<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Jawa Tengah Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/jawa-tengah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/jawa-tengah/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Sat, 26 Feb 2022 05:10:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Jawa Tengah Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/jawa-tengah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Ucapan Duka untuk Gempa Pasaman Barat dari Ganjar Pranowo</title>
		<link>https://langgam.id/ucapan-duka-untuk-gempa-pasaman-barat-dari-ganjar-pranowo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Feb 2022 05:10:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Ganjar Pranowo]]></category>
		<category><![CDATA[Gempa]]></category>
		<category><![CDATA[gempa Pasaman Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=149429</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id- Gempa bermagnitudo 6,2 berpusat di Kabupaten Pasaman Barat Sumatra Barat turut menarik perhatian Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ganjar menyampaikan duka mendalam atas kejadian tersebut. Gempa Pasaman Barat menimbulkan korban jiwa dan kerusakan. Ribuan korban kini masih berada di pengungsian. &#8220;Ya Allah. Innalillahi wa innailaihi rajiun,&#8221; tulis Ganjar di akun resmi Instagramnya @ganjar_pranowo. Ganjar juga mengajak mendoakan para korban gempa Pasaman Barat. &#8220;Sejenak mari kita kirimkan doa untuk saudara kita yang ada di Pasaman Barat, Sumatra Barat,&#8221; tulisnya. Gempa bumi magnitudo 6,2 yang berpusat di Pasaman Barat mengguncang sejumlah daerah. Gempa terjadi Jumat 25 Februari 2022 pukul 08.39 WIB.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ucapan-duka-untuk-gempa-pasaman-barat-dari-ganjar-pranowo/">Ucapan Duka untuk Gempa Pasaman Barat dari Ganjar Pranowo</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id-</strong> Gempa bermagnitudo 6,2 berpusat di Kabupaten Pasaman Barat Sumatra Barat turut menarik perhatian Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ganjar menyampaikan duka mendalam atas kejadian tersebut.</p>
<p>Gempa Pasaman Barat menimbulkan korban jiwa dan kerusakan. Ribuan korban kini masih berada di pengungsian.</p>
<p>&#8220;Ya Allah. Innalillahi wa innailaihi rajiun,&#8221; tulis Ganjar di akun resmi Instagramnya @ganjar_pranowo.</p>
<p>Ganjar juga mengajak mendoakan para korban gempa Pasaman Barat. &#8220;Sejenak mari kita kirimkan doa untuk saudara kita yang ada di Pasaman Barat, Sumatra Barat,&#8221; tulisnya.</p>
<p>Gempa bumi magnitudo 6,2 yang berpusat di Pasaman Barat mengguncang sejumlah daerah. Gempa terjadi Jumat 25 Februari 2022 pukul 08.39 WIB.</p>
<p>Pemkab Pasaman Barat telah menetapkan status tanggap darurat bencana alam gempa bumi melalui SK bernomor 188.45/160/BUP-PASBAR/2022.</p>
<p>&#8220;Tanggap darurat berlaku selama 14 hari, terhitung sejak 25 Februari hingga 10 Maret 2022,&#8221; ujat Bupati Pasaman Barat Hamsuardi.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ucapan-duka-untuk-gempa-pasaman-barat-dari-ganjar-pranowo/">Ucapan Duka untuk Gempa Pasaman Barat dari Ganjar Pranowo</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">149429</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mahyeldi &#8216;Berguru&#8217; ke Ganjar Pranowo untuk Pengentasan Kemiskinan di Sumbar</title>
		<link>https://langgam.id/mahyeldi-berguru-ke-ganjar-pranowo-untuk-pengentasan-kemiskinan-di-sumbar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Jan 2022 15:41:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Angka Kemiskinan]]></category>
		<category><![CDATA[Ganjar Pranowo]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Mahyeldi Ansharullah]]></category>
		<category><![CDATA[Sawahlunto]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=146496</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini: Sementara, data BPS, angka kemiskinan terendah se-Indonesia tahun 2021 yaitu Kota Sawahlunto. Langgam.id &#8211; Gubernur Sumatra Barat (Sumbar) Mahyeldi Ansharulah menemui Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo untuk belajar pengentasan kemiskinan. Hal itu didorong, karena Jawa Tengah berhasil menurunkan angka kemiskinan dengan program-program unggulan. Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS), daerah dengan angka kemiskinan terendah se-Indonesia tahun 2021 adalah Kota Sawahlunto, Sumbar. &#8220;Kedatangan kami ke Jawa Tengah menemui pak Ganjar, karena melihat banyak prestasi yang telah diukir Jateng dalam berbagai hal, makanya kami datang ke sini untuk belajar, salah satunya terkait penanganan kemiskinan,&#8221;</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mahyeldi-berguru-ke-ganjar-pranowo-untuk-pengentasan-kemiskinan-di-sumbar/">Mahyeldi &#8216;Berguru&#8217; ke Ganjar Pranowo untuk Pengentasan Kemiskinan di Sumbar</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="intro-text">
<p>Berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini: Sementara, data BPS, angka kemiskinan terendah se-Indonesia tahun 2021 yaitu Kota Sawahlunto.</p>
</div>
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Gubernur Sumatra Barat (Sumbar) Mahyeldi Ansharulah menemui Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo untuk belajar pengentasan kemiskinan.</p>
<p>Hal itu didorong, karena Jawa Tengah berhasil menurunkan angka kemiskinan dengan program-program unggulan.</p>
<p>Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS), daerah dengan angka kemiskinan terendah se-Indonesia tahun 2021 adalah Kota Sawahlunto, Sumbar.</p>
<p>&#8220;Kedatangan kami ke Jawa Tengah menemui pak Ganjar, karena melihat banyak prestasi yang telah diukir Jateng dalam berbagai hal, makanya kami datang ke sini untuk belajar, salah satunya terkait penanganan kemiskinan,&#8221; ujar Mahyeldi saat bertemu Ganjar di Gradhika Bhakti Praja, Kamis (27/1/2022).</p>
<p>Menurut Mahyeldi, angka kemiskinan di Sumbar meningkat tajam saat pandemi, dan diperlukan langkah cepat untuk mengatasi hal itu.</p>
<p>Mahyeldi menilai, Jawa Tengah telah melakukan tindakan-tindakan cepat untuk menyelesaikan persoalan kemiskinan.</p>
<div id="attachment_146499" style="width: 857px" class="wp-caption aligncenter"><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-146499" class="wp-image-146499 size-full" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/01/Pengemntasan-Kemiskinan-di-Sumbar-Ganjar-Pranowo.jpg?resize=847%2C607&#038;ssl=1" alt="Berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini: Sementara, data BPS, angka kemiskinan terendah se-Indonesia tahun 2021 yaitu Kota Sawahlunto." width="847" height="607" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/01/Pengemntasan-Kemiskinan-di-Sumbar-Ganjar-Pranowo.jpg?w=847&amp;ssl=1 847w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/01/Pengemntasan-Kemiskinan-di-Sumbar-Ganjar-Pranowo.jpg?resize=300%2C215&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/01/Pengemntasan-Kemiskinan-di-Sumbar-Ganjar-Pranowo.jpg?resize=768%2C550&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/01/Pengemntasan-Kemiskinan-di-Sumbar-Ganjar-Pranowo.jpg?resize=120%2C86&amp;ssl=1 120w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/01/Pengemntasan-Kemiskinan-di-Sumbar-Ganjar-Pranowo.jpg?resize=350%2C250&amp;ssl=1 350w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2022/01/Pengemntasan-Kemiskinan-di-Sumbar-Ganjar-Pranowo.jpg?resize=750%2C537&amp;ssl=1 750w" sizes="(max-width: 847px) 100vw, 847px" /><p id="caption-attachment-146499" class="wp-caption-text">Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah &#8216;berguru&#8217; ke Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo untuk pengentasan kemiskinan. (Foto: Dok. Diskomifotik Sumbar)</p></div>
