<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Pakaian Adat Minang Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/pakaian-adat-minang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/pakaian-adat-minang/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 Aug 2023 08:21:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Pakaian Adat Minang Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/pakaian-adat-minang/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>HUT RI ke-78, Wapres dan Istri Kenakan Baju Adat Minang</title>
		<link>https://langgam.id/hut-ri-ke-78-wapres-dan-istri-kenakan-baju-adat-minang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Aug 2023 08:21:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[HUT RI ke-78]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian Adat Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Wapres]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=186323</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Wakil Presiden Republik Indonesia Ma’ruf Amin beserta sang istri, Wury Ma’ruf mengenakan pakaian adat Minang saat mengikuti peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan republik Indonesia di halaman Istana merdeka, Jakarta, Kamis (17/8/2023). Setiap tahun daya tarik dari pelaksanaan Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) adalah penggunaan pakaian adat yang beraneka ragam dari seluruh nusantara yang dikenakan oleh Presiden, Wapres, maupun para pengisi dan peserta upacara. Pakaian adat Minang yang dipakai Wapres dna istrinya tampak elegan. Pakaian yang dikenakan Wapres bernuansa ungu dengan campuran aksen berwarna emas. Baju laki-laki Minang yang dipakai oleh wapres memiliki filosofi kepemimpinan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/hut-ri-ke-78-wapres-dan-istri-kenakan-baju-adat-minang/">HUT RI ke-78, Wapres dan Istri Kenakan Baju Adat Minang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Wakil Presiden Republik Indonesia Ma’ruf Amin beserta sang istri, Wury Ma’ruf mengenakan pakaian adat Minang saat mengikuti peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan republik Indonesia di halaman Istana merdeka, Jakarta, Kamis (17/8/2023).</p>



<p>Setiap tahun daya tarik dari pelaksanaan Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) adalah penggunaan pakaian adat yang beraneka ragam dari seluruh nusantara yang dikenakan oleh Presiden, Wapres, maupun para pengisi dan peserta upacara.</p>



<p>Pakaian adat Minang yang dipakai Wapres dna istrinya tampak elegan. Pakaian yang dikenakan Wapres bernuansa ungu dengan campuran aksen berwarna emas.</p>



<p>Baju laki-laki Minang yang dipakai oleh wapres memiliki filosofi kepemimpinan dari orang yang memakainya, dan aksesoris yang di Pakai wapres juga memiliki filosofi tersendiri. Keris yang berada di pinggang kiri melambangkan kehati-hatian dalam bertindak.</p>



<p>Hal yang sama juga terlihat dari Wury Ma’ruf Amin, beliau tampak anggun memakai baju koto gadang bernuansa Senanda dengan wapres,ungu dan emas.Busana ini mencerminkan falsafah Minangkabau basyandi syarak, syarak basandi kitabullah, adat yang diterapkan di masyarat yang tidak terlepas dari prinsip-prinsip agama Islam. (*/Yh)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/hut-ri-ke-78-wapres-dan-istri-kenakan-baju-adat-minang/">HUT RI ke-78, Wapres dan Istri Kenakan Baju Adat Minang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">186323</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Puan Pakai Tingkuluak Khas Lintau, Gubernur Sumbar: Bukti Cinta Minang</title>
		<link>https://langgam.id/puan-pakai-tingkuluak-khas-lintau-gubernur-sumbar-bukti-cinta-minang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rahmadi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2021 08:32:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Gubernur Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian Adat Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Puan Maharani]]></category>
		<category><![CDATA[Tanah Datar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=122725</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Gubernur Sumatra Barat (Sumbar) Mahyeldi ikut mengomentari penampilan Ketua DPR RI Puan Maharani yang memakai tingkuluak balenggek saat peringatan HUT RI ke-76 di Istana Negara, Jakarta. Dia menilai, penutup kepala yang dipakai Puan Maharani sangat cocok. Penampilannya sebagai ketua DPR RI yang berdarah Minang dan juga menggunakan busana Minang ini, sehingga nampak keanggunannya. &#8220;Saya kira sangat bagus sekali dan sangat cocok mbak Puan. Apalagi beliau kan juga punya darah Minang, nampak kebundokandungannya,&#8221; kata Mahyeldi di Auditorium Gubernuran, Selasa, (17/8/2021). Mahyeldi menambahkan, baik Puan Maharani atau Megawati Soekarnoputri, dinilai memiliki kecintaan kepada Minangkabau. Sebab orang yang cinta dan sayang</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/puan-pakai-tingkuluak-khas-lintau-gubernur-sumbar-bukti-cinta-minang/">Puan Pakai Tingkuluak Khas Lintau, Gubernur Sumbar: Bukti Cinta Minang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id &#8211;</strong> Gubernur Sumatra Barat (Sumbar) Mahyeldi ikut mengomentari penampilan Ketua DPR RI Puan Maharani yang memakai tingkuluak balenggek saat peringatan HUT RI ke-76 di Istana Negara, Jakarta.</p>
<p>Dia menilai, penutup kepala yang dipakai Puan Maharani sangat cocok. Penampilannya sebagai ketua DPR RI yang berdarah Minang dan juga menggunakan busana Minang ini, sehingga nampak keanggunannya.</p>
<p>&#8220;Saya kira sangat bagus sekali dan sangat cocok mbak Puan. Apalagi beliau kan juga punya darah Minang, nampak kebundokandungannya,&#8221; kata Mahyeldi di Auditorium Gubernuran, Selasa, (17/8/2021).</p>
<p>Mahyeldi menambahkan, baik Puan Maharani atau Megawati Soekarnoputri, dinilai memiliki kecintaan kepada Minangkabau. Sebab orang yang cinta dan sayang pasti akan sering disebut. Keduanya memiliki darah Minang sehingga ada rasa cintanya.</p>
<p>&#8220;Itulah disampaikan dengan beberapa hal yang mungkin beliau ada yang disampaikan ide-ide dan berbagai hal dan usulan, saya yakin itu,&#8221; katanya.</p>
<p><strong>Baca juga: <a href="https://langgam.id/puan-kenakan-tingkuluak-balenggek-bupati-tanah-datar-sampaikan-pesan-ini/">Puan Kenakan Tingkuluak Balenggek, Bupati Tanah Datar Sampaikan Pesan Ini</a></strong></p>
<p>Dirinya sendiri juga memakai baju adat saat mengikuti upacara bersama presiden. Hal ini sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo agar menggunakan baju adat. Dirinya untuk kali ini memakai baju adat ninik mamak.</p>
<p>Sebagaimana diketahui, Ketua DPR RI Puan Maharani dipercaya menjadi pembaca teks Proklamasi dalam Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Negara, Jakarta, Selasa (17/8/2021).</p>
<p>Puteri presiden kelima Indonesia Megawati Seokarnoputri itu tampak mengenakan pakaian adat Minangkabau tepatnya daerah Lintau, Kabupaten Tanah Datar. Yaitu dengan ciri khas tingkuluak balenggek berwarna merah.</p>
<p><iframe title="Kembali Menang Tantangan MasterChef, Adi: Kok Saya Lagi Chef, Tak Ada yang Lain" width="500" height="281" src="https://www.youtube.com/embed/bJ00ne_cphs?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/puan-pakai-tingkuluak-khas-lintau-gubernur-sumbar-bukti-cinta-minang/">Puan Pakai Tingkuluak Khas Lintau, Gubernur Sumbar: Bukti Cinta Minang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">122725</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Puan Maharani Pakai Tingkuluak Balenggek Saat HUT RI, PDIP: Ikatan Emosional</title>
