<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Perubahan Iklim Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/perubahan-iklim/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/perubahan-iklim/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 Apr 2026 05:02:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Perubahan Iklim Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/perubahan-iklim/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Diskusi “Suara dari Bumi Sumatera” Soroti Krisis Iklim, Konflik Energi, dan Keadilan Pembangunan Lokal</title>
		<link>https://langgam.id/diskusi-suara-dari-bumi-sumatera-soroti-krisis-iklim-konflik-energi-dan-keadilan-pembangunan-lokal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2026 09:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan Iklim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=245619</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Krisis iklim dan tantangan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal menjadi sorotan utama dalam diskusi publik bertajuk “Suara dari Bumi Sumatera”. Forum ini menghadirkan beragam perspektif, mulai dari akademisi, aktivis, pemerintah, hingga masyarakat terdampak, untuk membedah situasi krisis ekologis yang kian kompleks di Sumatera Barat. Dari sisi advokasi hukum, Direktur LBH Padang Diki Rafiki menegaskan bahwa Sumatera sedang menghadapi bencana ekologis yang berulang. Ia menyebut kerusakan ekosistem tidak hanya bersumber dari satu sektor seperti pertambangan, tetapi juga melibatkan berbagai aktivitas pendukung yang memperparah dampak lingkungan. “Kerugian akibat kerusakan ini diperkirakan mencapai lebih dari Rp100 triliun. Ini menunjukkan bahwa krisis</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/diskusi-suara-dari-bumi-sumatera-soroti-krisis-iklim-konflik-energi-dan-keadilan-pembangunan-lokal/">Diskusi “Suara dari Bumi Sumatera” Soroti Krisis Iklim, Konflik Energi, dan Keadilan Pembangunan Lokal</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Krisis iklim dan tantangan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal menjadi sorotan utama dalam diskusi publik bertajuk “Suara dari Bumi Sumatera”. Forum ini menghadirkan beragam perspektif, mulai dari akademisi, aktivis, pemerintah, hingga masyarakat terdampak, untuk membedah situasi krisis ekologis yang kian kompleks di Sumatera Barat.</p>



<p>Dari sisi advokasi hukum, Direktur LBH Padang Diki Rafiki menegaskan bahwa Sumatera sedang menghadapi bencana ekologis yang berulang. Ia menyebut kerusakan ekosistem tidak hanya bersumber dari satu sektor seperti pertambangan, tetapi juga melibatkan berbagai aktivitas pendukung yang memperparah dampak lingkungan.</p>



<p>“Kerugian akibat kerusakan ini diperkirakan mencapai lebih dari Rp100 triliun. Ini menunjukkan bahwa krisis yang kita hadapi bukan lagi isu kecil, melainkan bencana sistemik,” ujarnya dalam diskusi public Climate Fest Vol 2: Suara dari Sumatera di Taman Budaya Sumatera Barat, 17 April 2026.</p>



<p>Diki juga menyoroti persoalan transisi energi yang dinilai belum sepenuhnya adil. Ia mengkritik skema kebijakan yang cenderung membebankan negara, sementara pelaku usaha tidak sepenuhnya bertanggung jawab. “Keadilan energi tidak akan tercapai jika masih ada monopoli dan pendekatan sentralistik. Harus ada demokratisasi energi yang memberi ruang bagi masyarakat,” katanya.</p>



<p>Sementara itu, Akademisi dan Peneliti dari Universitas Andalas, Apriwan PhD menekankan bahwa sekitar 60 persen emisi nasional berasal dari sektor penggunaan lahan (land-use). Ia menjelaskan bahwa perhatian global kini bergeser dari kehutanan ke sektor energi karena potensi ekonominya, namun implementasi di tingkat lokal masih menghadapi berbagai tantangan.</p>



<p>“Sumatera Barat digadang-gadang sebagai lumbung energi baru terbarukan. Tapi persoalannya bukan hanya potensi, melainkan bagaimana tata kelola dan keterlibatan masyarakat bisa dijalankan,” ujarnya.</p>



<p>Menurutnya perubahan iklim merupakan bagian dari kesepakatan global, yang kemudian diterjemahkan ke dalam kebijakan nasional hingga ke tingkat lokal. Namun, proses translasi tersebut tidak sederhana.</p>



<p>“Dampak perubahan iklim seperti curah hujan ekstrem, badai, dan banjir memang nyata. Tapi di tingkat lokal, itu juga dipengaruhi oleh tata kelola sektor kehutanan, perkebunan, pertanian, dan energi yang belum tuntas,” jelasnya.</p>



<p>Ia menambahkan, regulasi yang cenderung sentralistik sering kali mengurangi kewenangan daerah dan menghambat implementasi kebijakan di lapangan. Karena itu, ia menekankan pentingnya membuka ruang partisipasi bagi masyarakat hingga ke tingkat nagari dan jorong.</p>



<p>“Selama ini ruang komunikasi dan deliberasi belum tampak jelas. Padahal proyek-proyek ini langsung berdampak pada masyarakat, tetapi mereka tidak dilibatkan sejak awal,” katanya.</p>



<p>Suara dari masyarakat terdampak disampaikan Ayu Dasril, yang menceritakan pengalaman warga menghadapi proyek geotermal di Gunung Talang sejak 2017. Ia mengungkapkan bahwa sosialisasi awal dilakukan tanpa ruang musyawarah yang setara.</p>



<p>“Penyampaian waktu itu bukan musyawarah, tapi intimidasi. Kami tidak paham apa itu geotermal, tapi dipaksa menerima,” ujarnya.</p>



<p>Menurut Ayu, berbagai upaya masyarakat untuk mencari penjelasan dan menyuarakan penolakan tidak mendapat respons. Aksi massa yang melibatkan ribuan warga bahkan berujung bentrokan dengan aparat.</p>



<p>“Saya sendiri dikriminalisasi dan dipenjara selama dua tahun,” katanya.</p>



<p><strong>Kawal Kebijakan Lingkungan</strong></p>



<p>Pegiat HAM, Gustika Jusuf Hatta menegaskan bahwa isu lingkungan tidak bisa dipisahkan dari persoalan hak asasi manusia. Ia menyoroti menyempitnya ruang kebebasan sipil akibat kriminalisasi dan pembungkaman terhadap suara kritis.</p>



<p>“Konflik energi seperti sawit, geotermal, dan reklamasi sering memicu ketegangan antara pemerintah dan masyarakat. Bahkan kritik kerap dipolitisasi,” ujarnya.</p>



<p>Ia juga menekankan pentingnya kesadaran politik kolektif, terutama bagi generasi muda, untuk mengawal kebijakan lingkungan. Menurutnya, praktik seperti greenwashing dan perdagangan karbon perlu dikritisi agar tidak merugikan masyarakat.</p>



<p>“Jangan sampai kebijakan lingkungan justru mengorbankan komunitas lokal,” tegasnya.</p>



<p>Menanggapi berbagai kritik tersebut, perwakilan Dinas ESDM Sumatera Barat, Helmi Hariayanto, menyatakan bahwa pemerintah membuka ruang dialog dengan masyarakat dan menolak pendekatan militeristik.</p>



<p>“Kita harus belajar dari masa lalu. Investasi tetap dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi tidak boleh mengesampingkan hak hidup dan ruang hidup masyarakat,” ujarnya.</p>



<p>Helmi mengungkapkan bahwa cadangan listrik Sumatera Barat saat ini hanya sekitar 3 persen, jauh di bawah batas aman sebesar 20 persen. Dengan rencana pensiun PLTU Ombilin dan PLTU Teluk Sirih, pemerintah membutuhkan sumber energi pengganti yang stabil.</p>



<p>“Geotermal menjadi salah satu opsi karena mampu beroperasi sebagai base-load seperti PLTU. Namun, prosesnya harus dikawal bersama agar tetap adil dan berkelanjutan,” katanya.</p>



<p>Diskusi ini menegaskan bahwa krisis iklim di Sumatera Barat bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan erat dengan keadilan sosial, tata kelola kebijakan, dan masa depan pembangunan daerah. Keterlibatan masyarakat menjadi kunci agar transisi energi tidak meninggalkan kelompok rentan.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/diskusi-suara-dari-bumi-sumatera-soroti-krisis-iklim-konflik-energi-dan-keadilan-pembangunan-lokal/">Diskusi “Suara dari Bumi Sumatera” Soroti Krisis Iklim, Konflik Energi, dan Keadilan Pembangunan Lokal</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">245619</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Climate Fest Vol. 2: Voice of the Earth Sumatera: Rakyat Sebagai Penggerak Perubahan dalam Krisis Iklim</title>
		<link>https://langgam.id/climate-fest-vol-2-voice-of-the-earth-sumatera-rakyat-sebagai-penggerak-perubahan-dalam-krisis-iklim/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2026 16:11:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Climate Change]]></category>
		<category><![CDATA[LBH Padang]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan Iklim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=245469</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang bersama jaringan masyarakat sipil, komunitas seni, kolektif kreatif, serta kelompok masyarakat terdampak akan menyelenggarakan Climate Fest Vol. 2: Voice of the Earth Sumatera pada 16–18 April 2026 di Taman Budaya Sumatera Barat, Kota Padang. Festival ini merupakan ruang kolaboratif yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam satu wadah bersama guna membangun kesadaran, memperkuat solidaritas, dan mendorong gerakan kolektif dalam menghadapi krisis iklim serta memperjuangkan transisi energi yang berkeadilan. Diki Rafiqi, Direktur LBH Padang, mengatakan perhelatan Climate Fest Vol. 2 ini sebagai arena kampanye bersama untuk menyuarakan krisis iklim yang saat ini melanda sebagian besar</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/climate-fest-vol-2-voice-of-the-earth-sumatera-rakyat-sebagai-penggerak-perubahan-dalam-krisis-iklim/">Climate Fest Vol. 2: Voice of the Earth Sumatera: Rakyat Sebagai Penggerak Perubahan dalam Krisis Iklim</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang bersama jaringan masyarakat sipil, komunitas seni, kolektif kreatif, serta kelompok masyarakat terdampak akan menyelenggarakan Climate Fest Vol. 2: Voice of the Earth Sumatera pada 16–18 April 2026 di Taman Budaya Sumatera Barat, Kota Padang.</p>



<p>Festival ini merupakan ruang kolaboratif yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam satu wadah bersama guna membangun kesadaran, memperkuat solidaritas, dan mendorong gerakan kolektif dalam menghadapi krisis iklim serta memperjuangkan transisi energi yang berkeadilan.</p>



<p>Diki Rafiqi, Direktur LBH Padang, mengatakan perhelatan Climate Fest Vol. 2 ini sebagai arena kampanye bersama untuk menyuarakan krisis iklim yang saat ini melanda sebagian besar wilayah pesisir pantai barat Sumatera.</p>



