penanganan kejadian-kejadian dalam masyarakat, terutama yang berhubungan dengan dagang. Surau tarekat yang diamati Dobbin adalah surau-surau yang diasuh oleh guru tarekat Syattariah, dengan Tuanku nan Tuo sebagai tokoh sentralnya.</p>
<p>Tuanku Nan Tuo melakukan misi khusus. Ia mencoba membujuk desa-desa di dekatnya untuk menerima hukum Islam dalam berdagang. Mula-mula, Tuanku Nan Tuo mencari tempat-tempat penahanan orang-orang yang diculik dan yang akan dijual sebagai budak. la juga mencari  daerah-daerah yang melanggar peraturan dan ketetapan [Islam]. Desa-desa mereka diserbu dan ditahan. Dengan tindakan itu, para perampok menjadi takut merampok dan menjual orang-orang tahanan mereka.</p>
<p>Usaha itu berhasil dan menjelang pertengahan tahun 1790-an, daerah Empat Angkat mengalami kemajuan besar dalam pengaturan urusan dagang. Tuanku Nan Tuo pun akhirnya dikenal sebagai pelindung para pedagang, tulis Dobbin dengan mengutip Surat Keterangan Syekh Jalaluddin (SKSJ) Fakih Shaghir berjudul “Alamat Surat Keterangan daripada Saya Fakih Saghir Alamiyah Tuanku Sami’ Syeikh Jalaluddin Ahmad Koto Tuo Jua Adanya Wallahulhadi Ila Sabiil al Rasyad” yang ditulis sekitar tahun 1823.</p>
<p><strong>Revolusi para Pedagang Muslim</strong></p>
<p>Lalu, apa motif sebenarnya dari usaha Tuanku nan Tuo dan murid-muridnya itu? Dobbin mengungkapkan bahwa kejadian itu terkait dengan berkembangnya perniagaan kopi dan akasia di Minangkabau, terutama di wilayah Agam Tuo (Oud Agam).</p>
<p>Melihat catatan Syekh Jalaluddin Fakih Saghir di atas, meskipun ada kemajuan perdagangan akibat usaha Tuanku nan Tuo di Empat Angkat, tapi tidak berlaku untuk di daerah yang lain. Misalnya untuk daerah Pandai Sikek yang akan diceritakan setelah ini.</p>
<p>Peran murid-murid Syattariah akan terlihat berbeda di setiap daerah, misalnya di daerah Kamang. Para murid dan pengikut tarekat Syattariah pada umumnya adalah pedagang. Mereka banyak yang sukses dan kaya dalam perdagangan, sehingga mampu menunaikan ibadah haji ke Makkah, misalnya Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang, kata Dobbin.</p>
<p>Ketiga haji itu sempat menyaksikan revolusi Wahabi di Makkah dan dianggap menginspirasi ketiga haji tersebut. Haji Miskin sepulang dari haji kembali ke Pandai Sikek dan dimintai bantuan oleh Datuk Batuah, penghulu nagari Pandai Sikek untuk memperbaiki tata tertib perdagangan kopi dan akasia yang sedang berkembang di pasar nagari Pandai Sikek, dengan pengetahuan agamanya.</p>
<p>Datuak Batuah menilai tradisi jelek di pasar nagari itu berpengaruh kepada anak nagari. Mereka yang terlibat dalam aktivitas pasar menghamburkan uang dengan berjudi, mabuk-mabukan dan adu ayam. Akibatnya sering terjadi kerusuhan, perkelahian, pembunuhan hingga perampokan. Ia khawatir keadaan itu dapat mengganggu kesinambungan pasar.</p>
<p>Upaya perbaikan itu gagal. Akhirnya Haji Miskin membakar balai Pasar Pandai Sikek yang dijadikan gelanggang judi, mabuk/candu, adu ayam tersebut. Usai pembakaran balai, Haji Miskin melarikan diri ke Koto Laweh dan mendapat perlindungan dari Tuanku Pamansiangan (guru tarekat Syattariyah).</p>
<p>Hubungan Datuk Batuah dengan Haji Miskin di atas menurut Dobbin merupakan satu contoh dari hal yang banyak terjadi dalam gerakan Padri, yaitu kerjasama antara penghulu dan guru agama untuk memperkenalkan tata tertib baru dalam masyarakat Minangkabau. Karena itu, Dobbin menilai jika ada pemikiran bahwa gerakan Padri dilancarkan semata untuk menyerang sistem penghulu tanpa kompromi adalah pendapat yang  menyesatkan.</p>
<p>Tidak jauh beda dengan kesimpulan Buya Hamka dalam bukunya Ayahku, Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera (1982). Kata Hamka, “di banyak nagari faham baru itu diterima oleh kaum adat dengan sukarela. Banyak pengulu-pengulu dan ninik mamak yang menjadi orang penting dalam gerakan itu. Terutama di Luhak Agam.”</p>
<p>Sedangkan, upaya yang dilakukan murid-murid Syattariah itu dapat dianggap sebagai kritik para pedagang yang terdidik dengan pengetahuan agama dan menuntut agar syari’at Islam diterapkan dalam perdagangan. Bahwa para pedagang Padri itu anak nagari jua adanya.</p>
<p>Sebagai kesimpulan, apa yang dimaksud kebangkitan Islam oleh Dobbin dapat disebut sebagai kebangkitan pendidikan dan pengetahuan agama sebagai elan vital yang menggerakkan revolusi sosial Padri pada masa itu.</p>
<hr />
<p><a href="https://langgam.id/author/muhammadnasir/"><strong>Muhammad Nasir, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang</strong></a></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/cristine-dobbin-kebangkitan-islam-dan-gerakan-sosial-di-minangkabau/">Cristine Dobbin: Kebangkitan Islam dan Gerakan Sosial di Minangkabau</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">41698</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Video Ceramah Ramadan: Makna Idul Fitri</title>
		<link>https://langgam.id/video-ceramah-ramadan-makna-idul-fitri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2020 15:16:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Ceramah Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan 2020]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=41621</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id- Manusia diciptakan Allah untuk beribadah. Makanya, manusia mesti memaknai Idul Fitri sebagai bentuk mengembalikan diri sebagai hamba Allah. ﻿ Hal ini disampaikan Ustadz Solsafad Rustam dalam tausyiah live streaming program Ceramah Ramadan yang digelar langgam.id dan PT Paragon Technology and Innovation, Kamis (21/05/2020).</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/video-ceramah-ramadan-makna-idul-fitri/">Video Ceramah Ramadan: Makna Idul Fitri</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><span style="color: #993300;"><strong>Langgam.id-</strong></span> </a>Manusia diciptakan Allah untuk beribadah. Makanya, manusia mesti memaknai Idul Fitri sebagai bentuk mengembalikan diri sebagai hamba Allah.</p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/ZNKCJkibmfw?start=63" width="100%" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"><span data-mce-type="bookmark" style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" class="mce_SELRES_start">﻿</span></iframe></p>
