<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Kekerasan Anak Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/kekerasan-anak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/kekerasan-anak/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Tue, 19 May 2026 13:05:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Kekerasan Anak Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/kekerasan-anak/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>10 Fakta Mencemaskan Kekerasan Anak di Sumbar yang Naik Drastis, Korban Dilecehkan hingga Disiksa Ayah Kandung</title>
		<link>https://langgam.id/10-fakta-mencemaskan-kekerasan-anak-di-sumbar-yang-naik-drastis-korban-dilecehkan-hingga-disiksa-ayah-kandung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 May 2026 13:05:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir Sumatra]]></category>
		<category><![CDATA[kasus kekerasan anak di Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Padang]]></category>
		<category><![CDATA[Pelecehan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pemprov Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=247406</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Kasus kekerasan terhadap anak di Sumatera Barat (Sumbar) terus meningkat dan memicu kekhawatiran serius. Berikut 10 fakta mencemaskan dari maraknya kasus kekerasan anak di Ranah Minang yang dirangkum dari ulasan Langgam.id hari ini, Selasa (19/5/2026). Data DP3AP2KB Sumbar mencatat, sepanjang 2025 terdapat 760 kasus kekerasan anak yang dilaporkan. Angka itu melonjak jauh dibandingkan tahun 2020 yang hanya 426 kasus. Pada 2021 jumlah kasus naik menjadi 548 kasus, lalu 567 kasus pada 2022. Puncaknya terjadi pada 2023 dengan 783 kasus, sebelum turun sedikit menjadi 721 kasus pada 2024. “Kalau dilihat grafiknya memang naik terus. Tahun tertinggi itu 2023 dengan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/10-fakta-mencemaskan-kekerasan-anak-di-sumbar-yang-naik-drastis-korban-dilecehkan-hingga-disiksa-ayah-kandung/">10 Fakta Mencemaskan Kekerasan Anak di Sumbar yang Naik Drastis, Korban Dilecehkan hingga Disiksa Ayah Kandung</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211;</strong> Kasus kekerasan terhadap anak di Sumatera Barat (Sumbar) terus meningkat dan memicu kekhawatiran serius. Berikut 10 fakta mencemaskan dari maraknya kasus kekerasan anak di Ranah Minang yang dirangkum dari ulasan <strong><em>Langgam.id</em></strong> hari ini, Selasa (19/5/2026).</p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Naik Drastis dalam Lima Tahun</strong></li>
</ol>



<p>Data DP3AP2KB Sumbar mencatat, sepanjang 2025 terdapat 760 kasus kekerasan anak yang dilaporkan. Angka itu melonjak jauh dibandingkan tahun 2020 yang hanya 426 kasus.</p>



<p>Pada 2021 jumlah kasus naik menjadi 548 kasus, lalu 567 kasus pada 2022. Puncaknya terjadi pada 2023 dengan 783 kasus, sebelum turun sedikit menjadi 721 kasus pada 2024.</p>



<p>“Kalau dilihat grafiknya memang naik terus. Tahun tertinggi itu 2023 dengan 783 kasus yang melapor,” kata Kabid PHPA DP3AP2KB Sumbar, Desrina Elena.</p>



<ol start="2" class="wp-block-list">
<li><strong>Kasus Anak Tiga Kali Lipat Lebih Banyak dari Kekerasan Perempuan</strong></li>
</ol>



<p>DP3AP2KB Sumbar menyebut jumlah kasus kekerasan terhadap anak jauh lebih tinggi dibanding kekerasan terhadap perempuan.</p>



<p>“Kasus anak ini jauh lebih tinggi dibanding perempuan. Karena itu penanganannya menjadi sangat penting,” ujar Desrina.</p>



<ol start="3" class="wp-block-list">
<li><strong>Korban Diduga Diam karena Takut</strong></li>
</ol>



<p>Data yang tercatat diyakini belum menggambarkan kondisi sebenarnya. Banyak korban diduga tidak melapor karena takut, tertekan, atau tidak punya tempat aman untuk mengadu.</p>



<p>“Anak-anak yang menjadi korban kekerasan membutuhkan lingkungan yang aman dan dukungan keluarga agar berani melapor. Tanpa dukungan tersebut, banyak kasus dikhawatirkan tidak pernah terungkap,” tuturnya.</p>



<ol start="4" class="wp-block-list">
<li><strong>Kekerasan Psikis, Fisik, dan Seksual Jadi Kasus Paling Dominan</strong></li>
</ol>



<p>Kasus yang paling banyak dilaporkan di Sumbar adalah kekerasan psikis, fisik, dan seksual.</p>



<p>“Yang paling dominan itu kekerasan psikis, fisik dan seksual,” kata Desrina.</p>



<ol start="5" class="wp-block-list">
<li><strong>Pelecehan Seksual hingga Sodomi Menimpa Anak-anak</strong></li>
</ol>



<p>DP3AP2KB Sumbar menyebut kekerasan seksual terhadap anak masih menjadi ancaman serius.</p>



<p>“Bentuk kasusnya mulai dari pelecehan seksual sampai sodomi terhadap anak,” ujarnya.</p>



<ol start="6" class="wp-block-list">
<li><strong>Mayoritas Korban Berusia 13 hingga 17 Tahun</strong></li>
</ol>



<p>Korban kekerasan didominasi anak usia sekolah. Banyak dari mereka mengalami tekanan mental akibat persoalan keluarga maupun kekerasan dari lingkungan terdekat.</p>



<p>“Anak-anak ini rentan mengalami tekanan psikologis karena kondisi di rumah ataupun lingkungan sekitar,&#8221; ujarnya.</p>



<ol start="7" class="wp-block-list">
<li><strong>Dharmasraya, Pasaman, dan Padang Pariaman Jadi Daerah dengan Laporan Tertinggi</strong></li>
</ol>



