<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Festival Maek Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/festival-maek/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/festival-maek/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 Jul 2025 16:47:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Festival Maek Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/festival-maek/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>&#8216;MASA&#8217;: Site-Specific Performance di Menhir Maek</title>
		<link>https://langgam.id/masa-site-specific-performance-di-menhir-maek/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Jul 2024 06:36:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Maek]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=207929</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dengan pelangkahan ‘khas’ seorang pandeka, Jeff menenteng satu asoi sampah di tangannya kirinya. Ia bersama tiga rekannya, anak nagari Maek, baru saja membersihkan beberapa sampah di situs Menhir Balai Batu. Sore itu Jorong Koto Tangah, Maek, memang lagi ramai-ramainya. Ramai orang yang menanti-nanti malam penutupan Festival Maek, di mana anak kemenakan mereka akan tampil bersama 3 koreografer dalam suatu pertunjukan kolaboratif. Situs Balai Batu yang jadi arena pertunjukan, cukup banyak dikunjungi orang. “Tempat ini sakral, tempat sakral harusnya bersih dan suci,” kata Jeff merujuk pada situs menhir Balai Batu yang berisi tidak hanya menhir namun juga beberapa artefak lain. Jika</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/masa-site-specific-performance-di-menhir-maek/">&#8216;MASA&#8217;: Site-Specific Performance di Menhir Maek</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Dengan</strong> pelangkahan ‘khas’ seorang <em>pandeka</em>, Jeff menenteng satu asoi sampah di tangannya kirinya. Ia bersama tiga rekannya, anak nagari Maek, baru saja membersihkan beberapa sampah di situs Menhir Balai Batu. Sore itu Jorong Koto Tangah, Maek, memang lagi ramai-ramainya. Ramai orang yang menanti-nanti malam penutupan Festival Maek, di mana anak kemenakan mereka akan tampil bersama 3 koreografer dalam suatu pertunjukan kolaboratif. Situs Balai Batu yang jadi arena pertunjukan, cukup banyak dikunjungi orang.</p>



<p>“Tempat ini sakral, tempat sakral harusnya bersih dan suci,” kata Jeff merujuk pada situs menhir Balai Batu yang berisi tidak hanya menhir namun juga beberapa artefak lain. Jika situsnya kotor, tidak suci, kita bakal sulit untuk terkoneksi dengannya, untuk menyatu dengan situs itu sebagai bagian dari alam. Apabila itu terjadi, maka ia dan rekan-rekannya akan kesulitan mengekspresikan koneksi tersebut lewat gerak tubuh.</p>



<p>Demikian kira-kira pandangan koreografer yang berbasis di Jakarta itu atas hubungan lingkungan dan kualitas gerak tubuh alias koreografi. Dengan kata lain, baginya, koreografi atau tari adalah laku hidup dimana manusia dan alam mesti membangun hubungan yang erat, sehat, dan suci.</p>



<p>Dan laku hidup itu “harus dimulai dari hal-hal kecil dan mendasar seperti ini: membuang sampah di tempatnya.”</p>



<p>Tim kebersihan yang tak lama kemudian datang, jadi ringan sekali pekerjaannya. Mereka jadi lebih berkonsentrasi untuk menyiapkan lapangan bola, venue utama malam penutupan Festival Maek, Sabtu 20 Juli 2024, yang berjarak sekira 200-an meter dari Situs Menhir Balai Batu.</p>



<p>Setelah ikut bantu-bantu sedikit, saya pamit kepada Jeff yang tak hanya mengajarkan dasar-dasar gerak tari pada para rekan penampilnya, namun juga memberi teladan langsung betapa tari,&nbsp; koreografi, adalah suatu laku hidup, bukan sekedar kesenian yang dijadikan tontonan sambutan buat para pembesar.</p>



<p>***</p>



<p>Sendi Oryzal menggesek biolanya di tengah area Situs Menhir Balai Batu. Musik yang ia kompos untuk pertunjukan tersebut, menyambut 13 penari yang berjalan berarakan dari luar situs ke area situs; alunan biola yang bikin bulu kuduk merinding itu juga barangkali <em>paimbau </em>(pemanggil bernuansa magis)&nbsp; para penari, para manusia untuk masuk ke tempat <em>sati </em>(bertuah) itu.</p>



<p>Bianca Sere Pulungan, koreografer dari Jerman itu, juga tampak telah menunggu di dalam area situs. Jika Sendi memanggil para penari dengan biolanya, Bianca maimbau mereka dengan gerak tubuhnya. Memakai kostum serba putih, ia mengibar-ngibarkan selendang merah pekat seperti merayu-rayu para penari agar segera masuk ke Situs Balai Batu.</p>



<p>Para penari pun masuk ke area situs. Sebagian membawa obor, sebagian hanya melenggang dengan selendang disampirkan di bahunya, selendang merah, biru, jingga, dan oranye. Sebagian berkostum serba putih, lainnya berkostum warna merah dan hitam.</p>



<p>***</p>



<p>“Masyarakat Maek adalah salah satu masyarakat paling beruntung di dunia. Mereka hidup bersama, berdampingan, dengan cagar-cagar budaya warisan leluhur.” Janette Hoe, koreografer dari Australia itu memberi pandangan soal masyarakat dan menhir Maek di diskusi karya kolaborasinya dengan anak nagari Maek.</p>



<p>“Mereka bisa terhubung dengan leluhurnya setiap saat, di setiap sudut kampung dan rumah-rumah,” lanjutnya.</p>



<p>Dalam diskusi itu, Janette Hoe, Bianca Sere Pulungan&nbsp; Jeffriandi Usma, dan Sendi Oryzal, berbagi banyak hal soal proses serta konsep pertunjukan kolaborasi bertajuk “MASA” di sebuah MTSN yang dua ruang kelasnya disulap menjadi ruang seminar dan diskusi.&nbsp; Di samping membahas segi koreografi, mereka juga berkali-kali menekankan pentingnya ‘menghidupkan’ cagar-cagar budaya seperti menhir dengan seni pertunjukan.</p>



<p>Amanat Janette memang jeli. Di samping rumah, di samping dapur, di pekarangan, di halaman sekolah, menhir-menhir berdiri dengan agung. Pemandangan ini terhampar di seantero Maek. Masyarakat banyak yang bercerita, dulunya jumlah menhir di Maek sangat amat banyak. Namun sebagiannya diambil untuk digunakan sebagai batu pondasi sekolah-sekolah dan bangunan umum. Bahkan satu kompleks menhir yang dirobohkan lalu ditimbun untuk dijadikan lapangan sepakbola. Dan proses desakralisasi itu bukanlah sepenuhnya kesalahan masyarakat. Mari campakkan bersama-sama asumsi orientalis yang tak berdasar itu bahwa masyarakat itu bodoh!</p>



<p>Fenomena desakralisasi ini terhenti di tahun 2010-an karena adanya undang-undang perlindungan cagar budaya. Dan desakralisasi itu, tentu berhubungan erat dengan terputusnya koneksi atau hubungan masyarakat pada masa itu dengan leluhur yang mendirikan dan mengukir menhir-menhir itu. Serangkaian penelitian arkeologi yang telah berlangsung sejak pertengahan 1980-an di kawasan itu, seperti gagal menyebarkan hasil penelitiannya secara komprehensif ke masyarakat pemilik cagar budaya itu sendiri.</p>



<p>Padahal, menimpali amatan Janette, masyarakat Maek memang beruntung. Menhir-menhir Maek, betul-betul menjadi bagian dari keseharian masyarakat—ia bukan semacam cagar budaya mahasuci yang terkonsentrasi di satu titik; ia juga bukan suatu area eksklusif di mana hanya lapisan sosial tertentu yang berhak membangun koneksi dengannya.</p>



<p>Meski begitu, ada situs-situs tertentu yang masih dianggap sakral hingga kini, meski kadarnya sudah jauh menurun. Situs Menhir Balai Batu adalah salah satunya. Konon situs ini dulu digunakan sebagai ruang musyawarah para tetua untuk memutuskan hal-hal penting, sekaligus tempat dilakukannya berbagai ritual. Sampai tahun 1980-an, masyarakat masih menggelar upacara tolak bala di situs tersebut dengan menyembelih seekor <em>bantiang itam</em> (sapi berwarna hitam).</p>



<p>***</p>



<p><em>nan bonamo saribu menhir</em></p>



<p><em>kaluak paku nan ta surek di ateh nyo</em></p>



<p><em>bukik posuak nan jo paoruso</em></p>



<p><em>bukik tungkua sarato jo batang maek</em></p>



<p>Lantunan dendang dari Zahrati Salsabilah memenuhi area pertunjukan, ditingkahi pukulan ritmis talempong Febi Juliko dan ketukan sayup-sayup sampai dua bilah kentongan bambu dari tangan Fito Septriawan dan Muhammad Danel. ‘Lolongan’&nbsp; saluang Pandu Winata dan gesekan biola Sendi Oryzal. Suara-suara ambien dari sequencer yang diampu Andre Dwi Wibowo melapisi semua bebunyian itu.</p>



<p>Sesaat sebelumnya, para penari baru saja masuk berarakan ke situs Balai Batu di mana terdapat sekitar 18-an menhir, sebagiannya masih berdiri, sebagiannya terbaring rebah di tanah. Masing-masing penari dengan kostum yang sengaja dirancang tidak seragam, segera memilih menhir-menhir masing. Menyentuhnya dengan penuh perasaan, mengelus-ngelusnya, mengelilinginya dengan khidmat, seperti ingin menyambungkan dirinya, tubuhnya, dengan energi menhir-menhir itu.&nbsp;</p>



<p>Koreografinya terlihat tidak kompak. Setiap penari ‘tersambung’ dengan menhir-menhir itu, lewat gerak tubuh masing-masing pula. Tapi ini adalah konsep yang mereka rancang bersama. Setiap tubuh merespon ketersambungan itu dengan cara tubuh itu masing-masing. Beberapa penari terlihat nyaris mencapai kondisi trance. Sepertinya <em>paimbauan</em> Sendi dan Bianca di awal pertunjukan berhasil.</p>



<p>&nbsp;***</p>



<p>“Setiap penari, kami beri mereka kebebasan untuk berinteraksi dengan menhir-menhir itu. Lahirlah berbagai macam ekspresi gerak,” jelas Jeff masih dalam diskusi yang sama. “Tubuh mereka merespon menhir dengan cara yang berbeda dengan tubuh kami. Tubuh Maek lebih peka ketika merespon menhir,” tambah Bianca menjelaskan pengamatannya sepanjang proses latihan bersama yang makin mempertegas fakta bahwa sifat ketersebaran menhir-menhir Maek memungkinkan anak nagari Maek terkoneksi secara intens disadari atau tidak.</p>



<p>Proses penciptaan karya kolaborasi ini sudah berlangsung sejak Mei 2024 lalu. Ketika itu, anak nagari Maek diajak menciptakan karya bersama merespon menhir-menhir Maek dalam suatu workshop kekaryaan. Workshop itu sendiri adalah bagian dari program pra-Festival Maek.&nbsp;</p>



<p>Tidak hanya lewat koreografi tapi juga musik. Sebagian peserta telah menguasai dasar-dasar musik, mereka mengambil peran sebagai pemusik dengan Sendi Oryzal sebagai fasilitator.&nbsp; Sebagian besarnya, yang tertarik untuk menjadi penari, sama sekali belum pernah bersentuhan dengan tari. Merekalah yang dimentori oleh Jeff, Bianca, dan Janette.</p>



<p>Para penari belajar gerak-gerak dasar, ketubuhan, dan seterusnya, sementara para mentor belajar kepada mereka secara langsung atau tidak langsung tentang budaya Maek dan akhirnya tubuh Maek itu sendiri.</p>



<p>Para pemusik menyebar ke penjuru nagari. Mereka mengumpulkan cerita-cerita rakyat tentang asal mula Maek dari para tetua. Hasilnya mereka padatkan menjadi lirik di atas tadi, didiskusikan bersama Sendi guna diolah dan dijadikan ‘roh’ karya musik yang akan mereka garap bersama.</p>



<p>Setelah berproses selama kurang lebih dua bulan (secara online dan offline), jadilah karya pertunjukan bertajuk “MASA”. Jeff, Janette, dan Bianca, akan menari bersama&nbsp; Inggid Yeli Algi, ⁠Aisyah Nurmala, Anggin Yetriska, Virdani, ⁠Widuri Febrika Sari, Azzahra Salshabilla, M. Aidin Ardinal, ⁠Cherly Yulia Ghafar, Dela Sevana, Peza Pramana Putra, ⁠dan Nizia Marnila Sari.</p>



<p>Lahirlah karya kolaborasi bertajuk “MASA”.</p>



<p>Sendi juga menamai komposisi musiknya dengan nama yang sama dibantu Andre Dwi Wibowo. Mereka berdua berkolaborasi dengan&nbsp; Febi Juliko, yang menggubah lirik, dan memainkan talempong; Pandu Winata yang memainkan rabab dan gendang; M Danel dan Fito Septriawan membuat alat musik pukul serupa kentongan dari bambu; serta&nbsp; Zahrati Saslabilah yang akan mendendangkan lirik gubahan Febi sembari ikut memainkan telempong.</p>



