<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Fakultas Ilmu Budaya Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/fakultas-ilmu-budaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/fakultas-ilmu-budaya/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 25 Oct 2021 03:13:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Fakultas Ilmu Budaya Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/fakultas-ilmu-budaya/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Negara, Kapitalisme dan Kampung Pintar</title>
		<link>https://langgam.id/negara-kapitalisme-dan-kampung-pintar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2020 08:41:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Alam Pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Ilmu Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Nagari]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Andalas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=71779</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Seolah tak mau ketinggalan dengan kampanye dan program kota-kota pintar, beberapa daerah di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan menginisiasi semacam desa pintar, kampung pintar atau nagari pintar. Pada umumnya salah satu indikator utamanya adalah pelayanan publik dengan pendekatan teknologi informasi. Namun demikian di beberapa tempat definisi “pintar” justru tidak mengacu pada tata kelola berbasis teknologi informasi itu, melainkan lebih luas sebagai strategi komunitas yang terpinggirkan menanggapi dan mengurangi dampak arus pembangunan neoliberal pada kondisi ketidaksetaraan sosial di wilayah pedesaan maupun perkotaan itu sendiri. Profesor Melani Budianta dalam tulisan Smart Kampung (2019) atau kampung pintar mengungkap aktivisme dan kebangkitan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/negara-kapitalisme-dan-kampung-pintar/">Negara, Kapitalisme dan Kampung Pintar</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Seolah tak mau ketinggalan dengan kampanye dan program kota-kota pintar, beberapa daerah di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan menginisiasi semacam desa pintar, kampung pintar atau nagari pintar.</p>
<p>Pada umumnya salah satu indikator utamanya adalah pelayanan publik dengan pendekatan teknologi informasi.</p>
<p>Namun demikian di beberapa tempat definisi “pintar” justru tidak mengacu pada tata kelola berbasis teknologi informasi itu, melainkan lebih luas sebagai strategi komunitas yang terpinggirkan menanggapi dan mengurangi dampak arus pembangunan neoliberal pada kondisi ketidaksetaraan sosial di wilayah pedesaan maupun perkotaan itu sendiri.</p>
<p>Profesor Melani Budianta dalam tulisan <em>Smart Kampung</em> (2019) atau kampung pintar mengungkap aktivisme dan kebangkitan sejumlah kampung dalam konteks globalisasi justru untuk menunjukkan bagaimana beberapa komunitas di pedesaan dan perkotaan yang terpinggirkan secara bersamaan melawan dan menyesuaikan kekuatan kapitalis.</p>
<p>Sekali lagi, kita tak sedang membahas kebijakan transformasi yang dilakukan pemerintah untuk pemberdayaan masyarakat di pedesaan, terutama dalam sektor ekonomi. Kampung pintar merujuk pada kampung pedesaan dan perkotaan yang secara strategis justru menanggapi ekspansi urbanitas dengan menempa solidaritas masyarakat melalui aksi kesamaan budaya yang meriah.</p>
<p>Dalam riset tersebut, ada tiga kampung yang menjadi studi kasus, yakni Kampung Cempluk di Malang, kampung Ledokombo di Jember, dan Dusun Karanggeneg di Magelang. Tiga kampung itu dianggap paling menggambarkan inisiatif lokal berbasis komunitas untuk melawan kapitalisme global melalui pengaktifan kembali sumber daya budaya bersama.</p>
<p>Kampung Cempluk, misalnya, desa urban yang memperoleh manfaat terbesar dari pembangunan perkotaan Malang yang pesat, namun juga datang suatu ancaman tertunda: penduduk kampung telah tergoda oleh kesepakatan tanah (dengan pengembang) yang menguntungkan secara ekonomi.</p>
