<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Musik Minang Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/musik-minang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/musik-minang/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 Oct 2025 09:39:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Musik Minang Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/musik-minang/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Mengenal Agusli Taher, Maestro Musik Minang yang Berpulang Hari Ini</title>
		<link>https://langgam.id/mengenal-agusli-taher-maestro-musik-minang-yang-berpulang-hari-ini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rahmat Irfan Denas]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2025 09:39:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Seniman]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=237303</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Innalillahi wainna ilaihirojiun. Telah berpulang ke Rahmatullah Bapak AGUS TAHER, Selasa 28 Oktober 2025 pukul 8.30. Kabar duka ini mendarat di banyak grup WhatsApp hari ini, Selasa (28/10/2025). Agus Taher atau sebenarnya Agusli Taher bukanlah sosok sembarangan. Ia adalah pencipta lagu minang dengan karya sekitar 470 lagu. Produktivitasnya dalam menelurkan lagu Minang, maka penyematan maestro baginya adalah hal kewajaran. Untuk mengenang beliau, Langgam.id menurunkan ringkasan informasi tentang Agusli Taher karangan Rahmat Irfan Denas yang diterbitkan dalam Ensiklopedia Tokoh 1001 Orang Minang tahun 2023 silam. Berikut ringkasan informasinya. Dr. Ir. Agusli Taher, M.S. adalah seorang ahli pertanian yang lebih dikenal dengan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengenal-agusli-taher-maestro-musik-minang-yang-berpulang-hari-ini/">Mengenal Agusli Taher, Maestro Musik Minang yang Berpulang Hari Ini</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211;</strong><em> Innalillahi wainna ilaihirojiun. Telah berpulang ke Rahmatullah Bapak AGUS TAHER, Selasa 28 Oktober 2025 pukul 8.30</em>. Kabar duka ini mendarat di banyak grup <em>WhatsApp</em> hari ini, Selasa (28/10/2025).</p>



<p>Agus Taher atau sebenarnya Agusli Taher bukanlah sosok sembarangan. Ia adalah pencipta lagu minang dengan karya sekitar 470 lagu. Produktivitasnya dalam menelurkan lagu Minang, maka penyematan maestro baginya adalah hal kewajaran. </p>



<p>Untuk mengenang beliau, <em>Langgam.id </em>menurunkan ringkasan informasi tentang Agusli Taher karangan Rahmat Irfan Denas yang diterbitkan dalam <em>Ensiklopedia</em> Tokoh <em>1001 Orang Minang</em> tahun 2023 silam. Berikut ringkasan informasinya.</p>



<p>Dr. Ir. Agusli Taher, M.S. adalah seorang ahli pertanian yang lebih dikenal dengan profesi “sampingan” pencipta lagu Minang yang produktif. Ia merupakan pendiri perusahaan rekaman Pitunang Record yangtelah banyak mengorbitkan penyanyi ternama di Sumatra Barat. Tercatat telah menggubah sedikitnya 470 lagu, Agusli adalah ahli peneliti pertanian di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sukarami, Solok.</p>



<p>Lahir pada 9 Agustus 1951 di Seberang Palinggam, Kota Padang, Agus sebenarnya tak berasal dari keluarga seniman, melainkan anak seorang petani. Sejak belia, kegemarannya adalah mendengarkan musik dan lagu-lagu. Saat masih berusia 10 tahun, ia sudah mulai memainkan alat musik gitar. Pengalaman pertama Agus di dunia musik bermula ketika dirinya bergabung dengan orkes gamad Ikatan Budi. Saat itu, Agus masih berusia 15 tahun, adalah anggota grup termuda dengan posisi sebagai pemain gitar. Orkes ini sering tampil mengisi acara di Radio Republik Indonesia (RRI) Padang.</p>



<p>Sebagai pencipta lagu, Agus memulai debutnya saat berusia 19 tahun lewat lagu berjudul “Derita Hati”. Awalnya, Agus hanya menciptakan lagu berbahasa Indonesia, terutama lagu pop Indonesia. Ia baru menciptakan lagu Minang pada 1975 setelah termotivasi sukses Yan Juneid yang populer saat itu. Lagu Minang pertama ciptaannya berjudul “Selendang Mayang”, tetapi lagu pertamanya yang berhasil menembus dapur rekaman adalah “Palito Den Lah Padam”. Lagu itu dibawakan oleh penyanyi Asben pada 1975. Sejak itu, nama Agus mulai dilirik.</p>



<p>Syamsi Hasan pada 1977 membawakan lagu ciptaan Agus untuk albumnya. Tak tanggung-tanggung, tujuh dari dua belas lagu yang direkam Syamsi adalah gubahan Agus. Dalam tulisannya, Agus mengenang Syamsi telah berperan “memberikan seberkas kegembiraan yang mampu menerangi kembali jalan berkesenian yang hampir tak akan dilaluinya lagi”. Apresiasi terhadap karyanya mendorong Agus terus menciptakan lagu.</p>



<p>Pada 1980-an, karya-karya Agus mulai mendapatkan pengakuan di tingkat nasional lewat ajang Festival Lagu Minang Populer (FLMP). Dalam FMLP ke-3 pada 1983, lagu ciptaanya berjudul “Pitunang Saluang Nan Hilang” berhasil menyabet juara pertama. Karya ini terpilih sebagai pemenang setelah melewati penjurian oleh Asbon, Nuskan Syarif, Ibu Sud, Rinto Harahap, Titiek Hamzah, dan Syafrial Arifin. Sebelumnya, lagu ciptaan Agus yang lain di ajang FMLP berjudul “Mandeh” dipromosikan oleh Purnama Record dan membludak di pasaran. “Mandeh” begitu populer di Sumatra Barat pada era 1980-an.</p>



<p>Popularitas Agus Taher sebagai pencipta lagu kian menanjak ketika lagunya dibawakan oleh dua penyanyi Minang legendaris, yakni Tiar Ramon dan Zalmon. Tiar Ramon membawakan empat lagu ciptaan Agus, yakni “Diseso Bayang”, “Rinai Pambasuah Luko”, “Paruntuangan”, dan “Langang di Nan Rami”. Lagu “Diseso Bayang” meledak di pasaran. Omzet penjualannya mencapai di atas 100.000 keping kaset. Lagu ini menjelma menjadi lagu wajib dalam hampir setiap ajang festival lagu Minang. Adapun Zalmon menyanyikan tujuh lagus Agus, yang paling terkenal yakni “Nan Tido Manahan”.</p>



<p>Lagu inilah yang mengantarkan Zalmon dan Agus Taher, masing-masing sebagai penyanyi dan pencipta lagu, meraih Anugerah HDX di Jakarta. Dengan penjualan di atas 500.000 kaset, “Nan Tido Manahan” tercatat sebagai lagu daerah terlaris di Indonesia, mengalahkan lagu Sunda yang dibawakan Nia Daniati.</p>



<p>Berkecimpung di dunia kesenian tak lantas membuat Agus mengabaikan dunia akademik. Setelah menamatkan kuliahnya di Fakultas Pertanian Universitas Andalas, ia menyambung S-2 di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan S-3 di University of Philippines at Los Banos (UPLB) Filipina untuk jurusan yang sama. Kembali ke Tanah Air, Agus bekerja sebagai peneliti pertanian untuk Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukarami dengan status PNS.</p>



<p>Pada 1995, balai itu berubah nama menjadi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) dan Agus ditunjuk menjadi Kepala BPTP Sumatra Barat yang pertama. Di pengujung kariernya, ia bertugas di Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Sumatra Barat. Ia memperoleh Satyalencana Wirakarya dari Presiden Soeharto pada 1995 sebagai peneliti berprestasi di bidang lahan gambut.</p>



<p>Di sela kesibukannya sebagai peneliti, ia tak pernah berhenti menciptakan lagu. Bahkan, Agus bekerja serabutan; sebagai pencipta, produser rekaman, dan pencari penyanyi berbakat. Pada 1991, Agus mendirikan perusahaan rekaman Pitunang Record. Ia memutuskan terjun langsung dalam industri rekaman untuk memberikan kondisi iklim yang baik, terutama dalam memicu terbangunnya inovasi musik, lahirnya album yang lebih berkualitas, dan memberi lebih banyak kesempatan kepada seniman untuk unjuk kebolehan.</p>



<p>Walaupun berhadapan dengan Tanama Record sebagai penguasa pasar, kehadiran Pitunang Record memberikan warna tersendiri bagi blantika Musik Minang dan menginspirasi banyak seniman untuk terlibat dalam dunia rekaman. Telah banyak penyanyi dan pemusik yang diorbitkan di bawah label Pitunang Record yang dinahkodainya, termasuk Zalmon, Anroys, Nedi Gampo, Dessy Santhia, Ferry Zein, Ima Gempita, Ody Malik, dan Febian.</p>



<p>Dalam lagu ciptaannya, Agus mengusung konsep puitisasi lagu, yakni lagu yang tidak bergantung pada pola pantun. Lirik lagu tidak memakai sampiran, tetapi langsung ke isi atau pesan lagu. Jadi, dua baris pertama yang biasanya disebut sampiran, digantikan dengan larik-larik yang ada hubungannya dengan tema lagu.</p>



<p>Lagu-lagu ciptaan Agus beragam baik dari segi genre maupun tema. Pop, dangdut, gamad, dan anak-anak adalah di antara genre yang dibawakannya. Adapun tema lagu-lagu Agus meliputi kisah cinta, lawakan, mars, hingga bencana. Selain itu, lewat lagu, ia mencurahkan kekagumannya terhadap tokoh-tokoh, di antaranya lagu “Selamat Jalan Buya” untuk mengenang kepergian Buya Hamka, “Si Bunian Bukik Sambuang” sekaatan peristiwa tersesatnya Gamawan Fauzi, dan “Arcandra Si Pembuka Mata” yang bercerita tentang Arcandra Tahar.</p>



<p>Untuk almamaternya, Fakultas Pertanian Universitas Andalas, ia mempersembahkan lagu berjudul “Dian Petani”, yang didengungkan setiap kali perayaan ulang tahun fakultas.</p>



<p>Kiprah Agus di bidang kesenian telah mendapat berbagai pengakuan. Ia beberapa kali meraih penghargaan dari Gubernur Sumbar, yakni Citra Musik (1998), Anugerah Musik (2004), dan Anugerah Tuah Sakato (2008). Di tingkat nasional, ia memperoleh Nugraha Bhakti Musik Indonesia (2005). Bersama dengan seniman lainnya, Agus telah mendorong geliat pertumbuhan industri musik di Ranah Minang. Daerah ini tampil sebagai pusat industri musik rekaman kedua terbesar di Indonesia, setelah Jakarta.</p>



<p>Namun, tidak seperti penyanyi yang membawakan lagu, pencipta lagu jarang mendapatkan ekspos. Hal itu pula yang melatarbelakangi Agus pada 2016 menerbitkan buku kumpulan biografi Perjalanan Panjang Musik Minang. Agus menetap di Kota Padang bersama istrinya, Yunimisnun. Pasangan ini dikaruniai dua orang anak, yakni Ghita Morinda dan Raymall Ramayon. (RID/YH)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengenal-agusli-taher-maestro-musik-minang-yang-berpulang-hari-ini/">Mengenal Agusli Taher, Maestro Musik Minang yang Berpulang Hari Ini</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">237303</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Cerita Kebangkitan Musik Modern Minang Era 1954-1974</title>
		<link>https://langgam.id/cerita-kebangkitan-musik-modern-minang-era-1954-1974/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dharma Harisa]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Feb 2023 01:45:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=179074</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; &#8220;Jarang sekali, musik itu hanya bunyi semata. Acap kali, ia merupakan pengakuan manusia, sejarah kemanusiaan.&#8221; Demikian dikatakan Musikolog Belgia Jules van Ackere, sebagaimana dikutip Prof. Mahdi Bakar dalam pengantar Buku &#8220;Perjalanan Panjang Musik Minang Modern&#8221; yang ditulis Agusli Taher. Pakar musik kelahiran tahun 1914 itu menyebut, musik sering kali menceritakan suka dan duka manusia, semangatnya dan kebutuhan hidupnya. Akan tetapi, bagaimanapun wujudnya bunyi, penggambaran, perasaan, prinsipnya yang tertinggi adalah: keindahan. &#8220;Musik bukanlah benda mati melainkan organisme yang hidup. Sebuah tema tidak hanya mempunyai sebuah struktur, tapi mengandung pula isi dan nilai perasaan. Musik adalah dokumen psikologis,&#8221; kata Ackere.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/cerita-kebangkitan-musik-modern-minang-era-1954-1974/">Cerita Kebangkitan Musik Modern Minang Era 1954-1974</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[


