<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Masjid Tua Minangkabau Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/masjid-tua-minangkabau/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/masjid-tua-minangkabau/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 Nov 2022 08:39:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Masjid Tua Minangkabau Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/masjid-tua-minangkabau/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Pelancong Asal Malaysia Ingin Bangun Masjid Bak Masjid Asasi di Negeri Sembilan</title>
		<link>https://langgam.id/pelancong-asal-malaysia-ingin-bangun-masjid-bak-masjid-asasi-di-negeri-sembilan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Nov 2022 08:39:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid Tua Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Padang Panjang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=164950</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Rombongan pelancong yang terdiri dari arsitek, akademisi serta peneliti berkujung dan mengagumi arsitektur Masjid Asasi Padang Panjang. Masjid Asasi merupakan salah satu masjid tua di Minangkabau yang berada di Kelurahan Sigando, Kecamatan Padang Panjang Timur, Kota Padang Panjang. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Budaya dan Religi Sigando, Fajrul Hudaya mengatakan, bahwa memang ada pelancong asal Negeri Sembilan, Malaysia yang berkunjung ke Masjdi Asasi Sigando. Menurut Fajrul, para pelancong itu sangat mengagumi arsitektur Masjid Sigando, termasuk keasriannya. &#8220;Kampung Sigando sangat asri, dengan balutan agama, tradisi dan budayanya. Yang lebih menakjubkan, keberadaan Masjid Asasi. Masjid tua yang masih dipakai</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pelancong-asal-malaysia-ingin-bangun-masjid-bak-masjid-asasi-di-negeri-sembilan/">Pelancong Asal Malaysia Ingin Bangun Masjid Bak Masjid Asasi di Negeri Sembilan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Rombongan pelancong yang terdiri dari arsitek, akademisi serta peneliti berkujung dan mengagumi arsitektur Masjid Asasi Padang Panjang.</p>
<p>Masjid Asasi merupakan salah satu masjid tua di Minangkabau yang berada di Kelurahan Sigando, Kecamatan Padang Panjang Timur, Kota Padang Panjang.</p>
<p>Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Budaya dan Religi Sigando, Fajrul Hudaya mengatakan, bahwa memang ada pelancong asal Negeri Sembilan, Malaysia yang berkunjung ke Masjdi Asasi Sigando.</p>
<p>Menurut Fajrul, para pelancong itu sangat mengagumi arsitektur Masjid Sigando, termasuk keasriannya.</p>
<p>&#8220;Kampung Sigando sangat asri, dengan balutan agama, tradisi dan budayanya. Yang lebih menakjubkan, keberadaan Masjid Asasi. Masjid tua yang masih dipakai itu,&#8221; ujar Fajrul menirukan apa yang dikatakan seorang pelancong bernama Mohd Raizalani Bin Mohd Rais, Hal Eawal Agama Islam Negeri Sembilan.</p>
<p>Bahkan, kata Fajrul, Mohd Raizalani Bin Mohd Rais juga mengutarakan keinginannya untuk membangun masjid yang menyerupai Masjid Asasi di Negeri Sembilan.</p>
<p>&#8220;Beliau sangat kagum. Kunjungan ke Masjid Asasi adalah untuk mencari inspirasi, membangun masjid yang arsitekturnya menyerupai Masjid Asasi di Negeri Sembilan Malaysia,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Menurut Fajrul, salah satu yang menarik bagi rombongan pelancong Malaysia itu, adanya bahan kayu serta cat di gonjong puncak masjid yang masih original, terbuat dari pewarna alami, yaitu Buah Sago warna merah.</p>
<p><strong>Baca juga: <a href="https://langgam.id/mengenal-surau-gadang-sigando-masjid-tertua-di-padang-panjang/">Mengenal Surau Gadang Sigando, Masjid Tertua di Padang Panjang</a></strong></p>
<p>&#8220;Mereka juga sangat bahagia bisa merasakan sejuknya air Bulaan Sigando dan penasaran dengan airnya yang sangat melimpah,&#8221; katanya.</p>
<p>—</p>
<h4>Dapatkan update berita terbaru dan terkini hari ini dari Langgam.id. Mari bergabung di Grup Telegram <strong>Langgam.id News Update</strong>, caranya klik <a href="https://t.me/langgamid" rel="nofollow">https://t.me/langgamid</a>, kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.</h4>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pelancong-asal-malaysia-ingin-bangun-masjid-bak-masjid-asasi-di-negeri-sembilan/">Pelancong Asal Malaysia Ingin Bangun Masjid Bak Masjid Asasi di Negeri Sembilan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">164950</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Berdirinya Masjid Nurul Islam Sawahlunto, dari PLTU hingga Pabrik Perakitan Senjata</title>
		<link>https://langgam.id/sejarah-berdirinya-masjid-nurul-islam-sawahlunto-dari-pltu-hingga-pabrik-perakitan-senjata/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[zulfikar]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Apr 2022 21:00:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Sawahlunto]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid di Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid Tua Minangkabau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=152962</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berita terbaru dan terkini hari ini: Masjid Agung Nurul Islam Sawahlunto awalnya adalah PTLU dan sempat dijadikan pabrik perakitan senjata. Langgam.id &#8211; Kota Sawahlunto dikenal sebagai salah satu kota yang memiliki keberagaman budaya. Selain kental dengan kota tuanya, Sawahlunto juga menyimpan segudang cagar budaya dari sisa tambang batu bara. Bahkan, Kota Sawahlunto juga memiliki banyak warisan yang menjadi infrastruktur, termasuk tempat peribadatan, salah satunya Masjid Nurul Islam. Data Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Barat (Sumbar), Masjid Nurul Islam awalnya merupakan PLTU pertama di Kota Sawahlunto yang dibangun pada rentang waktu 1894-1898. Lalu, awal kemerdekaan, PLTU itu dijadikan sebagai pabrik</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/sejarah-berdirinya-masjid-nurul-islam-sawahlunto-dari-pltu-hingga-pabrik-perakitan-senjata/">Sejarah Berdirinya Masjid Nurul Islam Sawahlunto, dari PLTU hingga Pabrik Perakitan Senjata</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="intro-text">
<p>Berita terbaru dan terkini hari ini: Masjid Agung Nurul Islam Sawahlunto awalnya adalah PTLU dan sempat dijadikan pabrik perakitan senjata.</p>
</div>
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Kota Sawahlunto dikenal sebagai salah satu kota yang memiliki keberagaman budaya. Selain kental dengan kota tuanya, Sawahlunto juga menyimpan segudang cagar budaya dari sisa tambang batu bara.</p>
<p>Bahkan, Kota Sawahlunto juga memiliki banyak warisan yang menjadi infrastruktur, termasuk tempat peribadatan, salah satunya Masjid Nurul Islam.</p>
<p>Data Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Barat (Sumbar), Masjid Nurul Islam awalnya merupakan PLTU pertama di Kota Sawahlunto yang dibangun pada rentang waktu 1894-1898.</p>
<p>Lalu, awal kemerdekaan, PLTU itu dijadikan sebagai pabrik perakitan senjata oleh pejuang Sawahlunto. Pada tahun 1952, atas kesepakatan berbagai pihak di atas tapak bangunan sentral listrik itu dibangun sebuah masjid , dan dinamai Masjid Agung Nurul Islam.</p>
<p><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter wp-image-154902 size-full" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=2362%2C591&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="2362" height="591" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?w=2362&amp;ssl=1 2362w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=300%2C75&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=1200%2C300&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=768%2C192&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=1536%2C384&amp;ssl=1 1536w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=2048%2C512&amp;ssl=1 2048w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=750%2C188&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=1140%2C285&amp;ssl=1 1140w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Sejak dijadikan masjid, basementnya ditutup tanpa timbunan dan menara cerobong asap PLTU dijadikan sebagai menara masjid yang kini terlihat begitu mencolok di tengah kota.</p>
