<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Penyakit Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/penyakit/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/penyakit/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jun 2025 06:33:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Penyakit Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/penyakit/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Jangan FOMO Gula, Yuk Cegah Diabetes dari Sekarang</title>
		<link>https://langgam.id/jangan-fomo-gula-yuk-cegah-diabetes-dari-sekarang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Palanta]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2025 01:05:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Palanta]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=228211</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Ma&#8217;rifah Nur Hidayati Sekarang ini tren minuman manis makin merajalela. Dari kopi gula aren, es teh jumbo, boba, matcha, red velvet, sampai soda kekinian semuanya seolah wajib dicoba biar nggak ketinggalan. Tapi, tahu nggak sih? Kebiasaan ini bisa bikin kamu pelan-pelan masuk ke fase&#8230; diabetes di usia muda.&#160;Yup, scary but true. Data International Diabetes Federation (IDF) tahun 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 90% kasus diabetes di dunia adalah tipe 2. Indonesia menjadi negara dengan jumlah penderita diabetes kelima tertinggi di dunia. Bahkan, Indonesia menempati peringkat ketiga secara global untuk jumlah penderita diabetes yang belum terdiagnosis. Faktor Risiko dan Gaya</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/jangan-fomo-gula-yuk-cegah-diabetes-dari-sekarang/">Jangan FOMO Gula, Yuk Cegah Diabetes dari Sekarang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Oleh: Ma&#8217;rifah Nur Hidayati</p>



<p>Sekarang ini tren minuman manis makin merajalela. Dari kopi gula aren, es teh jumbo, boba, matcha, red velvet, sampai soda kekinian semuanya seolah wajib dicoba biar nggak ketinggalan. Tapi, tahu nggak sih? Kebiasaan ini bisa bikin kamu pelan-pelan masuk ke fase&#8230; diabetes di usia muda.&nbsp;Yup, scary but true.</p>



<p>Data International Diabetes Federation (IDF) tahun 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 90% kasus diabetes di dunia adalah tipe 2. Indonesia menjadi negara dengan jumlah penderita diabetes kelima tertinggi di dunia. Bahkan, Indonesia menempati peringkat ketiga secara global untuk jumlah penderita diabetes yang belum terdiagnosis.</p>



<h3 class="wp-block-heading" id="h-faktor-risiko-dan-gaya-hidup"><strong>Faktor Risiko dan Gaya Hidup</strong><strong></strong></h3>



<p>Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) &nbsp;beberapa faktor risiko utama diabetes tipe 2 meliputi kelebihan berat badan, riwayat keluarga, dan rendahnya aktivitas fisik. Kombinasi antara faktor genetik dan gaya hidup tidak sehat mempercepat terjadinya diabetes, terutama jika pola makan tidak dikendalikan.</p>



<p>Minuman tinggi gula yang dikonsumsi berlebihan secara rutin dapat memicu lonjakan kadar gula darah. Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, tubuh akan kesulitan mengatur insulin, dan akhirnya menimbulkan diabetes. Hati-hati yang buat yang sering nugas di cafe, pasti minuman manis ga ketinggalan</p>



<p>Anak muda menugas di cafe dengan camilan dan minuman manis (Dokumentasi Ma’rifah Nur Hidayati)</p>



<h3 class="wp-block-heading" id="h-cegah-diabetes-jangan-ikut-fomo"><strong>Cegah Diabetes, Jangan Ikut FOMO</strong><strong></strong></h3>



<p>Anak muda perlu menyadari pentingnya menjaga pola hidup. Mengurangi konsumsi minuman tinggi gula bukan berarti tidak gaul. Justru, menjaga kesehatan sejak dini adalah bentuk tanggung jawab pada diri sendiri dan lingkungan sosial.</p>



<p>Langkah sederhana yang bisa dilakukan:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Kurangi konsumsi minuman manis</li>



<li>Aktif bergerak setiap hari</li>



<li>Cek kadar gula darah secara berkala</li>



<li>Perhatikan berat badan ideal</li>
</ul>



<p>Pola hidup sehat bukan tren musiman, tetapi kebutuhan jangka panjang. Jangan tunggu sampai sakit baru peduli.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/jangan-fomo-gula-yuk-cegah-diabetes-dari-sekarang/">Jangan FOMO Gula, Yuk Cegah Diabetes dari Sekarang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">228211</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kala Rokok Menyulut Laju Penyakit Tidak Menular di Mentawai</title>
		<link>https://langgam.id/kala-rokok-menyulut-laju-penyakit-tidak-menular-di-mentawai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yose Hendra]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 May 2025 16:04:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Mentawai]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Rokok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=226710</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Kepulan asap menyesak selasar rumah Aikup Sakaliou (77), di Dusun Pariok, Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, Jumat (2/5/2025). Warnanya pekat, dan tiupannya ke mata bikin perih. Asap itu bersumber dari lenting tembakau lembap yang diisap Aikup begitu mendalam dan berulang-ulang. Dalam kepekatan asap yang ia muntahkan, Aikup kerap terbatuk-batuk. Kendati demikian, sikerei di Desa Muntei itu tak melepaskan gulungan tembakau dari mulutnya. Ia terus saja mengulumnya dengan asyik dan ceria. Bagi Aikup, merokok baik tembakau yang dilenting sendiri, maupun rokok kretek adalah kebiasaan yang sudah melekat sedari kecil. Ia seperti teman hidup. Sehari-hari,</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kala-rokok-menyulut-laju-penyakit-tidak-menular-di-mentawai/">Kala Rokok Menyulut Laju Penyakit Tidak Menular di Mentawai</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Kepulan asap menyesak selasar rumah Aikup Sakaliou (77), di Dusun Pariok, Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, Jumat (2/5/2025). Warnanya pekat, dan tiupannya ke mata bikin perih. Asap itu bersumber dari lenting tembakau lembap yang diisap Aikup begitu mendalam dan berulang-ulang. Dalam kepekatan asap yang ia muntahkan, Aikup kerap terbatuk-batuk. Kendati demikian, sikerei di Desa Muntei itu tak melepaskan gulungan tembakau dari mulutnya. Ia terus saja mengulumnya dengan asyik dan ceria.</p>



<p>Bagi Aikup, merokok baik tembakau yang dilenting sendiri, maupun rokok kretek adalah kebiasaan yang sudah melekat sedari kecil. Ia seperti teman hidup. Sehari-hari, Aikup bisa menghabiskan 2 bungkus rokok ditambah berbatang-batang lenting rokok tembakau.</p>



<p>Tembakau lembap itu datang dari tanah tepi; untuk menyebut Sumatra Barat bagian daratan Pulau Sumatra. </p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" width="1200" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Sikerei-Muntei.jpeg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-226738" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Sikerei-Muntei.jpeg?resize=1200%2C675&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Sikerei-Muntei.jpeg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Sikerei-Muntei.jpeg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Sikerei-Muntei.jpeg?resize=800%2C450&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Sikerei-Muntei.jpeg?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Sikerei-Muntei.jpeg?w=1280&amp;ssl=1 1280w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><figcaption class="wp-element-caption">Aikup Sakaliou, seorang sikerei (dukun) di Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai, perokok berat sedari kecil kerap batuk-batuk. Namun ia enggan berhenti merokok. Foto: Yose Hendra</figcaption></figure>



<p>Ia menyadari, umur yang semakin renta, batuk semakin menjadi, lebih diakibatkan merokok dari kecil. Namun, batu-batuk yang mendera tiap sebentar itu dibiarkan saja. Kalau pun parah, ia konsumsi obat tradisional dari dedaunan. Sementara belum ada terpikir baginya untuk berhenti merokok.</p>