<p>Dari 19 kabupaten dan kota di Sumbar, laporan kasus terbanyak berasal dari Dharmasraya, Pasaman, dan Padang Pariaman.</p>



<p>“Laporan yang masuk banyak dari Dharmasraya, Pasaman dan Padang Pariaman,” ucap Desrina.</p>



<p>Meski begitu, ia menyebut tingginya laporan juga bisa menjadi tanda masyarakat mulai berani melapor.</p>



<p>“Kita apresiasi daerah yang banyak melapor, artinya partisipasi masyarakat untuk melindungi anak mulai tinggi,” ujarnya.</p>



<ol start="8" class="wp-block-list">
<li><strong>Bayi Dua Tahun Disiksa Ayah Kandung</strong></li>
</ol>



<p>Kasus yang menyita perhatian publik terjadi di Kota Padang. Seorang bayi berusia dua tahun diduga menjadi korban kekerasan ayah kandungnya sendiri.</p>



<p>Korban disebut disundut rokok, digigit, hingga disiram air panas.</p>



<ol start="9" class="wp-block-list">
<li><strong>Mayoritas Pelaku Orang Terdekat Korban</strong></li>
</ol>



<p>Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra mengungkap fakta paling memilukan, yakni mayoritas pelaku berasal dari lingkungan dekat korban sendiri.</p>



<p>“Mayoritas pelaku kekerasan terhadap anak merupakan orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan korban, mulai dari orang tua kandung, anggota keluarga, hingga orang yang telah dikenal anak sebelumnya,” kata Jasra.</p>



<p>“Ketika pelaku berasal dari lingkungan terdekat, anak sering kali tidak memiliki keberanian untuk melapor karena takut, terancam, atau tidak memahami bahwa dirinya adalah korban,” ujarnya.</p>



<ol start="10" class="wp-block-list">
<li><strong>Sumbar Siapkan Skrining Psikologis untuk Siswa Baru</strong></li>
</ol>



<p>Pemprov Sumbar mulai menyiapkan langkah deteksi dini kekerasan terhadap anak melalui skrining psikologis di sekolah.</p>



<p>Program itu dilakukan bersama Dinas Pendidikan Sumbar dan Fakultas Kedokteran Unand. Nantinya siswa baru akan menjalani asesmen psikologis untuk mendeteksi trauma maupun indikasi kekerasan.</p>



<p>“Jadi nanti ada assessment yang ditanyakan kepada anak. Dari situ akan terpetakan apakah anak pernah mengalami kekerasan, masih tahap awal trauma atau sudah membutuhkan pendampingan psikologis,” kata Desrina.</p>



<p>“Anak-anak ini sebenarnya banyak yang punya masalah, tetapi tidak tahu harus bercerita ke siapa. Karena itu komunikasi dengan anak sangat penting,” imbuhnya<strong>. (ICA)</strong></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/10-fakta-mencemaskan-kekerasan-anak-di-sumbar-yang-naik-drastis-korban-dilecehkan-hingga-disiksa-ayah-kandung/">10 Fakta Mencemaskan Kekerasan Anak di Sumbar yang Naik Drastis, Korban Dilecehkan hingga Disiksa Ayah Kandung</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">247406</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sumbar Mulai Deteksi Trauma Kekerasan Anak Sejak Hari Pertama Sekolah</title>
		<link>https://langgam.id/siswa-baru-di-sumbar-bakal-jalani-skrining-psikologis-trauma-kekerasan-anak-dideteksi-sejak-hari-pertama-sekolah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fajar Hadiansyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 May 2026 11:37:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[darurat kekerasan anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=247402</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), mulai menyiapkan langkah baru untuk mendeteksi trauma dan kekerasan pada anak sejak dini. Mulai tahun ajaran baru, siswa baru di sekolah akan menjalani skrining psikologis guna memetakan kondisi mental dan emosional mereka sejak awal masuk sekolah. Program ini digagas Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Sumbar bekerja sama Dinas Pendidikan Sumbar serta Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand). Melalui program tersebut, siswa akan mengisi asesmen psikologis dalam bentuk tautan digital yang telah disiapkan bersama pihak sekolah dan tenaga pendamping. Hasil asesmen nantinya digunakan untuk mendeteksi kemungkinan trauma maupun indikasi</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/siswa-baru-di-sumbar-bakal-jalani-skrining-psikologis-trauma-kekerasan-anak-dideteksi-sejak-hari-pertama-sekolah/">Sumbar Mulai Deteksi Trauma Kekerasan Anak Sejak Hari Pertama Sekolah</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id </strong>&#8211; Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), mulai menyiapkan langkah baru untuk mendeteksi trauma dan kekerasan pada anak sejak dini. Mulai tahun ajaran baru, siswa baru di sekolah akan menjalani skrining psikologis guna memetakan kondisi mental dan emosional mereka sejak awal masuk sekolah.</p>



<p>Program ini digagas Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Sumbar bekerja sama Dinas Pendidikan Sumbar serta Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand).</p>



<p>Melalui program tersebut, siswa akan mengisi asesmen psikologis dalam bentuk tautan digital yang telah disiapkan bersama pihak sekolah dan tenaga pendamping. Hasil asesmen nantinya digunakan untuk mendeteksi kemungkinan trauma maupun indikasi kekerasan yang pernah dialami anak.</p>



<p>Kepala Bidang Perlindungan Hak Perempuan dan Perlindungan Anak (PHPA) DP3AP2KB Sumbar, Desrina Elena mengatakan, skrining dilakukan agar kondisi psikologis anak bisa diketahui lebih awal sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih berat.</p>