<p>Selain Basement dan Menara Masjid, Tapak Masjid dan bak air masjid juga merupakan bagian-bagian yang menjadi saksi sejarah masa lampau.</p>
<p>Ruang basement dengan lorong-lorong dan pilar-pilar bata serta semen coran yang berlapis bentuknya menyerupai labirin.</p>
<p>Pilar-pilar basement itu juga menjadi pondasi bangunan Masjid Nurul Islam. Masjid seolah-olah bertengger di basement bekas Sentral Listrik.</p>
<p>Lalu, bak untuk penampungan air, sampai sekarang juga masih dapat menampung air untuk kebutuhan masjid.</p>
<p>Sebagai sebuah masjid, bangunanya diberi satu kubah besar di bagian tengah atas bangunan dan empat kubah yang lebih kecil di empat sudut bangunan masjid.</p>
<p>Namun, terdapat sepotong sisa bangunan Sentral Listrik yang dapa dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan masjid.</p>
<p>Bangunan Masjid Nurul Islam berlantai dua, lantai dasar difungsikan sebagai tempat berwudu, sedangkan lantai atas difungsikan sebagai TPA.</p>
<p>Bangunan masjid juga telah mengalami perubahan, terutama pada bagian atap bangunan dengan memasang atap gonjong empat.</p>
<p>Hingga saat ini, Masjid Nurul Islam masih menjaga eksistensinya sebagai masjid terbesar di Kota Sawahlunto. Berbagai kegiatan keagamaan di masjid ini, membuat suasana masjid selalu ramai dan terasa sejuk dengan banyaknya umat yang beibadah.</p>
<p>Selain digunakan untuk salat lima waktu, kegiatan lain seperti pengajian oleh anak panti asuhan dan TPA juga rutin setiap hari, mulai dari sore hari, hingga malam hari.</p>
<p>Di Bulan Ramadan dan hari besar agama Islam lainya, masjid itu juga difungsikan untuk peribadatan, termasuk adanya qurban dan lainnya.</p>
<p><strong>Baca juga: <a href="https://langgam.id/uniknya-masjid-raya-al-imam-koto-baru-yang-juga-miliki-puluhan-kitab-kuning/">Uniknya Masjid Raya Al-Imam Koto Baru yang Juga Miliki Puluhan Kitab Kuning</a></strong></p>
<p>Masjid Nurul Islam juga digunakan untuk kegiatan adat, terutama untuk membicarakan hal-hal yang terkait dengan tata krama adat dan agama.</p>
<p>—</p>
<h4>Dapatkan update berita terbaru dan terkini hari ini dari Langgam.id. Mari bergabung di Grup Telegram <strong>Langgam.id News Update</strong>, caranya klik <a href="https://t.me/langgamid" rel="nofollow">https://t.me/langgamid</a>, kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.</h4>
<p>The post <a href="https://langgam.id/sejarah-berdirinya-masjid-nurul-islam-sawahlunto-dari-pltu-hingga-pabrik-perakitan-senjata/">Sejarah Berdirinya Masjid Nurul Islam Sawahlunto, dari PLTU hingga Pabrik Perakitan Senjata</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">152962</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Uniknya Masjid Raya Al-Imam Koto Baru yang Juga Miliki Puluhan Kitab Kuning</title>
		<link>https://langgam.id/uniknya-masjid-raya-al-imam-koto-baru-yang-juga-miliki-puluhan-kitab-kuning/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[zulfikar]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Apr 2022 21:30:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid di Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid Tua Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan 2022]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=152832</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini: Masjid Al-Imam Koto Baru hingga saat ini masih menyimpan puluhan Kitab Kuning atau Kitab Gundul. Langgam.id &#8211; Masjid Al-Imam Koto Baru merupakan salah satu masjid tertua di Sumatra Barat (Sumbar). Lokasinya berada di Kampung Balai Kamis, Nagari Kambang, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Data dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Barat (Sumbar), Masjid Al-Imam Koto Baru direncanakan didirikan tahun 1921, dan baru didirikan tahun 1922. Masjid itu awalnya dinamai Masjid Batu, yang didirikan Udin Sitan Nangkodo, H. Zainuddin sebagai bendahara, H. Sani sebagai ulama dan Datuak Rajo Pandapatan. Arsitektur Masjid Al-Imam</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/uniknya-masjid-raya-al-imam-koto-baru-yang-juga-miliki-puluhan-kitab-kuning/">Uniknya Masjid Raya Al-Imam Koto Baru yang Juga Miliki Puluhan Kitab Kuning</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="intro-text">
<p>Berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini: Masjid Al-Imam Koto Baru hingga saat ini masih menyimpan puluhan Kitab Kuning atau Kitab Gundul.</p>
</div>
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Masjid Al-Imam Koto Baru merupakan salah satu masjid tertua di Sumatra Barat (Sumbar). Lokasinya berada di Kampung Balai Kamis, Nagari Kambang, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel).</p>
<p>Data dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Barat (Sumbar), Masjid Al-Imam Koto Baru direncanakan didirikan tahun 1921, dan baru didirikan tahun 1922.</p>
<p>Masjid itu awalnya dinamai Masjid Batu, yang didirikan Udin Sitan Nangkodo, H. Zainuddin sebagai bendahara, H. Sani sebagai ulama dan Datuak Rajo Pandapatan.</p>
<p>Arsitektur Masjid Al-Imam Koto Baru atau Masjid Batu didirikan dengan meniru arsitektur Masjid Rao-rao di Kabupaten Tanah Datar.</p>
<p><img data-recalc-dims="1" decoding="async" class="aligncenter wp-image-154902 size-full" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=2362%2C591&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="2362" height="591" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?w=2362&amp;ssl=1 2362w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=300%2C75&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=1200%2C300&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=768%2C192&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=1536%2C384&amp;ssl=1 1536w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=2048%2C512&amp;ssl=1 2048w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=750%2C188&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=1140%2C285&amp;ssl=1 1140w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Tak hanya itu, Masjid Al-Imam Koto Baru juga memiliki nuansa perpaduan tiga budaya, yaitu Islam, Kolonial dan Eropa.</p>
<p>Konstruksi beton pada masjid itu memperlihatkan arsitektur eropa, termasuk adanya tiang-tiang besar dan lengkungan-lengkungan khas eropa.</p>
<p>Sejak didirikan 1922, masjid itu baru difungsikan tahun 1935 untuk Salat Jumat, dengan alasan untuk menghimpun masyarakat untuk menimbun halaman masjid dengan memakai ember, tanah timbunan diambil dari lapangan yang ada didekat masjid.</p>
<p>Bangunan masjid berbentuk empat tingkat (puncak nan ampek). Filosofinya, melambangkan alim ulama, cadiak pandai, niniak mamak dan wali nagari.</p>
<p>Tahun 1942, beranda depan diperbaiki karena gempa, pengerjaannya dilakukan oleh arsitek asal Kota Padang.</p>
<p>Lalu, filosofi tiang yang berjumlah lima buah pada masjid tersebut melambangkan Rukun Islam, dan jendela melambangkan rakaat shalat.</p>
<div id="attachment_152834" style="width: 857px" class="wp-caption aligncenter"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-152834" class="wp-image-152834 size-full" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/Kitab-Kuning-Masjid-Al-Imam.jpg?resize=847%2C607&#038;ssl=1" alt="Berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini: Masjid Al-Imam Koto Baru hingga saat ini masih menyimpan puluhan Kitab Kuning atau Kitab Gundul." width="847" height="607" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/Kitab-Kuning-Masjid-Al-Imam.jpg?w=847&amp;ssl=1 847w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/Kitab-Kuning-Masjid-Al-Imam.jpg?resize=300%2C215&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/Kitab-Kuning-Masjid-Al-Imam.jpg?resize=768%2C550&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/Kitab-Kuning-Masjid-Al-Imam.jpg?resize=120%2C86&amp;ssl=1 120w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/Kitab-Kuning-Masjid-Al-Imam.jpg?resize=350%2C250&amp;ssl=1 350w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/Kitab-Kuning-Masjid-Al-Imam.jpg?resize=750%2C537&amp;ssl=1 750w" sizes="(max-width: 847px) 100vw, 847px" /><p id="caption-attachment-152834" class="wp-caption-text">Kitab Kuning yang ada di Masjid Al-Imam Koto Baru. (Foto: Dok. BPCB Sumbar)</p></div>