<p>Di Ledokombo, sebagai kampung pengirim TKI dikatakan termarginalisasi karena berlangsung fenomena gaya hidup perkotaan yang terinternalisasi dan praktik konsumsi sebagai bagian dari iming-iming migrasi. Masalah lain anak-anak desa teralienasi dalam perilaku menyimpang, sepeti narkoba, putus sekolah, dan kehamilan remaja, karena absennya pengasuhan orangtua yang merantau sebagai pekerja migran berketerampilan rendah.</p>
<p>Selanjutnya Dusun Karanggeneng, masalah berfokus eksodusnya banyak orang usia produktif ke perkotaan tak hanya membuat kampung kehabisan sumber ekonomi tetapi juga rusaknya sistem sosial karena yang menggejala kuat justru adalah corak perilaku “kota” yang individualistis dan mentalitas mencari rente.</p>
<p>Kondisi itulah yang melatari komunitas kampung-kampung tersebut mengaktifkan kembali praktik-praktik lokal untuk memperbaiki efek yang tidak diinginkan dari urbanisme neoliberal. Melalui strategi itu, komunitas kampung menciptakan lingkungan yang berkelanjutan secara budaya.</p>
<p>Dikatakan, kampung sebagai pemukiman yang terpinggirkan dalam proses transformasi perkotaan merupakan situs strategis untuk menangkap kontradiksi, kontestasi, dan bahkan dinamika budaya lokal-global.</p>
<p>Yang menarik adalah praktik &#8220;commoning&#8221; sebagai tindakan menciptakan atau mereproduksi akses bebas sumber daya dan menolak komodifikasi oleh negara atau pasar. Sebab yang apa yang hilang dalam masyarakat dalam sistem neoliberal tidak hanya tanah, seperti di Cempluk, tetapi juga praktek budaya berbagi sumber daya untuk kebaikan bersama yang digantikan oleh keserakahan kapitalis.</p>
<p>Munculnya gerakan kampung pintar justru untuk merebut kembali praktik-praktik berbagi yang disebut “semangat gotong royong” dan juga secara bersama-sama, mereka menemukan kembali dan mempelajari kembali seni dan ritual tradisional mereka dan membagikannya untuk kepentingan bersama.</p>
<p>Melalui aksi kesamaan budaya ini, warga kampung menciptakan ikatan sosial dan mengubah lingkungannya menjadi komunitas partisipatif.</p>
<p>Di sini peneliti menggunakan kata kerja &#8220;commoning&#8221;, justru karena praktik budaya (dan sejarah) tidak diberikan atau ditemukan tetapi ditemukan kembali dan disesuaikan kembali secara cair dan terbuka.</p>
<p>Melalui kesamaan budaya, para aktivis kampung yang di masing-masing kampung pintar dipandu seorang tokoh penggerak berusaha membalikkan pandangan modernis terhadap kota dengan (ibaratnya) menyediakan pengobatan untuk penyakit perkotaan kepada kampung-kampung mereka.</p>
<p>Dalam konteks ini, tokoh informal kampung memainkan peran penting justru dalam menjalin aliansi dengan Negara dan pasar untuk melindungi kampung mereka agar tidak termakan oleh gaya hidup perkotaan.</p>
<p>Mereka juga memanfaatkan media sosial untuk membentuk jaringan antar kampung (Japung) sebagai wadah untuk membahas cara-cara mengoreksi gejala “urban”, mulai dari mentalitas pencari rente hingga budaya konsumen perkotaan.</p>
<p><strong>Nagari Pintar</strong></p>
<p>Mencermati apa yang dikerjakan di kampung pintar, saya jadi teringat apa yang disebut nagari pintar di Sumbar. Sebagaimana desa pintar atau kota pintar, konsep nagari pintar dominannya masih mengacu pada pelayanan administrasi pemerintahan berbasis teknologi informasi.</p>
<p>Sekalipun dengan derajat dan variasi permasalahan berbeda, nagari pintar selayaknya juga mengadopsi beberapa konsep kampung pintar di atas sebagai penyikapan atas dampak laju modernitas dan kapitalisme yang tak hanya memproduksi budaya konsumsi, tetapi juga perilaku “urban” yang justru menjadi ihwal proses pemiskinan dan alienasi masyarakat lewat (misalnya) merebaknya budaya rente, individualistis dan aneka laku budaya “menyimpang” lainnya.</p>