		<link>https://langgam.id/puan-maharani-pakai-tingkuluak-balenggek-saat-hut-ri-pdip-ikatan-emosional/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Irwanda Saputra]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2021 06:03:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[HUT RI ke-76]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian Adat Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Puan Maharani]]></category>
		<category><![CDATA[Tanah Datar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=122696</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Ketua DPR RI Puan Maharani memakai tingkuluak balenggek yang merupakan salah satu pakaian adat Minangkabau khas Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat (Sumbar). Puan tampak anggun dengan pakaian adat itu saat membaca teks proklamasi pada upacara HUT RI di Istana Negara, Jakarta. Menurut Ketua Dewan Pimpinan Daerah PDI-Perjuangan Sumbar, Alex Indra Lukman, Puan Maharani memakai pakaian adat Minangkabau menggambarkan ikatan emosional yang erat. Sebab, kata dia, Puan Maharani berdarah Minang. Almarhum orang tuanya, Muhammad Taufiq Kiemas, berasal dari Kabupaten Tanah Datar. &#8220;Jadi, almarhum Taufiq Kiemas itu orang Tanah Datar. Gelarnya Datuk Basa Batuah. Kan baju adat (yang dipakai) asal</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/puan-maharani-pakai-tingkuluak-balenggek-saat-hut-ri-pdip-ikatan-emosional/">Puan Maharani Pakai Tingkuluak Balenggek Saat HUT RI, PDIP: Ikatan Emosional</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id &#8211;</strong> Ketua DPR RI Puan Maharani memakai tingkuluak balenggek yang merupakan salah satu pakaian adat Minangkabau khas Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat (Sumbar).</p>
<p>Puan tampak anggun dengan pakaian adat itu saat membaca teks proklamasi pada upacara HUT RI di Istana Negara, Jakarta.</p>
<p>Menurut Ketua Dewan Pimpinan Daerah PDI-Perjuangan Sumbar, Alex Indra Lukman, Puan Maharani memakai pakaian adat Minangkabau menggambarkan ikatan emosional yang erat.</p>
<p>Sebab, kata dia, Puan Maharani berdarah Minang. Almarhum orang tuanya, Muhammad Taufiq Kiemas, berasal dari Kabupaten Tanah Datar.</p>
<p>&#8220;Jadi, almarhum Taufiq Kiemas itu orang Tanah Datar. Gelarnya Datuk Basa Batuah. Kan baju adat (yang dipakai) asal Tanah Datar, baju adat dari kampung bapaknya,&#8221; kata Alex dihubungi <strong>langgam.id</strong>, Selasa (17/8/2021).</p>
<p><strong>Baca juga: <a href="https://langgam.id/bacakan-teks-proklamasi-puan-kenakan-tingkuluak-balenggek-khas-lintau/">Bacakan Teks Proklamasi, Puan Kenakan Tingkuluak Balenggek Khas Lintau</a></strong></p>
<p>Alex mengungkapkan, dengan Puan Maharani memakai pakaian adat Minangkabau tentunya memiliki filosofi sejarahnya. &#8220;Ada sejarahnya, ikatan emosional,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Bupati Tanah Datar, Eka Putra mengapresiasi Puan Maharani yang telah memakai pakaian adat Tanah Datar.</p>
<p>&#8220;Mbak Puan itu berdarah Minang, ayahnya berasal dari Nagari Sabu, Tanah Datar. Bisa jadi, itu adalah bentuk ikatan emosional beliau dengan Tanah Datar. Wajar beliau memakai pakaian Tanah Datar,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Eka menyebutkan secara tidak langsung, Puan juga membantu mempromosikan tingkuluak balenggek. Ia pun mengucapkan terima kasih.</p>
<p>&#8220;Terimakasih dan semoga hal ini membuat pakaian adat yang ada di Tanah Datar bisa dilestarikan dan semakin dikenal,&#8221; tuturnya.</p>
<p><iframe title="Kembali Menang Tantangan MasterChef, Adi: Kok Saya Lagi Chef, Tak Ada yang Lain" width="500" height="281" src="https://www.youtube.com/embed/bJ00ne_cphs?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/puan-maharani-pakai-tingkuluak-balenggek-saat-hut-ri-pdip-ikatan-emosional/">Puan Maharani Pakai Tingkuluak Balenggek Saat HUT RI, PDIP: Ikatan Emosional</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">122696</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Puan Kenakan Tingkuluak Balenggek, Bupati Tanah Datar Sampaikan Pesan Ini</title>
		<link>https://langgam.id/puan-kenakan-tingkuluak-balenggek-bupati-tanah-datar-sampaikan-pesan-ini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2021 04:31:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[HUT RI ke-76]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian Adat Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Tanah Datar]]></category>
		<category><![CDATA[Utama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=122682</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Bupati Tanah Datar Eka Putra, mengapresiasi Ketua DPR RI Puan Maharani yang memakai tingkuluak balenggek khas Lintau saat membacakan teks proklamasi pada Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Negara Selasa (17/8/2021). &#8220;Khusus tutup kepala itu namanya tingkuluak balenggek, salah satu pakaian khas Lintau, Tanah Datar,&#8221; ujar Eka Putra. &#8220;Mbak Puan itu berdarah Minang, ayahnya berasal dari Nagari Sabu, Tanah Datar. Bisa jadi, itu adalah bentuk ikatan emosional beliau dengan Tanah Datar. Wajar beliau memakai pakaian Tanah Datar,&#8221; sambung bupati. Baca juga: Bacakan Teks Proklamasi, Puan Kenakan Tingkuluak Balenggek Khas Lintau Di sisi lain, menurut Eka, dipakainya</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/puan-kenakan-tingkuluak-balenggek-bupati-tanah-datar-sampaikan-pesan-ini/">Puan Kenakan Tingkuluak Balenggek, Bupati Tanah Datar Sampaikan Pesan Ini</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Bupati Tanah Datar Eka Putra, mengapresiasi Ketua DPR RI Puan Maharani yang memakai tingkuluak balenggek khas Lintau saat membacakan teks proklamasi pada Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Negara Selasa (17/8/2021).</p>
<p>&#8220;Khusus tutup kepala itu namanya tingkuluak balenggek, salah satu pakaian khas Lintau, Tanah Datar,&#8221; ujar Eka Putra.</p>
<p>&#8220;Mbak Puan itu berdarah Minang, ayahnya berasal dari Nagari Sabu, Tanah Datar. Bisa jadi, itu adalah bentuk ikatan emosional beliau dengan Tanah Datar. Wajar beliau memakai pakaian Tanah Datar,&#8221; sambung bupati.</p>
<p><strong>Baca juga: <a href="https://langgam.id/bacakan-teks-proklamasi-puan-kenakan-tingkuluak-balenggek-khas-lintau/">Bacakan Teks Proklamasi, Puan Kenakan Tingkuluak Balenggek Khas Lintau</a></strong></p>
<p>Di sisi lain, menurut Eka, dipakainya tingkuluak balenggek oleh Puan Maharani telah membantu mempromosikan pakaian adat Tanah Datar. &#8220;Terimakasih dan semoga hal ini membuat pakaian adat yang ada di Tanah Datar bisa dilestarikan dan semakin dikenal,&#8221; pungkas Eka.</p>
<p>Sementara itu, diberi kepercayaan membacakan teks proklamasi bukanlah sebuah kebetulan bagi Puan. Ia mengaku, hal tersebut memiliki makna tersendiri baginya.</p>