<p>&#8220;Jadi nanti ada assessment yang ditanyakan kepada anak. Dari situ akan terpetakan apakah anak pernah mengalami kekerasan, masih tahap awal trauma atau sudah membutuhkan pendampingan psikologis,&#8221; kata Desrina kepada<strong> Langgam.id</strong>, Selasa (19/5/2026).</p>



<p>Menurutnya, banyak kasus kekerasan terhadap anak selama ini tidak terungkap karena korban memilih memendam pengalaman buruk yang dialami. Bahkan dalam sejumlah kasus, guru justru lebih dulu melihat perubahan perilaku anak dibanding keluarganya sendiri.</p>



<p>&#8220;Nanti ada asesmen khusus. Jadi bisa diketahui apakah anak masih tahap awal trauma atau sudah membutuhkan pendampingan psikologis lebih lanjut,&#8221; ujarnya.</p>



<p>Desrina menilai, sekolah menjadi ruang paling strategis untuk mendeteksi persoalan anak sejak dini karena sebagian besar waktu anak dihabiskan di lingkungan pendidikan. Dengan skrining ini, sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang aman bagi anak untuk mendapat perlindungan dan pendampingan.</p>



<p>Ia mengungkapkan, kasus kekerasan terhadap anak di Sumbar saat ini mencapai tiga kali lipat dibanding kasus kekerasan terhadap perempuan. Mayoritas korban berada pada usia sekolah dengan bentuk kekerasan dominan berupa kekerasan psikis, fisik, dan seksual.</p>



<p>&#8220;Anak-anak ini sebenarnya banyak yang punya masalah, tetapi tidak tahu harus bercerita ke siapa. Karena itu komunikasi dengan anak sangat penting,&#8221; imbuhnya.</p>



<p>Dari data DP3AP2KB Sumbar, sepanjang 2025 terdapat 760 kasus kekerasan anak yang dilaporkan. Angka itu melonjak drastis dibandingkan 2020 yang berada di angka 426 kasus.</p>



<p>Sementara pada 2021 kembali naik ke angka 548 kasus. Lalu 2022, meningkat lagi jadi 567 kasus. Lonjakan paling tinggi terjadi pada 2023 dengan total 783 kasus. Setelah sempat turun menjadi 721 kasus pada 2024, jumlah kasus kembali naik pada tahun berikutnya. <strong>(WAN) </strong></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/siswa-baru-di-sumbar-bakal-jalani-skrining-psikologis-trauma-kekerasan-anak-dideteksi-sejak-hari-pertama-sekolah/">Sumbar Mulai Deteksi Trauma Kekerasan Anak Sejak Hari Pertama Sekolah</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">247402</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Alasan Bungkamnya Anak Korban Kekerasan, Masyarakat Harus Peduli</title>
		<link>https://langgam.id/alasan-bungkamnya-anak-korban-kekerasan-masyarakat-harus-peduli/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Buliza Rahmat]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 May 2026 11:00:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[darurat kekerasan anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=247400</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jasra Putra, menilai masih lemahnya sistem deteksi dini kasus kekerasan yang dialami oleh anak. Banyak kasus tidak terungkap karena korban memilih menutupi kondisi yang dialaminya, akibat rasa takut dan tekanan psikologis. Ia menjelaskan, bahwa anak-anak korban kekerasan seringkali menunjukkan perubahan perilaku yang sebenarnya dapat dikenali sejak awal. Namun, keterbatasan sistem deteksi dini dan minimnya pelatihan bagi tenaga pendidik membuat tanda-tanda tersebut kerap luput dari perhatian. &#8220;Perubahan perilaku seperti menjadi pendiam, mudah marah, menurunnya prestasi belajar, sering absen, hingga menarik diri dari lingkungan sosial seharusnya menjadi indikator awal yang diperhatikan oleh pihak</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/alasan-bungkamnya-anak-korban-kekerasan-masyarakat-harus-peduli/">Alasan Bungkamnya Anak Korban Kekerasan, Masyarakat Harus Peduli</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jasra Putra, menilai masih lemahnya sistem deteksi dini kasus kekerasan yang dialami oleh anak. Banyak kasus tidak terungkap karena korban memilih menutupi kondisi yang dialaminya, akibat rasa takut dan tekanan psikologis.</p>



<p>Ia menjelaskan, bahwa anak-anak korban kekerasan seringkali menunjukkan perubahan perilaku yang sebenarnya dapat dikenali sejak awal. Namun, keterbatasan sistem deteksi dini dan minimnya pelatihan bagi tenaga pendidik membuat tanda-tanda tersebut kerap luput dari perhatian.</p>



<p>&#8220;Perubahan perilaku seperti menjadi pendiam, mudah marah, menurunnya prestasi belajar, sering absen, hingga menarik diri dari lingkungan sosial seharusnya menjadi indikator awal yang diperhatikan oleh pihak sekolah dan lingkungan sekitar,&#8221; ujarnya kepada <strong>Langgam.id</strong>, Selasa (19/5/2026)</p>



<p>Menurut Jasra, perlindungan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada keluarga atau sekolah semata. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan bagi anak-anak.</p>



<p>Karena itu, KPAI mendorong langkah bersama untuk memperkuat sistem perlindungan anak melalui edukasi pola asuh positif, penguatan layanan konseling keluarga, peningkatan kapasitas guru dalam melakukan deteksi dini, serta penyediaan sistem pelaporan yang aman dan mudah diakses oleh korban.</p>



<p>Selain itu, lanjut Jasra, keterlibatan aktif masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak. Lingkungan sekitar diharapkan lebih peka terhadap perubahan perilaku anak dan berani melaporkan apabila menemukan indikasi kekerasan.</p>