<p>“Krisis iklim hari ini tidak lagi dapat dipahami semata sebagai fenomena alam. Lebih dari pada itu, ini telah menjelma menjadi krisis multidimensi yang menyentuh aspek sosial, ekonomi, dan politik kehidupan masyarakat. Climate Fest Vol. 2 ini hadir untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai krisis iklim dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat, selain itu di Climate Fest ini juga akan membuka ruang dialog antara masyarakat, komunitas, akademisi, dan pemangku kebijakan terkait isu energi dan lingkungan di Sumatera Barat” jelas Diki.</p>



<p>Diki juga menambahkan, di Sumatera Barat, dampak krisis ini semakin nyata. Intensitas bencana seperti banjir, longsor, dan kekeringan terus meningkat. Masyarakat yang bergantung pada alam, petani, nelayan, masyarakat adat, menjadi kelompok yang paling terdampak atas situasi ini.</p>



<p>“Kami menilai situasi ini merupakan konsekuensi dari model pembangunan yang menempatkan alam sebagai objek eksploitasi, bukan sebagai ruang hidup yang harus dijaga. Ekspansi industri ekstraktif, proyek energi skala besar, serta kebijakan pembangunan yang minim partisipasi publik telah mempercepat kerusakan ekologis sekaligus mempersempit ruang hidup dan akses masyarakat” lanjutnya.</p>



<p>LBH Padang mengharapkan melalui perhelatan Climate Fest Vol. 2 ini dapat meningkatnya kesadaran publik mengenai krisis iklim dan keadilan energi di Sumatera Barat.</p>



<p>“Dalam beberapa tahun terakhir, agenda transisi energi didorong sebagai solusi atas krisis iklim global. Peralihan dari energi fosil menuju energi terbarukan dipandang sebagai langkah penting untuk menekan emisi karbon. Namun dalam praktiknya, realitas di lapangan menunjukkan situasi yang kompleks. Berbagai proyek energi, termasuk yang diklaim sebagai energi bersih, seringkali tetap dijalankan dengan pola yang sama yaitu Sentralistik, Eksploitatif, Minim transparansi, Mengabaikan partisipasi masyarakat” jelas Diki.</p>



<p>Lebih dari pada itu, Diki menyebut transisi energi justru berpotensi melahirkan bentuk ketidakadilan baru, Perampasan tanah dan ruang hidup, Penggusuran masyarakat, Konflik agraria, Kerusakan ekosistem.</p>



<p>“Dalam konteks ini, Climate Fest Vol. 2 hadir untuk mendorong perspektif transisi energi berkeadilan, yaitu sebuah pendekatan yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama, bukan sekadar objek pembangunan. Selama ini, diskursus krisis iklim sering didominasi oleh negara, korporasi, dan lembaga internasional. Sementara masyarakat yang terdampak langsung justru jarang dilibatkan secara bermakna dalam proses pengambilan keputusan” jelas Diki.</p>



<p>Climate Fest Vol. 2 ini mengusung narasi utama yaitu “Voice of the Earth Sumatera” dengan harapan suara-suara rakyat yang selama ini diabaikan, dapat tersuarakan lebih keras dan lantang dalam kegiatan ini.</p>



<p>“Festival ini menjadi ruang untuk, mengembalikan suara masyarakat dalam isu iklim, mengangkat pengalaman langsung komunitas terdampak, mendorong partisipasi generasi muda dalam isu transisi energi yang berkeadilan” kata Diki.</p>



<p>Climate Fest Vol. 2 dirancang bukan sekadar sebagai acara hiburan, tetapi sebagai ruang politik rakyat, ruang edukasi publik, dan ruang ekspresi kreatif. Selama tiga hari pelaksanaan, festival akan menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan yang menggabungkan pendekatan edukatif, partisipatif, dan kultural.</p>



<p>emangat perjuangan lingkungan dan keadilan energi akan bergema dalam Climate Fest Vol. 2: <em>Voice of the Earth Sumatera</em>. Festival ini hadir sebagai ruang kolaboratif yang mempertemukan masyarakat, akademisi, seniman, aktivis, dan organisasi masyarakat sipil untuk menyuarakan krisis iklim serta memperjuangkan masa depan bumi yang berkelanjutan.</p>



<p>Rangkaian kegiatan diawali dengan Diskusi Publik bertajuk “Rakyat sebagai Penggerak Perubahan”, yang akan mengupas secara kritis pola pembangunan proyek energi di Sumatera Barat, praktik eksklusi masyarakat dari ruang hidup, serta relasi kuasa antara negara, korporasi, dan rakyat. Diskusi ini menghadirkan Ardinis Arbain (akademisi), Diki Rafiqi (Direktur LBH Padang), Ayu Dasril (perwakilan masyarakat terdampak), Boy Candra (penulis), dan Gustika Jusuf Hatta (aktivis). Sementara itu, Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat, Drs. H. Muhidi, M.M., dijadwalkan hadir sebagai pemangku kepentingan dan masih dalam tahap konfirmasi.</p>



<p>Selain itu, festival ini membuka ruang Open Mic: Rakyat Angkat Suara, yang memungkinkan masyarakat dari Talang, Tandikek, Singgalang, Singkarak, Ombilin, Koto Sani, dan wilayah lainnya untuk menyampaikan pengalaman mereka secara langsung. Kehadiran media diharapkan mampu memperluas gaung suara rakyat ke publik yang lebih luas.</p>



<p>Upaya memperkuat partisipasi publik juga diwujudkan melalui Workshop Jurnalisme Warga yang difasilitasi jurnalis Aidil Ichlas. Kegiatan ini bertujuan mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengangkat isu transisi energi melalui media sosial dengan pendekatan jurnalisme warga dan narasi berbasis pengalaman nyata.</p>



<p>Tak hanya diskusi, Climate Fest Vol. 2 juga menghadirkan Pameran Sensori dan Karya Seni yang menyuguhkan pengalaman imersif melalui visual, audio, sentuhan, dan ruang interaktif. Pengunjung diajak merasakan secara langsung dampak proyek energi terhadap kehidupan masyarakat, tidak hanya melalui data, tetapi juga melalui pengalaman emosional.</p>



<p>Festival ini semakin semarak dengan hadirnya Ruang Kreatif dan Partisipatif, seperti art therapy dan bedah karya, bioskop warga yang memutar film perjuangan komunitas, ruang literasi lingkungan, sablon cukil untuk kampanye, hingga lomba menggambar anak-anak dan lomba konten kreator.</p>



<p>Sebagai bentuk penguatan ekonomi alternatif, digelar pula Pasar Rakyat dan Bazaar Komunitas yang menampilkan hasil tani langsung dari masyarakat di wilayah terdampak proyek transisi energi. Selain itu, produk lokal UMKM tanpa perantara turut dipasarkan, sekaligus menjadi medium kampanye atas konflik ruang hidup yang terjadi.</p>



<p>Puncak acara akan ditutup dengan Konser Musik, yang menghadirkan sejumlah musisi seperti The Jansen, Kevin Cotok, Ghots Buster, Raze, The Venyamin, Lintang Utara, WesternTiger, Tardub, Jordansson, dan Voudgrip. Konser ini menjadi ruang ekspresi seni sekaligus sarana penyebaran pesan keadilan iklim kepada publik yang lebih luas.</p>



<p>Climate Fest Vol. 2 diharapkan menjadi lebih dari sekadar festival. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk membangun kesadaran kolektif, memperkuat solidaritas lintas komunitas, serta mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam menghadapi krisis iklim dan memperjuangkan keadilan energi.</p>



<p>Melalui pertemuan berbagai elemen masyarakat, festival ini menjadi ruang bersama untuk merawat harapan dan menyuarakan kebenaran. LBH Padang pun mengajak seluruh kalangan untuk hadir, terlibat, dan menjadi bagian dari gerakan menjaga bumi demi masa depan yang berkelanjutan.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/climate-fest-vol-2-voice-of-the-earth-sumatera-rakyat-sebagai-penggerak-perubahan-dalam-krisis-iklim/">Climate Fest Vol. 2: Voice of the Earth Sumatera: Rakyat Sebagai Penggerak Perubahan dalam Krisis Iklim</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">245469</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pelajar SMAN 2 Tebo Bersuara dalam Pertemuan Iklim PBB di Azerbaijan</title>
		<link>https://langgam.id/pelajar-sman-2-tebo-bersuara-dalam-pertemuan-iklim-pbb-di-azerbaijan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Nov 2024 05:12:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan Iklim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=216334</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) atau Conference of Parties (COP) UNFCCC ke 29 digelar di Baku, Azerbaijan, Senin 11/11/2024 hingga Jum’at 22/11/2024, diikuti oleh berbagai kalangan dari 197 negara. Mulai dari tingkat kepala negara, para pelaku usaha, termasuk berbagai kelompok aktivis dari berbagai negara. Tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, COP-29 kembali fokus pada pembahasan mengenai pengendalian dan penangan dampak perubahan iklim, termasuk soal pendanaan iklim, di tengah kondisi iklim dunia yang semakin sulit ditangani. Bagi Indonesia, kehadiran dalam COP-29 menjadi agenda tahunan sangat penting. Namun di antara ribuan delegasi, dua perempuan muda asal Kabupaten</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pelajar-sman-2-tebo-bersuara-dalam-pertemuan-iklim-pbb-di-azerbaijan/">Pelajar SMAN 2 Tebo Bersuara dalam Pertemuan Iklim PBB di Azerbaijan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) atau Conference of Parties (COP) UNFCCC ke 29 digelar di Baku, Azerbaijan, Senin 11/11/2024 hingga Jum’at 22/11/2024, diikuti oleh berbagai kalangan dari 197 negara.</p>



<p>Mulai dari tingkat kepala negara, para pelaku usaha, termasuk berbagai kelompok aktivis dari berbagai negara.</p>



<p>Tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, COP-29 kembali fokus pada pembahasan mengenai pengendalian dan penangan dampak perubahan iklim, termasuk soal pendanaan iklim, di tengah kondisi iklim dunia yang semakin sulit ditangani.</p>



<p>Bagi Indonesia, kehadiran dalam COP-29 menjadi agenda tahunan sangat penting. Namun di antara ribuan delegasi, dua perempuan muda asal Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi cukup menjadi sorotan.</p>



<p>Mereka adalah Nasywa Adivia Wardana (17) dan Qurrota A’yun Nur Ramadhani (17), pelajar kelas XI dan kelas XII SMAN 2 Kabupaten Tebo. Mereka hadir difasilitasi oleh Global Alliance for Green and Gender Action (GAGGA), sebuah lembaga internasional yang berkedudukan di Belanda. Mereka dinilai sebagai generasi muda yang mampu melakukan aktivitas berharga – bagian dari aksi penanganan perubahan iklim.</p>



<p>Nasywa dan A’yun berkesempatan bicara tentang situasi negerinya dan bahaya perubahan iklim yang mereka rasakan. Kepada seluruh delegasi, selain menyampaikan rasa bangga atas kehadirannya di Baku, tentang rasa cinta pada negerinya yang kaya, sekaligus prihatin terhadap dampak perubahan iklim yang melanda.</p>



