<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Opini Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/opini/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 Jan 2026 12:21:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Opini Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/opini/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Kearifan Lokal sebagai Fondasi Ketahanan Sosial–Ekologis, Refleksi Pascabencana</title>
		<link>https://langgam.id/kearifan-lokal-sebagai-fondasi-ketahanan-sosial-ekologis-refleksi-pasca-bencana/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhayatul]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2026 12:19:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana Ekologis]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=242065</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bencana ekologis di Sumatera Barat tidak dapat dipahami sebagai peristiwa sesaat yang berdiri sendiri. Bencana ini merupakan bagian dari relasi panjang antara manusia, alam, dan kebudayaan yang terbentuk selama berabad-abad. Galodo (banjir bandang), longsor bukan hanya fenomena geofisik, melainkan peristiwa sosial yang menguji daya lenting masyarakat, kohesi sosial, dan kapasitas kebijakan publik. Dalam konteks ini, kearifan lokal Minangkabau menjadi titik masuk penting untuk memahami bagaimana masyarakat bertahan, beradaptasi, dan membangun kembali kehidupan pasca-bencana. Pengurangan risiko bencana di wilayah rawan tidak cukup hanya ditempuh melalui pendekatan teknokratis. Mitigasi dan adaptasi bencana harus dibangun di atas pemahaman spasial, sosial, dan ekologis yang</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kearifan-lokal-sebagai-fondasi-ketahanan-sosial-ekologis-refleksi-pasca-bencana/">Kearifan Lokal sebagai Fondasi Ketahanan Sosial–Ekologis, Refleksi Pascabencana</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Bencana</strong> ekologis di Sumatera Barat tidak dapat dipahami sebagai peristiwa sesaat yang berdiri sendiri. Bencana ini merupakan bagian dari relasi panjang antara manusia, alam, dan kebudayaan yang terbentuk selama berabad-abad. Galodo (banjir bandang), longsor bukan hanya fenomena geofisik, melainkan peristiwa sosial yang menguji daya lenting masyarakat, kohesi sosial, dan kapasitas kebijakan publik.</p>



<p>Dalam konteks ini, kearifan lokal Minangkabau menjadi titik masuk penting untuk memahami bagaimana masyarakat bertahan, beradaptasi, dan membangun kembali kehidupan pasca-bencana. Pengurangan risiko bencana di wilayah rawan tidak cukup hanya ditempuh melalui pendekatan teknokratis. Mitigasi dan adaptasi bencana harus dibangun di atas pemahaman spasial, sosial, dan ekologis yang kontekstual, bukan semata transfer teknologi (Hermon, 2019).</p>



<p>Tata kelola risiko berbasis wilayah dan keterlibatan aktor lokal dalam membangun kesiapsiagaan, integrasi dimensi lingkungan dan sosial dalam perencanaan adaptasi, terutama di wilayah dengan kerentanan struktural tinggi menjadi penting (Oktorie et al., 2019; Putra et al., n.d.). Kerangka pemikiran ini menyediakan fondasi konseptual yang kuat untuk membaca peran kearifan lokal sebagai modal adaptif dalam merespon bencana.</p>



<p>Penelitian (May Nessa Yolanda &amp; Fahmi, 2025) menunjukkan bahwa penurunan risiko korban jiwa lintas generasi tidak terjadi secara kebetulan, melainkan melalui internalisasi pengetahuan lokal dalam tindakan sosial. Pada level struktural, masyarakat mengembangkan pola permukiman yang menjauhi alur sungai, memanfaatkan rumah gadang berbahan kayu lentur yang adaptif terhadap guncangan, serta membangun jembatan tanpa penyangga tengah untuk mengurangi risiko sumbatan material saat galodo.</p>



<p>Kemudian pada level non-struktural, masyarakat mengenali tando-tando alam—seperti hujan di rimbo, perubahan aliran bangkahan sampik, dan bunyi gamuruah—sebagai sistem peringatan dini berbasis observasi ekologis. Praktik mancari rumah dunsanak serta penyebaran informasi melalui tambo (lapau, masjid, komunikasi lisan) menjadi mekanisme evakuasi dan koordinasi sosial yang efektif. Efektivitas sistem ini tercermin dalam penurunan korban jiwa dari peristiwa galodo 1979 ke 2009 hingga 2024.</p>



<p>Kapasitas adaptasi lokal sering kali lebih responsif karena tertanam dalam pengalaman sehari-hari dan kepercayaan sosial. Dalam perspektif sosiologi lingkungan, kearifan lokal berfungsi sebagai early warning system sosial–ekologis yang tidak bergantung pada infrastruktur mahal, tetapi pada kelekatan pengetahuan dengan praktik hidup.</p>



<p>Namun, keberhasilan ini juga mengungkap paradoks kebijakan. Kearifan lokal terbukti bekerja, tetapi sering kali berada di luar sistem formal. Dalam banyak intervensi pasca-bencana, kebijakan cenderung mengedepankan relokasi massal, rumah standar, dan sistem peringatan berbasis teknologi yang tidak selalu terhubung dengan kanal komunikasi lokal. Akibatnya, modal sosial yang justru menjadi sumber ketahanan dapat melemah.</p>



<p>Tata kelola risiko yang mengabaikan aktor dan institusi lokal berisiko menciptakan maladaptation—upaya adaptasi yang justru menambah kerentanan sosial (Oktorie et al., 2019). kebijakan yang memprioritaskan pemetaan partisipatif, peningkatan kesadaran publik, dan koordinasi kelembagaan berada di urutan teratas. Yang penting, revitalisasi kearifan lokal muncul sebagai elemen strategis, baik dalam mitigasi maupun adaptasi.</p>



<p>Pada sisi adaptasi, perubahan konstruksi rumah agar lebih tahan bencana, pelibatan pemuda sebagai penggerak, serta penerapan kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari menjadi prioritas (Asman et al., 2020). Artinya adaptasi merupakan proses sosial–ekologis, bukan sekadar teknis. Lebih lanjut pengetahuan lokal/kearifan lokal dalam pengurangan risiko bencana akan meningkatkan legitimasi kebijakan dan efektivitas respons (Gaillard &amp; Mercer,<br>2013).</p>



<p>Adaptasi berbasis komunitas yang menghormati pengetahuan lokal lebih berkelanjutan dibanding pendekatan top-down(Kelman, 2017). Kemudian studi (Lavigne et al., 2008) tentang perilaku masyarakat di sekitar gunung api di Indonesia memperlihatkan bahwa kepekaan terhadap tanda alam dan jaringan sosial lokal berperan penting dalam mengurangi korban. Artinya adaptasi efektif memerlukan context-specific solutions yang memadukan pengetahuan lokal dan sains modern.</p>



<p>Dari beberapa kajian literature empiris tampak jelas bahwa problem utama pasca-bencana ekologis di Sumatera Barat bukan kekurangan pengetahuan, melainkan ketimpangan relasi antara pengetahuan lokal dan kebijakan publik. Kearifan lokal kerap diromantisasi sebagai identitas budaya, tetapi belum dilembagakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Akibatnya, kebijakan pasca-bencana cenderung seragam, ahistoris, dan kurang sensitif terhadap struktur sosial.</p>



<p>Strategi pasca-bencana ekologis di Sumatera Barat perlu diarahkan pada penguatan nagari sebagai unit sosial–ekologis. Kearifan lokal perlu diinstitusionalisasikan dalam sistem kebencanaan formal. Tando-tando alam yang telah teruji harus diakui sebagai indikator lokal dalam sistem peringatan dini, lalu diintegrasikan dengan teknologi seperti laporan terhubung ke BPBD. Masjid, lapau, dan perangkat nagari perlu diposisikan sebagai kanal resmi komunikasi darurat (May Nessa Yolanda &amp; Fahmi, 2025).</p>



<p>Kedua, rekonstruksi pasca-bencana harus dipahami sebagai proses sosial– budaya. Rumah dan permukiman adalah ruang sosial yang menopang solidaritas dan akses penghidupan. Relokasi hanya boleh dilakukan dengan mempertimbangkan jaringan kekerabatan dan mata pencaharian, agar tidak merusak modal sosial. Ketiga, regenerasi pengetahuan menjadi kunci, pemuda nagari perlu dilibatkan sebagai penjaga pengetahuan lokal sekaligus penghubung dengan sains dan teknologi.</p>



<p>Dalam perspektif Ilmu Lingkungan, refleksi ini menegaskan bahwa ketahanan ekologis tidak dapat dipisahkan dari ketahanan sosial dan budaya. Lingkungan bukan sekadar entitas fisik, tetapi ruang hidup yang dimaknai dan dikelola melalui nilai kolektif. Ketika kearifan lokal dipadukan dengan pendekatan ilmiah, hasilnya bukan hanya penurunan risiko bencana, tetapi<br>juga pemulihan yang lebih adil dan berkelanjutan.</p>



<p>Pada akhirnya, pasca-bencana ekologis seharusnya dipandang sebagai momentum pembelajaran sosial. Bukan hanya membangun kembali infrastruktur, tetapi menata ulang relasi manusia – alam – kebijakan. Sumatera Barat memiliki modal sosial dan kultural yang kuat untuk itu. Agenda ke depan adalah merumuskan model kebijakan kebencanaan yang berakar pada kearifan lokal, diuji secara ilmiah, dan diimplementasikan secara institusional agar kearifan lokal tidak sekedar narasi budaya, tapi fondasi ketahanan sosial–ekologis. <strong>(***)</strong></p>



<p><strong>Penulis: Muhayatul, S.E., M.Si</strong> (Mahasiswa Doktoral Ilmu Lingkungan Universitas Negeri Padang)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kearifan-lokal-sebagai-fondasi-ketahanan-sosial-ekologis-refleksi-pasca-bencana/">Kearifan Lokal sebagai Fondasi Ketahanan Sosial–Ekologis, Refleksi Pascabencana</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">242065</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Halaban, Penyambung Nafas Republik yang Terlupakan</title>
		<link>https://langgam.id/halaban-penyambung-nafas-republik-yang-terlupakan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M Fajar Rillah Vesky]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2025 07:50:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Limapuluh Kota]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[PDRI]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=240845</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id- Saat nafas Republik Indonesia hampir putus, Nagari Halaban di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat, menjadi penyambungnya. Di sudut nagari tersebut, di kawasan perkebunan Tadah, di dangau milik petani bernama Yaya, pada 22 Desember 1948 pahlawan nasional kita, Mr. Syafrudin Prawiranegara mendeklarasikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Waktu itu, Yogyakarta yang menjadi ibu republk, baru tiga hari dibombardir Belanda. Tidak hanya menyerang Jogya nan istimewa, Belanda yang belum mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945,&#160;&#160;menangkap Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Usai ditangkap, dwitunggal itu dibuang ke Brastagi dan Pulau Bangka.&#160; Sebelum ditawan Belanda, Soekarno-Hatta seperti ditulis Indonesianis, Audrey</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/halaban-penyambung-nafas-republik-yang-terlupakan/">Halaban, Penyambung Nafas Republik yang Terlupakan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id-</strong> Saat nafas Republik Indonesia hampir putus, <a href="https://langgam.id/nagari-halaban-lareh-sago-halaban-kabupaten-limapuluh-kota/">Nagari Halaban</a> di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat, menjadi penyambungnya. Di sudut nagari tersebut, di kawasan perkebunan Tadah, di dangau milik petani bernama Yaya, pada 22 Desember 1948 pahlawan nasional kita, Mr. Syafrudin Prawiranegara mendeklarasikan <a href="https://langgam.id/tag/pdri/">Pemerintahan Darurat Republik Indonesia</a> (PDRI).</p>