<p><strong>Langgam.id </strong>&#8211; &#8220;Jarang sekali, musik itu hanya bunyi semata. Acap kali, ia merupakan pengakuan manusia, sejarah kemanusiaan.&#8221;</p>



<p>Demikian dikatakan Musikolog Belgia Jules van Ackere, sebagaimana dikutip Prof. Mahdi Bakar dalam pengantar Buku &#8220;Perjalanan Panjang Musik Minang Modern&#8221; yang ditulis Agusli Taher.</p>



<p>Pakar musik kelahiran tahun 1914 itu menyebut, musik sering kali menceritakan suka dan duka manusia, semangatnya dan kebutuhan hidupnya. Akan tetapi, bagaimanapun wujudnya bunyi, penggambaran, perasaan, prinsipnya yang tertinggi adalah: keindahan.</p>



<p>&#8220;Musik bukanlah benda mati melainkan organisme yang hidup. Sebuah tema tidak hanya mempunyai sebuah struktur, tapi mengandung pula isi dan nilai perasaan. Musik adalah dokumen psikologis,&#8221; kata Ackere.</p>



<p>Mahdi Bakar, Guru Besar Pengkajian Seni Pertunjukkan dan Seni Rupa di Institut Seni (ISI) Padang Panjang, memahami pernyataan Ackere ini sebagai gambaran terhadap apa yang hidup dari sebuah musik.</p>



<p>&#8220;Walau apa yang kita dengar dan nikmati sehari-hari itu tak memiliki wujud fisik untuk dipandangi, namun kita bisa merasakan dalamnya nilai keindahan yang berhasut-sahut lewat nada dan irama,&#8221; tulisnya.</p>



<p>Itu semua tersusun dalam bentuk rangkaian nada, berbingkai harmoni, bergelombang dinamika, berpautan tempo, bersentakan irama, mengusung arti (meaning) dan makna (meaning of meaning), bersayatkan sastra, yang kita sebut musik dalam wujudnya sebagai &#8220;keindahan&#8221;.</p>



<p>&#8220;Musik sebagai sesuatu entitas merupakan ekspresi kehidupan manusia, baik berlokus personal maupun berlokus sosial,&#8221; tulis Mahdi.</p>



<p>Dengan demikian, tidak bisa dipungkiri, bahwa entitas musik adalah bahagian dari nilai-nilai kehidupan manusia, baik sebagai pelaku, maupun sebagai penikmat.</p>



<p>Ada kisah dan perjalanan yang ditempuh suatu entitas musik, kala ia menjadi digandrungi dan digemari masyarakat. Saat membahas budaya Minangkabau, misalnya, tak terelak, ada cerita kesenian dan musik di sana.</p>


<p>The post <a href="https://langgam.id/cerita-kebangkitan-musik-modern-minang-era-1954-1974/">Cerita Kebangkitan Musik Modern Minang Era 1954-1974</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">179074</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Seabad Kisah Gamad, Awal Perjalanan Panjang Musik Modern Minang</title>
		<link>https://langgam.id/seabad-kisah-gamad-awal-perjalanan-panjang-musik-modern-minang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dharma Harisa]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2023 03:59:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=178861</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Musik modern Minang makin diminati oleh pengguna internet lewat berbagai aplikasi dan media sosial. Berakar dari musik tradisi, komposisi lagu Minang bertransformasi jadi musik modern, dimulai dari berkembangnya gamad pada 1920-an. Komposer Senior Lagu Minang Agusli Taher menilai, musik modern Minang pada mulanya tidak terlepas dari pengaruh gamad. Dalam buku &#8220;Perjalanan Panjang Musik Minang Modern&#8221;, Agusli Taher mengelompokkan gamad sebagai musik minang pra modern. Baca Juga: Kala Musik Minang Memikat Warganet Indonesia Kepada Langgam.id dalam wawancara pada Oktober 2022 lalu, Agusli Taher mengatakan, meski sudah dirintis sejak 1920an, musik gamad dan musik modern Minang kemudian makin berkembang setelah</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/seabad-kisah-gamad-awal-perjalanan-panjang-musik-modern-minang/">Seabad Kisah Gamad, Awal Perjalanan Panjang Musik Modern Minang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Musik modern Minang makin diminati oleh pengguna internet lewat berbagai aplikasi dan media sosial. Berakar dari musik tradisi, komposisi lagu Minang bertransformasi jadi musik modern, dimulai dari berkembangnya gamad pada 1920-an.</p>



<p>Komposer Senior Lagu Minang Agusli Taher menilai, musik modern Minang pada mulanya tidak terlepas dari pengaruh gamad. Dalam buku &#8220;Perjalanan Panjang Musik Minang Modern&#8221;, Agusli Taher mengelompokkan gamad sebagai musik minang pra modern.</p>



<p><strong>Baca Juga: <a href="https://langgam.id/kala-musik-minang-memikat-warganet-indonesia/">Kala Musik Minang Memikat Warganet Indonesia</a></strong></p>



<p>Kepada Langgam.id dalam wawancara pada Oktober 2022 lalu, Agusli Taher mengatakan, meski sudah dirintis sejak 1920an, musik gamad dan musik modern Minang kemudian makin berkembang setelah kemerdekaan. </p>



<p>Ia tidak mengelompokkan gamad ke dalam jenis musik minang tradisi. Alasannya karena ciri musik gamad sangat berbeda dengan musik tradisi etnik di Minangkabau.</p>



<p>Gamad sudah menggunakan peralatan musik dari luar daerah Minangkabau. Seperti biola, armonium, akordion, atau gitar. Gamad juga tidak mengenal alat musik minang seperti bansi, saluang, pupuik batang padi, rabab, dan talempong.</p>



<p>Musik modern sendiri menurut Agus dalam buku tersebut adalah musik yang sudah mendapatkan sentuhan kebaruan dan teknologi. Baik dalam penggunaan alat musik, maupun penyajian musik.</p>



<p>Sifatnya lebih universal. Tidak dilahirkan dari tradisi dari suatu masyarakat tertentu. Notasi, tangga nada, serta motif musiknya juga jelas. Sehingga dapat dikenal dan dinikmati secara luas.</p>



<p>Dibandingkan musik tradisi yang punya corak lokalitas kedaerahan yang lebih luas. Yang lahir dan berkembang secara turun temurun di daerah setempat. Beberapa yang kita kenal seperti dendang darek, dendang pauh, indang, sirompak, musik palayaran, dan rabab.</p>



<p>Antara satu daerah dan daerah lainnya di Minangkabau mengembangkan musiknya sendiri. Hal ini menyebabkan musik tradisi memiliki ciri khasnya sendiri. Yang terletak pada isi, alat musik, dan syair lagu.</p>



<p>Dalam dendang Pauh ada saluang Pauah, sedangkan di darek ada saluang darek. Atau yang sama-sama di daerah pesisir. Antara indang Piaman dan rabab Pesisir. Hal ini kadangkala menyebabkan musik tradisi membawa sifat eksklusif. Sehingga orang dari luar daerah asalnya akan sulit mencerna dan menikmati musik tersebut.</p>



<p>Berangkat dari hal tersebut, Agus berpandangan bahwa musik modern Minang generasi pertama adalah gamad. Sedangkan format musik setelahnya, khususnya yang diusung oleh orkes Gumarang adalah musik minang modern generasi kedua.</p>



<p>Adapun anggapan musik gamad berasal dari luar Minangkabau, memang benar adanya. Dalam buku Agus yang terbit tahun 2016 itu, ia menyebutkan, gamad adalah sebuah kesenian yang amat unik. Terdiri dari berbagai unsur musik etnik, yakni Portugis, Keling, Nias, Melayu, dan Minang.</p>



<p>Namun, menurut Agus, gamad pertama kali dianggap berasal dari Portugis. Hal ini berdasarkan indikasi adanya tarian balanse madam, dan lagu pembuka pesta gamad &#8220;Kaparinyo&#8221;.</p>



<p>Sedangkan pengaruh etnik Minang dianggap tidak terlalu besar pengaruhnya dalam perkembangan musik ini. &#8220;Karena jejaknya hanya ada pada lirik lagu gamad yang berbahasa Minang dan lirik yang berbentuk pantun,&#8221; tulis Agus.</p>



<p>Akan tetapi, penyederhanaan indikasi bahwa musik gamad dipengaruhi dan dikembangkan oleh bangsa Portugis untuk pertama kali belum memuaskan Agus.</p>



<p>&#8220;Yan Juneid ketika mengusung lagu gamad dalam kemasan band Lime Stone&#8217;s, tanpa menggunakan biola, akordion, bahkan tanpa gendang ketipung, sebagai alat musik asal India.&#8221;</p>



<p>Akan tetapi, lagu Sarunai Aceh yang dinyanyikan Yan Juneid di album <em>box office</em> itu tetap saja disebut lagu gamad,&#8221; kata Agus kepada Langgam.id, Oktober 2022 lalu.</p>



<p>Kesimpulan bahwa pengaruh etnik Minang hanya sebatas lirik dan pola berpantun juga belum memadai. Hal itu terlihat dari iro/cengkok beberapa lagu gamad yang menggunakan teknik khas lagu Minang etnik katanya.</p>



<p>&#8220;Motif dan iro lagu gamad &#8220;Ratok Dagang&#8221;, terutama pada bagian ral, yaitu bagian awal lagu yang dinyanyikan secara &#8220;bailau&#8221; tanpa alat musik. Maka sangat jelas sekali bahwa asal lagu tersebut adalah Dendang Pauah Kota Padang,&#8221; kata Agus.</p>



<p>Menurutnya, ini menjadikan pengaruh lagu Minang sangat kentara terasa dalam lagu gamad. Melihat lagu gamad sendiri dicirikan oleh patahan-patahan syair ketika didendangkan.</p>



<p>Serta teknik pengulangan pada frasa &#8212; setengah kalimat yang tak selesai. Atau yang disebut Agus sebagai teknik menggantung kata. &#8220;Teknik ini sering kali dan sudah menjadi ciri dari lagu dendang atau tradisi saluang darek,&#8221; ucapnya.</p>



<p><strong>Cerita Gamad Tempo Dulu</strong></p>



<p>Dalam bukunya, &#8220;Perjalanan Panjang Musik Minang Modern&#8221;, Agusli Taher mengisahkan dirinya ketika berdiskusi dengan Burhan dan Yunus, dua pelaku sejarah musik gamad yang masih hidup.</p>



<p>Peristiwa itu ia rekam pada Senin, 6 Desember 2014. Kala itu Agus mengajak Pak Burhan yang telah berumur 89 tahun pada saat itu, makan di Rumah Makan Palanta yang terletak di dekat Danau Cimpago Purus.</p>