<p>“Dalam waktu bersamaan, kami merasa kurang beruntung dan prihatin. Semakin dalam kami mengetahui apa itu krisis iklim, semakin kehilangan waktu untuk menikmati usia muda sebagaimana pemuda pada umumnya,” kata A’yun dalam sebuah forum di Baku, Kamis (21/11/2024).</p>



<p>Mereka melihat situasi begitu menyedihkan, di mana jutaan pemuda seusia mereka belum memiliki pengetahuan yang benar dan cukup tentang bahaya perubahan iklim. Aktivitas diskusi, seni dan budaya, serta berbagai aktivitas yang menjelaskan tentang bahaya perubahan iklim masih sangat terbatas.</p>



<p>“Kepulauan Indonesia terlalu luas. Ancaman bencana akibat perubahan iklim begitu nyata dan jauh lebih cepat dibandingkan dengan jumlah pemuda yang berpengatahuan mengenai ini, menyadari bahaya dan apa yang bisa dilakukan,” sambung Ayun.</p>



<p>Nasywa dan A’yun bicara dalam forum yang sama. Nasywa mengaku bangga terlibat langsung waktu demi waktu dalam pembahasan ini, yang resolusinya ditunggu dan berpengaruh pada seluruh masyarakat dunia.</p>



<p>“Kami bangga menjadi bagian dari sejarah yang hanya segelintir pemuda seusia kami yang memiliki kesempatan ini,” kata Nasyawa.</p>



<p>Nasywa sendiri merupakan salah satu pemuda yang hadir dalam COP-28 di Dubai Tahun lalu. Ketika itu dia menyoroti tentang pengalaman masa kecilnya diselimuti bencana asap akibat bencana kebakaran hutan dan lahan, sebagai bagian dari akibat perubahan iklim.</p>



<p>“Indonesia ini negeri kepulauan terbesar. Salah satu negeri cantik berhutan tropis selain Brazil dan Republik Kongo, yang menyimpan keaneka ragaman hayati sangat kaya. Ini bukan kata kami. Tapi ini menurut riset, buku, artikel dan cerita perjalanan orang asing di masa lampau. Bahkan ada ungkapan bahwa Indonesia adalah potongan surga yang diturunkan ke bumi,” ungkap Nasywa.</p>



<p>Mereka menggunakan kesempatan itu untuk menyampaikan kecintaan pada negerinya, sekaligus kecamasan dan kemarahan ketika mengetahui sebab-sebab kerusakan iklim di Indonesia dan dunia.</p>



<p>“Kabut asap, misalnya, membuat kami terkurung di rumah dengan tabung oksigen. Anak-anak mencoret-coret kemarahan pada dinding, menulis puisi, bahkan ikut dalam aksi-aksi demonstrasi menuntut ruang isolasi. Bahkan kabut asap pula yang membentuk kami menjadi aktivis, mencermati lahan, sungai, rawa, tanah gambut yang mengering akibat hutan dihabisi oleh perusahaan-perusahaan besar kelapa sawit,” tegas Nasywa.</p>



<p>Pada bagian akhir, mereka tak lupa menegaskan bahwa pemuda seusia mereka bukanlah perusak alam dan membuat buruk situasi masyarakat. Mereka adalah korban dari kebijakan-kebijakan yang dikendalikan oleh generasi sebelumnya.</p>



<p>“kebangkitan generasi bersih adalah kebangkitan para korban yang berhak berjuang untuk meraih penyelesaian krisis iklim dengan segera. Pemuda harus menjadi kekuatan penting dalam mengubah situasi ini,” tegas Ayun.</p>



<p>Mereka mengakhiri kesempatan tersebut dengan seruan yang membakar semangat dan menginspirasi bagi delegasi lainnya. Kata mereka, alam dan masyarakat Indonesia pasti akan rusak berkelanjutan tanpa perjuangan sungguh-sungguh pemuda, termasuk pemuda perempuan dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Pemuda lah yang akan mengendalikan penyelesaiannya di kemudian hari.</p>



<p>Tantangannya, kata Ayun, generasi mereka sebagian besar tidak pernah tahu hutan tropis yang dulu lebat, sungai Batang Hari yang jernih, gambut dan rawa sebelum dirusak, selain dari cerita dan buku-buku.</p>



<p>“Kami generasi yang lahir dari alam Indonesia yang telah rusak. Kami butuh sekolah krisis iklim yang relevan, serta dukungan solidaritas nasional dan internasional yang intens dan berkelanjutan,” tutup A’yun.</p>



<p>Dua perempuan muda itu akrab dengan diskusi-diskusi tentang kondisi alam dan perubahan iklim. Juga terlibat dalam aksi-aksi nyata seperti pemulihan lokasi bekas pertambangan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI), mempertahankan tanaman khas melayu seperti duku, terlibat dalam-dalam kegiatan pariwisata berbasis pada pemulihan lingkungan hidup, terutama pemulihan sungai di desa tempat mereka tinggal. (*/Fs)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pelajar-sman-2-tebo-bersuara-dalam-pertemuan-iklim-pbb-di-azerbaijan/">Pelajar SMAN 2 Tebo Bersuara dalam Pertemuan Iklim PBB di Azerbaijan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">216334</post-id>	</item>
		<item>
		<title>KBA Pekayon Buktikan Komitmen Astra tentang Kewaspadaan Perubahan Iklim</title>
		<link>https://langgam.id/kba-pekayon-buktikan-komitmen-astra-tentang-kewaspadaan-perubahan-iklim/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Palanta]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 01 Nov 2024 23:41:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Palanta]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan Iklim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=214990</guid>

					<description><![CDATA[<p>InfoLanggam &#8211; Langkah warga Kampung Berseri Astra Pekayon Bekasi memberikan bukti pentingnya menjaga lingkungan sekaligus memberikan makna kepada generasi penerus tentang alam. Kampung Berseri Astra (KBA) Pekayon Bekasi, Provinsi Jawa Barat mungkin memiliki tampilan berbeda dengan desa-desa atau kampung binaan PT Astra International Tbk. Salah satunya adalah lokasi yang sangat mudah dicapai: tidak perlu naik-turun bukit atau melintasi pegunungan. Tempat ini berada di kawasan perkotaan. Tepatnya tidak jauh dari gedung-gedung pencakar langit. Akan tetapi di sinilah keunikannya. Hanya sejengkal dari tempat-tempat modern, kawasan hijau, asri, sekaligus teduh menghadirkan rasa segar dan nyaman bagi pernapasan kita. &#8220;Kampung Berseri Astra adalah salah</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kba-pekayon-buktikan-komitmen-astra-tentang-kewaspadaan-perubahan-iklim/">KBA Pekayon Buktikan Komitmen Astra tentang Kewaspadaan Perubahan Iklim</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>InfoLanggam &#8211; </strong>Langkah warga Kampung Berseri Astra Pekayon Bekasi memberikan bukti pentingnya menjaga lingkungan sekaligus memberikan makna kepada generasi penerus tentang alam.</p>



<p>Kampung Berseri Astra (KBA) Pekayon Bekasi, Provinsi Jawa Barat mungkin memiliki tampilan berbeda dengan desa-desa atau kampung binaan PT Astra International Tbk. </p>



<p>Salah satunya adalah lokasi yang sangat mudah dicapai: tidak perlu naik-turun bukit atau melintasi pegunungan. Tempat ini berada di kawasan perkotaan. Tepatnya tidak jauh dari gedung-gedung pencakar langit.</p>



<p>Akan tetapi di sinilah keunikannya. Hanya sejengkal dari tempat-tempat modern, kawasan hijau, asri, sekaligus teduh menghadirkan rasa segar dan nyaman bagi pernapasan kita.</p>



<p>&#8220;Kampung Berseri Astra adalah salah satu inisiatif yang dijalankan perusahaan sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan masyarakat secara berkelanjutan. Astra terus berkomitmen mendukung aksi peduli lingkungan yang dilakukan Kampung Berseri Astra termasuk KBA Pekayon, Bekasi, Jawa Barat,&#8221; ujar Chief of Corporate Affairs Astra, Riza Deliansyah dalam keterangannya. </p>



<p>Kampung Berseri Astra (KBA) sendiri adalah program pengembangan masyarakat berbasis komunitas yang mengintegrasikan inisiatif empat pilar program kontribusi sosial berkelanjutan Astra dalam satu komunitas kampung.</p>



<p>Per 2023, Astra telah membina 194 Kampung Berseri Astra (KBA) dan 78 di antaranya adalah Kampung ProKlim (Program Kampung Iklim). Inilah komitmen Astra untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam mitigasi perubahan iklim.</p>



<p>Selain itu, Astra memiliki 1.060 Desa Sejahtera Astra (DSA), yang bekerja sama dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat desa dalam pengembangan ekonomi pedesaan berbasis sumber daya lokal.</p>



<p>Salah satu fokusnya adalah membina Usaha Micro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di KBA serta DSA yang berada di 34 provinsi Indonesia, dan telah menyandang prestasi berhasil melakukan ekspor. Antara lain sektor hasil pertanian seperti kopi, serta kerajinan atau cenderamata.</p>



<p>Sampai saat ini, KBA Pekayon, Bekasi yang terdiri dari sekira 800 Kepala Keluarga (KK) telah menorehkan sukses di sektor UMKM dengan memiliki lebih dari 50 unit UMKM aktif, dan terus bergerak mengawal kelestarian lingkungan yang dalam jangka panjang akan berguna bagi anak cucu atau generasi penerus.</p>



<p>Dibina Astra sejak 2015, Kampung Berseri Astra ini telah menerapkan edukasi Pola Bersih Hidup Sehat atau PHBS kepada warga sendiri mau pun sekitarnya. Kemudian, para ibu memiliki kegiatan membuat kain ecoprint atau pembuatan kain motif dedaunan dengan pewarna alami, tanpa menambahkan zat kimia sama sekali.</p>



<p>Selain itu dilakukan pengumpulan minyak jelantah untuk diolah menjadi lilin aromaterapi, kegiatan memilah sampah di mana sampah rumah tangga dikumpulkan untuk dibuat eco enzim atau pupuk cair non-kimiawi, sampai menggelar kegiatan wisata desa bertajuk Go Green Mini Tour KBA Pekayon Zona Hijau.</p>



<p>Tidak cukup sampai di situ, warga KBA Pekayon, Bekasi juga menggalakkan pemanfaatan lahan terbatas untuk ditanami aneka tumbuhan hias, tanaman konsumsi, sampai tanaman herbal di atap dan pekarangan rumah. </p>



<p>Dari kegiatan ini, penghasilan warga ikut bertambah dengan produksi teh bunga telang, teh daun mint, jamu, serta beberapa kudapan, ditambah kain ecoprint yang dipasarkan dalam naungan UMKM. Hingga saat ini, KBA Pekayon memiliki sekira 50 UMKM yang aktif di KBA Pekayon yang memiliki kurang lebih 800 Kepala Keluarga (KK) ini.</p>