<p>Hal ini disampaikan Ustadz Solsafad Rustam dalam tausyiah live streaming program Ceramah Ramadan yang digelar langgam.id dan <span style="color: #993300;"><a style="color: #993300;" href="https://www.paragon-innovation.com/">PT Paragon Technology and Innovation</a></span>, Kamis (21/05/2020).</p>
<p><a href="https://langgam.id/membantu-di-saat-sulit/iklan-wardah/" rel="attachment wp-att-38540"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-38540" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2020/05/IKLAN-WARDAH.jpg?resize=600%2C314&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="600" height="314" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2020/05/IKLAN-WARDAH.jpg?w=600&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2020/05/IKLAN-WARDAH.jpg?resize=300%2C157&amp;ssl=1 300w" sizes="auto, (max-width: 600px) 100vw, 600px" /></a></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/video-ceramah-ramadan-makna-idul-fitri/">Video Ceramah Ramadan: Makna Idul Fitri</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">41621</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Video Ceramah Ramadan: Merindukan Surga</title>
		<link>https://langgam.id/video-ceramah-ramadan-merindukan-surga/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 May 2020 13:11:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Ceramah Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan 2020]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=42353</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id- Hidup selalu berputar menuju Allah. Kerinduan orang-orang beriman dalam beribadah adalah bertemu dengan Allah di surga. ﻿ Hal ini disampaikan Muhammad Fauzi dalam tausyiah live streaming program Ceramah Ramadan yang digelar langgam.id dan PT Paragon Technology and Innovation, Rabu (20/05/2020).</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/video-ceramah-ramadan-merindukan-surga/">Video Ceramah Ramadan: Merindukan Surga</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #993300;"><a style="color: #993300;" href="http://langgam.id"><strong>Langgam.id-</strong></a></span> Hidup selalu berputar menuju Allah. Kerinduan orang-orang beriman dalam beribadah adalah bertemu dengan Allah di surga.</p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/kdF95UKBJoU?start=86" width="100%" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"><span data-mce-type="bookmark" style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" class="mce_SELRES_start">﻿</span></iframe></p>
<p>Hal ini disampaikan Muhammad Fauzi dalam tausyiah live streaming program Ceramah Ramadan yang digelar langgam.id dan <span style="color: #993300;"><a style="color: #993300;" href="https://www.paragon-innovation.com/">PT Paragon Technology and Innovation</a></span>, Rabu (20/05/2020).</p>
<p><a href="https://langgam.id/membantu-di-saat-sulit/iklan-wardah/" rel="attachment wp-att-38540"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-38540" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2020/05/IKLAN-WARDAH.jpg?resize=600%2C314&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="600" height="314" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2020/05/IKLAN-WARDAH.jpg?w=600&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2020/05/IKLAN-WARDAH.jpg?resize=300%2C157&amp;ssl=1 300w" sizes="auto, (max-width: 600px) 100vw, 600px" /></a></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/video-ceramah-ramadan-merindukan-surga/">Video Ceramah Ramadan: Merindukan Surga</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">42353</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Perang Candu di Minangkabau</title>
		<link>https://langgam.id/perang-candu-di-minangkabau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Nasir]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 May 2020 02:01:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan 2020]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=41371</guid>

					<description><![CDATA[<p>Perang Padri dalam kebanyakan buku teks sejarah nasional Indonesia ditulis sebagai perang kaum agama menentang kebiasaan perjudian, sabung ayam, menghisap candu/ madat, minuman keras, tembakau, sirih, dan persoalan adat yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. Tema ini terlihat luas. Namun salah satu agenda yang menarik dicermati adalah kebiasaan menghisap candu/madat yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau masa itu. Setelah dibaca aneka sumber ada secuil kisah menarik untuk dicermati, kisah yang lebih mirip perang candu. Di negeri Cina, Perang Candu atau Perang Anglo-Cina, berlangsung dari tahun 1839 &#8211; 1842 dan 1856– 1860. Perang ini bermula akibat disegelnya gudang candu Britania oleh Tentara</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/perang-candu-di-minangkabau/">Perang Candu di Minangkabau</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span class="dropcap " style="background-color: #ffffff; color: #993300; border-color: #ffffff;">P</span>erang Padri dalam kebanyakan buku teks sejarah nasional Indonesia ditulis sebagai perang kaum agama menentang kebiasaan perjudian, sabung ayam, menghisap candu/ madat, minuman keras, tembakau, sirih, dan persoalan adat yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.</p>