<p>***</p>



<p>Sejak rangkaian penelitian di pertengahan 1980-an yang hasilnya tidak tersampaikan ke masyarakat itu, berbagai asumsi berkembang di masyarakat. Siapa para pendahulu yang mendirikan menhir-menhir itu? Bagaimana mereka hidup? Adat apa yang mereka pakai? Begitu banyak cerita tentang umur peradaban dan asal-usul manusia Maek. Begitu banyak asumsi soal kaitan Maek dengan sistem adat Minangkabau dan bahkan asal-usul masyarakat Minangkabau itu sendiri.</p>



<p>Begitu banyak misteri dan teka-teki yang belum terjawab. Banyak yang mesti terus ditelusuri dan dicari.</p>



<p>Ini adalah situasi yang tak menentu, yang sampai batas tertentu menimbulkan semacam kegelisahan yang dipicu rasa kehilangan dan keterputusan dengan masa lalu. Mengutip catatan kuratorial, peradaban Maek itu sendiri adalah suatu <em>terra incognita.</em></p>



<p>“MASA” bisa juga dilihat sebagai respon atas situasi tersebut. Di sepanjang pertunjukan, masing-masing tubuh penari yang bergerak merespon menhir-menhir di Situs Balai Batu dengan caranya sendiri-sendiri, juga bisa diposisikan sebagai cerminan respon umum masyarakat Maek atas situasi yang serba belum jelas tersebut.</p>



<p>Seperti potongan sinopsis pertunjukan “MASA” yang dikutip dari <em>Buku Saku Festival Maek</em>:</p>



<p><em>“Dari batu, ada sejarah yang terseret-seret dengan jejak yang panjang. Memeluk menhir akan dirasakan resonansinya. Simbol yang terukir justru akan menyentak-nyentak arteri dalam melepaskan guruh sampai melewati Bukit Posuak.</em></p>



<p><em>MASA merupakan pencarian identitas dengan melakukan bolak-balik gerak, timbul-tenggelam bunyi dari hilir-mudik panggung.</em></p>



<p><em>MASA ingin menemukan simbol yang hilang pengertian oleh arus sungai. Mengklasifikasi bentuk batu yang meloncat-lenyap ke dalam hutan. Sekaligus, menyingkap narasi yang terkubur begitu dalam.”</em></p>



<p>***</p>



<p>Purnama menerangi Situs Menhir Balai Batu malam itu, memperkuat tata cahaya yang tampaknya berusaha menghadirkan suasana remang-remang senja. Setelah ‘puas’ berinteraksi dan menyambungkan diri dengan dengan menhir-menhir, para penari menyudahi pertunjukannya. Alunan musik berhenti. Sebagian penonton tampak terpana sesaat, sebelum memberi applaus. Para kerabat, orang tua, para penari anak nagari Maek, terpancar kebanggan di matanya.</p>



<p>Festival Maek yang dimulai sejak tiga hari sebelumnya Rabu 17 Juli 2024, resmi berakhir malam itu. Tapi bagi para penari dan pemusik, ini adalah awal baru.</p>



<p>“Kami akan buat karya sendiri nanti.” Demikian kata Dela Sevana, salah satu penari, ketika ditanya tim media sesaat sebelum pertunjukan dimulai. Begitu pula dengan Febi dan tim pemusik. Mereka punya rencana membuat komposisi musik lagi, dengan Maek bersama segala misteri dan kekayaan budayanya sebagai bahan baku. Ilmu yang mereka dapat dari para fasilitator bakal mereka kembangkan kedepannya, menjadi media bagi Maek untuk bicara pada dunia.</p>



<p>Jeff, Bianca, dan Janette, berpelukan dengan penari dan pemusik. Sinar purnama membuat wajah haru bercampur bahagia mereka tampak cukup jelas. Mereka baru saja terlibat dalam suatu peristiwa budaya bersejarah: <em>site-specific performance</em> kolaboratif yang jarang-jarang dipraktekkan di Indonesia. (*/Fs)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/masa-site-specific-performance-di-menhir-maek/">&#8216;MASA&#8217;: Site-Specific Performance di Menhir Maek</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">207929</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Festival Maek Resmi Dibuka, Supardi: Maek Bakal jadi Pariwisata Khusus</title>
		<link>https://langgam.id/festival-maek-resmi-dibuka-supardi-maek-bakal-jadi-pariwisata-khusu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Jul 2024 03:34:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Maek]]></category>
		<category><![CDATA[Supardi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=207727</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Festival Maek 2024 resmi dimulai. Ribuan masyarakat memadati lapangan bola kaki Jorong Koto Gadang, Nagari Maek, Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten 50 Kota. Festival arkeologi terbesar di Sumatera Barat itu dibuka oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumbar Supardi, Rabu (17/7/2024). Setelah 40 tahun lamanya, akhirnya riset dan penelitian tentang Maek bakal dilanjutkan. Festival Maek sendiri bakal dilakukan selama tiga hari, dari Rabu hingga Sabtu 17-20 Juli 2024. Supardi mengatakan, satu setengah tahun lalu ia telah memulai rencana Festival ini. Ketika itu hadir pemuka masyarakat Maek dalam sebuah forum diskusi. Tujuannya satu mewujudkan mimpi, Maek asal mula peradaban</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/festival-maek-resmi-dibuka-supardi-maek-bakal-jadi-pariwisata-khusu/">Festival Maek Resmi Dibuka, Supardi: Maek Bakal jadi Pariwisata Khusus</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Festival Maek 2024 resmi dimulai. Ribuan masyarakat memadati lapangan bola kaki Jorong Koto Gadang, Nagari Maek, Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten 50 Kota. Festival arkeologi terbesar di Sumatera Barat itu dibuka oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumbar Supardi, Rabu (17/7/2024).</p>



<p>Setelah 40 tahun lamanya, akhirnya riset dan penelitian tentang Maek bakal dilanjutkan. Festival Maek sendiri bakal dilakukan selama tiga hari, dari Rabu hingga Sabtu 17-20 Juli 2024.</p>



<p>Supardi mengatakan, satu setengah tahun lalu ia telah memulai rencana Festival ini. Ketika itu hadir pemuka masyarakat Maek dalam sebuah forum diskusi. Tujuannya satu mewujudkan mimpi, Maek asal mula peradaban dunia.</p>



<p>Hal itu buat menepis rasa pesimis yang telah lama ada pada masyarakat Maek. Sebab setiap orang yang datang kesana, selalu bicara menhir tapi tak memberi penjelasan apa-apa.</p>



<p>Supardi yang punya satu nafas dengan masyarakat Maek hanya ingin satu hal, mimpi itu dapat terwujud dan Nagari Seribu Menhir bakal dilirik kembali.</p>



<p>&#8220;Saat ini, semua harapan masyarakat Maek yang telah terkumpul 1,5 tahun yang lalu bakal kita mulai dan wujudkan,&#8221; ucapnya, Minggu (17/07/2024).</p>



<p>Perjalanan panjang ini dimulai Supardi bersama Dinas Kebudayaan Sumbar sejak dari mengunjungi UGM, BRIN, hingga Unesco.</p>



<p>&#8220;Saya meminta kepada peneliti UGM agar rangka hasil ekskavasi tahun 1985 diproses kembali,&#8221; ucapnya.</p>



<p>Itu semua agar Maek jadi warisan budaya dunia, bisa dapat terwujud.</p>



<p>&#8220;Maek bakal jadi pariwisata khusus. Lewat Festival, para arkeolog dan peneliti dunia akan membukak penelitian untuk mengungkap tabir dan misteri peradaban tertua,&#8221; ujar Supardi</p>



<p>Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar Jefrinal Arifin, mewakili Gubernur memberikan sambutan soal betapa pentingnya warisan sejarah di Maek.</p>



<p>Ia mengatakan, tambo yang menjadi sumber utama dalam adat kita sebagai orang Minang, tidak memberikan angka dan tahun yang pasti. Kapan sebenarnya nenek moyang kita datang dan menetap di pulau perca Sumatera ini.</p>



<p>&#8220;Menhir di Maek tak hanya membuat penasaran peneliti tapi kita juga orang Minangkabau, apakah ini bakal jadi lembaran baru dari kebenaran narasi sejarah kita orang Minangkabau,&#8221; ujarnya, Rabu (17/07/2024).</p>



<p>Di Sumbar sendiri, menhir dan artefak kerangka manusia purba paling banyak ditemukan di maek. Lanjut Jefrinal, hingga saat ini kapan masa hidup dari kerangka-kerangka itu belum dapat. dipastikan.</p>



<p>&#8220;Sampel-sampel itu sudah dibawa ke Australia untuk dilakukan carbon dating. Tapi hasilnya masih belum keluar. Kita harapkan kebenaran itu bakal secepatnya terungkap,&#8221; ucap mantan Kepala Kesbangpol Pemprov Sumbar itu.</p>



<p>Namun dari dugaan saat ini, diperkirakan jasad yang ditemukan di Maek itu berumur 4000 tahun. Berdekatan dengan kapal nabi nuh kira-kira 5000 tahun lalu. Artinya sudah sangat lama ada manusia yang hidup di tanah Minang.</p>



<p>Helat ini turut menghadirkan kolaborasi akademisi, budayawan, dan para seniman dari dalam dan luar negeri. Hal ini menjadi peluang kerja sama untuk mempromosikan adat istiadat budaya di Sumatera Barat.</p>



<p>&#8220;Harapan Kita event ini bisa dimanfaatkan oleh anak nagari maek untuk mempertahankan budaya itu semua. Sebab selama ini orang datang bukan hanya saja karena ada peninggalan purbakala di nagari maek. Tapi juga karena ke khasan adat istiadat Maek,&#8221; ucapnya</p>



<p>Peninggalan sejarah di maek termasuk cagar budaya yang dilindungi Undang-undang&nbsp; di Indonesia. Pemprov Sumbar papar Jefrinal, berkomitmen untuk melestarikan seluruh cagar budaya yang ada, khususnya nagari maek.</p>



<p>Secepatnya ia akan menetapkan Maek sebagai cagar budaya provinsi dan nasional, dan jadi warisan budaya dunia.</p>



<p>&#8220;Semoga dengan diselenggarakannya event ini jadi pengingat dan motifasi untuk kita semua mengupayakan impian itu terwujud. sebab warisan dunia merupakan jalan panjang penelitian berbagai disiplin ilmu dan kerumitan birokrasi. Moga moga menhir menyusul WTBOS jadi warisan dunia,&#8221; ujarnya.</p>



<p>Bupati 50 Kota Safaruddin yang turut hadir dalam pembukaan juga berjanji bakal melanjutkan festival ini kedepannya.</p>



<p>Efrizal Hendri Wali Nagari Maek sembari berseloroh dalam sambutannya turut mengamini atensi itu.</p>



<p>&#8220;Kami masyarakat maek siap mengurangi minuman manis. Tapi akan menebar senyuman manis. Nagari Maek siap jadi destinasi wisata arkeologi dunia,&#8221; tuturnya</p>



<p>Direktur Festival Donny Eros, dalam sambutannya menyampaikan bahwa perhelatan ini adalah sebuah pekerjaan yang tidak mudah.</p>



<p>Ia bersama para kurator: Zulkarnaini Diran, Aprimas, Eka Maryanti, Zuari Abdullah, dan S.Metron Masdison, butuh waktu bertahun-tahun menyiapkannya. Dimulai dari 10 tahun yang lalu hingga sekarang.</p>



<p>Baginya Lembah Maek, ibarat permata tersembunyi yang menyimpan kisah-kisah agung dari peradaban kuno.</p>



<p>&#8220;Melalui riset yang penuh ketekunan dan semangat, kami berhasil menyibak tabir misteri yang menyelimuti artefak-artefak, struktur-struktur megah, serta jejak-jejak kehidupan yang memberi kita gambaran akan kekayaan masa lampau,&#8221; kata dosen Fakultas Ilmu Budaya Unand itu, Rabu (17/07/2024).</p>



<p>Ia juga berterima kasih pada masyarakat Maek, yang dengan kehangatannya dengan senang hati bekerja sama.</p>



<p>Festival ini turut menghasilkan dua buku dari empat orang seniman. Mereka adalah Iyut Fitra dan Yudilfan Habib yang menulis &#8220;Maek Memantul Dalam Puisi dan Prosa.&#8221;</p>



<p>Serta Widi Adrianto dan Satria Putra dalam karya, &#8220;Maek Cerita Dibalik Sketsa.&#8221;</p>



<p>Para seniman yang sudah berkontemplasi selama berbulan-bulan dengan alam Maek ini akan mempresentasikan karya-karya mereka dalam sesi diskusi di hari kedua.</p>



<p>Mereka bakal membahas berbagai hal terkait karya yang dihasilkan mulai dari proses hingga siasat dan strategi mereka ketika hendak merespon Maek secara kreatif.</p>



<p>&#8220;Kami berharap, buku ini bukan sekadar panduan, namun juga menjadi jendela yang membuka cakrawala pengetahuan dan inspirasi bagi Anda semua,&#8221; ucap Donny.</p>



<p>Ia juga berharap seluruh rangkaian Festival Maek turut mendukung agenda pemajuan kebudayaan, utamanya di Maek.</p>



<p>Festival dibuka oleh seni pertunjukan ‘Mimetik Sulbi (Hikayat Batu Tegak)’, karya duet dramaturg S Metron Masdison dan Zuari Abdullah dengan Andre Junaidi sebagai pengisi musik.</p>