<p>Dalam program pengembangan masyarakat KBA Pekayon, dijalankan kampung berbasis komunitas khas Astra yang mengintegrasikan inisiatif empat pilar Public Contribution Roadmap. Yaitu Astra untuk Indonesia Sehat, Astra untuk Indonesia Cerdas, Astra untuk Indonesia Hijau, dan Astra untuk Indonesia Kreatif.</p>



<p>Di pilar Indonesia Sehat, KBA Pekayon dilengkapi Pos Pelayanan Terpadu (posyandu), dan Pos Pembinaan Terpadu (posbindu) yang dilakukan secara door to door secara berkesinambungan. Ditambah kegiatan rutin senam bersama.</p>



<p>Kemudian di pilar Indonesia Cerdas, KBA Pekayon sudah dilengkapi taman bacaan dan pemberian beasiswa dari Astra yang diseleksi secara ketat, sekaligus mendapatkan pembinaan sekolah sekitar agar bisa menjadi sekolah adiwiyata.</p>



<p>Berlanjut ke pilar Indonesia Hijau, sebagai kampung dengan predikat proklim lestari, kegiatan yang dilakukan warga KBA Pekayon mencakup mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan lingkungan, melalui kegiatan pembuatan kompos, bank sampah, penghijauan, energi terbarukan, kegiatan hemat energi dan penghijauan kota.</p>



<p>Dan untuk pilar Indonesia Kreatif, KBA Pekayon telah memiliki koperasi yang difungsikan sebagai wadah UMKM di lingkungan RW 08, 09, 10, sampai 11 untuk mempromosikan sekaligus menjual dagangan para pelaku UMKM. <strong>(*)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kba-pekayon-buktikan-komitmen-astra-tentang-kewaspadaan-perubahan-iklim/">KBA Pekayon Buktikan Komitmen Astra tentang Kewaspadaan Perubahan Iklim</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">214990</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Perhutanan Sosial sebagai Kunci Menjaga Tutupan Hutan di Sumbar</title>
		<link>https://langgam.id/perhutanan-sosial-sebagai-kunci-menjaga-tutupan-hutan-di-sumbar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Sep 2024 10:19:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[KKI Warsi]]></category>
		<category><![CDATA[Perhutanan Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan Iklim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=212071</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin nyata, upaya untuk melindungi lingkungan menjadi semakin mendesak. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menunjukkan komitmennya melalui pengembangan pembangunan rendah emisi yang sejalan dengan konsep pembangunan hijau, yaitu meningkatkan ekonomi sambil menjaga kualitas ekologi. Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menegaskan bahwa upaya mitigasi perubahan iklim telah tertuang dalam RPJMD 2021-2026, dengan proyeksi penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 9,72 persen atau setara 14,1 juta ton CO2 equivalen pada tahun 2030. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah dengan mengarusutamakan konsep perhutanan sosial sebagai instrumen utama untuk menjaga tutupan hutan di wilayah Sumatera</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/perhutanan-sosial-sebagai-kunci-menjaga-tutupan-hutan-di-sumbar/">Perhutanan Sosial sebagai Kunci Menjaga Tutupan Hutan di Sumbar</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin nyata, upaya untuk melindungi lingkungan menjadi semakin mendesak. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menunjukkan komitmennya melalui pengembangan pembangunan rendah emisi yang sejalan dengan konsep pembangunan hijau, yaitu meningkatkan ekonomi sambil menjaga kualitas ekologi.</p>



<p>Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menegaskan bahwa upaya mitigasi perubahan iklim telah tertuang dalam RPJMD 2021-2026, dengan proyeksi penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 9,72 persen atau setara 14,1 juta ton CO2 equivalen pada tahun 2030. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah dengan mengarusutamakan konsep perhutanan sosial sebagai instrumen utama untuk menjaga tutupan hutan di wilayah Sumatera Barat.</p>



<p>Dalam workshop bertema &#8220;Transformasi Pembangunan Hijau Sumatera Barat: Mainstreaming Pembangunan Hijau Melalui Perhutanan Sosial Menyongsong RPJP 2025-2045&#8221; di Painan, kemarin, Gubernur menekankan pentingnya transformasi hijau dalam upaya mengurangi emisi GRK, meningkatkan efisiensi sumber daya, dan melindungi keanekaragaman hayati. Transformasi ini, menurutnya, juga menjadi bagian dari kontribusi daerah untuk mendukung target Nationally Determined Contribution (NDC) dalam pengurangan emisi.</p>



<p>Sektor kehutanan mendapat perhatian khusus dalam upaya penurunan emisi GRK. Pada tahun 2022, Sumatera Barat telah menyusun Dokumen Rencana Kerja Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 yang memprioritaskan rehabilitasi dan pengelolaan hutan berbasis masyarakat. &#8220;Penerapan perhutanan sosial yang didukung dengan Perda Nomor 1 Tahun 2024 menjadi bukti keseriusan kami dalam menjaga tutupan hutan,&#8221; tegas Mahyeldi.</p>



<p>Direktur KKI Warsi Adi Junedi menambahkan bahwa perhutanan sosial telah terbukti meningkatkan tutupan hutan di Sumatera Barat. Berdasarkan data KKI Warsi, pada 2022, tutupan hutan di areal perhutanan sosial tercatat seluas 58.865 ha, dan meningkat menjadi 60.442 ha pada 2023. Pertumbuhan ini terlihat di wilayah seperti Lunang dan Gunung Selasih, yang menunjukkan komitmen masyarakat dalam menjaga hutan setelah menerima izin perhutanan sosial.</p>



<p>Di acara tersebut, Gubernur juga menyerahkan bantuan simbolis kepada tiga kelompok pemegang izin perhutanan sosial di Kabupaten Pesisir Selatan, dengan harapan bantuan ini akan memperkuat ekonomi lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (*/Yh)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/perhutanan-sosial-sebagai-kunci-menjaga-tutupan-hutan-di-sumbar/">Perhutanan Sosial sebagai Kunci Menjaga Tutupan Hutan di Sumbar</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">212071</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Generasi Muda dan Langkah Kecil dalam Perubahan Iklim</title>
		<link>https://langgam.id/generasi-muda-dan-langkah-kecil-dalam-perubahan-iklim/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Aug 2024 01:20:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan Iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Reni Ekawaty]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=210361</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Reni Ekawaty Perubahan iklim bukan lagi sekadar prediksi atau skenario di masa depan. Kenaikan suhu global yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca telah memicu serangkaian peristiwa ekstrem yang semakin sering dan intens terjadi di seluruh dunia. Gelombang panas yang mematikan, badai dahsyat, kekeringan berkepanjangan, dan kenaikan permukaan laut adalah beberapa contoh nyata dari dampak perubahan iklim yang sudah kita rasakan. Fenomena-fenomena ini tidak hanya mengancam ekosistem dan keanekaragaman hayati, tetapi juga berdampak langsung pada kehidupan manusia, seperti kelangkaan pangan, migrasi massal, dan konflik sosial. Kekuatan Generasi Muda Di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin mendesak, generasi muda muncul</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/generasi-muda-dan-langkah-kecil-dalam-perubahan-iklim/">Generasi Muda dan Langkah Kecil dalam Perubahan Iklim</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Oleh: Reni Ekawaty</p>



<p>Perubahan iklim bukan lagi sekadar prediksi atau skenario di masa depan. Kenaikan suhu global yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca telah memicu serangkaian peristiwa ekstrem yang semakin sering dan intens terjadi di seluruh dunia. Gelombang panas yang mematikan, badai dahsyat, kekeringan berkepanjangan, dan kenaikan permukaan laut adalah beberapa contoh nyata dari dampak perubahan iklim yang sudah kita rasakan. Fenomena-fenomena ini tidak hanya mengancam ekosistem dan keanekaragaman hayati, tetapi juga berdampak langsung pada kehidupan manusia, seperti kelangkaan pangan, migrasi massal, dan konflik sosial.</p>



<p><strong>Kekuatan Generasi Muda</strong></p>



<p>Di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin mendesak, generasi muda muncul sebagai kekuatan baru yang penuh harapan. Dengan semangat inovasi dan kesadaran akan pentingnya lingkungan, mereka telah menunjukkan komitmen yang kuat untuk mengatasi krisis ini. Generasi muda tidak hanya menjadi korban dari perubahan iklim, tetapi juga menjadi agen perubahan yang aktif. Mereka mengembangkan solusi-solusi kreatif untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, seperti teknologi energi bersih, pertanian berkelanjutan, dan transportasi ramah lingkungan. Mereka dapat memulai dari lingkungan terdekat dengan melakukan tindakan sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik, menghemat energi, dan memilah sampah. Generasi muda juga aktif dalam kampanye lingkungan, mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan, dan mendorong pemerintah untuk membuat kebijakan yang lebih ramah lingkungan.</p>



<p>Generasi muda juga memiliki potensi besar dalam bidang inovasi teknologi. Mereka dapat mengembangkan solusi-solusi kreatif untuk mengatasi masalah perubahan iklim, seperti menciptakan energi terbarukan, mengembangkan teknologi pertanian yang berkelanjutan, atau merancang bangunan yang ramah lingkungan. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, generasi muda dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.</p>



<p>Selain itu, generasi muda juga berperan sebagai penggerak suara rakyat. Mereka aktif dalam berbagai gerakan lingkungan dan tidak takut untuk menyuarakan pendapat mereka. Melalui media sosial dan platform digital lainnya, generasi muda dapat menyebarkan kesadaran tentang perubahan iklim dan memobilisasi dukungan dari masyarakat luas.</p>



<p>Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, kolaborasi lintas generasi sangat penting. Generasi muda perlu bekerja sama dengan generasi tua untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Dengan demikian, upaya untuk mengatasi perubahan iklim dapat dilakukan secara lebih efektif dan berkelanjutan. Generasi muda adalah harapan bagi masa depan bumi. Dengan semangat dan inovasi yang mereka miliki, kita dapat menciptakan dunia yang lebih baik bagi generasi mendatang.</p>



<p><strong>Cara Memulai Menjadi Agen Perubahan Iklim</strong></p>



<p>Terdapat berbagai macam cara untuk memulai menjadi agen perubahan iklim, antara lain: Anda bisa mulai dari diri sendiri dari hal yang sederhana seperti penggurangan palstik, menghemat energi dan memilih menggunakan transportasi umum. Anda juga harus bijak dalam melakukan konsumsi dengan memilih produk yang ramah lingkungan, meilih melakukan perbaikan barang rusak dari pada membeli yang baru, serta Anda harus meningkatkan edukasi diri sendiri dengan mempelajari lebih dalam tentang perubahan iklim, penyebab dan dampaknya. Sehingga dengan semakin banyaknya pengetahuan maka akan semakin efektif Anda dalam mengambil tindakan.</p>



<p>Setelah mulai dari diri sendiri, Anda bisa libatkan lingkungan sekitar, dengan ajak saudara dan teman untuk turut serta dalam aksi memilah sampah atau menanam tanaman. Anda juga bisa bergabung dalam suatu komunitas atau organisasi lingkungan yang ada di sekitar mu dan ikut dalam kegiatan mereka.</p>