<p>Mengutip buku tersebut, menurut Burhan, kesenian gamad sudah ada di Padang sejak tahun 1920. &#8220;Dulu, apabila ada orang pesta kenduri, pihak tuan rumah hanya mengundang pemain biola, armonium, dan gendang. Peralatan lain tidak ada,&#8221; tulis Agus.</p>



<p>Pecandu-pecandu Gamad saat itu berposko di Los Lambuang, di Lapau Anjang, yang terletak di Pasar Miskin atau disebut juga Los Baro. &#8220;Di Lapau Anjang inilah order main gamad dilakukan,&#8221; tuturnya.</p>



<p>Saat itu, ada seorang penyanyi top terkenal yang disebut Ami Ente. Nama aslinya Ahmad Ente, penjual ikan keturunan India-Nias yang tinggal dibilangan Kampung Jawa Dalam. Penyanyi top lainnya tulis Agus, ada Sulaiman Pono. Anak Olo Ladang yang biasa disapa Pono.</p>



<p>Menurut keterangan Yunus dalam buku yang cetak pada tahun 2016 ini, Ami Ente adalah pencipta lagu gamad paling produktif. Bahkan kata Burhan dalam keterangan yang sama, Ami Ente merupakan satu-satunya pencipta lagu gamad saat itu.</p>



<p>Yunus menambahkan, beberapa karya Ami Ente yang terkenal sampai saat ini adalah Siti Padang, Ratok Dagang, Sinar Bulan. Burhan menambahkan, bahwa lagu Sarunai Aceh dan Dayuang Piaman juga ciptaan Ami Ente.</p>



<p>Ada perbedaan pandangan antara Yunus dan Burhan yang dituliskan Agus dalam bukunya itu. Utamanya dalam cara mereka menilai dendang siapa yang paling menarik diantara Ami Ente dan Pono.<br>Yunus menilai Ami Ente adalah penyanyi gamad yang luar biasa bagus suaranya.</p>



<p>&#8220;Nafasnya amat panjang, galitiak suaranya prima,&#8221; tulis Agus mengutip diskusinya dengan Yunus. Lirik sampiran lagu Dayuang Piaman yang terkenal panjang, bahkan bisa dinyanyikan Ami Ente dalam satu tarikan nafas.</p>



<p>Namun menurut Burhan papar Agus dalam sub-bab &#8220;Musik Gamad Seabad Yang Lalu&#8221;, Pono adalah penyanyi yang amat luar biasa. Khususnya ketika menyanyikan lagu Sarunai Aceh, Dayuang Piaman, dan Ratok Dagang.</p>



<p>&#8220;Penjiwaan Pono terbilang memukau, dan improvisasinya lebih hebat dari Ami Ente,&#8221; ucap Burhan mengutip tulisan tersebut. Bedanya sambung Burhan, Ami Ente lebih terasa kekhasan Gamadnya.</p>



<p><strong>Gamad Dalam Era Modern</strong></p>



<p>Dalam wawancara bersama Langgam.id, Agusli Taher memaparkan kesenian gamad dan musik minang setelah kemerdakaan makin berkembang.</p>



<p>Alat musik pun bertambah. Gitar, rumba, accordion, dan string bas mulai menjadi bagian alat musik gamad. Sehingga orkes gamad makin populer. Klub-klub gamad pun kata Agus mulai terbentuk.</p>



<p>Tahun 1953 dalam bukunya &#8220;Perjalanan Panjang Musik Minang Modern&#8221; Agus menjelaskan, saat itu terbentuk klub gamad Buruang Bayan pimpinan Kader, bermarkas di bilangan Pasar Raya.<br>Seangkatan dengan Buruang Bayan adalah orkes gamad Sampai Hati, pimpinan Judin, kakak kandung Yan Juneid di Purus. Serta orkes gamad Sinar Bulan, berposko di Jati, beranggotakan Tina Syamsudin sekeluarga.</p>



<p>Dalam tahun 1950-an tersebut juga dikenal orkes gamad yang lain, yaitu Kuno Sejati, pimpinan Abdul St Pamuncak, kemudian Mawar Sejati, pimpinan Nasrul Nasution, yang sebelumnya pernah dipimpin Zainal Syarif.</p>



<p>Selanjutnya, ada grup Senadung Malam pimpinan Zainal Syarif, dengan vokalis utama, adiknya Marlena, dan Sinar Kelana, pimpinan M. Yunus Said.</p>



<p>Selanjutnya pada tahun 1960-an berdiri pula beberapa klub gamad baru, seperti Budi Saiyo, pimpinan Udin Pono, di Jakarta serta Cahaya Budi, di Purus, pimpinan Tindik Zega, dengan penyanyi topnya Dahlia, Emy Alwi, dan Syahrudin Syarif;</p>



<p>Selanjutnya, Ikatan Budi, di Jembatan Babuai Koto Baru, pimpinan Nurman St. Mansyur, pemain biolanya Rusyid, beranggotakan Syukur, Buyu, Tambran, dan Agus Taher dengan penyanyi andalannya Zubir Ys. Lalu, Putri Minang, di Tarandam, pimpinan Andun Syamsinar, dengan pemain biolanya Bujang, beranggotakan Taswir Zubir (accordion), Pakih (melodi gitar), Agus Taher (gitar rhytim), dan Asmad sebagai pemain drum. Penyanyi utamanya adalah Tini dan Mardiana.</p>



<p>Selanjutnya, di awal 1970-an, di Seberang Palinggam juga terbentuk orkes gamad Dayuang Palinggam, pimpinan Abdul Rahmad Said, dengan pemain biolanya Asinu. (Dharma Harisa/HM)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/seabad-kisah-gamad-awal-perjalanan-panjang-musik-modern-minang/">Seabad Kisah Gamad, Awal Perjalanan Panjang Musik Modern Minang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">178861</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kala Musik Minang Memikat Warganet Indonesia</title>
		<link>https://langgam.id/kala-musik-minang-memikat-warganet-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dharma Harisa]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2023 00:26:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=178802</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Selama puluhan tahun, masakan Minang telah menyatukan banyak orang Indonesia dalam selera yang sama. Beberapa tahun ini, giliran musik Minang yang memikat jutaan telinga warganet dari pelosok Nusantara dalam nada yang seirama. Perkembangan internet dan media sosial yang mengalirkan informasi dan hiburan ke genggaman, menjadi era baru kebangkitan industri musik Minang. Di tengah banjirnya pasar musik berbahasa Indonesia dan mancanegara, karya para musisi Minang ternyata tetap eksis dan malah makin memikat. Bahasa musik yang universal, membuat lirik berbahasa Minang yang tak dimengerti oleh sebagian penyukanya, tak lagi jadi penghalang. Penyanyi dan karya baru pun bermunculan bak cendawan di</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kala-musik-minang-memikat-warganet-indonesia/">Kala Musik Minang Memikat Warganet Indonesia</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Selama puluhan tahun, masakan Minang telah menyatukan banyak orang Indonesia dalam selera yang sama. Beberapa tahun ini, giliran musik Minang yang memikat jutaan telinga warganet dari pelosok Nusantara dalam nada yang seirama.</p>



<p>Perkembangan internet dan media sosial yang mengalirkan informasi dan hiburan ke genggaman, menjadi era baru kebangkitan industri musik Minang. Di tengah banjirnya pasar musik berbahasa Indonesia dan mancanegara, karya para musisi Minang ternyata tetap eksis dan malah makin memikat.</p>



<p>Bahasa musik yang universal, membuat lirik berbahasa Minang yang tak dimengerti oleh sebagian penyukanya, tak lagi jadi penghalang. Penyanyi dan karya baru pun bermunculan bak cendawan di musim hujan.</p>



<p>Lagu &#8220;Panek di Awak Kayo di Urang&#8221; karya Rozac Tanjung misalnya. Dinyanyikan oleh pasangan duet Frans dan Fauzana, karya ini dirilis di akun Youtube RW Pro pada 15 Februari 2020. Pada Januari 2023, atau hampir tiga tahun kemudian, lagu ini sudah ditonton lebih dari 131 juta kali.</p>



<p>Contoh lain, lagu &#8220;Manunggu Janji&#8221; yang dibawakan Andra Respati dan Ovhi Firsty sudah ditonton lebih 79 juta kali pada Januari 2023. Lagu ini ini dirilis di akun Elta Record pada 14 Maret 2019.</p>



<p>Hampir sama dengan itu, lagu &#8220;Rantau den Pajauah&#8221; yang dibawakan Ipank dan Rayola dirilis pada 17 Mei 2019 di Youtube. Hingga Januari ini telah ditonton lebih 77 juta kali.</p>



<p>Beberapa lagu lainnya, &#8220;Takabek Gadih Rantau&#8221; (Fauzana) sudah ditonton 38 juta kali, &#8220;Niek Suci Panabuih Janji (Andra Respati dan Eno Viola) 29 juta kali dan salah satu yang cepat menanjak adalah &#8220;Minyak Habih Samba Tak Lamak&#8221; (David Iztambul dan Ovhi Firsty) telah ditonton 23 juta kali, meski baru sekitar satu tahun diunggah.</p>



<p>Ratusan lagu Minang lainnya, umumnya adalah karya baru, ditonton jutaan kali di Youtube. Saat membaca komentar yang beberapa di antaranya mencapai puluhan ribu testimoni di bawah lagu, mayoritas warganet yang menonton ternyata bukan berasal dari Ranah Minang.</p>



<p>Mereka dari berbagai pelosok Indonesia dan juga Malaysia. Bukan saja Sumatra dan Jawa, juga tapi dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Nusa Tenggara dan Papua.</p>



<p>Mereka kompak menyatakan kecintaan pada musik yang sama. Meski, sebagian besar di antaranya, tak paham arti semua lirik. Warganet dari Ranah Minang kemudian menerjemahkan hingga menerangkan maksud liriknya di kolom yang sama.</p>



<p>Bila biasanya orang Indonesia dipersatukan bahasa, kali ini oleh irama yang senada: musik Minang. Ketika aplikasi tiktok dan short video muncul di berbagai aplikasi media sosial, lagu-lagu Minang juga turut digandrungi sebagai latar musik pengiring konten warganet.</p>



<p>Ada juga lagu lama yang kembali terkenal karena video singkat di Tiktok. Salah satunya adalah Lagu berjudul &#8220;Pariaman&#8221; karya Anasben yang dibawakan kembali oleh Citra Irani.</p>



<p>Viral di tiktok pada bait &#8220;Oi, lah masak nasi rang kapau, cubadak jo samba randang…&#8221;, kemudian mendongkrak kunjungan ke postingan di Youtube hingga 397 ribu kali. Padahal baru saja satu bulan diunggah.</p>



<p>Era medsos dan internet ternyata telah memberi tempat pada musik Minang yang sudah ada sejak zaman piringan hitam dan radio, kaset hingga cd. Hal ini, membuat peribahasa lama, &#8220;Tak lekang oleh panas, tak lapuk karena hujan&#8221; jadi cocok disematkan.</p>



<p>Musik Minang di internet hari ini, memang lebih merata tersebar ke berbagai pelosok, melebihi era tahun 1950-an dan 1960-an di masa Oslan Husein dan Orkes Gumarang melegenda. Atau pada era 1970-an hingga 1990-an, ketika Tiar Ramon, Elly Kasim hingga Zalmon berkarya.</p>



<p><strong>Baca Juga: <a href="https://langgam.id/oslan-husein-dan-pentas-nasional-musik-minang/">Oslan Husein dan Pentas Nasional Musik Minang</a></strong></p>



<p>Agusli Taher, pencipta lagu-lagu Hits Minang sejak puluhan tahun lalu, menilai fakta ini sebagai perubahan luar biasa dalam industri musik daerah ini.</p>