<p>Pementasan ini ingin mereplikasi peristiwa paling sublim dalam sejarah Maek. Batu Tegak.</p>



<p>Pertunjukan ini dibawakan oleh sekelompok pemuda yang membopong batu besar serupa menhir. Diiringi seorang &#8220;janang&#8221; (narator) yang membawakan prolog berbahasa minang.</p>



<p>Para pemuda itu kemudian mamaek (memahat) batu tersebut. Dalam pertunjukan ini koreografer Jefriandi Usman (Indonesia), Bianca Sere Pulungan (Jerman), dan Janette Hoe (Australia), berkolaborasi dengan 20 anak nagari Maek.</p>



<p>Selama 3 hari festival bakal membedah beragam topik diskusi terkait Maek. (*/Fs)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/festival-maek-resmi-dibuka-supardi-maek-bakal-jadi-pariwisata-khusu/">Festival Maek Resmi Dibuka, Supardi: Maek Bakal jadi Pariwisata Khusus</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">207727</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Festival Maek Mengungkap Misteri Peradaban Dunia</title>
		<link>https://langgam.id/festival-maek-mengungkap-misteri-peradaban-dunia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Jul 2024 05:45:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Maek]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Maek]]></category>
		<category><![CDATA[Payakumbuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=207673</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Festival Maek hadir dengan tujuan mengangkat potensi wisata peradaban dunia yang masih terselubung dalam misteri, menjadikannya terang dan dikenal oleh dunia. Ketua DPRD Sumatera Barat, Supardi menyampaikan hal ini saat kegiatan berlangsung pada Rabu, 17 Juli 2024. Menurutnya, persiapan festival ini telah dilakukan sejak tahun 2023 oleh tim kerja Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat. &#8220;Kami mengundang perwakilan dari Mesir, Jepang, dan Australia untuk hadir dan berbagi pandangan mengenai budaya peradaban Maek. Selain itu, kami juga telah melaporkan kegiatan ini kepada UNESCO dan BRIN di Jakarta,&#8221; ujar Supardi. Supardi menambahkan bahwa Festival Maek membuka peluang besar bagi peneliti, arkeolog</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/festival-maek-mengungkap-misteri-peradaban-dunia/">Festival Maek Mengungkap Misteri Peradaban Dunia</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Festival Maek hadir dengan tujuan mengangkat potensi wisata peradaban dunia yang masih terselubung dalam misteri, menjadikannya terang dan dikenal oleh dunia.</p>



<p>Ketua DPRD Sumatera Barat, Supardi menyampaikan hal ini saat kegiatan berlangsung pada Rabu, 17 Juli 2024. Menurutnya, persiapan festival ini telah dilakukan sejak tahun 2023 oleh tim kerja Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat.</p>



<p>&#8220;Kami mengundang perwakilan dari Mesir, Jepang, dan Australia untuk hadir dan berbagi pandangan mengenai budaya peradaban Maek. Selain itu, kami juga telah melaporkan kegiatan ini kepada UNESCO dan BRIN di Jakarta,&#8221; ujar Supardi.</p>



<p>Supardi menambahkan bahwa Festival Maek membuka peluang besar bagi peneliti, arkeolog dunia, dan wisatawan mancanegara untuk datang ke Nagari Maek. &#8220;Kami berharap Festival Maek dapat menjadi bagian dari kalender tahunan pariwisata Sumbar. Potensi kebudayaan Maek dan daerah sekitarnya, seni tradisi, serta pertunjukan kebudayaan akan semakin memeriahkan festival ini di masa mendatang, dan menarik lebih banyak wisatawan mancanegara,&#8221; katanya.</p>



<p>Informasi dari panitia penyelenggara menyebutkan bahwa Festival Maek 2024 di Nagari Maek akan dibuka secara resmi oleh Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, pada pukul 20.00 WIB. Acara ini juga akan dihadiri oleh perwakilan dari BRIN, Bupati Limapuluh Kota, Walikota Payakumbuh, kepala OPD terkait, serta elemen masyarakat Maek.</p>



<p>Dengan segala persiapan dan dukungan yang telah dilakukan, Festival Maek diharapkan mampu mengungkap tabir misteri peradaban dunia dan mengangkat potensi wisata Sumatera Barat ke kancah internasional. (*/Yh)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/festival-maek-mengungkap-misteri-peradaban-dunia/">Festival Maek Mengungkap Misteri Peradaban Dunia</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">207673</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Anak Nagari Gotong Royong Persiapkan Festival Maek</title>
		<link>https://langgam.id/anak-nagari-gotong-royong-persiapkan-festival-maek/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Jul 2024 10:32:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Maek]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=207639</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Menjelang gelaran Festival Maek (17-20 Juli 2024), masyarakat bergotong royong di sekitar area festival, di Jorong Koto Tangah, Nagari Maek. Rute menuju area festival pun turut dibuat bersih dan nyaman bagi pengunjung dan tamu festival. Menurut Wali Nagari Maek, Efrizal Hendri Dt Patiah, kegiatan ini adalah salah satu bentuk dukungan masyarakat terhadap festival.&#160; “Secara umum, masyarakat Maek sangat mendukung festival ini. Niniak Mamak, Cadiak Pandai, jajaran pemerintah, dst, ” katanya saat diwawancarai pada selasa (16/7/2024). Meskipun pada awalnya sempat ada friksi dalam masyarakat Maek, katanya melanjutkan, semua pada akhirnya dapat dikoordinasikan.&#160; “Intinya kita mendukung, sangat mendukung, selagi tujuannya</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/anak-nagari-gotong-royong-persiapkan-festival-maek/">Anak Nagari Gotong Royong Persiapkan Festival Maek</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Menjelang gelaran Festival Maek (17-20 Juli 2024), masyarakat bergotong royong di sekitar area festival, di Jorong Koto Tangah, Nagari Maek. Rute menuju area festival pun turut dibuat bersih dan nyaman bagi pengunjung dan tamu festival.</p>



<p>Menurut Wali Nagari Maek, Efrizal Hendri Dt Patiah, kegiatan ini adalah salah satu bentuk dukungan masyarakat terhadap festival.&nbsp;</p>



<p>“Secara umum, masyarakat Maek sangat mendukung festival ini. Niniak Mamak, Cadiak Pandai, jajaran pemerintah, dst, ” katanya saat diwawancarai pada selasa (16/7/2024).</p>



<p>Meskipun pada awalnya sempat ada friksi dalam masyarakat Maek, katanya melanjutkan, semua pada akhirnya dapat dikoordinasikan.&nbsp;</p>



<p>“Intinya kita mendukung, sangat mendukung, selagi tujuannya untuk kebaikan bersama. Kita dukung penuh,” lanjut Wali Nagari muda itu.&nbsp;</p>



<p>Sedari awal, anak nagari Maek turut menginisiasi Festival Maek. Dalam Focus Discussion Group (FGD) yang digelar di Maek pada Juli 2023 lalu, perlunya sebuah festival untuk mempromosikan potensi wisata dan budaya Maek. Tidak hanya ke masyarakat Indonesia, namun juga ke warga dunia.&nbsp;</p>



<p>Selain turut menginisiasi festival, anak nagari Maek juga ikut berpartisipasi sebagai penampil dalam festival. Beberapa kesenian tradisi yang hidup di Maek akan dipertunjukan dalam festival, seperti ‘Rabab Maek’.&nbsp;</p>



<p>Di samping itu, anak nagari Maek juga membuat karya pertunjukan bersama dengan komposer dan koreografer dari Indonesia, Jerman, dan Australia. Mereka adalah Sendi Oryzal, Jefriandi Usman, Bianca Sere Pulungan, dan Janette Hoe, yang berkolaborasi dengan 20 anak nagari Maek untuk membuat seni pertunjukan bertajuk “MASA”.&nbsp;</p>



<p>Seni pertunjukan kolaboratif itu akan ditampilkan di malam pembukaan dan penutupan Festival Maek.&nbsp;</p>



<p>Direktur Festival Maek, Donny Eros, mengatakan, Festival Maek memang berupaya melibatkan anak nagari secara aktif dalam perencanaan, konsep, serta dalam pertunjukan-pertunjukan.</p>



<p>“Kita, kan, memang inginnya festival itu berasal dari bawah, bukan sepenuhnya dicangkokkan dari atas,” kata akademisi dari FIB Unand tersebut saat diwawancarai pada Selasa (16/7/2024).&nbsp;</p>



<p>“Jadi festival tidak hanya selebrasi, tapi juga ada pertukaran budaya antara komunitas lokal, interaksi budaya dan keilmuan antara komunitas lokal dan para fasilitator dari luar Maek di dalamnya,” jelasnya lebih jauh.&nbsp;</p>



<p>Eros juga menyinggung soal pentingnya pelibatan komunitas lokal dalam festival, terutama festival terkait cagar budaya di Dunia Ketiga.&nbsp;</p>



<p>“Cagar-cagar budaya Dunia Ketiga selama ini cenderung terabaikan, kalah pamor oleh cagar-cagar budaya Dunia Pertama. Kondisi seperti ini, ada kaitannya dengan semacam bias dalam melihat nilai penting suatu cagar budaya,” jelasnya sambil menambahkan bahwa nilai penting cagar budaya itu dirumuskan dari atas, bersifat <em>top-down, </em>dan cenderung mengabaikan suara komunitas lokal pemilik cagar budaya.</p>



<p>Selain pertunjukan kolaboratif “MASA,” selama 4 hari Festival Maek akan menghadirkan sejumlah pertunjukan budaya dari Kabupaten-kabupaten di Sumbar dan Provinsi lain di Indonesia.&nbsp;</p>



<p>Ada pertunjukan gamelan dari Gamelan Kalatidha, Jawa Tengah, performance art dari Riau yang berkisah tentang Candi Muara Takus, hingga kesenian-kesenian tradisional Minangkabau seperti Sirompak Taeh, Dikia Pano, Tari Togah, Ulu Ambek, dan sebagainya. (*/Fs)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/anak-nagari-gotong-royong-persiapkan-festival-maek/">Anak Nagari Gotong Royong Persiapkan Festival Maek</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">207639</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ketua DPRD Supardi Buka Diskusi dan Pameran Pra Festival Maek</title>
		<link>https://langgam.id/ketua-dprd-supardi-buka-diskusi-dan-pameran-pra-festival-maek/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Jul 2024 23:31:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Maek]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua DPRD Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=207537</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Peradaban Maek masih dalam tabir misteri yang belum terungkap. Cerita peradaban ini merupakan eksistensi keberadaan bagi ranah minang dan Sumatera Barat Hal ini disampaikan Ketua DPRD Sumatera Barat Supardi, ketika membuka Diskusi Internasional Hasil Riset dan FGD dengan pembicara dari Mesir, Jepang dan Indonesia, di Aula Ngalau Indah Balaikota Payakumbuh, 14-16 Juli 2024. Ketua DPRD juga mengatakan, inspirasi peradaban Maek sejak tahun 2022 diskusikan dengan para tokoh tokoh dosen, Masyarakat Maek melihat peluang dan potensi besar ini. &#8220;Para pakar peneliti dunia dan UGM telah memulai berbagai ekskafasi terhadap tengkorak yang ditemukan, namun belum menemui titik terang baik dalam</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ketua-dprd-supardi-buka-diskusi-dan-pameran-pra-festival-maek/">Ketua DPRD Supardi Buka Diskusi dan Pameran Pra Festival Maek</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Peradaban Maek masih dalam tabir misteri yang belum terungkap. Cerita peradaban ini merupakan eksistensi keberadaan bagi ranah minang dan Sumatera Barat</p>



<p>Hal ini disampaikan Ketua DPRD Sumatera Barat Supardi, ketika membuka Diskusi Internasional Hasil Riset dan FGD dengan pembicara dari Mesir, Jepang dan Indonesia, di Aula Ngalau Indah Balaikota Payakumbuh, 14-16 Juli 2024.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" width="1013" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.38_eacbf635.jpg?resize=1013%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-207685" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.38_eacbf635.jpg?resize=1013%2C675&amp;ssl=1 1013w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.38_eacbf635.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.38_eacbf635.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.38_eacbf635.jpg?resize=1536%2C1024&amp;ssl=1 1536w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.38_eacbf635.jpg?resize=2048%2C1365&amp;ssl=1 2048w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure>



<p>Ketua DPRD juga mengatakan, inspirasi peradaban Maek sejak tahun 2022 diskusikan dengan para tokoh tokoh dosen, Masyarakat Maek melihat peluang dan potensi besar ini.</p>



<p>&#8220;Para pakar peneliti dunia dan UGM telah memulai berbagai ekskafasi terhadap tengkorak yang ditemukan, namun belum menemui titik terang baik dalam DNA maupun masa usia keberadaan peradaban Maek,&#8221; ujarnya Supardi dalam keterangan resmi, dikutip Senin (15/7/2024).</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" width="1013" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.40_391e7e03.jpg?resize=1013%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-207687" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.40_391e7e03.jpg?resize=1013%2C675&amp;ssl=1 1013w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.40_391e7e03.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.40_391e7e03.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.40_391e7e03.jpg?resize=1536%2C1024&amp;ssl=1 1536w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.40_391e7e03.jpg?resize=2048%2C1365&amp;ssl=1 2048w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure>