<p>&#8220;Setiap anak memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang aman, sehat, serta terbebas dari segala bentuk kekerasan,&#8221; kata dia. <strong>(WAN) </strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/alasan-bungkamnya-anak-korban-kekerasan-masyarakat-harus-peduli/">Alasan Bungkamnya Anak Korban Kekerasan, Masyarakat Harus Peduli</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">247400</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kekerasan Seksual dan Psikis Bayangi Anak-anak Sumbar, Dharmasraya hingga Padang Pariaman Tertinggi</title>
		<link>https://langgam.id/kekerasan-seksual-dan-psikis-bayangi-anak-anak-sumbar-dharmasraya-hingga-padang-pariaman-tertinggi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fajar Hadiansyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 May 2026 10:30:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[darurat kekerasan anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=247398</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Kasus kekerasan anak di Sumatera Barat (Sumbar) masih didominasi kekerasan psikis, fisik, dan seksual dalam lima tahun terakhir. Mirisnya, mayoritas korban merupakan anak usia sekolah antara 13 hingga 17 tahun. Kabid Perlindungan Hak Perempuan dan Perlindungan Anak (PHPA) DP3AP2KB Sumbar, Desrina Elena mengatakan, kekerasan psikis dan seksual menjadi kasus yang paling sering dilaporkan masyarakat. &#8220;Yang paling dominan itu kekerasan psikis, fisik dan seksual,&#8221; kata Desrina kepada Langgam.id, Selasa (19/5/2026). Menurutnya, kekerasan seksual anak masih menjadi ancaman serius di Sumbar. Dalam sejumlah kasus, satu pelaku bahkan bisa memiliki banyak korban. &#8220;Bentuk kasusnya mulai dari pelecehan seksual sampai sodomi terhadap</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kekerasan-seksual-dan-psikis-bayangi-anak-anak-sumbar-dharmasraya-hingga-padang-pariaman-tertinggi/">Kekerasan Seksual dan Psikis Bayangi Anak-anak Sumbar, Dharmasraya hingga Padang Pariaman Tertinggi</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id </strong>&#8211; Kasus kekerasan anak di Sumatera Barat (Sumbar) masih didominasi kekerasan psikis, fisik, dan seksual dalam lima tahun terakhir. Mirisnya, mayoritas korban merupakan anak usia sekolah antara 13 hingga 17 tahun.</p>



<p>Kabid Perlindungan Hak Perempuan dan Perlindungan Anak (PHPA) DP3AP2KB Sumbar, Desrina Elena mengatakan, kekerasan psikis dan seksual menjadi kasus yang paling sering dilaporkan masyarakat.</p>



<p>&#8220;Yang paling dominan itu kekerasan psikis, fisik dan seksual,&#8221; kata Desrina kepada <strong>Langgam.id</strong>, Selasa (19/5/2026).</p>



<p>Menurutnya, kekerasan seksual anak masih menjadi ancaman serius di Sumbar. Dalam sejumlah kasus, satu pelaku bahkan bisa memiliki banyak korban.</p>



<p>&#8220;Bentuk kasusnya mulai dari pelecehan seksual sampai sodomi terhadap anak,&#8221; ujarnya.</p>



<p>Desrina menyebut sebagian besar korban berasal dari lingkungan usia sekolah. Banyak anak mengalami tekanan mental akibat persoalan keluarga maupun kekerasan yang dilakukan orang terdekat.</p>



<p>“Anak-anak ini rentan mengalami tekanan psikologis karena kondisi di rumah ataupun lingkungan sekitar,&#8221; ujarnya.</p>



<p>Selain jenis kekerasan, DP3AP2KB Sumbar juga mencatat sejumlah daerah dengan angka laporan kasus cukup tinggi. Dari 19 kabupaten dan kota, laporan terbanyak berasal dari Dharmasraya, Pasaman, dan Padang Pariaman.</p>



<p>“Laporan yang masuk banyak dari Dharmasraya, Pasaman dan Padang Pariaman,” ucapnya.</p>



<p>Meski begitu, Desrina menilai tingginya angka laporan tidak selalu menandakan kondisi daerah paling buruk. Menurut dia, meningkatnya laporan justru bisa menjadi tanda masyarakat mulai berani melapor ketika terjadi kekerasan terhadap anak.</p>



<p>&#8220;Kita apresiasi daerah yang banyak melapor, artinya partisipasi masyarakat untuk melindungi anak mulai tinggi,&#8221; ujarnya.</p>



<p>Ia menjelaskan seluruh data tersebut berasal dari laporan kabupaten dan kota di Sumbar yang masuk ke sistem Simfoni PPA milik Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.</p>



<p>DP3AP2KB Sumbar pun mendorong keluarga dan sekolah lebih aktif membangun komunikasi dengan anak agar tanda-tanda kekerasan bisa lebih cepat diketahui.</p>