<p>Bergeser ke utara Siberut, dimana kapal motor menjadi satu-satunya harapan untuk ke sana dari selatan Siberut, Julianus Sakalomak (52) menghela napas berat, bukan karena jarak—tapi karena batuk dan sesak yang kian memalak.</p>



<p>Selasa (6/5/20250), tempat berobat dan merawat Julianus selama ini; Puskesmas Muara Sikabaluan sudah tak sanggup lagi menangani penyakit Julianus karena ketiadaan alat dan obat yang dibutuhkan. Pihak Puskesmas dengan kesepakatan keluarga kemudian merujuk Julianus ke rumah sakit Tipe C yang ada di Kota Padang.</p>



<p>Puskesmas adalah ujung tombak dari pembangunan kesehatan Indonesia dengan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP) yang di selenggarakannya. Sejak di terbitkannya Permenkes. No 43 tahun 2019 tentang Puskesmas, Puskesmas dituntut untuk memberikan pelayanan yang optimal berdasarkan standar baku yang telah di susun dalam Permenkes tersebut.</p>



<p>Namun untuk konteks di Mentawai, kerap Puskesmas menyerah tatkala dihadapkan pada pelbagai penyakit karena ketiadaan atau minimnya peralatan dan juga dokter.</p>



<p>Wilayah kerja Puskesmas Muara Sikabaluan mencakup seluruh Kecamatan Siberut Utara dengan jumlah 6 desa yakni &nbsp;Bojakan, Sotboyak, Mongan Poula, Muara Sikabaluan, Sirilogui, dan Malancan. Berdasarkan data BPS tahun 2024, wilayah kerja Puskesmas Muara Sikabaluan berpopulasi 9.383 jiwa. Sementara angka kunjungan sakit Puskesmas Muara Sikabaluan tahun 2024 mencapai 15.258.</p>



<p>Ironisnya, Puskesmas Muara Sikabaluan, hanya punya dua orang dokter umum yakni Sofyan Hadi Lubis dan Clara Inneke. Sekaitan di antara dua dokter ini punya keyakinan berbeda, maka bila hari raya besar, hanya akan ada satu orang dokter jaga. Sementara dokter yang kebetulan saat itu adalah hari rayanya, akan cuti dalam waktu yang cukup panjang.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" width="1200" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Dokter-Inneke-Clara.jpeg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-226802" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Dokter-Inneke-Clara.jpeg?resize=1200%2C675&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Dokter-Inneke-Clara.jpeg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Dokter-Inneke-Clara.jpeg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Dokter-Inneke-Clara.jpeg?resize=800%2C450&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Dokter-Inneke-Clara.jpeg?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Dokter-Inneke-Clara.jpeg?w=1280&amp;ssl=1 1280w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><figcaption class="wp-element-caption">Clara Inneke, satu di antara dua dokter yang mengabdi di Puskesmas Muara Sikabaluan. Foto: Yose Hendra</figcaption></figure>



<p>Soal dirujuknya Julianus ke Padang, kata dokter Puskesmas Muara Sikabaluan Clara Inneke yang menanganinya selama ini, pasien Julianus dicurigai mengalami gangguan jantung. Sementara saat ini, alat mendeteksi gangguan jantung, EKG (Elektrokardiogram), tengah rusak.</p>



<p>“Di Puskesmas ini ada standar pengobatan. Jadi untuk hal-hal yang bersifat emergensi itu kami tidak bisa tangani di Puskesmas. Dan obat-obat tindakan untuk mengarah ke jantung&nbsp; di pihak kita tidak selengkap di rumah sakit,” jelas Clara.</p>



<p>“Memang pasiennya itu faktor riwayat merokok dari bertahun-tahun. Ketika sudah mulai sesak dan lain-lain, mungkin beberapa waktu belakangan baru berhenti merokok,” ia menambahkan.</p>



<p>Syahdan, perjalanan Julianus yang memakan waktu lama ke Padang, pihaknya memasangkan infus, pemberian oksigen ke pasien. Terus pemberian obat-obat yang sesuai dengan keluhan pasien.</p>



<p>Hari Selasa adalah jadwal kedatangan kapal cepat MV Mentawai Fast, moda transportasi yang menghubungkan Mentawai dengan Kota Padang ibukota Sumatra Barat yang berada di daratan Pulau Sumatra. Mentawai Fast merapat ke Pelabuhan Pokai, Siberut Utara sekira pukul 11 siang. Syahdan, Julianus dan sudah siap sedari pukul 10 pagi. Ia dan keluarganya kemudian dinaikkan ke ambulans, untuk diantar ke Mentawai Fast.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-instagram wp-block-embed-instagram"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/reel/DKMq1QQN1If/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:500px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/reel/DKMq1QQN1If/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/reel/DKMq1QQN1If/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank">A post shared by langgam.id (@langgam.id)</a></p></div></blockquote><script async src="//platform.instagram.com/en_US/embeds.js"></script>
</div></figure>



<p>Julianus berasal dari dusun terpencil di Desa Malancan. Meski menjadi bagian dari Kecamatan Siberut Utara, namun kawasan Malancan tak bisa diakses dengan kendaraan darat dari Muara Sikabaluan, pusat Kecamatan Siberut Utara. Perhubungan kedua wilayah ini hanya bisa dilakukan lewat jalur laut dengan menggunakan kapal motor bermesin tempel atau dengan pompong, sejenis sampan.</p>



<p>“Kampung kita jauh, harus pakai jalur laut ke Sikabaluan, dengan naik perahu bermesin robin lebih kurang 2 jam hingga ke Labuhan Bajo kemudian naik motor selama 15 menit atau jalan kaki 1,5 jam. Untuk kapal dari Labuhan Bajo ke Sikabaluan kalau mendadak dicarter dengan membelikan minyak sebanyak 10 liter, tambah lagi Rp.50 ribu. Jadi lebih kurang Rp.150 ribu, sudah baik orang itu,” beber Julianus.</p>



<p>Di kampung, Julianus bekerja serabutan. Kadang <em>menyinso_chainsaw </em>(menggergaji kayu), sekali-kali mengambil madu, dan kadang bidang perkopraan. Pekerjaan yang tak menetap membuat penghasilannya kerap tak menentu. Sementara rokok menjadi kebutuhan yang selalu dipenuhi setiap harinya.</p>



<p>Ia mengaku sebelum jatuh sakit sekarang, rata-rata menghabiskan rokok 1,5 bungkus, dengan harga rokok Rp.15 ribu untuk satu bungkus.</p>



<p>Merokok sudah menjadi kebiasaan yang ia lakoni sejak duduk di bangku SD. Merek rokoknya pun terbilang sembarangan, asalkan berasap.</p>



<p>“Saya perokok, dan bahkan tetap merokok saat menjalankan kerja berat seperti <em>menyinso,” </em>ujarnya.</p>



<p>Dua tahun lalu, malapetaka mendekapnya. Julianus terjatuh saat mencari madu di hutan. Dadanya menghantam batu, tulang rusuknya memar. Hanya obat kampung yang jadi andalan. Meski masih terasa sakit, ia tetap <em>menyinso</em>, kadang mengolah kopra dengan membakar kayu, sambil terus merokok. Belakangan, napasnya makin sesak. Ia curiga asap pembakaran kayu untuk kopra mungkin beracun, ditambah akumulasi merokok selama ini, memperparah batuk dan debar jantungnya. “Sekali hirup, langsung batuk dan napas jadi berat,” ujarnya.</p>



<p>Kini Julianus hanya bisa menyesal. Dada yang kian sesak dan mengap-mengap, ia harus menjalani pengobatan jauh hingga ke Padang. Perjalanan ke Padang, ia didampingi sang istri Bungayati Sidibaru dan anak perempuannya. Keluarga ini hanya membawa bekal seadaanya untuk masa-masa pengobatan di Padang yang tidak tahu entah sampai kapan.</p>