<p>Memang sudah ada “nagari adat” di Sumbar, namun komunitas termarginalkan dalam konteks ini tak hanya di pedesaan, tetapi juga perkotaan.</p>
<p>Intinya, bagaimana aneka sumber daya masyarakat yang bisa kembali menyulut rasa kebersamaan, tindakan bersama atau gotong royong yang terkikis akibat modernisasi negara dan ekspansi kapitalis kembali bisa ditubuhkan, sekalipun kemudian masih memerlukan perumusan konsepnya lebih matang lagi dan kehadiran aktor-aktor visioner yang berjibaku mengurus kampung masing-masing.</p>
<p><strong>*Dosen Sejarah Universitas Andalas</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/negara-kapitalisme-dan-kampung-pintar/">Negara, Kapitalisme dan Kampung Pintar</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">71779</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pandemi, Teori Konspirasi dan Pseudo-Sains</title>
		<link>https://langgam.id/pandemi-teori-konspirasi-dan-pseudo-sains/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2020 03:24:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Alam Pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Ilmu Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Andalas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=70218</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Hasil survei yang dilakukan oleh Spektrum Politika Institute pada September 2020 menyebutkan 39,9 persen masyarakat Sumatra Barat percaya Covid-19 merupakan konspirasi negara-negara besar di dunia. Kepercayaan itu tidak hanya menunjukkan kaitannya dengan tingkat pendidikan, tetapi juga berkorelasi dengan tingkat kepatuhan masyarakat terhadap penerapan protokol kesehatan yang dinilai belum maksimal yakni masih 60 persen (kompas.id, 5 Oktober 2020). Sekalipun bisa diperdebatkan, namun temuan survei itu menarik sekaligus agak mengejutkan. Masyarakat Sumbar yang sering dianggap memiliki pemikiran rasional dan terbuka, di mana di masa lalu banyak tokoh pemikir dan pendiri bangsa berasal dari Minangkabau, ternyata bagian cukup besar pada saat</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pandemi-teori-konspirasi-dan-pseudo-sains/">Pandemi, Teori Konspirasi dan Pseudo-Sains</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Hasil survei yang dilakukan oleh Spektrum Politika Institute pada September 2020 menyebutkan 39,9 persen masyarakat Sumatra Barat percaya Covid-19 merupakan konspirasi negara-negara besar di dunia.</p>
<p>Kepercayaan itu tidak hanya menunjukkan kaitannya dengan tingkat pendidikan, tetapi juga berkorelasi dengan tingkat kepatuhan masyarakat terhadap penerapan protokol kesehatan yang dinilai belum maksimal yakni masih 60 persen (<em>kompas.id</em>, 5 Oktober 2020).</p>
<p>Sekalipun bisa diperdebatkan, namun temuan survei itu menarik sekaligus agak mengejutkan.</p>
<p>Masyarakat Sumbar yang sering dianggap memiliki pemikiran rasional dan terbuka, di mana di masa lalu banyak tokoh pemikir dan pendiri bangsa berasal dari Minangkabau, ternyata bagian cukup besar pada saat ini (hampir 40 persen!) justru percaya pada teori konspirasi yang sebenarnya tergolong sebagai “sains semu” (<em>pseudoscience</em>) yang “metodologi”-nya bertolak belakang dengan kaidah ilmiah atau ilmu pengetahuan.</p>
<p><strong>Persepsi diri</strong></p>
<p>Memang adanya persepsi diri atau anggapan umum bahwa masyarakat Minangkabau memiliki pandangan dan pemikiran lebih rasional, modern dan terbuka dalam batas tertentu menemukan sejumlah konfirmasinya, sekalipun juga bisa diperdebatkan.</p>
<p>Di masa kolonial, misalnya, Sumbar termasuk daerah luar Jawa pertama mendapatkan pencerahan lewat pendidikan Barat yang kemudian menghasilkan banyak tokoh yang menelurkan ide-ide modern untuk merintis Indonesia merdeka maupun keperluan masyarakat bangsa pada masa-masa sesudahnya.</p>