<p>Pelaksanaan Festival Maek ini, kata Supardi mendapat suport banyak orang terbaik dalam upaya mengungkap keberadaan peradaban dalam bentuk acara festival Maek ini.</p>



<p>&#8220;Jika ini terungkap tentunya membuka mata dunia internasional dan ini akan memberikan dampak luak Limapuluh Kota dan Sumatera Barat akan menjadi perhatian dunia,&#8221; ungkap Supardi.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" width="1013" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.41_01d1543c.jpg?resize=1013%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-207695" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.41_01d1543c.jpg?resize=1013%2C675&amp;ssl=1 1013w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.41_01d1543c.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.41_01d1543c.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.41_01d1543c.jpg?resize=1536%2C1024&amp;ssl=1 1536w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.41_01d1543c.jpg?resize=2048%2C1365&amp;ssl=1 2048w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure>



<p>Supardi menambahkan, peneliti UGM melakukan eksapasi tengkorak Maek pada tahun 1985. Dan disisi lain pusat riset BRIN juga melakukan ekskavasi tahun 2005 bahwa di Dagung-dangung termukan usia Menhir pada abad 1- 8 sebelum Masehi.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="1013" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.39_18422787.jpg?resize=1013%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-207688" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.39_18422787.jpg?resize=1013%2C675&amp;ssl=1 1013w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.39_18422787.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.39_18422787.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.39_18422787.jpg?resize=1536%2C1024&amp;ssl=1 1536w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.39_18422787.jpg?resize=2048%2C1365&amp;ssl=1 2048w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure>



<p>&#8220;Ini jelas sebelum Islam belum masuk ke Indonesia. Dan saat ini masih menunggu akhir Juli 2024 hasil carbon deting tengkorak Maek oleh labor Australia, mudah mudahan keluar, perkiraan sementara ada 4000 tahun Sebelum Masehi. Seperti apa maek besar zaman itu ..? &#8220;, jelasnya.</p>



<p>Sekdako Payakumbuh, Rida Ananda MSi juga mengatakan, mengalir sejarah maek, memberitahu dunia ada bukti sejarah luak limapuluh.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="1013" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.40_33200654.jpg?resize=1013%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-207690" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.40_33200654.jpg?resize=1013%2C675&amp;ssl=1 1013w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.40_33200654.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.40_33200654.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.40_33200654.jpg?resize=1536%2C1024&amp;ssl=1 1536w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.40_33200654.jpg?resize=2048%2C1365&amp;ssl=1 2048w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure>



<p>&#8220;Atas nama pemerintah kota menyambut kegiatan ini karena kunjungan akan meningkat di payakumbuh. Payakumbuh city of randang, siap menyambut kedatangan para tamu festival Maek,&#8221; ujarnya.</p>



<p>Kadis Kebudayaan Kabid Budaya minangkabau Asril, Limapuluh Kota kaya dengan peninggalan sejarah. Nagari Maek kecamatan Bukit Barisan merupakan aset potensi besar wisata kebudayaan dan peradaban.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="1013" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.39_44df15e1.jpg?resize=1013%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-207691" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.39_44df15e1.jpg?resize=1013%2C675&amp;ssl=1 1013w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.39_44df15e1.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.39_44df15e1.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.39_44df15e1.jpg?resize=1536%2C1024&amp;ssl=1 1536w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-14-at-19.05.39_44df15e1.jpg?resize=2048%2C1365&amp;ssl=1 2048w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure>



<p>&#8220;Kegiatan diskusi Intenasional Hasil Riset merupakan rangkaian festival yang akan di selenggarakan di Nagari Maek nantinya pada tanggal 17-20 Juli 2024. Ketua DPRD Sumbar sosok Supardi sangat inten sekali tentang kebudayaan, adat istiadat dan lain -lain untuk memajukan Sumbar, kita bangga akan hal tersebut,&#8221; ujarnya. (*/Fs)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ketua-dprd-supardi-buka-diskusi-dan-pameran-pra-festival-maek/">Ketua DPRD Supardi Buka Diskusi dan Pameran Pra Festival Maek</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">207537</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pameran dan Diskusi Arkeologi dalam Membentangkan Maek</title>
		<link>https://langgam.id/pameran-dan-diskusi-arkeologi-dalam-membentangkan-maek/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Jul 2024 07:37:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Maek]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=207523</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Pameran dan diskusi &#8220;Membentangkan Maek&#8221; resmi dibuka, Minggu, (14/7/2024). Pembukaan pameran itu dibuka langsung oleh Ketua DPRD Sumbar Supardi, di Gedung Gambir Fakultas Pertanian Unand, Kota Payakumbuh. Pameran ini merupakan salah satu rangkaian pra-event Festival Maek yang bakal digelar 17-20 Juli 2024 mendatang. Pameran ini terbuka untuk umum dan dapat dikunjungi mulai pukul 15.00 &#8211; 16.00 WIB. Pengunjung bakal disajikan untuk pertama kalinya dalam 40 tahun terakhir, hasil riset terbaru tentang peradaban Maek. Maek sendiri dikenal sebagai &#8220;Negeri Seribu Menhir&#8221; yang masih menyimpan misteri tentang peradaban masa lampau di Kabupaten 50 Kota. Disana kita dapat melihat timeline masa-masa</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pameran-dan-diskusi-arkeologi-dalam-membentangkan-maek/">Pameran dan Diskusi Arkeologi dalam Membentangkan Maek</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Pameran dan diskusi &#8220;Membentangkan Maek&#8221; resmi dibuka, Minggu, (14/7/2024). Pembukaan pameran itu dibuka langsung oleh Ketua DPRD Sumbar Supardi, di Gedung Gambir Fakultas Pertanian Unand, Kota Payakumbuh. Pameran ini merupakan salah satu rangkaian pra-event Festival Maek yang bakal digelar 17-20 Juli 2024 mendatang.</p>



<p>Pameran ini terbuka untuk umum dan dapat dikunjungi mulai pukul 15.00 &#8211; 16.00 WIB. Pengunjung bakal disajikan untuk pertama kalinya dalam 40 tahun terakhir, hasil riset terbaru tentang peradaban Maek. Maek sendiri dikenal sebagai &#8220;Negeri Seribu Menhir&#8221; yang masih menyimpan misteri tentang peradaban masa lampau di Kabupaten 50 Kota.</p>



<p>Disana kita dapat melihat timeline masa-masa awal penelitian Maek dari tahun 1980 an. Pengunjung juga bakal disajikan banyak pengetahuan terbaru berkisar soal menhir dan peradaban manusia yang mendukungnya. Beberapa bagian kerangka manusia yang berhasil di ekskavasi pada tahun 1985 dan 1986 juga dibawa untuk ditampilkan pada pameran.</p>



<p>Supardi saat membuka pameran menekankan pentingnya pameran ini dalam mempromosikan budaya dan pariwisata daerah. “Kita ingin jadikan Maek sebagai perubahan paradigma. Kalau hanya keindahan alam, negara lain juga punya. Kalau Sumbar bangkit dari pariwisata, yang harus bangkit itu budayanya,” ujarnya, Minggu (14/07/2024)</p>



<p>Selain itu, ia mengatakan bahwa festival ini kalau berhasil akan membuktikan pada dunia bahwa di Sumatra Barat terdapat situs arkeologi yang bakal mengubah narasi sejarah. &#8220;Selama ini kita tak acuh pada cagar budaya dari peradaban kuno ini, baru setelah 40 tahun, untuk pertama kalinya Maek di pamerkan,&#8221; ucap Supardi.</p>



<p>Pembukaan ini dihadiri oleh siswa siswa SD dan SMP dari Payakumbuh. Raffi Salah seorang siswa dari SMP Negeri 01 Kota Payakumbuh, mengatakan ia sangat antusias melihat benda peninggalan sejarah ini. &#8220;Baru sekali lihat yang seperti ini, hal baru bagi saya,&#8221; katanya. Raffi juga berniat dalam helat Festival Maek ini bakal pergi berkunjung ke situs-situs tempat menhir ditemukan.</p>



<p>Selain itu pameran ikut dikunjungi, Dinas Kebudayaan berbagai kabupaten kota, masyarakat Maek, tokoh masyarakat, akademisi, mahasiswa, jurnalis, beberapa komunitas, dan warga secara umum.</p>



<p>Pada hari ini juga dilakukan diskusi soal Kebijakan Provinsi Sumatera Barat Terkait Warisan dan Pelestarian Budaya. Diskusi ini dilakukan di aula Balai Kota Payakumbuh dengan peserta dari berbagai kalangan.</p>



<p>Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar Jefrinal Arifin mengatakan bahwa potensi budaya yang ada di Sumatra Barat mesti lebih digali kedepanya. &#8220;Kita mesti merawat dan menggali potensi dari semua cagar budaya dan kebudayaan yang ada di Sumbar. Itu semua mesti dijaga dan bermanfaat bagi masyarakat,&#8221; ucapnya, Minggu (14/07/2024).</p>



<p>Ia menjelaskan bahwa beberapa provinsi lain di Indonesia telah mengubah paradigma pariwisatanya. Sebut saja Bali dan Yogyakarta. Dua provinsi itu telah menggeser cara untuk menggaet wisatawan atau turis ke daerahnya dengan menonjolkan sisi budaya.</p>



<p>Dengan adanya kedatangan turis ini, perekonomian masyarakat yang merawat budaya dapat bergulir. Hal ini secara tidak langsung bakal menambah keinginan masyarakat untuk merawat benda budaya.</p>



<p>Maek adalah pintu untuk membuka paradigma tersebut di Sumatera Barat. Ia dan Dinas Kebudayaan Sumbar bakal mengembangkan hal serupa di beberapa tempat lainnya. &#8220;Semoga apa yang kita usahakan di Maek, bisa memajukan kebudayaan di Sumbar,&#8221; kata Jefrinal.</p>



<p>Pameran dan diskusi pra event Festival Maek ini bakal berlangsung dari 14-16 Juli mendatang. Selain dua kegiatan di atas, hari ini juga diadakan diskusi &#8220;Riset Perjalanan Maek&#8221; yang dipaparkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).</p>



<p>Dua hari berikutnya para pakar arkeologi dari dalam dan luar negeri juga akan menggelar diskusi dengan beberapa tema. Diantaranya, &#8220;Simbol dan Peradaban Kuno&#8221; oleh ahli dari Mesir. &#8220;Maek Sebagai Warisan Dunia,&#8221; oleh guru besar dari Universitas Andalas.</p>



<p>Kemudian diskusi &#8220;Maek dan Masa Depan Peradaban&#8221; serta &#8220;Maek dan Asal Mula Bahasa Minangkabau&#8221;. (*/Fs)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pameran-dan-diskusi-arkeologi-dalam-membentangkan-maek/">Pameran dan Diskusi Arkeologi dalam Membentangkan Maek</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">207523</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Setelah Hampir 40 Tahun, Peneliti Bakal Diskusikan Temuan Terbaru Peradaban Kuno Maek</title>
		<link>https://langgam.id/setelah-hampir-40-tahun-peneliti-bakal-diskusikan-temuan-terbaru-peradaban-kuno-maek/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Jul 2024 13:39:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Maek]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=207493</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Hampir 40 tahun lalu para arkeolog melakukan ekskavasi/penggalian di Situs Menhir Bawah Parit, Maek. Penggalian oleh tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bekerjasama dengan Bidang Muskala Kanwil Pendidikan dan Kebudayaan Sumatera Barat itu, berhasil menemukan 7 rangka manusia yang dikubur di bawah menhir-menhir Bawah Parit. Hampir 40 tahun pula tak ada kemajuan berarti dalam menindaklanjuti temuan 7 rangka manusia Maek itu. Tak ada rancangan penelitian lanjutan yang mendalam dan serius terhadap temuan tersebut. Tak ada dorongan kuat untuk meneliti peradaban kuno Maek secara lebih mendalam dan luas. Maek bisa dikatakan ditelantarkan dalam gelanggang penelitian arkeologi Indonesia, apalagi dunia.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/setelah-hampir-40-tahun-peneliti-bakal-diskusikan-temuan-terbaru-peradaban-kuno-maek/">Setelah Hampir 40 Tahun, Peneliti Bakal Diskusikan Temuan Terbaru Peradaban Kuno Maek</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Hampir 40 tahun lalu para arkeolog melakukan ekskavasi/penggalian di Situs Menhir Bawah Parit, Maek. Penggalian oleh tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bekerjasama dengan Bidang Muskala Kanwil Pendidikan dan Kebudayaan Sumatera Barat itu, berhasil menemukan 7 rangka manusia yang dikubur di bawah menhir-menhir Bawah Parit.</p>



<p>Hampir 40 tahun pula tak ada kemajuan berarti dalam menindaklanjuti temuan 7 rangka manusia Maek itu. Tak ada rancangan penelitian lanjutan yang mendalam dan serius terhadap temuan tersebut. Tak ada dorongan kuat untuk meneliti peradaban kuno Maek secara lebih mendalam dan luas.</p>



<p>Maek bisa dikatakan ditelantarkan dalam gelanggang penelitian arkeologi Indonesia, apalagi dunia. Lembah tempat berdiamnya ratusan menhir dengan berbagai tipe, ukuran, dan pola ukir, seperti kurang menarik untuk dijadikan lahan penelitian arkeologis.</p>



