<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Perayaan Imlek 2023 Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/perayaan-imlek-2023/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/perayaan-imlek-2023/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Jun 2023 07:28:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Perayaan Imlek 2023 Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/perayaan-imlek-2023/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Sekolah Negeri sebagai Ruang Akulturasi Minang-Tionghoa</title>
		<link>https://langgam.id/sekolah-negeri-sebagai-ruang-akulturasi-minang-tionghoa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Donny Syofyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Feb 2023 15:43:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Perayaan Imlek 2023]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=179189</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam rangka menyambut Imlek atau Tahun Baru China 2574, warga Tionghoa kota Padang telah menyelenggarakan Festival Cap Go Meh 2574. Dalam pelaksanaannya, tidak hanya kebudayaan Tionghoa yang ditampilkan tapi juga ada budaya lain di Nusantara seperti budaya Minang, dan lain-lain. Sehingga Cap Go Meh juga menjadi kirab budaya Nusantara. Panitia Cap Go Meh Padang, Albert Hendra Lukman, mengatakan penyelenggaraan Cap Go Meh tahun ini menunjukkan kemajemukan di kota Padang. Festival ini telah diikuti oleh 3000 peserta yang menjalankan peran masing-masing. Jumlah orang datang ternyata lebih banyak dari jumlah tersebut. Dalam perayaan kali ini, seluruh komunitas Tionghoa di kota Padang terlibat</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/sekolah-negeri-sebagai-ruang-akulturasi-minang-tionghoa/">Sekolah Negeri sebagai Ruang Akulturasi Minang-Tionghoa</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam rangka menyambut Imlek atau Tahun Baru China 2574, warga Tionghoa kota Padang telah menyelenggarakan Festival Cap Go Meh 2574. Dalam pelaksanaannya, tidak hanya kebudayaan Tionghoa yang ditampilkan tapi juga ada budaya lain di Nusantara seperti budaya Minang, dan lain-lain. </p>



<p>Sehingga Cap Go Meh juga menjadi kirab budaya Nusantara. Panitia Cap Go Meh Padang, Albert Hendra Lukman, mengatakan penyelenggaraan Cap Go Meh tahun ini menunjukkan kemajemukan di kota Padang.</p>



<p>Festival ini telah diikuti oleh 3000 peserta yang menjalankan peran masing-masing. Jumlah orang datang ternyata lebih banyak dari jumlah tersebut. Dalam perayaan kali ini, seluruh komunitas Tionghoa di kota Padang terlibat mulai dari sembilan perkumpulan atau Ji Se hingga perkumpulan sosial Himpunan Bersatu Teguh (HBT), Himpunan Tjinta Teman (HTT) dan PSKP Santo Yusuf.</p>



<p>Kita tentu senang bahwa perayaan Imlek 2574 ini telah berlangsung dengan baik. Penampilan semua atraksi hingga sipasan dari HBT dan HTT yang keluar secara serentak baru pertama kali terjadi. </p>



<p>Ia tidak cuma dinikmati oleh warga keturunan Tionghoa tapi juga warga Minang, khususnya yang berada di kota Padang. Perayaan ini seharusnya mengingatkan kita bahwa warga Minang dan Tionghoa harus terus bergerak dengan cara masing-masing melakukan pendekatan. </p>



<p>Dalam terminologi sosiologi, kita menyebutnya akulturasi. Secara konseptual, akulturasi secara sederhana dipahami upaya sebuah kelompok atau komunitas untuk bergerak dan berkegiatan yang menyesuaikan diri dengan kebudayaan, tatanan nilai dan situasi di mana mereka berada. </p>



<p>Hanya saja, ini butuh semacam rekayasa sosial serius yang dilakukan secara terus menerus, bahkan membutuhkan masa yang relatif panjang.</p>



<p><strong>Pergeseran Sumber Daya Ekonomi</strong></p>



<p>Di kota Padang, pembauran antara etnis Tionghoa dan Minang tidak mengalami masalah yang serius. Dalam keseharian, misalnya, komunikasi yang terjalin antara warga keturunan Tionghoa dan Minang menggunakan bahasa Minang alih-alih bahasa Indonesia. </p>



<p>Kalau pun berbahasa Indonesia, logat yang digunakan popular dengan sebutan <em>Indomi</em> (Indonesia Minang)—bercakap bahasa Indonesia dengan intonasi dan langgam Minang. Juga tidak pernah ada konflik etnis Minang-Tionghoa. </p>



<p>Kalau pun ada kisah kelam berupa penghancuran dan pencurian atas properti warga Tionghoa sewaktu berlangsungnya krisis moneter pada 1998, ini tak bisa dilepaskan dari gonjang-ganjing politik di satu sisi dan dominasi ekonomi warga Tionghoa di terhadap sumber-sumber daya ekonomi di sisi lain.</p>



<p>Tapi membayangkan kehidupan bersama hari ini dan masa depan melalui lensa masa lalu, yang muncul hanya kesedihan mendalam dan keputusasaan. Sepanjang sejarah kita belum lepas dari budaya tumbal, mencari musuh bersama dan untuk membangun solidaritas. </p>



<p>Mengambinghitamkan warga keturunan Tionghoa karena motif-motif ekonomi sangat tidak produktif bahkan tidak relevan lagi bagi kesatuan dan kerja sama Minang-Tionghoa di masa depan.</p>



<p>Hari ini roda-roda perputaran ekonomi di kota Padang atau Sumatera Barat secara umum justru dikendalikan orang orang Minang sendiri, meskipun kita tak bisa menutup mata bahwa mayoritas warga keturunan Tionghoa di kota Padang masih berkecimpung dalam dunia bisnis dan perdagangan. </p>