<p>“Hanya bawa beras sedikit. Sementara tempat tinggal belum tahu. Ada sedikit bawa uang,” ungkap Bungayati di atas ambulans, sebelum berpindah ke Mentawai Fast.</p>



<p>Perjalanan ke Padang dari Pelabuhan Pokai lebih kurang 6 jam. Rutenya dari Pelabuhan Pokai, Mentawai Fast berlayar dulu ke Pelabuhan Maileppet di Siberut Selatan dengan waktu tempuh sekira 2 jam. Lalu pukul 15.00 WIB, dari Pelabuhan Maileppet, Mentawai Fast berlayar menuju Pelabuhan Muaro Padang yang berlabuh sekira pukul 18.00 WIB.</p>



<p>Selama di Mentawai Fast, Julianus dengan infus melekat ditubuhnya, memilih rebahan di lantai sudut pintu darurat kabin belakang kapal. Ia lebih benyak berbaring dan kadang tertidur pulas. </p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" width="380" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Julianus-Rebahan-di-Kapal.jpeg?resize=380%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-226736" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Julianus-Rebahan-di-Kapal.jpeg?resize=380%2C675&amp;ssl=1 380w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Julianus-Rebahan-di-Kapal.jpeg?resize=169%2C300&amp;ssl=1 169w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Julianus-Rebahan-di-Kapal.jpeg?w=720&amp;ssl=1 720w" sizes="(max-width: 380px) 100vw, 380px" /></figure>



<p>Setibanya di dermaga Mentawai Fast di Pelabuhan Muaro Padang, ambulans tempat rujukannya sudah menanti, dan selanjutnya dibawa ke rumah sakit tersebut.</p>



<p>Tatkala Julianus mesti berobat ke Padang akibat jenis penyakit tak menular yang diidapnya, Mei Lewi Debora, bidan di Puskesmas Muara Sikabaluan dirundung getir dan sedih. Pasalnya, sang suami tengah menderita Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), dengan salah satu penyebabnya rokok&nbsp; yang diisap bertahun-tahun lamanya.</p>



<p>PPOK adalah&nbsp;peradangan pada paru-paru yang berlangsung dalam jangka panjang.&nbsp;PPOK tergolong jenis penyakit tidak menular. Dalam waktu jangka panjang, PPOK secara umum bisa menyerang paru-paru.</p>



<p>“PPOK yang dialami suami saya karena merokok. Rata-rata 2-3 bungkus dalam sehari,” kata Mei yang tinggal di Dusun Pokai, Muara Sikabaluan.</p>



<p>Dengan rata-rata 3 bungkus per hari, Mei mengaku ada uang  sekitar Rp.90.000 &#8216;terbakar&#8217; tiap harinya mengacu pada harga rokok tersebut Rp.30.000 per bungkus. Ironisnya, sang suami aktivitas hariannya hanya bertani. Hal ini memburukkan ekonomi rumah tangga Mei. Dan ia pun semakin terpukul dengan penyakit yang dialami suami. Untung saja, penyakit ini membuat suaminya berhenti merokok setengah tahun terakhir.</p>



<p>Penyakit tidak menular akibat rokok yang dialami suaminya, berdampak pada diri Mei. Ibu satu orang anak ini kerap naik tensi dan kepala pusing.</p>



<p>Dokter Inneke mengatakan, rata-rata semua pria terutama bapak-bapak di Mentawai adalah perokok berat. Sehingga istrinya atau keluarganya banyak yang perokok pasif.</p>



<p>Alhasil, pasien yang ditanganinya selama ini, sakit lebih banyak diakibatkan oleh rokok.</p>



<p>”Mungkin dari gastritisnya ya, dengan faktornya kena istrinya, biaya hidup, terus keuangan. Seharusnya dalam satu bulan terima gaji segini gara-gara merokok terkendalah dari makanan-makanan yang lain,” jelas Inneke.</p>



<p>Merokok menurutnya, juga pemicu penyakit PPOK bagian sebagian warga yang pernah ditanganinya. ”Tapi tidak terlalu banyak, lebih sering ke hipertensi. Faktor merokok itu bisa juga menyebabkan hipertensi,” ujarnya.</p>



<p>Berdasarkan data Dinas Kesehatan Mentawai tahun 2023, usia perokok 10-18 tahun berjumlah 199 orang (3,3%), tahun 2024 melonjak drastis dengan angka 1.660 orang (88,6%). Dan data tahun 2025 per bulan Mei terdapat 278 orang (14,8%) yang mengkonsumsi rokok.</p>



<p>“Gaya hidup seperti kebiasaan merokok masih menjadi pemicu terjadinya peningkatan kasus penyakit tidak menular,” tukas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Mentawai Desti Seminora.</p>



<p><strong>PTM Puncaki Tren Penyakit di Mentawai</strong></p>



<p>Selama lima tahun terakhir, tren penyakit di wilayah Siberut Utara didominasi oleh penyakit tidak menular (PTM) seperti rematik, gastritis (penyakit lambung), dan hipertensi (darah tinggi). Di samping itu, juga terdapat beberapa kasus penyakit menular, salah satunya ISPA.</p>



<p>Rematik menjadi penyakit tidak menular dengan jumlah kasus tertinggi, mencapai 2.211 orang, menunjukkan betapa luasnya dampak yang ditimbulkan. Di posisi berikutnya, gastritis atau radang lambung menyusul dengan 1.932 kasus. <em>Common cold</em> atau pilek biasa menempati urutan ketiga dengan 1.231 kasus, diikuti oleh ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) sebanyak 868 kasus. Sementara itu, karies gigi atau <em>caries dentis</em> tercatat sebanyak 768 kasus, dan yang terendah adalah alergi kulit (<em>allergia</em>) dengan 635 kasus.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="1200" height="647" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/ChatGPT-Image-May-24-2025-03_13_53-AM.png?resize=1200%2C647&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-226803" style="width:798px;height:auto" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/ChatGPT-Image-May-24-2025-03_13_53-AM.png?resize=1200%2C647&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/ChatGPT-Image-May-24-2025-03_13_53-AM.png?resize=300%2C162&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/ChatGPT-Image-May-24-2025-03_13_53-AM.png?resize=768%2C414&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/ChatGPT-Image-May-24-2025-03_13_53-AM.png?w=1443&amp;ssl=1 1443w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><figcaption class="wp-element-caption">Infografis 10 Penyakit Terbanyak Puskesmas Muara Sikabaluan Tahun 2024. <br>Sumber: Profil Puskesmas Muara Sikabaluan 2024</figcaption></figure>



<p>Penyakit-penyakit tersebut tidak menyebar dari orang ke orang, namun tetap menjadi beban kesehatan yang signifikan di banyak negara. Dampaknya tidak bisa dianggap sepele: penyakit tidak menular bisa mengganggu produktivitas dan kualitas hidup seseorang, bahkan memerlukan penanganan jangka panjang.</p>



<p>Menurut Plt. Kepala Puskesmas Muara Sikabaluan Desmawati Sakerebau, penyebab utama PTM ini adalah pola hidup yang tidak sehat, terutama pola makan. Untuk kasus rematik, kemungkinan disebabkan oleh kurangnya asupan nutrisi yang dibutuhkan tulang. Sementara gastritis dan hipertensi, salah satu pemicu utamanya adalah kebiasaan merokok, meskipun ada juga faktor lain yang memengaruhi.</p>



<p>Merokok juga berdampak secara tidak langsung terhadap ekonomi rumah tangga dan kesehatan keluarga. Banyak perempuan di wilayah ini yang mengeluhkan stres akibat harus mengelola ekonomi keluarga dengan penghasilan yang sangat terbatas. Misalnya, jika kepala keluarga berpenghasilan Rp1 juta per bulan tetapi menghabiskan Rp20 ribu per hari untuk rokok, maka sekitar Rp600 ribu habis hanya untuk rokok. Akibatnya, hanya tersisa Rp400 ribu untuk kebutuhan rumah tangga, yang harus dikelola oleh ibu.</p>