<p>Anda juga bisa melakukan inovasi dan berkarya, dengan mengembangkan ide-ide kreatif untuk mengatasi masalah lingkungan di sekitarmu. Anda bisa melakukan semacam proyek kecil, seperti membuat komposer atau keun sayur di pekarangan rumahmu. Anda juga bisa mengikuti lomba-lomba yang berkaitan dengan lingkungan untuk mengasah kemampuan dan mendapatkan dukungan.</p>



<p>Anda juga dapat bersuara untuk membuat suatu perubahan, bisa dengan ikut serta dalam aksi kampanye lingkungan, menulis surat atau email kepada anggota parlemen atau pemerintah daerah untuk menyampaikan keprihatinanmu terhadap perubahan iklim. Anda juga bisa mendukung kebijakan yang ramah lingkungan dengan memilih pemimpin yang berkomitmen pada lingkungan dan mendukung kebijakan yang berkelanjutan.</p>



<p><strong>Masa Depan di Tangan Kita</strong></p>



<p>Perubahan iklim adalah tantangan global yang kompleks, namun bukan berarti kita tidak dapat melakukan apa-apa. Setiap individu, terutama generasi muda, memiliki peran penting dalam mengatasi krisis ini. Dengan tindakan sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik, menghemat energi, dan mendukung kebijakan yang ramah lingkungan, kita dapat berkontribusi dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Selain itu, dengan terlibat dalam berbagai kegiatan seperti kampanye lingkungan, penelitian, dan inovasi, kita dapat menjadi bagian dari solusi yang lebih besar. Masa depan planet kita ada di tangan kita. Mari bersama-sama menciptakan dunia yang lebih berkelanjutan untuk generasi mendatang.</p>



<p>Menjadi agen perubahan tidak harus dengan aksi besar, langkah kecil yang konsisten bisa membawa dampak yang signifikan. (*)</p>



<p><em>Dr. Reni Ekawaty, S.Si, M.Si adalah<br>Staf Pengajar Program Studi Tata Air Pertanian<br>Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh</em></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/generasi-muda-dan-langkah-kecil-dalam-perubahan-iklim/">Generasi Muda dan Langkah Kecil dalam Perubahan Iklim</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">210361</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Trend Peningkatan suhu Sumbar tahun 2024</title>
		<link>https://langgam.id/trend-peningkatan-suhu-sumbar-tahun-2024/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Jul 2024 15:49:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan Iklim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=209334</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160;Oleh : Rizky A.Saputra M.P Perubahan iklim sudah diyakini terjadi, ditandai dengan suhu yang semakin panas, fluktuasi perbedaan musim hujan dengan musim kemarau semakin kecil dan bencana hidrometeorologis semakin sering terjadi, berdasarkan survei persepsi masyarakat terkait perubahan iklim khususnya di Sumatera Barat masyarakat sudah merasa khawatir perubahan iklim akan mempengaruhi kehidupan dan generasi selanjutnya.  Pemerintah perlu melakukan tindakan dalam pengendalian laju perubahan iklim. Copernicus Climate Change Service Uni Eropa melaporkan Rata-rata suhu dunia suhu sudah meningkat hampir 1.45 derajat perubahan iklim telah mempengaruhi pengambilan keputusan penting untuk keluarga.                                                                                                                                                           Perlu langkah lebih cepat dalam transisi energi dari sumber energi fosil</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/trend-peningkatan-suhu-sumbar-tahun-2024/">Trend Peningkatan suhu Sumbar tahun 2024</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>&nbsp;Oleh : Rizky A.Saputra M.P</strong></p>



<p>Perubahan iklim sudah diyakini terjadi, ditandai dengan suhu yang semakin panas, fluktuasi perbedaan musim hujan dengan musim kemarau semakin kecil dan bencana hidrometeorologis semakin sering terjadi, berdasarkan survei persepsi masyarakat terkait perubahan iklim khususnya di Sumatera Barat masyarakat sudah merasa khawatir perubahan iklim akan mempengaruhi kehidupan dan generasi selanjutnya.  </p>



<p>Pemerintah perlu melakukan tindakan dalam pengendalian laju perubahan iklim. Copernicus Climate Change Service Uni Eropa melaporkan Rata-rata suhu dunia suhu sudah meningkat hampir 1.45 derajat perubahan iklim telah mempengaruhi pengambilan keputusan penting untuk keluarga.                                                                                                                                                          </p>



<p>Perlu langkah lebih cepat dalam transisi energi dari sumber energi fosil (batubara, minyak bumi, gas alam, dll.) ke sumber energi ramah lingkungan penting dilakukan untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.</p>



<p>Trend Kenaikan suhu Sumatera Barat</p>



<p>data iklim yang cukup panjang dimiliki oleh kantor BMKG dapat kita gunakan sebagai informasi melihat trend kenaikan suhunya.&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Stasiun Meteorologi BMKG Minangkabau</li>
</ol>



<p>Lokasi pengamatan suhu udara&nbsp; lintang selatan 0.79 , 100.29 Bujur Timur.&nbsp; Pada tahun 1982 sd 2011 pengamatan suhu di Tabing Kota Padang dan tahun 2012 berpindah ke Ketaping Kabupaten Padang Pariaman</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" width="1001" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-2.png?resize=1001%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-209337" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-2.png?resize=1001%2C675&amp;ssl=1 1001w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-2.png?resize=300%2C202&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-2.png?resize=768%2C518&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-2.png?w=1174&amp;ssl=1 1174w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure>



<p>Gambar 1</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" width="1200" height="494" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-3.png?resize=1200%2C494&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-209338" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-3.png?resize=1200%2C494&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-3.png?resize=300%2C123&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-3.png?resize=768%2C316&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-3.png?w=1368&amp;ssl=1 1368w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure>



<p>Gambar 2</p>



<p>Suhu stasiun Meteorologi BIM Rata-rata tahunan selama periode normal : 26.5 derajat celcius, dari tahun 1982 anomali negativ (warna biru) hingga 1997, Pada tahun 1998 mengalami peningkatan dan sejak tahun 2001 terus mengalami anomali positiv kenaikan (warna coklat dan merah) beberapa kali anomali negativ sedikit turun di 2008 dan 2013 anomali suhu tahunan terus mengalami peningkatan dan tahun 2023 hingga 2024 menjadi tahun terpanas, trend peningkatan 0.6 derajat dari normalnya (1991-2020)</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" width="481" height="289" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-4.png?resize=481%2C289&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-209339" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-4.png?w=481&amp;ssl=1 481w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-4.png?resize=300%2C180&amp;ssl=1 300w" sizes="(max-width: 481px) 100vw, 481px" /></figure>



<p>Gambar 3</p>



<p>pada tahun 2024 (gambar 3) Suhu udara selalu konsisten lebih panas dibandingkan suhu normalnya, terjadi peningkatan sekitar: 0.9 – 1.4 derajat</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Stasiun Klimatologi BMKG Sumatera Barat</li>
</ul>



<p>Lokasi pengamatan suhu udara lintang selatan 0.55 , 100.30 Bujur Timur.&nbsp; Pengamatan di mulai Pada tahun 1985 sd 2024 di Kecamatan 2 x 11 kayu Tanam.</p>



<p>Suhu Rata-rata tahunan selama periode normal : 26.6 derajat celcius, dari tahun 1985 anomali negativ (warma biru) hingga 1997, Pada tahun 1998 mengalami anomali positiv dan sejak tahun 2004 terus mengalami anomali positiv kenaikan (warna coklat) beberapa kali anomali negativ di 2008, 2009 dan 2011, 2012.  </p>



<p>Anomali suhu tahunan (gambar 4) terus mengalami peningkatan dan tahun 2020 menjadi tahun terpanas, peningkatan 0.4 derajat dari normalnya (1991-2020)</p>



<p>Gambar 4</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="1200" height="494" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-5.png?resize=1200%2C494&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-209340" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-5.png?resize=1200%2C494&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-5.png?resize=300%2C123&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-5.png?resize=768%2C316&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-5.png?w=1368&amp;ssl=1 1368w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure>



<p>Gambar 5</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="752" height="452" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-6.png?resize=752%2C452&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-209342" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-6.png?w=752&amp;ssl=1 752w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-6.png?resize=300%2C180&amp;ssl=1 300w" sizes="auto, (max-width: 752px) 100vw, 752px" /></figure>



<p>Gambar 6</p>



<p>Suhu udara pada tahun 2024 (Gambar 6) di staklim Sumatera Barat masih lebih rendah dari suhu normal klimatologisnya, pada bulan Februari 2024 suhu rata-rata lebih tinggi dari normalnya..</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="1200" height="486" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-7-1.png?resize=1200%2C486&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-209343" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-7-1.png?resize=1200%2C486&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-7-1.png?resize=300%2C122&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-7-1.png?resize=768%2C311&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-7-1.png?w=1389&amp;ssl=1 1389w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure>



<p>Gambar 7</p>



<p>tren kenaikan suhu provinsi sumatera barat sebesar 0.4 derajat per tahun data 1982 hingga 2023</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Peningkatan Curah hujan ekstrem</strong></li>
</ul>



<figure class="wp-block-image size-full"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="752" height="452" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-8.png?resize=752%2C452&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-209344" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-8.png?w=752&amp;ssl=1 752w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/08/BMKG-Rizky-8.png?resize=300%2C180&amp;ssl=1 300w" sizes="auto, (max-width: 752px) 100vw, 752px" /></figure>



<p>Gambar 8</p>



<p>Dalam 5 tahun terakhir telah terjadi peningkatan jumlah kejadian hujan ekstrem (> 150 milimeter), Pada tahun 2023 hujan ekstrem banyak terjadi : 86 Tahun 2023 menjadi dengan hujan ekstrem terbanyak.</p>



<p>*<strong>Fungsional Klimatologis/PMG Madya Stasiun Klimatologi Sumatera Barat</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/trend-peningkatan-suhu-sumbar-tahun-2024/">Trend Peningkatan suhu Sumbar tahun 2024</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">209334</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mengenalkan Energi Terbarukan sebagai Metode Bertani; Mungkin Bisa Membantu Petani di Kaki Bukit Barisan Lepas dari Belenggu Anomali Cuaca</title>
		<link>https://langgam.id/mengenalkan-energi-terbarukan-sebagai-metode-bertani-mungkin-bisa-membantu-petani-di-kaki-bukit-barisan-lepas-dari-belenggu-anomali-cuaca/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yose Hendra]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Jun 2024 12:18:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Energi Terbarukan]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan Iklim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=206227</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Hari itu, Darmini (69) segera melucuti pakaiannya yang bersimbah lumpur dan menggantinya dengan pakaian yang lebih bersih. Jam baru menunjukkan pukul 10 pagi, namun hujan tiba-tiba mengguyur, mengganggu agenda menanam benih di sawahnya. Darmini pun beralih mengurus tanaman sayuran di pekarangan rumah. Cuaca hari itu berubah cepat, dari terik menjadi hujan deras. Setelah Zuhur, hujan ringan turun lagi hingga sore. Darmini memanfaatkan waktu yang tersisa hingga Magrib untuk kembali menanam benih. Darmini, yang telah bertani sejak 1975, tinggal di kaki Pegunungan Bukit Barisan, Nagari Sungai Gayo Lumpo, Kecamatan IV Jurai, Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Anomali cuaca telah mengganggu</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengenalkan-energi-terbarukan-sebagai-metode-bertani-mungkin-bisa-membantu-petani-di-kaki-bukit-barisan-lepas-dari-belenggu-anomali-cuaca/">Mengenalkan Energi Terbarukan sebagai Metode Bertani; Mungkin Bisa Membantu Petani di Kaki Bukit Barisan Lepas dari Belenggu Anomali Cuaca</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Hari itu, Darmini (69) segera melucuti pakaiannya yang bersimbah lumpur dan menggantinya dengan pakaian yang lebih bersih. Jam baru menunjukkan pukul 10 pagi, namun hujan tiba-tiba mengguyur, mengganggu agenda menanam benih di sawahnya. Darmini pun beralih mengurus tanaman sayuran di pekarangan rumah.</p>