<p>Lihatlah deretan bisnis yang memang dikuasai oleh urang awak sendiri, di antaranya swalayan (Citra, Budiman, A-Ciak Mart bahkan yang terbaru Minang Express), bahkan salah satu Budiman swalayan berada di daerah Pondok, kawasan kampung China (Pecinan) di kota Padang; Elna Cake &amp; Bakery (perusahaan kue dan roti terbesar di Sumbar, bahkan mengalahkan Hoya); Asese (tokoh oleh-oleh di kota Padang sebagai saingan Christine Hakim), AA Catering (usaha layanan ketering terbesar di Sumbar, bahkan pemasok tunggal <em>inflight service</em> maskapai di Bandara Internasional Minangkabau sebelum akhirnya terhenti oleh Covid-19; bisnis rumah makan Padang jangan disebut; kafe-kafe yang dulu terpusat di kawasan Pondok kini sudah menyebar ke pelbagai tempat; Jacky Cellular dan Sumbar Smartphone (toko telepon selular), dan lain-lain yang tak bisa disebut satu per satu.</p>



<p>Akulturasi di ranah ekonomi dan bisnis tidak produktif mengingat karakternya memang menghajatkan persaingan demi kepuasan konsumen dan bergeraknya roda ekonomi dengan regulasi yang tegas. Biarlah setiap pihak melakoni fungsi dan kerja ekonomi sesuai dengan ciri khas, pendekatan dan strategi masing-masing.</p>



<p><strong>Sekolah Negeri sebagai Ruang Akulturasi Minang-Tionghoa</strong></p>



<p>Pendidikan sejatinya merupakan cara terbaik untuk melakukan akulturasi Minang-Tionghoa. Mengapa? Sebab pendidikan bekerja dengan langkah-langkah rasional dan terukur sehingga kualitas dan ekspektasi proses akulturasi yang diharapkan dapat dipertanggngjawabkan dan berdampak jangka panjang. </p>



<p>Lalu bagaimana penerapannya secara teknis-praktis agar pendidikan menjadi salah satu kunci akulturasi Minang-Tionghoa? Hemat saya, sekolah negeri bakal menjadi laboratorium penting yang akan mengebat upaya-upaya akulturasi Minang-Tionghoa sedari awal karena tiga kekuatan yang dimilikinya.</p>



<p><em>Pertama</em>, mengikis stereotip. Stereotipe awalnya merupakan prasangka namun lama-lama bisa berubah menjadi justifikasi yang ajeg dan tak terbantahkan. Padahal tidak bisa dipungkiri bahwa seringkali stereotip itu salah. Orang Minang diidentikkan dengan ‘pelit’ dan etnik Jawa sering dilabeli dengan “diam-diam makan dalam.” </p>



<p>Begitu juga orang Tionghoa dicap ‘eksklusif’ dan ‘penindas,’ Bagaimanapun, menilai seseorang itu bukan dari apa sukunya tetapi lebih kepada bagaimana perilaku (<em>attitude</em>)-nya.</p>



<p>Lalu bagaimana pendidikan berperan membuang stereotip ini? Ini bisa dimulai dengan inklusivitas pilihan sekolah. Orang-orang tua dari warga Tionghoa perlu ada kesadaran dan kemauan untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah-sekolah negeri, bukan lagi dengan sengaja atau memaksa anak-anaknya lebih banyak belajar di sekolah dan universitas swasta–utamanya swasta Kristen dan Katolik.</p>



<p>Pengalaman saya sebagai dosen di kampus menunjukkan bahwa sejumlah mahasiswa keturunan Tionghoa mengakui pentingnya watak inklusif hanya setelah mereka kuliah di perguruan tinggi negeri atau punya pengalaman sekolah (dasar atau menengah) negeri. </p>



<p>Mereka terus terang menyatakan kepada saya bahwa mereka mau dan berani keluar dari kawasan Pondok setelah menempuh pendidikan di SMA negeri dan melanjutkan kuliah ke Unand. Sebelumnya lingkaran pergaulannya hanya sebatas teman-teman Tionghoa di kawasan kampung China saja.</p>



<p>Bila sedari kecil anak-anak Tionghoa sudah mengalami, bukan sekadar diajarkan, lingkungan inklusif dengan belajar di sekolah-sekolah negeri (tentu tak semuanya dan tak juga seluruh anggota keluarga), kepribadian dan pemikiran inklusif akan menjadi bagian hidupnya di kemudian hari.</p>



<p>Di sinilah kita akan menemukan bahwa hubungan suku Minang-Tionghoa bakal betul-betul cair, bukan lagi karena tekanan, bersifat <em>top-down</em> dan sarat basa-basi.</p>



<p><em>Kedua</em>, sekolah negeri menjadi tenda besar kebhinekaan. Belajar di sekolah negeri bukan hanya mengikat anak-anak tapi juga fungsional mempertemukan wali murid atau orang tua siswa, baik secara langsung maupun secara daring. </p>



<p>Secara langsung atau fisik, misalnya, wali murid Minang-Tionghoa ini akan terlibat dalam persatuan orang tua siswa, kerja sama wali murid, atau <em>ngobrol</em> tentang anak-anak. Sementara secara daring mereka tentu akan tergabung lewat Whatsapp Group (WAG) walikelas maupun wali murid. Komunikasi apapun bisa berlangsung di sini.</p>



<p>Frekuensi pertemuan yang intens, apalagi didorong motif pendidikan, secara berangsur akan mengurangi bahkan menghilangkan perasaan sebagai ‘<em>others</em>’ (liyan)—merasa satu sama lain sebagai orang lain dan asing. </p>



<p>Secara psikologis, masing-masing pihak yang selama ini merasa berbeda dengan yang lain sehingga sukar saling menghampiri akan mulai bergerak menuju titik temu. Relasi yang selama ini membeku karena proyeksi dari sisi gelap setiap pihak, menjadi berbeda karena punya alasan sejarah yang sulit untuk dihindarkan, atau karena kekuatan eksternal yang justru menekan diri kita untuk mau tidak mau menetapkan orang lain sebagai ‘asing’ dengan sendirinya bakal mencair dengan niat baik dan aksi yang mulia.</p>