<p>“Ini memicu stres, memperparah kondisi gastritis, dan bisa menyebabkan hipertensi,” ujar Desmawati.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="1200" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Plt-Kepala-Puskesmas-Muara-Sikabaluan-Desmawati.jpeg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-226737" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Plt-Kepala-Puskesmas-Muara-Sikabaluan-Desmawati.jpeg?resize=1200%2C675&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Plt-Kepala-Puskesmas-Muara-Sikabaluan-Desmawati.jpeg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Plt-Kepala-Puskesmas-Muara-Sikabaluan-Desmawati.jpeg?resize=768%2C431&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Plt-Kepala-Puskesmas-Muara-Sikabaluan-Desmawati.jpeg?resize=800%2C450&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Plt-Kepala-Puskesmas-Muara-Sikabaluan-Desmawati.jpeg?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Plt-Kepala-Puskesmas-Muara-Sikabaluan-Desmawati.jpeg?w=1280&amp;ssl=1 1280w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><figcaption class="wp-element-caption">Plt. Kepala Puskesmas Muara Sikabaluan Desmawati Sakerebau. Foto: Yose Hendra</figcaption></figure>



<p>Ia mengatakan, keluhan seperti ini sering disampaikan oleh para ibu rumah tangga kepada petugas Puskesmas atau jejaring relawan kesehatan di lapangan. Mereka berharap suaminya berhenti merokok, tetapi merasa tidak punya kuasa karena mereka bukan pencari nafkah utama.</p>



<p>Dampaknya sangat luas, termasuk pada anak-anak yang mengalami kekurangan gizi hingga stunting. Banyak keluarga yang hanya mampu memberi makan mie instan seperti Indomie, yang rendah gizi.</p>



<p>Data sementara tahun 2025 menunjukkan angka stunting di Siberut Utara mencapai 133 anak atau sekitar 24 persen dari jumlah penduduk. Padahal batas toleransi yang diperbolehkan hanya sekitar 16 persen.</p>



<p>Melonjaknya penyakit tidak menular dalam klasemen penyakit di Siberut Utara juga seirama dengan kondisi Kabupaten Mentawai secara keseluruhan.</p>



<p>Desti mengatakan, berdasarkan data dalam 5 tahun terakhir ditemukan peningkatan kasus penyakit tidak menular di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Infografis di bawah menunjukkan sebaran 10 penyakit terbanyak di Kabupaten Kepulauan Mentawai Tahun 2023.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="630" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/10-pENYAKIT-Terbanyak-di-Mentawa-tahun-2023-1.png?resize=630%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-226735" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/10-pENYAKIT-Terbanyak-di-Mentawa-tahun-2023-1.png?resize=630%2C675&amp;ssl=1 630w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/10-pENYAKIT-Terbanyak-di-Mentawa-tahun-2023-1.png?resize=280%2C300&amp;ssl=1 280w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/10-pENYAKIT-Terbanyak-di-Mentawa-tahun-2023-1.png?resize=768%2C823&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/10-pENYAKIT-Terbanyak-di-Mentawa-tahun-2023-1.png?w=888&amp;ssl=1 888w" sizes="auto, (max-width: 630px) 100vw, 630px" /></figure>



<p>“Penyakit hipertensi dan diabetes melitus menjadi penyakit tidak menular paling banyak diderita masyarakat Mentawai,” katanya.</p>



<p><strong>Ikhtiar Mentawai Kendalikan Penyakit Tidak Menular</strong><strong></strong></p>



<p>Pemerintah Kabupaten Mentawai tak tinggal diam sekaitan meningkatnya angka penyakit tidak menular beberapa tahun belakangan. Lewat langkah nyata, mereka berusaha menembus keterbatasan wilayah untuk melindungi masyarakat dari ancaman penyakit tidak menular.</p>



<p>Pemerintah Kabupaten Mentawai memanfaatkan sumber daya lokal, regulasi yang kuat, serta pendekatan budaya, langkah-langkah kecil ini menjadi harapan besar bagi masyarakat di pulau-pulau terpencil.</p>



<p>Dari sisi promotif dan preventif, Pemkab Mentawai telah melakukan berbagai upaya kampanye dengan nama Perilaku CERDIK (Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin beraktivitas fisik, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres). Hal yang dilakukan dalam program ini adalah promosi kesehatan secara individu kepada pasien yang datang berobat, penyuluhan rutin ke masyarakat, termasuk ke gereja, sekolah-sekolah seperti SMA dan SMP (karena anak sekolah juga banyak yang merokok).</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="1200" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Pesan-PTM-di-Puskesmas-Muara-Sikabaluan.jpeg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-226801" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Pesan-PTM-di-Puskesmas-Muara-Sikabaluan.jpeg?resize=1200%2C675&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Pesan-PTM-di-Puskesmas-Muara-Sikabaluan.jpeg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Pesan-PTM-di-Puskesmas-Muara-Sikabaluan.jpeg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Pesan-PTM-di-Puskesmas-Muara-Sikabaluan.jpeg?resize=800%2C450&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Pesan-PTM-di-Puskesmas-Muara-Sikabaluan.jpeg?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Pesan-PTM-di-Puskesmas-Muara-Sikabaluan.jpeg?w=1280&amp;ssl=1 1280w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kampanye dan promosi antisipasi penyakit tidak menular termasuk soal bahaya rokok, terpampang pada salah satu dinding pelayanan kesehatan di Puskesmas Muara Sikabaluan. Foto: Yose Hendra</figcaption></figure>



<p>“Dan promosi kesehatan juga disampaikan dalam apel pagi dua kali seminggu bersama stakeholder, agar mereka turut menyampaikan ke masyarakat,” ujar Desti.</p>



<p>Desti menyampaikan pemerintah daerah telah mengeluarkan kebijakan konkret dalam menanggulangi PTM. Salah satunya melalui Instruksi Bupati Nomor 000.8.6.2/768/BUP Tahun 2024 tentang Pelaksanaan Deteksi Dini Penyakit Tidak Menular. Aturan ini menjadi dasar bagi jajaran kesehatan hingga ke pelosok desa untuk melakukan aksi nyata.</p>



<p>“Instruksi ini mempertegas komitmen kami untuk melakukan deteksi dini dan pencegahan PTM secara berkelanjutan, terutama di wilayah pedalaman yang aksesnya masih sangat terbatas,” ujar Desti.</p>



<p>Di setiap Puskesmas di Kepulauan Mentawai, deteksi dini menjadi agenda rutin. Desti menjelaskan bahwa Posbindu PTM menjadi ujung tombak upaya ini. Setiap bulan, petugas turun langsung ke masyarakat untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah, gula darah, hingga berat badan.</p>



<p>Tak hanya itu, program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) juga digalakkan di seluruh sekolah di Mentawai. Di sana, siswa diajak mengenal gaya hidup sehat sejak dini, dari makanan bergizi hingga pentingnya aktivitas fisik.</p>



<p>Sementara itu, ibu hamil juga menjadi prioritas penting. Melalui <em>skrining</em> kesehatan rutin, tekanan darah mereka diperiksa, berat badan ditimbang berat badan, dan dites kadar gula darahnya sebagai upaya mencegah komplikasi serius.</p>



<p>Untuk pengendalian tembakau atau rokok sebenarnya, Pemkab Mentawai telah menuangkan Peraturan Daerah Kabupaten Kepulauan Mentawai No 7 Tahun 2019 Tentang Kawasan Tanpa Rokok dan adanya papan informasi tentang kawasan tanpa rokok di tempat umum sekolah, perkantoran dan rumah ibadah..</p>