<p>Begitu banyak pertanyaan tentang peradaban kuno Maek. Siapakah mereka sebetulnya? Bagaimana struktur sosialnya? Apa kaitannya dengan kebudayaan Minangkabau? Bagaimana posisinya di antara peradaban-peradaban kuno di Indonesia dan dunia? Berapa umur peradaban itu?</p>



<p>Tapi sejak 2023 lalu, muncul keinginan dari kalangan masyarakat, pemerintah, DPRD, serta masyarakat Maek sendiri, untuk betul-betul mendudukkan pertanyaan-pertanyaan tersebut.</p>



<p>Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat dengan dukungan Ketua DPRD Sumbar, Supardi, membentuk tim ahli untuk mengumpulkan kembali data-data arkeologis terdahulu, terutama 7 rangka manusia Maek.</p>



<p>Tim ahli itu kemudian bekerjasama dengan lembaga penelitian seperti BRIN, UGM, Labor Unpad, melakukan penelitian ulang atas 7 rangka manusia Maek itu. Tak hanya penelitian ulang, penelitian uji karbon dan tes DNA juga tengah dilakukan bekerjasama dengan Universitas Adelaide, Australia.</p>



<p>Di samping itu, Dinas Kebudayaan juga membentuk tim <em>feasibility study, </em>untuk mengkaji kawasan Maek dari berbagai sisi. Tim ini berhasil sejumlah temuan baru terkait menhir Maek, mulai dari tipologi hingga pola ukir yang selama ini belum dikenali. Mereka juga ‘menemukan’ sejumlah situs baru di Maek.</p>



<p>Temuan baru serta perkembangan penelitian tentang Maek itulah yang akan&nbsp; dibentangkan kepada publik dalam diskusi dan pameran pra-Festival Maek. Dimulai Minggu 14 Juli hingga Selasa 16 Juli 2024.</p>



<p>“Beberapa temuan baru dan hasil riset laboratorium dan penelitian lapangan di Maek, akan didiskusikan dan dipamerkan kepada khalayak,” kata Direktur Program Festival Maek, Robby Satria, Sabtu (13/7/24).</p>



<p>Temuan-temuan tersebut, lanjut Robby, menambah data tentang peradaban kuno Maek. “Data-data ini akan berguna untuk penelitian mengenai peradaban Maek kedepannya”.</p>



<p>Lebih jauh, Robby menjelaskan soal hasil uji analisis odontologi forensik dan arkeo-odontologi secara radiograf 3D (CBCT) terhadap 4 rangka manusia Maek yang diekskavasi pada 1986 lalu.</p>



<p>Dari analisis di laboratorium arkeo-odontologi forensik, Fakultas Kedokteran Gigi Unpad itu, diketahui umur, ras, serta jenis kelamin 4 rangka manusia Maek itu.</p>



<p>“Data terbaru ini mengoreksi data sebelumnya dari tahun 1986,” lanjut Penggiat Budaya Kemdikbudristek itu. “Ini adalah kemajuan luar biasa, setelah terhentinya penelitian serius terhadap rangka-rangka tersebut sejak digali.”</p>



<p>Dalam pameran bertajuk “Membentangkan Maek: Pameran Hasil Riset dan FGD Maek” itu, salah satu rangka manusia Maek juga turut dipamerkan kepada publik. Ini adalah kali pertama rangka itu ‘pulang’ ke asalnya.</p>



<p>Pameran ini akan dibuka pada Minggu pagi (13/7/24) di Gedung Gambir / Pertanian Unand di Payakumbuh dan terbuka untuk umum.</p>



<p>“Dalam kegiatan pra-festival ini, juga ada beberapa diskusi mengenai peradaban kuno Maek,” tambah Robby.</p>



<p>Diskusi akan dipantik oleh para pakar di bidangnya masing-masing. Ada R Triwurjani, arkeolog dari BRIN yang telah berpengalaman meneliti Maek. Ada Prof. Gadha Gemaiey pakar simbolisme dan peradaban kuno dari Mesir, Dr Satoru Miwa ahli restorasi dan konservasi cagar budaya, serta Prof Nadra linguis FIB Unand yang punya kepakaran di bidang lingustik di daerah 50 Kota.</p>



<p>Diskusi-diskusi tersebut digelar di Lantai 3 Kantor Balaikota Payakumbuh selama 2 hari, dari&nbsp; 14 hingga 15 Juli 2024. Diskusi lainnya akan berlangsung di Agam Jua Cafe pada 16 Juli 2024.</p>



<p>“Setelah kegiatan pra-festival, kita akan segera menggelar puncak festival di Maek selama 4 hari, dari 17 &#8211; 20 Juli 2024,” tutup Robby sambil menambahkan bahwa sejumlah pertunjukan menarik telah disiapkan untuk acara puncak di Maek. (*/Fs)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/setelah-hampir-40-tahun-peneliti-bakal-diskusikan-temuan-terbaru-peradaban-kuno-maek/">Setelah Hampir 40 Tahun, Peneliti Bakal Diskusikan Temuan Terbaru Peradaban Kuno Maek</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">207493</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Membentangkan Maek: Dari Pameran Sampai Diskusi Arkeologi Internasional</title>
		<link>https://langgam.id/membentangkan-maek-dari-pameran-sampai-diskusi-arkeologi-internasional/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jul 2024 11:05:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Maek]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=207398</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Festival Maek bakal segra digelar 17-20 Juli 2024 mendatang. Untuk melengkapi narasi panjang dan misteri peradaban Maek, juga akan digelar pameran dan diskusi dalam rangkaian pra festival di kota Payakumbuh. Pameran dan diskusi itu dilakukan selama tiga hari dari tanggal 14-16 Juli 2024. Pameran ini diberi tajuk &#8220;Membentangkan Maek&#8221; dan diselenggarakan di gedung Gambir (Fakultas Pertanian Unand) Payakumbuh. Direktur Festival Donny Eros mengatakan, pameran ini adalah upaya menyampaikan sejumlah kemajuan penelitian tentang Maek. &#8220;Hasil-hasil temuan tim ahli dan tim riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang pada 2023 lalu melakukan serangkaian riset untuk mendudukkan pengetahuan tentang</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/membentangkan-maek-dari-pameran-sampai-diskusi-arkeologi-internasional/">Membentangkan Maek: Dari Pameran Sampai Diskusi Arkeologi Internasional</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Festival Maek bakal segra digelar 17-20 Juli 2024 mendatang. Untuk melengkapi narasi panjang dan misteri peradaban Maek, juga akan digelar pameran dan diskusi dalam rangkaian pra festival di kota Payakumbuh. Pameran dan diskusi itu dilakukan selama tiga hari dari tanggal 14-16 Juli 2024.</p>



<p>Pameran ini diberi tajuk &#8220;Membentangkan Maek&#8221; dan diselenggarakan di gedung Gambir (Fakultas Pertanian Unand) Payakumbuh. Direktur Festival Donny Eros mengatakan, pameran ini adalah upaya menyampaikan sejumlah kemajuan penelitian tentang Maek.</p>



<p>&#8220;Hasil-hasil temuan tim ahli dan tim riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang pada 2023 lalu melakukan serangkaian riset untuk mendudukkan pengetahuan tentang peradaban kuno Maek, dipajang di galeri pameran,&#8221; katanya, Kamis (11/07/2024).</p>



<p>Lanjutnya, sebagian materi yang dipamerkan adalah hasil riset terbaru atas kerangka manusia Maek yang diekskavasi pada 1986 lalu. Beberapa temuan baru Tim Pengkajian Kawasan Budaya Maek juga dipamerkan. Mulai dari tipologi menhir yang sebelumnya belum dikenal hingga temuan-temuan situs-situs menhir terbaru di Maek.</p>



<p>Hasil-hasil riset tersebut tidak hanya dipamerkan tapi juga bakal didiskusikan dalam suatu forum diskusi internasional. Arkeolog dan Praktisi Cagar Budaya dari Jepang akan hadir untuk berbagi pandangan mengenai peradaban kuno dan cagar budaya di tataran global. Tim riset dari BRIN juga akan memaparkan hasil penelitian terbarunya atas kerangka manusia Maek.</p>



<p>Kegiatan rencanya bakal di buka pada Minggu (14/07/2024), di gedung Gambir dan bakal diikuti oleh pelajar, mahasiswa, peneliti, dan masyarakat Maek. Ketua DPRD Sumatera Barat dan Dinas Kebudayaan Sumbar akan memaparkan kebijakan pemerintah provinsi terkait warisan dan pelestarian budaya.</p>



<p>Kegiatan itu selama tiga hari kedepannya akan diikuti oleh berbagai kalangan. Mulai dari Dinas Kebudayaan berbagai kabupaten kota, masyarakat Maek, tokoh masyarakat, akademisi, mahasiswa, jurnalis, dan beberapa komunitas. Bertempat di Aula Balaikota Payakumbuh, di hari yang sama sehabis Ishoma juga akan diadakan pemaparan &#8220;Riset Perjalanan Maek&#8221; oleh peneliti dari BRIN.</p>



<p>Di hari ke-2 pra festival para pakar arkeologi dari dalam dan luar negeri juga akan menggelar diskusi dengan dua tajuk. Pertama diskusi &#8220;Simbol dan Peradaban Kuno&#8221; oleh ahli dari Mesir. Kedua workshop &#8220;Maek Sebagai Warisan Dunia,&#8221; oleh guru besar dari Universitas Andalas.</p>



<p>&#8220;Pada hari terkahir atau ke-3 kita bakal mengulas &#8216;Maek dan Masa Depan Peradaban&#8217;. Arkeolog dari Jepang juga akan menyampaikan hasil temuannya perihal &#8216;Maek dan Asal Mula Bahasa Minangkabau&#8217;,&#8221; kata Donny.</p>



<p>Pameran pada 15 dan 16 Juli akan dibuka mulai pukul 10.00 &#8211; 18.00 WIB. Masyarakat dapat mengunjungi dan melihat sendiri hasil riset tentang Maek secara langsung di sana.</p>



<p>Mengumpulkan Yang Terserak</p>



<p>Donny bercerita, pada 2023 lalu Tim Ahli yang diketuai Prof Herwandi, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Andalas, mengadakan riset lapangan ke Universitas Gadjah Mada (UGM), Arsip Nasional Republik Indonesia dan BRIN. Riset ini bertujuan katanya untuk mengetahui kelanjutan penelitian tentang Maek pada 1986 lalu.</p>



<p>&#8220;Saat itu tim dari Pusat Arkeologi Nasional dan Arkeologi Universitas Gadjah Mada melakukan ekskavasi di situs Menhir Bawah Parit dan berhasil mengangkat 7 kerangka. Namun setelah itu tidak ada kabar lanjutan soal hasil penelitian. Nasib 7 kerangka tersebut juga tidak tidak begitu jelas oleh masyarakat,&#8221; ujar Donny.</p>



<p>Dari rangkaian riset tersebut tim ahli mengetahui bahwa 7 kerangka tersebut telah dibagi menjadi 3 partisi, yaitu temuan budaya, ekofak, dan partisi terkait biologi. Masing-masing partisi lalu disimpan di tempat berbeda. Temuan budaya disimpan di Arkenas (kini BRIN), di Laboratorium Arkeologi dan Paleontologi Fak Kedokteran UGM, dan di Universitas Padjajaran Bandung.</p>



<p>Juga diketahui dari kunjungn itu, bahwa hasil eskavasi tersebut bukanlah 7 kerangka utuh, tapi ‘sisa-sisa manusia’ dari 7 individu. Karena itu tim peneliti pada 1986, tidak bisa melakukan identifikasi mendalam terhadap kerangka-kerangka tersebut,&#8221; ucapnya. Namun begitu, dari identifikasi sementara tim peneliti 1986 itu berhasil diperoleh keterangan berikut:</p>



<p>Individu pertama (Rangka I) tidak bisa diidentifikasi karena fragmen yang ditemukan terlalu kecil dan telah bercampur tanah. Individu kedua (Rangka II) hanya berupa rahang atas dan rahang bawah. Umurnya diperkirakan antara 24-32 tahun, sedang jenis kelaminnya belum diketahui.</p>



<p>Individu ketiga (Rangka III) berupa fragmen tulang leher. Usia dan jenis kelaminnya belum diketahui. Individu keempat (Rangka IV) berupa rahang bawah dan rahang atas. Berusia antara 34-40 tahun dengan jenis kelamin perempuan. Gigi seri dan taring bagian atas individu ini telah dipangur/diasah. Individu keempat ini berasal dari ras Mongoloid.</p>



<p>Individu kelima (Rangka V) cukup lengkap. Berupa beberapa bagian tulang. Individu keenam (Rangka VI) merupakan temuan paling lengkap, berupa tengkorak kepala, tulang paha kanan, dan tulang paha kiri. Jenis kelamin perempuan dengan usia antara 40-50 tahun. Gigi individu enam juga telah dipangur.&nbsp; Individu ketujuh (Rangka 7) berupa rahang bawah. Jenis kelamin perempuan dengan gigi dipangur.</p>