<p>&#8220;Kami mendorong keluarga dan lingkungan sekolah lebih aktif membangun komunikasi dengan anak agar kasus kekerasan bisa lebih cepat terdeteksi,&#8221; pungkasnya.  <strong>(WAN) </strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kekerasan-seksual-dan-psikis-bayangi-anak-anak-sumbar-dharmasraya-hingga-padang-pariaman-tertinggi/">Kekerasan Seksual dan Psikis Bayangi Anak-anak Sumbar, Dharmasraya hingga Padang Pariaman Tertinggi</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">247398</post-id>	</item>
		<item>
		<title>KPAI Soroti Lonjakan Kekerasan Anak di Sumbar, Lingkungan Terdekat Jadi Ancaman</title>
		<link>https://langgam.id/kpai-soroti-lonjakan-kekerasan-anak-di-sumbar-lingkungan-terdekat-jadi-ancaman/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Buliza Rahmat]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 May 2026 09:51:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[KPAI]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=247393</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id — Maraknya kasus kekerasan terhadap anak di Sumatera Barat (Sumbar) belakangan ini menjadi sorotan serius Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Kasus demi kasus yang muncul dinilai bukan lagi sekadar persoalan rumah tangga, melainkan tanda darurat perlindungan anak yang harus segera ditangani bersama. Baru-baru ini, seorang bayi berumur dua tahun di Kota Padang menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh ayah kandungnya. Korban disundut rokok, digigit hingga disiram air panas.&#160;&#160; Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra mengatakan, meningkatnya kekerasan terhadap anak menunjukkan masih rentannya posisi anak di lingkungan terdekat mereka sendiri. Ironisnya, sebagian besar pelaku justru berasal dari orang-orang yang dikenal korban.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kpai-soroti-lonjakan-kekerasan-anak-di-sumbar-lingkungan-terdekat-jadi-ancaman/">KPAI Soroti Lonjakan Kekerasan Anak di Sumbar, Lingkungan Terdekat Jadi Ancaman</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> — Maraknya kasus kekerasan terhadap anak di Sumatera Barat (Sumbar) belakangan ini menjadi sorotan serius Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Kasus demi kasus yang muncul dinilai bukan lagi sekadar persoalan rumah tangga, melainkan tanda darurat perlindungan anak yang harus segera ditangani bersama.</p>



<p>Baru-baru ini, seorang bayi berumur dua tahun di Kota Padang menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh ayah kandungnya. Korban disundut rokok, digigit hingga disiram air panas.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra mengatakan, meningkatnya kekerasan terhadap anak menunjukkan masih rentannya posisi anak di lingkungan terdekat mereka sendiri. Ironisnya, sebagian besar pelaku justru berasal dari orang-orang yang dikenal korban.</p>



<p>&#8220;Mayoritas pelaku kekerasan terhadap anak merupakan orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan korban, mulai dari orang tua kandung, anggota keluarga, hingga orang yang telah dikenal anak sebelumnya,&#8221; kata Jasra kepada <strong>Langgam.id</strong>, Selasa (19/5/2026).</p>



<p>Menurutnya, kondisi itu memperlihatkan masih kuatnya relasi kuasa dalam keluarga yang membuat anak sulit melawan atau menyampaikan apa yang dialaminya. Anak berada dalam posisi bergantung kepada orang dewasa, baik secara emosional maupun ekonomi.</p>



<p>&#8220;Ketika pelaku berasal dari lingkungan terdekat, anak sering kali tidak memiliki keberanian untuk melapor karena takut, terancam, atau tidak memahami bahwa dirinya adalah korban,&#8221; ujarnya.</p>



<p>Jasra menilai, kekerasan terhadap anak tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan pribadi semata. Persoalan ini sudah menjadi masalah sosial yang membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat hingga pemerintah daerah.</p>



<p>Ia menekankan pentingnya membangun lingkungan yang aman dan ramah anak, agar kasus serupa tidak terus berulang. Selain itu, edukasi mengenai hak-hak anak dan keberanian untuk melapor juga harus diperkuat sejak dini.</p>



<p>&#8220;Anak-anak harus merasa bahwa mereka tidak sendiri ketika menghadapi tindakan kekerasan. Sistem perlindungan harus hadir dan bisa diakses dengan mudah,&#8221; imbuhnya.</p>



<p>Dari data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Sumbar, sepanjang 2025 terdapat 760 kasus kekerasan anak yang dilaporkan. Angka itu melonjak drastis dibandingkan 2020 yang berada di angka 426 kasus.</p>



<p>Sementara pada 2021 kembali naik ke angka 548 kasus. Lalu 2022, meningkat lagi jadi 567 kasus. Lonjakan paling tinggi terjadi pada 2023 dengan total 783 kasus. Setelah sempat turun menjadi 721 kasus pada 2024, jumlah kasus kembali naik pada tahun berikutnya. <strong>(WAN) </strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kpai-soroti-lonjakan-kekerasan-anak-di-sumbar-lingkungan-terdekat-jadi-ancaman/">KPAI Soroti Lonjakan Kekerasan Anak di Sumbar, Lingkungan Terdekat Jadi Ancaman</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">247393</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Darurat Kekerasan Anak di Sumbar, Kasus Terus Naik dalam 5 Tahun Terakhir</title>
		<link>https://langgam.id/darurat-kekerasan-anak-di-sumbar-kasus-terus-naik-dalam-5-tahun-terakhir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fajar Hadiansyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 May 2026 09:16:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[darurat kekerasan anak]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=247389</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Kasus kekerasan anak di Sumatera Barat (Sumbar) belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Dalam lima tahun terakhir, jumlah anak yang menjadi korban terus meningkat, memunculkan kekhawatiran serius terhadap keamanan serta perlindungan anak di Tanah Minang. Data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Sumbar mencatat, sepanjang 2025 terdapat 760 kasus kekerasan anak yang dilaporkan. Angka itu melonjak drastis dibandingkan 2020 yang berada di angka 426 kasus. Sementara pada 2021 kembali naik ke angka 548 kasus. Lalu 2022, meningkat lagi jadi 567 kasus. Lonjakan paling tinggi terjadi pada 2023 dengan total 783 kasus. Setelah sempat turun menjadi</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/darurat-kekerasan-anak-di-sumbar-kasus-terus-naik-dalam-5-tahun-terakhir/">Darurat Kekerasan Anak di Sumbar, Kasus Terus Naik dalam 5 Tahun Terakhir</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Kasus kekerasan anak di Sumatera Barat (Sumbar) belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Dalam lima tahun terakhir, jumlah anak yang menjadi korban terus meningkat, memunculkan kekhawatiran serius terhadap keamanan serta perlindungan anak di Tanah Minang.</p>