<p>Waktu itu, Yogyakarta yang menjadi ibu republk, baru tiga hari dibombardir Belanda. Tidak hanya menyerang Jogya nan istimewa, Belanda yang belum mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945,&nbsp;&nbsp;menangkap Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Usai ditangkap, dwitunggal itu dibuang ke Brastagi dan Pulau Bangka.&nbsp;</p>



<p>Sebelum ditawan Belanda, Soekarno-Hatta seperti ditulis Indonesianis, Audrey Kahin, melalui buku &#8220;Perjuangan Sumatera Barat Dalam Revolusi Nasional Indonesia 1945-1950&#8221; terjemahan Profesor Dr Mestika Zed dkk, memberi mandat kepada Menteri Kemakmuran Syafrudin Prawiranegara yang sedang berada di Sumatera. Tepatnya lagi di Bukittinggi &#8220;Kota Perjuangan&#8221;.</p>



<p>Dalam mandatnya, Soekarno-Hatta meminta Syafrudin membentuk pemerintahan darurat di Sumatera: pulau yang kini sedang susah karena bencana. Jika mandat itu tak terlaksana, maka kepada Soedarsono, Palar, dan Mr Maramis, diminta membentuk Exile Government di India.</p>



<p>Meski mandat tak pernah sampai ke tangannya, Syafrudin tetap membentuk PDRI. Tiga hari setelah Bukittinggi, turut dibombardir Belanda.</p>



<p>Mantan Ketua PWI Sumbar Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie, yang pernah mewawancarai Bung Hatta meyakini, Syafrudin berani membentuk kabinet PDRI, karena sudah dapat sinyal dari Bung Hatta, terkait kondisi yang akan menimpa bangsa. Ini juga disampaikan&nbsp;&nbsp;wartawan senior, Hasril Chaniago, saat kami menjadi pembicara talkshow &#8220;Limapuluh Kota Dalam Sejarah&#8221;, 6 November 2025.</p>



<p>Syafruddin Prawiranegara mendeklarasikan PDRI di Nagari Halaban. Buku-buku sejarah mencatat, PDRI dideklarasikan dalam rumah di perkebunan teh Halaban. Namun yang sebenarnya, menurut saksi sejarah bernama Rasawin, adalah di dangau Yaya, Jorong Lambuak, Halaban. Memang, dangau Yaya dan rumah di perkebunan teh, masih satu hamparan. Tapi letaknya cukup berjauhan.&nbsp;</p>



<p>Rasawin adalah pejuang PDRI, bekas anggota&nbsp;&nbsp;BPNK Halaban. Saat kami temui bersama mantan Wakil Bupati Limapuluh Kota Ferizal Ridwan, mantan Wali Nagari Halaban, Masrijal Sahid, dan mantan Ketua AJI Padang, Hendra Makmur, Rasawin sudah 89 tahun. Kini, Rasawin telah tiada. Kesaksiannya, waktu PDRI diumumkan, rakyat sulit membedakan Syafruddin dengan pejuang lain. Karena semua memakai baju putih-putih dan berpeci. Berjalan selalu berombongan.</p>



<p>Halaban pada zaman PDRI adalah kawasan yang luas. Tak hanya meliputi Nagari Halaban. Namun membentang hingga ke Nagari Tanjuanggadang, Nagari Labuahgunuang, Nagari Ampalu, dan sekitarnya. Maka tak heran, bila di nagari-nagari tersebut, ditemukan banyak peninggalan PDRI. Namun kurang perhatian dari pemerintah daerah. Seperti, bekas stasiun pemancar radio di Paraklubang atau Tegalrajo, serta uang zaman PDRI di Ampalu dan Labuahgunuang.</p>



<p>Keberadaan PDRI di kawasan Halaban, memang tidak lama. Tapi serupa garam dalam masakan,&nbsp;&nbsp;sangatlah bermakna. Kabinet PDRI yang dideklarasikan di Halaban, mengisyaratkan kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih ada. Ini membuat Belanda yang sedang melancarkan Agresi ke-II menjadi tak senang.&nbsp;&nbsp;Begitu PDRI dideklarasikan di Halaban, Belanda terus mengendus jejak para pejuangnya.&nbsp;</p>



<p>Belanda yang tiga hari sebelumnya atau 19 Desember 1948, telah membumihanguskan Bukittinggi lewat jalur udara, juga menyerang lewat jalur darurat. Bahkan, beberapa hari kemudian, pasukan Belanda sudah sampai di Kota Payakumbuh. Sempat terjadi baku tembak dengan pejuang Indonesia di kawasan perbukitan Ngalau. Juga di sekitaran Bukit Sitabuah.</p>



<p>Mengetahui Belanda semakin dekat ke Halaban, Mr Syafrudin Prawiranegara dan Kabinet PDRI memutar strategi perjuangan. Mereka memilih berjuang secara mobile. Tapi sebelum perjuangan dengan sistem berjalan itu dimulai, rombongan PDRI dibagi dalam dua kelompok.</p>



<p>Kelompok pertama, dipimpin Mr Sutan Muhammad Rasyid, Gubernur Sumatera Tengah, bergerak menuju Kototinggi, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Terus kemudian menuju kawasan bernama Puadata, beberapa kilometer menjelang tambang emas Mangani. Sampai PDRI berakhir, rombongan pertama ini tetap bermarkas di Kototinggi.</p>



<p>Sedangkan rombongan kedua, langsung dipimpin Mr Syafrudin Prawiranegara. Awalnya, rombongan kedua bertolak ke Bangkinang, Kampar, Propinsi Riau. Karena situasi tidak aman, Syafrudin dan rombongan berbelok ke Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.&nbsp;</p>



<p>Dari Teluk Kuantan, rombongan&nbsp;&nbsp;melanjutkan perjalanan menuju Sungaidareh, Kabupaten Dharmasraya, Sumbar. Sampai di negeri yang pernah menjadi sasaran Ekpedisi Pamalayu oleh Raja Kertanegara tersebut, Syafrudin bertolak ke Nagari Abaisangir, Kabupaten Solok Selatan.</p>



<p>Perjalanan ke Nagari Abaisangir, dilalui Syafrudin Prawiranegara dan para pejuang PDRI dengan penuh kegetiran. Mereka terpaksa melawan arus Sungai Dareh yang deras. Mujur saja masyarakat sukarela menolong. Sumbangsih tak ternilai harganya ini, diberikan masyakarat pada hampir seluruh kampung basis perjuangan PDRI.</p>



<p>Sesampainya di Nagari Abaisangir, Syafrudin Prawiranegara yang memiliki darah keturunan Banten dan Minangkabau, menginap di rumah Sa&#8217;diyah, istri dari Angku Palo Buncik, Wali Nagari Abaisangir semasa itu. Kemudian, mereka dijemput oleh masyarakat Nagari Bidaralam. Di Bidar Alam, rombongan menetap sangat lama.</p>



<p>Setelah melewati berbagai dinamika perjuangan. Termasuk peristiwa heroik di Titiandalam, Pandamgadang; disusul Peristiwa Situjuah 15 Januari 1949 yang memakan korban jiwa paling banyak sepanjang sejarah PDRI; dan Peristiwa Koto Tuo Lautan Api. Akhirnya, rombongan pertama PDRI di Kototingggi dan rombongan kedua yang bermarkas di Bidaralam, bertemu di Silantai, Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung.</p>



<p>Dari pertemuan itu, disepakati mandat PDRI bakal dikembalikan kepada pemerintah pusat. Pengembalian mandat berlangsung di Kotokociak, Guguak, Limapuluh Kota. Mandat dijemput Mr Mohammad Natsir dan  Leimena. Diserahkan kembali oleh Syafruddin Prawiranegara dkk kepada Presiden Soekarno.</p>



<p>Tiga tahun kemudian, lewat Keppres 123/1951, Syafruddin Prawiranegara diangkat sebagai Presiden De Javasche Bank: Bank Sentral Hindia Belanda, cikal bakal Bank Indonesia. Pada 1958 sampaI 1960, Syafruddin kembali ke Sumatera. Terlibat Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Tapi pada 1961, melalui Keppres 449/1961, Syafrudin dan tokoh PRRI lainnya, dapat abolisi dan amnesti dari Presiden.</p>



<p>Lima puluh tahun setelah amnesti diberikan, tepatnya tahun 2011, Syafrudin Prawiranegara dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional, berdasarkan Keppres 113/2011. Lima tahun sebelumnya pula, atau pada 18 Desember 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menerbitkan Keppres Nomor 28 Tahun 2006 Tentang Hari Bela Negara.</p>



<p>Dalam Keppres ditegaskan, 19 Desember 1948, merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia karena tanggal tersebut terbentuk PDRI, dalam rangka mengisi kekosongan kepemimpinan pemerintahan NKRI. Sayang, tidak dijelaskan dalam Keppres 28/2006, kenapa pemerintah memilih 19 Desember 1948 sebagai tanggal terbentuknya PDRI. Bukan 22 Desember 1948, saat PDRI dideklarasikan di Halaban.</p>



<p>Sebagian sejarawan dan tokoh berpendapat, pemerintah memilih 19 Desember 1948 sebagai tangggal terbentuk PDRI, karena embrio PDRI sudah ada di Bukittinggi sejak 19 Desember 1948. Sedangkan pengumuman kabinetnya, baru dilakukan 22 Desember 1948 di Halaban. Terlepas dari itu, masyarakat di kawasan Halaban, tak pernah sekalipun mempersoalkan.</p>



<p>Tampaknya, bagi masyarakat Sumbar secara umum, dan khususnya bagi masyarakat di Kabupaten Limapuluh Kota. Pengakuan pemerintah terhadap perjuangan PDRI, dengan menetapkan 19 Desember sebagai dasar Hari Bela Negara, sudah merupakan anugerah luar biasa. Walaupun Hari Bela Negara, belumlah masuk tanggal merah atau hari libur nasional. </p>



<p>Kini, anugerah luar biasa itu akan lebih bermakna, bila pemerintah memberi perhatian khusus terhadap seluruh kampung yang dulu menjadi basis utama perjuangan PDRI. Perhatian khusus itu bisa dimulai dari kawasan Halaban yang sampai kini masih terlupakan. Buktinya, jalan utama di Halaban, masih rusak parah. Menanti sambungan perbaikan yang entah kapan. (***)</p>



<p><strong>Penulis M. Fajar Rillah Vesky adalah anggota DPRD Kabupaten Limapuluh Kota, dari daerah pemilihan Luhak, Lareh Sago Halaban, dan Situjuah Limo Nagari.</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/halaban-penyambung-nafas-republik-yang-terlupakan/">Halaban, Penyambung Nafas Republik yang Terlupakan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">240845</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ekspor Stainless Indonesia: Apakah UE Akan Taat Putusan WTO?</title>
		<link>https://langgam.id/ekspor-stainless-indonesia-apakah-ue-akan-taat-putusan-wto/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Syafruddin Karimi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Oct 2025 09:36:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=235635</guid>