<p>“Saya termasuk orang yang tidak percaya begitu saja akan sebuah kebetulan, bahwa kakek saya saat itu yang didaulat membacakan teks proklamasi dan 76 tahun kemudian cucu perempuannya yang didaulat untuk membacakan teks yang sama,” kata Puan di Jakarta, Selasa (17/8/2021) dilansir dari laman <a href="https://www.dpr.go.id/berita/detail/id/34124/t/Baca+Teks+Proklamasi%2C+Puan+Maharani+Renungi+Perjuangan+Sang+Kakek+76+Tahun+Lalu">Setjen DPR</a>. <strong>(Hijrah)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/puan-kenakan-tingkuluak-balenggek-bupati-tanah-datar-sampaikan-pesan-ini/">Puan Kenakan Tingkuluak Balenggek, Bupati Tanah Datar Sampaikan Pesan Ini</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">122682</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Bacakan Teks Proklamasi, Puan Kenakan Tingkuluak Balenggek Khas Lintau</title>
		<link>https://langgam.id/bacakan-teks-proklamasi-puan-kenakan-tingkuluak-balenggek-khas-lintau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nabila Hanum]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2021 04:11:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[HUT RI ke-76]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian Adat Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Tanah Datar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=122674</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Ketua DPR RI Puan Maharani dipercaya menjadi pembaca Teks Proklamasi dalam Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Negara, Jakarta, Selasa (17/8/2021). Puteri presiden kelima Indonesia Megawati Seokarnoputri itu tampak mengenakan pakaian adat Minangkabau tepatnya daerah Lintau, Kabupaten Tanah Datar dengan ciri khas tingkuluak balenggek berwarna merah. Hal tersebut dibenarkan oleh Sosiolog dan Budayawan Sativa Sutan Aswar atau yang akrap disapa Atice. Menurutnya, tingkuluak balenggek yang dipakai Puan adalah ciri khas dari pakaian adat Lintau, Tanah Datar. &#8220;Tingkuluak balenggek itu benar. Tapi kalau dilihat di donnya itu ada tambahan kain itu bukan dari Lintau. Bajunya juga bukan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/bacakan-teks-proklamasi-puan-kenakan-tingkuluak-balenggek-khas-lintau/">Bacakan Teks Proklamasi, Puan Kenakan Tingkuluak Balenggek Khas Lintau</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Ketua DPR RI Puan Maharani dipercaya menjadi pembaca Teks Proklamasi dalam Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Negara, Jakarta, Selasa (17/8/2021).</p>
<p>Puteri presiden kelima Indonesia Megawati Seokarnoputri itu tampak mengenakan pakaian adat Minangkabau tepatnya daerah Lintau, Kabupaten Tanah Datar dengan ciri khas tingkuluak balenggek berwarna merah.</p>
<p>Hal tersebut dibenarkan oleh Sosiolog dan Budayawan Sativa Sutan Aswar atau yang akrap disapa Atice. Menurutnya, tingkuluak balenggek yang dipakai Puan adalah ciri khas dari pakaian adat Lintau, Tanah Datar.</p>
<p>&#8220;Tingkuluak balenggek itu benar. Tapi kalau dilihat di donnya itu ada tambahan kain itu bukan dari Lintau. Bajunya juga bukan khas Lintau,&#8221; kata Atice saat dihubungi Langgam.id, Selasa (17/8/2021).</p>
<p><strong>Baca juga: <a href="https://langgam.id/mengenal-tingkuluak-balenggek-penutup-kepala-bangsawan-lintau-yang-dipakai-aurel/">Mengenal &#8220;Tingkuluak Balenggek&#8221;, Penutup Kepala Bangsawan Lintau yang Dipakai Aurel</a></strong></p>
<p>Menurutnya, saat ini memang banyak pakaian adat Minang yang juga melenceng dari ketentuan aslinya.</p>
<p>Sementara itu, diberi kepercayaan membacakan teks proklamasi bukanlah sebuah kebetulan bagi Puan. Ia mengaku, hal tersebut memiliki makna tersendiri baginya.</p>
<p>&#8220;Saya termasuk orang yang tidak percaya begitu saja akan sebuah kebetulan, bahwa kakek saya saat itu yang didaulat membacakan teks proklamasi dan 76 tahun kemudian cucu perempuannya yang didaulat untuk membacakan teks yang sama,” kata Puan di Jakarta, Selasa (17/8/2021) dilansir dari laman <a href="https://www.dpr.go.id/berita/detail/id/34124/t/Baca+Teks+Proklamasi%2C+Puan+Maharani+Renungi+Perjuangan+Sang+Kakek+76+Tahun+Lalu">Setjen DPR</a>.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/bacakan-teks-proklamasi-puan-kenakan-tingkuluak-balenggek-khas-lintau/">Bacakan Teks Proklamasi, Puan Kenakan Tingkuluak Balenggek Khas Lintau</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">122674</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ragam Aksesoris Pengantin Wanita Minang yang Penuh Makna</title>
		<link>https://langgam.id/ragam-aksesoris-pengantin-wanita-minang-yang-penuh-makna/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 May 2021 05:32:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian Adat Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=106092</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Ranah Minang selain terkenal dengan kenikmatan makanannya, juga memiliki kebudayaan yang sangat unik. Kebudayaan yang tumbuh subur sejak masa silam tersebut tetap terjaga dengan baik hingga kini. Salah satu pesona kebudayaan yang ada di Minang adalah pakaian pernikahan tradisionalnya. Pakaian pernikahan di adat Minang terkenal dengan suntiang yang dipakai mempelai perempuan. Berat suntiang digadang-gadang mencapai 8 kilogram. Selain suntiang, pakaian pernikahan adat Minang juga identik dengan warga emas dan merah. Bukan tanpa sebab, penggunaan suntiang dan warna dominan tersebut memiliki makna tersendiri dalam kebudayaan Minang. Pakaian pengantin wanita Pakaian pengantin perempuan di Minang dibagi menjadi dua, yakni daerah</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ragam-aksesoris-pengantin-wanita-minang-yang-penuh-makna/">Ragam Aksesoris Pengantin Wanita Minang yang Penuh Makna</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><strong>Langgam.id</strong></a> &#8211; Ranah Minang selain terkenal dengan kenikmatan makanannya, juga memiliki kebudayaan yang sangat unik. Kebudayaan yang tumbuh subur sejak masa silam tersebut tetap terjaga dengan baik hingga kini.</p>
<p>Salah satu pesona <a href="http://sumbarprov.go.id">kebudayaan</a> yang ada di Minang adalah pakaian pernikahan tradisionalnya. Pakaian pernikahan di adat Minang terkenal dengan suntiang yang dipakai mempelai perempuan. Berat suntiang digadang-gadang mencapai 8 kilogram.</p>
<p>Selain suntiang, pakaian pernikahan adat Minang juga identik dengan warga emas dan merah. Bukan tanpa sebab, penggunaan suntiang dan warna dominan tersebut memiliki makna tersendiri dalam kebudayaan Minang.</p>
<p><strong>Pakaian pengantin wanita</strong><br />
Pakaian pengantin perempuan di Minang dibagi menjadi dua, yakni daerah pesisir dan pegunungan. Sosiolog dan budayawan Sativa Sutan Aswar mengatakan, untuk daerah pesisir seperti Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, dan Pariaman, biasanya mempelai wanita menggunakan suntiang.</p>
<p><a href="https://langgam.id/mengenal-tingkuluak-balenggek-penutup-kepala-bangsawan-lintau-yang-dipakai-aurel/"><strong>Baca juga: Mengenal Tingkuluak Balenggek, Penutup Kepala Bangsawan Lintau yang Dipakai Aurel</strong></a></p>
<p>Sedangkan untuk daerah pegunungan, mempelai wanita menggunakan tingkuluak. &#8220;Daerah pegunungan itu menggunakan tingkuluak, hanya saja penamaannya di tiap daerah tentu berbeda. Tingkuluak itu hanya bisa digunakan oleh bangsawan atau orang yang ditinggikan di daerah tersebut,&#8221; katanya dalam wawancara dengan Langgam.id, Selasa (23/3/2021).</p>