<p>Menurutnya, perubahan tersebut telah dimulai sejak 2013 ketika warga Sumbar dan juga Indonesia mulai banyak yang menonton Youtube. &#8220;Pengaruhnya sangat besar sekali,&#8221; kata Agus kepada Langgam.id, saat disambangi di kediamannya di Padang, pada Desember 2022 lalu.</p>



<p>Menurutnya, sebelum YouTube gandrung di masyarakat, masih ada sekitar 75 label rekaman yang berproduksi di Sumbar. Sesudah Youtube Berkembang, label-label ini satu per satu tumbang.</p>



<p>Namun, menurutnya, itu bukanlah penanda terjadi degradasi alias penurunan. Baginya, hal ini adalah gejala zaman. Kemampuan para produser ternyata terus berkembang, mengikuti perubahan zaman.</p>



<p>Ia melihat masih ada beberapa produser rekaman saat ini yang masih eksis di masyarakat. Di antaranya: Elta Record, RW Pro, Diva Record, dan SKY Music Digital. Terbukti, label-label tersebut masih eksis dan banyak menelurkan lagu Minang baru yang populer di masyarakat.</p>



<p>Terlihat dari karya yang dihasilkan, beberapa label rekaman tersebut berhasil menyesuaikan perkembangan teknologi dengan karya yang dihasilakn. Mulai dari musik, video klip, serta cara pemasaran lewat platform media sosial dan toko musik digital.</p>



<p>Bagi doktor ilmu pertanian itu, tidak ada yang salah dengan perkembangan zaman. Begitupun dalam adaptasi musik Minang saat ini. Baginya, melestarikan lagu Minang itu bukan mengulang-ulang apa yang sudah ada. Tetapi bagaimana mengembangkan apa yang telah ada.</p>



<p>&#8220;Yang penting<em> iro</em>-nya (cengkok) masih tampak. Mau dimasukkan unsur lagu apa pun di dalamnya silahkan saja. Nanti yang menilai kan masyarakat juga,&#8221; ucap pencipta lagu &#8220;Kasiak Tujuah Muaro&#8221; itu.</p>



<p>Yang jadi titik tekan juga, lanjutnya, dalam perjalanan musik Minang ini, cengkok Minang itu dipertahankan. &#8220;Bagaimana musik dan bagaimana lirik berubah itu sesuai perkembangan saja lagi,&#8221; ucapnya.</p>



<p>Bahkan, kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BPTP) Sumbar pertama ini, harus selalu ada revolusi di setiap masa lagu Minang. &#8220;Saya mulai dulu dengan cara yang berbeda sebagai pencipta. Cara menulis lirik berbeda. Diikuti dengan cara bermusik berbeda,&#8221; ujarnya.</p>



<p>Agus mencontohkan, dulu orang tidak menggunakan piano sebagai <em>rhythm</em> (ritme) sebagai penggiring irama. Ia dan kolega musiknya, Ferry Zein tetap menggunakan piano sebagai rhythm.</p>



<p>&#8220;Kemudian, bagaimana membuat iro-iro bansi menjadi icon musiknya. Harus muncul gaya mencipta yang agak lain. Jangan mengulang-ulang yang lama,&#8221; kata Agus menegaskan.</p>



<p>Pada tahun 1980an, dulu Tanama terkenal akan musik-musiknya yang rapi lanjutnya. Dan punya pola yang mirip-mirip. Pencipta lagu &#8220;Nan Tido Manahan Hati&#8221; itu lalu mencoba gaya revolusioner dalam memproduksi lagu.</p>



<p>&#8220;Ketika saya bertemu Ferry, karena saya tau dia juga belajar musik klasik, saya coba menonjolkan dalam lagu-lagu saya kebaharuan dari segi bermusik. Gunakan rytim piano dalam musik. Mainkan kayak orkestra, itu,&#8221; tutur Agus.</p>



<p>Di sisi lain, tidak hanya mengagumi kekhasan irama musik Minang, menurutnya, pendengar juga mengagumi lirik. Kekuatan Minang itu katanya, kala kita menyampaikan sesuatu dan seberapa sampai pesan lirik itu kepada pendengar.</p>



<p>&#8220;Kekuatan orang Minang itu kan kala kita menyampaikan sesuatu dengan kieh/kias. Itu lebih terasa,&#8221; ucap pimpinan Pitunang Record ini.</p>



<p><strong>Ciri dan Rahasia Eksis Lagu Minang</strong></p>



<p>Senada dengan Agus Taher, peneliti budaya dan sastra Minangkabau Universitas Andalas, Eka Meigalia juga menjelaskan lekuatan musik Minang.</p>



<p>Ia menilai ciri musik Minang itu terletak pada cara bakieh (berkias) dalam liriknya. Bait demi bait lirik, tidak menyampaikan maksud dengan cara tembak langsung. Namun, pada kiasan dan perumpamaan.</p>



<p>Hal itu, ia nilai saat ini mulai digunakan kembali dalam karya-karya lagu Minang. Seperti lagu panek diawak kayo di urang katanya, dari judulnya saja sudah menggunakan kias. Rasa berbahasa ini perlu dijaga dan ditingkatkan jelas Eka.</p>



<p>&#8220;Justru lagu Minang bisa memperkenalkan kembali budaya kias ke masyarakat. Dan menambah kecintaan pada bahasa dan budaya Minang,&#8221; tutur Eka kepada Langgam.id.</p>



<p>Selain itu, keberhasilan lagu Minang menuai hits kata Eka juga tidak terlepas dari skill produser melirik pasar. &#8220;Ada masanya pada saat itu musik Minang mirip dengan lagu-lagu Malaysia. Ada tren saat itu, musik Indonesia pun juga begitu. Misal juga kalau mau dekat Ramadhan, yang tren lagu religi. Semuanya bikin lagu religi. Di lagu Minang juga terjadi tren yang demikian,&#8221; ucapnya.</p>



<p>Jadi di satu sisi juga, prosedur pandai dalam melihat selera pasar. Hal ini juga terdorong oleh perkembangan zaman serta kondisi sosial masyarakat ungkapnya. Lagu-lagu yang tenar saat ini ujar Eka, punya tema-tema kegalauan.</p>



<p>&#8220;Jadi di satu sisi, juga prosedur pandai dalam melihat selera pasar. Lagu galau yang tenar. Kenapa dulu tema-tema kepedihan orang merantau banyak dibuat, karena orang perantau emang suka meratapi nasib,&#8221; tutur pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Unand itu.</p>



<p>Ini juga mencirikan akan ciri khas orang Minang, dan bisa jadi masyarakat Indonesia. Bahwa orang Minang itu senang meratapi nasib kata Eka. Jika melihat tema perantauan, atau nasib yang tak mujur ditangan pada lagu minang lamo &#8212; hanya sedikit perbedaan dengan tema kegalauan saat ini. Sama-sama meratapi nasib.</p>



<p>Tema yang diusung tersebut juga menjadi unsur keberhasilan kenapa lagu Minang bisa tetap eksis sampai saat ini. Saat ini masyarakat, khususnya generasi muda lebih suka mengakses musik di platform YouTube dan toko musik digital.</p>



<p>&#8220;Siapa yang mengakses media-media itu, yang muda-muda. Yang muda suka yang galau kan. Pasti mengakses lagu-lagu itu,&#8221; ujar Eka.</p>



<p>Ini juga terjadi pada era-era sebelumnya. Eka menjelaskan, seperti pada tahun 2000an dimana globalisasi berkembang dan terjadi perubahan sosial di masyarakat, tema-tema dalam lagu Minang juga turut diperbaharui.</p>



<p>Contohnya saja katanya, lagu Uwiah-Uwiah Mintak Gatah karya Nedi Gampo. Lagu tersebut menceritakan bagaimana perempuan saat itu di Minangkabau sudah ada perubahan dalam gaya berpakaian. Yang sebelumnya menjujung adat dan budaya, pada saat itu anak-anak gadis tidak malu memakai rok mini dan baju you can see.</p>



<p>Hal ini turut menjadi keunggulan musisi minang. Bagaimana mereka bisa melihat kondisi sosial di masyarakat lalu diterjemahkan ke dalam karya lagu. Ini turut menjadi faktor mengapa musik minang bisa tetap selalu eksis, walau generasi berganti dan zaman berubah.</p>



<p>Tidak mengulang-ulang apa yang ada. Seperti yang bisa dilihat saat musisi Oslan Husein membawakan lagu Ayam Den Lapeh. Oslan memadukan lagu berbahasa minang yang terkenal itu dengan musik bergaya blues/rock. Eka menuturkan, bahkan karya-karya itu diterima masyarakat nasional.</p>



<p>Dahulu ada Hetty Koes Endang dan Betharia Sonata yang menyanyikan lagu minang hongga beberapa Album. Dalam Album Minang Populer Vol 1, Betharia Sonatha menyanyikan lagu seperti Bungo Layuah Tangkai Baduri, Mangko Denai Tagamang, dan Alek Nak Mudo.</p>



<p>Atau Hetty Koes Endang dengan Album Pulanglah Uda. Tak ayal, hal tersebut masih bisa kita temukan pada musisi nasional sekarang, seperti Judika. Penyanyi asal Batak itu sering kita lihat menyanyikan lagu Pulanglah Adiak saat manggung di berbagai tempat.</p>



<p><strong>Industri Musik Minang Saat Ini</strong></p>



<p>Bicara perkembangan musik minang tidak terlepas dari strategi seorang produser dalam merilis suatu lagu. Untuk hal itu, Langgam.id menyambangi sebuah label produksi rekaman yang sedang naik daun saat ini. Namanya RW Pro, pimpinan Rino RW.</p>



<p>Produser rekaman inilah yang merilis lagu &#8220;Panek di Awak, Kayo di Urang&#8221;. Rino, bersyukur atas kemajuan yang dialami industri musik minang saat ini. Ia melihat baik dari segi pencipta, komposer, maupun penyanyi, banyak talenta-talenta muda yang bagus-bagus saat ini.</p>



<p>Hal ini ia rasakan berbeda dari era 90an. Pada era itu, meurutnya, rata-rata penyanyi, pencipta, dan pemusiknya banyak yang sudah senior. Hadirnya talenta dan jiwa muda ini bagi Rino, sangat membantu perkembangan industri musik Minang.</p>



<p>Penyanyi baruseperti David Iztambul, Fauzana, Ovhi Firsty dan Frans pun bermunculan. Begitu juga komposer baru, seperti Rozac Tanjung atau Erwin Agam atau pemusik seperti Decky Rian.</p>



<p>Nama-nama muda ini, katanya, lebih akrab pada teknologi. &#8220;Kemajuan zaman dan perkembangan teknologi tidak bisa dipisahkan dari industri musik Minang. Tidak hanya dalam berkarya, hal ini juga sangat berpengaruh dalam hal pemasaran musik,&#8221; katanya.</p>



<p>Pertama, katanya, lewat kehadiran YouTube dan kemudian lewat digital store untuk memasarkan audio secara online. Seperti adanya Joox, Spotify, dan Itune.</p>



<p>&#8220;Itu semua sangat mempengaruhi kemajuan dan perkembangan industri musik minang. Saat ini ada sekitar 26 toko musik digital. RW sendiri sudah masuk ke semuanya,&#8221; kata Rino.</p>



<p>Kehadiran Youtube dan Digital store ini juga mempengaruhi pola distribusi lagu. Jika dulu, produser sering mengeluarkan hasil rekaman dalam bentuk album, saat ini mereka lebih memilih merilis singel digital. Itu semua papar Rino mempercepat distribusi karya dan berkelanjutan.</p>



<p>Lanjutnya, dari segi hak cipta juga lebih baik sekarang dibandingkan yang dulu. Sekarang telah ada publisher seperti Wahana Musik Indonesia (WAMI) yang mencatat copyright secara digital. Atau publisher-publisher lainnya seperti MK Publishing dan Prodigy.</p>