<p>Tema ini terlihat luas. Namun salah satu agenda yang menarik dicermati adalah kebiasaan menghisap candu/madat yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau masa itu. Setelah dibaca aneka sumber ada secuil kisah menarik untuk dicermati, kisah yang lebih mirip perang candu.</p>
<p>Di negeri Cina, Perang Candu atau Perang Anglo-Cina, berlangsung dari tahun 1839 &#8211; 1842 dan 1856– 1860. Perang ini bermula akibat disegelnya gudang candu Britania oleh Tentara Qing dibawah pimpinan Lin Zexu dan tentara Qing juga membuang 1 juta candu ke laut. Lin Zexu juga mengirim surat damai ke ratu Victoria walaupun tak pernah sampai ke beliau, tulis William Travis Hanes, dalam bukunya Opium Wars: The Addiction of One Empire and the Corruption of Another (2002).</p>
<p>Cina kalah dalam perang ini. Akibatnya setelah Perjanjian Nanjing dan Perjanjian Tianjin ditandatangani, Hong Kong, Macau, dan Taiwan diserahkan kepada Britania Raya, Prancis, dan Portugis.</p>
<p>Jika dilihat dari rentang waktu Perang Candu di Cina, Minangkabau lebih jauh mengawalinya, yaitu melalui tokoh-tokoh yang termasyhur semasa Perang Paderi. Siapa lagi kalau bukan Tuanku Imam Bonjol dan sahabat-sahabatnya.</p>
<p><a href="https://langgam.id/mengenal-mazhab-tuanku-imam-bonjol/"><strong>Baca juga: Mengenal Mazhab Tuanku Imam Bonjol</strong></a></p>
<p><strong>Perdagangan Candu di Minangkabau</strong></p>
<p>James Rush, dalam bukunya Opium to Java: Jawa dalam Cengkeraman Bandar-Bandar Opium Cina, Indonesia Kolonial 1860-1910 (2000) memberi informasi, bahwa candu merupakan komoditi yang legal diperdagangkan, yang dimonopoli dan dikontrol oleh penguasa Kolonial.</p>
<p>Akan halnya perdagangan candu di Minangkabau bemula dari kebijakan perusahaan dagang Hindia Belanda alias Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Pada tanggal 9 September 1792, VOC  mengeluarkan kebijaksanaan perdagangan, yang isinya adalah liberalisasi perdagangan. Setiap pegawai VOC atau pun tidak, dan bangsa apa pun juga, bebas datang untuk berdagang di Sumatra Barat.</p>
<p>Semua boleh diperdagangkan kecuali alat-alat perang dan lada yang tetap dipegang oleh VOC. Berdagang candu pun boleh, asal candunya dibeli di Batavia dan dari perusahaan yang ditetapkan Belanda, tulis Rusli Amran dalam bukunya Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang, (1981:334). Candu dibawa dari Padang dan Pulau Cingkuak. Salah satu bangsa pedagang candu terbesar adalah bangsa Cina.</p>
<p>Perdagangan candu ini mendapat perlindungan dari penerus VOC, yaitu pemerintah kolonial Belanda. Para pedagang candu, terutama bandar besar mendapat keistimewaan. Sejak mendapat lisensi penjual utama candu di Hindia Timur tahun 1754, Belanda bertanggung jawab mengontrol penjual-penjual opium grosiran yang kebanyakannya dimiliki oleh saudagar-saudagar Cina yang kaya.</p>
<p>Intensifkasi perdagangan candu ke dalam masyarakat semakin terlihat saat Residen Padang dijabat oleh James Du Puy. Du Puy menyodorkan dokumen perjanjian kontrak kepada para pemuka adat. Salah satu isi perjanjian itu adalah agar “Pemimpin-pemimpin rakyat harus menjalankan lagi peraturan-peraturan mengenai penjualan candu (amfioempacht) dan untuk ini mereka mendapat bayaran uang,”  tulis Rusli Amran, (1981:371).</p>
<p>Sementara, gudang-gudang opium di Pariaman, semakin gencar mengirim opium ke pelbagai pasar di Minangkabau. Belanda juga membuat kontrak dengan bandar candu. Kontrak itu berisi jaminan kepatuhan bahwa para bandar untuk mengambil opium hanya dari Belanda.</p>
<p>Gudang opium lainnya ada di kawasan Muaro Padang. Di sana ada empat orang saudagar besar Cina di Padang saat itu, yakni Lie Gieng, Lie Matjiaw, Lie Sing dan Hoi Atjouw. Saudagar Cina ini juga pemegang pacht (kontrak) pengedaran candu, serta penarikan pajak pasar dan cukai pelabuhan. Untuk melindungi para bandar tersebut Belanda juga memberi jabatan Letnan kepada salah seorang dari komunitas Cina itu, tulis Eko Yulianto dkk (Tim Penulis BI) dalam buku Mengawal Semangat Kewirausahaan: Peranan Saudagar dalam Memajukan Roda Ekonomi Sumatera Barat (2018:72).</p>
<p>Dari cara berdagang seperti ini, jelas Belanda bermain menang saja. Mereka mendapat keuntungan besar sebagai penyuplai utama. Keuntungan berasal dari hasil penjualan candu dan pajak-pajak penjualan.</p>
<p><strong>Respon Padri</strong></p>
<p>Berdasarkan cerita di atas, candu dengan jenis opium mulai diperdagangkan secara bebas di pasar-pasar Minangkabau semenjak akhir abad ke-18. Dampaknya tentu saja negatif bagi rakyat. Kebiasaan madat mulai tumbuh di masyarakat. Tidak hanya masyarakat kebanyakan, para penghulu adatpun terpapar kebiasaan buruk itu. Dari sinilah bermula perjuangan memberantas kebiasaan menghisap candu/madat yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau masa itu.</p>
<p>Pihak Padri tentu saja resah dengan situasi tersebut. Pada Desember 1824 merekapun membuat perundingan dengan pihak belanda yang dimediatori oleh saudagar Belanda Van Den Berg. Dari kalangan Padri langsung dihadiri oleh Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Nan Itam dan Tuanku Nan Gapuak, serta saudagar Paderi yang bernama Peto Magek, sebagaimana ditulis Eko Yulianto (2018:72).</p>