<p>Pada zaman dahulu, suntiang bisa terdiri sampai 13 tingkatan. Namun, pengantin modern kebanyakan memakai hanya sampai 9 atau 11 tingkatan yang beratnya ini bisa mencapai 1 sampai 5 kg.</p>
<p>Dilansir dari wikipedia, rangkaian mahkota ini terdiri dari beberapa lapisan. Lapisan pertama adalah suntiang ketek sebanyak tujuh tingkat yang melambangkan budi pekerti dan sopan santun. Kemudian, untaian bunga melati dibubuhkan sebagai lambang kedamaian.</p>
<p>Setelah itu, satu tingkat lagi ditambahkan yang biasa disebut mansi-mansi. Bagian ini terdiri dari sarai sarumpun dan beberapa tingkat suntiang gadang yang berjumlah ganjil, serta melambangkan kedewasaan dan kebijaksanaan. Di bagian paling atas barulah disusun deretan kembang goyang.</p>
<p>Dua macam perhiasan juga menjadi hiasan kepala yang biasa disematkan. Yang pertama adalah hiasan yang menjuntai di kanan dan kiri yang disebut kote-kote, sedangkan penghias yang berbentuk seperti kalung diletakkan di dahi dan disebut laca.</p>
<p>Suntiang sendiri adalah kombinasi dari beberapa pengaruh budaya luar di tempo dulu. Misalnya, aplikasi sulaman pada busana maupun pelaminan adalah pengaruh budaya Cina, sedangkan busana mempelai pria yang menggunakan celana tujuh per delapan dan berkaos kaki panjang mengambil unsur kekhasan budaya Spanyol dan Portugis.</p>
<p>Pada kenyatannya, ada banyak jenis mahkota pengantin pesisir lainnya, seperti suntiang pisang saparak, suntiang tanduk, dan sebagainya. Namun, suntiang dari Padang pesisir dianggap paling menarik dan semakin popular di tahun 1960-an. Oleh karena itu, suntiang pesisir seperti dinasionalisasikan sebagai Minang.</p>
<p>Sedangkan, mahkota pengantin daerah pegunungan biasa menggunakan yang disebut tingkuluak. Seperti di daerah Koto Gadang, mempelai wanita menggunakan Tingkuluak Talakuang. Berbentuk kerudung, tingkuluak talakuang biasanya terbuat dari kain beludru bersulam emas. Kerudung ini aslinya adalah pengaruh dari Gujarat.</p>
<p>Selain dari Koto Gadang, pengantin dari Solok juga mengenakan tingkuluak yang disebut dengan tingkuluak tanduak. Bedanya, kain songket dibentuk menyerupai tanduk dan dijadikan mahkota pada kepala mempelai perempuan.</p>
<p><strong>Atribut Lainnya<br />
</strong>Baik daerah pesisir maupun pegunungan, pengantin perempuannya mengenakan baju kurung. Kostum ini merupakan hasil akulturasi agama Islam dan budaya Minangkabau.</p>
<p><a href="https://langgam.id/kenali-makna-pakaian-bundo-kanduang-di-minangkabau/"><strong>Baca juga: Kenali Makna Pakaian Bundo Kanduang di Minangkabau</strong></a></p>
<p>Berpotongan longgar dan panjang menutupi lekuk tubuh, baju kurung dimaksudkan sebagai simbol untuk menjaga harga diri dan martabat perempuan sebagai calon ibu yang niscaya juga akan menjaga nama baik keluarga.</p>
<p>Namun, banyak mempelai masa kini yang mengombinasikan suntiang dengan kebaya Melayu belah tengah. Pada praktik otentiknya, kebaya ini sebenarnya lebih identik dipakai oleh perempuan yang sudah menikah sebagai busana bepergian.</p>
<p>Berbagai perhiasan juga turut mempercantik calon perempuan, di antaranya gelang garobah yang berukuran besar, gelang pilin kepala bunting. Kemudian gelang kareh emas, serta cincin berlian, cincin bermata tuju, cincin bermata lima, cincin rotan, hingga cincin kankuang.<strong>(*/Ela)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ragam-aksesoris-pengantin-wanita-minang-yang-penuh-makna/">Ragam Aksesoris Pengantin Wanita Minang yang Penuh Makna</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">106092</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Memahami Pedusi Minangkabau</title>
		<link>https://langgam.id/memahami-pedusi-minangkabau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yose Hendra]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Apr 2021 07:58:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian Adat Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=100339</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Suatu hari yang bergelimang cahaya, saya menyambangi rumah berkonstruksi panjang dengan pagar diselimuti tanaman pekarangan, di kawasan Lapai, Padang. Di ruang tengah, seorang perempuan tua empunya rumah tengah duduk di sofa. Baju kuruang basiba— pakaian pedusi Minang, membungkus sekujur tubuhnya, dengan paduan kerudung hitam menutup kepala, hal yang menegaskan dia adalah perempuan yang menjunjung tinggi cara berpakaian sesuai adat dan tradisi Minang. Puti Raudha Thaib atau Buk (Bundo) Upik, begitu dia dikenal banyak orang, wajar bila baju bakuruang basiba amat lekat dengan kesehariannya, sebab dia adalah pewaris Kerajaan Pagaruyung dengan nama pada ranji, Puti Reno Raudhatul Jannah Thaib.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/memahami-pedusi-minangkabau/">Memahami Pedusi Minangkabau</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="p1"><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Suatu hari yang bergelimang cahaya, saya menyambangi rumah berkonstruksi panjang dengan pagar diselimuti tanaman pekarangan, di kawasan Lapai, Padang. Di ruang tengah, seorang perempuan tua empunya rumah tengah duduk di sofa. Baju kuruang basiba— pakaian pedusi Minang, membungkus sekujur tubuhnya, dengan paduan kerudung hitam menutup kepala, hal yang menegaskan dia adalah perempuan yang menjunjung tinggi cara berpakaian sesuai adat dan tradisi Minang.</p>
<p class="p1">Puti Raudha Thaib atau Buk (Bundo) Upik, begitu dia dikenal banyak orang, wajar bila baju bakuruang basiba amat lekat dengan kesehariannya, sebab dia adalah pewaris Kerajaan Pagaruyung dengan nama pada ranji, Puti Reno Raudhatul Jannah Thaib.</p>
<p class="p1">Ia terlahir dari pasangan Muhammad Thaib Datuk Penghulu Basa dan Puti Reno Disma Yang Dipertuan Gadih Gadang.</p>
<p class="p1">Sebab itu, Puti Raudha Thaib tak bisa mengelak dari takdir, sebagai <i>limpapeh rumah gadang, persisnya Istano Salinduang Bulan— </i>rumah gadangnya pewaris Pagaruyung.</p>
<p class="p4">Limpapeh dalam tafsiran adat digambarkan bahwasannya wanita Minangkabau yang mendiami rumah gadang, adalah wanita yang dihormati<span class="Apple-converted-space">  </span>atau ditinggikan (atau anjuang yakni bagian yang ditinggikan pada rumah gadang) di setiap kaum.</p>
<p class="p1">Seringkali mereka disebut bundo kanduang atau mande sako. Gelar mutlak milik perempuan sekaligus ‘hierarki’ tertinggi dalam struktur etnis penganut sistem matrilineal; garis kekerabatan atau keturunan yang berlaku di Minangkabau.</p>
<p class="p5">“Mande Sako di Istano Salinduang Bulan ada 6 orang, tapi didahulukan selangkah saya,” ujar Raudha Thaib.</p>
<p class="p1">Dewasa ini, Raudha Thaib memainkan peran sebagai <i>bundo kanduang</i> pada dua arus dengan muara yang nyaris sama. Pada pewaris Kerajaan Pagaruyung, dia menjadi limpapeh Istano Salinduang Bulan, dalam pengertian bundo kanduang atau mande sakonya. Sementara di organisasi Bundo Kanduang Sumatra Barat, dia menjadi ketua dengan rentang waktu hingga tahun 2021.</p>
<p class="p1">Dia representasi dari pewaris Pagaruyuang karena kedalamannya memahami soal adat dan nilai-nilai Minang. Di internal Pagaruyung, dia menjadi mandeh sako yang didahulukan selangkah, dalam pengertian tempat bertanya, dan tempat berembuk (baiyo).</p>
<p class="p5">Sultan dr. H. Muhammad Farid Thaib Tuanku Abdul Fatah yang menyandang gelar Raja Alam Minangkabau Pagaruyung Darul Qorror adalah adik Raudha Thaib. Bukan sekedar kakak, bagi Sang Raja, Raudha Thaib adalah muara pengaduan, sekaligus tempat bertanya untuk urusan Paguruyung.</p>