<p>&#8220;Di Jateng ini, pak Ganjar sudah melakukan banyak hal, memberdayakan BUMN melalui CSR-nya, Baznas, menggerakkan OPD untuk bersama-sama mengatasi kemiskinan. Ini tentu pengalaman baru bagi kami yang bisa diterapkan di Sumbar,&#8221; ucap Mahyeldi.</p>
<p>Bahkan, Mahyeldi mengaku tidak salah datang untuk belajar ke Jateng terkait pengentasan kemiskinan.</p>
<p>&#8220;Keberhasilan pak Ganjar menjadi cerminan kami untuk membangun Sumbar menjadi lebih baik lagi. Apalagi, beliau ini kan sudah senior, sudah periode kedua jadi gubernur. Saya kan baru setahun, jadi harus banyak belajar,&#8221; jelas Mahyeldi.</p>
<p>Menanggapi hal itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan, persoalan kemiskinan memang menjadi momok setiap kepala daerah selama pandemi.</p>
<p>Di Jateng, kata Ganjar, angka kemiskinan naik tajam periode September 2019.</p>
<p>&#8220;Pak Wapres beberapa waktu lalu datang ke Jateng dan meminta kita menyelesaikan kemiskinan secara ekstrem, dengan tenggat waktu tiga bulan. Ada lima kabupaten yang menjadi pilot project, dan dari pusat hanya diberi top up senilai Rp300 ribu. Saya katakan, itu kurang, karena rumahnya harus layak, ada fasilitas air bersih, listrik dan lain yang harus dipenuhi sebagai pemenuhan indikator,&#8221; ujar Ganjar.</p>
<p>Lalu, ucap Ganjar, Pemprov Jateng menggenjot pengentasan kemiskinan dengan berbagai program. Di antaranya, rehabilitasi rumah tidak layak huni, penyediaan fasilitas air bersih, jamban, listrik dan lainnya.</p>
<p>“Kami tidak bisa kalau hanya menggunakan APBD, makanya kami optimalkan CSR, baznas serta filantropi. Di Jateng ini, kami wajibkan satu OPD mendampingi satu desa binaan dan menyelesaikan kemiskinan di sana,&#8221; paparnya.</p>
<p>Kemudain, di Jateng juga ada program-program lain untuk mengentas kemiskinan, di antaranya membuat fasilitas pendidikan gratis bagi siswa miskin dengan SMK Jateng.</p>
<p>Jadi, lanjut Ganjar, dengan peningkatan pendidikan itu, diharapkan anak-anak miskin bisa memperbaiki kehidupan ekonomi keluarganya.</p>
<p><strong>Baca juga: <a href="https://langgam.id/terendah-di-indonesia-2021-angka-kemiskinan-sawahlunto-238-persen/">Terendah di Indonesia 2021, Angka Kemiskinan Sawahlunto 2,38 Persen</a></strong></p>
<p>&#8220;Kami juga berikan pendampingan pada UMKM, pengembangan desa wisata untuk menggairahkan ekonomi di pedesaan, serta kegiatan-kegiatan lain. Intinya, menyelesaikan kemiskinan itu tidak hanya satu faktor, namun banyak faktor yang harus digarap secara bersama-sama,&#8221; katanya.</p>
<p>—</p>
<h4>Dapatkan update berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini dari Langgam.id. Mari bergabung di Grup Telegram <strong>Langgam.id News Update</strong>, caranya klik <a href="https://t.me/langgamid" rel="nofollow">https://t.me/langgamid</a>, kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.</h4>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mahyeldi-berguru-ke-ganjar-pranowo-untuk-pengentasan-kemiskinan-di-sumbar/">Mahyeldi &#8216;Berguru&#8217; ke Ganjar Pranowo untuk Pengentasan Kemiskinan di Sumbar</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146496</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Foto Esai: Mendulang Rezeki dari Minyak Nyamplung</title>
		<link>https://langgam.id/foto-esai-mendulang-rezeki-dari-minyak-nyamplung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Farida Indriastuti]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Dec 2021 16:19:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[BBM]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Nyamplung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=143229</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Tegakan pohon nyamplung yang terluas di Jawa Tengah, sesungguhnya terdapat di Kabupaten Purworejo. Luasnya mencapai 62,8 hektare, baik yang tumbuh di lahan warga desa maupun hutan alam sepanjang pantai Jetis yang dikelola Perhutani. Nyamplung atau Callophylum Inophyllum sangat potensial untuk bahan bakar nabati atau biofuel, tergolong bukan tanaman pangan atau non-edible seeds. Aroma biji nyamplung yang dikeringkan menggunakan oven, menyerupai aroma kacang kenari yang disangrai, baunya harum. Gudang nyamplung terbesar di desa Patutrejo, berada di pekarangan depan rumah Barino. Gudang terbuat dari bilik bambu sederhana dan beratapkan genting tanah liat. Namun gudang dapat muat berton-ton karung nyamplung yang</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/foto-esai-mendulang-rezeki-dari-minyak-nyamplung/">Foto Esai: Mendulang Rezeki dari Minyak Nyamplung</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Tegakan pohon nyamplung yang terluas di Jawa Tengah, sesungguhnya terdapat di Kabupaten Purworejo. Luasnya mencapai 62,8 hektare, baik yang tumbuh di lahan warga desa maupun hutan alam sepanjang pantai Jetis yang dikelola Perhutani. Nyamplung atau <em>Callophylum Inophyllum</em> sangat potensial untuk bahan bakar nabati atau <em>biofuel,</em> tergolong bukan tanaman pangan atau <em>non-edible seeds</em>. Aroma biji nyamplung yang dikeringkan menggunakan oven, menyerupai aroma kacang kenari yang disangrai, baunya harum.</p>
<p>Gudang nyamplung terbesar di desa Patutrejo, berada di pekarangan depan rumah Barino. Gudang terbuat dari bilik bambu sederhana dan beratapkan genting tanah liat. Namun gudang dapat muat berton-ton karung nyamplung yang disetor oleh para petani setiap waktu. Barino merupakan warga desa Patutrejo yang paling gigih menyemangati para petani sepuh dalam memungut nyamplung. Lelaki berusia 49 tahun itu paham betul, nyamplung sangat potensial sebagai sumber energi di masa depan. Ialah satu-satunya petani dan pengolah minyak nyamplung yang bertahan dalam kondisi Pandemi Covid-19.</p>
<p>Sejak pagi hingga malam, Barino telaten memeriksa kadar air biji nyamplung di dalam oven. Mesin pengering biji nyamplung itu hasil modifikasi Barino sendiri. “Saya merancang mesin oven ini berukuran besar, “ujarnya. Untuk menyiasati lonjakan daya listrik yang tinggi pada mesin oven, Barino bereksperimen menggunakan gas elpiji tabung hijau. Ternyata hasilnya memuaskan, biji nyamplung benar-benar kering dan dapat diolah menjadi minyak mentah atau <em>crude oil. </em>“Ini uji coba pertama saya, “ ucap Barino.</p>