<p>Sebenarnya itu tidak mirip perundingan. Pihak Padri justru hanya meminta bantuan Belanda untuk secara bertahap melarang menghisap candu dan mengadu ayam. Permintaan ini tidak diindahkan sampai akhirnya terjadi perjanjian Masang antara Padri dan Belanda pada 15 November 1825. Setelah perjanjian Masang, Belanda berjanji akan mengendalikan perdagangan candu agar tidak terlalu jauh merusak masyarakat Minangkabau.</p>
<p>Respon lainnya terjadi beberapa tahun kemudian. Tuanku Nan Cerdik salah satu pentolan Padri di Pariaman mulai berperang melawan perdagangan candu ini pada tahun 1829. Tuanku Nan Cerdik awalnya bekerja sama dengan Belanda, namun pada akhirnya ia mulai memberi perlawanan demi melihat kerusakan yang terjadi akibat perdagangan candu ini. Tuanku Nan Cerdik menyuruh bunuh orang-orang Cina penjual candu, sumber pemasukan uang Belanda. Belanda marah dan mulai melancarkan tuduhan untuk memojokkan Tuanku nan Cerdik.</p>
<p>Di antara tuduhan yang dialamatkan kepada Tuanku Nan Cerdik adalah bahwa ia diduga telah membunuh orang Cina berkaitan dengan bisnis candu di Pariaman. Tak tanggung-tanggung, Belanda menjanjikan hadiah ḟ1.000 (seribu gulden) kepada siapa yang dapat menangkap Tuanku Nan Cerdik dari Naras, demikian kata J.C Boelhouwer dalam bukunya Kenang-kenangan di Sumatera Barat: selama tahun-tahun 1831-1834 (1986:45).</p>
<p>Artinya, perang candu di Minangkabau (Sumatera Barat) bukanlah “perang dagang” langsung seperti perang candu di Cina. Perang ini sesungguhnya berawal dari niat pemimpin Padri agar rakyat hidup menurut ajaran agama yang sebenarnya. Agar terbebas dari kebiasaan yang tidak baik seperti berjudi, sabung ayam dan mengisap barang haram, candu atau opium yang dijual Belanda itu.</p>
<hr />
<p><strong><a href="https://www.facebook.com/kari.sati">Muhammad Nasir</a>, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/perang-candu-di-minangkabau/">Perang Candu di Minangkabau</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">41371</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Video Ceramah Ramadan: Hikmah dari Kematian</title>
		<link>https://langgam.id/video-ceramah-ramadan-hikmah-dari-kematian/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 May 2020 13:42:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Ceramah Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan 2020]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=42344</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id- Kematian itu mengingatkan waktu yang diberikan Allah kepada manusia sangat berharga. Setiap umat Islam mesti memanfaatkan waktu yang diberikan Allah sebaik-baiknya untuk beribadah. ﻿ Hal ini disampaikan Djanuis Syukur dalam tausyiah live streaming program Ceramah Ramadan yang digelar langgam.id dan PT Paragon Technology and Innovation, Selasa (19/05/2020).</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/video-ceramah-ramadan-hikmah-dari-kematian/">Video Ceramah Ramadan: Hikmah dari Kematian</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #993300;"><a style="color: #993300;" href="http://langgam.id"><strong>Langgam.id-</strong></a></span> Kematian itu mengingatkan waktu yang diberikan Allah kepada manusia sangat berharga. Setiap umat Islam mesti memanfaatkan waktu yang diberikan Allah sebaik-baiknya untuk beribadah.</p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/oEiu2UqzBDI?start=90" width="100%" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"><span data-mce-type="bookmark" style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" class="mce_SELRES_start">﻿</span></iframe></p>
<p>Hal ini disampaikan Djanuis Syukur dalam tausyiah live streaming program Ceramah Ramadan yang digelar langgam.id dan <span style="color: #993300;"><a style="color: #993300;" href="https://www.paragon-innovation.com/">PT Paragon Technology and Innovation</a></span>, Selasa (19/05/2020).</p>
<p><a href="https://langgam.id/membantu-di-saat-sulit/iklan-wardah/" rel="attachment wp-att-38540"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-38540" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2020/05/IKLAN-WARDAH.jpg?resize=600%2C314&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="600" height="314" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2020/05/IKLAN-WARDAH.jpg?w=600&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2020/05/IKLAN-WARDAH.jpg?resize=300%2C157&amp;ssl=1 300w" sizes="auto, (max-width: 600px) 100vw, 600px" /></a></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/video-ceramah-ramadan-hikmah-dari-kematian/">Video Ceramah Ramadan: Hikmah dari Kematian</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">42344</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kewajiban Fidyah dan Besaran yang Harus Dibayar Pengganti Puasa Ramadan</title>
		<link>https://langgam.id/kewajiban-fidyah-dan-besaran-yang-harus-dibayar-pengganti-puasa-ramadan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rahmadi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 May 2020 13:32:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan 2020]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=41305</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Umat Islam yang tidak mampu berpuasa sesuai ketentuan mendapat keringanan dengan mengganti dengan membayarkan fidyah. Pembayarannya diberikan sebagai ganti puasa wajib di bulan suci Ramadan. Ketua Badan Amil Zakat Nasional Sumatra Barat (Sumbar), Syamsul Bahri Khatib mengatakan besaran fidyah dapat diberikan sebanyak apa yang dimakan setiap hari oleh seseorang. Jumlahnya sekitar satu liter beras untuk setiap satu hari tidak berpuasa. Jumlah total pembayaran fidyah dikalikan dengan jumlah berapa hari lamanya ia tidak berpuasa. &#8220;Kalau mau mengganti ke uang, jumlah uangnya itu senilai dengan uang satu liter beras itu. Nilainya beda-beda setiap orang sesuaikan saja dengan beras apa yang</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kewajiban-fidyah-dan-besaran-yang-harus-dibayar-pengganti-puasa-ramadan/">Kewajiban Fidyah dan Besaran yang Harus Dibayar Pengganti Puasa Ramadan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://langgam.id/">Langgam.id</a> &#8211; Umat Islam yang tidak mampu berpuasa sesuai ketentuan mendapat keringanan dengan mengganti dengan membayarkan fidyah. Pembayarannya diberikan sebagai ganti puasa wajib di bulan suci Ramadan.</p>