<p>Lebih jauh, umur budaya 7 kerangka Maek juga perlu diketahui dengan lebih pasti. Sejauh ini, baru umur kerangka di beberapa situs lainnya di Kab Limapuluh Kota sudah diketahui. (*/Fs)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/membentangkan-maek-dari-pameran-sampai-diskusi-arkeologi-internasional/">Membentangkan Maek: Dari Pameran Sampai Diskusi Arkeologi Internasional</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">207398</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Panitia Perpanjang Pendaftaran Lomba Menulis Feature Festival Maek</title>
		<link>https://langgam.id/panitia-perpanjang-pendaftaran-lomba-menulis-feature-festival-maek/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Jun 2024 05:13:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Palanta]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Maek]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=206389</guid>

					<description><![CDATA[<p>LanggamInfo &#8211; Pendaftaran lomba menulis feature Festival Maek, diperpanjang hingga 10 Juli 2024. Perpanjangan ini, kata Direktur Progam Roby Satria, untuk memberi waktu lebih bagi teman-teman penulis untuk mempersiapkan naskahnya. Perlombaan dengan tema Tak Terlupakan, Belum Terpecahkan: Membongkar Rahasia Peradaban Kuno Maek,” &#160;ini bertujuan untuk mendorong penelitian dan penulisan kreatif tentang peradaban kuno Maek. Melalui tulisan feature, peserta diharapkan dapat menggali lebih dalam tentang sejarah, budaya, teknologi, dan misteri yang melingkupi peradaban Maek. Direktur progam Festival Maek Roby Satria menambahkan perlombaan juga diadakan untuk mengajak para penulis untuk turut memperkenalkan Maek kepada publik dalam cara populer. “Karya tulis kreatif tentang</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/panitia-perpanjang-pendaftaran-lomba-menulis-feature-festival-maek/">Panitia Perpanjang Pendaftaran Lomba Menulis Feature Festival Maek</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>LanggamInfo</strong> &#8211; Pendaftaran lomba menulis feature Festival Maek, diperpanjang hingga 10 Juli 2024. Perpanjangan ini, kata Direktur Progam Roby Satria, untuk memberi waktu lebih bagi teman-teman penulis untuk mempersiapkan naskahnya.</p>



<p>Perlombaan dengan tema <em>Tak Terlupakan, Belum Terpecahkan: Membongkar Rahasia Peradaban Kuno Maek,” </em>&nbsp;ini bertujuan untuk mendorong penelitian dan penulisan kreatif tentang peradaban kuno Maek.</p>



<p>Melalui tulisan feature, peserta diharapkan dapat menggali lebih dalam tentang sejarah, budaya, teknologi, dan misteri yang melingkupi peradaban Maek.</p>



<p>Direktur progam Festival Maek Roby Satria menambahkan perlombaan juga diadakan untuk mengajak para penulis untuk turut memperkenalkan Maek kepada publik dalam cara populer.</p>



<p>“Karya tulis kreatif tentang Maek, yang dikemas secara populer, bisa kita bilang belum banyak. Di sisi lain, penelitian-penelitian akademik peredarannya juga lebih terbatas di lingkungan akademis, gaya penulisannya pun tentu berbeda, belum tentu bisa dinikmati khalayak ramai,” jelasnya.</p>



<p>Hal tersebut menurut Roby membuat penyebaran pengetahuan tentang Maek menjadi terbatas.</p>



<p>“Ditambah lagi penelitian-penelitan akademik juga masih kurang rasanya. Misalnya kita belum bisa memastikan umur peradaban tersebut. Saat ini kita juga masih menunggu hasil karbon dating terhadap sampel kerangka yang dieskavasi pada 1986 lalu,” tambah penggiat budaya Kemdikbudristek tersebut.</p>



<p>Namun kurangnya hasil penelitian tentang Maek, di satu sisi merupakan hal menarik. “Maek jadi penuh misteri. Nah, sifatnya yang misterius ini yang salah satunya bisa direspon secara kreatif olah teman-teman penulis,” katanya lagi.</p>



<p>“Selain itu bahan-bahan terkait Maek, meski jumlahnya terbatas, juga ada di internet. Teman-teman penulis  juga bisa menggunakannya untuk bahan tulisan,” tutupnya. (*/Fs)</p>



<p></p>



<p>Untuk informasi lebih lengkap tentang lomba, bisa dibaca di bawah:</p>



<p><strong>Term of Reference (TOR)</strong></p>



<p><strong>Lomba Tulisan Feature Festival Maek</strong></p>



<p><strong>Latar Belakang:</strong></p>



<p>Maek telah menjadi subjek penelitian dan spekulasi selama berabad-abad. Kekayaan budaya, kearifan lokal, dan kemajuan teknologi yang mereka miliki telah memukau dan menantang para ahli sejarah dan arkeolog. Namun, keberadaan mereka masih dikelilingi oleh misteri yang belum terpecahkan.</p>



<p><strong>Tujuan Lomba:</strong></p>



<p>Lomba ini bertujuan untuk mendorong penelitian dan penulisan kreatif tentang peradaban kuno Maek. Melalui tulisan feature, peserta diharapkan dapat menggali lebih dalam tentang sejarah, budaya, teknologi, dan misteri yang melingkupi peradaban ini.</p>



<p><strong>Tema</strong>:</p>



<p><em>&#8220;Tak Terlupakan, Belum Terpecahkan: Membongkar Rahasia Peradaban Kuno Maek&#8221;</em></p>



<p><strong>Syarat dan Ketentuan:</strong></p>



<p><strong>Syarat dan Ketentuan:</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Lomba terbuka untuk jurnalis dan penulis lepas (minimal berusia 21 tahun)</li>



<li>Lomba tidak dipungut biaya.</li>



<li>Karya ditulis dalam bahasa Indonesia dengan panjang karya minimal 1.500 kata, <em>Time New Roman</em>, ukuran font 12, spasi 1,5.</li>



<li>Karya yang diikutsertakan terlebih dahulu harus diterbitkan pada salah satu media daring dan cetak (bukan blog, atau platform menulis personal).</li>



<li>Karya yang diunggah merupakan hasil tulisan sendiri, tidak dibuat menggunakan AI, tidak sedang diikutsertakan dalam perlombaan lain, tidak pernah dipublikasikan di media/platfom manapun baik sebagaian atau keseluruhan, tidak mengandung pronografi, tidak mendukung kebencian dan pelecehan berbasis SARA maupun gender.</li>



<li>Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu judul karya.</li>



<li>Peserta membuat Surat Penyartaan Originalitas Karya yang ditandatangani diatas materai dan diunggah saat pendaftaran karya.</li>



<li>Daftar dan unggah karya dalam format .pdf pada link <a href="https://docs.google.com/forms/d/1Vwz_LVwXErUf-5_34MpWqDo3oxPlxa2KKWzrwPWKUuI/viewform?pli=1&amp;pli=1&amp;edit_requested=true">di sini.</a></li>



<li>Peserta yang terbukti melakukan plagiarisme akan langsung didiksualifikasi.</li>



<li>Peserta bertanggung jawab sepenuhnya atas karya yang dikirimkan dan membebaskan pihak penyelenggara dari tuntutan atau perkara hukum yang mungkin timbul atasnya.</li>



<li>Hak cipta atas tulisan tetap milik peserta, namun dengan mengirimkan tulisan, peserta memberikan izin kepada panitia lomba untuk menggunakan dan mempublikasikan tulisan tersebut untuk keperluan promosi festival.</li>



<li>Keputusan dewan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.</li>



<li>Narahubung Elfiana Lathifa Rahma (082389964129)</li>
</ol>



<p><strong>Hadiah:</strong></p>



<p>&#8211; Juara Pertama&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Rp 6.000.000,-</p>



<p>&#8211; Juara Kedua&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Rp 5.000.000,-</p>



<p>&#8211; Juara Ketiga&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Rp 4.000.000,-</p>



<p>&#8211; 3 Juara Harapan &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : @ Rp 2.000.000,-</p>



<p><strong>Hadiah:</strong></p>



<p>&#8211; Juara Pertama&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Rp 6.000.000,-</p>



<p>&#8211; Juara Kedua&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Rp 5.000.000,-</p>



<p>&#8211; Juara Ketiga&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Rp 4.000.000,-</p>



<p>&#8211; 3 Juara Harapan &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : @ Rp 2.000.000,-</p>



<p><strong>Dewan Juri:</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Fachrul Rasjid (Wartawan Senior)</li>



<li>Yusrizal KW (Redaktur Sastra dan Budaya Padang Ekspres 2005-2020</li>



<li>Fatris MF (Penulis buku The Banda Journal)</li>



<li>S Metron Masdison (Curator in-house)</li>
</ul>



<p><strong>Penilaian:</strong></p>



<p>Penilaian akan dilakukan berdasarkan:</p>



<p>&#8211; Kreativitas dan orisinalitas ide.</p>



<p>&#8211; Kualitas penulisan dan struktur naratif.</p>



<p>&#8211; Kedalaman dan ketepatan informasi.</p>



<p>&#8211; Kemampuan peserta dalam mengaitkan berbagai aspek peradaban Maek dengan tema</p>



<p>Follow @maekfestival untuk informasi lainnya.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/panitia-perpanjang-pendaftaran-lomba-menulis-feature-festival-maek/">Panitia Perpanjang Pendaftaran Lomba Menulis Feature Festival Maek</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">206389</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Menhir Maek Tiang Peradaban yang Selaras dengan Semesta</title>
		<link>https://langgam.id/menhir-maek-tiang-peradaban-yang-selaras-dengan-semesta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yose Hendra]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Jun 2024 07:21:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Maek]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=206368</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Batu-batu andesit itu berdiri tegak dengan gagah dan teguh di Lembah Maek. Warisan peradaban megalit itu tingginya bervariasi antara 0,50 hingga 3,60 m. Sisi batunya lebar, agak pipih, dan bagian atasnya melengkung secara artifisial. Dan ratusan menhir yang ada di sana, keluknya menghadap Gunung Sago, nun Tenggara dari Maek. Lembah Maek dengan hamparan seluas lebih kurang 50 km persegi, terletak di daerah terpencil di timur laut Dataran Tinggi Minangkabau, Kabupaten Limapuluh Kota. Kira-kira 45 km sebelah utara Kota Payakumbuh. Lembah Maek berpagarkan pegunungan Bukit Barisan yang bergerigi dan kerap diselimuti kabut tipis, dengan ketinggian sekitar 1.600 meter. Sementara</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/menhir-maek-tiang-peradaban-yang-selaras-dengan-semesta/">Menhir Maek Tiang Peradaban yang Selaras dengan Semesta</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Batu-batu andesit itu berdiri tegak dengan gagah dan teguh di Lembah Maek. Warisan peradaban megalit itu tingginya bervariasi antara 0,50 hingga 3,60 m. Sisi batunya lebar, agak pipih, dan bagian atasnya melengkung secara artifisial. Dan ratusan menhir yang ada di sana, keluknya menghadap Gunung Sago, nun Tenggara dari Maek.</p>



<p>Lembah Maek dengan hamparan seluas lebih kurang 50 km persegi, terletak di daerah terpencil di timur laut Dataran Tinggi Minangkabau, Kabupaten Limapuluh Kota. Kira-kira 45 km sebelah utara Kota Payakumbuh. Lembah Maek berpagarkan pegunungan Bukit Barisan yang bergerigi dan kerap diselimuti kabut tipis, dengan ketinggian sekitar 1.600 meter. Sementara lembah yang menghamparkan sawah-sawah hijau yang subur, gemercik sungai, berada di ketinggian sekitar 450 meter.</p>



<p>Sungai Mahat (Maek) yang bermuara di bagian barat lereng gunung, mengalir melalui lembah ke arah timur laut, melewati jurang yang dalam sebelum berlanjut ke utara hingga mengalir ke Sungai Kampar di dataran rendah bagian timur. Di masa lalu, sungai ini menjadi penghubung Lembah Maek ke dunia luar.</p>



<p>Saat ini, aksesibilitas kawasan Lembah Maek adalah jalan beraspal dari Payakumbuh melalui lembah Sinamar dan melewati celah tinggi di punggung utara Lembah Maek.</p>



<p>Survei yang dilakukan arkeolog dari Freie Universität Berlin, Dominik Bonatz pada bulan Agustus 2014, terhitung ada 788 menhir di 18 situs di Lembah Maek. Namun, Bonatz meyakini jumlah menhir di Lembah Maek lebih dari hal yang tercatat pada survei tersebut.</p>



<p>Keberadaan menhir terdistorsi oleh tangan-tangan manusia. Sebagian menhir dihancurkan, dan sebagian dipindahkan untuk digunakan sebagai bahan bangunan.</p>



<p>“Kami menghitung 788 megalit, padahal jumlah sebenarnya pasti jauh lebih tinggi. Ladang megalit berkelompok di empat wilayah lembah yang berbeda (Koto Tinggi, Ronah, Ampang, Koto Gadang), dengan konsentrasi tertinggi berada di Koto Gadang, dengan sembilan lokasi. Daerah-daerah ini terletak di dataran tinggi yang secara geografis terpisah satu sama lain oleh Sungai Mahat dan anak-anak sungainya yang lebih kecil,” jelasnya dalam <em>Megalithic landscapes in the highlands of Sumatra, </em>yang berpumpun <em>Megaliths Societies Landscapes Early Monumentality And Social Differentiation In Neolithic Europe</em> (Eds.: Johannes Müller, Martin Hinz, Maria Wunderlich), terbitan 2019.</p>



<p>Menhir-menhir yang tertancap di tanah Maek, buah artifisial, murni peradaban manusia di masa prasejarah (Paleometalik).</p>