<p>Barino tidak meninggalkan tradisi hidup sebagai petani yang menggarap sawah dan kebun. Tapi nyamplung merupakan potensi energi terbarukan yang tidak bisa disepelekan. Itu sebabnya ia sibuk mengurus nyamplung. Bahkan Barino mulai mengajarkan anak lelaki sulungnya bernama Dika dan dua pemuda desa Patutrejo untuk menekuni dunia nyamplung. Sikap optimistik Barino, disambut dua anak muda desa dengan bersemangat, bahwa nyamplung bisa mengubah ekonomi keluarga mereka menjadi lebih baik. Pada Desember 2021 ini, Barino siap memproduksi 2.000 liter stok minyak nyamplung—agar di akhir tahun Barino dapat menikmati waktu istirahat yang leluasa.</p>
<div id="attachment_143231" style="width: 1210px" class="wp-caption aligncenter"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-143231" class="wp-image-143231 size-full" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/1.-Gudang-nyamplung-milik-Pak-Barino.jpg?resize=1200%2C800&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="1200" height="800" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/1.-Gudang-nyamplung-milik-Pak-Barino.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/1.-Gudang-nyamplung-milik-Pak-Barino.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/1.-Gudang-nyamplung-milik-Pak-Barino.jpg?resize=1013%2C675&amp;ssl=1 1013w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/1.-Gudang-nyamplung-milik-Pak-Barino.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/1.-Gudang-nyamplung-milik-Pak-Barino.jpg?resize=750%2C500&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/1.-Gudang-nyamplung-milik-Pak-Barino.jpg?resize=1140%2C760&amp;ssl=1 1140w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-143231" class="wp-caption-text">Gudang nyamplung milik Barino. (Foto: Farida Indriastuti)</p></div>
<div id="attachment_143232" style="width: 1210px" class="wp-caption aligncenter"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-143232" class="wp-image-143232 size-full" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/1a.-Pak-Barino-Pengolah-Nyamplung.jpg?resize=1200%2C800&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="1200" height="800" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/1a.-Pak-Barino-Pengolah-Nyamplung.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/1a.-Pak-Barino-Pengolah-Nyamplung.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/1a.-Pak-Barino-Pengolah-Nyamplung.jpg?resize=1013%2C675&amp;ssl=1 1013w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/1a.-Pak-Barino-Pengolah-Nyamplung.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/1a.-Pak-Barino-Pengolah-Nyamplung.jpg?resize=750%2C500&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/1a.-Pak-Barino-Pengolah-Nyamplung.jpg?resize=1140%2C760&amp;ssl=1 1140w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-143232" class="wp-caption-text">Barino, petani pengolah nyamplung. (Foto: Farida Indriastuti)</p></div>
<div id="attachment_143233" style="width: 1210px" class="wp-caption aligncenter"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-143233" class="wp-image-143233 size-full" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/6.-Proses-memecah-kulit-nyamplung5.jpg?resize=1200%2C800&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="1200" height="800" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/6.-Proses-memecah-kulit-nyamplung5.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/6.-Proses-memecah-kulit-nyamplung5.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/6.-Proses-memecah-kulit-nyamplung5.jpg?resize=1013%2C675&amp;ssl=1 1013w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/6.-Proses-memecah-kulit-nyamplung5.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/6.-Proses-memecah-kulit-nyamplung5.jpg?resize=750%2C500&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/6.-Proses-memecah-kulit-nyamplung5.jpg?resize=1140%2C760&amp;ssl=1 1140w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-143233" class="wp-caption-text">Proses memecah kulit nyamplung. (Foto: Farida Indriastuti)</p></div>
<div id="attachment_143234" style="width: 1210px" class="wp-caption aligncenter"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-143234" class="wp-image-143234 size-full" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/7.-Biji-nyamplung-telah-pecah-kulit.jpg?resize=1200%2C800&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="1200" height="800" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/7.-Biji-nyamplung-telah-pecah-kulit.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/7.-Biji-nyamplung-telah-pecah-kulit.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/7.-Biji-nyamplung-telah-pecah-kulit.jpg?resize=1013%2C675&amp;ssl=1 1013w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/7.-Biji-nyamplung-telah-pecah-kulit.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/7.-Biji-nyamplung-telah-pecah-kulit.jpg?resize=750%2C500&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/7.-Biji-nyamplung-telah-pecah-kulit.jpg?resize=1140%2C760&amp;ssl=1 1140w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-143234" class="wp-caption-text">Biji nyamplung telah pecah kulit. (Foto: Farida Indriastuti)</p></div>
<div id="attachment_143235" style="width: 1210px" class="wp-caption aligncenter"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-143235" class="wp-image-143235 size-full" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/7a.-Memilah-kulit-biji-3.jpg?resize=1200%2C800&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="1200" height="800" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/7a.-Memilah-kulit-biji-3.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/7a.-Memilah-kulit-biji-3.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/7a.-Memilah-kulit-biji-3.jpg?resize=1013%2C675&amp;ssl=1 1013w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/7a.-Memilah-kulit-biji-3.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/7a.-Memilah-kulit-biji-3.jpg?resize=750%2C500&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/7a.-Memilah-kulit-biji-3.jpg?resize=1140%2C760&amp;ssl=1 1140w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-143235" class="wp-caption-text">Memilah kulit dan biji nyamplung. (Foto: Farida Indriastuti)</p></div>
<div id="attachment_143236" style="width: 1210px" class="wp-caption aligncenter"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-143236" class="wp-image-143236 size-full" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/9.-Proses-oven-biji-nyamplung1.jpg?resize=1200%2C800&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="1200" height="800" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/9.-Proses-oven-biji-nyamplung1.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/9.-Proses-oven-biji-nyamplung1.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/9.-Proses-oven-biji-nyamplung1.jpg?resize=1013%2C675&amp;ssl=1 1013w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/9.-Proses-oven-biji-nyamplung1.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/9.-Proses-oven-biji-nyamplung1.jpg?resize=750%2C500&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/9.-Proses-oven-biji-nyamplung1.jpg?resize=1140%2C760&amp;ssl=1 1140w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-143236" class="wp-caption-text">Proses oven biji nyamplung. (Foto: Farida Indriastuti)</p></div>