					<description><![CDATA[<p>Uni Eropa kerap menegaskan diri sebagai penjaga tatanan berbasis aturan. Dunia mengenal Eropa sebagai pelopor transparansi, due process, dan kepastian hukum. Ketika Panel WTO memutus sengketa produk stainless Indonesia dan menyatakan kebijakan tarif UE melanggar komitmen internasional, pertanyaan kunci pun muncul: apakah UE akan mematuhi putusan itu? Kepatuhan tidak hanya berkaitan dengan prosedur; itu menyentuh jantung integritas dan konsistensi kebijakan Eropa. Mematuhi putusan WTO menghadirkan tiga keuntungan strategis bagi UE. Pertama, kepastian hukum untuk pelaku usaha. Produsen dan importir merancang investasi berdasarkan aturan yang stabil. Kepatuhan mengurangi biaya ketidakpastian dan mengembalikan prediktabilitas yang kerap UE suarakan kepada mitra dagang. Kedua,</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ekspor-stainless-indonesia-apakah-ue-akan-taat-putusan-wto/">Ekspor Stainless Indonesia: Apakah UE Akan Taat Putusan WTO?</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Uni</strong> Eropa kerap menegaskan diri sebagai penjaga tatanan berbasis aturan. Dunia mengenal Eropa sebagai pelopor transparansi, due process, dan kepastian hukum. Ketika Panel WTO memutus sengketa produk stainless Indonesia dan menyatakan kebijakan tarif UE melanggar komitmen internasional, pertanyaan kunci pun muncul: apakah UE akan mematuhi putusan itu? Kepatuhan tidak hanya berkaitan dengan prosedur; itu menyentuh jantung integritas dan konsistensi kebijakan Eropa.</p>



<p>Mematuhi putusan WTO menghadirkan tiga keuntungan strategis bagi UE. Pertama, kepastian hukum untuk pelaku usaha. Produsen dan importir merancang investasi berdasarkan aturan yang stabil. Kepatuhan mengurangi biaya ketidakpastian dan mengembalikan prediktabilitas yang kerap UE suarakan kepada mitra dagang. Kedua, reputasi sebagai “normative power”. Eropa membangun pengaruh melalui standar tinggi dan penghormatan pada hukum internasional. Pengingkaran terhadap putusan akan mudah terbaca sebagai standar ganda. Ketiga, penguatan multilateralisme. Sistem penyelesaian sengketa WTO hanya berfungsi bila anggota menghormati putusan, termasuk saat putusan itu tidak menguntungkan.</p>



<p>Sebagian pihak berargumen bahwa instrumen pertahanan dagang—anti-dumping atau bea imbalan—tetap sah untuk melindungi industri domestik. Pernyataan itu tepat selama perumusannya taat aturan WTO. Ketika panel independen menilai bukti dan menemukan pelanggaran, langkah rasional adalah memperbaiki kebijakan. Upaya memperpanjang proses melalui banding tanpa solusi memicu ketidakpastian, merusak iklim investasi, dan melemahkan posisi UE saat menuntut kepatuhan dari pihak lain.</p>



<p>Bagi Indonesia, putusan ini membuka jendela kesempatan. Ekspor stainless membutuhkan akses yang bersih dari distorsi, disertai kesiapan memenuhi standar teknis dan keberlanjutan yang semakin ketat. Di sisi UE, kepatuhan membawa manfaat nyata di dalam negeri. Kepastian regulasi mendorong daya saing industri yang bertumpu pada efisiensi, inovasi, dan teknologi rendah emisi, bukan proteksi berkepanjangan. Konsumen memperoleh harga lebih wajar, sementara sektor hilir—dari otomotif sampai peralatan rumah tangga—mendapat pasokan bahan baku yang stabil. Rantai pasok yang efisien memperkuat ekonomi Eropa menghadapi persaingan global; menjalankan putusan WTO selaras dengan kepentingan tersebut.</p>



<p>Kekhawatiran terhadap disrupsi industri baja tentu ada. Kebijakan transisi tetap tersedia tanpa melanggar aturan: dukungan yang diizinkan WTO untuk riset, efisiensi energi, atau dekarbonisasi; program peningkatan keterampilan tenaga kerja; serta fasilitasi investasi pada teknologi proses yang lebih bersih. Instrumen sah ini mendorong transformasi struktural tanpa menutup perdagangan secara sewenang-wenang.</p>



<p>UE memiliki kesempatan menunjukkan bahwa rule of law bukan slogan, melainkan kompas kebijakan. Mematuhi putusan, mengoreksi kebijakan, dan menguatkan arsitektur perdagangan global akan menjaga reputasi Eropa sekaligus memberikan kepastian bagi pasar. Indonesia siap menyambut kompetisi yang adil, memperluas pasar, dan mempercepat industrialisasi bernilai tambah. Kemenangan nyata lahir ketika hukum dihormati dan perdagangan bergerak di atas prinsip yang konsisten.</p>



<p>*Penulis: <strong><em>Prof. Dr. Syafruddin Karimi, SE. MA </em></strong><em>(Dosen dan Guru Besar pada Departemen Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas)</em></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ekspor-stainless-indonesia-apakah-ue-akan-taat-putusan-wto/">Ekspor Stainless Indonesia: Apakah UE Akan Taat Putusan WTO?</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">235635</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Interpretasi &#8220;Malas-Malas Aja&#8221; Bangun Kilang Minyak Baru</title>
		<link>https://langgam.id/interpretasi-malas-malas-aja-bangun-kilang-minyak-baru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yazid Bindar]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Oct 2025 11:26:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=235588</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernyataan seorang petinggi negeri yang mengatakan: “Kilang itu bukan kita tidak bisa bikin atau kita tidak bisa proyeknya, cuman Pertamina yang malas-malas aja” memunculkan pertanyaan serius dalam wacana energi nasional. Sebuah pertanyaan timbul tentang data apa yang digunakan tentang kelahiran pernyataan kualitatif &#8220;malas-malas aja&#8221;. Frasa malas-malas aja menyiratkan bahwa ketiadaan pembangunan kilang minyak baru di Indonesia bukan semata karena ketidakmampuan teknis atau finansial, melainkan ada faktor lain yang lebih kompleks, baik terkait kebijakan, tata kelola, maupun pilihan strategi energi nasional. Dalam konteks akademik, pernyataan tersebut dapat ditafsirkan sebagai simbol ambivalensi kebijakan energi. Di satu sisi, Indonesia membutuhkan infrastruktur pengolahan minyak</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/interpretasi-malas-malas-aja-bangun-kilang-minyak-baru/">Interpretasi &#8220;Malas-Malas Aja&#8221; Bangun Kilang Minyak Baru</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Pernyataan</strong> seorang petinggi negeri yang mengatakan: “Kilang itu bukan kita tidak bisa bikin atau kita tidak bisa proyeknya, cuman Pertamina yang malas-malas aja” memunculkan pertanyaan serius dalam wacana energi nasional. Sebuah pertanyaan timbul tentang data apa yang digunakan tentang kelahiran pernyataan kualitatif &#8220;malas-malas aja&#8221;. Frasa malas<br>-malas aja menyiratkan bahwa ketiadaan pembangunan kilang minyak baru di Indonesia bukan semata karena ketidakmampuan teknis atau finansial, melainkan ada faktor lain yang lebih kompleks, baik terkait kebijakan, tata kelola, maupun pilihan strategi energi nasional.</p>



<p>Dalam konteks akademik, pernyataan tersebut dapat ditafsirkan sebagai simbol ambivalensi kebijakan energi. Di satu sisi, Indonesia membutuhkan infrastruktur pengolahan minyak untuk mengurangi ketergantungan impor. Namun di sisi lain, tidak adanya pembangunan kilang baru menimbulkan spekulasi: apakah keputusan ini didasarkan pada keterbatasan sumber daya, strategi ekonomi tertentu, atau justru kelemahan tata kelola institusional.</p>



<p><em>Pentingnya Kilang Minyak dalam Sistem Energi Nasional</em></p>



<p>Kilang minyak merupakan salah satu infrastruktur energi paling vital di sebuah negara. Fungsinya bukan hanya untuk mengolah minyak mentah menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan produk turunannya, tetapi juga sebagai penopang kedaulatan energi. Tanpa kilang yang memadai, sebuah negara akan rentan terhadap fluktuasi harga energi global serta bergantung pada impor BBM.</p>



<p>Indonesia sendiri memiliki beberapa kilang minyak yang sebagian besar dibangun pada era 1970-an hingga 1990-an. Kapasitasnya belakangan ini relatif stagnan, sementara pertumbuhan konsumsi energi meningkat pesat seiring pertumbuhan penduduk, urbanisasi, dan industrialisasi. Ketidakseimbangan antara kebutuhan energi domestik dan kapasitas pengolahan minyak inilah yang membuat isu pembangunan kilang baru menjadi sangat strategis.</p>



<p><em>Apakah Keterbatasan Dana Pembangunan ?</em></p>



<p>Interpretasi awal yang dapat diajukan adalah bahwa Indonesia tidak membangun kilang minyak baru karena keterbatasan dana. Pembangunan sebuah kilang membutuhkan biaya investasi yang sangat besar. Dalam kondisi fiskal yang terbatas, terutama ketika negara harus menyeimbangkan berbagai kebutuhan pembangunan seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan, proyek kilang baru mungkin dipandang tidak prioritas.</p>



<p>Selain itu, risiko finansial yang tinggi juga menjadi pertimbangan. Harga minyak global sangat fluktuatif, dan ketidakpastian pasar energi membuat investor enggan menanamkan modal besar dalam proyek jangka panjang. Bagi pemerintah, hal ini menciptakan dilema: apakah lebih bijak menggunakan dana untuk proyek kilang, atau mengalokasikannya pada sektor lain yang lebih cepat menghasilkan dampak ekonomi.</p>



<p><em>Apakah Fokus pada Optimalisasi Kilang yang Ada ?</em></p>



<p>Interpretasi berikutnya adalah keputusan untuk tetap berfokus pada kilang minyak yang sudah ada tanpa melakukan ekspansi pembangunan baru. Dengan pendekatan ini, strategi yang ditempuh adalah modernisasi, revitalisasi, dan efisiensi operasional kilang eksisting.</p>



<p>Pilihan ini dapat dianggap realistis, karena meningkatkan kapasitas dan efisiensi kilang lama jauh lebih murah dibanding membangun yang baru. Selain itu, pendekatan ini memungkinkan adanya peningkatan mutu produk BBM yang dihasilkan tanpa harus mengeluarkan biaya investasi besar. Namun demikian, strategi ini memiliki keterbatasan, karena kilang lama secara teknologi sudah banyak yang usang, sehingga kapasitas peningkatannya terbatas.</p>



<p><em>Apakah kesulitan mendapatkan Minyak Mentah sebagai bahan baku ?</em></p>



<p>Interpretasi lain yang dapat diajukan adalah bahwa pembangunan kilang baru terhambat oleh kesulitan mendapatkan pasokan minyak mentah yang memadai. Indonesia sejak awal 2000-an telah berubah dari negara pengekspor minyak menjadi negara net importer. Produksi domestik terus menurun karena lapangan minyak tua mengalami penurunan produksi, sementara eksplorasi baru berjalan lambat.</p>



<p>Dalam kondisi demikian, membangun kilang baru justru menimbulkan pertanyaan: dari mana minyak mentah yang akan diolah? Jika harus mengandalkan impor minyak mentah, maka kilang baru tidak memberikan keuntungan strategis yang signifikan, karena tetap menimbulkan ketergantungan pada pasar global. Selain itu, harga keekonomian antara minyak mentah impor dan harga jual BBM domestik yang dikendalikan pemerintah sering tidak seimbang, sehingga risiko kerugian finansial menjadi besar.</p>



<p><em>Apakah tetap Pilihan Kebijakan Impor BBM Jadi ?</em></p>



<p>Interpretasi terakhir adalah bahwa pemerintah secara sadar menetapkan kebijakan untuk mengimpor BBM jadi, sehingga kilang baru tidak perlu dibangun. Dalam kerangka ini, kebijakan energi dipandang pragmatis: lebih murah mengimpor BBM jadi ketimbang menanggung biaya besar membangun kilang dan risiko pasokan minyak mentah.</p>



<p>Pilihan ini memang secara jangka pendek memberikan keuntungan fiskal dan praktis. Namun dalam jangka panjang, kebijakan ini membuat Indonesia semakin bergantung pada negara lain dalam hal pasokan energi. Ketahanan energi nasional menjadi rentan, terutama jika terjadi gejolak harga atau konflik geopolitik yang mengganggu rantai pasok global.</p>