<p>&#8220;Jadi walaupun lagunya di-cover atau re-upload keuntungannya tetap mengalir. Mereka juga dapat persenan dari situ,&#8221; ujar Rino.</p>



<p>Jika musik Minang ingin terus berkembang, katanya, pelaku seni dan industri ini tidak boleh tergiling oleh zaman dan teknologi. &#8220;Komposer mereka harus tahu dan bisa menguasai teknologi. Kalau mereka tidak tau, mereka yang rugi sendiri,&#8221; tutur Rino.</p>



<p>Hal ini juga turut didukung oleh hadirnya seniman cover. Pada era media sosial dan platform short video saat ini, turut berperan dalam memajukan musik minang. &#8220;Mereka kan ikut melestarikan, ikut memviralkan,&#8221; katanya.</p>



<p>Ia berharap musik Minang makin dicintai masyarakat, dimanapun berada. Makin banyak yang viral dan makin mewarnai Indonesia juga hingga mancanegara. (Dharma Harisa/HM)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kala-musik-minang-memikat-warganet-indonesia/">Kala Musik Minang Memikat Warganet Indonesia</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">178802</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Legenda Pencipta Lagu Minang &#8220;Hujan&#8221;, Syahrul Tarun Yusuf Berpulang</title>
		<link>https://langgam.id/legenda-pencipta-lagu-minang-hujan-syahrul-tarun-yusuf-berpulang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2020 03:15:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=47922</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Salah satu legenda pencipta lagu Minang Syahrul Tarun Yusuf berpulang. Pencipta lagu-lagu yang dibawakan penyanyi sekelas Nurseha, Tiar Ramon, Elly Kasim hingga Siti Nurhaliza itu meninggal dunia dalam usia 78 tahun. Syaf Helmi SB, adik almarhum, yang dihubungi Langgam.id mengatakan, Tarun Yusuf berpulang sekitar pukul 06.00 WIB pada Senin (29/6/2020) di Nagari Balingka, Kecamatan IV Koto, Agam. &#8220;Beliau disemayamkan di kampuang halaman di Balingka. Rencana dimakamkan di pandam pekuburan keluarga,&#8221; katanya. Wartawan Senior Hasril Chaniago mengatakan, Tarun Yusuf adalah bagian dari sejarah panjang musik populer Minang yang dirintis sejak tahun 1950-an. &#8220;Selama hidupnya, seniman ini telah menciptakan lebih</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/legenda-pencipta-lagu-minang-hujan-syahrul-tarun-yusuf-berpulang/">Legenda Pencipta Lagu Minang &#8220;Hujan&#8221;, Syahrul Tarun Yusuf Berpulang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Salah satu legenda pencipta lagu Minang Syahrul Tarun Yusuf berpulang. Pencipta lagu-lagu yang dibawakan penyanyi sekelas Nurseha, Tiar Ramon, Elly Kasim hingga Siti Nurhaliza itu meninggal dunia dalam usia 78 tahun.</p>
<p>Syaf Helmi SB, adik almarhum, yang dihubungi Langgam.id mengatakan, Tarun Yusuf berpulang sekitar pukul 06.00 WIB pada Senin (29/6/2020) di Nagari Balingka, Kecamatan IV Koto, Agam. &#8220;Beliau disemayamkan di kampuang halaman di Balingka. Rencana dimakamkan di pandam pekuburan keluarga,&#8221; katanya.</p>
<p>Wartawan Senior Hasril Chaniago mengatakan, Tarun Yusuf adalah bagian dari sejarah panjang musik populer Minang yang dirintis sejak tahun 1950-an.</p>
<p>&#8220;Selama hidupnya, seniman ini telah menciptakan lebih 400 lagu Minang &#8211; sebagian besar dinyanyikan penyanyi Minang legendaris Elly Kasim. Banyak karyanya tetap abadi hingga kini,&#8221; kata Hasril.</p>
<p>Menurutnya, Tarun Yusuf mulai aktif berkarya pada era 1960-an dan 1970-an. &#8220;Saya pernah mewawancarai Bang Tarun tahun 1984 dan profilnya dimuat sebagai cover story (Harian) Singgalang Minggu waktu itu. Saya menulis riwayat Bang Tarun ketika ia menjadi Kepala Desa Subarang Balingka, tatkala kiprahnya sebagai seniman pencipta lagu tahun 1960-an dan 1970-an mulai dilupakan,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Salah satu lagu melegenda yang diciptakan Tarun adalah &#8220;Hujan&#8221;. Lagu ini dibawakan dengan penuh penghayatan oleh penyanyi legendaris Minang Almarhum Tiar Ramon.</p>
<p>Lagu lain yang juga sangat terkenal adalah &#8220;Bapisah Bukannyo Bacarai&#8221;. Populer lewat duet Tiar Ramon dan Elly Kasim, lagu ini amat dikenal hingga ke negara jiran Malaysia. Hingga, Siti Nurhaliza belakangan juga ikut membawakan dalam versi iringan musik Melayu.</p>
<p>Lagu &#8220;Tinggalah Kampuang&#8221; dan &#8220;Batu Tagak&#8221;, meski dengan lirik berlatar kampung halamannya Balingka, amat mewakili kerinduan para perantau Minang pada kampung halaman dan ibunda. Bukan hanya bertema kerinduan pada kampung halaman, Tarun Yusuf juga memotret fenomena unik dalam beberapa lagu, seperti Lagu &#8220;Gasiang Tangkurak&#8221;.</p>
<p>Kini Tarun Yusuf telah tiada. Tiap hujan, penikmat musik Minang masih akan termangu mengenang kisah lama pada kedalaman lirik lagu &#8220;Hujan&#8221;. Begitu juga pada lagu &#8220;Bapisah Bukannyo Bacarai&#8221;, saat Tarun menitipkan hal yang amat ia cintai, pada Gunung Singgalang dan Marapi, akan membangkitkan kerinduan pada Ranah Minang. Berpisah dengan Tarun Yusuf, memang bukan berarti bercerai dengan kecintaan pada karyanya dan Ranah Minang. Selamat jalan Angku Tarun Yusuf. Memang benar, <em>b</em><em>apisah</em> <em>bukannyo bacarai.</em> (Rahmadi/SS)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/legenda-pencipta-lagu-minang-hujan-syahrul-tarun-yusuf-berpulang/">Legenda Pencipta Lagu Minang &#8220;Hujan&#8221;, Syahrul Tarun Yusuf Berpulang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">47922</post-id>	</item>
		<item>
		<title>4 Lagu Minang Bertema Lebaran di Tengah Pandemi Corona</title>
		<link>https://langgam.id/4-lagu-minang-bertema-lebaran-di-tengah-pandemi-corona/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 May 2020 12:00:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Idul Fitri 2020]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Virus Corona]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=42632</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id- Merayakan Idul Fitri tahun ini, dirasakan cukup berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya, karena pandemi corona atau Covid-19. Banyak para perantau yang tak bisa mudik ke kampung halaman. Mereka terpaksa menahan rindu di perantauan. Merayakan Lebaran di tengah pandemi corona ini membuat sejumlah musisi merilis lagu yang bercerita Lebaran di rantau. Berikut videonya: 1. Minangkabau Bakirim Salam (Rhenima feat Andri Dharma) Minangkabau Bakirim Salam merupakan lagu bertema Lebaran yang diciptakan Andri Dharma. Andri mengajak Rhenima duet menyanyikan lagi yang diupload pada 19 Mei 2020 ini. 2. Tapaso Rayo di Rantau (David Iztambul) Lagu yang diciptakan David Iztambul ini dirilis pada 13</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/4-lagu-minang-bertema-lebaran-di-tengah-pandemi-corona/">4 Lagu Minang Bertema Lebaran di Tengah Pandemi Corona</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><span style="color: #993300;"><strong>Langgam.id-</strong></span> </a>Merayakan Idul Fitri tahun ini, dirasakan cukup berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya, karena pandemi corona atau Covid-19.</p>
<p>Banyak para perantau yang tak bisa mudik ke kampung halaman. Mereka terpaksa menahan rindu di perantauan.</p>
<p>Merayakan Lebaran di tengah <span style="color: #000000;"><a style="color: #000000;" href="https://corona.sumbarprov.go.id/">pandemi c</a></span>orona ini membuat sejumlah musisi merilis lagu yang bercerita Lebaran di rantau. Berikut videonya:</p>
<p><strong>1. Minangkabau Bakirim Salam (Rhenima feat Andri Dharma)<br />
</strong>Minangkabau Bakirim Salam merupakan lagu bertema Lebaran yang diciptakan Andri Dharma. Andri mengajak Rhenima duet menyanyikan lagi yang diupload pada 19 Mei 2020 ini.</p>
<p><iframe src="https://www.youtube.com/embed/2fXy0nUHP8Y" width="100%" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p><strong>2. Tapaso Rayo di Rantau (David Iztambul)<br />
</strong>Lagu yang diciptakan David Iztambul ini dirilis pada 13 Mei 2020. Musiknya Kiki Acoustic.</p>
<p><iframe src="https://www.youtube.com/embed/7ru642zSIfU" width="100%" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p><strong>3. Rayo di Rantau (Sri Fayola)</strong><br />
Lagu yang dibawakan Sri Fayola ini dirilis di akun Youtube Minangswara pada 28 April 2020. Lirik Rayo di Rantau diciptakan Erwin Agam.</p>
<p><iframe src="https://www.youtube.com/embed/tL708wVlBj0" width="100%" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p><strong>4. Rayo di Tanah Rantau (Andra Respati)<br />
</strong>Andra Respati juga menciptakan lagu bertema Lebaran. Lagu ini dirilis pada 14 Mei 2020.</p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/UnJzK89Tol0" width="100%" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"><span data-mce-type="bookmark" style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" class="mce_SELRES_start">﻿</span></iframe></p>
<p><strong>(SRP)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/4-lagu-minang-bertema-lebaran-di-tengah-pandemi-corona/">4 Lagu Minang Bertema Lebaran di Tengah Pandemi Corona</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">42632</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kesenian Adat Minangkabau di Ambang Kepunahan</title>
		<link>https://langgam.id/kesenian-adat-minangkabau-di-ambang-kepunahan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Palanta]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2020 01:22:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Adat Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Ilmu Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Andalas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=31833</guid>