<p>“Sebenarnya sudah ada Perda yang mengatur larangan merokok di instansi, namun implementasinya belum efektif. Mengubah perilaku memang tidak mudah,” ucap Desti.</p>



<p>Di tengah keterbatasan fasilitasi kesehatan dan kelengkapan medis, Pemkab Mentawai pun memastikan pasien dengan asuransi BPJS yang dirujuk ke Kota Padang, gratis naik kapal Mentawai Fast. Hal ini seperti yang dialami Julianus.</p>



<p><strong>7 Pesan Sikerei: Edukasi Kesehatan dari Budaya Lokal</strong></p>



<p>Langkah unik lainnya datang dari pendekatan budaya. Pemerintah Kabupaten Mentawai telah menggagas program edukasi bernama “7 Pesan Sikerei”—sebuah inovasi yang diluncurkan sejak 22 Februari 2016.</p>



<p>Program ini mengemas pesan kesehatan dalam bentuk yang akrab dengan masyarakat adat Mentawai, yakni melalui filosofi dan simbolik peran Sikerei, sang tabib tradisional.</p>



<p>“Melalui 7 Pesan Sikerei, kami ingin menyampaikan pesan-pesan penting kesehatan yang mudah dipahami masyarakat, termasuk larangan merokok, pentingnya olahraga, hingga menjaga sanitasi lingkungan,” kata Desti.</p>



<p>Isi 7 Pesan Sikerei adalah, S: Stop buang air sembarangan; I: Istirahat yang cukup; K: Konsumsi garam beryodium; E: Enyahkan asap rokok; R: Rajin berolahraga, jauhi narkoba, dan hindari seks bebas; E: Eliminasi penyakit kaki gajah dan malaria, serta temukan, obati sampai sembuh penyakit TB; I: Ingatkan keluarga akan menimbang balita di posyandu setiap bulan, pemberian ASI saja kepada bayi sampai 6 bulan, persalinan oleh tenaga kesehatan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="506" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Sikerei-di-Matotonan.jpeg?resize=506%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-226804" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Sikerei-di-Matotonan.jpeg?resize=506%2C675&amp;ssl=1 506w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Sikerei-di-Matotonan.jpeg?resize=225%2C300&amp;ssl=1 225w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Sikerei-di-Matotonan.jpeg?resize=768%2C1024&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Sikerei-di-Matotonan.jpeg?resize=1152%2C1536&amp;ssl=1 1152w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Sikerei-di-Matotonan.jpeg?w=1200&amp;ssl=1 1200w" sizes="auto, (max-width: 506px) 100vw, 506px" /><figcaption class="wp-element-caption">Martinus Sagoilok, seorang sikerei di Desa Matotonan, Kecamatan Siberut Selatan, <br>mencari obat ke kawasan hutan pinggiran kampung. Foto: Yose Hendra</figcaption></figure>



<p>“Harapan kami, ke depan semakin banyak masyarakat yang sadar dan aktif menjaga kesehatannya. Karena pencegahan PTM bukan hanya tugas pemerintah, tapi gerakan bersama,” tukas Desti.</p>



<p><strong>Tantangan Pengendalian PTM</strong></p>



<p>Desti mengaku pelaksanaan pengendalian penyakit tidak menular belum maksimal yang disebabkan beberapa hal seperti Posbindu PTM di setiap wilayah kerja Puskesmas disertai dengan kondisi sarana prasarana yang minim dan kurangnya pembaharuan ilmu petugas kesehatan di lapangan.</p>



<p>Imbasnya, menurut Desti, penjaringan faktor risiko PTM belum dapat dilakukan secara optimal. Sehingga tidak memungkinkan hasilnya akan lebih besar jika dilakukan penjaringan secara menyeluruh dengan mengaktifkan dan membentuk Posbindu PTM di setiap desa serta melengkapi sarana prasarana yang dibutuhkan dalam melakukan layanan Posbindu PTM.</p>



<p>Sisi lain, kala melakukan edukasi dan penyuluhan untuk mendorong perubahan perilaku, petugas kesehatan di lapangan, kerap mendapat tantangan utama pada aspek edukasi dan sosial ekonomi. Tingkat pendidikan yang rendah juga menjadi faktor penghambat perubahan pola hidup sehat.</p>



<p>Dasmawati menyebutkan, penyuluhan yang dilakukan petugas medis Puskesmas Muara Sikabaluan sering mendapat respons sinis. “Istilahnya, kami dicemooh karena dianggap sok tahu, apalagi yang menyampaikan perempuan. Respons seperti ini dalam bahasa Minang disebut <em>mancime’e</em>. Mereka berkata: Kami yang mencari uang, kok ibu yang mengatur? kenapa ibu yang repot?&#8221;</p>



<p><a href="https://www.facebook.com/watch/?v=2165320777245872&amp;rdid=hewhYqesEPeOW8RJ">Padahal dampaknya nyata, baik secara fisik maupun psikologis.</a> Desmawati pernah memberikan ilustrasi dalam penyuluhan: jika seseorang merokok Rp30 ribu per hari, maka dalam sebulan akan habis Rp900 ribu. Dalam 6 bulan bisa mencapai Rp5,4 juta—jumlah yang cukup untuk membayar biaya kuliah anak.</p>



<p>“Tapi seringkali alasannya, mereka tidak mampu menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi,” ujar Desmawati.</p>



<p>Sejauh ini, evaluasi pemerintah daerah terhadap efektivitas program penanggulangan PTM baru sebatas program-program penanggulangan PTM yang sudah terintegrasi dengan pusat dalam hal ini Kementerian Kesehatan. Hal ini dapat dipantau serta evaluasi melalui website ASIK (Aplikasi Sehat Indonesiaku). Selain itu, dapat dilihat dalam pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Kesehatan.</p>



<p>“Tantangan dalam penanggulangan PTM yaitu masyarakat menganggap PTM merupakan hal yang tidak berpengaruh terhadap kesehatannya, sehingga kesadaran untuk memeriksakan kesehatan sedini mungkin masih rendah,” pungkas Desmawati.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kala-rokok-menyulut-laju-penyakit-tidak-menular-di-mentawai/">Kala Rokok Menyulut Laju Penyakit Tidak Menular di Mentawai</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">226710</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Hingga Akhir Agustus 2024, Ditemukan 2.903 Pasien TB di Padang</title>
		<link>https://langgam.id/hingga-akhir-agustus-2024-ditemukan-2-903-pasien-tb-di-padang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Oct 2024 02:07:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=212855</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Hingga akhir Agustus 2024, Dinas Kesehatan Kota Padang berhasil menemukan 2.903 pasien Tuberkulosis (TB) dari estimasi 4.800 kasus yang ditargetkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Capaian ini baru mencapai sekitar 60 persen dari target minimal 90 persen yang ditetapkan Kemenkes. “Kemenkes menargetkan minimal 90 persen dari estimasi kasus harus ditemukan dan ditangani,” ungkap Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (Kasi P2M) Dinkes Kota Padang, Eva Westari, dilansir dari Info Publik Padang, Selasa (1/10/2024). Untuk mencapai target tersebut, Dinkes Kota Padang meluncurkan program Giat Sabtu (Skrining Aktif Tuberkulosis) yang dilaksanakan setiap hari Sabtu di sejumlah puskesmas. Program ini</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/hingga-akhir-agustus-2024-ditemukan-2-903-pasien-tb-di-padang/">Hingga Akhir Agustus 2024, Ditemukan 2.903 Pasien TB di Padang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Hingga akhir Agustus 2024, Dinas Kesehatan Kota Padang berhasil menemukan 2.903 pasien Tuberkulosis (TB) dari estimasi 4.800 kasus yang ditargetkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Capaian ini baru mencapai sekitar 60 persen dari target minimal 90 persen yang ditetapkan Kemenkes.</p>