<p><em>Dampak Tidak Membangun Kilang Baru</em></p>



<p>Jika skenario tidak membangun kilang baru terus berlanjut, maka Indonesia akan menghadapi beberapa dampak serius. Pertama, defisit neraca perdagangan berpotensi melebar karena impor BBM terus meningkat. Kedua, APBN akan terbebani oleh subsidi energi, terutama ketika harga minyak dunia melonjak. Ketiga, ketahanan energi nasional semakin rapuh, karena pasokan energi sangat bergantung pada faktor eksternal.</p>



<p>Di sisi lain, ketergantungan impor BBM juga dapat menimbulkan kerentanan politik. Negara-negara pemasok dapat menggunakan energi sebagai instrumen diplomasi dan tekanan politik. Situasi ini menempatkan Indonesia pada posisi yang kurang menguntungkan dalam percaturan global.</p>



<p><em>Kebutuhan Reformasi Kebijakan Energi</em></p>



<p>Dalam perspektif kebijakan publik, pernyataan bahwa kilang tidak dibangun bukan karena tidak mampu, tetapi karena faktor “malas” atau ketidakseriusan, menunjukkan adanya masalah tata kelola. Reformasi kebijakan energi menjadi krusial agar keputusan strategis terkait kilang minyak tidak hanya dilihat dari kacamata pragmatis, tetapi juga visi jangka panjang kedaulatan energi.</p>



<p>Reformasi yang dimaksud mencakup perbaikan tata kelola produsen BBM Indonesia sebagai BUMN strategis, peningkatan iklim investasi energi, serta konsistensi regulasi dalam proyek kilang. Tanpa itu, Indonesia akan terus terjebak dalam siklus ketergantungan energi yang menggerus kemandirian nasional.</p>



<p><em>Antara Strategi dan Kebutuhan Nasional</em></p>



<p>Uraian ini menunjukkan bahwa ketiadaan pembangunan kilang minyak baru di Indonesia dapat ditafsirkan dalam berbagai perspektif: keterbatasan dana, fokus pada kilang lama, kesulitan pasokan minyak mentah, dan kebijakan impor BBM jadi. Semua interpretasi ini saling melengkapi dalam memahami kompleksitas kebijakan energi Indonesia.</p>



<p>Keputusan tidak membangun kilang baru bukanlah hal sederhana, melainkan refleksi dari dinamika politik, ekonomi, dan institusional yang menyertainya. Bagi Indonesia, tantangannya adalah bagaimana menyeimbangkan antara kepentingan jangka pendek yang pragmatis dengan visi jangka panjang untuk mencapai kedaulatan energi yang berkelanjutan.</p>



<p>*Penulis: <strong><em>Prof. Ir. Yazid Bindar, M.Sc. Ph.D</em></strong> (Dosen dan Guru Besar pada Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/interpretasi-malas-malas-aja-bangun-kilang-minyak-baru/">Interpretasi &#8220;Malas-Malas Aja&#8221; Bangun Kilang Minyak Baru</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">235588</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Di Balik Prestasi Sumatra Barat</title>
		<link>https://langgam.id/di-balik-prestasi-sumatra-barat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aidil Aulya]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Oct 2025 08:20:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Prestasi Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=235533</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah riuh soal data ekonomi di kuartal II, muncul pelbagai macam reaksi masyarakat Sumatra Barat di linimasa. Sebagian mungkin murni lahir dari diskursus publik, sebagian lain bisa saja disusun dengan sadar untuk membangun kontra narasi. Setidaknya ada dua pola argumen yang bisa diamati. Pertama, narasi yang menyentuh sisi emosional dan identitas kultural, misalnya mengutip adagium yang hidup dalam masyarakat Minang “jan kan ka kalah, podo se ndak namuah.” Orang Minang katanya tidak perlu pusing dengan data ekonomi tersebut karena aset yang dimiliki masih bisa membuatnya tegak dengan kokoh. Kedua, narasi yang menampilkan data statistik lain, yang sekilas memberi kesan keberhasilan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/di-balik-prestasi-sumatra-barat/">Di Balik Prestasi Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah riuh soal data ekonomi di kuartal II, muncul pelbagai macam reaksi masyarakat <a href="https://langgam.id/mencari-prestasi-sumatra-barat/">Sumatra Barat </a>di linimasa. Sebagian mungkin murni lahir dari diskursus publik, sebagian lain bisa saja disusun dengan sadar untuk membangun kontra narasi.</p>



<p>Setidaknya ada dua pola argumen yang bisa diamati. Pertama, narasi yang menyentuh sisi emosional dan identitas kultural, misalnya mengutip adagium yang hidup dalam masyarakat Minang “<em>jan kan ka kalah, podo se ndak namuah.</em>” Orang Minang katanya tidak perlu pusing dengan data ekonomi tersebut karena aset yang dimiliki masih bisa membuatnya tegak dengan kokoh.</p>



<p>Kedua, narasi yang menampilkan data statistik lain, yang sekilas memberi kesan keberhasilan di sektor berbeda. Setidaknya, itu yang saya temukan dalam pamflet yang berjudul “80 tahun Provinsi Sumatera Barat.” Data pamflet itu diambil dari BPS dan Dikcapil Sumbar.</p>



<p>Sayangnya, dua pendekatan ini agak terkesan hanya sibuk merapikan bingkai cerita daripada masuk ke inti masalah. Narasi sentimental kultural gagal menjawab soal perlambatan ekonomi, walau agak berhasil menggugah kebanggaan emosional yang bersifat sesaat dan memainkan otak reptil pembaca. Akan tetapi, itu semua tidak lebih dari hiburan retoris.</p>



<p>Narasi statistik hanya mengalihkan sorotan dengan angka-angka lain yang tampak lebih cerah. Alhasil, publik dibawa berputar di lorong-lorong data yang semu dan mengaburkan inti persoalan. Kontra narasi seperti itu, “<em>bak maeto kain saruang</em>” saja. Sia-sia!!! Semakin dijawab semakin lucut ditampar fakta.</p>



<p>Darrel Huff dalam buku&nbsp;<em>How to Lie with Statistik sudah</em>&nbsp;mengingatkan bagaimana angka bisa dipakai untuk menipu. Angka tidak pernah bohong, tetapi orang yang memilih, mengolah, dan menyajikannya bisa dengan mudah membuatnya tampak sesuai keinginan. Strategi komunikasi politik yang jamak dilakukan seperti penggunaan grafik, pemilihan data yang menguntungkan, dan dikemas dengan narasi-narasi utopis. Publik yang awam dengan metodologi statistik pun akhirnya luluh, terpesona oleh tabel dan persentase. Namun, pada titik ini publik harus sadar, bahwa bukan data yang berbahaya, melainkan cara data dipakai untuk menutup kenyataan.</p>



<p>Mark Twain dalam&nbsp;<em>Autobiography of Mark Twain</em>menyebutkan, “<em>There are three kinds of lies: lies, damned lies, and statistics</em>.” Statistik bukan sekadar berfungsi sebgai alat penjelas saja, melainkan bisa berubah menjadi tirai-tirai lusuh yang menutupi kenyataan. Perlu dipupuk kewaspadaan bahwa data danangka apapun bisa dipoles, tetapi realita tak bisa ditipu selamanya. Statistik bisa dijadikan tirai untuk menyurukkan kenyataan dan itu penanda bahaya.</p>



<p>Padahal, inti persoalan bukan terletak pada angka dan data yang bisa dipilih seenaknya. Ini soal arah, kepemimpinan, dan keberanian menata prioritas. Pembangunan ekonomi tidak bisa disulap dengan postingan media sosial dan atau filosofi kultural yang diulang-ulang. Pembangunan harus diukur dari kerja nyata yang terstruktur, konsisten, dan berkelanjutan. Perlu ada kebijakan yang tajam, prioritas yang jelas, dan keberanian untuk bekerja serius di ruang-ruang hening yang tidak disorot kamera.</p>



<p>Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Energi besar tercurah untuk mengelola citra, bukan mengelola tantangan nyata. Bahkan, tak jarang pula ada Aparatur Sipil Negara yang dieksploitasi untuk menjadi&nbsp;<em>buzzer</em>gratisan. Diperintahkan untuk membuat postingan keberhasilan dan merapikan narasi pencitraan secara masif, alih-alih fokus pada tugas utamanya. Pemerintah akhirnya lebih mirip seperti jasa biro iklan. Atau lebih bahaya lagi, apakah budaya “asal bapak senang” masih bersemayam di dalam prilaku birokrasi kita?</p>



<p>Kontra narasi yang digulirkan pun sarat paradoks. Di satu sisi, publik diajak percaya bahwa orang Minang tidak pernah kalah, karena masih mampu membeli kendaraan bermotor dan memiliki sertifikat tanah. Di sisi lain, fakta tetap tak terbantahkan bahwa kapasitas produksi dan pertumbuhan ekonomi Sumbar berada di papan bawah nasional. Filosofi budaya tidak bisa dijadikan alasan pembenar bagi kinerja yang kusut masai itu. Sampai kapan kita mau terjebak dalam glorifikasi, sementara kenyataan pahit terus menghentak?</p>



<p>Tulisan ini dibuat bukan untuk mendeskripsikan kebencian, melainkan sebagai bentuk kecintaan pada Sumbar dan pemimpinnya. Dengan alasan cinta itulah sepahit apapun nuansa batin harus disampaikan. Apalagi ketika pemerintah sendiri mengusung slogan “Gerak Cepat untuk Sumbar.” Gerak cepat itu seharusnya hadir dalam manajemen kepemimpinan dan berdampak pada pembangunan, keberanian mengubah prioritas, dan ketegasan melawan stagnasi. Gerak cepat itu bukan soal cepat menanggapi&nbsp;<em>caruik</em>&nbsp;saja, tetapi cepat menanggapi kebutuhan rakyat. Tak usah pula meracau dengan setiap kritikan yang datang.</p>



<p>Berhentilah berpura-pura bekerja di depan kamera, lalu panik setiap kali linimasa gaduh dengan “<em>caruik</em>” warganet. Mulailah bekerja serius di ruang-ruang yang sepi sorotan, tapi nyata dampaknya bagi rakyat. Popularitas tidak akan pernah bisa menjawab persoalan nyata. Citra manipulatif hanya menunda kekecewaan. Sekali kekecewaan itu meledak, pencitraan sehebat apapun hanyalah bahan ejekan.</p>



<p>Pada akhirnya, kita tidak butuh pemimpin yang lihai membantah dan beretorika. Publik sudah terlalu sering disuguhi angka dan kata-kata. Mungkin sudahsaatnya menunggu aksi nyata. Jangan biasakan menutupi minimnya prestasi dengan membangun mimpi yang tak akan pernah diwujudkan. Kita tidak butuh kelihaian dalam membantah fakta.</p>