					<description><![CDATA[<p>PalantaLanggam &#8211; Kalau kita berbicara tentang tanah Minangkabau, Sumatra Barat, apa sih yang kamu pikirkan? Mungkin hal pertama yang ada di pikiran kamu yaitu randang, nasi Padang, rumah gadang, Jam Gadang dan perantauan. Budaya, adat dan logat yang kental membuat dimanapun orang Minang berada, pasti bakal keliatan jelas bahwa dia itu orang Minang. Dan uniknya mereka ada di banyak kota di Indonesia. Minangkabau merupakan satu-satunya suku yang menganut sistem matrilineal di Indonesia. Maksudnya, setiap anak lahir baik laki-laki maupun perempuan secara langsung akan menjadi anggota keluarga suku ibu, karena di Minangkabau garis keturunan ditarik berdasarkan keluarga ibu. Orang Minangkabau juga</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kesenian-adat-minangkabau-di-ambang-kepunahan/">Kesenian Adat Minangkabau di Ambang Kepunahan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PalantaLanggam &#8211; </strong>Kalau kita berbicara tentang tanah Minangkabau, Sumatra Barat, apa sih yang kamu pikirkan? Mungkin hal pertama yang ada di pikiran kamu yaitu randang, nasi Padang, rumah gadang, Jam Gadang dan perantauan.</p>
<p>Budaya, adat dan logat yang kental membuat dimanapun orang Minang berada, pasti bakal keliatan jelas bahwa dia itu orang Minang. Dan uniknya mereka ada di banyak kota di Indonesia.</p>
<p>Minangkabau merupakan satu-satunya suku yang menganut sistem matrilineal di Indonesia. Maksudnya, setiap anak lahir baik laki-laki maupun perempuan secara langsung akan menjadi anggota keluarga suku ibu, karena di Minangkabau garis keturunan ditarik berdasarkan keluarga ibu.</p>
<p>Orang Minangkabau juga sering pergi merantau. Mereka berani pergi merantau karena sudah dibekali dengan ajaran silat dan iman yang kuat. Oleh sebab itu orang Minang dikenal sebagai muslim yang taat.</p>
<p>Seni tradisional berasal dari kata seni dan tradisional. Seni artinya keindahan, tradisional artinya kebiasaan yang biasa berlaku dalam adat. Jadi, seni tradisional Minangkabau berarti ungkapan rasa keindahan yang bersumberbdari kebiasaan adat dan budaya orang Minangkabau.</p>
<p>Rasa indah itu bagi masyarakat Minangkabau biasanya bersumber dari alam sekitar, baik gerak, bunyi dan bentuk yang dilihatnya. Ungkapan adat menyatakan :</p>
<p><em>Panakiak pisau sirauik</em></p>
<p><em>Panungkek batang lintabuang</em></p>
<p><em>Salodang ambiak ka niru</em></p>
<p><em>Satitiak jadikan lauik</em></p>
<p><em>Sakapa jadikan gunuang</em></p>
<p><em>Alam takambang jadikan guru</em></p>
<p>Ungkapan adat tersebut mengisyaratkan bahwa setiap orang harus mampu mempetinggi rasa, memberi nilai tambah, serta menggunakan akal pikiran untuk mengembangkan kesenian yang bersumber dari alam Minangkabau.</p>
<p>Keindahan dan keberagaman kesenian Minangkabau merupakan warisan yang dapat menyokong dan melengkapi kesenian lain yang berada di Indonesia. Kesenian-kesenian ini berupa tari-tarian yang terdiri dari Tari Piring, Tari rantak, Tari Randai, Tari Indang, Tari Payung, dan lainnya.</p>
<p>Selain itu juga ada kesenian pantun dan sambah-manyambah. Ada kesenian musik dengan alat musik, saluang, gandang tabuik, rebana dan lain-lainnya.</p>
<p>Budaya Minangkabau juga melahirkan banyak etnis alat musik dan lagu. Di antaranya yaitu alat musik khas Minangkabau adalah saluang, talempong, rabab, serta bansi. Keempat alat musik ini biasanya dimainkan dalam pesta adat dan perkawinan. Kini musik Minang tidak terbatas dimainkan dengan menggunakan empat alat musik tersebut.</p>
<p>Perkembangan zaman pada saat ini memberi efek memprihatinkan terhadap kebudayaan minangkabau. Semakin lama eksitensi Minangkabau semakin memudar saat banyak dari generasi muda yang mulai melupakan budaya mereka sendiri. Generasi muda kian tak acuh terhadap seluk beluk kebudayaan Minangkabau seperti kesenian yang ada di dalamnya. Kebanyakan generasi muda Minangkabau sekarang banyak yang malu akan kebudayaan yang ia miliki.</p>
<p>Ia lebih senang dengan kebudayaan orang luar seperti Kpop, dan hal lainnya. Ia juga lebih senang memainkan tik tok dari pada memainkan permainan Minangkabau. Ia lebih senang mendengarkan musik Korea, Jepang, dan Indonesia.</p>
<p>Generasi muda Minangkabau sekarang lebih senang dengan meekspresikan hal yang ia sukai dengan berbahasa asing dibandingkan dengan bahasa daerahnya sendiri. Sehingga membuat kesenian minangkabau terlupakan dan tidak ada yang mau melestarikannya kembali.</p>
<p>Generasi muda sekarang bisa dikatakan sangat minim dengan nilai moral serta nilai kebudayaan berkesenian. Generasi muda sekarang lebih rawan maksiat, sebut saja sederatan arti-artis Korea, boyband dan grilband ia mengetahui hal tersebut, bahkan sampai kesejarahan masa lalu tentang Minangkabu ia tidak mengetahuinya.</p>
<p>Keadaan ini tentu begitu mengiris hati dan perasaan, ketika para perantau Minangkabau diseluruh penjuru negeri ibu pertiwi berusaha untuk melestarikan variasi budaya minangkabau, namun usaha itu seakan-akan sia-sia karena masyarakat daerah Minangkabau itu sendiri tidak mampu melestarikan budayanya sendiri.</p>
<p>Dan ketika budaya minangkabau dikalim oleh negara lain, lucunya pemuda minangkabau merasa begitu geram.</p>
<p>Pada masa sekarang banyak kita lihat tidak begitu banyak adanya penampilan kesenian yang ada di Minangkabau. Jika ada kesenian minangkabau yang kita lihat pada saat ini yaitu berupa tari-tarian yang di tampilkan pada saat acara pesta.</p>
<p>Serta lagu-lagu Minang yang dinyanyikan ketika acara pesta atau acara-acara tertentu. Dulu orang-orang Minangkabau dimana saja kita berada kesenian minaag selalu kita dengar melalui alat musik seperti Pupuik, Saluang, dan Rabab.</p>
<p>Kini jarang kita temui lagi orang yang memainkan pupuik dan saluang. Media penyampaian kesenian tersebut sudah terbatas dan banyak orang-orang menyampaikan kesenian tersebut di tempat-tempat seperti di Pertamina, Di lampu merah, dan di tempat lainnya.</p>
<p>Kita sebagai generasi muda harus melestarikan, membudayakan dan menghormati kesenian yang sudah ada sejak zaman dahulu. Agar tidak punah dizaman modern ini, juga untuk menjaga sebaik-baiknya agar tidak direbut/diklaim oleh orang luar, dan yang paling utama adalah selalu memegang teguh amanat dari para pendahulu untuk generasi penerus yang semua kesenian dan kebudayaan ini menjadi akar dari semua kehidupan.</p>
<p>Hendaknya para penerus generasi sekarang ini membulatkan tekadnya untuk dapat menyatukan visi bersama untuk menjaga adat dan kesenian budaya agar tetap utuh di dalam keseharian masyarakat. Bukan seperti saat ini, pemuda banyak tidak peduli dan masih mengedapankan sikap individualisme dan apatis.</p>
<p><strong>*Mahasiswi Sastra Minangkabau, Universitas Andalas</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kesenian-adat-minangkabau-di-ambang-kepunahan/">Kesenian Adat Minangkabau di Ambang Kepunahan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31833</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Asbon Madjid dan Orkes Gumarang, Pembuka Pintu Indonesia untuk Musik Minang</title>
		<link>https://langgam.id/asbon-madjid-dan-orkes-gumarang-pembuka-pintu-indonesia-untuk-musik-minang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hendra Makmur]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 May 2019 15:09:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Hari ini dalam Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Hari ini di Masa Lalu]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Minang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=6556</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Bila ada musisi yang konsisten membawakan lagu-lagu berbahasa daerah dan dicatat dalam tinta emas musik Indonesia, hanya Orkes Gumarang-lah jawabnya. Album grup ini &#8216;Lagu Gumarang Jang Terkenal&#8217; (1960) dinobatkan menjadi satu dari 150 album Indonesia terbaik sepanjang masa. Penghargaan itu diberikan Majalah Rolling Stone Indonesia dalam Edisi nomor 32, Desember 2007, hampir setengah abad setelah album itu dirilis. Pada edisi yang sama, majalah musik berjaringan internasional itu juga mendaulat lagu &#8216;Ayam Den Lapeh&#8217; di posisi ke-79 di antara 150 lagu Indonesia terbaik sepanjang masa. Lagu yang dipopulerkan Orkes Gumarang sejak 1959 itu, juga menjadi satu-satunya lagu berbahasa daerah</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/asbon-madjid-dan-orkes-gumarang-pembuka-pintu-indonesia-untuk-musik-minang/">Asbon Madjid dan Orkes Gumarang, Pembuka Pintu Indonesia untuk Musik Minang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Bila ada musisi yang konsisten membawakan lagu-lagu berbahasa daerah dan dicatat dalam tinta emas musik Indonesia, hanya Orkes Gumarang-lah jawabnya.</p>
<p>Album grup ini &#8216;Lagu Gumarang Jang Terkenal&#8217; (1960) dinobatkan menjadi satu dari 150 album Indonesia terbaik sepanjang masa. Penghargaan itu diberikan Majalah Rolling Stone Indonesia dalam Edisi nomor 32, Desember 2007, hampir setengah abad setelah album itu dirilis.</p>
<p>Pada edisi yang sama, majalah musik berjaringan internasional itu juga mendaulat lagu &#8216;Ayam Den Lapeh&#8217; di posisi ke-79 di antara 150 lagu Indonesia terbaik sepanjang masa. Lagu yang dipopulerkan Orkes Gumarang sejak 1959 itu, juga menjadi satu-satunya lagu berbahasa daerah yang masuk dalam daftar terbaik itu.</p>
<p>Berkibarnya nama Orkes Gumarang pada era 50 sampai 70-an, tak lepas dari tangan dingin pemimpinnya, Asbon Madjid. Meski, Asbon sendiri baru bergabung satu tahun setelah Gumarang didirikan dan merupakan pimpinan orkes ini yang ketiga.</p>
<p>Buku ‘Siapa Mengapa Sejumlah orang Minang’ (1995) yang diterbitkan Badan Koordinasi Kemasyarakatan/ Kebudayaan Alam Minangkabau menulis, Asbon Madjid lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 8 Mei 1925, atau tepat 94 tahun yang lalu dari hari ini, Rabu (8/5/2019).</p>
<p>Asbon yang lahir dari kedua orang tua asli Tanjung Alam, Tanah Datar, hanya menumpang lahir di Sibolga. Pada usia yang sangat kecil, ia ikut pindah ke Padang dan menghabiskan masa sekolahnya di kota ini.</p>
<p>Asbon menamatkan SR di Padang (1936), kemudian Ambacht school di Padang (1937) dan Taman Sari Schoot Padang (1941). Sejak 1937, Asbon sudah menekuni beragam musik sejak keroncong, gambus hingga gamad.</p>