<p class="p1">Raudha Thaib adalah perempuan yang sulit ditafsirkan tunggal dalam konteks rutinitasnya. Dia adalah Guru Besar Pertanian Universitas Andalan, dengan keahlihan benih. Di kalangan budayawan dan sastrawan, dia dikenal dengan sebutan Upita Agustine, dengan seabrek karya.</p>
<p class="p1">Istri mendiang budayawan Wisran Hadi ini, bukan hanya produktif menulis proses kreatif melainkan juga pokok pikirannya tentang adat dan budaya Minang melalui sebaran artikel di koran-koran, dituangkan ke dalam buku, hingga nyinyir di berbagai forum yang tidak berhenti hingga detik ini.</p>
<p class="p1">Purna tugas sebagai Guru Besar Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Padang, hari-hari Puti Raudha Thaib bukannya lapang dengan aktivitas santai, malah kesibukan sejibun.</p>
<p class="p1">Di pundaknya marwah pedusi Minangkabau terus ditarik ke trek yang benar sebagaimana terpatri dalam adat.</p>
<p class="p1">Alkisah, seorang perempuan paruh baya mengetok pagar Raudha Thaib, menjelaskan maksudnya yakni minta mukenah.</p>
<p class="p1">“Minta mukenah bundo, mukenah saya sudah buruk,” pinta perempuan itu.</p>
<p class="p1">Lantas Puti Raudha Thaib mempersilahkan masuk. Lalu, mengambil mukenah yang ada untuk diberikan ke perempuan tersebut.</p>
<p class="p1">Kejadian nyata di depan mata ini, menjadi sumber empiris mendefenisikan arti sesungguhnya Bundo Kanduang dalam alam Minangkabau; sebagai <i>tampaik batanyo </i>(tempat bertanya) dan <i>tampaik mangadu</i> (tempat mengadu).</p>
<h2 class="p1">Membentangkan Mandeh Sako, dan Menakar Perjuangan Kartini</h2>
<p class="p1">Hari ini, Rabu (21/4/2021), selalu diperingati sebagai Hari Kartini, penanggalan untuk mengingatkan kembali perjuangan Kartini memperjuangkan emansipasi wanita di masa kolonial.</p>
<p class="p1">Kartini, lahir di Jepara 21 April 1879, adalah seorang perempuan Jawa. Menyimak sepak terjang perjuangannya, erat berbasiskan kultur Jawa, yang oleh seorang Indonesianis— Jeffrey Hadler, mengutip identifikasi pakar-pakar kolonial Belanda, bercirikan feodal, involutif, dan sinkretik keagamaannya.</p>
<p class="p1">Orang Minang sendiri dianggap dinamik, berwawasan ke luar, dan bertauhid.</p>
<p class="p1">Kartini pada akhirnya dikenang sebagai perempuan yang memperjuangkan emansipasi karena surat-surat yang dia tulis, meski kenyataannya tidak bisa melepaskan jeratan budaya yang ada saat itu.</p>
<p class="p1">Sisi lain, perempuan Minang dalam konsep matrilineal, sebagaimana disebutkan Raudha Thaib, memberi ruang selebar-lebarnya untuk memimpin, mengatur banyak hal dalam rumah gadang secara internalisasi, dan kaum lebih luas lagi.</p>
<p class="p4">Memahami Minangkabau, mungkin bisa dilihat secara sederhana dari sebuah perkawinan. Matrilokal menjadi sifat dasar perkawinan, dimana posisi suami tidak terlalu kuat atau dengan pengistilahan—abu di atas tungku.</p>
<p class="p5">Suami tinggal di rumah istri, atau kalau pun kemudian membangun rumah, seringkali atas nama istri. Sehingga posisi perempuan berada pada zona aman.</p>
<p class="p5">Misal kalau terjadi pertengkaran, maka laki-laki yang pergi. Namun untuk kembali (rujuk), maka niniak mamak mengantarkan kembali sang suami.</p>
<p class="p5">Konsep demikian, memiliki visi bagaimana anak tidak terlantar ketika terjadi pertengkaran berujung perceraian. Setidaknya anak masih punya tempat berlindung yakni rumah.</p>
<p class="p4">Dalam genealogis sebuah kaum, penghulu dan pejabat dapat diwariskan berdasarkan matrilineal— dari mamak ke kemenakan.</p>
<p class="p4">Di sini, perempuan ditempatkan pada posisi yang kuat, bukan di ruang yang lemah.</p>
<p class="p1">Pada tatanan lebih luas, Minangkabau sendiri sekumpulan kampung atau nagari-nagari sebagai politas inti, tentu saja menjadi <i>adaik salingka nagari.</i> Meski Pagaruyung dicaps sebagai kerajaan yang berbasis di Minangkabau, namun kekuasaan tidak terpusat di sana. Inilah konsep demokrasi Minangkabau sesungguhnya.</p>
<p class="p1">Dalam catatan sejarah, di masa Kartini mencurahkan perasaan tentang ketersiksaan, nyaris di zaman yang sama, para perempuan Minang melakukan gebrakan-gebrakan menuntut egaliter di pelbagai bidang secara intelektual.</p>
<p class="p1">Rahma el Yunisiah di bidang pendidikan, mendirikan Perguruan Diniyyah Puteri pada 1 November 1923, Rohana Kudus tercatat menjadi jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Pada 10 Juli 1912, dia memimpin koran Sunting Melayu. Kemudian Siti Manggopoh, pejuang perempuan yang menentang pemberlakuan pajak (belasting) di kampungnya.</p>
<p class="p5">Menurut Raudha Thaib, hal yang substansial diambil dari Kartini adalah kepandaiannya menulis, menuangkan pikiran dalam tulisan.</p>
<p class="p5">“Ini literasi. Bisa mengatakan keluhannya di masa itu, impiannya, yang terpikirkan ke kawan-kawan. Ide-ide bisa dituangkan, sebagian bisa dilaksanakan. Dalam zaman modern, literasi sangat penting,” terangnya.</p>
<p class="p5">Menjabat sebagai bundo kanduang, literasi pula kemudian menjadi jalan yang diambil Raudha Thaib. Dia memfokuskan diri meliterasi perempuan Minang dengan nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau.</p>
<p class="p5">Dari perspektif Minangkabau dengan konsep matrilineal, Raudha Thaib menegaskan, sebenarnya<span class="Apple-converted-space">  </span>memberi ruang dan kedudukan bagi perempuan dengan posisi sangat strategis, seimbang dan berimbang, seperti dua sisi mata uang.</p>
<p class="p5">Dia mengibaratkan, perempuan menjadi pucuk tertinggi dalam sebuah manajemen, atau dalam konteks adat Minang disebut limbago; nan tumbuh (cupak usali/ asli) yang membusar dari masyarakat adat atau kaum yang masih ada.</p>
<p class="p5">Membedakan dengan lembaga modern adalah soal genealogis.<span class="Apple-converted-space">  </span>Kalau lembaga adalah organisasi yang dibuat kemudian, siapa pun bisa membuatnya, atau dengan bahasa lain tidak berdasarkan keturunan.</p>
<p class="p5">Sementara limbago berdasarkan sistem matrilineal. Raudha memaparkan, paling rendah unit masyarakat adalah limbago kaum/ suku. Di dalam limbago kaum, sebutnya, ada 3 institusi yakni, <i>pertama,</i> mande sako (bundo kanduang). <i>Kedua,</i> mamak, terdiri dari 8 posisi dengan pembagian 4 jiniah yakni penghulu, manti, malin, dubalang. Lalu di bawah malin ada jiniah yang barampek (4) yakni imam, khatib, bilal, kadih. <i>Ketiga,</i> kemenakan.</p>
<p class="p5">Dalam manajemen atau limbago tersebut, ungkap Raudha Thaib, mande sako pemilik dari seluruh aset kaum seperti rumah gadang (pemegang kunci rumah gadang), tapian tampek mandi, sawah ladang, pandam pakuburan, gala sako.</p>
<p class="p5">“Dalam manajemen masa kini seperti perusahaan, perempuan adalah Presiden Komisararis. Sehingga dia adalah basis atau penjaga moral. Sementara laki-laki adalah direksi/ pelaksana. Siapa yang mengangkat direksi? Mande sako berdasarkan ranji matrilineal,” kata Raudha Thaib.</p>
<p class="p5">Kewenangan mande sako dalam perspektif manajemen modern, sangat kuat. Dia yang hanya boleh memberhentikan penghulu (Dirut), manti (Direktur Administrasi), malin (Direktur Agama), dubalang (Direktur Keamaann). Lalu, mande sako mengangkat semuanya berdasarkan sistem matrilineal.</p>