<p>Ketua Badan Amil Zakat Nasional Sumatra Barat (Sumbar), Syamsul Bahri Khatib mengatakan besaran fidyah dapat diberikan sebanyak apa yang dimakan setiap hari oleh seseorang.</p>
<p>Jumlahnya sekitar satu liter beras untuk setiap satu hari tidak berpuasa. Jumlah total pembayaran fidyah dikalikan dengan jumlah berapa hari lamanya ia tidak berpuasa.</p>
<p>&#8220;Kalau mau mengganti ke uang, jumlah uangnya itu senilai dengan uang satu liter beras itu. Nilainya beda-beda setiap orang sesuaikan saja dengan beras apa yang dimakannya setiap hari,&#8221; katanya, Selasa (19/5/2020).</p>
<p>Ia mengingatkan agar setiap orang yang ingin membayarkan fidyah maka berikanlah yang terbaik. Terutama bagi mereka tergolong orang mampu. Fidyah harus dapat mengenyangkan penerimanya.</p>
<p>Sedangkan untuk waktu pembayaran sebaiknya disegerakan. Terutama mulai saat ini hingga Ramadan berakhir. Fidyah dibayarkan sebanyak jumlah hari tidak puasa.</p>
<p>Sementara orang yang dapat dikenakan fidyah yaitu orang yang sakit dan sulit untuk sembuh lagi dan tidak bisa menjalani puasa. Kemudian orang tua yang sudah lemah atau lansia yang sudah tidak kuat lagi menjalani puasa.</p>
<p>Selanjutnya wanita hamil atau menyusui yang khawatir bila berpuasa akan berdampak merusak pada dirinya, atau pada anak dalam kandungannya maupun berdampak pada kualitas ASI untuk anaknya.</p>
<p>&#8220;Wanita hamil bisa kena fidyah kalau itu merusak kandungannya, hal itu tentu konsultasi dengan dokter dulu apakah benar merusak, tidak bisa serta merta tidak puasa lalu fidyah,&#8221; katanya.</p>
<p>Ia mengingatkan agar setiap muslim yang tergolong kena fidyah itu hukumnya wajib membayarkan. Bagi yang tidak membayarkan fidiyah maka dianggap sama saja tidak berpuasa.</p>
<p>&#8220;Ini sama dengan puasa tapi keringanan, kalau tidak bayar sama saja tidak berpuasa,&#8221; ujarnya. <strong>(Rahmadi/ICA)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kewajiban-fidyah-dan-besaran-yang-harus-dibayar-pengganti-puasa-ramadan/">Kewajiban Fidyah dan Besaran yang Harus Dibayar Pengganti Puasa Ramadan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">41305</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Syekh Tahir Jalaluddin: Ulama Ahli Astronomi, Mengembara Hingga Semenanjung Malaka</title>
		<link>https://langgam.id/syekh-tahir-jalaluddin-ulama-ahli-astronomi-mengembara-hingga-semenanjung-malaka/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 May 2020 11:25:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan 2020]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama Minangkabau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=41169</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Syekh Muhammad Tahir Jalaluddin &#8211; sering juga ditulis dengan Thaher &#8211; adalah ulama ahli ilmu falak dan astronomi. Karena itu, nama belakangnya juga sering ditambah Al-Falaki. Lahir di Luhak Agam, Minangkabau, ia mengembara ke berbagai negara dan daerah hingga akhirnya menetap sampai akhir hayat di Semenanjung Malaka, Malaysia. Syekh Tahir lahir di Cangkiang, Nagari Batu Taba, Ampek Angkek, Kabupaten Agam. &#8220;Syekh Tahir dilahirkan pada 4 hari bulan Ramadan 1286, berkebetulan dengan 7 Desember 1869,&#8221; tulis Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) di Buku &#8220;Ayahku&#8221; (1982). Itu artinya, menurut Hamka, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi lebih tua 10 tahun</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/syekh-tahir-jalaluddin-ulama-ahli-astronomi-mengembara-hingga-semenanjung-malaka/">Syekh Tahir Jalaluddin: Ulama Ahli Astronomi, Mengembara Hingga Semenanjung Malaka</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Syekh Muhammad Tahir Jalaluddin &#8211; sering juga ditulis dengan Thaher &#8211; adalah ulama ahli ilmu falak dan astronomi. Karena itu, nama belakangnya juga sering ditambah Al-Falaki. Lahir di Luhak Agam, Minangkabau, ia mengembara ke berbagai negara dan daerah hingga akhirnya menetap sampai akhir hayat di Semenanjung Malaka, Malaysia.</p>
<p>Syekh Tahir lahir di Cangkiang, Nagari Batu Taba, Ampek Angkek, Kabupaten Agam. &#8220;Syekh Tahir dilahirkan pada 4 hari bulan Ramadan 1286, berkebetulan dengan 7 Desember 1869,&#8221; tulis Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) di Buku &#8220;Ayahku&#8221; (1982).</p>
<p>Itu artinya, menurut Hamka, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi lebih tua 10 tahun dibanding Syekh Tahir. Syekh Ahmad Khatib adalah kakak sepupu Syekh Tahir. Ibu mereka bersaudara. Gandam Urai, ibu Syekh Tahir adalah kakak kandung Limbak Urai, ibunda Syekh Ahmad Khatib.</p>