<div id="attachment_143237" style="width: 1210px" class="wp-caption aligncenter"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-143237" class="wp-image-143237 size-full" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/11.-Proses-oven-biji-nyamplung3.jpg?resize=1200%2C800&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="1200" height="800" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/11.-Proses-oven-biji-nyamplung3.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/11.-Proses-oven-biji-nyamplung3.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/11.-Proses-oven-biji-nyamplung3.jpg?resize=1013%2C675&amp;ssl=1 1013w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/11.-Proses-oven-biji-nyamplung3.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/11.-Proses-oven-biji-nyamplung3.jpg?resize=750%2C500&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/11.-Proses-oven-biji-nyamplung3.jpg?resize=1140%2C760&amp;ssl=1 1140w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-143237" class="wp-caption-text">Proses oven biji nyamplung. (Foto: Farida Indriastuti)</p></div>
<div id="attachment_143238" style="width: 1210px" class="wp-caption aligncenter"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-143238" class="wp-image-143238 size-full" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/12.-Biji-nyamplung-setelah-dikeringkan.jpg?resize=1200%2C800&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="1200" height="800" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/12.-Biji-nyamplung-setelah-dikeringkan.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/12.-Biji-nyamplung-setelah-dikeringkan.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/12.-Biji-nyamplung-setelah-dikeringkan.jpg?resize=1013%2C675&amp;ssl=1 1013w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/12.-Biji-nyamplung-setelah-dikeringkan.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/12.-Biji-nyamplung-setelah-dikeringkan.jpg?resize=750%2C500&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/12.-Biji-nyamplung-setelah-dikeringkan.jpg?resize=1140%2C760&amp;ssl=1 1140w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-143238" class="wp-caption-text">Biji nyamplung setelah dikeringkan. (Foto: Farida Indriastuti)</p></div>
<div id="attachment_143239" style="width: 1210px" class="wp-caption aligncenter"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-143239" class="wp-image-143239 size-full" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/13.-Biji-nyamplung-kering-masuk-ke-mesin.jpg?resize=1200%2C800&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="1200" height="800" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/13.-Biji-nyamplung-kering-masuk-ke-mesin.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/13.-Biji-nyamplung-kering-masuk-ke-mesin.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/13.-Biji-nyamplung-kering-masuk-ke-mesin.jpg?resize=1013%2C675&amp;ssl=1 1013w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/13.-Biji-nyamplung-kering-masuk-ke-mesin.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/13.-Biji-nyamplung-kering-masuk-ke-mesin.jpg?resize=750%2C500&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/13.-Biji-nyamplung-kering-masuk-ke-mesin.jpg?resize=1140%2C760&amp;ssl=1 1140w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-143239" class="wp-caption-text">Biji nyamplung kering masuk ke mesin. (Foto: Farida Indriastuti)</p></div>
<div id="attachment_143240" style="width: 1210px" class="wp-caption aligncenter"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-143240" class="wp-image-143240 size-full" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/14.-Memeriksa-minyak-nyamplung.jpg?resize=1200%2C800&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="1200" height="800" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/14.-Memeriksa-minyak-nyamplung.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/14.-Memeriksa-minyak-nyamplung.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/14.-Memeriksa-minyak-nyamplung.jpg?resize=1013%2C675&amp;ssl=1 1013w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/14.-Memeriksa-minyak-nyamplung.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/14.-Memeriksa-minyak-nyamplung.jpg?resize=750%2C500&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/14.-Memeriksa-minyak-nyamplung.jpg?resize=1140%2C760&amp;ssl=1 1140w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-143240" class="wp-caption-text">Memeriksa minyak nyamplung. (Foto: Farida Indriastuti)</p></div>
<p>(Farida Indriastuti/ SS)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/foto-esai-mendulang-rezeki-dari-minyak-nyamplung/">Foto Esai: Mendulang Rezeki dari Minyak Nyamplung</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">143229</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kisah Para Pejuang BBN Nyamplung</title>
		<link>https://langgam.id/kisah-para-pejuang-bbn-nyamplung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Farida Indriastuti]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Dec 2021 12:35:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[BBM]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Nyamplung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=142977</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Awal Desember 2021 yang berangin. Di tepi pematang sawah Desa Patutrejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, semerbak harum bunga nyamplung terhirup di ujung hidung. Nyamplung dalam bahasa Latin bernama Calophyllum Inophyllum sedang bermekaran. Bunga nyamplung putih bersih dengan putik [pistilium] berwarga kuning. Lebih wangi aroma bunga nyamplung dibanding bunga melati. Matahari siang itu menebarkan hawa hangat, tapi tidak terik. Langit acapkali ditutupi gumpalan awan mendung. Rubiah [70 tahun] tampak telaten memunguti biji nyamplung yang rontok di tanah dari pohon-pohon nyamplung di sepanjang jalan desa. Kadangkala ia menggayuh sepeda onthel tuanya perlahan, menempuh jarak lima kilometer menuju hutan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kisah-para-pejuang-bbn-nyamplung/">Kisah Para Pejuang BBN Nyamplung</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Awal Desember 2021 yang berangin. Di tepi pematang sawah Desa Patutrejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, semerbak harum bunga nyamplung terhirup di ujung hidung. Nyamplung dalam bahasa Latin bernama <em>Calophyllum Inophyllum </em>sedang bermekaran. Bunga nyamplung putih bersih dengan putik <em>[pistilium]</em> berwarga kuning. Lebih wangi aroma bunga nyamplung dibanding bunga melati.</p>