<p>Saya hendak mengatakan bukan bermakna upaya-upaya ini tak berlangsung di sekolah swasta, seperti di SD, SMP dan SMA swasta yang dikelola oleh warga Tionghoa, tapi realitas sosial menunjukkan bahwa citra ekslusivisme di kalangan anak-anak muda Tionghoa masih menjadi dinding pembatas yang menjadikan mereka tetap kesulitan bergerak ke luar cangkangnya bila masih berada (termasuk sekolah) di ruang sendiri. </p>



<p>Kita ingin agar inklusivisme bergerak lebih akseleratif dan berdampak luas sehingga masa depan ranah Minang diisi relasi Minang-Tionghoa sebagai warga negara tanpa sekat.</p>



<p><em>Ketiga</em>, menjadikan patriotisme sebagai pakaian bersama. Boleh jadi ini terdengar klise tapi sebetulnya punya konsekuensi yang serius. Kebetulan anak-anak saya sekolah di SD dan SMP di Australia. Mereka masuk sekolah negeri (<em>public school</em>). </p>



<p>Dibandingkan Indonesia, Australia lebih multikultural karena dihuni oleh masyarakat berbilang bangsa, bukan cuma suku atau etnis. Kita dengan mudah menemukan <em>suburb</em> (semacam kampung atau kecamatan) orang-orang China, Vietnam, Afghanistan, Turki, Italia, Yunani, Bangladesh, Bosnia, Malaysia dan juga Indonesia.</p>



<p>Di sekolah anak-anak saya, di suburb Monash, siswa Asia justru lebih dominan daripada ‘bule’ Australia. Kenapa? Sebab pemerintah Australia menekankan pendekatan multikultural di mana anak-anak residen tetap (<em>public resident</em>), para imigran dan mahasiswa internasional belajar di sekolah milik pemerintah. </p>



<p>Meski pemerintah federal dan negara bagian membolehkan para imigran tinggal di kawasan etnis masing-masing, tapi sangat tidak dianjurkan untuk mendirikan sekolah berlatar belakang etnis. Itulah kenapa sangat jarang ada sekolah internasional yang dikelola oleh warga bangsa tertentu di Australia, seperti yang banyak kita jumpai di Tanah Air kita. </p>



<p>Semua anak-anak berbilang bangsa di Australia merasa mereka sebagai <em>Aussie kids</em> (anak-anak Australia) alih-alih sebagai warga keturunan asing meski berkulit hitam, sawo matang dan kuning.</p>



<p>Pendekatan serupa bisa kita mulai di sekolah negeri di Padang. Rasa menjadi bagian dari Indonesia yang berbilang etnis hanya terbentuk ketika anak-anak kita sedari fajar hidup, bergaul dan belajar dengan lingkungan dan atmosfer yang heterogen, bukan lagi homogen. </p>



<p>Di masa depan, kita tak ingin lagi mendengar panggilan ‘inyo urang Chino’ atau ‘inyo Chino Pondok’ tapi ‘inyo urang awak’ atau ‘inyo urang Padang’ yang kebetulan punya darah atau keturunan Tionghoa.</p>



<p>Baik urang awak maupun Tionghoa sudah menempati ranah Minang, khususnya kota Padang, selama ratusan tahun. Isu-isu SARA harus dikubur dalam-dalam. </p>



<p>Orang-orang Minang juga sudah lama terbiasa dengan relasi homologis dengan perbedaan atau pembedaan yang tidak hierarkis—rantau dengan darat, adat dengan Islam, anak dengan kemenakan, bahkan modernitas dengan tradisi. Jadi tidak ada alasan bahwa pembauran Minang-Tionghoa sebagai kerikil dalam sepatu.</p>



<p><strong>*Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/sekolah-negeri-sebagai-ruang-akulturasi-minang-tionghoa/">Sekolah Negeri sebagai Ruang Akulturasi Minang-Tionghoa</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">179189</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Cap Go Meh dan Toleransi Beragama di Sumatra Barat</title>
		<link>https://langgam.id/cap-go-meh-dan-toleransi-beragama-di-sumatra-barat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Faisal Zaini Dahlan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2023 03:00:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Cap Go Meh]]></category>
		<category><![CDATA[Faisal Zaini Dahlan]]></category>
		<category><![CDATA[Perayaan Imlek 2023]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=179132</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sukses festival Cap Go Meh dalam rangka Imlek 2574 Kongzii di Kota Padang, Minggu (5/2/20023), menjadi bukti otentik toleransi beragama yang kondusif di Sumatra Barat (Sumbar). Stigma yang terbangun lebih sepuluh tahun terakhir tentang Sumbar yang intoleran, tertepis dengan sendirinya. Relevan dengan itu, rilis Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan oleh Setara Institute akhir 2022 lalu pun, sudah tidak lagi menempatkan Sumbar dalam urutan 10 Provinsi teratas pelanggaran (voaindonesia.com/ 01/02/23). Kita tentu berharap agar posisi Sumbar dalam konteks kerukunan beragama ke depan semakin baik, karena akan berdampak pada sektor lain, terutama investasi dan pariwisata. Tidak ada opsi lain, kecuali semua komponen masyarakat</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/cap-go-meh-dan-toleransi-beragama-di-sumatra-barat/">Cap Go Meh dan Toleransi Beragama di Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sukses festival Cap Go Meh dalam rangka Imlek 2574 Kongzii di Kota Padang, Minggu (5/2/20023), menjadi bukti otentik toleransi beragama yang kondusif di Sumatra Barat (Sumbar). Stigma yang terbangun lebih sepuluh tahun terakhir tentang Sumbar yang intoleran, tertepis dengan sendirinya. Relevan dengan itu, rilis Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan oleh Setara Institute akhir 2022 lalu pun, sudah tidak lagi menempatkan Sumbar dalam urutan 10 Provinsi teratas pelanggaran (voaindonesia.com/ 01/02/23). </p>