<p>“Kemenkes menargetkan minimal 90 persen dari estimasi kasus harus ditemukan dan ditangani,” ungkap Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (Kasi P2M) Dinkes Kota Padang, Eva Westari, dilansir dari <em>Info Publik Padang, </em> Selasa (1/10/2024).</p>



<p>Untuk mencapai target tersebut, Dinkes Kota Padang meluncurkan program Giat Sabtu (Skrining Aktif Tuberkulosis) yang dilaksanakan setiap hari Sabtu di sejumlah puskesmas. Program ini merupakan kerja sama dengan Koalisi Organisasi Profesi Penanggulangan Tuberkulosis (Kopi TB) dan melibatkan berbagai dokter spesialis, termasuk dokter paru, dokter anak, dan dokter penyakit dalam.</p>



<p>“Setiap Sabtu, delapan puskesmas di Kota Padang melaksanakan Giat Sabtu. Puskesmas-puskesmas ini mengumumkan kegiatan melalui media sosial dan mengajak warga melalui kader kesehatan, agar masyarakat yang memiliki gejala TB dapat memeriksakan diri,” jelas Eva.</p>



<p>Sasaran utama kegiatan ini adalah masyarakat yang menunjukkan gejala TB dan kelompok berisiko tinggi, seperti pasien Diabetes Melitus (DM), anak dengan kondisi malnutrisi, serta individu yang memiliki kontak erat dengan penderita TB.</p>



<p>Eva menjelaskan bahwa jika hasil skrining menunjukkan indikasi positif TB, pasien akan didata dan mendapatkan penanganan lebih lanjut di puskesmas. Pemeriksaan dilakukan melalui konsultasi dan pemeriksaan dahak untuk pasien dewasa, serta tes Mantoux untuk balita.</p>



<p>“Kami berharap program ini tidak hanya mampu menemukan lebih banyak kasus TB tetapi juga membantu memutus mata rantai penyebaran penyakit di Kota Padang,” tutup Eva.</p>



<p>Melalui program Giat Sabtu, diharapkan angka penemuan kasus TB dapat meningkat sehingga target yang ditetapkan Kemenkes bisa segera tercapai, demi menjaga kesehatan masyarakat dan menekan penyebaran penyakit ini. (*/Yh)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/hingga-akhir-agustus-2024-ditemukan-2-903-pasien-tb-di-padang/">Hingga Akhir Agustus 2024, Ditemukan 2.903 Pasien TB di Padang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">212855</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Dinkes Sebut Belum Ada Kasus Cacar Monyet di Padang</title>
		<link>https://langgam.id/dinkes-sebut-belum-ada-kasus-cacar-monyet-di-padang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Aug 2024 01:28:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=210684</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Padang memastikan bahwa hingga saat ini belum ditemukan kasus cacar monyet atau Monkeypox (Mpox) di wilayah Kota Padang. Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Padang, Citra Septiyenri, menyampaikan meskipun belum ada laporan kasus, masyarakat tetap diimbau untuk menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta membudayakan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) sebagai langkah pencegahan. “Sejauh ini, belum ada kasus cacar monyet di Kota Padang. Namun, penerapan PHBS dan Germas sangat penting untuk mencegah penyakit ini,” ungkap Citra, dilansir dari Info Publik Padang, Kamis (29/8/2024). Citra menjelaskan bahwa cacar monyet dapat</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/dinkes-sebut-belum-ada-kasus-cacar-monyet-di-padang/">Dinkes Sebut Belum Ada Kasus Cacar Monyet di Padang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Padang memastikan bahwa hingga saat ini belum ditemukan kasus cacar monyet atau Monkeypox (Mpox) di wilayah Kota Padang.</p>



<p>Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Padang, Citra Septiyenri, menyampaikan meskipun belum ada laporan kasus, masyarakat tetap diimbau untuk menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta membudayakan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) sebagai langkah pencegahan.</p>



<p>“Sejauh ini, belum ada kasus cacar monyet di Kota Padang. Namun, penerapan PHBS dan Germas sangat penting untuk mencegah penyakit ini,” ungkap Citra, dilansir dari <em>Info Publik Padang, </em>Kamis (29/8/2024).</p>



<p>Citra menjelaskan bahwa cacar monyet dapat menular melalui kontak dengan seseorang yang sudah terinfeksi virus ini, terutama melalui luka atau goresan pada kulit.</p>



<p>&#8220;Sejak tahun lalu, Kota Padang belum mendeteksi adanya kasus cacar monyet. Oleh karena itu, melalui Germas, kami mengajak masyarakat untuk terus menjaga imunitas tubuh agar tetap sehat, fit, dan terhindar dari berbagai penyakit,&#8221; tegasnya. (*/Yh)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/dinkes-sebut-belum-ada-kasus-cacar-monyet-di-padang/">Dinkes Sebut Belum Ada Kasus Cacar Monyet di Padang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">210684</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Karantina Sumbar Musnahkan Media Pembawa Hama Penyakit</title>
		<link>https://langgam.id/karantina-sumbar-musnahkan-media-pembawa-hama-penyakit/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Jun 2024 08:10:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Hewan Ternak]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=205020</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Balai Karantina Pertanian Kelas I Padang, Sumatera Barat (Sumbar) melakukan pemusnahan media pembawa Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK), Hama Penyakit Ikan Karantina (HPIK), dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) di Instalasi Karantina Hewan Pasir Jambak, Kota Padang, pada Selasa (4/6/2024). Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Padang, Ibrahim, menyampaikan bahwa pemusnahan ini dilakukan terhadap komoditas yang ditahan oleh petugas karantina karena tidak memiliki sertifikat karantina yang sah. Selain itu, terdapat pula beberapa buah dan sayur yang ditahan di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) karena tidak sesuai dengan tempat pemasukan yang telah ditentukan. Penahanan dan pemusnahan dilakukan berdasarkan Peraturan Menteri</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/karantina-sumbar-musnahkan-media-pembawa-hama-penyakit/">Karantina Sumbar Musnahkan Media Pembawa Hama Penyakit</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Balai Karantina Pertanian Kelas I Padang, Sumatera Barat (Sumbar) melakukan pemusnahan media pembawa Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK), Hama Penyakit Ikan Karantina (HPIK), dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) di Instalasi Karantina Hewan Pasir Jambak, Kota Padang, pada Selasa (4/6/2024).</p>



<p>Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Padang, Ibrahim, menyampaikan bahwa pemusnahan ini dilakukan terhadap komoditas yang ditahan oleh petugas karantina karena tidak memiliki sertifikat karantina yang sah.</p>



<p>Selain itu, terdapat pula beberapa buah dan sayur yang ditahan di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) karena tidak sesuai dengan tempat pemasukan yang telah ditentukan.</p>



<p>Penahanan dan pemusnahan dilakukan berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 42/Permentan/OT.140/6/2012 yang melarang pemasukan buah-buahan segar dari luar negeri melalui BIM.</p>



<p>Ibrahim menegaskan bahwa komoditas yang ditahan tidak dikonsumsi oleh petugas karantina, melainkan dimusnahkan untuk mencegah penyebaran hama dan penyakit di Sumatera Barat.</p>