<p>Buku ‘Siapa Mengapa Sejumlah orang Minang’ menyebut, pada 1939, ia mendirikan grup musik &#8216;The Smiling Hawaiian Players&#8217; di Padang. Pada 1940 hingga 1943, ia bergabung dengan Grup Band Black i White.</p>
<p>Menurut Dosen dan Peneliti Sastra Universitas Leiden Suryadi dalam artikelnya di Harian Singgalang dan dipublikasikan di blognya, bersama &#8216;The Smiling Hawaiian Players&#8217;, Asbon mengisi banyak acara di pesta dansa orang-orang Belanda dan acara pasar malam di Padang.</p>
<p>Grup itu juga mengisi siaran musik di Padangsche Radio Omroep. Tahun 1939 grup musik ini mengadakan tour ke Medan dan didaulat untuk mengisi siaran di radio NIROM Medan.</p>
<p>Suryadi menulis, ketika Jepang masuk, Asbon bergabung dengan anggota Korps Musik Tentara Dai Nippon. Pada saat yang sama, ia juga ikut grup sandiwara Ratu Asia, sebagai aktor, penyanyi dan pemusik.</p>
<p>&#8220;Grup ini dipimpin oleh Syamsuddin Syafei, sementara grup musik Ratu Asia dipimpin oleh Zubir Said, warga Minang yang juga menciptakan lagu kebangsaan Singapura,&#8221; tulis Suryadi.</p>
<p>Setelah Indonesia merdeka, pada 1945-1953, Asbon aktif dalam dunia kemiliteran, antara lain sebagai Tentara Pelajar Padang dan anggota TRI Divisi Banteng di Bukittinggi.</p>
<p>Pada 1954, setelah bebas dari dinas ketentaraan, menurut Suryadi, Asbon merantau ke Jakarta dan bergabung dengan Orkes Gumarang yang waktu itu dipimpin oleh Alidir, setelah sebelumnya dipimpin Anwar Anif.</p>
<p>Mengutip Syaiful Nawas dalam Buku &#8216;Memori Orkes Gumarang&#8217; (tanpa tahun), Dean Stales Yori dkk, peneliti dari Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat menulis, Orkes Gumarang didirikan pada 1953 oleh sekelompok anak-anak muda Minang yang terdiri dari Alidir, Anwar Anif, Dhira Suhud, Joeswar Khairudin, Taufik, Syaiful Nawas, dan Awaludin Djamin. (Awaludin kelak menjadi Kapolri 1978-1982).</p>
<p>Masih mengutip Syaiful, dalam paper berjudul &#8216;Orkes Gumarang: Pelopor Musik Minang Modern Tahun 1953-1980&#8217; Dean bersama Zusmelia dan Zulfa menulis, nama Orkes Gumarang diambil dari nama kuda dalam legenda Minang &#8216;Cindue Mato&#8217;. Anwar Anif yang pertama kali memimpin orkes ini. Anwar kemudian digantikan Alidir.</p>
<p>Pada masa Anwar, Gumarang lolos seleksi untuk tampil di RRI. Kemudian, pada 1954 untuk pertama kali Gumarang merekam lagu-lagu mereka di perusahaan rekaman negara Lokananta. Lagu-lagu yang direkam ketika itu adalah: Kaparinyo, Simpang Ampek, batjarai Kasih, Jo Rang Mudo, Titian Nan Lapuak, dan Gadih Minang.</p>
<p>Setelah Asbon bergabung pada 1954, ia didaulat jadi pemimpin Orkes Gumarang pada 1955. Pada masa kepemimpinan Asbon, personel lama seperti Dhira Suhud, Joeswar Khairudin, Taufik, Syaiful Nawas, dan Awaludin masih bertahan.</p>
<p>&#8220;Tetapi kemudian banyak personil baru yang bergabung. Di antaranya, Anas Jusuf, Juni Amir, Januar Arifin (pianis), Ismet (penabuh gendang), Syaugi Busmi (mantan personil Orkes Penghibur Hati sebagai penabuh gendang), Yohnny Syarief, Chuzai Bustami (pemain bas) serta Nurseha (penyanyi),&#8221; tulis Dean.</p>
<p>Nurseha, kemudian menjadi salah satu daya tarik utama Gumarang, karena warna vokal dan penampilannya yang menarik.</p>
<p>Menurut Suryadi, Orkes Gumarang mencangkokkan unsur musik Amerika Latin ke dalam musik Minang. Pembaruan dalam musik Minang ini, membuat Gumarang terkenal ke seluruh Nusantara, bahkan sampai ke Malaysia melalui rekaman-rekamannya dalam bentuk piringan hitam.</p>
<p>Suryadi yang menulis disertasi &#8216;<em>The Recording Industry and Regional Culture in Indonesia: The Case of Minangkabau</em>&#8216; saat menyelesaikan studi doktor di Universitas Leiden pada 2014 menyebut, teknologi rekaman saat itu menghasilkan ‘modern mechanical sound’ dalam mempopulerkan musik Minangkabau, termasuk Orkes Gumarang.</p>
<p>Selain diterima oleh umumnya masyarakat Indonesia dan negara tetangga, menurutnya, musik Minang memelihara ‘Minangkabau <em>ethnic sensibility</em>’ atau ‘<em>the Minangness</em>’ di kalangan orang Minang yang hidup berpencar-pencar karena tradisi merantau.</p>
<p>Dean dkk menulis, karir Orkes Gumarang pada masa kepemimpinan Asbon Madjid semakin berkembang. Lagu-lagu Orkes Gumarang hampir setiap hari diputar di radio. Seperti, Lagu Ayam Den Lapeh ciptaan Abdul Hamid, Jiko Bapisah dan Baju Kuruang ciptaan Asbon, Yo Baitu ciptaan Syaiful Nawas, Takana Adiak ciptaan Januar Arifin.</p>
<p>&#8220;Setidaknya ada sekitar 62 lagu Orkes Gumarang yang berhasil diidentifikasi dalam penelitian ini. &#8230;direkam sejak tahun 1954-1971,&#8221; tulis Dean dkk.</p>
<p>Lagu-lagu itu antara lain, Ayam Den Lapeh, Baju kuruang, Sayang Tak Sudah, Minangkabau, Simpang Ampek, Kampuang Nan Jauah di Mato, Dayuang Palinggam, Usah Diratoki, Lompong Sagu, Lintuah, Lansek Manih, Malam Bainai, Sansaro dan Laruik, dipopulerkan pertama kali oleh Orkes Gumarang.</p>
<p>&#8220;Yang paling populer adalah lagu Ayam Den Lapeh ciptaan A.Hamid, Baju Kuruang ciptaan Asbon, Laruik Sanjo ciptaan Nurseha, Antahlah dan Takana Adiak ciptaan Januar Arifin.&#8221;</p>
<p>Buku ‘Siapa Mengapa Sejumlah orang Minang’ (1995) mencatat, selain merekam lagu di piringan hitam, Orkes dan tampil di RRI, Gumarang kerap berkeliling daerah untuk melakukan show. &#8220;Gumarang juga pernah diundang Presiden Sukarno ke Istana Negara di Jakarta dan Istana Bogor, untuk untuk menghibur tamu-tamu negara.&#8221;</p>
<p>Pada tahun 1964, tulis buku tersebut,anggota Gumarang ikut dalam misi kesenian Indonesia ke Amerika Serikat. Selama hampir satu tahun mereka mengada kan pertunjukan di New York World Fair.</p>
<p>&#8220;Dari sana mereka melanjutkan trip ke Eropa, dan tampil di Belgia, Perancis serta Negeri Belanda. Di Negeri Kincir Angin, menurut Asbon, mereka sempat diundang Ratu Juliana di Istana Soesdijk.&#8221;</p>
<p>Dean dkk menulis, pada 9 Juni 1971 untuk pertama kalinya Orkes Gumarang menggelar pertunjukan di Padang. Sehari setelahnya, juga digelar pertunjukan di Bukittinggi.</p>
<p>&#8220;Tidak semua personil Orkes Gumarang hadir. Yang hadir hanya hanya Asbon, Syaiful Nawas, Dhira Suhud, Anas Yusuf, Nurseha, dan bintang tamu Elly Kasim tampil memuaskan Masyarakat Padang.&#8221;</p>
<p>Setiap aksi panggung Orkes Gumarang, menurutnya, seringkali tidak lengkap. &#8220;Meskipun tergabung dalam satu kelompok musik, tapi tampaknya mereka tidak terikat. Sehingga, memungkinan personil lain mempunyai pekerjaan di luar Orkes Gumarang.&#8221;</p>
<p>Pada 9 Juni itu pula, Gumarang mendapat penghargaan dari Gubernur Sumbar Harun Zain. Penghargaan ini karena lewat lagu-lagunya, Orkes Gumarang telah mengangkat nama Minangkabau ke seluruh Indonesia.</p>
<p>Lebih dari itu, sebenarnya, Gumarang menjadi pembuka pintu pentas Indonesia untuk musik Minang. Setelah Gumarang, Oslan Husein juga membawakan lagu-lagu Minang dengan sentuhan rock and roll. (Baca: <a href="https://langgam.id/oslan-husein-dan-pentas-nasional-musik-minang/">Oslan Husein dan Pentas Nasional Musik Minang</a>)</p>
<p>Lalu, Grup Kumbang Tjari pimpinan Nuskan Syarief dengan vokalis utamanya Elly Kasim. Setelah Gumarang pula, musik dari berbagai daerah lain di Indonesia mulai digarap dan dipopulerkan di tingkat nasional.</p>
<p>Pada 1970-an, Orkes Gumarang mulai meredup, karena banyak ditinggalkan personelnya. Asbon Madjid bersama Juni Amir mencoba mempertahankan eksistensi dengan merekrut anggota baru, Edi Arifin dan Akhirudin. Namun, hal itu hanya untuk pertunjukan, Gumarang tidak lagi berkarya.</p>
<p>Pada 1980, Asbon Madjid meninggal dunia di Jakarta pada usia 55 tahun. Seiring itu pula, setelah langkah pembukanya yang panjang dan capaian yang mengesankan, Orkes Gumarang pun tutup usia. (HM)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/asbon-madjid-dan-orkes-gumarang-pembuka-pintu-indonesia-untuk-musik-minang/">Asbon Madjid dan Orkes Gumarang, Pembuka Pintu Indonesia untuk Musik Minang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">6556</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Oslan Husein dan Pentas Nasional Musik Minang</title>
		<link>https://langgam.id/oslan-husein-dan-pentas-nasional-musik-minang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Hendra Makmur]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Apr 2019 14:43:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Hari ini dalam Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Hari ini di Masa Lalu]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=5175</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Majalah Rolling Stone Indonesia Edisi 32, Bulan Desember 2007 memasukkan albumnya tahun 1964 jadi satu dari 150 album musik Indonesia terbaik sepanjang masa. Album yang diproduksi Irama Records tersebut, berada di posisi 37. Judul album sama dengan nama penyanyinya: Oslan Husein. Ia adalah penyanyi, aktor dan juga komedian yang mewarnai dunia seni Indonesia pada era setelah perang kemerdekaan: 50 dan 60-an. Masih dari majalah yang sama, salah satu lagu dalam albumnya bersama Orkes Teruna Ria pada 1959, dinobatkan di peringkat 11 dari 150 lagu Indonesia terbaik sepanjang masa. Lagu keroncong diberi sentuhan rock dengan gaya bernyanyi terpengaruh Elvis</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/oslan-husein-dan-pentas-nasional-musik-minang/">Oslan Husein dan Pentas Nasional Musik Minang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Majalah Rolling Stone Indonesia Edisi 32, Bulan Desember 2007 memasukkan albumnya tahun 1964 jadi satu dari 150 album musik Indonesia terbaik sepanjang masa.</p>
<p>Album yang diproduksi Irama Records tersebut, berada di posisi 37. Judul album sama dengan nama penyanyinya: Oslan Husein. Ia adalah penyanyi, aktor dan juga komedian yang mewarnai dunia seni Indonesia pada era setelah perang kemerdekaan: 50 dan 60-an.</p>
<p>Masih dari majalah yang sama, salah satu lagu dalam albumnya bersama Orkes Teruna Ria pada 1959, dinobatkan di peringkat 11 dari 150 lagu Indonesia terbaik sepanjang masa. Lagu keroncong diberi sentuhan rock dengan gaya bernyanyi terpengaruh Elvis Presley, membuat lagu &#8216;Bengawan Solo&#8217; ciptaan Gesang&#8217; populer pada masa itu.</p>