<p>Secara umum Masjid Raya Al-Imam masih terjaga keasliannya. Tidak ada perubahan berarti pada bangunan masjid, hanya penambahan jendela dengan alasan udara di dalam masjid yang cukup panas.</p>
<p>Lalu, lantai masjid juga masih asli dengan marmer kuno. Sementara, di halaman masjid terdapat beberapa makam. Lokasi masjid ini berada dekat dengan lokasi pasar Koto Baru, Pesisir Selatan, sehingga kesehariannya digunakan salat berjamaah, dan cukup ramai.</p>
<p>Selain itu, Masjid ini banyak memiliki perlambangan ataupun simbol keagamaan pada bagian bangunannya, di antaranya dinding masjid yang melambangkan Ikek Ampek.</p>
<p>Ikek Ampek terdiri dari nagari Kambang yang didirikan pada zaman dahulu, karena suku-suku yang mendiami daerah ini sudah cukup 4 suku, sebagai syarat berdirinya sebuah nagari.</p>
<p>Tonggak Macu dikelilingi delapan tonggak yang berada di ruangan masjid, delapan tonggak yang mengeliingi tonggak macu melambangkan adat dan syarak, empat orang ikek memegang adat dan empat orang imam memegang syarak.</p>
<p>Kemudian, tuturan atap masjid berjumlah lima (Masajik Limo), melambangkan lima masjid yang dibangun untuk beribadah anak nagari, yaitu Masjid Kampung Akat, Masjid Lubuk Sarik, Masjid Koto Baru (Al-Imam) yang sekarang, Masjid Tampunik, dan Masjid Koto Kandis.</p>
<p>Sementara, gelung di dalam masjid yang berjumlah sembilan yang berada di antara tonggak yang berjumlah 10 disebut sebagai Koto Sambilan.</p>
<p>Koto Nan Sambilan adalah kampung-kampung yang berdekatan dengan Masajik Limo atau kampung-kampung yang ada pada waktu didirikannya nagari Kambang.</p>
<p>Kampung itu adalah Kampung Akat, Lubuak Syariak, Koto Marapak, Nyiur Gading, Koto Baru, Medan Baiak, Ky Kalek, Tampuniak, dan Koto Baririk.</p>
<p>14 tonggak dalam ruangan masjid disebut sebagai Penghulu Ampek Baleh, merupakan 14 orang penghulu dari keempat suku yang ada, yang merupakan sandi dari keempat buah Ikek Suku.</p>
<p>Untuk tonggak-tonggak yang terdapat di luar masjid, yaitu tonggak gandeng 2, 3 dan 6 dengan jumlah total 50 tonggak, disebut sebagai niniak mamak nan limo puluah.</p>
<p>Niniak mamak nan limo puluah adalah 50 orang niniak mamak dari penghulu ampek baleh.</p>
<p>Bagian lainnya yang memiliki makna adalah tiang yang mengapit jenjang berdirinya khatib dan langit-langit masjid. Kedua tiang yang mengapit jenjang tempat khatib berdiri disebut sebagai Haluan dan Bandaro.</p>
<p>Tidak hanya itu, keunikan lain selain bangunannya, Masjid Al-Hakim juga salah satu masjid di Sumbar yang masih memiliki atau menyimpan kitab kuno berupa Kitab Kuning.</p>
<p><strong>Baca juga: <a href="https://langgam.id/mengenal-masjid-tuanku-pamansiangan-peninggalan-salah-satu-tokoh-harimau-nan-salapan/">Mengenal Masjid Tuanku Pamansiangan, Peninggalan Salah Satu Tokoh Harimau Nan Salapan</a></strong></p>
<p>Di masjid itu terdapat puluhan Kitab Kuning atau yang akrab dikenal dengan Kitab Gundul, karena tak berbaris. Kitab Kunung yang ada di masjid itu, kini juga sudah ada yang lapuk dan dimakan rayap.</p>
<p>—</p>
<h4>Dapatkan update berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini dari Langgam.id. Mari bergabung di Grup Telegram <strong>Langgam.id News Update</strong>, caranya klik <a href="https://t.me/langgamid" rel="nofollow">https://t.me/langgamid</a>, kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.</h4>
<p>The post <a href="https://langgam.id/uniknya-masjid-raya-al-imam-koto-baru-yang-juga-miliki-puluhan-kitab-kuning/">Uniknya Masjid Raya Al-Imam Koto Baru yang Juga Miliki Puluhan Kitab Kuning</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">152832</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Masjid Tuanku Pamansiangan, Peninggalan Salah Satu Tokoh Harimau Nan Salapan</title>
		<link>https://langgam.id/mengenal-masjid-tuanku-pamansiangan-peninggalan-salah-satu-tokoh-harimau-nan-salapan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[zulfikar]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Apr 2022 21:00:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid di Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid Tua Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan 2022]]></category>
		<category><![CDATA[Utama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=152822</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini: Masjid Tuanku Pamansiangan merupakan salah satu masjid tertua di Minangkabau. Langgam.id &#8211; Sumatra Barat (Sumbar) dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki banyak masjid dan musala bersejarah. Bahkan, keasliannya masih terjaga hingga saat ini, salah satunya Masjid Tuanku Pamansiangan. Masjid Tuanku Pamansiangan merupakan salah satu masjid tertua di Minangkabau yang terletak di Nagari Koto Laweh, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumbar. Masjid ini telah berumur ratusan tahun dan sudah ditetapkan sebagai cagar warisan budaya. Masjid Tuanku Pamansiangan merupakan peninggalan salah satu tokoh Harimau Nan Salapan, yang dikenal dalam peristiwa Perang Paderi (1821-1837).</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengenal-masjid-tuanku-pamansiangan-peninggalan-salah-satu-tokoh-harimau-nan-salapan/">Mengenal Masjid Tuanku Pamansiangan, Peninggalan Salah Satu Tokoh Harimau Nan Salapan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="intro-text">
<p>Berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini: Masjid Tuanku Pamansiangan merupakan salah satu masjid tertua di Minangkabau.</p>
</div>
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Sumatra Barat (Sumbar) dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki banyak masjid dan musala bersejarah. Bahkan, keasliannya masih terjaga hingga saat ini, salah satunya Masjid Tuanku Pamansiangan.</p>
<p>Masjid Tuanku Pamansiangan merupakan salah satu masjid tertua di Minangkabau yang terletak di Nagari Koto Laweh, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumbar.</p>
<p>Masjid ini telah berumur ratusan tahun dan sudah ditetapkan sebagai cagar warisan budaya.</p>
<p>Masjid Tuanku Pamansiangan merupakan peninggalan salah satu tokoh Harimau Nan Salapan, yang dikenal dalam peristiwa Perang Paderi (1821-1837).</p>
<p><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-154902 size-full" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=2362%2C591&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="2362" height="591" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?w=2362&amp;ssl=1 2362w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=300%2C75&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=1200%2C300&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=768%2C192&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=1536%2C384&amp;ssl=1 1536w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=2048%2C512&amp;ssl=1 2048w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=750%2C188&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/04/jaminana-mutu-dan-kekuatan-2.jpg?resize=1140%2C285&amp;ssl=1 1140w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Harimau Nan Salapan merupakan dewan kumpulan delapan orang tokoh-tokoh Islam yang berbaiat untuk membersihkan umat Islam atau rakyat Minangkabau, karena telah terjadi kemerosotan kehidupan umat Islam di Minangkabau saat itu.</p>
<p>Harimau Nan Salapan terdiri dari Tuanku nan Renceh dari Kamang, Tuanku Lubuk Aur dari Canduang, Tuanku Barapi dari Pasir, Tuanku Biaro, Tuanku Kapau, Tuanku Padang Luar, tuanku Ladang Lawas, dan Tuanku Galung, Tuanku Mansingan yang kemudian diminta menjadi pemimpinnya.</p>
<p>Berdasarkan data Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumbar, Masjid Tuanku Pamansiangan didirikan sekitar tahun 1870.</p>
<p>Masjid itu terletak di tengah-tengah pemukiman masyarakat. Masjid itu beratap tunggal dan disusun secara bertingkat seperti pada bentuk limas.</p>
<p>Awalnya atap Masjid Tuanku Pamansiangan terbuat dari ijuk, tahun 1903 atap diganti dengan seng.</p>
<p>Dinding masjid itu terbuat dari bambu, tiangnya masjid berjumlah 9 buah, dengan tiang utama berdiameter 64 centimeter, sementara tiang lainnya berdiameter 30 centimeter.</p>
<p>Tiang-tiang masjid tersebut sebagian sudah keropos dimakan rayap. Lantai masjid terbuat dari papan, sebagian sudah diganti dengan bahan baru.</p>