<p>Kita tentu berharap agar posisi Sumbar dalam konteks kerukunan beragama ke depan semakin baik, karena akan berdampak pada sektor lain, terutama investasi dan pariwisata. Tidak ada opsi lain, kecuali semua komponen masyarakat bersama-sama menjaga kondisi aman, damai, dan penuh kerukunan di wilayah ini.  </p>



<p><strong>Tionghoa di Sumatera Barat</strong></p>



<p>Eksistensi etnis Tionghoa di Sumatera Barat, tepatnya Minangkabau, bukan baru kemaren, tetapi sudah melewati delapan generasi. Merujuk Victor Purcell dalam <em>The Chinese in Southeast Asia</em>, Erniwati (2019) mencatat tiga fase sejarah panjang. <em>Pertama, </em>fase relasi bisnis Kerajaan Tiongkok dengan kerajaan-kerajaan Nusantara, sebagai titik pijak hubungan kedua belah pihak. Dalam konteks Minangkabau, komoditi emas menjadi daya tarik utama. Selain berbisnis terjalin pula relasi persahabatan. Raja Adityawarman enam kali mengirim utusan ke Tiongkok sepanjang 1371-1377. Bahkan menurut Aswar (1999) seperti dikutip Erniwati, salah seorang putra Raja Tiongkok pernah meminang Bundo Kandung dengan mengirim pelaminan sebagai ikatan. Tetapi perkawinan tidak terlaksana lantaran Putra Sang Raja kecelakaan di perjalanan, meski mahar telah diterima.</p>



<p>Fase <em>kedua</em>, kedatangan seiring bangsa Eropa, ketika Malaka menjadi bandar dagang terbesar Asia Tenggara abad ke-16. Menurut Erniwati, pada abad ke-17 Pariaman menjadi kota pemukiman pertama etnis Tionghoa untuk kawasan Pantai Barat Sumatera. Christine Dobbin (2016) mencatat pada 1633 dilaporkan telah ada orang Tionghoa yang menetap di Pariaman.<a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Tionghoa_Padang#cite_note-FOOTNOTEChristine_Dobbin2016[https://books.google.co.id/books?id=JzR6DQAAQBAJ&amp;pg=PT152&amp;dq=%25221630s+their+vessels+were+reported+to+be+swarming%2522&amp;hl=en&amp;sa=X&amp;ved=0ahUKEwjy2rL_1rroAhWXXSsKHb_ZCO8Q6AEIKDAA#v=onepage&amp;q=%25221630s%2520their%2520ve"></a> Tahun 1660 VOC menjadikan Padang pusat ekonomi politik, sehingga pebisnis Tionghoa dan VOC menjalin kontak dagang dengan penduduk setempat. Pada tahun 1682, VOC mengangkat Lie Pit, seorang Letnan etnis Tionghoa untuk mengatur etnis Tionghoa di Padang yang jumlahnya semakin tinggi.</p>



<p>Fase <em>ketiga</em> terjadi di era Pemerintah Hindia Belanda, ketika etnis Tionghoa datang sebagai pekerja perkebunan dan pertambangan. Mereka didatangkan pemerintah Kolonial menggantikan kuli-kuli paksa eks narapidana penjara-penjara Batavia, yang mengalami krisis di penghujung 1800-an. Pada 1900, Ombilin menerima ratusan pekerja kontrak dari pusat pasar tenaga kerja Tionghoa di Singapura. Pada akhir abad 19 dan awal 20 ini, gelombang imigran etnis Tionghoa semakin massif seiring popularitas Padang sebagai sentral bisnis. Pada paruh kedua abad ke 19 saja, lebih 1500 orang bermukim di kota ini, dan secara bertahap membangun kelenteng See Hien Kiong, pengganti Kwan Im Teng yang terbakar tahun 1861. Tidak saja sebagai tempat ritual, menurut Erniwati (2007) kelenteng juga menjadi pusat pemukiman yang memunculkan Pasar Tanah Kongsi.</p>



<p>Akhir 1800-an, sekitar 10% populasi Padang terdiri dari etnis Tionghoa, meski jumlah itu mengalami fluktuasi. Pertambahan ini menuntut Kolonial Belanda memperluas pemukiman hingga Belakang Tangsi, yang semula hanya di sekitar Pondok. Angkanya menjadi lebih besar pasca migrasi massal di tahun 30-an. Namun perkembangan terakhir, populasi menyusut akibat eksodus pasca gempa 2009 dan isu Padang rawan tsunami. </p>



<p>Melansir Dinas Dukcapil Kota Padang, menurut Setiawan (2023) jumlah etnis Tionghoa di Padang tahun 2021 sekitar 20.000 jiwa. Menurut Yang (2005) seperti dikutip Ernawati (2017), awalnya pendatang Tiongkok berprofesi sebagai pedagang, pengumpul kredit, tukang gigi, pedagang kelontong, selain di bidang pertanian, pertambangan, dan tukang kayu. Tentu saja saat ini profesi itu sudah makin beragam, bahkan beberapa di antaranya terjun ke dunia politik. Artinya, etnis Tionghoa sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Kota Padang dan Sumatera Barat secara umum.</p>



<p><strong>Cap Go Meh dan Toleransi Beragama</strong></p>



<p>Menurut Effendi (2023), festival Cap Go Meh sebagai penutupan Tahun Baru Imlek sudah dirayakan di Padang sejak lebih dari 150 tahun yang lalu. Meski mengalami dinamika, tetapi rangkaian Imlek sudah menjadi even budaya rutin yang direspon secara positif dan akomodatif. Adaptasi etnis Tionghoa dengan masyarakat lokal ditandai antara lain munculnya bahasa “Minang Pondok” yakni bahasa Minang berdialek Tionghoa yang menjadi lokalitas. Riniwati Makmur atau Mak Yie Nie dalam <em>Orang Padang Tionghoa, Dima Bumi Dipijak, Disinan Langik Dijunjuang</em> (2018), mengungkap bagaimana adaptasi tersebut berlangsung sangat menarik.</p>