<p>Matahari siang itu menebarkan hawa hangat, tapi tidak terik. Langit acapkali ditutupi gumpalan awan mendung. Rubiah [70 tahun] tampak telaten memunguti biji nyamplung yang rontok di tanah dari pohon-pohon nyamplung di sepanjang jalan desa. Kadangkala ia menggayuh sepeda onthel tuanya perlahan, menempuh jarak lima kilometer menuju hutan nyamplung di dekat pesisir pantai Jetis.</p>
<p>Tangan Rubiah keriput menua, tapi jemarinya cekatan menyibak semak-semak untuk memunguti biji nyamplung. “Dari pagi sampai sore, saya cari nyamplung. Kadang dapat setengah karung, kadang satu karung,“ ujar warga Bakurejo ini.</p>
<div id="attachment_143007" style="width: 1210px" class="wp-caption aligncenter"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-143007" class="wp-image-143007 size-large" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Rubiah-70.jpg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="1200" height="675" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Rubiah-70.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Rubiah-70.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Rubiah-70.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Rubiah-70.jpg?resize=750%2C422&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Rubiah-70.jpg?resize=1140%2C641&amp;ssl=1 1140w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-143007" class="wp-caption-text">Rubiah (70), petani. (Foto: Farida Indriastuti)</p></div>
<p>Rubiah memungut biji nyamplung sejak 2009. Anak-anaknya sibuk bekerja di sawah dan kebun. Hasil jerih payah Rubiah dalam enam bulan memungut biji nyamplung, terkumpul 25 karung. Semua biji nyamplung sudah dikeringkan dan siap diantar ke pengepul. Harga biji nyamplung kering tanpa proses sortir berkisar Rp 2.500 per kilogram di pengepul. Rubiah kadang mendapat uang Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta. “<em>Wis tuo yo arep ngopo</em>, daripada nganggur cari biji nyamplung,“ tukasnya.</p>
<p>Tidak cuma Rubiah. Di desa Harjobinangun, Warijo [70 tahun], juga memungut biji nyamplung dari desa ke desa. Dalam sehari, ia berhasil mengumpulkan satu sampai dua karung biji nyamplung. “Awal 2000an, saya lakukan pembibitan dari biji nyamplung, lalu saya jual bibitnya,“ ujar Warijo. Harga bibit nyamplung sangat bervariasi antara Rp 5 ribu sampai Rp 15 ribu, tergantung ukuran pohonnya.</p>
<p>Dalam dua bulan ini, Warijo sanggup mengumpulkan 10 karung biji nyamplung. Ia tidak memiliki sawah garapan&#8211; apalagi kebun atau ladang, cuma bekerja serabutan sebagai buruh tani yang upahnya rendah. Warijo bergantung dari hasil memungut nyamplung, tunas kelapa dan melinjo yang jatuh di lahan hutan milik Perhutani. Beruntung di lahan hutan itu, Warijo boleh menanam cabe rawit di sela-sela pohon nyamplung.</p>
<p>“Orang kecil seperti saya, kebutuhannya ya kecil, asal cukup buat makan. Saya hidup dari menjual biji nyamplung, tunas kelapa dan kayu bakar. Dari jualan nyamplung, dapat Rp 250 ribu &#8211; 300 ribu,“ ujar kakek satu cucu ini. Biasanya Warijo memanggul sendiri karung-karung yang berisi biji nyamplung ke gerobak kayu, lalu mengantar karung-karung itu ke pengepul&#8211; dengan berjalan kaki sejauh 2 &#8211; 3 kilometer.</p>
<p>Tegakan pohon nyamplung Purworejo paling banyak di Provinsi Jawa Tengah. Data Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Jawa Tengah mencatat, produksi buah nyamplung per pohon di Purworejo jika dihitung per tahun, yaitu 70-150 kilogram. Sedangkan produksi biji per pohon dalam setahun, yaitu 50-100 kilogram.</p>
<div id="attachment_143008" style="width: 1210px" class="wp-caption aligncenter"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-143008" class="wp-image-143008 size-full" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Hutan-Nyamplung-1.jpg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="1200" height="675" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Hutan-Nyamplung-1.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Hutan-Nyamplung-1.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Hutan-Nyamplung-1.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Hutan-Nyamplung-1.jpg?resize=750%2C422&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Hutan-Nyamplung-1.jpg?resize=1140%2C641&amp;ssl=1 1140w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-143008" class="wp-caption-text">Hutan Nyamplung. (Foto: Farida Indriastuti)</p></div>
<p>Sesungguhnya, nyamplung merupakan salah satu jenis pohon yang potensial sebagai sumber bahan bakar nabati (BBN) dan pemerintah telah menetapkan kebijakan energi nasional melalui Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006, diantaranya melalui diversifikasi pemanfaatan sumberdaya energi (SDE) dari tumbuhan, berupa <em>“biofuel”.</em></p>
<p>Untuk mendorong energi terbarukan yang ramah lingkungan, pemerintah menetapkan target produksi <em>biofuel </em>pada 2025 sebesar 5% dari total kebutuhan energi minyak nasional. Bahkan menugaskan Departemen Kehutanan untuk berperan menyediakan bahan baku <em>biofuel</em>, termasuk perijinan pemanfaatan lahan yang tidak produktif.</p>
<p>Sabar [65 tahun], nama yang singkat tanpa embel-embel nama tengah atau belakang. Hari-harinya disibukkan untuk mengawasi hutan nyamplung di dekat pesisir Pantai Jetis. Kadang ia memanfaatkan lahan hutan untuk pertanian, mulai menanam cabe, palawija, kacang-kacangan dan lainnya. “Saya ini relawan penjaga hutan, bekerja hampir 12 tahun tanpa upah,“ ujarnya.</p>
<p>Hutan dalam pengawasan Sabar, menjadi lebih rimbun dan hijau&#8211; tidak ada warga desa yang berani menebang pohon. “Mengambil kayu pohon roboh saja, warga desa tidak berani. Paling cuma memungut nyamplung,“ tegas Sabar. Lelaki bertubuh kekar ini terus bercerita di gubuk tepi sawah, sambil terus mengepulkan asap rokok tembakau-kemenyan yang bau menyengat.</p>
<p><em> </em>* * * * *</p>
<p>Di Desa Patutrejo, suara deru mesin pemecah biji nyamplung kering sungguh memekakkan telinga&#8211; meraung-raung tanpa henti. Semburan partikel debu halus dari lubang buangan mesin, membuat mata perih. Dari kejauhan, Barino [49 tahun] cuma tersenyum sambil mengawasi dua pekerjanya. Pagi itu, berkuintal-kuintal biji nyamplung kering dipecah dengan mesin, lalu di pilah secara manual, sampai bersih dari kulitnya. Tetap saja, butuh ketelatenan tangan manusia untuk membersihkan biji dari kulitnya.</p>
<p>Setelah semua biji bersih, dua pekerja memasukkan ke oven berukuran besar, waktu pengeringan selama 2-3 hari. “Jika masuk musim hujan begini, nyamplung harus dikeringkan dengan oven. Karena panas matahari sedikit,“ ujar Barino.</p>
<p>Setiap hari, Barino dibantu anak lelaki sulungnya dan dua pekerjanya mengolah biji kering nyamplung menjadi minyak mentah <em>[crude oil].</em> Gara-gara kesibukannya memproduksi minyak nyamplung, sawah dan kebunnya terlantar. “Kadang-kadang saja saya tengok, itupun kalau sempat,“ tukasnya. Bagaimana tidak, penghasilan Barino dari mengolah minyak nyamplung saja berkisar Rp7 jutaan per hari. Ia mampu memproduksi 600 liter hingga 1.000 liter minyak nyamplung per hari, tergantung permintaan pembeli. Barino selalu siaga dengan stok 2.000 liter minyak nyamplung di jerigen-jerigen besar.</p>