<p>Ayah Syekh Tahir adalah Tuanku Muhammmad yang lebih dikenal sebagai Tuanku Cangkiang. Kakeknya Jalaluddin gelar Tuanku Samik, adalah regen Luhak Agam. Sejak dini, Taher kecil mendapatkan pelajaran agama dari ayahnya sendiri. Saat ayahandanya meninggal dunia, Syekh Tahir diajar mengaji oleh ayahanda Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Pada tahun 1297 (1880 Masehi), Tahir berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji.</p>
<p>Dalam catatan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi Tahir sampai di Mekkah pada 1298 Hijriah (1881 Masehi). &#8220;Di tahun ini pula datang keluargaku untuk menunaikan ibadah haji, yaitu ibuku, saudara perempuanku Hafshah dan Shafiyah, anak bibiku Muhammad Tahir bin Jalaluddin gelar Faqih Cangking,&#8221; tulis Syekh Ahmad Khatib dalam otobiografinya, &#8220;Dari Minangkabau untuk Dunia Islam&#8221;.</p>
<p>Hasril Chaniago dalam &#8220;101 Orang Minang di Pentas Sejarah&#8221; (2010) menulis, di Mekkah, Tahir muda tinggal bersama Syekh Muhammad Saleh Al-Kurdi. &#8220;Ia belajar mengaji Al-Quran kepada Syekh Abdul Haq di madrasah Asy-Syaikh Rahmatullah. Di samping itu, ia belajar kitab kepada Syekh Umar Syatha dan Syekh Muhammad Al-Khaiyath,&#8221; tulisnya.</p>
<p>&#8220;Setelah itu, dia mempelajari berbagai biedang ilmu seperti nahwu, sharaf, ma&#8217;ani, badi&#8217;, mantik, fikih, hadits, tafsir, geometri dan ilmu falak (astronomi),&#8221; tulis Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar dalam &#8220;Mengenal Karya-Karya Ilmu Falak Nusantara&#8221;.</p>
<p>Tahir muda juga belajar pada ulama Melayu Syeikh Ahmad Al-Fathani yang baru kembali ke Mekkah dari Mesir pada 1882. Karena anjuran Syeikh Al-Fathani, Tahir kemudian berangkat ke Mesir untuk belajar di Universitas Al-Azhar.</p>
<p>Yulizal Yunus, dalam profil Syekh Tahir di Buku &#8220;Riwayat Hidup Ulama Sumatera Barat dan Perjuangannya&#8221; (2001) menulis, Tahir tercatat, sebagai orang Indonesia pertama yang belajar di Al-Azhar. Selama di Mesir, Tahir mendalami dan memantapkan ilmu falak. &#8220;Dalam waktu tiga tahun ia berhasil meraih diploma &#8216;Syahaadah Ahmiyah&#8217; di Universitas Al-Azhar,&#8221; tulis Yulizal.</p>
<p>Dari Mesir ia sempat kembali ke Mekkah. Menurut Hamka, Syekh Tahir turut membantu Syekh Ahmad Khatib mengajar murid-muridnya. Salah satu murid Syekh Tahir adalah ayahanda Buya Hamka, Syekh Abdul Karim Amrullah yang kelak mendapat doktor honoris causa dari Mesir. &#8220;Dia lebih ahli dalam hal falak. Sebab itu namanua biasa disebuty Syeikh Ahmad Tahir Jalaluddin Al Azhari Al Falaki,&#8221; tulis Hamka.</p>
<p>Setelah menuntut ilmu di Mekkah dan Mesir, pada 1888 Syekh Tahir Jalaluddin tidak pulang ke Minangkabau, tetapi ke Singapura. &#8220;Menurut catatannya sendiri, ia pertama kali menginjakkan kakinya di Singapura pada tanggal 20 Mei 1888. Sejak itu ia menuliskan namanya secara lengkap menjadi Syekh Muhammad Tahir bin Muhammad bin Jalaluddin Ahmad bin Abdullah Al-Minangkabawi Al-Azhari,&#8221; tulis Hasril.</p>
<p>Dari Singapura, Syekh Tahir berkeliling mengembara ke berbagai daerah di Indonesia untuk menetap beberapa bulan, berdialog dengan para raja, ulama dan berdakwah. Ia antara lain mengunjungi Riau, Kepulauan Anambas, Surabaya, Buleleng, Bali, Sumbawa, Bima, Makassar, Gowa dan kembali ke Singapura.</p>
<p>Setelah menetap di Singapura, Syekh Tahir kemudian menerbitkan Majalah Al-Imam. Majalah Al-Imam sejak pertama terbit, mempunyai misi kuat menyuarakan pembaruan pemikiran Islam. Menurut Hamka, karena Syekh Tahir pernah belajar di Mesir, berkenalan rapat dengan Sayid Rasyid Ridha, berlangganan Al-Manaar sejak terbitnya, suara beliau lebih lantang menyatakan pendiriannya.</p>
<p>Majalah ini yang kemudian mempengaruhi Haji Abdullah Ahmad didukung Syekh Abdul Karim Amrullah, Syekh Djamil Djambek dan Syekh Thaib Umar Sungayang menerbitkan Majalah Al-Munir di Padang.</p>
<p>Setelah Majalah Al-Imam berhenti terbit, pada 1909 Syekh Tahir kemudian mendirikan Sekolah Al-Iqbal Al-Islami di Singapura. Pada 1914 ia pindah ke Johor, mengajar para hakim dan mendirikan sekolah. Empat tahun kemudian, pada 1918 ia hijrah lagi ke Kuala Kangsar, Kerajaan Perak atas permintaan keluarga kerajaan.</p>
<p>&#8220;Ia hampir saja diangkat menjadi mufti kerajan Perak, tetapi pikiran-pikirannya condong ke &#8216;kaum muda&#8217;. Dia mendapat tantangan dari &#8216;kaum tua&#8217;,&#8221; tulis Saifullah dan Febri Yulika dalam &#8220;Pertautan Budaya-Sejarah Minangkabau &amp; Negeri Sembilan&#8221;.</p>
<p>Menetap di Kuala Kangsar, pengaruhnya tetap terasa besar ke Minangkabau. Saat ia pulang ke Ranah Minang pada 1927, ia disambut luar biasa oleh ulama pembaharu dan umat. Syekh Tahir berkeliling Sumatra Barat berdakwah mengembuskan pembaruan pemikiran Islam sekaligus gerakan anti-kolonlisme.</p>
<p>Ia langsung menjadi target Belanda. Saat kembali ke Ranah Minang pada 1928, Syekh Tahir langsung ditangkap dengan tuduhan tak masuk akal, ikut menyebarkan paham komunis. Syekh Tahir semula ditahan di Bukittinggi kemudian dipindahkan ke Padang.</p>
<p>Penangkapan ini menimbulkan kehebohan. Protes keras disuarakan Sarekat Islam di Volksraad, Muktamar Muhammadiyah di Solo mengecam keras. Penahanan ulama dianggap sebagai penghinaan Pemerintah Hindia Belanda kepada umat Islam. &#8220;Enam bulan ditahan dan diperiksa, ternyata tuduhan kepadanya sebagai penyebar paham komunis tak terbukti. Yang benar, Belanda memang takut dan cemas dengan pengaruh Syekh Tahir yang mengobarkan pembaruan Islam dan perlawanan terhadap penjajah,&#8221; tulis Hasril.</p>
<p>Setelah bebas, Syekh Tahir kembali ke Kuala Kungsar untuk meneruskan kegiatan pendidikan Islam, berdakwah dan menulis puluhan buku. Di bidang ilmu falak, ia menulis empat buku. Pertama, &#8220;Natijatul Umur&#8221; terbit pada 1936 berisi mengenai perhitungan Tahun Hijriah dan Masehi, arah kiblat dan waktu salat yang dapat digunakan sepanjang masa.</p>