<p>“Barang yang dimusnahkan antara lain daging babi, daging unggas olahan, daging sapi, daging kambing, ikan kering, ikan dan belut kering, lobster, buah-buahan dan sayuran,” ujar Ibrahim. (*/Yh)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/karantina-sumbar-musnahkan-media-pembawa-hama-penyakit/">Karantina Sumbar Musnahkan Media Pembawa Hama Penyakit</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">205020</post-id>	</item>
		<item>
		<title>70 Persen Sumber Air Minum Rumah Tangga di Indonesia Tercemar Limbah Tinja</title>
		<link>https://langgam.id/70-persen-sumber-air-minum-rumah-tangga-di-indonesia-tercemar-limbah-tinja/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2022 04:02:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Air Minum]]></category>
		<category><![CDATA[Diare]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=147693</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berita terbaru: Hampir 70 persen dari 20.000 sumber air minum rumah tangga yang diuji di Indonesia dalam sebuah studi baru tercemar limbah tinja dan turut menyebabkan penyebaran penyakit diare, yang merupakan penyebab utama kematian balita. Langgam.id – Hampir 70 persen dari 20.000 sumber air minum rumah tangga yang diuji di Indonesia dalam sebuah studi baru tercemar limbah tinja dan turut menyebabkan penyebaran penyakit diare, yang merupakan penyebab utama kematian balita. Hal ini dinyatakan oleh UNICEF yang meluncurkan kampanye baru untuk sanitasi aman, pada 7 Februari 2022. Kampanye UNICEF bertajuk #DihantuiTai bertujuan memberikan pemahaman kepada keluarga-keluarga Indonesia tentang sanitasi aman dan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/70-persen-sumber-air-minum-rumah-tangga-di-indonesia-tercemar-limbah-tinja/">70 Persen Sumber Air Minum Rumah Tangga di Indonesia Tercemar Limbah Tinja</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berita terbaru: Hampir 70 persen dari 20.000 sumber air minum rumah tangga yang diuji di Indonesia dalam sebuah studi baru tercemar limbah tinja dan turut menyebabkan penyebaran penyakit diare, yang merupakan penyebab utama kematian balita.</p>
<p><strong>Langgam.id –</strong> Hampir 70 persen dari 20.000 sumber air minum rumah tangga yang diuji di Indonesia dalam sebuah studi baru tercemar limbah tinja dan turut menyebabkan penyebaran penyakit diare, yang merupakan penyebab utama kematian balita. Hal ini dinyatakan oleh UNICEF yang meluncurkan kampanye baru untuk sanitasi aman, pada 7 Februari 2022.</p>
<p>Kampanye UNICEF bertajuk #DihantuiTai bertujuan memberikan pemahaman kepada keluarga-keluarga Indonesia tentang sanitasi aman dan dampak pencemaran sumber air oleh tinja terhadap kesehatan masyarakat.</p>
<p>Melalui kampanye yang dilaksanakan secara daring ini, UNICEF menyerukan kepada rumah-rumah tangga Indonesia untuk memasang, memeriksa, atau mengganti tangki septiknya serta rutin menguras tangki minimal satu kali setiap tiga hingga lima tahun.</p>
<p>#DihantuiTai mengambil inspirasi dari film dan acara televisi yang populer di kalangan masyarakat Indonesia. Di dalam kampanye ini, tim ‘pemberantas tinja’ memiliki misi menyelamatkan wilayah-wilayah yang dihantui oleh tinja.</p>
<p>Sebagai bagian dari kampanye ini, UNICEF telah meluncurkan situs <a href="http://www.cekidot.org">www.cekidot.org</a> yang berisi kiat-kiat praktis bagi keluarga untuk memastikan keamanan tangki septik dan informasi kontak jasa pembersihan tangki.</p>
<p>“Sanitasi yang aman bisa mengubah kehidupan anak-anak dan membuka kesempatan untuk mereka mewujudkan potensi dirinya,” ujar Perwakilan Sementara UNICEF Robert Gass.</p>
<p>“Sayangnya, ada begitu banyak anak yang tinggal di daerah-daerah terdampak sanitasi tidak aman dan hal ini mengancam setiap aspek pertumbuhan mereka.”</p>
<p>Indonesia telah mencapai kemajuan yang signifikan dalam meningkatkan mutu sanitasi dasar. Namun, angka rumah tangga yang memiliki sarana toilet dengan sambungan tangki septik yang tertutup dan yang rutin membersihkan tangkinya minimal satu kali dalam lima tahun adalah kurang dari 8 persen.</p>
<p>Akibatnya, limbah tinja tidak terkelola dengan baik sehingga mencemari lingkungan dan sumber air sekitar.</p>
<p>Salah satu tantangan utama dalam meningkatkan akses ke sanitasi aman adalah kesadaran masyarakat yang rendah terhadap risiko kesehatan masyarakat akibat pengelolaan tangki septik yang tidak memadai dan frekuensi pengurasan tangki yang juga rendah—banyak keluarga belum memahami pentingnya menghubungkan toilet dengan sistem pembuangan dengan pipa atau bahwa tangki septik perlu dibersihkan secara berkala.</p>
<p>Saat ini, Pemerintah Indonesia sedang menyusun peta jalan percepatan akses ke sanitasi yang dikelola secara aman dengan dukungan dari UNICEF dan beberapa mitra lain. Selain itu, akan diselenggarakan konferensi tingkat tinggi (KTT) Sanitasi dan Air Minum Untuk Semua di Jakarta pada bulan Mei.</p>
<p>KTT ini akan dihadiri oleh para menteri yang bertanggung jawab atas urusan air, sanitasi, kesehatan, lingkungan hidup, dan perekonomian dari seluruh dunia untuk mendiskusikan percepatan akses kepada air minum, sanitasi, dan kebersihan.</p>
<p>“Masa pandemi meningkatkan perhatian terhadap pentingnya hidup di lingkungan yang bersih,” kata Gass.</p>
<p>“Sanitasi yang tidak dikelola dengan baik bisa melemahkan daya tahan tubuh anak-anak sehingga menimbulkan dampak yang permanen, bahkan kematian. Melalui kampanye ini, kami harap akan makin banyak masyarakat Indonesia yang mau lebih berperan dalam mengelola sanitasi rumah tangga demi meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak serta keluarga mereka.”</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/70-persen-sumber-air-minum-rumah-tangga-di-indonesia-tercemar-limbah-tinja/">70 Persen Sumber Air Minum Rumah Tangga di Indonesia Tercemar Limbah Tinja</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">147693</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia, Terbatasnya Akses Air Bersih</title>
		<link>https://langgam.id/hari-cuci-tangan-pakai-sabun-sedunia-terbatasnya-akses-air-bersih/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Oct 2021 01:08:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=132921</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Hasil riset Save the Children di 46 negara termasuk di Indonesia pada Juli 2020, menemukan sebanyak 13% keluarga tidak memiliki akses terhadap air bersih termasuk dengan sabun atau pembersih tangan sebanyak 39%. Salah satu penyebab adalah faktor ekonomi yang dihadapi keluarga. Keterbatasan akses tersebut membuat 76% keluarga khawatir terinfeksi covid-19 dan penyakit menular. “Data kami jelas mengambarkan bahwa kesulitan ekonomi karena dampak pandemi memperburuk akses anak dan keluarga terhadap layanan air, sanitasi dan pengobaatan terutama untuk anak dan keluarga penyandang disabilitas,” jelas CEO Save the Children Indonesia Selina Patta Sumbung, dalam rilis yang diterima Langgam.id. Selina juga menambahkan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/hari-cuci-tangan-pakai-sabun-sedunia-terbatasnya-akses-air-bersih/">Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia, Terbatasnya Akses Air Bersih</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Hasil riset Save the Children di 46 negara termasuk di Indonesia pada Juli 2020, menemukan sebanyak 13% keluarga tidak memiliki akses terhadap air bersih termasuk dengan sabun atau pembersih tangan sebanyak 39%.</p>
<p>Salah satu penyebab adalah faktor ekonomi yang dihadapi keluarga. Keterbatasan akses tersebut membuat 76% keluarga khawatir terinfeksi covid-19 dan penyakit menular.</p>