<p>Cuaca hari itu berubah cepat, dari terik menjadi hujan deras. Setelah Zuhur, hujan ringan turun lagi hingga sore. Darmini memanfaatkan waktu yang tersisa hingga Magrib untuk kembali menanam benih.</p>



<p>Darmini, yang telah bertani sejak 1975, tinggal di kaki Pegunungan Bukit Barisan, Nagari Sungai Gayo Lumpo, Kecamatan IV Jurai, Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Anomali cuaca telah mengganggu pertanian di kampungnya selama 15 tahun terakhir, menyebabkan banyak petani mengalami gagal panen.</p>



<p>&#8220;Dalam ingatan saya, transisi cuaca dulu lebih pasti. Musim hujan biasanya dimulai Agustus hingga Desember, sisanya musim kemarau. Namun, 15 tahun terakhir, hujan sering terjadi pada November-Desember dan Januari-Februari, meskipun tidak selalu pasti,&#8221; katanya, tempo hari.</p>



<p>Rizky Armei Saputra dari BMKG Sumatera Barat mengatakan, perubahan iklim telah menyebabkan ketidakpastian musim hujan. Hal ini cukup berdampak bagi petani, terutama mereka yang bekerja di sawah.</p>



<p>Darmini harus bijak memanfaatkan waktu untuk menanam padi di tengah cuaca yang sering berubah tiba-tiba. Perjuangannya adalah cerminan dari banyak petani di Nagari Sungai Gayo Lumpo yang berusaha menjaga pertanian mereka di tengah perubahan cuaca yang tidak dapat diprediksi.</p>



<p>Perubahan iklim yang melanda Nagari Sungai Gayo Lumpo tidak hanya membingungkan petani dalam mengelola sawah, tetapi juga merusak jaringan irigasi dan berdampak pada produksi padi.</p>



<p>Darmini, seorang petani setempat, menunjukkan kepada <em>Langgam.id</em> kondisi buruk di sisi timur Nagari Sungai Gayo Lumpo, hulu pengairan daerah tersebut. Longsor di beberapa titik sepanjang saluran irigasi mengancam putusnya jaringan, sementara saluran irigasi mengering akibat kurangnya pasokan air dari Sungai Lubuak Kasai Indah.</p>



<p>Menurut Darmini, longsor yang merusak jaringan irigasi disebabkan oleh penebangan kayu secara masif di kawasan hutan setelah gempa 2009. Kayu-kayu yang tumbang terbawa derasnya air saat hujan lebat, menyumbat saluran dan memicu banjir bandang.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="1013" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2023/12/Darmini-Sungai-Gayo-banda-terancam.jpg?resize=1013%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-193336" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2023/12/Darmini-Sungai-Gayo-banda-terancam.jpg?resize=1013%2C675&amp;ssl=1 1013w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2023/12/Darmini-Sungai-Gayo-banda-terancam.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2023/12/Darmini-Sungai-Gayo-banda-terancam.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2023/12/Darmini-Sungai-Gayo-banda-terancam.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><figcaption class="wp-element-caption">Darmin, salah seorang petani di Nagari Sungai Gayo Lumpo menunjukkan titik longsor yang mengancam bandar . Hal demikian dipengaruhi hujan lebat. Sisi lain, di belakangnya bandar agak minim mengalirkan air, karena musim kemarau mendera di antara musim hujan. Perubahan iklim di kampung itu menjadi tantangan berat bagi petani dalam mengelola sawah. Foto: Yose Hendra</figcaption></figure>



<p>&#8220;Saya sudah bertani sejak 1975, tetapi 15 tahun terakhir saluran irigasi ini sering rusak akibat longsor. Hal ini karena penebangan hutan di atas, yang menyebabkan banjir dan longsor,&#8221; kata Darmini.</p>



<p>Perubahan iklim menyebabkan petani sering mengalami kegagalan panen. Air irigasi yang seret dan serangan hama tikus menambah kesulitan. Banyak petani di Sungai Gayo Lumpo menanam varietas padi seperti ampek duo, madang pulau, sikuriak, dan bujang marantau, tetapi serangan tikus menghancurkan hasil panen mereka.</p>



<p>&#8220;Keadaan sekarang, baru satu bulan siap tanam, sudah dimakan tikus,&#8221; ujarnya. Sebelumnya, Darmini bisa panen 25 karung padi dalam seperempat hektare, tetapi sekarang hanya mendapatkan 7 hingga 15 karung.</p>



<p>Selama tiga tahun terakhir, banyak petani mengalami kegagalan panen, dengan kelompok sawah di sisi timur Nagari Sungai Gayo Lumpo sudah gagal panen selama delapan tahun.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="1013" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/06/bertanam.jpg?resize=1013%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-206274" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/06/bertanam.jpg?resize=1013%2C675&amp;ssl=1 1013w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/06/bertanam.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/06/bertanam.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/06/bertanam.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure>



<p>Dengan penduduk 927 jiwa, 65 persen di antaranya hidup sebagai petani yang menggarap sawah seluas total 530 hektare dan mengolah perkebunan karet, kakao, dan durian. Wali Nagari Sungai Gayo Lumpo, Nofrinol Edi, menjelaskan bahwa sebagian sawah di wilayahnya adalah tadah hujan dan sangat bergantung pada curah hujan.</p>



<p>Selama tiga bulan terakhir, terjadi kekeringan yang berdampak pada gagal panen. Sebagai solusi, sebagian petani mengubah sawah menjadi ladang dengan menanam cabai dan timun.</p>



<p>Perubahan iklim yang tidak menentu telah merusak ekosistem dan mengubah ritme bertani di Nagari Sungai Gayo Lumpo, memaksa para petani untuk beradaptasi dengan kondisi yang semakin sulit.</p>



<p><strong>Transisi Energi untuk Petani Terdampak Perubahan Iklim</strong></p>



<p>Perubahan iklim sebagai dampak tak terhindarkan dari pemanasan global telah memiliki dampak serius di sektor pertanian Indonesia. Pola curah hujan yang berubah, frekuensi kejadian iklim ekstrem yang meningkat, dan kenaikan suhu udara serta permukaan air laut menjadi tantangan besar bagi pertanian.</p>



<p>Dosen Teknik Pertanian dan Biosistem dari Universitas Andalas Rahmi Awalina, menyatakan, perubahan pola curah hujan dan kenaikan suhu udara menyebabkan penurunan signifikan dalam produksi pertanian.&#8221; Hal ini didukung oleh kejadian iklim ekstrem seperti banjir dan kekeringan yang semakin meluas.</p>



<p>&#8220;Untuk menghadapi dampak perubahan iklim, dibutuhkan upaya aktif melalui strategi mitigasi dan adaptasi. Teknologi mitigasi bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian dengan memanfaatkan varietas tanaman rendah emisi dan teknologi pengelolaan air dan lahan,&#8221; terangnya.</p>



<p>Adaptasi, di sisi lain, mencakup penyesuaian waktu tanam, penggunaan varietas unggul yang tahan terhadap kekeringan dan salinitas, serta pengembangan teknologi pengelolaan air.</p>



<p>Rahmi menjelaskan kegiatan pertanian sangat bergantung pada alam yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan oleh teknologi. Ketika air tidak tersedia, ancaman kecil pun menghantui kehidupan para petani. </p>



<p>&#8220;Oleh karena itu, penting untuk membangun sistem pertanian yang mampu beradaptasi dengan perubahan iklim, dengan menggabungkan upaya struktural dan non-struktural,&#8221; tukasnya.</p>



<p>Dengan demikian, transisi energi untuk petani terdampak perubahan iklim menjadi krusial untuk menjaga keberlanjutan pertanian di Indonesia.</p>



<p>Petani kecil dan menengah di luar jaringan listrik yang melimpah seperti Darmini, tentu alangkah baiknya dikenalkan metode pertanian yang hemat biaya dan emisi, seperti, pompa air tenaga surya, yakni memasang pompa air yang menggunakan tenaga surya untuk irigasi.</p>



<p>Lalu, irigasi hemat air, dengan menerapkan sistem irigasi tetes untuk menghemat penggunaan air. Dan bisa juga lingkungan pertanian yang terkendali, dengan meningkatkan efisiensi air dan energi dengan teknik seperti jaring peneduh, terowongan, dan hidroponik.</p>



<ol class="wp-block-list"></ol>



<p>Yaqoob Majeed Cs dalam sebuah makalah, Renewable energy as an alternative source for energy management in agriculture, Energy Reports (El Selvier), tahun 2023, mengidentifikasi ketersediaan melimpah sumber energi terbarukan di bidang pertanian, seperti tenaga surya, biomassa, angin, dan energi panas bumi. </p>



<p>Menurut mereka, transisi ke sumber energi alternatif di pertanian menjanjikan pengurangan emisi gas rumah kaca, meningkatkan efisiensi energi, dan mendukung keberlanjutan produksi pangan. Namun, mencapai tujuan ini memerlukan upaya bersama untuk mengatasi tantangan dan hambatan, sambil merangkul teknologi energi terbarukan dan praktik manajemen energi yang lebih baik. </p>



<p>&#8220;Dengan memajukan praktik ini, pertanian dapat menjadi lebih berkelanjutan, meningkatkan ketahanan pangan, dan mendorong pembangunan berkelanjutan secara keseluruhan.&#8221;</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="704" height="648" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/06/Energi-Terbarukan-untuk-Pertanian.png?resize=704%2C648&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-206253" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/06/Energi-Terbarukan-untuk-Pertanian.png?w=704&amp;ssl=1 704w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/06/Energi-Terbarukan-untuk-Pertanian.png?resize=300%2C276&amp;ssl=1 300w" sizes="auto, (max-width: 704px) 100vw, 704px" /><figcaption class="wp-element-caption">A. Penggunaan tenaga angin dan matahari sebagai sumber energi terbarukan untuk menjalankan berbagai mesin pertanian.<br>B. Penggunaan energi hidro dan biomassa secara efisien, serta daur ulang limbah/hasil pertanian.</figcaption></figure>