<p>Sebagaimana terhadap budaya, terhadap agama dan kepercayaan yang dianut etnis Tionghoa juga disikapi dengan baik oleh masyarakat lokal. Hanura dan Arios (2020) mencatat bahwa saat ini mayoritas etnis Tionghoa Padang menganut Katolik, di samping Protestan, agama tradisional, dan Islam. Berdirinya gereja, vihara Budha, kelenteng, dan masjid di kawasan pemukiman Tionghoa dengan aman, selain menggambarkan pluralitas yang dianut sekaligus bukti nyata terbangunnya kerukunan beragama di wilayah ini. Menurut Riniwati (2018), orang Tionghoa dan Minang di Padang mampu menjaga relasi harmonis. Meski ada unsur-unsur perbedaan yang potensial konflik, namun komunikasi antarbudaya kedua etnis diwarnai fleksibilitas. Dari tujuh elemen kebudayaan Tionghoa dan Minang, terdapat dua yang berbeda, yakni sistem kekeluargaan, dan sistem kepercayaan/agama. Selebihnya, relatif sama. Baik etnis Tionghoa maupun Minang, sama-sama berkarakter budaya kolektif, etos pedagang, etos perantau, dan situasional atau sensitif terhadap situasi. Selain itu, adopsi Bahasa Minang menjadi bahasa Minang Pondok adalah bentuk adaptasi fleksibilitas sebagai jalan tengah komunikasi antarbudaya.</p>



<p>Menurut Taufik Abdullah (1971) etnis Minang dengan sistem sosial dan kulturnya mengkonstruk masyarakat terbuka, siap, dan fleksibel terhadap perubahan. Karakteristik ini menjadi faktor penting dalam dinamika sosial yang tampak dari modernisasi awal abad ke-20 pada hampir semua aspek kehidupan masyarakat Minangkabau, sebagaimana dicatat Dobbin (2008) maupun Hadler (2010). Berfikir rasional juga menjadi ciri khas orang Minang. Karena itu persepsi tentang resistensi berlebihan orang Minang menyikapi isu-isu sosial politik keagamaan mutakhir, patut dipertanyakan. Jauh-jauh hari sebelum wacana kerukunan, toleransi, maupun inklusivisme beragama muncul, beberapa ulama Minangkabau justru sudah jauh lebih maju, bahkan ada yang menilai terlalu maju. Barangkali perlu dikutip pernyataan Buya Hamka dalam <em>magnum opus</em>-nya <em>Tafsir Al-Azhar</em> ketika menafsirkan QS. Al-Fatir: 24 bahwa: “Sebab itu mungkin saja Kong Hu Tsu atau Buddha, atau Socrates di Yunani dan lain-lain, mereka itu Nabi juga” (hal. 5924). Hebatnya, respon orang Minang dalam menyikapi label intoleran itupun tidak emosional dan reaktif. Semarak Imlek dan festival Cap Go Meh yang disaksikan ribuan pasang mata masyarakat Padang lintas etnis dan agama, tampaknya sudah cukup menjawab stigma itu. (*)</p>



<p><em>Faisal Zaini Dahlan adalah Dosen Studi Agama-Agama di UIN Imam Bonjol Padang</em></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/cap-go-meh-dan-toleransi-beragama-di-sumatra-barat/">Cap Go Meh dan Toleransi Beragama di Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">179132</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Disbud dan Anggota DPRD Sumbar Gelar Lomba Karya Jurnalistik Kebudayaan Tionghoa</title>
		<link>https://langgam.id/disbud-dan-anggota-dprd-sumbar-gelar-lomba-karya-jurnalistik-kebudayaan-tionghoa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2023 09:55:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Lomba Jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[Perayaan Imlek 2023]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=178852</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Dinas Kebudayaan dan anggota DPRD Sumatra Barat Albert Indra Lukman menggelar lomba karya jurnalistik Kebudayaan Tionghoa. Lomba yang terdiri kategori foto, video dan karya tulis itu, digelar dalam rangka memeriahkan perayaan Imlek 2023. Ketiga kategori yang dilombakan itu, mengangkat tema tentang Kebudayaan Tionghoa di Kota Padang atau Daerah lain di Sumatra barat. Seluruh karya yang dikirim, dibuat dan dipublikasikan pada tahun 2023. Lomba ini diinisiasi anggota DPRD Sumbar Albert Hendra Lukman. &#8220;Lomba ini terbuka untuk umum. Jurnalis, citizen jurnalis, pelajar, mahasiswa atau siapa saja boleh ikut. Lomba ini, merupakan ruang bagi anak muda di Sumatra Barat untuk berkarya,&#8221;</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/disbud-dan-anggota-dprd-sumbar-gelar-lomba-karya-jurnalistik-kebudayaan-tionghoa/">Disbud dan Anggota DPRD Sumbar Gelar Lomba Karya Jurnalistik Kebudayaan Tionghoa</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Dinas Kebudayaan dan anggota DPRD Sumatra Barat Albert Indra Lukman menggelar lomba karya jurnalistik Kebudayaan Tionghoa. Lomba yang terdiri kategori foto, video dan karya tulis itu, digelar dalam rangka memeriahkan perayaan Imlek 2023. </p>



<p>Ketiga kategori yang dilombakan itu, mengangkat tema tentang Kebudayaan Tionghoa di Kota Padang atau Daerah lain di Sumatra barat. Seluruh karya yang dikirim, dibuat dan dipublikasikan pada tahun 2023.</p>