<p>“Data kami jelas mengambarkan bahwa kesulitan ekonomi karena dampak pandemi memperburuk akses anak dan keluarga terhadap layanan air, sanitasi dan pengobaatan terutama untuk anak dan keluarga penyandang disabilitas,” jelas CEO Save the Children Indonesia Selina Patta Sumbung, dalam rilis yang diterima <em>Langgam.id.</em></p>
<p>Selina juga menambahkan bahwa anak – anak penyandang disabilitas mengalami tantangan dalam menerapkan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) baik secara akses yang belum disesuaikan dengan ragam disabilitas anak, juga termasuk ketersediaan air dan sabun.</p>
<p>Sejalan dengan tema Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia tahun 2021, Save the Children Indonesia mengingatkan seluruh pihak untuk memprioritaskan permudah akses CTPS untuk anak – anak dan keluarga penyandang disabilitas.</p>
<p>Akses tersebut perlu disesuaikan dengan ragam disabilitas yang dimiliki oleh anak dan keluarga, sehingga penerapan CTPS nyata bagi semua khususnya anak dan keluarga penyandang disabilitas.</p>
<p>Di Kabupaten Bandung, Save the Children Indonesia bersama dengan anak – anak penyandang disabilitas yang tergabung dalam Child Campaigner Save our Education mengembangkan video CTPS inklusif, bertujuan untuk mengedukasi anak – anak penyandang disabilitas di seluruh Indonesia untuk memahami praktik CTPS.</p>
<p>Video ini juga diharapkan menjadi salah satu unsur edukasi sekolah dan orangtua untuk dapat memastikan setiap anak mendapatkan pendidikan yang berkualitas pada lingkungan yang aman.</p>
<p>“Saya berharap kalau sekolah nanti dibuka lagi, sekolah bisa menyesuaikan sarana CTPS yang mudah dijangkau oleh anak penyandang disabilitas seperti saya, supaya saya tidak lagi kesulitan untuk ambil sabun karena ketinggian atau keran air kependekan,” siswa kelas 11 SMK dan  Penyandang Disabilitas Fisik di Kabupaten Bandung, Faisal.</p>
<p>Perayaan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia juga dilakukan oleh Save the Children di berbagai Provinsi, seperti di NTT dan DKI Jakarta yang berfokus pada peningkatan kesadaran publik dalam penerapan CTPS.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/hari-cuci-tangan-pakai-sabun-sedunia-terbatasnya-akses-air-bersih/">Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia, Terbatasnya Akses Air Bersih</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">132921</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Waspada, Ini Tanda Seseorang Mungkin Terkena Kanker Kulit</title>
		<link>https://langgam.id/waspada-ini-tanda-seseorang-mungkin-terkena-kanker-kulit/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Putri Radila]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Oct 2021 05:10:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=131300</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tanda atau gejala seseorang mengalami kanker kulit melanoma dapat dilihat dengan cara mudah ini. Langgam.id &#8211; Kanker merupakan salah satu penyakit yang cukup banyak ditakuti orang. Bahkan kanker menjadi salah satu penyakit dengan penyumbang angka kematian tertinggi di seluruh dunia. Terdapat berbagai jenis kanker yang bisa diderita orang-orang, salah satunya kanker kulit atau melanoma. Penyakit ini bisa disebabkan karena terjadinya mutasi pada sel-sel yang memroduksi melanin. Hal ini menyebabkan pertumbuhannya tidak normal sehingga berkembang sebagai kanker. Melansir dari Tempo.co pada Sabtu (9/10/2021), melanoma menjadi salah satu kanker kulit yang paling umum diderita orang di Inggris. Bahkan kanker kulit ini berada</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/waspada-ini-tanda-seseorang-mungkin-terkena-kanker-kulit/">Waspada, Ini Tanda Seseorang Mungkin Terkena Kanker Kulit</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="intro-text">
<p>Tanda atau gejala seseorang mengalami kanker kulit melanoma dapat dilihat dengan cara mudah ini.</p>
</div>
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Kanker merupakan salah satu penyakit yang cukup banyak ditakuti orang. Bahkan kanker menjadi salah satu penyakit dengan penyumbang angka kematian tertinggi di seluruh dunia.</p>
<p>Terdapat berbagai jenis kanker yang bisa diderita orang-orang, salah satunya kanker kulit atau melanoma. Penyakit ini bisa disebabkan karena terjadinya mutasi pada sel-sel yang memroduksi melanin. Hal ini menyebabkan pertumbuhannya tidak normal sehingga berkembang sebagai kanker.</p>
<p>Melansir dari <em>Tempo.co</em> pada Sabtu (9/10/2021), melanoma menjadi salah satu kanker kulit yang paling umum diderita orang di Inggris. Bahkan kanker kulit ini berada diurutan kelima dengan pasien terbanyak.</p>
<p>Setiap tahunnya, ada sekitar 16.200 kasus baru di Inggris. Sejauh ini telah ada lebih dari 2.300 orang yang meninggal karena penyakit ini. Lantaran hal itu sangat penting untuk mengetahui gejala melanoma sejak awal agar dapat pengobatan dan perawatan yang tepat.</p>
<p><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-132691" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/Foto-Langgam-3-1.jpg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="melanoma" width="1200" height="675" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/Foto-Langgam-3-1.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/Foto-Langgam-3-1.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/Foto-Langgam-3-1.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/Foto-Langgam-3-1.jpg?resize=750%2C422&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/Foto-Langgam-3-1.jpg?resize=1140%2C641&amp;ssl=1 1140w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Biasanya penderita kanker kulit ini mengalami garis-garis warna dalam urin. Melansir dari <em>Express</em>, yang mengutip dari situs web <em>Harvard Health</em>, membuat pigmen kulit menggelapkan. Kemungkinan beberapa pigmen yang menggelap tersebut keluar terbawa oleh urin ketika sedang buang air kecil.</p>
<p>Lantaran hal itu, urin pun berubah warna menjadi coklat. Hal ini bisa disebabkan karena produk pemecahan hemoglobin, bilirubin.</p>
<p>Beberapa tanda umum dari kanker kulit ini, salah satunya yakni perubahan pada tahi lalat Menurut NHS, penderita kanker ini biasanya akan memilik tahi lalat baru atau perubahan pada tahi lalat yang telah ada. Tahi lalat ini bisa muncul di tubuh seperti di punggung pada pria, sementara kaki pada wanita.</p>
<p>Jika merasa mengalami gejala yang mencurigakan dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Cara ini dapat membatu mendeteksi penyakit tersebut sejak dini.</p>
<p>Penyakit ini dapat diatasi melalui operasi jika dapat dideteksi sejak awal. Namun tidak sedikit orang yang terlambat menyadarinya dan membuat dokter hanya bisa menghentikan penyebaran kanker dan mengurangi gejala.</p>
<p>Memindai kulit secara visual dapat menjadi salah satu cara awal yang dapat dilakukan untuk mendeteksi kanker kulit ini. Jika menemukan tahi lalat yang mencurigakan sebaiknya lakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan dokter.</p>
<p><strong>Baca juga: <a href="https://langgam.id/5-tanda-seseorang-tidak-bahagia-dalam-hubungan/">5 Tanda Seseorang Tidak Bahagia dalam Hubungan</a></strong></p>
<p>Biasanya tahi lalat yang mencurigakan tersebut akan dipotong dan dikirim ke laboratorium. Kemudian tahi lalat tersebut akan diuji lebih lanjut untuk mendeteksi apakah mereka kanker. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut hampir 30 persen tahi lalat yang berubah menjadi kanker.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/waspada-ini-tanda-seseorang-mungkin-terkena-kanker-kulit/">Waspada, Ini Tanda Seseorang Mungkin Terkena Kanker Kulit</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">131300</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 26/101 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-08-03 13:40:35 by W3 Total Cache
-->