<p>Biji nyamplung pun didatangkan dari berbagai daerah di pulau Jawa, termasuk dari wilayah Kebumen, Gresik dan Banyuwangi. “Tidak mencukupi jika cuma nyamplung dari Purworejo, “ujar Barino. Ia menggeluti dunia nyamplung selama hampir 12 tahun. Awal 2008, Barino berkenalan dengan Prof. Dr. Sudradjat, M.Sc, dari situlah kisah Barino dan nyamplung dimulai. Tapi baru pada 2009, Barino serius mempelajari soal seluk-beluk nyamplung.</p>
<div id="attachment_143009" style="width: 1210px" class="wp-caption aligncenter"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-143009" class="wp-image-143009 size-full" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Biji-Nyamplung.jpg?resize=1200%2C800&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="1200" height="800" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Biji-Nyamplung.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Biji-Nyamplung.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Biji-Nyamplung.jpg?resize=1013%2C675&amp;ssl=1 1013w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Biji-Nyamplung.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Biji-Nyamplung.jpg?resize=750%2C500&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Biji-Nyamplung.jpg?resize=1140%2C760&amp;ssl=1 1140w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-143009" class="wp-caption-text">Biji Nyamplung (Foto: Farida Indriastuti)</p></div>
<p>Di Purworejo, pohon nyamplung banyak ditemui di tiga desa: Patutrejo, Kertojayan dan Ketawangrejo. Tapi cuma di desa Patutrejo yang aktif dalam mengembangkan minyak nyamplung, terutama Barino. Bapak dua anak ini paling bersemangat dalam mempelajari nyamplung sebagai bahan bakar nabati hingga manfaat lainnya.</p>
<p>Barino terus bereksperimen dan berinovasi membuat mesin pengolah minyak nyamplung, baik yang bertenaga listrik atau bahan bakar minyak. Jika mengingat perjuangan awal-awal dulu, Barino cuma menghela nafas dengan senyum getir. “Sedih, lha piye?” ujarnya. Pada 2009, Barino ditunjuk sebagai kepala produksi pabrik skala desa untuk BBN nyamplung di bawah Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Lestari. Semua mesin pengolah nyamplung merupakan hibah dari Kementerian ESDM. Beberapa kali Barino melakukan uji coba memproduksi minyak nyamplung alias <em>biofuel</em>.</p>
<p>Sebagai langkah awal, Barino memproduksi 80 liter dan diberikan cuma-cuma (gratis) untuk traktor dan mobil. Pada 2012, Barino memproduksi <em>biofuel</em> sebanyak 350 liter untuk uji coba lagi. “Saya sempat kerjasama dengan LSM Relung di Yogyakarta, “ujarnya. Saat itu, Barino melakukan <em>road test </em>dengan gunakan tiga mobil <em>Strada Triton</em> dengan bahan bakar <em>biofuel</em> nyamplung melalui rute perjalanan: Purworejo, Cilacap, Semarang hingga Yogyakarta, selama 3 hari pulang-pergi.</p>
<p>Tiga mobil <em>Strada Triton</em> berjalan mulus, tanpa hambatan di jalanan yang berkelok ular, naik – turun maupun berbatu terjal. “<em>Biofuel</em> nyamplung 350 liter tidak habis untuk tiga mobil, satu mobil cuma butuh 60 liter dan masih banyak sisanya, “kata Barino. Saat itu, ia membeli biji nyamplung dari petani masih seharga Rp500 – Rp750 per kilogram&#8211; sebelum diolah menjadi <em>biofuel</em>.</p>
<p>Biaya yang dibutuhkan Barino Rp 75 juta, uang sebanyak itu terkumpul dari hasil patungan Barino pribadi dan organisasi. Tentu yang mengecewakan Barino, setelah berhasil <em>road test</em> mengelilingi Jawa Tengah&#8211; justru tidak ada dukungan dari pemerintah daerah atau pusat. “Saya produksi <em>biofuel </em>dengan biaya produksi mahal dan tidak ada pembeli, pemerintah tidak memberikan akses distribusi&#8211; apalagi memberikan subsidi. Sama sekali tidak ada insentif, cuma hibahkan mesin-mesin yang sekarang mangkrak, jadi besi karatan, “keluh Barino. Dua kali Barino membagi-bagikan gratis <em>biofuel</em> nyamplung, daripada minyak jadi rusak.</p>
<p>Pabrik <em>biofuel</em> nyamplung atau Demplot Desa Mandiri Energi (DME) berbasis hutan tanaman nyamplung di desa Patutrejo itu pernah diresmikan oleh Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, pada 6 Desember 2009. Hasil kerjasama Badan Litbang Kehutanan dan Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral.</p>
<p>Barino lantas memilih jalan terjalnya sendiri, menyewa dua mesin pengolah nyamplung dari LMDH Wana Lestari Rp 3 juta per tahun. Mesin masih bagus dan tidak karatan&#8211; ia angkut kerumahnya yang berjarak 200an meter. Sejak  2020, Barino secara mandiri mengolah minyak mentah <em>[crude oil]</em> nyamplung dan menolak untuk menyerah dengan keadaan.</p>
<p>“Saya siap dukung <em>biofuel </em>nyamplung sampai kapan pun. Bahkan saya ingin membeli bekas mesin-mesin pengolah nyamplung hibah Kementerian ESDM yang mangkrak tidak terpakai, meski sudah karatan dan tidak berfungsi. Saya akan dirikan museum edukasi <em>biofuel</em> nyamplung. Bagaimana pun ilmu pengetahuan itu mahal untuk anak &#8211; cucu,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Pada akhirnya, Barino mengelola usaha skala rumahan <em>[home industry]</em> minyak nyamplung hingga menghasilkan stok 2.000 liter. Meski tidak aktif secara kelembagaan, Barino terus memperjuangkan minyak nyamplung. Ia tidak peduli ada insentif atau tidak dari pemerintah. Toh, pada akhirnya pembeli datang sendiri dan Barino kerepotan memenuhi permintaan pembeli dari berbagai daerah.</p>
<p>“Pemerintah gembar-gembor soal bahan bakar nabati, tapi tidak ada daya dukung permodalan,“ tukas Barino. Harapan Barino, pemerintah memberikan pendampingan dan komitmen, mulai pengadaan peralatan hingga siap menerima hasil produksi. “Jangan lepas tanggungjawab. Pendampingan secara teknis itu penting untuk menekan anggaran, menekan biaya operasional sampai memberikan akses pembeli dan solusi persoalannya,“ imbuhnya.</p>
<p>Jika biaya produksi <em>biofuel </em>nyamplung Rp 15 ribu &#8211; 25 ribu per liter, tentu masyarakat tidak memiliki daya beli. Mau tidak mau, Barino mencari jalan tengah dengan memproduksi minyak mentah <em>[crude oil]&#8211; </em>ia tidak lagi memikirkan keruwetan dunia distribusi nyamplung. Barino juga piawai memodifikasi mesin-mesin pengolah nyamplung dengan biaya minim Rp 25 juta &#8211; 35 juta dengan bahan <em>stainless steel </em>yang berkualitas<em>.</em></p>
<p><em> </em>* * * * *</p>
<p>Di penghujung sore di kawasan Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Prof. Dr. Ir. Budi Leksono, M.P mengisahkan, bertahun-tahun meneliti nyamplung di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Ia salut dengan komitmen kawan-kawan petani sekaligus pegiat minyak nyamplung. Meski tanpa dukungan pemerintah, tapi mereka mandiri dalam mengembangkan minyak nyamplung.</p>