<p class="p5">“Kalau pimpinan kaum salah (ada dua kesalahan berat yakni membunuh orang, berzina), mande sako bisa bilang (bakuluih)— perkataan tegas dengan nada tidak menghormati seperti umpatan, ‘ang buka baju ang, ang again ka adiak ang’ (buka baju kau—penghulu, kasih ke adik mu),” beber Raudha Thaib.</p>
<p class="p5">Sosok bundo (bunda) dalam konsep matrilineal, menempatkan pedusi berada pada basis moral, pengawal moral. Sementara laki-laki pada basis hukum, pelaksana.</p>
<h2 class="p5">Literasi Pedusi Minang</h2>
<p class="p4">Selain bundo kanduang atau mande sako di lingkungan Pagaruyung, sejak tahun 2010, Mubes ke-9 LKAAM dan ke-7 Bundo Kanduang Sumatra Barat pada bulan Juni 2010, menetapkan Puti Reno Raudha Thaib sebagai Ketua Umum Bundo Kanduang Sumatera Barat yang ke-7, menggantikan Nur Ainas Abidzar.</p>
<p class="p5">Raudha Thaib mengatakan, pada periode kedua dia kembali terpilih sehingga akan menjabat hingga tahun 2021.</p>
<p class="p5">Di samping itu, tahun 2016 lalu, dia ditunjuk menjadi Ketua Dewan Pimpinan Pusat Bundo Kanduang Alam Minangkabau. Organisasi pertama yang dibentuk di Padang tahun 2016 ini, mengakomodir siapa pun perempuan yang berdarah Minang di dunia ini, menjadi bagian integral di dalamnya.</p>
<p class="p1">Ini semakin menguatkan peran perempuan kelahiran Pagaruyung, Tanah Datar, 31 Agustus 1947 ini, dalam menjaga adat Minangkabau dari sisi keperempuan—bundo kanduang.</p>
<p class="p5">Namun, pekerjaan rumah yang begitu banyak menantinya. Raudha Thaib gusar ketika melihat realitas sekarang, adat dan budaya Minang sudah menjauh dari sisi orang Minang sendiri, terutama kaum perempuan.</p>
<p class="p5">Paling gamblang adalah cara berpakaian. Di gelanggang nan ramai, pedusi Minang tidak berbeda dengan perempuan lain di Indonesia. Batas karakteristiknya kian menipis.</p>
<p class="p5">Berpakaian ketat, tanpa penutup kepala atau kerudung, hingga gestur yang tidak berkaidahkan nilai-nilai perempuan.</p>
<p class="p5">Menurut Raudha Thaib, pakaian dari perspektif adat Minang menandakan keselarasan (apakah Koto Piliang atau Bodhi Chaniago), hingga menunjukkan asal dan rumah gadanganya.</p>
<p class="p5">Perbedaan mencolok terlihat pada pakaian pengantin. Menurutnya, ada sekitar 500-an jenis pakaian pengantin di Minang. Angka demikian merujuk pada jumlah nagari tradisional yang ada di Minang.</p>
<p class="p5">“Untuk saat ini, saya sudah identifikasi 206 pakaian. Barusan sudah dibukukan,” kata Raudha yang menulis <i>Pakaian Adat Perempuan Minangkabau, Pelaminan Minangkabau, dan lainnya.</i></p>
<p class="p5">Dia menjelaskan, konsep pakaian perempuan Minang pada dasarnya terdiri dari 4 komponen yakni baju kurung basiba (lapang); kain kodek (seperti kain sarung), tutup kepala, dan kain selendang.</p>
<p class="p5">“4 unsur ini wajib. Apakah pakaian adat dan pengantin, pakaian harian minimal pakai baju kuruang basiba. Konsepnya menutup aurat, tidak sempit, tidak jarang (transparan), dan tidak menyerupai laki-laki, tidak membungkus badan, tapi menutup aurat,” tukasnya.</p>
<p class="p5">Pakaian adat adalah kunci menjaga marwah perempuan.</p>
<p class="p5">Dikatakannya, baju kuruang basiba adalah dasar pakaian adat Minang. Namun dia menyayangkan, orang Minang hari ini kebablasan atau cenderung mengubah. Pakaian pengantin banyak dimodifikasi secara liar.</p>
<p class="p5">“Jepang identik dengan negara modern, tidak pernah memodifikasi kimono, India pun demikian dengan pakaian sarinya. Nah orang Minang sekarang, pakaian pengantin banyak menghilangkan dua komponen utama yakni baju kuruang basiba dan kodek diganti dengan longdress,” ungkapnya.</p>
<p class="p5">Terkait dengan masalah pakaian itu, di setiap kesempatan dia selalu mengutarakannya. Sisi lain, sebagai bundo kanduang dalam konteks organisasi, dia terus memperkuat mande sako di dalam kaum.</p>
<p class="p5">Menurutnya,<span class="Apple-converted-space">  </span>yang menjadi persoalan mande sako hari ini adalah<span class="Apple-converted-space">  </span>ketidak mengertian dengan posisinya, fungsinya dan kekuatannya.</p>
<p class="p5">“Maka itu, saya sering katakan, kalau ndak diajak baiyo (berembuk), jangan buka pintu rumah gadang. Itulah matrilineal. Jangankan kunci, menentukan semua perkara dalam rumah gadang dan kaum itu adalah mande sako (bahasa minang, paruik mande sako).<span class="Apple-converted-space">  </span>Itu ranji matrilineal. Tidak ada apak (laki-laki),” bebernya.</p>
<p class="p5">Bagaimana pun, rancaknya rumah gadang karena kuatnya karakter perempuan, terhormatnya kaum karena pandainya bundo kanduang merawat kaum, dan eloknya nagari karena para perempuannya memainkan fungsi dengan signifikan.</p>
<p class="p5">Kemudian, dia terus melakukan upaya penguatan dengan mendidik bundo kandung (mande sako), melalui Musda Bundo Kandung tingkat kabupaten, lalu mendorong mande sako (bundo kanduang kaum) duduk di bidang harian dalam organisasi bundo kanduang.</p>
<p class="p5">Dia pun punya niat membuat pusat pelatihan atau pembekalan tentang adat dan budaya Minang.</p>
<p class="p5">“Adat Minangkabau dengan kekerabatan matrilineal, memberi ruang yang dibutuhkan perempuan kini dan masa depan. Tapi perempuan itu mesti melihat ruang itu kembali,” pungkasnya.</p>
<p class="p5">Untuk itu, dia berpesan ke anak muda, pelajari tokoh perempuan di negeri kita.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/memahami-pedusi-minangkabau/">Memahami Pedusi Minangkabau</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">100339</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mengenal &#8220;Tingkuluak Balenggek&#8221;, Penutup Kepala Bangsawan Lintau yang Dipakai Aurel</title>
		<link>https://langgam.id/mengenal-tingkuluak-balenggek-penutup-kepala-bangsawan-lintau-yang-dipakai-aurel/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2021 03:42:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian Adat Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Tanah Datar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=95975</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Pasangan Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah beberapa waktu lalu baru saja melangsungkan sesi foto prewedding. Dalam sesi foto itu, mereka tampak serasi mengenakan pakaian adat Lintau, Tanah Datar. Dengan pakaian bernuansa hijau, Aurel tampak mengenakan &#8220;tingkuluak balenggek&#8221; dan selendang tenun yang dipakai menyamping. Sedangkan Atta tampak mengenakan &#8220;roki&#8221; (baju pengantin laki-laki) bernuansa hijau. Dipadukan dengan &#8220;saluak&#8221; berwarna merah. Sosiolog dan budayawan Sativa Sutan Aswar mengatakan, &#8220;tingkuluak balenggek&#8221; memang merupakan salah satu ciri khas pakaian adat Lintau, Tanah Datar. Namun, berdasarkan aturan adat, &#8220;tingkuluak balenggek&#8221; hanya bisa digunakan oleh orang yang ditinggikan di adat. &#8220;Biasanya yang pakai itu bangsawat</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengenal-tingkuluak-balenggek-penutup-kepala-bangsawan-lintau-yang-dipakai-aurel/">Mengenal &#8220;Tingkuluak Balenggek&#8221;, Penutup Kepala Bangsawan Lintau yang Dipakai Aurel</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><strong>Langgam.id</strong></a> &#8211; Pasangan Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah beberapa waktu lalu baru saja melangsungkan sesi foto prewedding. Dalam sesi foto itu, mereka tampak serasi mengenakan pakaian adat Lintau, <a href="https://www.facebook.com/humas.tanahdatar.7">Tanah Datar</a>.</p>