<p>Lalu, jendela masjid berjumlah 6 buah yang masing-masing terdapat ukiran pada bagian atas lengkungnya.</p>
<p>Kolam yang dahulu berfungsi sebagai tempat wudhu terletak dibagian depan, sekarang tempat wudhu sudah ditempatkan disamping kiri (sisi selatan) yang terbuat dari tembok.</p>
<p>Masjid Tuanku Pamansiangan juga memiliki lantai yang tingginya lebih kurang satu setengah meter dan bisa dinaiki melalui lima anak tangga.</p>
<h2>Ornamen Masjid</h2>
<p>Ornamen masjid Tuanku Pamansiangan, sebagian besar merupakan motif yang terdapat pada ukiran Minangkabau asli. Ornamen tersebut diterapkan pada bagian tiang tiang masjid, jendela, dinding, dan mimbar masjid.</p>
<p>Bentuk dari ornamen yang terdapat pada masjid tersebut antara lain motif ukiran geometris jajaran genjang, atau disebut juga dengan motif tumbuh-tumbuhan yaitu ornamen masjid Tuanku Pamansiangan, bahwa ornamen yang terdapat pada masjid Tuanku Pamansiangan, sebagian besar merupakan motif-motif yang terdapat pada ukiran Minangkabau dan masih asli.</p>
<p>Ornamen tersebut diterapkan pada bagian tiang tiang masjid, jendela, dinding, dan mimbar masjid. Bentuk dari ornamen yang terdapat pada masjid tersebut antara lain motif ukiran geometris jajaran genjang disebut juga dengan saik galamai.</p>
<p>Bentuk tumbuhan, yaitu aka cino, pucuak rabuang, sakek tagantuang, pandan tajulai, sikambang manih, dan bungo. fauna seperti tantadu, kuciang lalok rabuang, sakek tagantuang, pandan tajulai, bungo. Bentuk hewan atau kuciang lalok. Bentuk benda seperti mangkuto.</p>
<p>Selain itu, juga terdapat kaligrafi, dan juga ada kaligrafi yang menghiasi bagian dalam masjid.</p>
<p>Adapun warna warna yang terdapat pada ornamen tersebut di antaranya merah, hijau, putih, dan coklat keemasan.</p>
<p>Fungsi ornamentasi pada masjid Tuanku Pamansiangan, dasarnya yaitu sebagai penghias permukaan atau bidang-bidang pada bangunan tersebut, hal ini sesuai dengan pengertian ornamen itu sendiri yaitu sebagai hiasan yang dibuat pada arsitektur, kerajinan, perhiasan, dan sebagainya.</p>
<p>Adanya penambahan ornamentasi pada masjid Tuanku Pamansiangan telah memberikan nilai estetika tersendiri yang memandangnya.</p>
<p><strong>Baca juga: <a href="https://langgam.id/mengenal-masjid-tua-sipisang-dari-mitos-hingga-tempat-suluknya-jemaah-naqsyabandiyah/">Mengenal Masjid Tua Sipisang, dari Mitos Hingga Tempat Suluknya Jemaah Naqsyabandiyah</a></strong></p>
<p>Selain itu, juga memiliki fungsi simbolis dapat ditemukan dalam bentuk ornamentasi berbentuk kaligrafi yang berisikan penjelesan tentang tahun pembuatan masjid serta tahun selesai pembangunannya bagian dalam masjid.</p>
<p>—</p>
<h4>Dapatkan update berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini dari Langgam.id. Mari bergabung di Grup Telegram <strong>Langgam.id News Update</strong>, caranya klik <a href="https://t.me/langgamid" rel="nofollow">https://t.me/langgamid</a>, kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.</h4>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengenal-masjid-tuanku-pamansiangan-peninggalan-salah-satu-tokoh-harimau-nan-salapan/">Mengenal Masjid Tuanku Pamansiangan, Peninggalan Salah Satu Tokoh Harimau Nan Salapan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">152822</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Masjid Tua Sipisang, dari Mitos Hingga Tempat Suluknya Jemaah Naqsyabandiyah</title>
		<link>https://langgam.id/mengenal-masjid-tua-sipisang-dari-mitos-hingga-tempat-suluknya-jemaah-naqsyabandiyah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2021 06:50:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Agam]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid Tua Minangkabau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=94443</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Bangunan masjid beratap anjungan tiga tingkat yang terletak di Jorong Sipisang, Nagari Nan Tujuah, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam merupakan salah satu masjid tertua di daerah setempat. Masjid yang kini bernama Nurul Hikmah Sipisang itu telah berdiri sejak 2 abad silam. Penyuluh Agama Kecamatan Palupuh, Afriadil Hamsyah menuturkan Masjid Nurul Hikmah Sipisang berdiri pada tahun 1815. Masjid yang pada awal berdiri beratap ijuk itu rampung dibangun pada 1821. “Masjid ini merupakan salah satu masjid tuo di Kecamatan Palupuh, masjid ini dibangun masyarakat Sipisang dengan cara swadaya,” ujarnya dikutip dari AMCNews, Kamis (11/3/2021). Masjid Nurul Hikmah Sipisang memiliki keunikan dan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengenal-masjid-tua-sipisang-dari-mitos-hingga-tempat-suluknya-jemaah-naqsyabandiyah/">Mengenal Masjid Tua Sipisang, dari Mitos Hingga Tempat Suluknya Jemaah Naqsyabandiyah</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><strong>Langgam.id</strong></a> &#8211; Bangunan masjid beratap anjungan tiga tingkat yang terletak di Jorong Sipisang, Nagari Nan Tujuah, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam merupakan salah satu masjid tertua di daerah setempat. Masjid yang kini bernama Nurul Hikmah Sipisang itu telah berdiri sejak 2 abad silam.</p>
<p>Penyuluh Agama Kecamatan Palupuh, Afriadil Hamsyah menuturkan Masjid Nurul Hikmah Sipisang berdiri pada tahun 1815. Masjid yang pada awal berdiri beratap ijuk itu rampung dibangun pada 1821.</p>
<p>“Masjid ini merupakan salah satu masjid tuo di Kecamatan Palupuh, masjid ini dibangun masyarakat Sipisang dengan cara swadaya,” ujarnya dikutip dari <a href="https://amcnews.co.id/2021/03/05/sejarah-masjid-nurul-hikmah-sipisang-masjid-tua-di-kecamatan-palupuh/">AMCNews</a>, Kamis (11/3/2021).</p>
<p>Masjid Nurul Hikmah Sipisang memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri. Selain beratap ijuk, bentuk atap dibuat bertingkat dengan tiga anjungan. Kini, atap masjid sudah diganti dengan berbahan seng.</p>
<p>“Atap masjid ini memiliki keunikan tersendiri, yakni atapnya yang bertingkat atau baanjungan,” katanya</p>
<p>Selain itu, masjid berukuran 12×11 meter itu memiliki satu tonggak tua atau tunggak macu yang terbuat dari kayu. Menurut keterangan Afriadil, kayu tonggak tuo itu berasal dari rimbo Kelok Madang Jambu, dengan panjang lebih kurang 15 meter.</p>
<p><a href="https://langgam.id/cerita-si-sabariah-romeo-dan-juliet-dari-sungai-batang-agam/"><strong>Baca juga: Cerita Si Sabariah, Romeo dan Juliet dari Sungai Batang Agam</strong></a></p>
<p>Lebih lanjut diceritakan, menurut keterangan tetua setempat, ada cerita tersendiri tentang tonggak tua yang digunakan. Selain harus diangkut dari jarak 1,5 KM, kayu tersebut juga diselimuti cerita spiritual.</p>
<p>“Saat kayu itu diambil, kayu tersebut berbunyi seperti suara kerbau dan masyarkat tidak dapat untuk menarik kayu tersebut walaupun sudah ditambah orang yang menariknya,” ucap Afriadil</p>
<p>Lalu, sambungnya, dipanggil Inyiak Syekh Jamal Ibrahim yang dikenal juga dengan Inyiak Linduang Surau Batu Kumpulan. Setelah beliau datang beliau memukul (malacuik) sebanyak 3 kali, baru kayu itu dapat ditarik oleh masyarkat ke lokasi pembangunan masjid.</p>
<p>Disaat tonggak itu akan dipasangkan (ditagakan), masyarakat juga tidak bisa mengangkat kayu tersebut. Lalu Inyiak Syekh Jamal Ibrahim dipanggil kembali untuk membantu mengangkat kayu tunggak tuo itu.</p>
<p>“Syekh Ibrahim menumpukan tumit ke kayu, setelah itu baru masyarakat bisa memasangkan tunggak tuo masjid tersebut,” ujarnya.</p>
<p>Selain sarat cerita spiritual, masyarakat setempat juga memperoleh pengalaman, bahwa dari dulu sampai tahun 80an kalau ada masyarakat yang berkata kata tidak pantas di dalam masjid, di malam harinya akan terdengar suara gemuruh dari dalam masjid.</p>
<p><a href="https://langgam.id/sejarah-masjid-sipisang-dan-suluknya-jemaah-naqsyabandiyah-di-agam/"><strong>Baca juga: Sejarah Masjid Sipisang dan Suluknya Jemaah Naqsyabandiyah di Agam</strong></a></p>
<p>Ditambahkan Afriadil, pada tahun 1920 atap Masjid Nurul Hikmah Sipisang ditukar menggunakan seng oleh masyarakat setempat. Dikatakan, kondisi masjid saat ini masih baik dan tetap digunakan oleh masyarakat sebagai tempat ritual keagamaan.</p>