<p>Lomba ini diinisiasi anggota DPRD Sumbar Albert Hendra Lukman. &#8220;Lomba ini terbuka untuk umum. Jurnalis, citizen jurnalis, pelajar, mahasiswa atau siapa saja boleh ikut. Lomba ini, merupakan ruang bagi anak muda di Sumatra Barat untuk berkarya,&#8221; kata Inisiator Lomba Albert Hendra Lukman, dalam keterangan tertulis, Selasa (31/1/2023).</p>



<p>Menurutnya, sesuai tema lomba, sangat banyak angle atau sudut pandang tentang kebudayaan Tionghoa di Sumatra Barat yang bisa diangkat. Ada tradisi pernikahan, kegiatan adat, imlek, festival cap go meh, kuliner khas Tionghoa, sejarah dan banyak lagi yang menarik untuk digali.</p>



<p>&#8220;Yang jelas, melalui lomba ini kita ingin mengangkat dan mempublikasikan apa saja produk kebudayaan Tionghoa yang hingga kini masih dijalankan,&#8221; ujar Albert.</p>



<p>Menurut Albert, dalam pelaksanaan lomba karya Foto, Video dan Tulis ini, pihaknya bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Sumatra Barat. Panitia pelaksana dan seluruh teknis pelaksanaan termasuk dengan syarat dan ketentuan, dibuat oleh Dinas Kebudayaan Sumbar.</p>



<p>&#8220;Jadi, untuk teknis, syarat dan ketentuan lomba bisa dilihat di platform media sosial Dinas Kebudayaan Sumatra Barat. Total hadiah Rp64,5 juta,&#8221; kata Albert.</p>



<p>Sementara itu, Kepala Bidang Warisan Budaya Dan Bahasa Minangkabau Dinas Kebudayaan Sumbar, Aprimas menyebutkan jika pengambilan materi, penayangan dan pengiriman karya dimulai sejak Januari hingga 2 Maret 2023. Seluruh karya dilombakan dikirim melalui <em>google from</em> yang tautannya bisa diakses pada akun-akun media sosial resmi Dinas Kebudayaan Sumbar atau brosur lomba yang sudah disiapkan.</p>



<p>&#8220;Sudah kita buka pendaftarannya. Nanti, teknis yang lebih jelas bisa dilihat di akun media sosial kita. Sudah kita posting,&#8221; ujar Aprimas.</p>



<p>Dengan mengangkat tema tentang Kebudayaan Tionghoa di Kota Padang atau di daerah lain di Sumatra Barat, kata Aprimas, panitia berharap seluruh peserta dapat melahirkan karya-karya terbaik yang dengan kebudayaan Tionghoa.</p>



<p>&#8220;Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat banyak. Kita ingin, generasi muda melek akan sejarah dan warisan kekayaan budaya yang sungguh banyak. Salah satunya, melalui lomba ini,&#8221; tutur Aprimas. (*/SS)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/disbud-dan-anggota-dprd-sumbar-gelar-lomba-karya-jurnalistik-kebudayaan-tionghoa/">Disbud dan Anggota DPRD Sumbar Gelar Lomba Karya Jurnalistik Kebudayaan Tionghoa</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">178852</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Festival Cap Go Meh di Padang Bakal Tampilkan Beragam Atraksi Budaya</title>
		<link>https://langgam.id/festival-cap-go-meh-di-padang-bakal-tampilkan-beragam-atraksi-budaya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Irwanda Saputra]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2023 01:05:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Cap Go Meh]]></category>
		<category><![CDATA[Perayaan Imlek 2023]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=178391</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Festival Cap Go Meh di Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar) kembali diadakan setelah sempat terhenti selama dua tahun karena pandemi covid-19. Festival ini akan berlangsung pada 5 Februari 2023 dengan menampilkan beragam atraksi budaya. Atraksi budaya ini tidak hanya berasal dari etnis komunitas Tionghoa, namun juga menyatukan berbagai sisi mulai dari etnis Minangkabau, Jawa hingga Bali. FestivalCap Go Meh tersebut merupakan puncak dari perayaan Festival Imlek yang sebelumnya telah diselenggarakan beberapa hari. &#8220;Bagaimana festival ini seperti kirab budaya nusantara. Walaupun tidak tertampung semuanya, tapi ini bagian awal bahwa kami ingin menyampaikan komunitas Tionghoa merupakan komunitas di Nusantara ini,&#8221;</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/festival-cap-go-meh-di-padang-bakal-tampilkan-beragam-atraksi-budaya/">Festival Cap Go Meh di Padang Bakal Tampilkan Beragam Atraksi Budaya</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Festival Cap Go Meh di Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar) kembali diadakan setelah sempat terhenti selama dua tahun karena pandemi covid-19. Festival ini akan berlangsung pada 5 Februari 2023 dengan menampilkan beragam atraksi budaya.</p>



<p>Atraksi budaya ini tidak hanya berasal dari etnis komunitas Tionghoa, namun juga menyatukan berbagai sisi mulai dari etnis Minangkabau, Jawa hingga Bali. FestivalCap Go Meh tersebut merupakan puncak dari perayaan Festival Imlek yang sebelumnya telah diselenggarakan beberapa hari.</p>



<p>&#8220;Bagaimana festival ini seperti kirab budaya nusantara. Walaupun tidak tertampung semuanya, tapi ini bagian awal bahwa kami ingin menyampaikan komunitas Tionghoa merupakan komunitas di Nusantara ini,&#8221; kata salah seorang panitia Cap Go Meh Padang, Albert Indra Lukman, Selasa (17/1/2023).</p>



<p>Albert menyebutkan, melalui Festival Cap Go Meh bagaimana komunitas Tionghoa bisa berkontribusi terhadap pembangunan di Kota Padang maupun Sumbar. Maka dari itu, dalam festival ini kali pertama dua kongsi komunitas Tionghoa di Padang yakni HTT dan HBT bersatu.</p>



<p>&#8220;Sehingga tentu kami yang ingin memperlihatkan kontribusi tersebut secara internal kompak. Kami juga bisa bekerja sama dan bergotong royong. Sehingga selama ini ada suatu stigma terhadap komunitas Tionghoa di Kota Padang sepertinya tidak bisa kompak, ini juga ingin kami buat suatu kekompakan,&#8221; jelasnya.</p>