<p>Dengan pakaian bernuansa hijau, Aurel tampak mengenakan &#8220;tingkuluak balenggek&#8221; dan selendang tenun yang dipakai menyamping. Sedangkan Atta tampak mengenakan &#8220;roki&#8221; (baju pengantin laki-laki) bernuansa hijau. Dipadukan dengan &#8220;saluak&#8221; berwarna merah.</p>
<p>Sosiolog dan budayawan Sativa Sutan Aswar mengatakan, &#8220;tingkuluak balenggek&#8221; memang merupakan salah satu ciri khas pakaian adat Lintau, Tanah Datar. Namun, berdasarkan aturan adat, &#8220;tingkuluak balenggek&#8221; hanya bisa digunakan oleh orang yang ditinggikan di adat.</p>
<p>&#8220;Biasanya yang pakai itu bangsawat adat, yang statusnya lebih tinggi. Kalau rakyat biasa tidak &#8220;balenggek&#8221;, hanya satu saja,&#8221; kata perempuan yang akrab disapa Atice ini saat dihubungi Langgam.id, Senin (22/3/2021).</p>
<p>&#8220;Aurel pakai tingkuluak balenggek memang benar itu dari Lintau, tapi dalam aturan sebenarnya itu hanya bisa digunakan oleh bangsawan. Untuk pemakaian selendang juga harusnya disilang, bukan satu saja,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Atice menyebut, pemakaian &#8220;tingkuluak&#8221; memang menjadi ciri khas masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan, tak terkecuali Tanah Datar. Hanya saja penamaannya di tiap daerah tentu berbeda.</p>
<p><a href="https://langgam.id/menengok-pakaian-adat-lintau-di-prewedding-atta-dan-aurel/"><strong>Baca juga: Menengok Pakaian Adat Lintau di Prewedding Atta dan Aurel</strong></a></p>
<p>Sedangkan untuk daerah pesisir seperti Kota Padang, Pasaman, dan Pariaman, wanita biasanya menggunakan &#8220;suntiang&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ini yang orang sekarang sering salah, tidak paham. Semuanya dilanggar sekarang,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Sementara itu, menurut Atice, pakaian yang dikenakan Atta berasal dari adat Padang (pesisir) bukan daerah Lintau.</p>
<p>&#8220;Kalau yang adat Lintau asli, yang perempuannya pakai tingkuluak balenggek, yang laki-laki harusnya pakai baju datuak yang warna hitam. Kalau yang Atta pakai itu pakaian adat Padang (pesisir),&#8221; jelas Atice.</p>
<p>Menurutnya, masyarakat harus lebih paham dan taat dengan adat agar tidak ada aturan-aturan yang diubah-ubah.</p>
<p>&#8220;Makanya saya melihat sekarang ini, masyarakat Sumbar itu banyak yang melanggar adat. Adat nggak dipake, agama juga nggak dipake, jadinya kita sekarang nggak ada pegangan,&#8221; terangnya.</p>
<p>Diberitakan sebelumnya, Atta dan Aurel kompak membagikan momen foto prewedding mereka di instagram masing-masing. Sesi foto dilakukan di rumah Atta.</p>
<p>Aurel tampak anggun menggunakan riasan bold dipadukan dengan lipstik bewarna maroon. Pakaian dengan nuansa hijau ditambah selendang tenun bewarna merah menambah kesan mewah. “Cakep ya, mewah,” kata Aurel dalam salah satu vlog Atta yang tayang di channel Youtubenya, Sabtu (20/3/2021).</p>
<p>Sementara itu, Atta tampak takjub dengan pakaian yang dikenakan Aurel. Ia sebagai salah seorang berketurunan Minang, bangga bisa memperkenalkan budayanya pada calon istrinya tersebut.</p>
<p>“Wah keren banget kamu. Kami sebagai anak Minang bangga,” ujar Atta.<strong>(*/Ela)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengenal-tingkuluak-balenggek-penutup-kepala-bangsawan-lintau-yang-dipakai-aurel/">Mengenal &#8220;Tingkuluak Balenggek&#8221;, Penutup Kepala Bangsawan Lintau yang Dipakai Aurel</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">95975</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kenakan Pakaian Adat Minang, Intip Potret Prewedding Atta Halilintar dan Aurel</title>
		<link>https://langgam.id/kenakan-pakaian-adat-minang-intip-potret-prewedding-atta-halilintar-dan-aurel/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Mar 2021 06:29:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian Adat Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=95553</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah akan menggelar pernikahan April 2021. Pasangan ini kompak menggunggah foto preweddingnya melalui akun instagram pribadinya @aurelie.hermansyah dan @attahalilintar. Pada pemotretan prewedding tersebut, Aurel terlihat mengenai pakaian adat Minangkabau. Momen pemotretan tersebut dibagikan Aurel di Instagram storynya pada Jumat (19/3/2021). Pakaian adat Minang yang dikenakan Aurel bernuansa hijau, emas dan merah. Dia juga mengenakan &#8220;tingkuluak balenggek&#8221; khas adat Minang. Foto prewedding Aurel diabadikan fotografer Moza Wahyu di instagramnya @mozawahyu dan direpost Aurel. Dalam sesi foto prewedding tersebut, Aurel terlihat memakai make-up dengan konsep bold dipadukan dengan lipstik berwarna maroon. Aurel mempercayakan riasan preweddingnya tersebut</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kenakan-pakaian-adat-minang-intip-potret-prewedding-atta-halilintar-dan-aurel/">Kenakan Pakaian Adat Minang, Intip Potret Prewedding Atta Halilintar dan Aurel</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><strong>Langgam.id</strong></a> &#8211; Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah akan menggelar pernikahan April 2021. Pasangan ini kompak menggunggah foto preweddingnya melalui akun instagram pribadinya <a href="https://www.instagram.com/aurelie.hermansyah/?hl=id">@aurelie.hermansyah</a> dan <a href="https://www.instagram.com/attahalilintar/?hl=id">@attahalilintar</a>.</p>
<p>Pada pemotretan prewedding tersebut, Aurel terlihat mengenai pakaian adat Minangkabau. Momen pemotretan tersebut dibagikan Aurel di Instagram storynya pada Jumat (19/3/2021).</p>
<p>Pakaian adat Minang yang dikenakan Aurel bernuansa hijau, emas dan merah. Dia juga mengenakan &#8220;tingkuluak balenggek&#8221; khas adat Minang.</p>
<p>Foto prewedding Aurel diabadikan fotografer Moza Wahyu di instagramnya @mozawahyu dan direpost Aurel.</p>
<p>Dalam sesi foto prewedding tersebut, Aurel terlihat memakai make-up dengan konsep bold dipadukan dengan lipstik berwarna maroon. Aurel mempercayakan riasan preweddingnya tersebut kepada make-up artis La Ode Yusuf. Sedangkan untuk pakaian adat, Aurel menggunakan jasa dari Elly Kasim Collection Wedding Organizer.</p>
<p><a href="https://langgam.id/prosesi-batuka-tando-di-acara-lamaran-atta-halilintar-dan-aurel/"><strong>Baca juga: Prosesi &#8220;Batuka Tando&#8221; di Acara Lamaran Atta Halilintar dan Aurel</strong></a></p>
<p><div id="attachment_95555" style="width: 256px" class="wp-caption aligncenter"><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-95555" class=" wp-image-95555" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/03/2529977921826120130186744830_compress67.jpg?resize=246%2C308&#038;ssl=1" alt="prewedding atta aurel" width="246" height="308" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/03/2529977921826120130186744830_compress67.jpg?resize=240%2C300&amp;ssl=1 240w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/03/2529977921826120130186744830_compress67.jpg?resize=820%2C1024&amp;ssl=1 820w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/03/2529977921826120130186744830_compress67.jpg?resize=768%2C959&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/03/2529977921826120130186744830_compress67.jpg?resize=750%2C937&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/03/2529977921826120130186744830_compress67.jpg?w=1080&amp;ssl=1 1080w" sizes="(max-width: 246px) 100vw, 246px" /><p id="caption-attachment-95555" class="wp-caption-text">Foto prewedding Atta Halilintar mengenakan pakaian adat minang (foto:instagram @attahalilintar)</p></div></p>