<p>Dekade 1930-an, arkeolog&nbsp;F.M. Schnitger memimpin ekspedisi arkeologi dan antropologi di titik-titik peradaban megalitik di dataran tinggi Sumatra, termasuk kawasan Lembah Maek. Ia memperkirakan artefak tinggalan megalit di Lembah Maek lahir pada 2000 tahun lalu (berpijak pada keluarnya laporan penelitian yang kemudian dibukukan yakni <em>Forgetten Kingdoms in Sumatra</em>, terbitan E.J Brill, leiden, 1939). Artinya peradaban di Lembah Maek sudah ada sejak sebelum tahun masehi, atau fase prasejarah.<br><br>Schnitger menyamakan peradaban di Lembah Maek tumbuh bersamaan dengan era magalit kawasan Pasemah, Sumatra Selatan.</p>



<p>Menurut Schnitger, para pendiri mungkin juga adalah pembuat perkakas monolitik yang ditemukan di beberapa tempat di sepanjang Kampar Kanan (Sibiruang, Muara Mahat, dan Kuok).</p>



<p>“Alat-alat ini menunjukkan kemiripan luar biasa dengan yang digunakan di Semenanjung Malaya, mengarahkan perhatian kita pada wilayah ini,” katanya.</p>



<p>Di Malaka, menhir dengan bentuk puncak melengkung menunjukkan kemiripan yang mencolok dengan kolom di Puar Datar (sekarang masuk Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunung Omeh. Kawasan yang terintegral dengan Lembah Maek dalam geografis peradaban megalitik). Bedanya, menhir di Malaka lebih kasar dan belum selesai, sementara kolom di Puar Datar diselesaikan dengan hati-hati dan dihiasi.</p>



<p>“Di Pangkalan Kempas, di Negeri Sembilan, terdapat tiang-tiang yang disebut bedang, dihias dengan motif volute dan figur binatang seperti burung, kuda, dan naga. Ini bukan kebetulan, karena pilar di Guguk (Puar Datar) juga memiliki figur hewan konvensional, mirip dengan ikan berkepala burung,” ungkap Schnitger.</p>



<p><strong>Perspektif Lingkungan</strong></p>



<p>Arkeolog Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lutfi Yondri, dalam laporan penelitiannya berjudul <em>Tinggalan Cagar Budaya Lembah Mahat </em>menyebut, ada 4 ragam pola hias menhir yang berserakan di Lembah Maek yakni, pertama, Pola Hias Pilin Berganda; hiasan yang indah ini dikenal sebagai sulur-suluran, menampilkan pola yang berputar dan berkelok-kelok, menciptakan efek visual yang memukau.</p>



<p>Kedua, Pola Hias Geometris; pola segitiga atau tumpal yang digunakan bisa berupa tunggal atau ganda, memberikan sentuhan geometris yang tegas dan menarik pada artefak budaya.</p>



<p>Ketiga, Hiasan Silang; hiasan ini menyerupai angka delapan yang disusun secara horizontal, menambahkan elemen simetri dan keseimbangan pada desain.</p>



<p>Keempat, Pola Hias Genetis; suluran yang menggambarkan bentuk genetis ini memberikan kesan organik dan alami, seolah-olah terinspirasi langsung dari alam.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="487" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/06/Motif-Menhir-di-Lembah-Maek.png?resize=487%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-206376" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/06/Motif-Menhir-di-Lembah-Maek.png?resize=487%2C675&amp;ssl=1 487w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/06/Motif-Menhir-di-Lembah-Maek.png?resize=216%2C300&amp;ssl=1 216w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/06/Motif-Menhir-di-Lembah-Maek.png?w=543&amp;ssl=1 543w" sizes="auto, (max-width: 487px) 100vw, 487px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ornamen Megalit di Lembah Menhir dan sekitarnya. <br>Tangkapan gambar dari buku F.M. Schnitger, <em>Forgetten Kingdoms in Sumatra</em></figcaption></figure>
</div>


<p>Di antara corak hiasannya, ada nuansa perspektif lingkungan atau alam yang amat kental dalam tumbuh kembang peradaban megalit di Lembah Maek.</p>



<p>Pemilihan bahan baku menhir bersumber dari batu pilihan yang teronggok di daerah aliran sungai (DAS) Batang Maek, salah satu hulu Sungai Kampar Kanan.</p>



<p>Lalu, batu diangkut ke tempat pendiriannya, yang biasanya berada di dataran tinggi atau puncak bukit.</p>



<p>“Garis besar megalit yang melengkung terlihat jelas pada permukaan batu alam besar di tepi dasar sungai,” beber Bonatz.</p>



<p>Lantas, pahatan motif pada menhir juga sangat mengagungkan lingkungan sekitar.</p>



<p>Keluk kepala menhir (di situs Koto Tinggi dan Koto Gadang) menatap ke Gunung Sago sarat makna. Gunung Sago terletak di sebelah selatan Sungai Sinamar dekat kota Payakumbuh, dengan jarak sekitar 85 km dari Lembah Maek. Gunung Sago dengan ketinggian 2.271 meter di atas permukaan laut (MDPL), lebih mencolok di antara bukit saling berkait yang memagari Lembah Maek.</p>



<p>Orientasi tatapan menhir dan deretan segitiga pada ornamen sejumlah menhir, menabalkan kelindan menhir dengan Gunung Sago, geomorfologi yang paling tinggi di antara pegunungan Bukit Barisan yang bergerigi di kawasan Limapuluh Kota.</p>



<p>“Deretan segitiga tegak pada megalit sering terlihat menunjukkan gunung. Koneksi ke pegunungan masuk akal sehubungan dengan pengaturan alami batu. Dengan puncaknya yang melengkung, semuanya mengarah ke gunung paling menonjol di wilayah tersebut, yaitu Gunung Sago,” kata Bonatz.</p>



<p>Menurut Bonatz, motif segitiga pada menhir merupakan simbol gunung (gunung berapi), cerminan sesuatu yang dramatis, kuat, kesan magis, dan seringkali mistis dari dataran tinggi tersebut.</p>



<p>Menurut kepercayaan yang berkembang saat itu, arwah leluhur berkumpul di tempat-tempat tinggi seperti gunung atau bukit. Keyakinan ini terpancar dari arah hadap menhir di Nagari Mahat yang selalu mengarah ke tenggara, di mana Gunung Sago menjulang gagah.</p>



<p>Bagi masyarakat Nagari Mahat di masa lampau, mendirikan menhir bukan sekadar menancapkan batu. Di baliknya, terkandung rasa hormat dan penghormatan kepada leluhur, serta harapan agar arwah mereka senantiasa melindungi dan membimbing mereka. Menhir menjadi penghubung antara dunia manusia dan alam leluhur, menjadi media komunikasi dan permohonan doa.</p>



<p>Motif segitiga pada megalit Mahat diukir dekat dasar batu dan berdiri di atas deretan spiral yang berkesinambungan, kemungkinan melambangkan laut. Laut, meskipun jauh dari dataran tinggi, sangat penting dalam kosmologi setempat. Gunung berapi di dataran tinggi Minangkabau terlihat dari laut dan sebaliknya, menandakan hubungan erat antara laut dan gunung dalam perspektif kosmologis.</p>



<p>Dalam konteks ancaman, segitiga dengan spiral yang keluar dapat menggambarkan letusan gunung berapi atau simbol kehidupan dan kesuburan yang diberikan oleh kekuatan gunung. Hal ini menyebabkan gunung dan alam sekitarnya dijaga dengan ketat.</p>



<p>Motif kompleks pada megalit menunjukkan segitiga dipadukan dengan volute dan elemen runcing di dasar, dibingkai oleh elemen seperti perisai yang membangkitkan ruang arsitektur. Volute ini mengingatkan pada motif botani dengan daun yang berakhir dalam bentuk spiral.</p>



<p>Desain spiral dianggap sebagai simbol kesuburan. Volute yang melengkung ke luar menandakan kesuburan wanita, sementara spiral yang melengkung ke dalam melambangkan kesuburan bumi. Deretan segitiga runcing menyerupai desain tekstil Indonesia yang dikenal sebagai tumpal. Di Payakumbuh, desain tumpal adalah elemen standar pada selendang untuk wanita dan kain pinggul untuk pria.</p>



<p>Motif tumpal pada tekstil, mirip dengan segitiga pada megalit Mahat, sering dipadukan dengan crotchets atau volutes. Kesinambungan penggunaan ornamen ini mencerminkan tradisi budaya yang bertahan lama, meskipun makna simbolisnya belum dapat ditentukan.</p>



<p>Petunjuk ikonografi tambahan menunjukkan bahwa megalit tersebut mengandung konsep manusia. Dua batu di Bukit Domo, salah satunya berdiri di antara kelompok batu anikonik, memiliki gambar relief yang menggambarkan jenis batu yang sama, menunjukkan hubungan perlindungan dan regenerasi antarmanusia.</p>



<p><strong>Senandung Kehidupan di Lembah Maek</strong></p>



<p>Artefak megalit di Lembah Maek merupakan jejak kepercayaan dan ritual leluhur di masa lampau. Bentuk ujung menhir yang membengkok ke arah tenggara bukan kebetulan, melainkan cerminan keyakinan mereka akan tempat bersemayam arwah nenek moyang.</p>



<p>&nbsp;“Mereka melambangkan kehidupan, seperti tumpal modern pada tekstil. Beberapa mitos asal usul berkisar di sekitar gunung berapi. Misalnya, masyarakat Minangkabau yang tinggal di daerah ini menghubungkan asal usulnya dengan gunung berapi Gunung Marapi; nenek moyang mereka turun dari gunung berapi ini ketika mereka mulai menetap di lembah dataran tinggi. Terlebih lagi, gunung berapi merupakan titik penting dalam praktik ritual raja-raja Buddha di Sumatera (dan juga di Jawa). Mereka disembah dan dianggap sebagai takhta suci berkekuatan supranatural. Mereka adalah tempat peristirahatan untuk praktik ritual dan berhubungan dengan air dan lautan yang jauh,” jelas Bonatz.</p>



<p>Menurut Bonatz, terlepas dari kenyataan bahwa Gunung Sago tidak terlihat dari dasar lembah Mahat, namun gunung ini ada dalam pikiran setiap orang yang tinggal di kawasan ini dan kehadiran megalit dengan jelas menunjukkan bahwa kawasan tersebut juga dianggap sebagai sesuatu yang menonjol (<em>landmark</em>) simbolis di masa lalu.</p>



<p>Ratusan batu di lembah berhubungan dengan gunung yang menonjol ini, yaitu simbol alami kehidupan dan kekuasaan di kawasan ini. Agensi yang komunikatif juga tampaknya terwujud dalam bentuk batu-batu itu. Mereka menyinggung manusia, meskipun dalam cara yang sangat abstrak. Penafsiran ini diperkuat dengan sepasang batu yang ujungnya dipahat berbentuk kepala manusia.</p>



<p>Lebih dari sekadar batu, menhir di Nagari Maek adalah saksi bisu perjalanan budaya dan spiritualitas masyarakat di masa lampau. Arah hadapnya yang konsisten ke tenggara menjadi pengingat bagi kita tentang kepercayaan dan ritual leluhur yang diwariskan turun-temurun.</p>



<p>Sisi lain, monumen-monumen di Lembah Maek sering dijaga dengan baik dan bahkan disesuaikan dengan agama-agama baru.</p>



<p>Di Puar Datar, menhir selalu dipindahkan dekat masjid dan gedung dewan (adat), menunjukkan kesadaran masyarakat akan hubungan antara rumah dan monumen.</p>



<p>Di Aur Duri, terdapat teras setinggi 1 meter yang diduga merupakan tempat pemujaan kuno. Masyarakat setempat mengatakan bahwa dulunya tempat ini merupakan tempat pertemuan para pemimpin perkasa.</p>



<p>“Monumen prasejarah di Sumatra Tengah selalu dijunjung tinggi, dan bahkan ada upaya untuk menyesuaikan mereka dengan agama-agama baru. Misalnya, di Guguk (Payakumbuh), terdapat pilar dengan puncak Hinduo yang digunakan oleh Raja Adityawarman untuk prasastinya. Di Kubu Rajo, terdapat &#8220;batu miring&#8221; yang digunakan untuk musyawarah raja dengan patih dan tumenggung. Di Minangkabau, rajo nan tigo selo atau &#8220;penguasa di atas tiga kursi batu&#8221; sangat terkenal,” beber Schnitger.</p>



<p>Penting juga diketahui, masyarakat kuno Lembah Maek tidak hidup dalam isolasi, terbukti dari impor keramik Tiongkok mulai abad ke-11 dan distribusi megalit di sekitar Sinamar. Perdagangan dengan dataran rendah meningkatkan prestise sosial di Mahat dan Sinamar, memperkuat struktur hierarki dan kompetitif.</p>