<p>Data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Sumbar mencatat, sepanjang 2025 terdapat 760 kasus kekerasan anak yang dilaporkan. Angka itu melonjak drastis dibandingkan 2020 yang berada di angka 426 kasus.</p>



<p>Sementara pada 2021 kembali naik ke angka 548 kasus. Lalu 2022, meningkat lagi jadi 567 kasus. Lonjakan paling tinggi terjadi pada 2023 dengan total 783 kasus. Setelah sempat turun menjadi 721 kasus pada 2024, jumlah kasus kembali naik pada tahun berikutnya.</p>



<p>Kabid Perlindungan Hak Perempuan dan Perlindungan Anak (PHPA) DP3AP2KB Sumbar, Desrina Elena mengungkapkan, tren kenaikan kasus terjadi hampir setiap tahun. Kondisi itu dinilai menjadi alarm serius bahwa anak-anak di Sumbar masih berada dalam situasi rentan terhadap kekerasan</p>



<p>&#8220;Kalau dilihat grafiknya memang naik terus. Tahun tertinggi itu 2023 dengan 783 kasus yang melapor,&#8221; kata Desrina kepada <strong>Langgam.id</strong>, Selasa (19/5/2026).</p>



<p>Ia mengatakan, kasus kekerasan terhadap anak di Sumbar jumlahnya mencapai tiga kali lipat dibandingkan kasus kekerasan terhadap perempuan. Karena itu, penanganan terhadap kasus anak dinilai harus menjadi perhatian utama.</p>



<p>&#8220;Kasus anak ini jauh lebih tinggi dibanding perempuan. Karena itu penanganannya menjadi sangat penting,&#8221; ujarnya.</p>



<p>Desrina menjelaskan, data-data yang terungkap tersebut merupakan kasus yang masuk dan dilaporkan ke sistem. Namun, di balik data itu masih ada kemungkinan banyak korban lain yang memilih diam karena takut, tertekan, atau tidak memiliki tempat aman untuk mengadu.</p>



<p>Menurutnya, anak-anak korban kekerasan membutuhkan lingkungan yang aman serta dukungan keluarga agar berani berbicara dan melapor. Tanpa dukungan tersebut, banyak kasus dikhawatirkan tidak pernah terungkap ke publik.</p>



<p>&#8220;Anak-anak yang menjadi korban kekerasan membutuhkan lingkungan yang aman dan dukungan keluarga agar berani melapor. Tanpa dukungan tersebut, banyak kasus dikhawatirkan tidak pernah terungkap,&#8221; tuturnya. <strong>(WAN)</strong></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/darurat-kekerasan-anak-di-sumbar-kasus-terus-naik-dalam-5-tahun-terakhir/">Darurat Kekerasan Anak di Sumbar, Kasus Terus Naik dalam 5 Tahun Terakhir</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">247389</post-id>	</item>
		<item>
		<title>P2TP2A Padang Catat 17 Kasus Kekerasan Anak Sepanjang 2026, Dominan Psikis dan Seksual</title>
		<link>https://langgam.id/p2tp2a-padang-catat-17-kasus-kekerasan-anak-sepanjang-2026-dominan-psikis-dan-seksual/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fajar Hadiansyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 May 2026 10:40:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=247295</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id– Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Padang mencatat sebanyak 17 kasus kekerasan terhadap anak terjadi sepanjang Januari hingga April 2026. Data tersebut terdiri dari berbagai bentuk kekerasan, mulai dari kekerasan fisik, psikis, seksual hingga perundungan atau bullying. Kasus kekerasan seksual dan psikis menjadi yang paling dominan dalam laporan yang diterima P2TP2A Kota Padang. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Padang, Boby Firman, mengatakan sebagian besar pelaku justru berasal dari lingkungan terdekat korban. “Faktanya memang seperti itu, kebanyakan pelakunya orang terdekat korban,” kata Boby, Senin (18/5/2026). Menurut Boby, tingginya intensitas</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/p2tp2a-padang-catat-17-kasus-kekerasan-anak-sepanjang-2026-dominan-psikis-dan-seksual/">P2TP2A Padang Catat 17 Kasus Kekerasan Anak Sepanjang 2026, Dominan Psikis dan Seksual</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong>– Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Padang mencatat sebanyak 17 kasus kekerasan terhadap anak terjadi sepanjang Januari hingga April 2026.</p>



<p>Data tersebut terdiri dari berbagai bentuk kekerasan, mulai dari kekerasan fisik, psikis, seksual hingga perundungan atau bullying. Kasus kekerasan seksual dan psikis menjadi yang paling dominan dalam laporan yang diterima P2TP2A Kota Padang.</p>



<p>Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Padang, Boby Firman, mengatakan sebagian besar pelaku justru berasal dari lingkungan terdekat korban.</p>



<p>“Faktanya memang seperti itu, kebanyakan pelakunya orang terdekat korban,” kata Boby, Senin (18/5/2026).</p>



<p>Menurut Boby, tingginya intensitas interaksi membuat lingkungan keluarga maupun orang dekat menjadi lokasi yang rawan terjadi kekerasan terhadap anak.<br>“Karena makin sering berinteraksi dan juga menjadi tempat pelampiasan emosi,” ujarnya.</p>



<p>Ia menyebut pelaku kekerasan terhadap anak tidak hanya berasal dari orang tua kandung, tetapi juga keluarga dekat hingga lingkungan pendidikan.<br>“Bisa ayahnya, kakeknya, pamannya, bahkan gurunya,” katanya.</p>