<p><strong><em>Disclaimer: Penulis bukan ekonom, bukan pula pengamat statistik. Hanya seorang yang ingin melihat daerahnya kembali dikenal karena prestasi nyata, bukan karena narasi kultural atau data yang dipoles sedemikian rupa.</em></strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/di-balik-prestasi-sumatra-barat/">Di Balik Prestasi Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">235533</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mencari Prestasi Sumatra Barat</title>
		<link>https://langgam.id/mencari-prestasi-sumatra-barat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aidil Aulya]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2025 03:06:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pertumbuhan Ekonomi Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Prestasi Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=235242</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mencari prestasi Sumbar hari ini terkadang “bagai ayam bertelur sebiji, riuh sekampung”. Sementara itu, angka pertumbuhan ekonomi Sumbar hanya 3,94 persen di kuartal II. Menempatkan Sumbar pada peringkat 31 dari 38 provinsi. Berita ini seakan terpinggirkan dari pembicaraan, padahal sudah dirilis sejak bulan Agustus 2025. Kita disibukkan oleh cerita-cerita heroik yang dibangun citra media sosial, tapi lupa bahwa dapur rakyat tetap berasap dengan tungku yang hampir padam. Memang benar, pertumbuhan ekonomi daerah tidak bisa dilepaskan dari kebijakan nasional. Tetapi, seberapa jauh kepala daerah memainkan peran dalam mendesain prioritas pembangunan akan menentukan seberapa sehat denyut nadi ekonomi lokal. Jika ibarat sebuah</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mencari-prestasi-sumatra-barat/">Mencari Prestasi Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Mencari</strong> prestasi Sumbar hari ini terkadang “bagai ayam bertelur sebiji, riuh sekampung”. Sementara itu, angka pertumbuhan ekonomi Sumbar hanya 3,94 persen di kuartal II. Menempatkan Sumbar pada peringkat 31 dari 38 provinsi.</p>



<p>Berita ini seakan terpinggirkan dari pembicaraan, padahal sudah dirilis sejak bulan Agustus 2025. Kita disibukkan oleh cerita-cerita heroik yang dibangun citra media sosial, tapi lupa bahwa dapur rakyat tetap berasap dengan tungku yang hampir padam.</p>



<p>Memang benar, pertumbuhan ekonomi daerah tidak bisa dilepaskan dari kebijakan nasional. Tetapi, seberapa jauh kepala daerah memainkan peran dalam mendesain prioritas pembangunan akan menentukan seberapa sehat denyut nadi ekonomi lokal. Jika ibarat sebuah rumah tangga, maka pemerintah daerah adalah kepala keluarga: apakah uang belanja dipakai untuk membeli bahan pokok, memperbaiki atap bocor, atau malah sibuk membeli hiasan dinding agar rumah tampak indah dari luar?</p>



<p>Alih-alih berbenah dari segala ketertinggalan, Sumbar belakangan lebih sering memilih jalan terakhir. Skala prioritas seakan berubah menjadi postingan-postingan media sosial, bukan daftar kebutuhan mendesak. Gimik-gimik kerja yang berkilau di panggung publik lebih diutamakan daripada program nyata yang dirasakan masyarakat. Mencari prestasi Sumbar hari ini sama sulitnya dengan mencari ketiak ular: entah ada, entah tidak, dan kalau pun ada, tentu tersembunyi jauh dari pandangan.</p>



<p>Jika diketik “prestasi Sumbar 2025” di mesin peramban, sederet penghargaan bermunculan: mulai dari BAZNAS Awards, Provinsi Layak Anak, Penghargaan Kebersihan Data Pendidikan, hingga posisi kedua dalam Indeks Perencanaan Pembangunan (IPP). Semua ini pantas diapresiasi. Namun, prestasi semacam ini kerap hanya menjadi pajangan saja, tidak berdampak pada perubahan struktural.</p>



<p>Ironisnya, prestasi paling menonjol justru datang dari jagat maya: Wakil Gubernur Sumatra Barat, baru-baru ini dinobatkan sebagai wagub paling popular di Indonesia menurut riset&nbsp;<em>social media analytic</em>2025. Mungkin inilah capaian yang paling membuat hidung Pemprov mengembang. Rupanya, Sumbar harus dipoles di media sosial agar prestasinya sejajar dengan popularitas pejabatnya. Seolah-olah kinerja pemerintahan kini bisa diukur dari jumlah “<em>likes</em>” dan “<em>shares</em>,” bukan dari angka pertumbuhan atau kualitas hidup masyarakat.</p>



<p>Lebih aneh lagi, akhir-akhir ini Pemprov bisa begitu cepat mengurus konten “<em>caruik</em>” di media sosial. Seakan-akan mengelola provinsi bisa selesai dengan menandatangani surat edaran yang muncul setiap kali linimasa ribut. Padahal, membangun daerah bukan perkara meredam komentar warganet. Jika energi besar dihabiskan untuk melawan&nbsp;<em>caruik</em>, jangan heran kalau energi yangtersisa semakin kecil untuk melawan kemiskinan, pengangguran, dan stagnasi ekonomi.</p>



<p>Mengurus daerah tidak cukup dengan berkoar-koar sebagai tokoh yang punya banyak jaringan nasional. Jaringan itu ibarat peta jalan: berguna hanya jika benar-benar dipakai untuk bergerak. Tanpa langkah konkret, jaringan hanya menjadi “<em>palamak ota</em>”, bukan jalan keluar dari stagnasi pembangunan. Masyarakat tidak butuh konten-konten pertemuan dengan tokoh-tokoh nasioanl, mereka butuh bukti nyata di lapangan.</p>



<p>Masalahnya, gejala klasik kian menonjol: menutupi minimnya prestasi nyata dengan sensasi populis. Citra dipoles, realita dikaburkan. Ruang publik sepi dari kritik yang telanjang; pemberitaan lebih sibuk mengemas kinerja pemerintah yang dihasilkan dari rilis resmi humas dibanding laporan investigatif.</p>



<p>Sumatra Barat tampak kehilangan nafas panjang untuk bersaing di arena kebijakan modern.</p>



<p>Padahal, daerah ini punya potensi luar biasa: sumber daya alam, tradisi pendidikan, hingga diaspora yang kuat di tingkat nasional. Namun potensi itu sering terhenti pada seremoni dan penghargaan simbolis, bukan pada desain pembangunan yang konsisten.</p>



<p>Pertanyaannya, apakah kita akan terus puas dengan cerita kejayaan masa lalu, atau berani mengubah arah dengan kebijakan yang benar-benar berdampak? Sumbar tak butuh sekadarkepala daerah “paling popular,” melainkan provinsi yang mampu membuktikan bahwa angka ekonomi bisa lebih cepat bergerak naik daripada jumlah barisan penyuka di media sosial.</p>



<p><strong>Disclaimer:</strong>&nbsp;<em>Penulis bukan ekonom, bukan pula pengamat profesional. Hanya seorang warga Sumatra Barat yang rindu melihat daerahnya kembali dikenal karena prestasi nyata, bukan sekadar berita polesan atau sensasi yang lewat di linimasa.</em></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mencari-prestasi-sumatra-barat/">Mencari Prestasi Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">235242</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Komitmen Menjaga Ekspektasi</title>
		<link>https://langgam.id/komitmen-menjaga-ekspektasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Syafruddin Karimi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Sep 2025 03:55:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=235128</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam sepekan terakhir hingga 28 September 2025 (WIB), data utama menunjukkan: BI menegaskan akan menggunakan seluruh instrumen “secara berani”—intervensi spot, NDF (onshore/offshore), dan pembelian SBN—di tengah pelemahan rupiah; kurs sempat menyentuh Rp16.762–16.790 per USD dan melemah lebih dari 3% ytd menurut Reuters. Di sisi bantalan eksternal, cadangan devisa Agustus tercatat USD150,7 miliar, turun dari Juli karena pembayaran utang pemerintah dan langkah stabilisasi, tetapi tetap jauh di atas standar kecukupan internasional. Dari sisi fiskal, defisit APBN Jan–Agu mencapai 1,35% PDB (Rp321,6 triliun) dengan penerimaan turun 7,8% (yoy) dan belanja naik 1,5% (yoy). Pada ranah perbankan, empat bank BUMN mengumumkan bunga deposito</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/komitmen-menjaga-ekspektasi/">Komitmen Menjaga Ekspektasi</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Dalam</strong> sepekan terakhir hingga 28 September 2025 (WIB), data utama menunjukkan: BI menegaskan akan menggunakan seluruh instrumen “secara berani”—intervensi spot, NDF (onshore/offshore), dan pembelian SBN—di tengah pelemahan rupiah; kurs sempat menyentuh Rp16.762–16.790 per USD dan melemah lebih dari 3% ytd menurut Reuters. Di sisi bantalan eksternal, cadangan devisa Agustus tercatat USD150,7 miliar, turun dari Juli karena pembayaran utang pemerintah dan langkah stabilisasi, tetapi tetap jauh di atas standar kecukupan internasional. </p>



<p>Dari sisi fiskal, defisit APBN Jan–Agu mencapai 1,35% PDB (Rp321,6 triliun) dengan penerimaan turun 7,8% (yoy) dan belanja naik 1,5% (yoy). Pada ranah perbankan, empat bank BUMN mengumumkan bunga deposito USD 4% efektif 5 November, tetapi Menkeu menegaskan tidak ada instruksi pemerintah dan menyarankan peninjauan kebijakan tersebut. Sementara itu, BI-Rate telah diturunkan 25 bps ke 4,75% pada 16–17 September, menandai pelonggaran terukur dengan fokus stabilitas nilai tukar.</p>



<p>Di tengah penguatan dolar AS dan gejolak pasar global, arah kebijakan Indonesia bertumpu pada koherensi fiskal–moneter agar rupiah tetap terkendali dan ekonomi terus bergerak. Bank Indonesia menjaga stabilitas melalui intervensi nilai tukar, pengelolaan likuiditas, dan penyesuaian suku bunga yang terukur, sedangkan pemerintah menata belanja, mengoptimalkan penempatan kas negara untuk kredit produktif rupiah, serta menjaga defisit dalam koridor yang sehat. </p>



<p>Kunci utamanya ada pada keselarasan sinyal: kebijakan diumumkan saat siap dijalankan (announce-and-execute), pesan publik tegas dan konsisten, produk perbankan tidak mendorong dolar-isasi ritel, dan pelaku usaha didorong memperkuat lindung nilai di dalam negeri. Dengan disiplin eksekusi seperti ini, volatilitas kurs mereda, biaya stabilisasi menurun, dan ruang pemulihan pertumbuhan terbuka—memberi keyakinan bahwa fondasi ekonomi tetap kuat meski angin eksternal berubah-ubah.</p>



<p>Rupiah tidak kekurangan instrumen, yang kurang hanyalah koherensi sinyal. Jalan keluarnya sederhana dan tegas: akhiri “teaser” kebijakan, terapkan pola announce-and-execute dengan parameter terang sehingga pasar tidak punya alasan menunda konversi; keluarkan joint statement Menkeu–BI–OJK agar publik mendengar satu suara tentang prioritas stabilisasi; pasang guardrails pada penempatan kas pemerintah supaya likuiditas benar-benar mengalir ke kredit rupiah; dan kalibrasi produk USD bank BUMN agar fokus pada kebutuhan lindung nilai korporasi dengan underlying jelas. Selanjutnya dorong penggunaan DNDF onshore untuk memperdalam likuiditas lindung nilai domestik, mempersempit basis NDF, dan menurunkan biaya intervensi. Ukur keberhasilan dari menyusutnya volatilitas, normalisasi premi risiko, dan kembalinya minat investor pada SBN. Ketika semua itu bergerak serentak, ekspektasi berbalik konstruktif, kredibilitas kebijakan menguat, dan rupiah memperoleh ruang bernapas yang lebih panjang—bukan karena retorika, melainkan karena disiplin eksekusi yang konsisten.</p>



<p>*Penulis: <strong>Prof. Dr. Syafruddin Karimi, SE. MA (<em>Guru Besar dan Dosen Departemen Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas)</em></strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/komitmen-menjaga-ekspektasi/">Komitmen Menjaga Ekspektasi</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">235128</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Menggugat Status Gambir Indonesia sebagai Pengekspor Mentah saja dan Pasar Global Produk Olahannya</title>
		<link>https://langgam.id/menggugat-status-gambir-indonesia-sebagai-pengekspor-mentah-saja-dan-pasar-global-produk-olahannya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yazid Bindar]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Sep 2025 17:56:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=234623</guid>