<p>Kedua, buku &#8220;Jadawil Pati Kiraan Pada Menyatakan Waktu yang Lima dan Hala Qiblat dengan Logharitma&#8221; terbit di Singapura pada 1938. Buku kedua ini berisi tentang perhitungan falakiah. Buku lainnya &#8220;Nukhabatut Taqrirat fi Hisabil Auqat wa Sammatil Qiblat bil Lugharitmat&#8221; mengupas kaedah ilmu falak, terbit pada 1937.</p>
<p>Buku Ilmu Falak lainnya adalah &#8220;Al-Qiblah fi Nushushi &#8216;Ulamais Syafi&#8217;iyah fi ma Yata&#8217;allaqu bi Istiqbalil Qiblatis Syar&#8217;iyah Manqulab min Ummuhat Kutubil Mazhab&#8221; terbit pada 1951. Buku ini disahkan oleh Majlis Ugama Islam dan Adat Melayu Perak.</p>
<p>Syekh Tahir Jalaluddin menikah tujuh kali sepanjang usianya. Dengan enam isterinya dari Minangkabau yang kemudian berpisah baik-baik, ia tak memperoleh keturunan. Dengan isterinya Aishah binti Haji Mustafa di Kuala Kangsar, ia memperoleh enam anak.</p>
<p>Syekh Tahir Jalaluddin wafat setelah salat subuh pada 26 Oktober 1956. Jasa-jasa keulamaannya sangat dihormati di Malaysia dan dikenang di tanah kelahirannya Minangkabau. Di Malaysia, namanya diabadikan jadi ke Pusat Falak Malaysia, &#8220;Pusat Falak Syeikh Tahir&#8221; (Sheikh Tahir Astronomical Center) yang didirikan pada 9 Oktober 1991 di Pulau Pinang, Malaysia.</p>
<p>Buya Hamka menempatkan pemikiran dua sepupu: Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dan Syekh Tahir Jalaluddin pada posisi teratas dalam mempengaruhi gerakan pembaruan Islam di Minangkabau. (HM)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/syekh-tahir-jalaluddin-ulama-ahli-astronomi-mengembara-hingga-semenanjung-malaka/">Syekh Tahir Jalaluddin: Ulama Ahli Astronomi, Mengembara Hingga Semenanjung Malaka</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">41169</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Panjang Tangan Itu, Mulia</title>
		<link>https://langgam.id/panjang-tangan-itu-mulia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuzul Iskandar]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 May 2020 02:04:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan 2020]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=40962</guid>

					<description><![CDATA[<p>Suatu hari, para istri Nabi SAW mematut-matut dan membandingkan tangannya satu sama lain. Itu terjadi setelah Nabi berujar bahwa istrinya yang paling awal menyusulnya adalah yang paling panjang tangannya. Maksudnya, yang paling awal meninggal dunia kelak. Lantas diketahui, istri Nabi yang tangannya paling panjang adalah Saudah r.a, karena memang posturnya paling tinggi. Namun kemudian, sejarah membuktikan bahwa istri Nabi yang lebih dulu wafat adalah Zainab r.a., bukan Saudah (yaitu sepuluh tahun setelah Nabi wafat). Padahal, Zainab termasuk perempuan berperawakan kecil. Apakah omongan Nabi meleset? Aisyah r.a. kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan panjang tangan oleh Nabi saat itu adalah yang</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/panjang-tangan-itu-mulia/">Panjang Tangan Itu, Mulia</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span class="dropcap " style="background-color: #ffffff; color: #993300; border-color: #ffffff;">S</span>uatu hari, para istri Nabi SAW mematut-matut dan membandingkan tangannya satu sama lain. Itu terjadi setelah Nabi berujar bahwa istrinya yang paling awal menyusulnya adalah yang paling panjang tangannya. Maksudnya, yang paling awal meninggal dunia kelak.</p>
<p>Lantas diketahui, istri Nabi yang tangannya paling panjang adalah Saudah r.a, karena memang posturnya paling tinggi. Namun kemudian, sejarah membuktikan bahwa istri Nabi yang lebih dulu wafat adalah Zainab r.a., bukan Saudah (yaitu sepuluh tahun setelah Nabi wafat). Padahal, Zainab termasuk perempuan berperawakan kecil.</p>
<p><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-38540 size-full" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2020/05/IKLAN-WARDAH.jpg?resize=600%2C314&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="600" height="314" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2020/05/IKLAN-WARDAH.jpg?w=600&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2020/05/IKLAN-WARDAH.jpg?resize=300%2C157&amp;ssl=1 300w" sizes="auto, (max-width: 600px) 100vw, 600px" />Apakah omongan Nabi meleset? Aisyah r.a. kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan panjang tangan oleh Nabi saat itu adalah yang paling gemar bersedekah, bukan yang posturnya tinggi. Kenyataannya memang, Zainab adalah istri Nabi yang paling gemar bersedekah. Penjelasan ini bisa dibaca dalam Sahih Bukhari.</p>
<p>Keterangan tersebut jadi satu bukti bahwa untuk memahami teks Hadis, termasuk Alquran, tak cukup hanya dengan cara tersurat. Alquran dan Hadis itu adalah teks. Setiap teks punya metodenya sendiri, punya kaidahnya sendiri. Maka untuk memahami setiap teks, perlu memahami kaidahnya lebih dulu.</p>
<p>Bayangkan kalau tanpa kaidah yang tepat! Frasa &#8220;tangan yang paling panjang&#8221; (teks hadisnya: athwalukunna yadan) akan dipahami sebagai panjang tangan secara fisik (postur). Terbukti pemahaman seperti itu meleset.</p>
<p>Dalam kajian kebahasaan Arab, “tangan panjang” itu masuk dalam pembahasan “majaz”, yaitu gaya bahasa yang menggunakan kiasan dan metafora, untuk menampilkan kesan keindahan dalam berbahasa. Majaz ini tidak hanya dibahas dalam ilmu balaghah, tapi juga ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu tauhid, dan ushul fiqh. Ada banyak teks Alquran dan Hadis yang menggunakan gaya bahasa majaz ini.</p>