<p>Berdasarkan data P2TP2A Kota Padang, dari 17 kasus kekerasan terhadap anak selama 2026, tercatat dua kasus KDRT terhadap anak, lima kasus kekerasan psikis, sembilan kasus kekerasan seksual, dan satu kasus bullying. <strong>(HER)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/p2tp2a-padang-catat-17-kasus-kekerasan-anak-sepanjang-2026-dominan-psikis-dan-seksual/">P2TP2A Padang Catat 17 Kasus Kekerasan Anak Sepanjang 2026, Dominan Psikis dan Seksual</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">247295</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pemko Padang Bantu Urus BPJS Bayi Korban Penganiayaan Ayah Kandung </title>
		<link>https://langgam.id/pemko-padang-bantu-urus-bpjs-bayi-korban-penganiayaan-ayah-kandung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fajar Hadiansyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 May 2026 09:02:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[BPJS Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pemko Padang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=247289</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Pemerintah Kota Padang bakal mengurus dokumen pencatatan sipil Maulana Arkan, bayi berumur dua tahun yang dianiaya ayah kandungnya. Pengurus ini dilakukan agar korban bisa mendapatkan layanan BPJS selama menjalani perawatan medis. &#8220;Kami bersama Disdukcapil dan pihak kecamatan akan menyesuaikan administrasi agar korban bisa mendapatkan BPJS,” ujarnya Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Padang,pjs Boby Firman, Senin (18/5/2026).  Boby menambahkan, Pemko Padang melibatkan sejumlah instansi lintas sektor untuk membantu penanganan bayi dan ibunya. Salah satunya, dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil). Ia mengatakan koordinasi dilakukan karena ibu korban bukan warga ber-KTP</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pemko-padang-bantu-urus-bpjs-bayi-korban-penganiayaan-ayah-kandung/">Pemko Padang Bantu Urus BPJS Bayi Korban Penganiayaan Ayah Kandung </a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Pemerintah Kota Padang bakal mengurus dokumen pencatatan sipil Maulana Arkan, bayi berumur dua tahun yang dianiaya ayah kandungnya. Pengurus ini dilakukan agar korban bisa mendapatkan layanan BPJS selama menjalani perawatan medis.</p>



<p>&#8220;Kami bersama Disdukcapil dan pihak kecamatan akan menyesuaikan administrasi agar korban bisa mendapatkan BPJS,” ujarnya Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Padang,pjs Boby Firman, Senin (18/5/2026). </p>



<p>Boby menambahkan, Pemko Padang melibatkan sejumlah instansi lintas sektor untuk membantu penanganan bayi dan ibunya. Salah satunya, dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil).</p>



<p>Ia mengatakan koordinasi dilakukan karena ibu korban bukan warga ber-KTP Kota Padang. Meski demikian, pemerintah daerah memastikan bantuan dan layanan tetap diberikan.</p>



<p>“Kendalanya korban bukan penduduk Padang. Tapi kami tetap upayakan agar penanganan tetap berjalan,&#8221; katanya.</p>



<p>Saat ini korban masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Bhayangkara Padang. Korban didampingi oleh ibunya.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Di sisi lain, tim pendamping dari pemerintah daerah terus melakukan asesmen terhadap kondisi keluarga ini untuk menentukan langkah penanganan lanjutan.</p>



<p>&#8220;Kita lihat apakah dari pihak keluarga korban setuju atau tidaknya nanti. Intinya kami akan bantu korban,&#8221; ucao Boby.  <strong>(WAN)</strong></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pemko-padang-bantu-urus-bpjs-bayi-korban-penganiayaan-ayah-kandung/">Pemko Padang Bantu Urus BPJS Bayi Korban Penganiayaan Ayah Kandung </a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">247289</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Alasan Ibu dari Bayi Korban Penganiayaan Ayah Kandung di Padang Tak Lapor Polisi </title>
		<link>https://langgam.id/alasan-ibu-dari-bayi-korban-penganiayaan-ayah-kandung-di-padang-tak-lapor-polisi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fajar Hadiansyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 May 2026 08:04:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[KDRT]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Padang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=247281</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id -Desminar (29) memilih diam selama berbulan-bulan meski melihat anaknya yang masih berusia dua tahun mengalami penganiayaan oleh ayah kandungnya sendiri berinisial ED (29). Pelaku melakukan kekerasan berupa sundutan rokok, gigitan hingga siraman air panas. Perempuan asal Kepulauan Mentawai itu mengaku, ketakutannya muncul karena sering mendapat ancaman setiap kali hendak melapor ke kepolisian. Saat ditemui di rumah sakit tempat bayinya menjalani perawatan, Desminar bercerita dirinya beberapa kali diintimidasi menggunakan senjata tajam. Ancaman itu membuatnya tidak berani meminta pertolongan kepada pihak lain maupun melapor ke kepolisian. &#8220;Kalau habis mukul anak, kepala saya juga dipukul. Setelah itu parang disorongkan ke leher saya,”</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/alasan-ibu-dari-bayi-korban-penganiayaan-ayah-kandung-di-padang-tak-lapor-polisi/">Alasan Ibu dari Bayi Korban Penganiayaan Ayah Kandung di Padang Tak Lapor Polisi </a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> -Desminar (29) memilih diam selama berbulan-bulan meski melihat anaknya yang masih berusia dua tahun mengalami penganiayaan oleh ayah kandungnya sendiri berinisial ED (29). Pelaku melakukan kekerasan berupa sundutan rokok, gigitan hingga siraman air panas. </p>



<p>Perempuan asal Kepulauan Mentawai itu mengaku, ketakutannya muncul karena sering mendapat ancaman setiap kali hendak melapor ke kepolisian.</p>



<p>Saat ditemui di rumah sakit tempat bayinya menjalani perawatan, Desminar bercerita dirinya beberapa kali diintimidasi menggunakan senjata tajam. Ancaman itu membuatnya tidak berani meminta pertolongan kepada pihak lain maupun melapor ke kepolisian.</p>