<p>Buku &#8216;Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978&#8217; yang ditulis Sinematek Indonesia terbitan Yayasan Artis Film Sinematik Indonesia pada 1979 itu, menulis, Oslan Husein lahir di Padang pada 8 April 1931, atau tepat 88 tahun yang lalu dari hari ini, Senin (8/9/2019).</p>
<p>Masa kecil dan remaja Oslan dihabiskan di Padang. Menurut buku tersebut, Ia menamatkan SD (Daisan Kotogokumin Gakko) pada masa Jepang. Saat itu, Oslan mulai sadar dengan bakat vokalnya.</p>
<p>Oslan mengamen dan mengaji di sebuah pasar malam dan mendapatkan uang. Ia kemudian masih menyambung ke sekolah menengah pertama di Padang. Namun, sekolah menengah atas tak bisa ia selesaikan.</p>
<p>Oslan tak bisa belajar, tapi jadi ikut berjuang dengan menjadi tentara pelajar. &#8220;Tatkala menjadi anggota Tentara Pelajar di Masa Perang Kemerdekaan, Oslan menyanyi untuk menghibur dan membangkitkan semangat kawan-kawannya,&#8221; tulis Sinematek Indonesia.</p>
<p>Perang usai, rantau menggodanya. Oslan berangkat ke Jakarta pada 1950. Usianya belum genap 20 saat dikenalkan oleh kawan lamanya Alwi kepada Orkes Kinantan. Bersama band inilah Oslan mulai mengarungi dunia musik yang mulai menggeliat di masa setelah perang saat itu.</p>
<p>Orkes Gumarang saat dipimpin Asbon Madjid sedang naik daun membawakan lagu-lagu Minang dengan aransemen baru ketika itu. Maka, lagu-lagu Minang seperti &#8216;Laruik Sanjo&#8217;, &#8216;Baju Kuruang&#8217; dan &#8216;Ayam Den Lapeh&#8217; menjadi populer ke seluruh Indonesia.</p>
<p>Oslan dengan Kinantan belum masuk ke sana. Mulai 1953, mereka membuat musik dan lagu untuk film. &#8220;Bersama band inilah Oslan mulai menyentuh dunia film sewaktu mereka menyanyikan lagu2 untuk film Harimau Tjampa,&#8221; tulis Sinematek Indonesia.</p>
<p>Ada beberapa film yang diisi oleh Oslan, seperti &#8216;Arini&#8217; (1955) dan &#8216;Daerah Hilang&#8217; (1956). Namun, dunia rekaman juga memanggilnya. Saat itu, Elvis Presley dengan rock and roll mulai membawa pengaruh ke seluruh dunia.</p>
<p>Pelarangan musik ala barat yang disebut Bung Karno dengan musik &#8216;ngak ngik ngok&#8217; membuat musisi harus kreatif, bila tak ingin bermasalah. Saat itulah, pada 1959, Oslan mendirikan Orkes Teruna Ria bersama Moes DS.</p>
<p>&#8220;Apa yang disebut &#8220;penggalian&#8221; itu, sebetulnya adalah cara yang tidak kehabisan akal dari anak- anak muda Elvismania untuk mengalihkan gaya Elvis Presley lewat lagu-lagu daerah: Betawi, Minang, Batak, Makasar, Ambon, dst. Yang pertama kali punya gagasan melakukan ini adalah Oslan Hussein lewat lagu Betawi Lenggang kangkung dan lagu kroncong Bengawan Solo; setelah itu diikuti oleh yang lain-lain,&#8221; tulis Buku Ensiklopedia Musik (1992).</p>
<p>Lagu keroncong karya Gesang yang dibawakan dengan sentuhan tipis musik rock dan cara bernyanyi Elvis Presley, membuat &#8216;Bengawan Solo&#8217; mencapai puncak popularitas.</p>
<p>Bila sebelum 1960, Oslan hanya mengisi musik dan lagu untuk film. Pada 1961, untuk pertama kali ia ikut bermain dalam film</p>
<p>&#8220;Dia baru muncul di layar putih dalam tahun 1961 lewat &#8216;Detik Detik Berbahaja&#8217; sebagai pemeran pembantu bersama sobatnya Alwi, lalu &#8216;Seribu Langkah&#8217; dan &#8216;Kasih tak Sampai&#8217;,&#8221; tulis Sinematek Indonesia.</p>
<p>Beberapa filmnya yang lain, Hadiah 2.000.000 (1962), Antara Timur Dan Barat (1963), Maut Mendjelang Magrib (1963), Operasi Hansip 13 (1965), Madju Tak Gentar (1965), Belaian Kasih (1966) dan Kini Kau Kembali (1966).</p>
<p>Setelah menyanyikan lagu &#8216;Hari Lebaran&#8217; yang juga terkenal sampai hari ini, Oslan bersama Orkes Teruna Ria juga kemudian membawakan lagu-lagu Minang.</p>
<p>Beberapa lagu Minang yang mereka populerkan antara lain, &#8216;Kampuang Nan Jauah di Mato&#8217;,  &#8216;Lompong Sagu&#8217; dan &#8216;Kambanglah Bungo Parauitan&#8217;. Lagu Minang juga dibawakan Oslan saat membuat album solo.</p>
<p>Album solo Oslan pada 1964 yang mendapat penghargaan Majalah Rolling Stone, digarap musiknya oleh musisi jazz Jack Lesmana. Ada tiga lagu Minang dalam album tersebut, yakni, &#8216;Si Nandi-Nandi&#8217;, &#8216;Kok Untuang&#8217; dan &#8216;Urang Lolong&#8217;.</p>
<p>Lagu-lagu ini berada dalam 150 terbaik yang pernah ada. Sementara, Lagu &#8216;Ayam Den Lapeh&#8217; yang dibawakan Orkes Gumarang pada 1959, masuk kategori 150 lagu terbaik sepanjang masa, di peringkat ke-79.</p>
<p>Bersama Gumarang dengan vokalisnya Nurseha dan Orkes Kumbang Cari pimpinan Nuskan Syarif dengan vokalis Elly Kasim, Oslan membawa musik Minang ke pentas nasional dalam level kualitas yang pantas dikenang.</p>
<p>Namun, Oslan tak bisa berkarya lama. Ia kemudian sakit dan makin lama makin parah. Hingga kemudian, pada 16 Agustus 1972 ia meninggal dunia di RS Ancol dalam usia yang masih muda: 41 tahun.</p>
<p>Namun selama lebih kurang 20 tahun berkarya, tarikan vokalnya masih terasa mewarnai hingga kini, mewakili semangat zaman awal perkembangan musik Indonesia. (HM)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/oslan-husein-dan-pentas-nasional-musik-minang/">Oslan Husein dan Pentas Nasional Musik Minang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">5175</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Silaturahmi Budaya Lewat Padang Multikultural Festival</title>
		<link>https://langgam.id/silaturahmi-budaya-lewat-padang-multikultural-festival/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rahmadi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Feb 2019 01:52:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=2498</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Dinas Pariwisata Sumatra Barat dan Himpunan Tjinta Teman (HTT) mengadakan Padang Multikultural Festival (Pamfest) selama tiga hari antara 16-18 Februari di Pelataran Kelenteng Lama, Kawasan Kota Tua Padang. Setelah dibuka pada Sabtu (16/2/2019) malam, acara dimulai dengan penampilan musik Kolaborasi Talago Buni dan Musisi Nusantara Gambang Long See Tong. Dalam grup musik tersebut anggotanya merupakan paduan dari berbagai etnis yang ada di Kota Padang. Selain anggotanya, grup tersebut juga membawakan lagu dalam berbagai bahasa daerah. Walau cuaca hujan, terlihat puluhan warga Kota Padang tetap ikut menonton acara Pamfest ini. Edy Utama, Direktur Festival dan Kreator Pamfest, mengatakan bahwa</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/silaturahmi-budaya-lewat-padang-multikultural-festival/">Silaturahmi Budaya Lewat Padang Multikultural Festival</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Dinas Pariwisata Sumatra Barat dan Himpunan Tjinta Teman (HTT) mengadakan Padang Multikultural Festival (Pamfest) selama tiga hari antara 16-18 Februari di Pelataran Kelenteng Lama, Kawasan Kota Tua Padang.</p>
<p>Setelah dibuka pada Sabtu (16/2/2019) malam, acara dimulai dengan penampilan musik Kolaborasi Talago Buni dan Musisi Nusantara Gambang Long See Tong. Dalam grup musik tersebut anggotanya merupakan paduan dari berbagai etnis yang ada di Kota Padang. Selain anggotanya, grup tersebut juga membawakan lagu dalam berbagai bahasa daerah.</p>
<p>Walau cuaca hujan, terlihat puluhan warga Kota Padang tetap ikut menonton acara Pamfest ini.</p>
<p>Edy Utama, Direktur Festival dan Kreator Pamfest, mengatakan bahwa acara yang diadakan merupakan upaya mempresentasikan atau menggambarkan betapa kayanya kota Padang dalam kehidupan seni dan budaya khususnya musik.</p>
<p>&#8220;Secara musikal banyak hal menarik yang dimiliki berbagai budaya, kemudian unsur-unsur tersebut dapat disambung sebagai sebuah silaturahmi budaya,&#8221; katanya.</p>
<p>Selain itu, menurut Edy lewat acara ini juga ingin menggambarkan bahwa Sumatra Barat tidak homogen tetapi juga heterogen. Menurutnya di Sumbar ada banyak etnis lain yang sudah tinggal sejak lama dan memiliki budaya yang terus berkembang.</p>
<p>&#8220;Sangat heterogen, tidak hanya Minangkabau, tapi disini juga ada budaya lain seperti etnies Jawa, Nias, Mentawai, dan Melayu. Hal tersebut memperkaya dan memberikan rahmat bagi kita agar menghidupkan budaya ini secara demokratis,&#8221; katanya.</p>
<p>Dari keterangan Edy tercatat ada 10 etnies di Kota Padang yang tergabung dalam acara tersebut. Diantaranya ada Minang, Jawa, Sunda, Batak, Mentawai, Bali, Melayu, dan Tionghoa.</p>
<p>Selain musik, dalam acara ini juga akan menampilkan tarian dan nyanyian rakyat serta penampilan kuda lumping pada hari ke dua dan ke tiga nantinya.</p>
<p>&#8220;Kita ingin mendialogkan bermacam-macam budaya yang ada di masyarakat ini dalam satu even,&#8221; kata Edy.</p>
<p>Edy juga mengatakan bahwa acara kali ini adalah yang pertama kali diselenggarakan. Kedepan ia berencana agar acara ini terselenggara setiap tahunnya. Menurutnya acara Pamfest adalah tempat orang-orang berkontribusi dalam bidang kebudayaan di Sumatra Barat.</p>
<p>Dengan diadakannya acara ini, Edy berharap agar semua orang benar-benar memberikan tempat dan penghargaan sebaik-baiknnya kepada keberagaman yang dimiliki oleh Kota Padang.</p>
<p>&#8220;Kita ingin semua orang betul-betul memberikan tempat untuk keberagaman yang dimiliki, karena keberagaman adalah sesuatu yang indah,&#8221; katanya.</p>
<p>Tokoh Pendidikan Fasli Jalal yang hadir dalam acara itu memberikan apresiasi terhadap adanya acara Pamfest. Menurutnya kebudayaan dan seni adalah sesuatu yang membuat dirinya bangga menjadi orang Indonesia.</p>
<p>&#8220;Ke manapun kita pergi, di luar negeri, orang selalu memberikan tepuk tangan yang meriah terhadap penampilan seni dan musik tradisional dari Indonesia. Kita adalah kelas dunia untuk seni. Itu selalu membuat saya bangga menjadi orang Indonesia,&#8221; kata mantan wakil menteri pendidikan era SBY itu.</p>
<p>Menurutnya Indonesia harus selalu menjaga keberagaman, karena hanya Indonesia yang memiliki keberagaman dalam banyak hal.</p>
<p>&#8220;Karena di Indonesialah bertemunya banyak keberagaman, kekayaan kita adalah lintas agama, lintas etnis, dan lintas budaya,&#8221; katanya. (Rahmadi/HM)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/silaturahmi-budaya-lewat-padang-multikultural-festival/">Silaturahmi Budaya Lewat Padang Multikultural Festival</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2498</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 26/85 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-06-17 14:58:49 by W3 Total Cache
-->