<p>Di telinga orang Indonesia, &#8220;panjang tangan&#8221; bermakna lain lagi. Itulah kiasan bagi orang yang suka mencuri. Bayangkan betapa &#8220;panjang tangan&#8221; yang makna awalnya sangat mulia bisa berubah jadi teramat nista, kalau metodenya sembrono.</p>
<p>Hal ini sekaligus mengisyaratkan agar pegiat ilmu-ilmu keislaman selayaknya juga mendalami ilmu sosial, ilmu alam, sastra, dan seterusnya. Para penstudi hadis, misalnya, juga perlu belajar sosiologi, sehingga bisa lebih tepat membedakan antara makna sosial “panjang tangan” di Arab dengan di Indonesia, misalnya. Demikian juga pada kasus-kasus lainnya.</p>
<p>Situasi pandemi korona ini adalah desakan kuat ke arah itu. Mengapa penjelasan medis seringkali ditentang oleh sebagian kalangan menggunakan dalil-dalil agama, padahal belum tentu relevan? Salah satunya, karena kita defisit pakar hukum Islam yang punya kemampuan medis, atau ahli kedokteran yang mampu menjelaskan dalil-dalil agama. Literasi keagamaan dan literasi kesehatan kita teramat pincang.</p>
<p>Ketika sebuah kebijakan publik diterapkan, tak jarang dibantai oleh sebagian kalangan menggunakan dalil-dalil keagamaan. Namun, ketika ditanya betul, apa solusi strategisnya menurut dalil yang dikemukakan itu? Kepala si penentang tadi langsung tertakur. Bingung, tak tentu mau berkata apa. Itu gejala betapa ahli agama kita mesti mengerti ilmu kebijakan publik, atau ahli kebijakan publik yang perlu meningkatkan wawasan keagamaannya.</p>
<p>Sejumlah lembaga pendidikan Islam sebenarnya sudah lama mengarah ke sini. Kita bisa temukan informasi dengan mudah bahwa di Universitas al-Azhar Mesir, misalnya, tidak sekadar terdapat Fakultas Sains dan Kedokteran, tetapi juga para syekh-nya yang ahli di bidang fikih sekaligus berlatar pendidikan sarjana kedokteran; atau para pakar tafsir dan hadis yang juga ahli teknik.</p>
<p>Prof. Quraish Shihab, pengarang Tafsir al-Misbah, berbagi pengalaman saat belajar di Universitas Al-Azhar. Ia belajar dan dibimbing oleh seorang pakar tafsir yang dulunya menempuh pendidikan sosiologi di Universitas Sorbonne, Prancis. Cerita ini beliau tulis dalam pengantar bukunya, Rasionalitas al-Qur’an.</p>
<p>Itu contoh baik yang perlu ditiru oleh bangsa ini untuk pengembangan pendidikan. Hanya saja, informasi seperti ini kadangkala kurang berimbang di tengah masyarakat, sehingga mahasiswa Indonesia yang diutus ke kampus-kampus keagamaan ternama di luar negeri, rata-rata masuk fakultas keagamaan, dan amat minim masuk fakultas sains.</p>
<p>Minangkabau punya contoh spektakuler dalam hal ini. Lebih seabad silam, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi mengkritik sistem kewarisan di tanah kelahirannya ini, seraya melabelinya dengan fatwa haram, fasiq, zindiq, ahli neraka, dan sebagainya. Kritik keras tersebut bisa dibaca dalam risalah yang beliau tulis sendiri dari tanah Makah, “al-Da’ al-Masmu’ fi Radd ala Man Yuritsu al-Ikhwah wa Awlad al-Ikhwah”.</p>
<p>Namun, Syekh Abdul Karim Amrullah (Inyiak Rasul) menangkis kritikan gurunya itu dengan memberikan penjelasan sosiologis yang benderang tentang tanah di Minangkabau. Berangkat dari penelusuran sosiologisnya itu, Inyiak Rasul menyimpulkan bahwa kewarisan harta pusaka di Minangkabau tidak tepat disorot dengan fikih mawaris, tapi mestinya dengan fikih wakaf.</p>
<p>Dari telaah Inyiak Rasul inilah kemudian lahir konsep “Harta pusaka tinggi” dan “harta pusaka rendah” di Minangkabau. Penjelasan itu beliau tulis dalam kitabnya, “al-Fara’idh” dan disinggung pula di karangannya yang lain, “Sendi Aman Tiang Selamat”. Penjelasan Inyiak Rasul diikuti oleh sebagian besar ulama di Minangkabau, termasuk ulama-ulama yang sebelumnya berseberangan dengan beliau, seperti Syekh Sulaiman Arrasuli (Inyiak Canduang) dan Syekh Khatib Ali Padang.</p>
<p>Bahkan, Inyiak Canduang adalah salah satu ulama yang gencar mengampanyekan agar harta pusaka tinggi dan harta pusaka rendah ini diterapkan di Minangkabau, melalui konsep Pertalian Adat dan Syara’. Syekh Khatib Ali lah, menurut sebagian kalangan, yang pertama kali menerapkan konsep harta pusaka tinggi dan pusaka rendah ini.</p>
<p>Kalaulah boleh berandai-andai pada sejarah: jika fatwa Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dari Makkah sana diaminkan saja oleh ulama-ulama di Minangkabau (yang sebagian besar adalah muridnya sendiri) tanpa penelusuran sosiologis yang memadai, tentau sistem kewarisan harta pusaka tua ini sudah disepakati haram semenjak lebih dari seabad lalu.</p>
<p>Kalau sudah haram, maka semua tanah di Minangkabau ini mesti diserahkan ke negara. Oleh negara, harta itu boleh dijual kepada siapapun yang mau dan berpunya, lalu mereka bisa memperjual-belikannya lagi ke siapapun yang dimau.</p>
<p>Alur kewarisan “dari niniak turun ka mamak, dari mamak turun ka kamanakan” tak bakal lagi ada. Semuanya tanah bisa dijual-belikakan sebebasnya. Tak ada lagi pusako tinggi. Jika itu terjadi, apa lagi yang tersisa dari Minangkabau hari ini?</p>
<p>Konsepsi Inyiak Rasul dkk. itulah yang—pada adat—menyelamatkan Minangkabau sampai sekarang. Minangkabau berhutang besar pada para ulama itu.<strong>[]</strong></p>
<hr />
<p><strong>Nuzul Iskandar, Dosen Hukum Islam IAIN Kerinci</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/panjang-tangan-itu-mulia/">Panjang Tangan Itu, Mulia</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">40962</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 25/116 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-06-13 03:24:59 by W3 Total Cache
-->