<p>Sumber: <em>Yaqoob Majeed</em> Cs, <em>Renewable energy as an alternative source for energy management in<br>agriculture, Energy Reports (El Selvier).</em></p>



<p>Energi surya diidentifikasi sebagai sumber energi terbarukan yang paling menjanjikan di masa depan. Selain itu, integrasi energi terbarukan di pertanian dapat meningkatkan ketahanan dan swasembada masyarakat pedesaan, terutama di negara-negara berkembang dengan infrastruktur energi terbatas.</p>



<p>Namun, ungkap Yaqoob dan kawan-kawan, integrasi energi terbarukan di pertanian memerlukan pengembangan kapasitas tambahan, pemasaran yang baik, dan investasi dalam inovasi teknologi. &#8220;Efisiensi energi pada peralatan juga perlu ditingkatkan agar solusi teknologi lebih terjangkau.&#8221;</p>



<p><strong>Energi Terbarukan Oksigen bagi Petani Melawan Perubahan Iklim</strong></p>



<p>Bulan Oktober 2021, Institute for Essential Services Reform (IESR) meluncurkan kajian berjudul <a href="https://iesr.or.id/en/pustaka/beyond-443-gw-indonesias-infinite-renewable-energy-potentials"><em>Beyond 443 GW: Indonesia’s Infinite Renewables Energy Potentials</em>.</a> Kajian ini berisi data pemetaan potensi teknis energi terbarukan di Indonesia menggunakan Sistem Informasi Geografis (<em>Geographical Information System</em>). </p>



<p>Dalam kajian ini disebutkan, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar, termasuk tenaga surya, angin, dan pembangkit listrik tenaga air. Total potensi energi terbarukan di Indonesia mencapai 7.879,4 GW (skenario 1) atau 6.811.3 GW (skenario 2) terdiri dari PLTS (7.714,6 GW skenario 1 dan 6.749,3 GW skenario 2), PLTMH (28,1 GW skenario 1 dan 6,3 GW skenario 2), PLTB (19,8 GW – 106 GW), PLTBm (30,73 GW). </p>



<p>Dalam konteks pertanian, limpahan matahari sangat potensial untuk pengembangan PLTS dengan perkiraan 7.714,6 GW tanpa pembatasan. Lalu 28,1 GW dari pembangkit listrik tenaga air mikro hingga kecil, dan 106 GW dari tenaga angin dengan kecepatan minimal 6 m/s. Dengan pembatasan demi keberlanjutan ekosistem, kebutuhan listrik masih dapat dipenuhi dengan 6.749,3 GW dari tenaga surya, 6,3 GW dari pembangkit listrik mikro, dan 25 GW dari tenaga angin darat.</p>



<p>Kajian IESR juga mengungkap, untuk mengatasi variabilitas energi terbarukan, pembangkit listrik biomassa dengan potensi 188,4 GW dan efisiensi 20-35% dapat menjadi solusi. Selain itu, Pumped Hydro Energy Storage (PHES) dengan potensi 7.308,8 GWh dapat membantu mengatasi defisit pasokan dari energi terbarukan yang bervariasi.</p>



<p>Di antara potensi energi terbarukan seperti tenaga surya atau angin, bisa menjadi sumber pengembangan hidrogen hijau. Caranya memecah udara menjadi hidrogen dan oksigen menggunakan sumber energi terbarukan tersebut.</p>



<p>Hidrogen ramah lingkungan, sebab memiliki berbagai kegunaan dalam mengurangi dampak perubahan iklim, termasuk sektor dekarbonisasi seperti produksi baja dan semen serta penyimpanan energi ramah lingkungan.</p>



<p>IESR menekankan pentingnya pengembangan hidrogen hijau untuk masa depan energi berkelanjutan di Indonesia. Analis Senior IESR, Farid Wijaya, menjelaskan bahwa hidrogen hijau diproduksi dari elektrolisis air menggunakan listrik dari sumber terbarukan.</p>



<p>Menurut Farid, hidrogen hijau tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga mendukung dekarbonisasi dan ekonomi berkelanjutan. Studi IESR dengan Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan bahwa hidrogen hijau memiliki manfaat besar, termasuk meningkatkan suplai listrik, pemerataan energi terbarukan, dan menjadi alternatif efisien untuk bahan bakar fosil.</p>



<p>Farid menyoroti bahwa hidrogen hijau memiliki densitas energi setara dengan bahan bakar minyak, tetapi dengan dampak lingkungan yang lebih rendah. </p>



<p>&#8220;Produksi hidrogen hijau juga ramah lingkungan, terutama jika menggunakan elektrolisis untuk memisahkan hidrogen dari air, tanpa meninggalkan jejak emisi gas rumah kaca atau polusi udara,&#8221; katanya dilansir dari <em><a href="https://tanahair.net/id/iesr-hidrogen-hijau-kunci-masa-depan-energi-indonesia/">tanahair.net</a></em>.</p>



<p>Indonesia, dengan potensi energi terbarukan sebesar 3.686 Gigawatt, memiliki kapasitas besar untuk memproduksi hidrogen hijau. Namun, untuk memastikan penggunaan hidrogen hijau berjalan lancar, diperlukan langkah-langkah strategis, termasuk standarisasi, regulasi yang mendukung, akses sumber daya, teknologi, pasar potensial, dan dukungan finansial.</p>



<p>Farid menyimpulkan bahwa dengan pendekatan yang komprehensif, hidrogen hijau memiliki potensi besar untuk menjadi tulang punggung energi berkelanjutan di masa depan Indonesia. Pernyataan ini menegaskan pentingnya fokus pada solusi energi ramah lingkungan dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global.</p>



<p><strong>Sumbar Kaya Akan Sumber Energi Terbarukan</strong></p>



<p>Dan Sumatra Barat sebetulnya sangat kaya dengan sumber energi baru terbarukan. </p>



<p>Menurut data Dinas ESDM Sumbar (2021), potensi energi terbarukan di Sumatra Barat meliputi 1,1 GW untuk energi air (hydropower), 1,7 GWe untuk panas bumi (geothermal), biomassa setara 0,9 GW, biogas setara 34,7 MW, energi angin setara 0,4 GW, energi surya sebanyak 5,9 MWp, serta energi gelombang laut yang dapat diperoleh dari garis pantai sepanjang 186.500 km.</p>



<p>Kepala Dinas ESDM Provinsi Sumatera Barat Herry Martinus mengatakan terdapat beberapa upaya percepatan transisi energi di Sumatera Barat, salah satunya melalui Surat Edaran Gubernur nomor 671/357/EKTL/DESDM-2022 tanggal 28 April 2022 tentang pemanfaatan PLTS Atap di Sumatera Barat. Melalui surat edaran tersebut mengajak masyarakat menggunakan PLTS atap untuk gedung kantor, UMKM, dan kegiatan ekonomi kreatif, pariwisata dan pertanian.</p>



<p>&#8220;Kita dukung pemanfaatan PLTS melalui surat edaran, dan kita sudah melistriki gedung-gedung pemerintah dengan PLTS sebagai backup listrik PLN,&#8221; ujar Herry.</p>



<p>Pakar Pengendalian Pencemaran Udara Universitas Andalas Fadjar Goembira, mengungkapkan bahwa meskipun penggunaan sumber energi terbarukan di Sumatra Barat sudah di atas rata-rata nasional, masih diperlukan usaha lebih lanjut untuk meningkatkan jumlah pemakaiannya, mengingat potensi besar yang dimiliki provinsi ini.</p>



<p>Fadjar menjelaskan bahwa energi terbarukan adalah energi yang berasal dari sumber yang dapat diperbarui dan biasanya terkait dengan siklus alam yang berulang dalam periode yang relatif pendek. Sumber-sumber ini meliputi panas bumi, bahan bakar biomassa, hydropower, sinar matahari, bahan bakar nabati, biogas, dan energi angin.</p>



<p>“Sedangkan energi baru adalah sumber energi yang belum pernah secara masif digunakan sebelumnya, seperti energi hidrogen, coal bed methane, gasifikasi batubara, dan energi dari gelombang laut,” jelas Dewan Pakar Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Andalas ini, beberapa waktu lalu.</p>



<p>Fadjar melanjutkan, perlu menekankan pentingnya usaha untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan berdasarkan potensi yang ada. “Karena Sumatra Barat merupakan provinsi yang dilalui garis khatulistiwa, penyinaran matahari berlimpah sehingga energi surya menjadi salah satu pilihan yang sangat perlu dikembangkan,” terang Dosen Teknik Lingkungan ini, yang juga menjabat sebagai Kepala Laboratorium Kualitas Udara Departemen Teknik Lingkungan.</p>



<p>Selain itu, topografi wilayah Sumbar yang sebagian dilalui pegunungan Bukit Barisan memiliki perbedaan ketinggian yang signifikan, sehingga pemanfaatan sumber energi air (hydropower) sangat potensial untuk dikembangkan.</p>



<p>Di sisi lain, Fadjar juga menyoroti pentingnya pemanfaatan limbah biomassa yang dapat berasal dari kegiatan domestik dan pertanian. Biomassa ini sangat potensial untuk dikonversi menjadi bahan bakar alternatif berupa pellet atau briket yang dapat dimanfaatkan oleh industri dan pembangkit listrik tenaga uap melalui proses co-firing dengan batubara.</p>



<p>“Dengan mengganti sebagian bahan bakar batubara dengan biomassa, kita bisa menyelesaikan dua masalah sekaligus: pengelolaan sampah organik dari kegiatan domestik atau pertanian dan pengurangan penggunaan energi fosil yang menyebabkan peningkatan gas rumah kaca dan pemanasan global,” pungkasnya. </p>