<p>Selain Aurel, Atta Halilitar juga membagikan momen foto prewedding di akun instagramnya. Dalam foto tersebut, Atta terlihat mengenai pakaian adat Minang dengan konsep ungu dan emas.</p>
<p>Atta terlihat duduk di sebuah kursi yang ditutupi kain berwarna kuning keemasan. Ia juga mengenakan saluak bewarna merah.</p>
<p>Sebelumnya diketahui, pernikahan Atta dan Aurel memang mengusung dua konsep masing-masing, di mana Atta berasal dari Minang dan Aurel dari Jawa. Hal ini terlihat ketika prosesi “batuko tando” atau memberikan seserahan.<strong>(*/Ela)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kenakan-pakaian-adat-minang-intip-potret-prewedding-atta-halilintar-dan-aurel/">Kenakan Pakaian Adat Minang, Intip Potret Prewedding Atta Halilintar dan Aurel</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">95553</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Petuah Adat dan Aturan Main Festival Alang-alang Baradaik di Padang Panjang</title>
		<link>https://langgam.id/petuah-adat-dan-aturan-main-festival-alang-alang-baradaik-di-padang-panjang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2020 02:58:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Gelanggang Kubu Gadang]]></category>
		<category><![CDATA[Padang Panjang]]></category>
		<category><![CDATA[Pakaian Adat Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=61306</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Festival layang-layang (alang-alang) adaik baradaik (berbasis adat atau kesukuan) Padang Panjang Batipuh X Koto (Pabasko) akan dihelat di Kubu Gadang, Padang Panjang, selama 4 kali di hari Minggu, 20 September – 11 Oktober. Petuah adat dihamparkan panitia sebelum dimulainya festival ini, lengkap dengan aturan mainnya. Berikut bunyi petuah tersebut: Pelaksanaan permainan anak nagari, alang-alang baradaik caro Minangkabau. Adaik lamo pusako usang, mambangkik batang tarandam. Nan tumbuah sarupo iko kini : Dek karano alek dibuek, alang-alang kadilapeh, dicari dipatuik batuang nan sabilah, bakabuang babalah mako dirauik, ditimbang mako dikabek. Kabek arek indak bakucak, diatok mako salasai, ikua baragi pangiriangnyo.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/petuah-adat-dan-aturan-main-festival-alang-alang-baradaik-di-padang-panjang/">Petuah Adat dan Aturan Main Festival Alang-alang Baradaik di Padang Panjang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Festival layang-layang (alang-alang) <em>adaik baradaik</em> (berbasis adat atau kesukuan) Padang Panjang Batipuh X Koto (Pabasko) akan dihelat di Kubu Gadang, Padang Panjang, selama 4 kali di hari Minggu, 20 September – 11 Oktober. Petuah adat dihamparkan panitia sebelum dimulainya festival ini, lengkap dengan aturan mainnya.</p>
<p>Berikut bunyi petuah tersebut:</p>
<p><em>Pelaksanaan permainan anak nagari, alang-alang baradaik caro Minangkabau.</em></p>
<p><em>Adaik lamo pusako usang, mambangkik batang tarandam.</em></p>
<p><em>Nan tumbuah sarupo iko kini : Dek karano alek dibuek, alang-alang kadilapeh, dicari dipatuik batuang nan sabilah, bakabuang babalah mako dirauik, ditimbang mako dikabek. Kabek arek indak bakucak, diatok mako salasai, ikua baragi pangiriangnyo.</em></p>
<p><em> </em><em>Dirantang dianjuang jo banang panjang, sarantak naiak sarene babunyi, lenggok balenggok diambuih angin, sarupo buruang batabangan.</em></p>
<p><em>Salo manyalo banang diateh, sorak jo imbau samo tadanga, dipangka disalasaikan, indak ado kusuik nan indak salasai, indak ado karuah nan indak janiah, itulah baradaik caro Minang.</em><em> </em></p>
<p><em>Painyo sampai turun salamaik, itulah kirim nan indak baturuik an, pasan nan indak baunian.</em></p>
<p><em>Salo mancilam masuak awan, tapampang basusun dilangik biru, sananglah mato dek mamandang.</em></p>
<p><em>Susunnyo elok ukuran sampai, kato putuih rundiangan sudah, tatulih dikarateh nan sahalai, basuluah matohari, bagalanggang mato rang banyak.</em><em> </em></p>
<p><em>Dek karano elok ruehnyo batuang, jaleh raginyo alang-alang, di sinan tuah baimbauan, disorak digalanggang, tadanga sabalik kampuang, itulah tuah nan basisiak ayam.</em></p>
<p><em>Ikolah rundiangan nan ditibokan kabakeh angku sikaji alek kami.</em></p>
<p>Sementara itu, untuk persyaratan alang-alang adalah sebagai berikut:</p>
<p>Seluruh peserta dan peminat alang-alang, melaksanakan protokol kesehatan, dengan memakai masker.</p>
<p>Bagi yang tidak memakai masker, tidak dibolehkan memasuki arena permainan/lapangan.</p>
<p>Kemudian, ukuran alang-alang minimal 130/140 cm.</p>
<p>Warna alang-alang jelas dan tidak berukir. Alang-alang dinaikan satu <em>babek</em>.</p>
<p>Aturan lainnya, <em>Juaro</em> memakai deta / <em>sarawa</em> (celana) <em>kerek</em> / baju koko / pakaian niniak mamak.</p>
<p><em>Ambacang</em> memakai deta. Tidak dibolehkan memakai celana <em>hawai</em>.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><a href="https://langgam.id/festival-layang-layang-darek-pabasko-akan-digelar-di-kubu-gadang/"><strong>Festival Layang-layang Darek Pabasko akan Digelar di Kubu Gadang</strong></a></p>
<p>Pendaftaran :</p>
<p>Alang-alang diukur dan didaftarkan ke panitia, dengan menyebutkan :</p>
<p>Nama alang-alang beserta ekornya. Suku pemegang alang-alang.</p>
<p>Nama niniak mamak/pangulu suku, yang bersangkutan, dan daerah asal peserta alang-alang.</p>
<p>Tidak dipungut inset.</p>
<p>Peserta memberikan sumbangan pada tempat yang telah disediakan.</p>
<p>Pelaksanaan lomba :</p>
<p>Tempat Kubu Gadang Kel. Ekor Lubuk, Padang Panjang Timur.</p>
<p>Dilaksanakan Minggu 20, 27 September s/d 4, 11 Oktober 2020.</p>
<p>Acara dimulai jam 11.00 WIB sampai selesai.</p>
<p>Pembukaan oleh protokol. Laporan dari panitia. Sambutan Walikota Padang Panjang. Pidato alang-alang (durasi 30 menit).</p>
<p>Shalat zuhur. Jam 13.00 WIB alang alang dilepas</p>
<p>Pelaksanaan Lomba :</p>
<p>Alang-alang dinaikan sesuai dengan aba-aba dari panitia.</p>
<p>Panjang alang-alang dengan ukuran 3/5 rol banang, atau dengan batas yang ditentukan.</p>
<p>Waktu naik alang-alang 1 jam. 30 menit tersisa alang-alang baru tidak boleh dinaikan.</p>
<p>Penilaian dilakukan oleh juri yang ditunjuk panitia.</p>
<p>Alang-alang yang dinilai tinggi beserta panjang (sesuai batas yang ditentukan) dan berkelompok (penilaian bersifat penghulu).</p>
<p>Bila alang-alang yang dinilai, tidak sampai pada batas yang ditentukan, maka penilaian batal.</p>
<p>Bila alang-alang yang dinilai, kurang ekornya, maka alang-alang tersebut, tidak dinilai. <strong>(Osh)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/petuah-adat-dan-aturan-main-festival-alang-alang-baradaik-di-padang-panjang/">Petuah Adat dan Aturan Main Festival Alang-alang Baradaik di Padang Panjang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">61306</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 24/105 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-04-12 05:11:32 by W3 Total Cache
-->