<p>Mitra pertukaran di dataran rendah menetap di sepanjang Sungai Kampar, yang sejak abad ke-10 menjadi pusat keagamaan Buddha di Muara Takus, dekat pertemuan dengan sungai Batang Maek, menandai perbatasan antara dataran rendah dan dataran tinggi.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="1068" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/06/Bonatz-riset-andesit-di-Batang-Mahat.png?resize=1068%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-206379" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/06/Bonatz-riset-andesit-di-Batang-Mahat.png?resize=1068%2C675&amp;ssl=1 1068w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/06/Bonatz-riset-andesit-di-Batang-Mahat.png?resize=300%2C190&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/06/Bonatz-riset-andesit-di-Batang-Mahat.png?resize=768%2C486&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2024/06/Bonatz-riset-andesit-di-Batang-Mahat.png?w=1316&amp;ssl=1 1316w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><figcaption class="wp-element-caption">Batuan di Sungai Mahat, Lubuah Kubang, dengan relief megalit yang belum selesai   <br>Foto: Dominik Bonatz.</figcaption></figure>



<p>Pada pertengahan abad ke-14, penguasa terakhir Sriwijaya-Melayu, Ādityawarman, memindahkan ibu kotanya ke dataran tinggi Tanah Datar, berbatasan dengan Limapuluh Kota. Kontrol atas sentra produksi emas di Tanah Datar mungkin menjadi pendorong utama perubahan ini. Kerajaan dataran tinggi Ādityawarman di Tanah Datar merupakan contoh awal politik hegemoni terpusat di dataran tinggi Sumatra.</p>



<p>Pusat kerajaan Ādityawarman di Bukit Gombak, dekat pusat kerajaan Minangkabau di Pagaruyung, digali oleh tim Jerman-Indonesia pada 2011-2012. Situs ini diduduki dari abad ke-14 hingga ke-17 M, dengan kuburan di lereng Bukit Kincir. Batu-batu kecil di pemakaman ini mengarah ke Gunung Marapi, dengan bentuk melengkung mirip tradisi megalitik di Sinamar dan Maek.</p>



<p>Pengaruh politik baru di Tanah Datar berdampak pada wilayah sekitarnya, memperkuat aliansi dan identitas kelompok di kalangan masyarakat Minang. Tradisi bercampur mencerminkan perkembangan budaya dan sosial yang kompleks di wilayah ini.</p>



<p><strong>Sistem Penguburan Mirip Tata Cara Islam</strong></p>



<p>Situs Bawah Parit, salah satu situs nan paling kaya akan menhir di Kenagarian Maek. Di sana ada sekitar 370 menhir yang tertancap di permukaan tanah. Dalam tatanan lokal, menhir disebut batu mejan.</p>



<p>Ungkapan ini nyaris sama dengan diksi batu makam dalam tradisi Islam yakni maesan atau nisan. Fungsi maesan dalam tradisi penguburan Islam, sebagai penanda proses penguburan seseorang yang telah meninggal dunia.</p>



<p>Salah satu contoh yang menonjol adalah makam di Dusun Ronah, yang dipercaya sebagai makam seorang tokoh dari masa lalu. Makam ini ditandai dengan sepasang batu mejan yang diberi jirat (badan makam) permanen yang terbuat dari konstruksi bata.</p>



<p>Tradisi makam pakai batu maesan di atasnya, masih berlaku hingga hari ini, meski dalam bentuk corak yang berbeda.</p>



<p>Kurun 1985 dan 1986, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) menggali Situs Bawah Parit, Lembah Maek. Dari 8 kotak galian yang terbuka, tersibak 7 rangka manusia yang memiliki ciri-ciri ras Mongoloid.</p>



<p>Ketujuh rangka manusia yang ditemukan ditempatkan pada sebuah lubang yang dipersiapkan secara khusus sebagai tempat meletakkan mayat. Wujudnya berupa liang lahad. Luas lubang berkisar antara 125 cm sampai 195 cm dari permukaan tanah.</p>



<p>Hasil penelitian yang kemudian terpumpun dalam Laporan Ekskavasi Tradisi Megalitik di Kecamatan Suliki Gunung Emas dan Kecamatan Guguk, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, tahun 1986 ini, juga merilis orientasi rangka atau mayat yang dikuburkan, diletakkan dengan pola kepala ke arah barat laut, sementara kaki ke arah tenggara. Dan posisi kepala agak ditekuk ke arah kaki.</p>



<p>Di samping liang lahad dalam wadah kubur, ekskavasi juga menemukan kumpulan tanah yang berwarna kehitaman pada kedalaman 135 cm dari permukaan tanah.</p>



<p>&nbsp;“Di situs Bawah Parit, penguburan dilakukan secara primer tanpa wadah, yaitu menguburkan mayat langsung ke dalam tanah menggunakan teknik liang lahad. Liang lahad dibuat dengan menggali tanah hingga kedalaman 125 hingga 195 cm dari permukaan tanah. Pola peletakan mayat dalam liang lahad di situs ini mirip dengan tradisi penguburan Islam, meski orientasinya berbeda. Jika makam-makam Islam umumnya membujur utara-selatan, liang lahat di situs Bawah Parit berorientasi barat laut-tenggara,” jelas Lutfi Yondri, ternukil dalam <em>Situs Bawahparit: Jejak Penguburan Masa Transisi, </em>terbitan Jurnal Lektur Keagamaan tahun 2014.</p>



<p>Arkeolog Cecep E Permana mengatakan, penguburan di situs ini tidak disertai bekal kubur seperti dalam tradisi megalit lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa tata cara penguburan Islam telah diterapkan oleh masyarakat pendukung budaya megalitik di masa lalu.</p>



<p>“Selain menggunakan liang lahad, penempatan menhir sebagai penanda kepala mayat juga tidak berbeda jauh dengan posisi mayat dalam penguburan Islam yang rata-rata dengan kedalaman 175 hingga 190 cm dari permukaan tanah,” kata Cecep yang ternukil dalam buku <em>Tinjauan Terhadap Orientasi Kubur Prasejarah</em>, terbitan 1984.</p>



<p>Berdasarkan hal tersebut, terlihat bahwa tradisi penguburan yang dilangsungkan di situs Bawah Parit tersebut merupakan tradisi penguburan megalit yang tidakmenyertakan bekal kubur, sebagaimana kubur-kubur tradisi megalit yang telah ditemukan sebelumnya di daerah-daerah lain di Indonesia.</p>



<p>“Sistem penguburan ini sangat berbeda dengan sistem penguburan prasejarah di wilayah Indonesia lainnya. Bahkan, sistem ini sangat mirip dengan sistem penguburan Islam, meskipun orientasinya berbeda (pemakaman Islam saat ini berorientasi Utara-Selatan). Komunitas tersebut pada masa lalu pernah bersentuhan dengan kebudayaan Islam kemudian menyingkir ke pedalaman, mereka menyerap sistem penguburan yang ada dalam Islam,” jelas Lutfi Yondri, dalam catatan <em>Tinggalan Cagar Budaya Lembah Mahat</em>.</p>



<p>Secara prinsip, penguburan yang dilakukan pada tempat tertentu (situs) merupakan kegiatan yang tidak hanya sekedar menempatkan dan menimbun mayat di dalam tanah. Pada kegiatan penguburan tersebut terkandung nilai-nilai serta simbol-simbol tertentu yang biasanya akan mencerminkan corak budaya yang ada pada saat itu.</p>



<p>Arkeolog R. P. Soejono&nbsp;menyebutkan, variabel-variabel yang diberikan pada suatu kegiatan penguburan akan memberikan berbagai informasi tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada saat penguburan.</p>



<p>“Indonesia kaya dengan berbagai cara penguburan yang memiliki kekhasan masing-masing. Penguburan bisa dilakukan secara langsung (primer) atau tidak langsung (sekunder), dengan atau tanpa wadah,” jelas Soejono, dalam <em>Sistem-sistem Penguburan pada Akhir Masa Prasejarah di Bali,</em> terbitan tahun 1977.</p>



<p><strong>Legenda Peradaban Lembah Maek Berbasis Ekosistem</strong></p>



<p>Peradaban megalit di Lembah Maek masih tersuar di generasi-generasi berikutnya yang masih tinggal di kawasan tersebut. Zelfenedri, 54, yang telah menjadi juru pelihara (juper) Situs Megalit Balai Batu Koto Gadang, Lembah Maek sejak tahun 1991, menyebut mereka yang tinggal di kawasan Maek saat ini sebagai generasi kedua. Sementara mereka yang turut membentuk artefak-artefak megalit yang berserakan di Lembah Maek saat ini, disebut generasi pertama.</p>



<p>Meski begitu, generasi pertama dan generasi kedua; terhubung bukan saja ruang hidup yang sama di Lembah Maek, melainkan medium folklor atau legenda dalam labirin artefak Lembah Maek.</p>



<p>Zelfenedri menyebut ada 14 legenda yang dikenal luas masyarakat Lembah Maek (generasi kedua), sekaitan dengan peradaban tua Lembah Maek. Salah satunya legenda Batu Manggigia, narasi yang bersangkutan dengan ekosistem lingkungan di Lembah Maek.</p>



<p>Alkisah, kata Zelfenedri, jika hujan lebat atau air Batang Maek meluap, batu ini berbunyi seperti pesawat. “Tiga jam setelahnya, air akan naik,&#8221; kata Zelfenedri, pertengahan Juni 2024.</p>



<p>Menurutnya, fenomena ini masih berlaku hingga kini di daerah Ampang Gadang, yang meliputi Lubuak Paku, Lubuak Kubang, Sopan Tanah, Lubuak Ikua Lurah, dan Lubuak Pesong.</p>



<p>Batu Manggigia itu, kata Zelfenedri dipercayai masyarakat berada di antara rimbun batu andesit di sungai Batang Maek. Namun, kata Zelfenedri, tak semua orang bisa melihat batu tersebut.</p>



<p>“Menurut orang-orang, Batu Manggigia itu andesit (seperti halnya batu dasar menhir), berbentuk pipih. Saya pernah mencarinya, tapi tak menemukannya,&#8221; ungkapnya.</p>



<p>Danandjaja, J. dalam <em>Folklor Indonesia</em>, terbitan 1984, menyebutkan, legenda sebagai bagian dari prosa&nbsp; rakyat&nbsp; memiliki&nbsp; fungsi&nbsp; untuk&nbsp; meneguhkan&nbsp; kebenaran&nbsp;&nbsp; takhayul&nbsp;&nbsp; atau&nbsp;&nbsp; kepercayaan&nbsp;&nbsp; rakyat.&nbsp; Sebagai sarana pendidikan, legenda dapat digunakan sebagai&nbsp;&nbsp; alat&nbsp;&nbsp; pedagogi.&nbsp;&nbsp; Alasannya,&nbsp;&nbsp; legenda&nbsp;&nbsp; ini&nbsp;&nbsp; memberikan&nbsp;&nbsp; wawasan&nbsp;&nbsp; atau&nbsp;&nbsp; pemahaman, agar senantiasa&nbsp; mawas&nbsp; diri&nbsp; atau&nbsp; waspada&nbsp; atas&nbsp; segala&nbsp; konsekuensi dari sesuatu yang dikerjakan.“</p>



<p>Dengan&nbsp; demikian,&nbsp; legenda Batu Manggigia dalam aspek lingkungan atau potensi bencana, menjadi warisan mitigasi bencana hingga saat ini.</p>



<p>Sekitar tahun 1960-an, kehidupan di Kenagarian Maek masih dipengaruhi oleh unsur tradisi budaya megalit, baik dalam kepercayaan maupun kehidupan bercocok tanam.</p>



<p>Menurut Lutfi Yondri, pada era tersebut, sebelum benih padi ditanam di sawah, diadakan upacara yang dipimpin oleh seorang imam di sekitar menhir yang didirikan sebagai tanda kubur dari tetua masyarakat Maek di masa lalu.</p>



<p>Selain itu, upacara kurban dilakukan jika terjadi malapetaka seperti hama tanaman atau wabah penyakit.</p>



<p>“Hewan kurban yang disembelih biasanya adalah lembu hitam, dan kakinya diletakkan di empat penjuru jalan masuk kampung untuk menghalau bala yang datang dari luar,” beber Lutfi, dalam jurnal Sangkhakala_Vol._XIV_No.27-2011, berjudul <em>Temuan Kubur Di Situs Bawahparit (Limapuluh Koto) Corak Penguburan Megalitik Masa Transisi.</em></p>



<p>Zelfenedri yang tumbuh besar di Lembah Maek, mengatakan masyarakat menganggap menhir ini sakral, warisan dari leluhur sebagai tanda makam, kepercayaan, dan kebesaran masa lalu. Sebagaimana keberfungsian megalit prasejarah, menhir tetap dianggap sebagai penanda makam dan kepercayaan.</p>



<p>Dalam konteks ini, ada perbedaan perlakuan terhadap peninggalan megalit oleh generasi kedua. &#8220;Manusia pertama mensakralkan megalit. Generasi kedua saat ini tidak lagi berdoa, tidak melakukan tolak bala. Peninggalan manusia pertama ini hilang maknanya,&#8221; katanya.</p>



<p>Kendati labirin sejarah dan pemaknaan megalit Lembah Maek belum seutuhnya tersingkap, tetapi bagi Zelfenedri, menjaga dan memahami warisan ini adalah tugas penting yang mesti diemban dengan penuh dedikasi. Agar generasi mendatang masih bisa menyambangi tinggalan megalit Lembah Maek sebagai pusat studi dan literasi layaknya akademi.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/menhir-maek-tiang-peradaban-yang-selaras-dengan-semesta/">Menhir Maek Tiang Peradaban yang Selaras dengan Semesta</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">206368</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 26/50 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-05-23 00:47:42 by W3 Total Cache
-->