<p>Nah, sekarang hal yang paling penting tentu saja mengembangkan dan menghadirkan segala potensi energi terbarukan yang dimiliki Sumatra Barat dengan nyata pada masyarakat pedesaaan, terutama di sektor pertanian. Sehingga benar-benar berdaya guna membantu petani gurem seperti Darmini dalam menghadapi perubahan iklim. (*/Yh)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengenalkan-energi-terbarukan-sebagai-metode-bertani-mungkin-bisa-membantu-petani-di-kaki-bukit-barisan-lepas-dari-belenggu-anomali-cuaca/">Mengenalkan Energi Terbarukan sebagai Metode Bertani; Mungkin Bisa Membantu Petani di Kaki Bukit Barisan Lepas dari Belenggu Anomali Cuaca</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">206227</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Hari Lingkungan Hidup 2024: Kehancuran Lahan Mengancam Eksistensi Masyarakat Dunia</title>
		<link>https://langgam.id/hari-lingkungan-hidup-2024-kehancuran-lahan-mengancam-eksistensi-masyarakat-dunia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rahmi Awalina]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Jun 2024 13:30:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan Iklim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=205923</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hari Lingkungan Hidup (HLH) Sedunia diperingati setiap 5 Juni dengan tujuan utama meningkatkan kesadaran global akan pentingnya menyelamatkan lingkungan. Tanggal ini ditetapkan oleh Majelis Umum PBB bertepatan dengan Konferensi Stockholm yang berlangsung pada 5-16 Juni 1972 di Stockholm, Swedia. Konferensi ini menjadi pionir dalam mengangkat isu lingkungan di panggung dunia dan menjadi dasar bagi penetapan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Setiap tahun, berbagai elemen masyarakat seperti pemerintah, perusahaan, LSM, komunitas, selebriti, dan masyarakat umum terlibat dalam peringatan HLH Sedunia untuk mendukung upaya pelestarian lingkungan. Tahun ini, pemerintah Indonesia mengangkat tema “Penyelesaian Krisis Iklim dengan Inovasi dan Prinsip Keadilan.” Tema ini menekankan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/hari-lingkungan-hidup-2024-kehancuran-lahan-mengancam-eksistensi-masyarakat-dunia/">Hari Lingkungan Hidup 2024: Kehancuran Lahan Mengancam Eksistensi Masyarakat Dunia</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>H</strong>ari Lingkungan Hidup (HLH) Sedunia diperingati setiap 5 Juni dengan tujuan utama meningkatkan kesadaran global akan pentingnya menyelamatkan lingkungan. Tanggal ini ditetapkan oleh Majelis Umum PBB bertepatan dengan Konferensi Stockholm yang berlangsung pada 5-16 Juni 1972 di Stockholm, Swedia. Konferensi ini menjadi pionir dalam mengangkat isu lingkungan di panggung dunia dan menjadi dasar bagi penetapan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.</p>



<p>Setiap tahun, berbagai elemen masyarakat seperti pemerintah, perusahaan, LSM, komunitas, selebriti, dan masyarakat umum terlibat dalam peringatan HLH Sedunia untuk mendukung upaya pelestarian lingkungan. Tahun ini, pemerintah Indonesia mengangkat tema “Penyelesaian Krisis Iklim dengan Inovasi dan Prinsip Keadilan.” Tema ini menekankan bahwa solusi untuk krisis iklim harus mencakup inovasi yang konsisten dan mempertimbangkan prinsip keadilan serta inklusivitas.</p>



<p>Secara global, HLH Sedunia 2024 menyoroti restorasi lahan, pencegahan penggurunan, dan peningkatan ketahanan terhadap kekeringan. Dengan slogan “Our Land. Our Future,” tema ini bertujuan untuk mengingatkan pentingnya menjaga dan memulihkan ekosistem lahan yang vital untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Penggurunan, atau disertifikasi, adalah degradasi lahan kering menjadi semakin tandus akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia, mengakibatkan hilangnya sumber air, vegetasi, dan keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, restorasi lahan menjadi salah satu prioritas utama dalam Dekade Restorasi Ekosistem PBB [2021-2030], yang merupakan seruan global untuk melindungi dan menghidupkan kembali ekosistem di seluruh dunia.</p>



<p>Dalam pernyataannya, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menekankan bahwa keberlangsungan hidup manusia sangat bergantung pada tanah. Namun, kombinasi beracun dari polusi, perubahan iklim yang tak terkendali, dan pengurangan keanekaragaman hayati sedang mengubah lahan subur menjadi gurun dan mengubah ekosistem yang dulunya berkembang menjadi area yang tidak dapat mendukung kehidupan.</p>



<p>Guterres mengungkapkan bahwa polusi ini menyebabkan kerusakan pada hutan dan padang rumput, serta menguras kemampuan tanah untuk mendukung ekosistem, pertanian, dan komunitas. Dampaknya adalah kegagalan panen, menghilangnya sumber air, melemahnya ekonomi, dan terancamnya keberadaan masyarakat yang paling rentan. Negara-negara di dunia harus memenuhi semua janji mereka untuk memulihkan ekosistem dan lahan yang telah terdegradasi, dan menjalankan Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal. Selain itu, negara-negara tersebut harus memanfaatkan rencana aksi iklim nasional terbaru mereka untuk merumuskan strategi menghentikan dan membalikkan deforestasi pada tahun 2030.</p>



<p>Guterres juga menyerukan peningkatan besar dalam pendanaan untuk mendukung negara-negara berkembang dalam menghadapi cuaca yang semakin tidak menentu, melindungi alam, dan mendukung pembangunan berkelanjutan. Menurutnya, pembangunan berkelanjutan saat ini sedang mengalami kesulitan besar, terjebak dalam siklus yang merusak. Penggunaan lahan menyumbang sebelas persen emisi karbon dioksida yang memanaskan planet kita. Seruan tindakan segera untuk keluar dari siklus ini, menyatakan bahwa generasi kita adalah &#8220;Generasi Restorasi&#8221; yang dapat membangun masa depan yang berkelanjutan bagi tanah dan umat manusia.</p>



<p>Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Kekayaan biodiversitas ini menyediakan beragam sumber penghidupan yang penting, seperti nutrisi, pangan, air, obat-obatan, dan ekosistem lain yang mendukung kehidupan manusia.</p>



<p>Namun, meskipun dikenal sebagai negara dengan megabiodiversitas, Indonesia menghadapi ancaman serius terhadap keanekaragaman hayatinya. Tingkat kepunahan spesies flora dan fauna sangat mengkhawatirkan, dengan deforestasi sebagai penyebab utama. Data dari Forest Watch Indonesia menunjukkan bahwa antara tahun 2017 dan 2021, rata-rata deforestasi mencapai 2,54 juta hektar per tahun, setara dengan enam kali luas lapangan sepak bola per menit. Ini menempatkan Indonesia pada ambang krisis iklim.</p>



<p>Kondisi ini menunjukkan bahwa hutan Indonesia dalam kondisi kritis. Kerusakan hutan yang parah terjadi di hampir semua wilayah. Kalimantan, misalnya, mencatat deforestasi rata-rata 1,11 juta hektar per tahun. Papua mengikuti dengan 556 ribu hektar per tahun, Sumatra 428 ribu hektar per tahun, Sulawesi 290 ribu hektar per tahun, Maluku 89 ribu hektar per tahun, Bali Nusa 38 ribu hektar per tahun, dan Jawa 22 ribu hektar per tahun.</p>



<p>Realitas ini menggarisbawahi betapa gentingnya situasi hutan di Indonesia dan perlunya tindakan segera untuk melindungi kekayaan alam yang ada sebelum lebih banyak lagi yang hilang.</p>



<p><strong>*Dosen Teknik Pertanian dan Biosistem</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/hari-lingkungan-hidup-2024-kehancuran-lahan-mengancam-eksistensi-masyarakat-dunia/">Hari Lingkungan Hidup 2024: Kehancuran Lahan Mengancam Eksistensi Masyarakat Dunia</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">205923</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pameran Foto Kadir van Lohuizen &#8216;Rising Tide&#8217; di Erasmus Huis Soroti Krisis Iklim</title>
		<link>https://langgam.id/pameran-foto-kadir-van-lohuizen-rising-tide-di-erasmus-huis-soroti-krisis-iklim/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 May 2024 13:13:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan Iklim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=203927</guid>

					<description><![CDATA[<p>PalantaLanggam &#8211; Menanggapi dampak mendesak dari naiknya permukaan air laut, fotografer Belanda ternama Kadir van Lohuizen mempersembahkan pameran foto yang berjudul &#8220;Rising Tide: The Human Consequences of Rising Sea Levels&#8221;. Pameran ini mendokumentasikan dampak mendalam dari krisis iklim dan akan berlangsung di Erasmus Huis Jakarta, dari 21 Mei 2024 hingga 3 Agustus 2024. &#8220;Rising Tide&#8221; menghadirkan dokumentasi visual yang jelas tentang dampak krisis iklim di berbagai tempat di mana orang tinggal, termasuk Jakarta, Greenland, Bangladesh, Papua Nugini, Panama, Kiribati, Fiji, Miami, New York, dan Belanda. Insiden yang mengkhawatirkan pada tanggal 8 Januari 2019, ketika badai barat laut yang parah memicu</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pameran-foto-kadir-van-lohuizen-rising-tide-di-erasmus-huis-soroti-krisis-iklim/">Pameran Foto Kadir van Lohuizen &#8216;Rising Tide&#8217; di Erasmus Huis Soroti Krisis Iklim</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>PalantaLanggam &#8211; </strong>Menanggapi dampak mendesak dari naiknya permukaan air laut, fotografer Belanda ternama Kadir van Lohuizen mempersembahkan pameran foto yang berjudul &#8220;Rising Tide: The Human Consequences of Rising Sea Levels&#8221;. Pameran ini mendokumentasikan dampak mendalam dari krisis iklim dan akan berlangsung di Erasmus Huis Jakarta, dari 21 Mei 2024 hingga 3 Agustus 2024.</p>



<p>&#8220;Rising Tide&#8221; menghadirkan dokumentasi visual yang jelas tentang dampak krisis iklim di berbagai tempat di mana orang tinggal, termasuk Jakarta, Greenland, Bangladesh, Papua Nugini, Panama, Kiribati, Fiji, Miami, New York, dan Belanda. </p>



<p>Insiden yang mengkhawatirkan pada tanggal 8 Januari 2019, ketika badai barat laut yang parah memicu banjir di pulau Terschelling, menyoroti meningkatnya frekuensi kejadian serupa dan perlunya mengatasi dampak krisis iklim.</p>



<p>Pameran ini dikembangkan oleh Museum Maritim Nasional Belanda dan Noor Images, dan merupakan bukti dedikasi dan penyelidikan komprehensif Van Lohuizen. Pengunjung akan diajak untuk merasakan berbagai perspektif tentang dampak kenaikan permukaan air laut, dan menghadapi kenyataan pahit masa depan kita bersama. Van Lohuizen mendesak masyarakat untuk berjuang bersama mencari solusi berkelanjutan.</p>



<p>“Ini adalah seruan untuk bertindak: kita benar-benar perlu bertindak sekarang, karena jika tidak, wilayah pesisir akan menjadi ancaman yang berarti. Jakarta adalah contoh yang sangat disayangkan; pertama, kota ini tenggelam, dan kedua, permukaan air laut meningkat,” kata Van Lohuizen.</p>



<p>“Merupakan suatu kehormatan bagi Erasmus Huis untuk menjadi tuan rumah pameran yang menggugah pikiran dari Kadir van Lohuizen. Fotografinya memiliki pengaruh yang kuat, mengungkap arus keadaan krisis iklim yang mengkhawatirkan. Berbagai perspektif dalam karyanya menyoroti pentingnya tindakan segera, menekankan bahwa ini adalah tantangan global yang harus kita hadapi bersama,” kata Direktur Erasmus Huis Nicolaas de Regt. (*/Yh)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pameran-foto-kadir-van-lohuizen-rising-tide-di-erasmus-huis-soroti-krisis-iklim/">Pameran Foto Kadir van Lohuizen &#8216;Rising Tide&#8217; di Erasmus Huis Soroti Krisis Iklim</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">203927</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 28/59 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-05-29 17:44:37 by W3 Total Cache
-->