<p>“Selain itu di masjid ini juga dijadikan tempat pembinaan generasi muda, tempat bermusyawarah, tempat do’a syukuran setelah panen padi, sedangkan untuk shalat Jum’at, shalat lima waktu, shalat tarawih dan shalat hari raya dilakukan di masjid baru yang dibangun bersebelahan dengan masjid ini,” terangnya.</p>
<p>Masjid Sipisang juga menjadi salah satu masjid yang menjadi saksi pengembangan Tarekat Naqsyabandiyah di daerah itu. Secara gotong royong, di daerah Sipisang didirikan sebuah masjid yang penamaannya mengikuti nama tempat masjid didirikan. Hal itu sebagaimana lazimnya tipikal penamaan masjid atau surau di Minangkabau.</p>
<p>Eksistensi Masjid Sipisang tidak hanya untuk melakukan shalat lima waktu maupun tempat dilangsungkannya aktivitas sosial keagamaan lainnya. Masjid ini juga dijadikan tempat suluk bagi pengikut Tarekat Naqsyabandiyah. Terutama bagi mereka yang berdomisili di daerah tersebut.<strong>(*/Ela)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengenal-masjid-tua-sipisang-dari-mitos-hingga-tempat-suluknya-jemaah-naqsyabandiyah/">Mengenal Masjid Tua Sipisang, dari Mitos Hingga Tempat Suluknya Jemaah Naqsyabandiyah</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">94443</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Berdirinya Masjid Nurul Falah di Mesir Van Andalas</title>
		<link>https://langgam.id/sejarah-berdirinya-masjid-nurul-falah-di-mesir-van-andalas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 May 2020 20:00:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid Tua Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan 2020]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=40519</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Sebuah bangunan kecil dan sederhana dengan dinding kayu dan beratapkan daun aren itulah kenangan masa kecil Syekh Djamil Djaho terukir, saat ini bangunan itu telah menjadi Masjid Nurul Falah. Di sana, beliau mengaji al-Quran dan belajar dasar-dasar ilmu agama kepada ayahnya, Tuanku Qadhi Tambangan. Setelah berkelana panjang untuk menimba ilmu dan 10 tahun di Tanah Suci Mekkah, Syekh Djamil Djaho pulang ke kampung halaman dan kembali mengabdi untuk mengajarkan ilmu agama di bangunan kecil yang disebut surau tersebut. Muridnya semakin banyak, maka surau itupun diperbesar dan dijadikan tempat halaqah (belajar di surau). Bahkan, 1924 masehi Syekh Djamil Djaho</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/sejarah-berdirinya-masjid-nurul-falah-di-mesir-van-andalas/">Sejarah Berdirinya Masjid Nurul Falah di Mesir Van Andalas</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000000;"><a style="color: #000000;" href="http://langgam.id"><strong>Langgam.id</strong></a></span> &#8211; Sebuah bangunan kecil dan sederhana dengan dinding kayu dan beratapkan daun aren itulah kenangan masa kecil Syekh Djamil Djaho terukir, saat ini bangunan itu telah menjadi Masjid Nurul Falah. Di sana, beliau mengaji al-Quran dan belajar dasar-dasar ilmu agama kepada ayahnya, Tuanku Qadhi Tambangan.</p>
<p>Setelah berkelana panjang untuk menimba ilmu dan 10 tahun di Tanah Suci Mekkah, Syekh Djamil Djaho pulang ke kampung halaman dan kembali mengabdi untuk mengajarkan ilmu agama di bangunan kecil yang disebut surau tersebut.</p>
<p>Muridnya semakin banyak, maka surau itupun diperbesar dan dijadikan tempat halaqah (belajar di surau). Bahkan, 1924 masehi Syekh Djamil Djaho membangun komplek pendidikan Tarbiyah Islamiyah di daerah itu.</p>
<p>Lalu, 1940 masehi, atas prakarsa Syekh Djamil Djaho, surau kecil itu kembali diperbesar dinamai Masjid Nurul Falah, hingga saat ini masih berdiri kokoh di Kota Padang Panjang yang dijuluki Mesir Van Andalas tersebut atau yang lebih akrab dikenal saat ini dengan julukan Serambi Mekkah.</p>
<p>Masjid itu dibangun di atas tanah wakaf dengan tipe masjid raya. Namun, tak ada catatan pasti ditemui terkait bangunan surau yang menjadi cikal bakal Masjid Nurul Falah Tersebut.</p>
<p>Dalam Buku <span style="color: #000000;"><a style="color: #000000;" href="https://books.google.co.id/books?id=-NnF9Ryal0IC&amp;printsec=frontcover&amp;dq=Surau+Lubuk+Bauk&amp;hl=id&amp;sa=X&amp;ved=0ahUKEwj2sNfEw7HpAhXoILcAHZDcCk44ChDoAQg5MAI#v=onepage&amp;q&amp;f=false">Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia</a></span> karangan Abdul Baqir Zein, hanya dutuliskan bahwa Masjid Nurul Falah awalnya adalah surau kecil berdinding kayu dan beratapkan daun aren.</p>
<p>Juga tidak ada catatan lengkap soal luas bangunan tersebut, bahkan, kapan didirikan surau yang menjadi cikal bakal Masjid Nurul Falah itu juga tak ditemukan.</p>
<p>Namun, megahnya Masjdi Nurul Falah tak lepas dari keberadaan surau kecil tempat Syekh Djamil Djaho menimba dasar-dasar ilmu agama tersebut.</p>
<p>Setidaknya, sejak Syekh Djamil Djaho lahir tahun 1875 masehi, surau tersebut sudah berdiri dan menjadi tempat bagi ayahnya dalam mengembangkan ajaran agama islam, termasuk mengajarkan Syekh Djamil Djaho dasar-dasar ilmu agama sebelum ia melanjutkan berkelana ke penjuru negeri.</p>
<h4><strong>Saksi Pemersatu Pertikaian Kaum Muda dan Tua</strong></h4>
<p>Surau yang kemudian menjadi Masjid Nurul Falah itu tak hanya merekam jejak perjalanan Syekh Djamil Djaho sejak kecil. Namun, di masjid itu pula pertikaian antara kaum muda dan kaum tua yang tetap mempertahankan tradisi dalam praktek ubudiyah mereka. Sementara, kaum muda ingin memurnikan praktek ibadah sesuai dengan petunjuk al-quran dan as-Sunah.</p>
<p>Konflik itu berawal dari perbedaan sudut pandang terhadap permasalahan furu&#8217;iyah yang kemudian berkembang menjadi konflik pribadi, bahkan kelompok dan membawa pada situasi yang memungkinkan membahayakan persatuan umat.</p>
<p>Untuk menciptakan suasana saling memahami dan pengertian itu, Syekh Djamil Djaho menyediakan suraunya menjadi tempat silaturrahmi antara tokoh kaum tua dan muda untuk membahas soal keagamaan, termasuk keummatan.</p>
<p>Di Surau Syekh Djamil Djaho itulah kedua belah pihak berdamai dan menghilangkan segala silang sengketa.</p>
<p>Melalui karyanya “Suluh Bendang”, Syekh Djaho juga dinilai mampu menjadi penengah polemik. Bahkan, ia merupakan tempat bertanya kaum adat.</p>
<p>Di dunia kajian Islam, Syekh Djaho juga menulis buku. Ia sangat ahli dalam Ilmu Syariah Nahu. Buku-bukunya, antara lain, <em>Tadzkiratul Qulub, Nujumul Hidayah Firaddi ‘Ala Ahlil Ghiwayah dan Sumusul Lamiyah fi Aqidah ad Diyaanah</em>.</p>
<p>Pembaruan lain yang digagas Syekh Djamil Djaho adalah mengubah sistem perkawinan yang selama ini lebih kental pada adat kepada sistem Islam. Ia juga mengatur pemungutan dan pengumpulan zakat, kursus politik di sekolah-sekolah dan menghapus sistem tingkat kepenghuluan.</p>
<p>Beberapa bulan setelah merdeka, Syekh Muhammad Djamil Djaho berpulang ke Rahmatullah di Djaho, Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar. Ia wafat pada 2 November 1945 bertepatan dengan 27 Zulhijjah 1364. Madrasah, murid-murid, berbagai pembaruan dan keluasan ilmunya dalam dakwah yang simpati, menjadi warisan yang terus dikenang hingga kini. <strong>(ZE)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: <span style="color: #993300;"><a style="color: #993300;" href="https://langgam.id/syekh-muhammad-djamil-djaho-ulama-karismatik-penengah-polemik/">Syekh Muhammad Djamil Djaho, Ulama Karismatik Penengah Polemik</a></span></strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/sejarah-berdirinya-masjid-nurul-falah-di-mesir-van-andalas/">Sejarah Berdirinya Masjid Nurul Falah di Mesir Van Andalas</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">40519</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Surau Batu Hampar yang Didirikan Kakenda Bung Hatta</title>