<div id="attachment_143010" style="width: 1210px" class="wp-caption aligncenter"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-143010" class="wp-image-143010 size-full" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Minyak-Nyampluung.jpg?resize=1200%2C800&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="1200" height="800" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Minyak-Nyampluung.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Minyak-Nyampluung.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Minyak-Nyampluung.jpg?resize=1013%2C675&amp;ssl=1 1013w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Minyak-Nyampluung.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Minyak-Nyampluung.jpg?resize=750%2C500&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/12/Minyak-Nyampluung.jpg?resize=1140%2C760&amp;ssl=1 1140w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-143010" class="wp-caption-text">Minyak Nyamplung (Foto: Farida Indriastuti)</p></div>
<p>Semisal Barino, selalu bersikap adil dalam urusan bagi untung. Ia memberi Rp500 per kilogram nyamplung ke Perhutani. Biasanya, Barino mengumpulkan dulu uangnya hingga beberapa juta&#8211; lalu di transfer ke rekening bank milik Perhutani. Bagaimanapun, para petani memungut nyamplung di lahan hutan nyamplung milik Perhutani, meski cuma sebagian. Barino tidak tega, jika memotong uang penjualan nyamplung dari para petani kecil yang mayoritas lansia berusia sepuh. Ia takut kuwalat, Rp500 itu perkara kecil baginya&#8211; dan rasa hormat pada para sepuh ini bagian dari filosofi Jawa yang dipegang teguhnya.</p>
<p>Profesor Budi paham benar kesulitan dan perjuangan para petani &#8211; pengolah nyamplung mandiri di Purworejo yang menjadi wilayah dampingannya. “Dulu tidak banyak yang menekuni nyamplung, sehingga saya berusaha membuka tabir keunggulan dari berbagai aspek. Sekarang sudah banyak pemerhati nyamplung, sehingga banyak temannya,“ ujarnya.</p>
<p>Potensi nyamplung sangat besar, pohonnya mudah dibudidayakan secara monokultur <em>[monoculture]</em> atau tumpang sari <em>[mixed-forest]</em> di lahan kritis dan daerah marginal&#8211; bahkan bagus untuk memulihkan lingkungan yang rusak dengan konservasi nyamplung. Mampu menahan abrasi dan mengurangi resiko bencana yang disebabkan angin laut yang besar. “Bisa untuk memulihkan tanah pasca tambang batubara juga,“ ungkap Profesor Budi.</p>
<p>Jika menengok ke belakang, dengan dikeluarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 25 Tahun 2013 untuk meningkatkan campuran biodiesel sebesar 10%, guna untuk mengatasi cadangan minyak bumi yang menipis, mengantisipasi krisis iklim dan menghemat devisa negara, pemerintah justru lebih fokus pada bahan bakar nabati dari kelapa sawit, yang tergolong tanaman pangan.</p>
<p>Sedangkan nyamplung bukan tanaman pangan, sebagai <em>biofuel </em>nyamplung tidak akan mengganggu kebutuhan pangan. Produktivitas nyamplung juga lebih tinggi dibandingkan tanaman sejenisnya; jarak pagar 5 ton per hektar, sawit 6 ton per hektar dan nyamplung 20 ton per hektar.</p>
<p>Data hasil penelitian Profesor Budi bersama timnya yang berjudul “Nyamplung [<em>Calophyllum inophyllum]</em> Sumber Energi Biofuel Yang Potensial” mencatatkan beragam keunggulan biodiesel yang dihasilkan nyamplung di antaranya, Rendemen minyak nyamplung tergolong tinggi dibandingkan jenis tanaman lain (jarak pagar; 40-60%, sawit; 46-54% dan nyamplung; 40-73%), sebagian parameter telah memenuhi standar kualitas biodiesel Indonesia, minyak biji nyamplung memiliki daya bakar dua kali lebih lama dibandingkan minyak tanah—dalam uji untuk mendidihkan air ternyata minyak tanah yang dibutuhkan 0,9 ml, sedangkan minyak biji nyamplung hanya 0,4 ml. Dan terakhir,  minyak biji nyamplung memiliki keunggulan kompetitif di masa depan&#8211; karena biodiesel nyamplung dapat digunakan pencampur solar dengan komposisi tertentu, bahkan dapat digunakan 100% apabila teknologi pengolahannya tepat.</p>
<p>Selain kualitas emisi lebih baik dari solar atau bensin, dapat pula digunakan sebagai biokarosen pengganti minyak tanah atau bioavtur untuk bahan bakar pesawat terbang. “Permintaan nyamplung untuk bioavtur dari Jepang sangat tinggi, selain permintaan untuk bahan kosmetik dan obat. Bahkan Arab Saudi sudah memikirkan jika cadangan minyak bumi habis&#8211; mereka meminta ribuan bibit nyamplung dikirim ke sana dengan pesawat,“ ujar Profesor Budi.</p>
<p>Meski tidak bernasib sial seperti jarak pagar— tapi nyamplung juga dianaktirikan dalam kebijakan energi terbarukan oleh pemerintah. Padahal semua elemen nyamplung bermanfaat dari kayu, termasuk kayu komersil yang dapat digunakan untuk bahan pembuatan perahu, balok, tiang, papan lantai dan papan bangunan perumahan dan bahan konstruksi ringan.</p>
<p>Sedangkan getah, dapat disadap untuk mendapatkan minyak yang dikenal dengan nama minyak tamanu  <em>[tamanu oil].</em> Bahan aktif dari getah ini diindikasikan berkhasiat untuk menekan pertumbuhan virus HIV. Pada daun, mengandung senyawa <em>costatolide-A, saponin</em> dan <em>acid hidrocyanic</em> yang berkhasiat sebagai obat oles untuk sakit encok, bahan kosmetik untuk perawatan kulit, menyembuhkan luka seperti luka bakar dan luka potong.</p>
<p>Sedangkan bunganya yang wangi, dapat digunakan sebagai campuran untuk mengharumkan minyak rambut. Terakhir biji, setelah diolah menjadi minyak bermanfaat untuk pelitur, minyak rambut dan minyak urut, berkhasiat juga untuk obat urus-urus dan rematik. Selain untuk bahan bakar nabati yang ramah lingkungan; biofuel, biodiesel dan bioavtur.</p>
<p>Pada akhirnya, para petani, pengepul, pengolah nyamplung dan lainnya—memilih rute dan jejaknya sendiri secara mandiri. Bahkan seorang pioner <em>biofuel</em> nyamplung pertama kali surut semangatnya. Ialah Samino asal Kroya, Cilacap, memilih pensiun dan mengakhiri untuk mengolah nyamplung. “Mesin-mesin saya <em>nganggur</em>. Sekarang saya menikmati masa tua saja,“ ujarnya dengan suara parau dari balik telepon genggam. (Farida Indriastuti /SS)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kisah-para-pejuang-bbn-nyamplung/">Kisah Para Pejuang BBN Nyamplung</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">142977</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Nama Daerah Unik di Indonesia, dari Pocong Sampai Pacarpeluk</title>
		<link>https://langgam.id/nama-daerah-unik-di-indonesia-dari-pocong-sampai-pacarpeluk/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nabila Hanum]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Oct 2021 05:00:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=131072</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berbagai daerah di Indonesia ini memiliki nama yang unik. Apa saja? Langgam.id &#8211; Nama adalah identitas. Itu sebabnya, ungkapan &#8220;apalah arti sebuah nama&#8221; rasanya menjadi tidak relevan lagi. Dari namalah, seseorang atau segala sesuatu di dunia ini bisa dikenal, bahkan diingat sepanjang masa. Hal itu pula berlaku bagi nama-nama daerah di Indonesia. Mungkin karena saking besarnya, terkadang kita tidak tahu kalau ternyata ada nama-nama desa yang unik. Nama-nama desa tersebut justru membuat kita bertanya-tanya dan sedikit menjadi bahan bercanda. Berikut Langgam.id rangkum nama daerah yang unik di Indonesia. Desa Siluman Desa Siluman berada di Kecamatan Paburan, Provinsi Jawa Barat. Sejarah</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/nama-daerah-unik-di-indonesia-dari-pocong-sampai-pacarpeluk/">Nama Daerah Unik di Indonesia, dari Pocong Sampai Pacarpeluk</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="intro-text">