					<description><![CDATA[<p>Komposisi Kimia Utama dalam Gambir Gambir (Uncaria gambir Roxb) merupakan tanaman tropis yang kaya akan senyawa kimia bernilai tinggi, terutama katekin yang terkandung hingga 30–40% dari ekstrak kering. Katekin termasuk kelompok flavonoid dengan aktivitas antioksidan yang sangat kuat, menjadikannya bahan penting dalam industri farmasi, pangan, dan kosmetik. Selain itu, gambir juga mengandung tanin kondensasi dengan proporsi besar sekitar 20–50%, yang banyak dipakai dalam industri penyamakan kulit, pembuatan perekat kayu lapis, serta tinta. Kedua komponen ini merupakan motor utama yang menjadikan gambir sangat potensial sebagai komoditas bernilai tambah tinggi. Senyawa Bioaktif dan Komponen Minor dalam Gambir Selain katekin dan tanin, gambir</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/menggugat-status-gambir-indonesia-sebagai-pengekspor-mentah-saja-dan-pasar-global-produk-olahannya/">Menggugat Status Gambir Indonesia sebagai Pengekspor Mentah saja dan Pasar Global Produk Olahannya</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><em><strong>Komposisi Kimia Utama dalam Gambir</strong></em></p>



<p><strong>Gambir</strong> (Uncaria gambir Roxb) merupakan tanaman tropis yang kaya akan senyawa kimia bernilai tinggi, terutama katekin yang terkandung hingga 30–40% dari ekstrak kering. Katekin termasuk kelompok flavonoid dengan aktivitas antioksidan yang sangat kuat, menjadikannya bahan penting dalam industri farmasi, pangan, dan kosmetik. Selain itu, gambir juga mengandung tanin kondensasi dengan proporsi besar sekitar 20–50%, yang banyak dipakai dalam industri penyamakan kulit, pembuatan perekat kayu lapis, serta tinta. Kedua komponen ini merupakan motor utama yang menjadikan gambir sangat potensial sebagai komoditas bernilai tambah tinggi.</p>



<p><em><strong>Senyawa Bioaktif dan Komponen Minor dalam Gambir</strong></em></p>



<p>Selain katekin dan tanin, gambir juga mengandung senyawa bioaktif lain dalam jumlah lebih kecil, seperti epicatechin, quercetin, serta senyawa kompleks hasil polimerisasi katekin seperti gambirflavin dan gambiriin. Kandungan ini berkontribusi pada sifat bioaktif, pewarna alami, sekaligus memperkaya profil kimia gambir. Di samping itu, terdapat pula asam organik seperti asam katekuat dan asam pirokatekuat dalam kadar rendah (&lt;5%) yang memberi efek astringen khas, serta sedikit mineral seperti kalsium, magnesium, dan zat besi. Meskipun termasuk komponen minor, senyawa-senyawa ini melengkapi nilai strategis gambir sebagai sumber bahan kimia untuk berbagai aplikasi industri modern.</p>



<p><em><strong>Indonesia Produsen Utama Gambir Dunia</strong></em></p>



<p>Indonesia adalah produsen utama gambir dunia, terutama dari Sumatra Barat, yang telah lama menjadi pusat produksi komoditas ini. Ironisnya, meskipun Indonesia menjadi sumber utama bahan baku, nilai tambah gambir tidak dinikmati di dalam negeri. India muncul sebagai negara yang paling diuntungkan karena menguasai pasar olahan gambir, khususnya dalam bentuk produk tanin dan katekin. Mereka membeli gambir mentah dari Indonesia, kemudian mengolahnya menjadi produk industri bernilai tinggi, yang kemudian diekspor kembali ke berbagai negara. Kondisi ini membuat Indonesia terjebak dalam rantai nilai global yang timpang, sekadar sebagai pemasok bahan mentah.</p>



<p>Pertanyaan besar yang muncul adalah: apakah Indonesia bisa mengolah sendiri gambirnya sehingga tidak lagi bergantung pada India sebagai pasar tunggal? Jawabannya adalah mungkin, tetapi tantangan yang menyertai langkah tersebut tidak kecil. Untuk menguasai rantai pasok, Indonesia harus menyiapkan strategi industri, diplomasi dagang, serta mengantisipasi dampak dari reaksi negara seperti India yang saat ini sangat bergantung pada impor gambir dari Indonesia.</p>



<p><em><strong>Potensi Industri Pengolahan Gambir di Indonesia</strong></em></p>



<p>Secara teknis, Indonesia mampu mengolah gambir menjadi tanin dan katekin. Teknologi ekstraksi sudah tersedia, baik dari riset perguruan tinggi maupun dari adaptasi industri kimia dalam negeri. Produk tanin dapat dipakai untuk industri penyamakan kulit, perekat kayu, serta bahan tambahan pangan, sementara katekin memiliki nilai yang lebih tinggi karena dipakai dalam industri farmasi, kosmetik, hingga suplemen kesehatan. Dengan diversifikasi produk ini, nilai tambah yang didapatkan Indonesia bisa melonjak berkali-kali lipat dibandingkan hanya menjual gambir mentah.</p>



<p>Selain aspek teknologi, Indonesia juga memiliki sumber daya manusia dan infrastruktur dasar yang mendukung. Universitas di Sumatra Barat, misalnya, sudah lama melakukan penelitian mengenai ekstraksi katekin dari gambir. Pabrik skala kecil pun telah ada, meski belum terintegrasi dengan baik dalam rantai pasok global. Dengan dukungan kebijakan pemerintah, terutama melalui hilirisasi, sebenarnya Indonesia memiliki peluang nyata untuk menjadi pemain utama dalam pasar produk turunan gambir.</p>



<p><em><strong>Kendala Struktural dan Pasar Gambir</strong></em></p>



<p>Namun, menguasai industri olahan gambir tidak cukup hanya dengan memiliki teknologi. Pasar internasional saat ini sudah dikuasai India, yang berarti mereka telah menguasai jalur distribusi, jaringan pembeli, hingga reputasi sebagai pemasok produk tanin dan katekin. Jika Indonesia ingin masuk ke pasar ini, maka ia harus siap menghadapi kompetisi yang tidak hanya soal harga, tetapi juga soal kepercayaan dan kontrak jangka panjang yang sudah diikat antara India dan negara-negara pembeli.</p>



<p>Selain itu, Indonesia menghadapi kendala struktural berupa lemahnya koordinasi antar-pelaku industri. Petani gambir masih terjebak dalam praktik tradisional yang menghasilkan produk tidak seragam, sehingga menyulitkan proses pengolahan lanjutan. Industri hilir di dalam negeri pun masih sporadis dan tidak memiliki kapasitas produksi masif yang bisa langsung menggantikan dominasi India di pasar global. Dengan kata lain, membangun industri pengolahan gambir di Indonesia memerlukan reformasi menyeluruh dari hulu ke hilir.</p>



<p><em>Diplomasi Dagang dan Strategi Kebijakan Gambir</em></p>



<p>Jika Indonesia memutuskan untuk mengolah gambir sendiri, maka kebijakan ekspor bahan mentah harus dikendalikan. Strategi ini mirip dengan apa yang dilakukan pada nikel, di mana pemerintah melarang ekspor bijih mentah untuk memaksa tumbuhnya industri pengolahan di dalam negeri. Namun, kebijakan semacam ini akan menimbulkan reaksi keras dari India, karena pasokan gambir yang menjadi andalan mereka akan terhenti. Oleh karena itu, langkah diplomasi dagang perlu dilakukan agar transisi ini tidak menimbulkan konflik ekonomi besar.</p>



<p>Diplomasi yang dimaksud dapat berupa kesepakatan baru dengan India: misalnya, mengundang investasi India untuk membangun pabrik pengolahan gambir di Indonesia. Dengan begitu, alih teknologi dapat terjadi, pasar tetap terjamin, dan Indonesia bisa mulai menguasai sebagian rantai nilai. Alternatif lain adalah memperluas pasar ke negara-negara lain yang membutuhkan tanin dan katekin, seperti Tiongkok, Jepang, dan negara-negara Eropa. Diversifikasi pasar akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap India.</p>



<p><em>Kemungkinan Reaksi India Jika Pasokan Gambir Terhenti</em></p>



<p>Apabila Indonesia benar-benar menghentikan ekspor gambir mentah, India hampir pasti akan mengambil langkah-langkah agresif untuk mempertahankan posisinya. Pertama, India bisa berusaha mencari pasokan alternatif dari negara lain. Namun, realitasnya, Indonesia adalah produsen utama gambir dunia. Negara lain seperti Malaysia atau Myanmar memiliki produksi, tetapi jumlahnya jauh lebih kecil dan kualitasnya tidak sebaik gambir Indonesia. Dengan demikian, India akan menghadapi kesulitan besar dalam mencari substitusi.</p>



<p>Kedua, India bisa mencoba mengembangkan substitusi sintetis dari tanin dan katekin, menggunakan teknologi kimia modern. Hal ini mungkin dilakukan, mengingat India memiliki kapasitas riset kimia yang cukup kuat. Namun, upaya ini memerlukan waktu, biaya besar, dan hasilnya belum tentu bisa menggantikan produk alami yang selama ini menjadi keunggulan gambir Indonesia. Artinya, penghentian pasokan dari Indonesia akan mengguncang industri India, meskipun mereka tetap akan berusaha menemukan jalan keluar.</p>



<p><em>Persaingan Baru dan Risiko Geopolitik dalam Penguasaan Gambir Hulu Hilir</em></p>



<p>Langkah Indonesia untuk menguasai pengolahan gambir bisa memicu dinamika baru dalam hubungan ekonomi dengan India. Ketegangan dagang bisa terjadi, bahkan meluas menjadi isu geopolitik jika India merasa kepentingan strategisnya terganggu. India bisa saja melakukan tekanan balik, misalnya dengan membatasi akses Indonesia pada produk lain, atau menggunakan forum multilateral untuk menentang kebijakan Indonesia.</p>



<p>Namun, risiko geopolitik ini bisa diminimalkan jika Indonesia mampu memainkan strategi diplomasi cerdas. Mengajak India sebagai mitra, bukan sekadar pesaing, bisa mengubah dinamika dari konflik menjadi kerja sama. Sebaliknya, jika Indonesia terlalu agresif tanpa strategi yang matang, maka pasar global akan tetap sulit ditembus dan posisi Indonesia hanya akan melemah.</p>



<p><em>Peluang Kemandirian Ekonomi Gambir Nasional</em></p>



<p>Meski penuh risiko, mengolah gambir sendiri tetap merupakan langkah penting untuk kemandirian ekonomi Indonesia. Hilirisasi gambir tidak hanya soal memperbaiki neraca perdagangan, tetapi juga memperkuat struktur industri nasional. Nilai tambah yang besar dari produk katekin, misalnya, bisa mendorong munculnya industri farmasi dan kosmetik berbasis lokal, sehingga Indonesia tidak hanya menjadi penjual bahan baku tetapi juga produsen produk akhir yang bisa bersaing di pasar global.</p>



<p>Lebih jauh, langkah ini sejalan dengan visi Indonesia untuk keluar dari jebakan negara pengekspor bahan mentah. Dengan mengolah gambir menjadi tanin dan katekin, Indonesia mengirimkan sinyal kuat bahwa ia mampu menguasai rantai nilai global, dan tidak hanya bergantung pada peran sebagai pemasok. Dalam jangka panjang, ini bisa menjadi model bagi komoditas lain, seperti kopi, kakao, atau rempah-rempah, yang selama ini juga hanya diekspor mentah.</p>