<p>&#8220;Kalau habis mukul anak, kepala saya juga dipukul. Setelah itu parang disorongkan ke leher saya,” ujar Desminar, Senin (18/5/2026).&nbsp;</p>



<p>Menurut pengakuannya, ancaman tersebut selalu disertai larangan untuk melapor. Ia mengaku hanya bisa menahan ketakutan dan mencoba bertahan demi anak-anaknya.</p>



<p>&#8220;Awas kalau kau melapor,” kata Desminar meniru perkataan suaminya.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Desminar mengatakan, kekerasan dalam rumah tangga mulai sering terjadi setelah dirinya kembali ke Padang. Sebelumnya, mereka tinggal di Kabupaten Kepulauan Mentawai selama satu tahun terakhir.&nbsp;</p>



<p>Ia menyebut suaminya kerap berubah agresif setelah diduga mengonsumsi sabu dan minuman keras jenis tuak.</p>



<p>&#8220;Dulu dia tidak seperti ini, ketika dia minta saya balik ke Padang setelah lebaran kemaren, perilakunya berubah,&#8221; ungkapnya.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Dalam kondisi tersebut, bayi laki-lakinya diduga beberapa kali mengalami kekerasan fisik. Selain dipukul dan digigit, korban juga ditemukan mengalami luka di sejumlah bagian tubuh.</p>



<p>Kasus ini terungkap setelah korban diambil paksa oleh tetangga. Sebelumnya, tetangga tidak menetahui kejadian karena korban jarang dibawa keluar rumah. Akhirnya pada Sabtu (16/5/2026), korban dibawa tetangga ke Polresdta Padang. </p>



<p> Pelaku pun sudah ditangakap.Kepolisian menjerat pelaku dengan undang-undang perlindungan anak, undang-undang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga serta tindak pidana penganiayaan. Ia terancam hukuman penjara lima tahun. <strong>(WAN) </strong></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/alasan-ibu-dari-bayi-korban-penganiayaan-ayah-kandung-di-padang-tak-lapor-polisi/">Alasan Ibu dari Bayi Korban Penganiayaan Ayah Kandung di Padang Tak Lapor Polisi </a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">247281</post-id>	</item>
		<item>
		<title>RS Bhayangkara Padang Beri Pendampingan Psikologis Ibu dari Bayi Korban Penganiayaan</title>
		<link>https://langgam.id/rs-bhayangkara-padang-beri-pendampingan-psikologis-untuk-ibu-bayi-korban-penganiayaan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fajar Hadiansyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 May 2026 07:30:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[KDRT]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Padang]]></category>
		<category><![CDATA[RS Bhayangkara Padang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=247274</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Rumah Sakit Bhayangkara Padang, menyiapkan layanan pendampingan psikologis untuk ibu dari bayi yang diduga jadi korban penganiayaan di kawasan Korong Gadang, Kacamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar). Pekaku berinisial RD (29), ayah kandung korban.   Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Padang, Kompol dr. Harry Andromeda mengatakan, langkah pendampingan psikologis diambil karena kondisi psikis dari ibu si bayi dinilai cukup terganggu. Hak ini karena mengalami trauma setelah lama hidup dalam situasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Maka itu, kata Harry, kondisi mental ibu korban jadi perhatian serius pihak rumah sakit. Dari pengamatan tim medis, perempuan itu terlihat mengalami tekanan dan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/rs-bhayangkara-padang-beri-pendampingan-psikologis-untuk-ibu-bayi-korban-penganiayaan/">RS Bhayangkara Padang Beri Pendampingan Psikologis Ibu dari Bayi Korban Penganiayaan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Rumah Sakit Bhayangkara Padang, menyiapkan layanan pendampingan psikologis untuk ibu dari bayi yang diduga jadi korban penganiayaan di kawasan Korong Gadang, Kacamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar). Pekaku berinisial RD (29), ayah kandung korban.  </p>



<p>Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Padang, Kompol dr. Harry Andromeda mengatakan, langkah pendampingan psikologis diambil karena kondisi psikis dari ibu si bayi dinilai cukup terganggu. Hak ini karena mengalami trauma setelah lama hidup dalam situasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).</p>



<p>Maka itu, kata Harry, kondisi mental ibu korban jadi perhatian serius pihak rumah sakit. Dari pengamatan tim medis, perempuan itu terlihat mengalami tekanan dan ketakutan sejak kasus penganiayaan terhadap anaknya terungkap.</p>



<p>&#8220;Kami melihat kondisi psikis ibu terganggu. Karena itu rumah sakit akan memberikan pendampingan melalui psikolog dan psikiater,&#8221; katanya, Senin (18/5/2026).</p>



<p>Menurut Harry, selama ini ibu korban tidak berani melapor meski diduga juga mengalami kekerasan. Justru laporan datang dari warga sekitar yang mengetahui kondisi korban.</p>



<p>“Selama ini ibunya takut melapor. Yang melapor justru tetangganya,&#8221; kata dia.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Ia menambahkan, dari hasil pemeriksaan awal, tidak ditemukan luka fisik pada ibu korban. Meski begitu, trauma yang dialami dinilai cukup serius dan butuh penanganan khusus.</p>



<p>&#8220;Secara fisik tidak ada luka, tetapi secara psikis kami melihat ada trauma,&#8221; tuturnya. <strong>(WAN) </strong> </p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/rs-bhayangkara-padang-beri-pendampingan-psikologis-untuk-ibu-bayi-korban-penganiayaan/">RS Bhayangkara Padang Beri Pendampingan Psikologis Ibu dari Bayi Korban Penganiayaan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">247274</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 27/81 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-06-02 08:58:43 by W3 Total Cache
-->