<p>&#8220;Jadi bahwa kegiatan festival Cap Go Meh kali ini ada tema atau tujuan yang nanti terbuat di festival tersebut. Tidak hanya soal promosi pariwisata dan kemudian pelestarian nilai budaya, tetapi ada mungkin juga bagaimana kekompakan yang ingin kita tampilkan. Adanya hal-hal kepercayaan dan keyakinan komunitas kelompok Tionghoa mengorbankan memperoleh suatu tujuan bersama,&#8221; sambung Albert.</p>



<p>Ia mengungkapkan dalam Festival Cap Go Meh akan ada arak-arakan di kawasan Kota Tua. Para komunitas Tionghoa akan menampilkan dewa-dewa, serta penampilan barongsai hingga atraksi naga.</p>



<p>&#8220;Kemudian kita lihat kali ini, seperti tahun sebelumnya Satuan Brimob Polda Sumbar juga ikut berpartisipasi. Mereka akan menampilkan tarian naganya. Begitupun tarian naga komunitas Tionghoa,&#8221; ujarnya.</p>



<p>Selain itu, kata Albert, juga akan ada penampilan wushu yang dipadukan dengan pencak silat khas Minangkabau. Sementara dari etnis Jawa menampilkan tarian reog serta Bali menunjukkan tarian api.</p>



<p>Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, Luhur Budianda mengungkapkan, melalui Festival Cap Go Meh kali ini menggambarkan bahwa Sumbar sangat toleransi. Hal ini tentunya membantah hasil survei yang menyebutkan Sumbar intoleransi.</p>



<p>&#8220;Kita sangat bergandengan tangan. Semangat gotong royong komunitas Tionghoa bersama komunitas warga kita dan Jawa. Toleransi bersama kitakita,&#8221; kata dia.</p>



<p>Melalui Festival Cap Go Meh, lanjut Budi, tentunya akan meningkatkan kunjungan wisatawan ke Sumbar. Festival ini sangat memberikan hiburan bagi masyarakat setelah dua tahun terhenti karena pandemi covid-19.</p>



<p>&#8220;Kalau kita lihat selama lima hari Festival Imlek, setiap hari, tapi tidak dipastikan karena tempat terbuka itu kunjungan lebih dari 10 ribu. Dengan Festival Cap Go mMeh, maka sepanjang rute karnaval wisatawan akan memadati,&#8221; tuturnya. (*/SS)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/festival-cap-go-meh-di-padang-bakal-tampilkan-beragam-atraksi-budaya/">Festival Cap Go Meh di Padang Bakal Tampilkan Beragam Atraksi Budaya</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">178391</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Peragaan Busana Etnik Meriahkan Penutupan Pasar Malam Imlek di Padang</title>
		<link>https://langgam.id/peragaan-busana-etnik-meriahkan-penutupan-pasar-malam-imlek-di-padang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Irwanda Saputra]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2023 02:46:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Perayaan Imlek 2023]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=178334</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Peragaan busana etnik memeriahkan Pasar Malam Imlek di Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar), Minggu (15/1/2023) malam. Para model memeragakan busana etnik Tionghoa berkolaborasi dengan desain entitas Minangkabau. Desainer sekaligus pengusaha salon kecantikan di Padang, Andri Tanzil menuturkan, peragaan busana atau fashion show ini salah satu agenda dalam menyambut Cap Go Meh 2023 dengan menampilkan hasil karya bersama di Pasar Imlek Padang. &#8220;Pakaian berbahan sulaman asli Minangkabau dengan sentuhan para desainer dengan style etnik Tionghoa,&#8221; ujar Andri,&#160; Minggu (15/1/2023).&#160; &#8220;Kami kolab berempat dan persiapan kami cuma tiga hari hingga akhirnya bisa tampil malam ini,&#8221; sambungnya.&#160; Antusias warga begitu tinggi</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/peragaan-busana-etnik-meriahkan-penutupan-pasar-malam-imlek-di-padang/">Peragaan Busana Etnik Meriahkan Penutupan Pasar Malam Imlek di Padang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Peragaan busana etnik memeriahkan Pasar Malam Imlek di Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar), Minggu (15/1/2023) malam. Para model memeragakan busana etnik Tionghoa berkolaborasi dengan desain entitas Minangkabau.</p>



<p>Desainer sekaligus pengusaha salon kecantikan di Padang, Andri Tanzil menuturkan, peragaan busana atau fashion show ini salah satu agenda dalam menyambut Cap Go Meh 2023 dengan menampilkan hasil karya bersama di Pasar Imlek Padang.</p>



<p>&#8220;Pakaian berbahan sulaman asli Minangkabau dengan sentuhan para desainer dengan style etnik Tionghoa,&#8221; ujar Andri,&nbsp; Minggu (15/1/2023).&nbsp;</p>



<p>&#8220;Kami kolab berempat dan persiapan kami cuma tiga hari hingga akhirnya bisa tampil malam ini,&#8221; sambungnya.&nbsp;</p>



<p>Antusias warga begitu tinggi memadati kawasan Kota Tua tersebut. Berbagai atraksi jadi suguhan bagi pengunjung sejak perhelatan Pasar Malam Imlek Padang.&nbsp;</p>



<p>Para pengunjung juga menikmati jajanan atau kuliner tradisional di lokasi. Gemuruh tepuk tangan menggema saat atlet Barongsai dari Himpunan Keluarga Lim Padang.&nbsp;</p>



<p>Sederet jajanan menghiasi sudut jalan hingga menghiasi halaman Kelenteng See Hien Kiong. Aura keberadaan kelenteng lama sejak 1861 tampak bercahaya menjelang penyambutan Tahun Baru Imlek (2575 atau 2023 M).</p>