<p><em>Kolaborasi Alih Teknologi, bisa dan maukah ?</em></p>



<p>Salah satu strategi realistis bagi Indonesia adalah tidak langsung menghentikan ekspor, melainkan bertransisi melalui kolaborasi dengan India dan negara lain. India bisa diarahkan untuk berinvestasi dalam pembangunan fasilitas ekstraksi katekin di Indonesia, sementara Indonesia tetap mendapatkan akses pasar global melalui jaringan India yang sudah mapan. Dalam skema ini, alih teknologi akan terjadi secara bertahap, dan petani gambir bisa dilibatkan dalam rantai pasok yang lebih modern.</p>



<p>Selain itu, Indonesia juga dapat membangun pusat riset dan inovasi gambir, yang mengembangkan produk turunan baru di luar tanin dan katekin. Dengan cara ini, posisi Indonesia tidak hanya sebagai pesaing India dalam produk konvensional, tetapi juga sebagai pelopor produk baru yang bahkan India belum kuasai. Langkah ini akan menempatkan Indonesia dalam posisi strategis, tanpa harus menimbulkan konflik besar.</p>



<p><em>Antara Risiko dan Kesempatan</em></p>



<p>Indonesia berada di persimpangan jalan terkait masa depan industri gambir. Tetap menjual bahan mentah berarti membiarkan India terus menguasai pasar global produk olahan. Menghentikan ekspor bahan mentah demi mengolah sendiri memang membuka peluang nilai tambah yang besar, tetapi juga membawa risiko konflik dagang dengan India. Oleh karena itu, strategi terbaik adalah kombinasi dari kemandirian industri dan diplomasi cerdas: mengembangkan pengolahan gambir di dalam negeri, sekaligus menjaga hubungan dagang dengan India melalui pola kolaborasi.</p>



<p>Jika berhasil, langkah ini bukan hanya mengubah nasib industri gambir, tetapi juga menjadi simbol perubahan struktur ekonomi Indonesia dari sekadar eksportir bahan mentah menjadi penguasa rantai nilai global. Tantangan berat memang ada, tetapi momentum untuk keluar dari jebakan lama sudah terbuka. Indonesia harus berani mengambil risiko yang terukur, agar tidak selamanya hanya menjadi lumbung bahan baku bagi industri negara lain.</p>



<p>*Penulis: <em><strong>Yazid Bindar</strong> (Dosen dan Guru Besar pada Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung)</em></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/menggugat-status-gambir-indonesia-sebagai-pengekspor-mentah-saja-dan-pasar-global-produk-olahannya/">Menggugat Status Gambir Indonesia sebagai Pengekspor Mentah saja dan Pasar Global Produk Olahannya</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">234623</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Algoritma Kesepian Digital Manusia</title>
		<link>https://langgam.id/algoritma-kesepian-digital-manusia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Abdullah Khusairi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Sep 2025 04:49:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Media Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=234588</guid>

					<description><![CDATA[<p>Media digital yang di dalamnya penuh dengan media sosial adalah pasar malam tanpa henti, tanpa tidur. Ketika diikuti, hingga 40 tahun ke depan, video-video pendek itu tidak habis ditonton! Lampu-lampu notifikasi menyala, tawa virtual terdengar, tetapi di balik keramaian itu ada kesepian yang sunyi. Kesepian modern lahir dari keramaian virtual itu. Ketika berkumpul sesama, di ruang keluarga, di manapun, sering sekali suasana menjelma sunyi. Masing-masing asyik dengan smartphone sendiri. Adab berteman bisa hanyut jauh ke muara sunyi. Seterusnya, kini algoritma mengatur lalu lintas emosi, menentukan apa yang dilihat, siapa yang didengar, dan bagaimana merasa. Semua menjanjikan kepastian, yang muncul di</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/algoritma-kesepian-digital-manusia/">Algoritma Kesepian Digital Manusia</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Media</strong> digital yang di dalamnya penuh dengan media sosial adalah pasar malam tanpa henti, tanpa tidur. Ketika diikuti, hingga 40 tahun ke depan, video-video pendek itu tidak habis ditonton! Lampu-lampu notifikasi menyala, tawa virtual terdengar, tetapi di balik keramaian itu ada kesepian yang sunyi. Kesepian modern lahir dari keramaian virtual itu. Ketika berkumpul sesama, di ruang keluarga, di manapun, sering sekali suasana menjelma sunyi. Masing-masing asyik dengan smartphone sendiri. Adab berteman bisa hanyut jauh ke muara sunyi.</p>



<p>Seterusnya, kini algoritma mengatur lalu lintas emosi, menentukan apa yang dilihat, siapa yang didengar, dan bagaimana merasa. Semua menjanjikan kepastian, yang muncul di layar adalah “yang terbaik untuk kita.” Inilah yang relevan dikritik Imam Al-Ghazali dalam Tahâfut al-Falâsifa (1095), klaim kepastian yang rapuh ketika diuji dengan standar rasionalitas yang dibangun dengan filsafat. Berdasarkan ini, algoritma seperti pemberi kepastian, padahal hanya memantulkan citra dunia yang dipilihkan penggunanya, bukan dunia sebagaimana adanya.</p>



<p>Sir Muhammad Iqbal mengungkapkan konsep Khudi dalam Asrar-i-Khudi (1915). Sastrawan cum filosof yang berasal dari anak benua India itu menulis, segala yang kita lihat adalah cermin dari diri (The form of existence is an effect of the Self, whatsoever thou seest is a secret of the Self). Pada konteks ini, algoritma itu memberi cermin. Self kita yang awalnya terbentuk oleh kebebasan memilih kini digiring oleh pola klik, scroll, dan like. Iqbal bahkan menyerukan dalam bait terkenalnya: “Khudi ko kar buland itna…” — tinggikanlah dirimu sedemikian rupa hingga takdir sendiri bertanya apa kehendakmu. Seruan ini hendak menegaskan; jangan biarkan algoritma membentuk diri, melainkan tegakkan Self yang otonom.</p>



<p>Karl Marx dalam A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right (1843) menulis kalimat yang kemudian sangat terkenal: “Religion is the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions.” Jika agama pada abad ke-19 ia sebut demikian, maka timeline media sosial pada abad ke-21 bisa kita sebut sebagai “soulless conditions” — kondisi tanpa jiwa, penuh konten, miskin makna. Marx juga mengingatkan dalam Theses on Feuerbach (1888), “The philosophers have only interpreted the world, in various ways; the point, however, is to change it.” Kalimat ini terasa relevan: persoalan kita hari ini bekerja menafsirkan algoritma, seterusnya menuntut perubahan bagaimana menjalin percakapan digital yang lebih manusiawi.</p>



<p>Max Weber dalam The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1920), menulis modernitas lahir dari rasionalisasi kerja dan disiplin. Namun rasionalisasi itu juga membangun “sangkar besi” (stahlhartes Gehäuse) yang menjerat manusia. Begitulah sebenarnya algoritma bekerja hari ini, membuat kita rasional dalam klik, efisien dalam scroll, cepat dalam respons, tetapi kehilangan keutuhan diri. Kita menjadi spesialis dalam kecepatan, tetapi miskin kedalaman.</p>



<p>Al-Ghazali mengingatkan manusia untuk meragukan klaim kepastian, Iqbal menyalakan api otonomi diri, Marx menuntut perubahan struktural, dan Weber memperingatkan jebakan rasionalisasi, maka refleksi mereka bertemu di sini; algoritma hanyalah cermin kusam yang memperbesar kesepian, bila manusia menyerahkan dirinya sepenuhnya. Jadi, agak-agak jugalah di depan smartphone. &#8216;Kan bitu?</p>



<p>Kesepian digital adalah kesepian yang disamarkan oleh keramaian. Manusia modern seakan punya seribu teman, tetapi tak ada yang mendengar dengan sungguh-sungguh. Jalan keluarnya mungkin sederhana, tapi radikal; berhenti sejenak dari layar, menatap mata seseorang di hadapan kita, hadir dalam percakapan tanpa algoritma. Sebab pada akhirnya, manusia lebih besar daripada sistem mana pun, subjek penting di atas dunia ini. Bukan mesin, bukan robot, bukan algoritma. Dan percakapan, betapapun ringkas, lebih bernilai daripada seribu scroll yang sunyi. Yo, ndak? []</p>



<p><strong><em>Abdullah Khusairi adalah Dosen Islamic Studies; Pengkajian Media Dakwah dan Politik pada Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Imam Bonjol Padang</em></strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/algoritma-kesepian-digital-manusia/">Algoritma Kesepian Digital Manusia</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">234588</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Manifesto Kebangsaan untuk Indonesia Bangkit dari Kerapuhan</title>
		<link>https://langgam.id/manifesto-kebangsaan-untuk-indonesia-bangkit-dari-kerapuhan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yazid Bindar]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2025 04:34:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=233486</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dengan penuh kesadaran, tekad untuk bangkit dari kerapuhan, maka yang membuat kebangsaan Indonesia rapuh harus diketahui bersama dan diambil langkah perbaikannya secara fundamental. Integritas ditegakkan sebagai fondasi dan nyawa kehidupan berbangsa. Setiap anak bangsa menolak praktik manipulasi, politik uang dengan membangun budaya kejujuran sejak keluarga hingga institusi publik. Kepemimpinan Indonesia yang diperoleh dari amanah rakyat harus dikembalikan ke rakyat. Pemimpin harus amanah terhadap rakyat. Kepemimpinan bukan hasil dari nafsu kekuasaan. Rakyat menuntut pemimpin untuk hidup sederhana, terbuka pada kritik, serta menjadikan pelayanan rakyat sebagai tujuan utama. Demokrasi sebagai cara penyerahan amanat rakyat tidak dalam bentuk demokrasi palsu yang disandera oligarki.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/manifesto-kebangsaan-untuk-indonesia-bangkit-dari-kerapuhan/">Manifesto Kebangsaan untuk Indonesia Bangkit dari Kerapuhan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Dengan</strong> penuh kesadaran, tekad untuk bangkit dari kerapuhan, maka yang membuat kebangsaan Indonesia rapuh harus diketahui bersama dan diambil langkah perbaikannya secara fundamental. Integritas ditegakkan sebagai fondasi dan nyawa kehidupan berbangsa. Setiap anak bangsa menolak praktik manipulasi, politik uang dengan membangun budaya kejujuran sejak keluarga hingga institusi publik. Kepemimpinan Indonesia yang diperoleh dari amanah rakyat harus dikembalikan ke rakyat. Pemimpin harus amanah terhadap rakyat. Kepemimpinan bukan hasil dari nafsu kekuasaan. Rakyat menuntut pemimpin untuk hidup sederhana, terbuka pada kritik, serta menjadikan pelayanan rakyat sebagai tujuan utama.</p>



<p>Demokrasi sebagai cara penyerahan amanat rakyat tidak dalam bentuk demokrasi palsu yang disandera oligarki. Demokrasi palsu harus ditolak demi tegaknya kedaulatan rakyat. Rakyat bersuara, rakyat mengawasi, dan rakyat memperjuangan demokrasi bersih dan bermartabat dengan sistem politik untuk rakyat bukan untuk kelompok kelompok dan individu individu yang berhasil mendapat amanah dari rakyat. Demokraksi palsu juga menghasilkan banyak kepalsuan kepalsuan dalam kepimimpinan bangsa.</p>