		<link>https://langgam.id/mengenal-surau-batu-hampar-yang-didirikan-kakenda-bung-hatta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 May 2020 20:00:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid Tua Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan 2020]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=40338</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Surau Batu Hampar tak lepas dari sejarah perkembangan pendidikan pesantren di Minangkabau. Surau itu merupakan prototipe dalam artian surau sebagai lembaga pendidikan islam yang profesional. Surau Batu Hampar dibangun Syekh Abdurrahman yang merupakan kakenda Bung Hatta, beliau merupakan salah satu ulama terkemuka di Ranah Minang. Surau itu didirikan sekitar tahun 1840 Masehi, karena dalam berbagai literatur menuliskan, bahwa Syekh Abdurrahman lahir 1777 Masehi dan ia mendirikan surau itu setelah berumur 63 tahun. Mansur Malik dalam tulisannya di Buku “Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat” (1981) yang diterbitkan Islamic Center Sumatera Barat menyebutkan, Abdurrahman sudah berkemauan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengenal-surau-batu-hampar-yang-didirikan-kakenda-bung-hatta/">Mengenal Surau Batu Hampar yang Didirikan Kakenda Bung Hatta</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000000;"><a style="color: #000000;" href="http://langgam.id"><strong>Langgam.id</strong></a></span> &#8211; Surau Batu Hampar tak lepas dari sejarah perkembangan pendidikan pesantren di Minangkabau. Surau itu merupakan prototipe dalam artian surau sebagai lembaga pendidikan islam yang profesional.</p>
<p>Surau Batu Hampar dibangun Syekh Abdurrahman yang merupakan kakenda Bung Hatta, beliau merupakan salah satu ulama terkemuka di Ranah Minang.</p>
<p>Surau itu didirikan sekitar tahun 1840 Masehi, karena dalam berbagai literatur menuliskan, bahwa Syekh Abdurrahman lahir 1777 Masehi dan ia mendirikan surau itu setelah berumur 63 tahun.</p>
<p>Mansur Malik dalam tulisannya di Buku “Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat” (1981) yang diterbitkan Islamic Center Sumatera Barat menyebutkan, Abdurrahman sudah berkemauan keras, cerdas dan cakap sejak berusia kecil.</p>
<p>Di usia 15 tahun, sekitar tahun 1792, ia minta izin kepada orang tua untuk belajar agama pada Syekh Galogandang di Batusangkar. Bertahun-tahun di sana, ia kemudian berangkat berjalan kaki ke Tapak Tuan, Aceh.</p>
<p>Di Aceh, Abdurrahman belajar pada Syekh Abdur Rauf sekitar 8 tahun, sebelum kemudian memutuskan berangkat ke Mekkah untuk naik haji. Di Mekkah, Abdurrahman tinggal selama 7 tahun untuk memperdalam pengetahuan agama.</p>
<p>Setelah merantau 48 tahun, Syekh Abdurrahman pulang ke Batuhampar dalam usia 63 tahun. Sesampai di kampung halaman, ia melihat masyarakat yang telah beragama Islam belum menjalankan tuntunan agama sebagaimana mestinya. Judi dan sabung ayam marak, masjid sepi tak berjemaah.</p>
<p>Syekh Abdurrahman melakukan pendekatan bertahap. Sikap ramah dan pemurahnya adalah modal meraih simpati masyarakat. Sejak anak-anak, penyabung ayam, hingga petinggi adat ia rangkul, untuk meramaikan masjid.</p>
<p>Ia kemudian mendirikan surau. Mulai mengajar ilmu tilawatil Qur’an, tuntunan salat dan ilmu tauhid. Namanya makin besar. Murid datang dari berbagai penjuru, sampai dari Jambi, Palembang dan Bengkulu. Rumah penduduk ramai karena diinapkan murid-murid Syekh.</p>
<p>Karena sudah tak muat di rumah penduduk, di areal sekitar 3 hektare Syekh Abdurrahman membangun komplek pemukiman untuk murid-muridnya yang dinamakan kampung dagang. Bangunan utama di bagian tengah, dikelilingi puluhan surau tempat menginap murid-muridnya.</p>
<p><strong>Baca Juga: <span style="color: #993300;"><a style="color: #993300;" href="https://langgam.id/syekh-abdurrahman-batuhampar-kakenda-bung-hatta-penggagas-pesantren-surau/">Syekh Abdurrahman Batuhampar: Kakenda Bung Hatta, Penggagas Sistem Pesantren Surau</a></span></strong></p>
<p>Terkait bentuk bangunan masjid yang didirikan Syekh Abdurrahman, tak ada lagi dokumentasi lengkap. Catatan Fajar Rillah Vesky dalam blog <a href="http://gonjonglimo5.blogspot.com/2017/06/cerita-dari-makam-syekh-abdurrahman.html">gonjonglimo5</a> berdasarkan wawancara dengan dengan Buya Sya&#8217;rani salah seroang ulama yang masih hidup di daerah itu menyebutkan, dokumentasi rumah ibadah yang diberi nama Majsid Dagang sejak awal didirikan hanya tinggal foto bentuk di dalam masjid.</p>
<p>Terlihat tonggaknya besar-besar yang dipenuhi kaligrafi.</p>
<p>Sementara itu, dalam catatat yang dituliskan Apria Putra yang merupakan Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah dalam situs <a href="https://tarbiyahislamiyah.id/syekh-batu-hampar-dan-jejak-tokoh-pendidikan-tradisional-surau-di-pedalaman-minangkabau/">tarbiyahislamiyah.id</a> menyebutkan, Masjid Dagang dibangun dengan gaya arsitektur Minangkabau, terbuat dari kayu yang berukir-ukir, gonjongnya bertingkat-tingkat.</p>
<p>Bersebelahan dengan masjid, terdapat sebuah bangunan yang cukup besar, bertingkat dua, itulah bangunan tempat melaksanakan suluk, bahkan peserta suluk pernah mencapai 400 orang dalam setahun.</p>
<p>Persis di sebelah timur masjid, dibangun sebuah bangunan permanen dengan sebuah menara yang cukup menarik, dengan gaya menara khas timur tengah. Menara ini dibangun di masa Syekh Arsyad, anak Syekh Abdurrahman, yang dipergunakan untuk mengumandangkan azan.</p>
<p>Di sebelah timur menara, terdapat bangunan permanen lain, di sinilah Syekh Abdurrahman dan anak cucunya di makamkan.</p>
<p>Sebuah bangunan lagi yang menjadi daya tarik dan simbol kejayaan Batu Hampar kala itu ialah sebuah rumah gadang yang cukup besar, didirikan di atas kolam. Rumah gadang ini menjadi tempat penginapan para penziarah, pejalan kaki yang kemalaman atau masyarakat yang hendak beribadah selama berbulan-bulan di Batu Hampar.</p>
<p>Kemudian, Lebih kurang 200 meter ke arah timur, di seberang jalan raya yang membatasi perkampungan, terdapat satu bangunan induk lainnya yaitu Surau Baru.</p>
<p>Di sekitar bangunan induk itulah berdiri lebih kurang 30 surau yang rata-rata berukuran 7×8 meter, umumnya bertingkat dua.</p>
<p>Di surau-surau itulah para orang-orang siak yang ramai itu bertempat tinggal dan mengulangi pelajarannya dengan guru-guru tuo (guru-guru bantu Syekh Abdurrahman). Surau-surau itu diberi nama sesuai dengan asal daerah orang siak yang menghuninya. <strong>(ZE)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengenal-surau-batu-hampar-yang-didirikan-kakenda-bung-hatta/">Mengenal Surau Batu Hampar yang Didirikan Kakenda Bung Hatta</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">40338</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Masjid Sipisang dan Suluknya Jemaah Naqsyabandiyah di Agam</title>
		<link>https://langgam.id/sejarah-masjid-sipisang-dan-suluknya-jemaah-naqsyabandiyah-di-agam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 May 2020 20:00:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid Tua Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan 2020]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=39282</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Tak hanya tentang juang dan gemuruhnya Perang Paderi di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat (Sumbar), di gerbang menuju daerah itu juga tersimpan sejarah panjang perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah di Ranah Minang yang berhulu di Masjid Sipisang. Sebelum memasuki Bonjol, Kabupaten Pasaman, daerah yang akan dilintasi ialah Nagari Nan Tujuah, Kecamatan Palupuah, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Daerah yang mempunyai sejumlah catatan sejarah. Mulai dari masa pergerakan menentang kolonialisme Belanda hingga masa mempertahankan kemerdekaan. Perjalanan sejarah Islam pun tidak luput dari wilayah ini. Selain tentang Perang Paderi dengan melibatkan Tuanku Imam, daerah ini juga menjadi tempat pengembangan ajaran tariqat. Terutama Tarekat Naqsyabandiyah</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/sejarah-masjid-sipisang-dan-suluknya-jemaah-naqsyabandiyah-di-agam/">Sejarah Masjid Sipisang dan Suluknya Jemaah Naqsyabandiyah di Agam</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000000;"><a style="color: #000000;" href="http://langgam.id"><strong>Langgam.id</strong></a></span> &#8211; Tak hanya tentang juang dan gemuruhnya Perang Paderi di <span style="color: #000000;"><a style="color: #000000;" href="https://www.pasamankab.go.id/">Kabupaten Pasaman</a></span>, Sumatra Barat (Sumbar), di gerbang menuju daerah itu juga tersimpan sejarah panjang perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah di Ranah Minang yang berhulu di Masjid Sipisang.</p>
<p>Sebelum memasuki Bonjol, Kabupaten Pasaman, daerah yang akan dilintasi ialah Nagari Nan Tujuah, Kecamatan Palupuah, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Daerah yang mempunyai sejumlah catatan sejarah. Mulai dari masa pergerakan menentang kolonialisme Belanda hingga masa mempertahankan kemerdekaan.</p>