<p>Atraksi seni tradisi seperti Barongsai persembahan dari keluarga Marga Liem riuh tepuk tangan. Tua muda hingga anak-anak mengerubung melingkar menyaksikan seni tradisional yang kini jadi salah satu cabang olahraga itu.</p>



<p>&#8220;Wah, merah berkilau yaa. Itu Lion Dance kalau tidak salah namanya,&#8221; ucap salah satu wisatawan bernama Rini.&nbsp;</p>



<p>Sementara itu Iswanto Kwara, salah satu tokoh muda sekaligus anggota DPRD Padang mengatakan, bahwa Pasar Imlek Padang salah satu rangkaian sambut Tahun Baru Imlek 2574, yang puncaknya itu disebut Cap Go Meh, 5 Februari 2023.</p>



<p>&#8220;Hadirnya pasar malam tentu memberi dampak baik, bukan saja berdampak ekonomi bagi warga. Juga memberi nuansa multikulturalisme, ada perbauran ada persaudaraan,&#8221; kata Iswanto.&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/peragaan-busana-etnik-meriahkan-penutupan-pasar-malam-imlek-di-padang/">Peragaan Busana Etnik Meriahkan Penutupan Pasar Malam Imlek di Padang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">178334</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pasar Malam Imlek Dimulai, Acara Pertama Kalender Pariwisata Padang</title>
		<link>https://langgam.id/pasar-malam-imlek-dimulai-acara-pertama-kalender-pariwisata-padang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2023 07:10:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Kampung Pondok]]></category>
		<category><![CDATA[Perayaan Imlek 2023]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=178162</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Setelah tiga tahun absen, Pasar Malam Imlek di Padang kembali digelar pada tahun ini. Pembukaan acara ini dilangsungkan di Kawasan Pondok, Kota Padang, Rabu (11/1/2023). Pada pembukaan pasar malam Imlek, para penonton disuguhkan berbagai atrakasi dan tari-tarian etnis Tionghoa . Wakil Gubernur Sumatra Barat Audy Joinaldy yang membuka acara tersebut mengajak untuk kembali membenahi kawasan kota tua dan Kawasan Pecinan Pondok. “Mari kita mulai bersama-sama dengan Walikota Padang dan Dinas Pariwisata untuk membenahi kota tua ini,” katanya, sebagaimana dirilis situs resmi Pemprov Sumbar. Wali Kota Padang Hendri Septa mengapresiasi pelaksanaan pasar malam Imlek yang digelar di kawasan Kampung</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pasar-malam-imlek-dimulai-acara-pertama-kalender-pariwisata-padang/">Pasar Malam Imlek Dimulai, Acara Pertama Kalender Pariwisata Padang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Setelah tiga tahun absen, Pasar Malam Imlek di Padang kembali digelar pada tahun ini. Pembukaan acara ini dilangsungkan di Kawasan Pondok, Kota Padang, Rabu (11/1/2023).</p>



<p>Pada pembukaan pasar malam Imlek, para penonton disuguhkan berbagai atrakasi dan tari-tarian etnis Tionghoa .</p>



<p>Wakil Gubernur Sumatra Barat Audy Joinaldy yang membuka acara tersebut mengajak untuk kembali membenahi kawasan kota tua dan Kawasan Pecinan Pondok.</p>



<p>“Mari kita mulai bersama-sama dengan Walikota Padang dan Dinas Pariwisata untuk membenahi kota tua ini,” katanya, sebagaimana dirilis situs resmi Pemprov Sumbar.</p>



<p>Wali Kota Padang Hendri Septa mengapresiasi pelaksanaan pasar malam Imlek yang digelar di kawasan Kampung Pondok Kota Padang.</p>



<p>&#8220;Saya ucapkan terima kasih kepada masyarakat disini yang menggelar acara yang mana ini kalender <em>event</em> pertamanya Kota Padang,&#8221; katanya, sebagaimana dirilis situs resmi Pemko Padang.</p>



<p><strong>Baca Juga: <a href="https://langgam.id/pemko-rilis-kalender-pariwisata-berikut-47-acara-di-padang-selama-2023/">Pemko Rilis Kalender Pariwisata, Berikut 47 Acara di Padang Selama 2023</a></strong></p>



<p>Ia mengatakan, pasar malam ini upaya ril dan konkrit untuk menyatukan dan menghubungkan antara sesama warga Kota Padang.</p>



<p>Di sini dapat dilihat bahwa Kota Padang multi etnik, meskipun begitu masyarakat, tapi dapat bersinergi satu sama lain.</p>



<p>&#8220;Pasar malam ini sempat ditiadakan tahun kemarin karena covid-19, kita harapkan juga menjadi atraksi pariwisata Kota Padang,&#8221; ujarnya.</p>



<p>Tokoh Masyarakat Pondok Albert Indra Lukman mengatakan, agenda tahunan ini sempat ditiadakan tahun lalu karena pandemi.</p>



<p>&#8220;Pasar Malam Imlek 2574 dihelat mulai 11 Januari hingga 15 Januari di Kampung Pondok, Klenteng Lama, Kota Padang,&#8221; ujarnya</p>



<p>Pasar malam ini rangkaian tahun baru Imlek 2574 yang puncaknya nanti akan digelar Cap Go Meh pada 5 Februari 2023. Selain kuliner, menurutnya, di pasar malam ada bazar sembako murah.</p>



<p>&#8220;Pengunjung juga dihibur dengan atraksi barongsai, lomba karaoke lagu Mandarin, pemilihan koko cici, aktraksi tarian naga, sulap, dan lomba mewarnai juga dan lainnya,&#8221; ujarnya. (*/SS)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pasar-malam-imlek-dimulai-acara-pertama-kalender-pariwisata-padang/">Pasar Malam Imlek Dimulai, Acara Pertama Kalender Pariwisata Padang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">178162</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 24/72 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-04-19 18:47:30 by W3 Total Cache
-->