<p>Korupsi ditegaskan sebagai pengkhianatan bangsa yang harus diberantas tanpa kompromi, dan anak bangsa harus berani melaporkan, menolak, serta tidak membiarkan praktik kotor tersebut di lingkungan terdekat. Kekayaan alam dipastikan sebagai milik rakyat dan dikelola untuk kesejahteraan bersama, sehingga perlu dijaga dari eksploitasi rakus, diawasi dari perjanjian yang merugikan, serta diperjuangkan agar hasilnya kembali untuk pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan rakyat. Etika sosial bangsa berdasarkan prinsip jujur, sederhana, dan gotong royong harus dihidupkan kembali setelah ketergerusannya dalam dekadean Indonesia merdeka sebagai ruh kebangkitan melalui pendidikan karakter, teladan kepemimpinan, dan penguatan komunitas lokal.</p>



<p>Dengan manifesto kebangsaan yang ditindaklanjuti dapat membawa kembali Indonesia bangkit, Indonesia bermartabat. Rakyat anak bangsa tidak berhenti berjuang dengan manifesto kesadaran bersama terhadap kondisi kebangsaan Indonesia yang tidak sedang baik baik saja.</p>



<p><em><strong>Kerapuhan Sistemik yang Menghantui</strong></em></p>



<p>Indonesia sedang berada dalam fase tidak baik baik saja dalam menempuh perjalanan sejarahnya. Bukan hanya krisis politik atau ekonomi semata, melainkan krisis yang bersifat sistemik berupa kerapuhan integritas, lemahnya kepemimpinan, rapuhnya demokrasi, dan meluasnya korupsi di hampir setiap lini kehidupan. Apa yang dulu menjadi janji kemerdekaan berupa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang kini terasa semakin jauh dari genggaman.</p>



<p>Kerapuhan ini bukan fenomena baru. Sejak awal reformasi, tanda-tanda melemahnya kepercayaan rakyat terhadap negara sudah terlihat. Reformasi membuka ruang kebebasan, tetapi kebebasan itu tidak selalu diiringi oleh tanggung jawab moral. Elite politik lebih sibuk memperluas kekuasaan ketimbang memperbaiki kesejahteraan rakyat. Akibatnya, bangsa ini seperti rumah besar yang tampak megah dari luar, tetapi rapuh tiangnya di dalam.</p>



<p><em><strong>Krisis Integritas di Semua Lini</strong></em></p>



<p>Fondasi pertama yang retak adalah integritas. Integritas adalah nyawa bagi keberlangsungan negara, karena ia menjadi landasan kepercayaan antara rakyat dan pemimpinnya. Namun dalam kenyataannya, integritas seringkali dikorbankan demi kepentingan pragmatis. Politik uang menjadi lumrah, nepotisme dianggap wajar, dan kebohongan kerap dibungkus dengan retorika manis.</p>



<p>Tanpa integritas, kebijakan negara hanya akan menjadi alat untuk memanipulasi rakyat. Pemimpin kehilangan wibawa, dan rakyat kehilangan alasan untuk percaya. Kerapuhan integritas ini jelas terlihat dalam kasus-kasus hukum yang tidak konsisten, pernyataan pejabat yang sering berubah-ubah, serta praktik transaksional yang merusak sendi-sendi keadilan.</p>



<p><em><strong>Kepemimpinan yang Kehilangan Ruh Amanah</strong></em></p>



<p>Kelemahan berikutnya adalah krisis kepemimpinan. Jabatan publik yang seharusnya menjadi amanah sering kali diperlakukan sebagai hak istimewa. Pemimpin tampil sebagai penguasa, bukan pengabdi. Sering kali rakyat hanya dijadikan angka dalam survei dan suara dalam pemilu, sementara kebutuhan nyata mereka tidak pernah benar-benar didengarkan.</p>



<p>Padahal dalam tradisi bangsa ini, kepemimpinan selalu dimaknai sebagai ibadah sosial dengan sebuah pengorbanan untuk melayani rakyat. Sejarah membuktikan, pemimpin besar lahir bukan karena kekuasaan, melainkan karena keberanian untuk hidup sederhana, berkata benar, dan menempatkan kepentingan rakyat di atas segalanya. Indonesia membutuhkan kembali ruh kepemimpinan semacam itu, bukan sekadar kepemimpinan administratif yang kering dari jiwa.</p>



<p><em><strong>Demokrasi Palsu hanya Panggung</strong></em></p>



<p>Demokrasi di Indonesia memang berjalan secara prosedural, tetapi semakin kehilangan substansinya. Pemilu rutin digelar, partai politik tumbuh subur, dan media massa bebas bersuara. Namun, di balik semua itu, demokrasi justru disandera oleh oligarki. Uang menjadi bahasa utama dalam kompetisi politik, dan rakyat hanya menjadi penonton dalam panggung besar bernama demokrasi elektoral.</p>



<p>Demokrasi sejati mestinya menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. Demokrasi sejati tidak boleh membiarkan suara rakyat diperjualbelikan. Demokrasi sejati adalah ruang kebebasan yang melahirkan keadilan, bukan sekadar prosedur yang menguntungkan elite. Maka, pertanyaan mendesak bagi kita: apakah kita sedang hidup dalam demokrasi yang nyata, atau sekadar dalam teater politik yang penuh kepalsuan?</p>



<p><em>Korupsi Merupakan Pengkhianatan yang Mengakar</em></p>



<p>Di atas segalanya, masalah terbesar bangsa ini adalah korupsi. Korupsi telah menjelma menjadi budaya yang sulit diberantas. Ia bukan lagi praktik sesekali, melainkan jaringan yang sistematis, dari level terendah hingga tertinggi. Dari urusan administrasi desa, proyek pembangunan, hingga tender besar negara, korupsi menyelinap di setiap celah.</p>



<p>Korupsi bukan sekadar pencurian uang rakyat. Ia adalah pengkhianatan terhadap cita-cita bangsa. Ia menggerogoti pendidikan dengan membuat sekolah kekurangan fasilitas. Ia merusak kesehatan dengan menjadikan obat-obatan mahal. Ia menghancurkan keadilan dengan membuat hukum bisa dibeli. Karena itu, melawan korupsi bukan hanya tugas KPK atau aparat hukum, melainkan tugas moral seluruh bangsa.</p>



<p><em>Kedaulatan yang Terjual Murah</em></p>



<p>Bangsa yang berdaulat adalah bangsa yang menguasai sumber dayanya sendiri. Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa kekayaan alam Indonesia justru banyak tergadai. Tambang, hutan, laut, dan energi dikelola bukan untuk rakyat, melainkan untuk segelintir orang yang berkolusi dengan modal asing.</p>



<p>Apa artinya merdeka bila tanah kita hanya menjadi lahan eksploitasi? Apa artinya berdaulat bila keputusan ekonomi bangsa ditentukan oleh kepentingan luar negeri? Kedaulatan ekonomi harus dikembalikan, bukan hanya demi kemakmuran, tetapi juga demi martabat bangsa. Generasi mendatang berhak mendapatkan warisan kekayaan yang utuh, bukan sekadar sisa-sisa dari generasi yang serakah.</p>



<p><em>Budaya yang Kehilangan Rasa Malu</em></p>



<p>Kerapuhan bangsa ini juga berakar pada runtuhnya etika sosial. Budaya bangsa yang dulu dikenal dengan gotong royong kini digantikan oleh individualisme yang kasar. Rasa malu untuk berkhianat hilang, keberanian untuk berkata benar lenyap, dan keserakahan dianggap sah asal menghasilkan keuntungan.</p>



<p>Padahal, kebudayaan adalah fondasi moral sebuah bangsa. Tanpa budaya yang sehat, pembangunan fisik hanya akan menghasilkan peradaban yang rapuh. Karena itu, kebangkitan bangsa harus dimulai dengan menghidupkan kembali nilai-nilai etika sosial yang didasari oleh kejujuran, kesederhanaan, kerja keras, dan gotong royong.</p>



<p><em>Rakyat Sebagai Sumber Kebangkitan</em></p>



<p>Pertanyaan besar pun muncul: siapa yang harus mengubah keadaan ini? Sejarah menunjukkan, perubahan tidak selalu lahir dari atas. Kesadaran rakyatlah yang sering kali menjadi sumber kebangkitan. Reformasi 1998 adalah bukti bahwa perubahan ini datang dari kesadaran rakyat untuk mengkoreksi kebangsaan yang salah arah. Ketika rakyat bersatu, perbaikan kebangaaan dapat dibangun, pengembalian sistem kekuasaan ke arah yang benar sesuai dengan amanat konstitusi dapat dilakukan.</p>



<p>Maka, kebangkitan bangsa tidak bisa hanya menunggu kebaikan hati dari elite. Kebangkitan harus lahir dari kesadaran kolektif rakyat, dari desa hingga kota, dari kelas bawah hingga menengah. Hanya dengan gerakan rakyat untuk mengkoreksi terhadap salah arah kepemimpinan dalam membawa bangsa serta ketidakadilan pada rakyat yg terjadi, maka bangsa ini bisa bangkit dari kerapuhannya.</p>



<p><em>Manifesto Kebangsaan Menyalakan Api Perubahan</em></p>



<p>Dari kesadaran itulah, kita memerlukan sebuah manifesto kebangsaan baru. Manifesto ini bukan sekadar teks, melainkan api yang harus dijaga, ditiup, dan diwariskan. Manifesto ini berisi janji kolektif untuk menegakkan integritas, mengembalikan kepemimpinan pada ruh amanah, meluruskan demokrasi, melawan korupsi, menjaga kedaulatan sumber daya, dan menghidupkan kembali etika sosial.</p>



<p>Manifesto kebangsaan ini adalah seruan moral, bukan program politik praktis. Ia adalah arah moral bangsa yang harus menjadi pegangan bagi siapa pun yang ingin menyelamatkan Indonesia. Tanpa arah moral semacam ini, bangsa hanya akan berjalan tanpa tujuan, terseret arus globalisasi yang mengikis jati diri.</p>



<p><em>Indonesia Bukan Bangsa Rapuh</em></p>



<p>Kita tidak boleh terjebak pada pesimisme. Indonesia memang sedang rapuh, tetapi Indonesia bukan bangsa yang ditakdirkan rapuh. Sejarah membuktikan, bangsa ini selalu mampu bangkit dari keterpurukan. Dari masa penjajahan, krisis 1965, hingga krisis moneter 1998, bangsa ini selalu menemukan cara untuk bertahan dan melangkah ke depan.</p>



<p>Namun kali ini, kebangkitan tidak bisa hanya bersifat politis atau ekonomis. Kebangkitan harus bersifat moral dan kebudayaan. Kita harus berani berkata bahwa korupsi adalah musuh bangsa, bahwa kepemimpinan tanpa integritas adalah pengkhianatan, dan bahwa demokrasi tanpa keadilan adalah kepalsuan.</p>



<p><em>Energi Kebangkitan</em></p>



<p>Kita mungkin kecewa dengan keadaan bangsa hari ini. Kita mungkin marah melihat pengkhianatan yang terus berulang. Tetapi kemarahan itu tidak boleh berubah menjadi keputusasaan. Kemarahan itu harus menjadi energi kebangkitan.</p>



<p>Manifesto kebangsaan ini adalah ajakan untuk kembali merebut arah sejarah bangsa. Sebuah ajakan agar Indonesia tidak hanyut dalam kepalsuan, tetapi bangkit sebagai bangsa yang bermartabat. Indonesia akan tetap tegak, selama rakyatnya tidak berhenti berjuang. Dan perjuangan itu harus dimulai sekarang, bukan besok</p>



<p>*Penulis: <em>Yazid Bindar (Dosen dan Guru Besar Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung)</em></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/manifesto-kebangsaan-untuk-indonesia-bangkit-dari-kerapuhan/">Manifesto Kebangsaan untuk Indonesia Bangkit dari Kerapuhan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">233486</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 24/111 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-04-04 00:57:09 by W3 Total Cache
-->