<p>Perjalanan sejarah Islam pun tidak luput dari wilayah ini. Selain tentang Perang Paderi dengan melibatkan Tuanku Imam, daerah ini juga menjadi tempat pengembangan ajaran tariqat. Terutama Tarekat Naqsyabandiyah yang juga cukup berkembang di daerah Kumpulan dan Bonjol.</p>
<p>Masjid Sipisang adalah salah satu masjid yang menjadi saksi pengembangan Tarekat Naqsyabandiyah di daerah itu. Secara gotong royong, di daerah Sipisang didirikan sebuah masjid yang penamaannya mengikuti nama tempat masjid didirikan. Hal itu sebagaimana lazimnya tipikal penamaan masjid atau surau di Minangkabau.</p>
<p>Tidak ada sumber primer yang berbicara langsung tentang waktu pendirian masjid. Beberapa sumber lokal mengatakan, masjid ini didirikan pada tahun 1818 dan melibatkan Syekh Ibrahim Kumpulan dalam pembangunan. Merujuk pada keterlibatan Syekh Ibrahim Kumpulan, dugaan dibangunnya masjid pada awal abad ke-19 dapat dibenarkan, hanya saya tanggal pastinya tidak dapat ditentukan.</p>
<p>Syekh Ibrahim Kumpulan (1764-1914) merupakan seorang ulama Tarekat Naqsyabandiyah yang cukup terpandang di Minangkabau. Pada awal adab ke-19 ia diceritakan kembali berangkat menuju Makkah untuk mendalami ilmunya, dan menetap selama lebih kurang 7 tahun. Setelah itu barulah ia kembali ke kampung halamannya di Kumpulan.</p>
<p>Eksistensi Masjid Sipisang tidak hanya untuk melakukan shalat lima waktu maupun tempat dilangsungkannya aktivitas sosial keagamaan lainnya. Masjid ini juga dijadikan tempat suluk bagi pengikut Tarekat Naqsyabandiyah. Terutama bagi mereka yang berdomisili di daerah tersebut.</p>
<p>Selain Syekh Ibrahim Kumpulan, tokoh lain yang juga terlibat dalam aktivitas keagamaan di Masjid ini adalah Syekh Muhammad Said Al-khalidi Bonjol (1881-1979). Ia disebutkan sebagai ulama yang menerima suluk pengikut Tarekat Naqsyabandiyah di Masjid Sipisang. Sepeninggal Syekh Muhammad Said, aktivitas suluk pun sudah tidak lagi dilakukan di masjid ini, lantaran ketiadaan guru yang akan menerima suluk.</p>
<p>Secara umum, arsitektur masjid Sipisang tidak ada ubahnya dengan masjid kuno yang dibangun semasa dengannya. Mulai dari pola atap tumpang, serta penggunaan kayu sebagai bahan utama bangunan, hingga posisi masjid yang berada di tepi sungai dan di bawah bukit. Hingga sekarang unsur utama masjid tersebut belum mengalami banyak perubahan.</p>
<p>Masjid Sipisang dibangun berbentuk persegi dengan ukuran sisinya 10.9 meter. Badan bangunan yang menyerupai pola <em>rumah gadang &#8216;kuncuik ka bawah kambang ka ateh</em> digabungkan oleh pasak pada setiap kayu penyangga. Tiang macu atau tunggak tuo di ambil dari daerah Patai, sekitar tiga kilometer ke arah Bukittinggi dari posisi masjid saat ini. Termasuk tunggak tuo, terdapat 36 tiang yang menyangga masjid ini.</p>
<p>Pada awalnya, atap Masjid Sipisang menggunakan bahan ijuk. Akan tetapi, dengan alasan ketahanan bahan, maka pada tahun 1885 dilakukan penggantian atap ke bahan seng. Selanjutnya pada tahun 2005 atau 2006 juga dilakukan renovasi terhadap dinding masjid bagian luar, tepatnya dinding bagian selatan bangunan masjid.</p>
<p>Tepat di bagian cucuran atap, terdapat papan yang dihiasi dengan ukiran. Bagian tersebut dihias dengan ukiran tradisional dengan motif Aka Cino Sagagang dan pada beberapa bagian juga terdapat ukiran kaligrafi. Selain pada bagian cucuran atap, ukiran kaligrafi juga ada pada bagian dalam masjid.</p>
<p>Di sebelah Masjid Sipisang saat ini sudah dibangun sebuah masjid baru bernama Masjid Nurul Hikmah. Aktivitas peribadatan secara keseluruhan sudah dipindahkan ke masjid baru. Bukan berarti ditinggalkan, Masjid kayu tersebut saat ini dijadikan sebagai tempat mengaji bagi anak-anak Jorong Sipisang. <strong>(Syahrul Rahmat/ZE)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/sejarah-masjid-sipisang-dan-suluknya-jemaah-naqsyabandiyah-di-agam/">Sejarah Masjid Sipisang dan Suluknya Jemaah Naqsyabandiyah di Agam</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">39282</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Simbol Adat dan Agama dalam Arsitektur Masjid Tuo Kayu Jao</title>
		<link>https://langgam.id/simbol-adat-dan-agama-dalam-arsitektur-masjid-tuo-kayu-jao/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 May 2020 20:00:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid Tua Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan 2020]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=39154</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Arsitektur masjid yang telah berusia kurang lebih 400 tahun itu melambangkan eratnya hubungan adat dan agama di Ranah Minang. Rumah ibadah itu didirikan di ketinggian 1.152 meter di atas permukaan laut. Masjid Tuo Kayu Jao didirikan atas swadaya masyarakat Lubuk Lasih dan Batang barus, dan membuktikan bahwa agama Islam di Minangkabau telah berkembang sejak 400 tahun yang lalu. Masjid tersebut berada di Jorong Kayu Jao, Kenagarian Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok. Masjid itu merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia, dibangun Angku Masaur (Angku Masyhur) dang Angku Labai. Keduanya merupakan orang-orang pilihan yang memiliki suara merdu.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/simbol-adat-dan-agama-dalam-arsitektur-masjid-tuo-kayu-jao/">Simbol Adat dan Agama dalam Arsitektur Masjid Tuo Kayu Jao</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000000;"><a style="color: #000000;" href="http://langgam.id"><strong>Langgam.id</strong></a></span> &#8211; Arsitektur masjid yang telah berusia kurang lebih 400 tahun itu melambangkan eratnya hubungan adat dan agama di Ranah Minang. Rumah ibadah itu didirikan di ketinggian 1.152 meter di atas permukaan laut.</p>
<p>Masjid Tuo Kayu Jao didirikan atas swadaya masyarakat Lubuk Lasih dan Batang barus, dan membuktikan bahwa agama Islam di Minangkabau telah berkembang sejak 400 tahun yang lalu. Masjid tersebut berada di Jorong Kayu Jao, Kenagarian Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok.</p>
<p>Masjid itu merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia, dibangun Angku Masaur (Angku Masyhur) dang Angku Labai. Keduanya merupakan orang-orang pilihan yang memiliki suara merdu.</p>
<p><span style="color: #000000;"><a style="color: #000000;" href="https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/masjid-tuo-kayu-jao/">Catatan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Barat (Sumbar)</a></span>, Angku Masyhur dikenal sebagai imam yang memiliki suara merdu saat melafalkan bacaan salat. Sementara Angku Labai merupakan bilal dengan suara khas dan merdu saat mengumandangkan azan, bahkan cerita dari mulut ke mulut oleh masyarakat setempat, azan yang dikumdangkan Angku Labai sangat memikat hati pendengarnya.</p>
<p>Masjid tua itu berdenah bujur sangkar, pada sisi barat terdapat bagian menjorok yang berfungsi sebagai mihrab.</p>
<p>Lalu, bagian atap bertumpang tiga yang pada bagian mihrab atapnya berupa gonjong dengan bahan terbuat dari ijuk.</p>
<p>Dinding, plafon dan tiangnya seluruhnya terbuat dari bahan kayu, kecuali tiang tengah mulai dari tanah sampai pada permukaan plafon lantai 2 telah diganti dengan beton oleh masyarakat dikarenakan telah lapuk dan hancur.</p>
<p>Meskipun telah pernah dipugar, namun bentuk masjid ini masih sama dengan aslinya.</p>
<p>Pada atap bertumpang tiga dan gonjong dibagian mihrab, diantara tiap-tiap tumpang tersebut terdapat sebuah pembatas dengan hiasan ukiran terawangan tembus bermotif geometris, pembatas ini juga berfungsi sebagai fentilasi.</p>
<p>Sementara itu, antara tumpang dua dan tumpang tiga terdapat dua buah ukiran berbentuk lingkaran seperti roda pada  tiap-tiap sisinya, sehingga motif hias berbentuk roda tersebut berjumlah delapan buah, tapi ragam motif hias ini tidak ditemukan pada ukiran terawang yang terdapat antara tumpang pertama dan kedua (urutan tumpang dihitung dari tumpang paling atas).</p>
<p>Selain itu, terdapat pula ukiran unik lainnya yaitu ukiran berbentuk naga yang terdapat pada 4 sudut dinding pada bagian luar dan juga pada permukaan bedug.</p>