<p dir="ltr">Berbagai daerah di Indonesia ini memiliki nama yang unik. Apa saja?</p>
</div>
<p dir="ltr"><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Nama adalah identitas. Itu sebabnya, ungkapan &#8220;apalah arti sebuah nama&#8221; rasanya menjadi tidak relevan lagi.</p>
<p dir="ltr">Dari namalah, seseorang atau segala sesuatu di dunia ini bisa dikenal, bahkan diingat sepanjang masa.</p>
<p dir="ltr">Hal itu pula berlaku bagi nama-nama daerah di Indonesia. Mungkin karena saking besarnya, terkadang kita tidak tahu kalau ternyata ada nama-nama desa yang unik.</p>
<p dir="ltr">Nama-nama desa tersebut justru membuat kita bertanya-tanya dan sedikit menjadi bahan bercanda.</p>
<p dir="ltr">Berikut Langgam.id rangkum nama daerah yang unik di Indonesia.</p>
<h2 dir="ltr">Desa Siluman</h2>
<p><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-131080" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-siluman.jpg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Nama daerah unik indonesia" width="1200" height="675" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-siluman.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-siluman.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-siluman.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-siluman.jpg?resize=750%2C422&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-siluman.jpg?resize=1140%2C641&amp;ssl=1 1140w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p dir="ltr">Desa Siluman berada di Kecamatan Paburan, Provinsi Jawa Barat. Sejarah nama Desa Siluman diketahui tidak ada sangkut pautnya dengan siluman.</p>
<p dir="ltr">Sebab nama desa Siluman ini berasal dari sebuah sungai kecil yang bernama Ci Silukman.</p>
<h2 dir="ltr">Desa Pocong</h2>
<p dir="ltr"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-131077" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-pocong.jpg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Nama daerah unik indonesia" width="1200" height="675" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-pocong.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-pocong.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-pocong.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-pocong.jpg?resize=750%2C422&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-pocong.jpg?resize=1140%2C641&amp;ssl=1 1140w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p dir="ltr">Daerah yang memiliki nama unik di Indonesia lainnya adalah Desa Pocong. Desa yang terletak di Kecamatan Tragah, Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa Timur ini memiliki kisah mistis.</p>
<p dir="ltr">Konon, pada zaman dahulu desa yang satu ini masih belum memiliki nama karena hanya ditinggali oleh beberapa penduduk dan saat itu tempat ini masih berupa hutan.</p>
<p dir="ltr">Suatu saat, salah satu penduduk desa tersebut meninggal dan dikubur. Setelah malam tiba, orang yang meninggal tersebut bangkit dari kubur dan menyerupai pocong sambil berjalan melewati hutan.</p>
<p dir="ltr"><strong>Baca juga: <a href="https://langgam.id/dianggap-legenda-ini-5-destinasi-wisata-misterius-di-sumbar/">Dianggap Legenda, Ini 5 Destinasi Wisata Misterius di Sumbar</a></strong></p>
<p dir="ltr">Hal tersebut terjadi selama 40 hari. Mungkin hal itulah yang membuat nama desa tersebut menjadi Desa Pocong.</p>
<h2 dir="ltr">SDN 6 Danger</h2>
<p dir="ltr"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-131079" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-danger.jpg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Nama daerah unik indonesia" width="1200" height="675" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-danger.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-danger.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-danger.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-danger.jpg?resize=750%2C422&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-danger.jpg?resize=1140%2C641&amp;ssl=1 1140w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p dir="ltr">&#8220;Danger&#8221; merupakan kata dalam Bahasa Inggris yang berarti bahaya.</p>
<p dir="ltr">SDN 6 Danger merupakan nama sekolah yang terletak di Desa Danger, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat.</p>
<h2 dir="ltr">Dusun Koplak</h2>
<p dir="ltr"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-131075" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-koplak.jpg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="1200" height="675" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-koplak.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-koplak.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-koplak.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-koplak.jpg?resize=750%2C422&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-koplak.jpg?resize=1140%2C641&amp;ssl=1 1140w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p dir="ltr">Dusun Koplak ini berada di Umbulmartani, Ngemplak, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dusun Koplak ini posisinya di Jalan Kaliurang Km 14.5.</p>
<h2 dir="ltr">Desa Pacarpeluk</h2>
<p dir="ltr"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-131078" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-pacarpeluk.jpg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" width="1200" height="675" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-pacarpeluk.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-pacarpeluk.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-pacarpeluk.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-pacarpeluk.jpg?resize=750%2C422&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2021/10/desa-pacarpeluk.jpg?resize=1140%2C641&amp;ssl=1 1140w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p dir="ltr">Nama daerah unik di Indonesia terakhir ialah Desa Pacarpelik. Desa ini memiliki sejarah dan banyak sosok di dalamnya.</p>
<p dir="ltr">Sosok yang dianggap sebagai pembuka daerah ini dikenal dengan sebutan Mbah Wonoyudo. Ia adalah pengembara yang disebut berasal dari daerah Jipang, Panolan, Blora, Jawa Tengah.</p>
<p dir="ltr">Ketika melakukan pembabatan hutan itu, Wonoyudo menjumpai banyak tumbuhan bunga Pacar air yang berwarna merah, merah muda, ungu dan putih. Orang-orang pedesaan biasanya memanfaatkan daunnya sebagai pewarna kuku (kutek).</p>
<p dir="ltr">Batang tanaman ini termasuk berair, tebal dan tidak mengayu. Daunnya bergerigi lunak di tepinya. Atas dasar itulah, daerah banyak ditumbuhi tanaman Pacar air ini disebut dengan pedukuhan (dusun) Pacar.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/nama-daerah-unik-di-indonesia-dari-pocong-sampai-pacarpeluk/">Nama Daerah Unik di Indonesia, dari Pocong Sampai Pacarpeluk</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">131072</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 24/107 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-04-20 02:28:55 by W3 Total Cache
-->