<p>Dio Farhan Harun dkk dalam artikel ‘Karakter Visual Bangunan Masjid Tuo Kayu Jao di Sumatera Barat’ dalam Arsitektur E-Jurnal, Volume 8 No 2, November 2015 menulis, gaya bangunan masjid merupakan gabungan antara corak Islam dan Minangkabau.</p>
<p>Beberapa ornamen yang terlihat, yakni ornamen dekoratif dengan motif hasil <em>stilisasi</em> dari tumbuhan pada dinding atap masjid, yang terletak antara atap tingkat pertama dan kedua.</p>
<p>Ornamen dekoratif dengan motif flora, menurut para penulis, juga terdapat pada dinding mihrab Masjid Tuo Kayu Jao. Sementara, ornamen dekoratif selompat, ada pada dinding kolong, yang melambangkan kekuatan hukum berada di tangan pangulu.</p>
<p>Di dalam masjid ada mimbar yang dibuat indah dan megah juga dengan motif ukiran tumbuh-tumbuhan. Mimbar diperkirakan berumur sama dengan masjid.</p>
<p>Atap masjid tersebut disangga 27 tiang yang merupakan simbolisasi dari enam suku di sekitar masjid. Masing–masing terdiri dari empat unsur pemerintahan ditambah tiga unsur dari agama, yakni khatib, imam, dan bilal.</p>
<p>Masing-masing tiang berukuran lingkar 25 cm hingga 30 cm. Tiang masjid hanya diletakkan di atas batu sandi sebagai pondasi. Tiang-tiang terbuat dari kayu kelas satu, dengan jenis yang belum diketahui.</p>
<p>Simbolisasi juga terdapat di jendela dengan jumlahnya yang ganjil sebanyak 13 buah, yang mengandung makna 13 rukun shalat.</p>
<p>Ragam hias dan motif seni ukir Minangkabau yang terdapat berbagai arstitektur masjid menunjukkan, orentasi kepada alam. Sesuai pepatah yang mengatakan, “<em>Alam Takambang jadi Guru, Cancang Taserak jadi Ukia</em>”. Filosofi adat yang masih dipakai masyarakat Minang hingga kini.</p>
<p>Beberapa sumber menyebut Masjid Tuo Kayu Jao sudah ada sejak 1599. Sumber lain, situs resmi Pemkab Solok, bahkan menyebut lebih tua dari itu, yakni tahun 1567. Yang pasti, Buya Masoed Abidin dan Nusyirwan Effendi dalam Buku ‘Surau Kito’ menulis, masjid ini sudah berusia lebih dari 400 tahun.</p>
<p>Dengan demikian, Masjid Tuo Kayu Jao tercatat menjadi masjid tertua di Ranah Minang yang masih berdiri hingga kini. Bahkan, bisa disebut jadi salah satu yang tertua di Indonesia. Masjid yang membawa suasana pengembangan Islam pada zaman sebelum Padri. Suasana Islam dari Minangkabau masa abad ke-16 silam. <strong>(Herry/ZE)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tulisan ini ditulis ulang dari artikel sebelumnya: <span style="color: #993300;"><a style="color: #993300;" href="https://langgam.id/masjid-tuo-kayu-jao-ornamen-padu-islam-dan-minangkabau-sejak-abad-ke-16/">Masjid Tuo Kayu Jao, Ornamen Padu Islam dan Minangkabau Sejak Abad ke-16</a></span></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/simbol-adat-dan-agama-dalam-arsitektur-masjid-tuo-kayu-jao/">Simbol Adat dan Agama dalam Arsitektur Masjid Tuo Kayu Jao</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">39154</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Surau Gadang di Tanjung Medan, Peninggalan Syekh Burhanuddin</title>
		<link>https://langgam.id/mengenal-surau-gadang-di-tanjung-medan-peninggalan-syekh-burhanuddin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 May 2020 20:00:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid Tua Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan 2020]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=38963</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Bangunan tua yang dikenal dengan nama Surau Gadang Tanjung Medan itu merupakan salah satu saksi bisu bagaimana Syekh Burhanuddin mengembangkan ajaran agama Islam di Ranah Minang. Surau tersebut didirikan setelah mursyid Tarekat Syattariyah tersebut pulang dari Aceh menimba ilmu selama 30 tahun. Catatan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Barat (Sumbar), 1680 Syekh Burhanuddin kembali ke Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, dan mendirikan surau yang terletak di salah satu komplek seluas 4 hektar di Dusun Tanung Medan, Desa Sandi Mulia, Kecamatan Ulakan Tapakis. Di surau itulah beberapa aktivitas keagamaan dan sosial dilakukan, seperti salat lima waktu, belajar ilmu agama,</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengenal-surau-gadang-di-tanjung-medan-peninggalan-syekh-burhanuddin/">Mengenal Surau Gadang di Tanjung Medan, Peninggalan Syekh Burhanuddin</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000000;"><a style="color: #000000;" href="http://langgam.id"><strong>Langgam.id</strong></a></span> &#8211; Bangunan tua yang dikenal dengan nama Surau Gadang Tanjung Medan itu merupakan salah satu saksi bisu bagaimana Syekh Burhanuddin mengembangkan ajaran agama Islam di Ranah Minang. Surau tersebut didirikan setelah mursyid Tarekat Syattariyah tersebut pulang dari Aceh menimba ilmu selama 30 tahun.</p>
<p>Catatan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Barat (Sumbar), 1680 Syekh Burhanuddin kembali ke Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, dan mendirikan surau yang terletak di salah satu komplek seluas 4 hektar di Dusun Tanung Medan, Desa Sandi Mulia, Kecamatan Ulakan Tapakis.</p>
<p>Di surau itulah beberapa aktivitas keagamaan dan sosial dilakukan, seperti salat lima waktu, belajar ilmu agama, musyawarah, berdakwah, termasuk berkesenian dan mempelajari ilmu bela diri.</p>
<p>Karena menganut paham Shattariyah, Surau Gadang Tanjung Medan dikenal sebagai pusat Tarekat Shattariyah. Diantara ulama yang belajar di surau tersebut adalah Tuanku Koto di Nagari Ampek Angkek Luhak Agam yang merupakan guru dari Tuanku Imam Bonjol.</p>
<p>Selain bangunan surau, di komplek tersebut juga terdapat beberapa bangunan lainnya, seperti adat atau aula berbentuk persegi panjang dengan atap gonjong lima dari bahan seng, terletak di halaman depan.</p>
<p>Hal ini menggambarkan bahwa ulama berada di belakang memberi dorongan kepada adat atau masyarakat yang di depan dalam menghadapi berbagai permasalahan.</p>
<p>Lalu, juga ada surau baru dengan bangunan dua lantai, bangunan madrasah, masjid di sebelah utara, dan madrasah serta kamar mandi di sebelah barat.</p>
<p>Adapun di sebelah selatan, terdapat rumah pengurus surau dan Panti Asuhan Lanjut Usia Tanjung Medan.</p>
<p>Pemugaran surau pernah dilakukan tahun 1980, yakni pembongkaran rangka atap, dinding mihrab, jendela, dan pintu, serta pemasangan kembali dengan bahan yang baru untuk komponen yang sudah keropos kecuali tiang bangunan.</p>
<p>Bangunan surau berbentuk bujur sangkar, berukuran 14 x 14 meter, memiliki kolong setinggi 1,20 meter dan tingginya hingga puncak 16,70 meter.</p>
<p>Pintu masuk ruang utama dari arab timur melalui tiga anak tangga yang terbuat dari beton. Pintu utama tersebut memiliki dua daun pintu dengan lebar masing-masing 1,40 meter dan tinggi 2 meter.</p>
<p>Lantai dan dinding ruang utama dari papan kayu yang telah beberapa kali diganti. Tiang utama bangunan berjumlah 16 buah dan tiang pendukung 26 buah yang terbuat dari kayu. Karena memang belum pernah diganti, sebagian besar kondisi tiang tersebut sudah mulai keropos. Tiang-tiang itu berdiri di atas <em>umpak</em> batu.</p>
<p>Kemudian, jendela ruangan berjumlah 16 buah, terdapat di sebelah utara lima buah, barat dua buah, selatan lima buah, dan timur empat buah.</p>
<p>Atap ruangan (plafon) di bagian pinggir terbuat dari papan kayu, sedangkan pada bagian tengah ruangan terbuat dari anyaman daun kelapa.</p>
<p>Lalu, mihrab surau terletak di sebelah barat dengan posisi menjorok keluar, berdenah persegi panjang berukuran 1,75 x 6,5 meter, memiliki tiga buah jendela di sisi barat.</p>
<p>Pada sisi utara dan selatan disekat membentuk kamar dan masing-masing berukuran 1,75 x 1,75 meter dengan sebuah pintu mengarah ke ruang mihrab.</p>
<p>Selain mengalami kerusakan karena dimakan usia, surau tersebut juga pernah rusak akibat bencana alam, seperti gempa 2007 lalu.</p>
<p>Tidak hanya itu, Surau Tanjung Medan atau Surau Syekh Burhanuddin juga merupakan surau pertama yang didirikan di Ranah Minang. <strong>(ZE)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengenal-surau-gadang-di-tanjung-medan-peninggalan-syekh-burhanuddin/">Mengenal Surau Gadang di Tanjung Medan, Peninggalan Syekh Burhanuddin</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">38963</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 26/95 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-04-21 12:04:37 by W3 Total Cache
-->