<p>Anggapan semacam itu masih tetap bertahan sampai era reformasi, bahkan sekarang ini. Orang Minang agaknya masih menganggap dirinya masih lebih rasional, setidaknya dalam lapangan politik. Tingginya popularitas Amien Rais pada Pilpres 2004, SBY (2004 &amp; 2009), dan bahkan Prabowo Subianto (2014 &amp; 2019) di Sumbar diklaim sebagai cermin politik rasional orang Minang.</p>
<p>Padahal untuk konteks terakhir, kalau memang relatif lebih rasional, kenapa kelompok yang percaya pada teori konspirasi dalam konteks penyebaran Covid-19 masih cukup tinggi di Sumbar? Di sinilah terkesan paradoksnya.</p>
<p>Kenapa klaim rasionalitas dalam politik seolah tidak “nyambung” dengan rasionalitas berpikir dalam bidang kesehatan? Jangan-jangan adanya irasionalitas dalam merespon masalah kesehatan (40 persen itu) atau pun ekonomi sebagai cermin irasionalitas dalam bidang lainnya, malah termasuk politik itu sendiri.</p>
<p><strong>Keyakinan Teori Konspirasi</strong></p>
<p>Kepercayaan masyarakat pada teori konspirasi sebenarnya ada di mana-mana baik di negara-negara berkembang maupun negara-negara maju.</p>
<p>Di Indonesia sendiri, masyarakat dalam jumlah yang cukup signifikan juga mempercayai teori konspirasi tentang banyak hal dan isu, termasuk Covid-19.</p>
<p>Sebuah survei terhadap masyarakat kota Bogor baru baru ini misalnya menunjukkan, sekitar 19 persen di antaranya juga percaya Covid-19 adalah hasil konspirasi tertentu (Sumber: tempo.co).</p>
<p>Selain itu, sejumlah tayangan di kanal Youtube yang mengangkat tema Covid-19 dan mengaitkannya dengan konspirasi para globalis, terutama di AS dan China, juga memiliki jutaan penonton dan subscriber serta dikomentari ribuan warga net.</p>
<p>Narasi dan visual yang disajikan presenter dalam tayangan itu sangat meyakinkan, bahkan disertai data statistik tertentu, sehingga seolah informasi yang disampaikannya tak hanya ilmiah dan logis, tapi juga dianggap <em>out of the box, </em>seolah menolak teori-teori <em>mainstream</em> dalam dunia ilmu pengetahuan terkait virus.</p>
<p>Di negara maju sendiri, seperti Amerika Serikat dan Inggris, sebagian warganya juga ternyata percaya teori konspirasi terkait Covid-19. Jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan bahwa 28 persen warga negara Paman Sam itu percaya<a href="https://republika.co.id/tag/bill-gates"> Bill Gates </a>ingin menggunakan vaksin untuk menaruh <em>chip</em> ke tubuh orang-orang.</p>
<p>Tak hanya itu, para anti-vaksin pun akan menggunakan media sosial untuk mengajak orang-orang agar tidak melindungi diri mereka dari <a href="https://www.wartaekonomi.co.id/tag31464/vaksin-corona">vaksin corona</a>.</p>
<p>Padahal kurang apa negara itu dalam bidang pendidikan warga. Hal yang sama juga berlaku di negara maju lainnya, seperti Inggris, yang mana berdasarkan survei Mei 2020 lalu, seperlima orang dewasa di negeri Ratu Elizabeth itu meyakini Covid-19 sebagai hoaks (<em>kompas.com</em>).</p>
<p>Muncul dan berkembangnya teori konspirasi dalam suatu masyarakat sebenarnya bisa dijelaskan, antara lain dari kajian ilmu psikologi dan komunikasi. Sejumlah penelitian menunjukkan kaitan antara stres, keadaan mudah dipengaruhi dan teori konspirasi, bahwa ketika seseorang tak menguasai dirinya sepenuhnya, ketika mengalami stres, teori konspirasi akan menjadi masuk akal.</p>
<p>Selain itu, semakin sering orang terpapar teori konspirasi, semakin besar kemungkinannya percaya dengan teori konspirasi tersebut (https://www.bbc.com)</p>
<p>Hasil kajian lain juga memperlihatkan teori konspirasi mempertajam polarisasi di masyarakat dan meningkatkan peluang konflik, termasuk antara orang yang percaya dan skeptis dengan teori konspirasi tersebut.</p>
<p>Pertentangan antara dua kubu ini malah sering kali mengganggu hubungan sosial, seperti belakangan terjadi di tengah masyarakat kita dalam merespon isu TKA, kebangkitan komunis, dominasi China, sampai isu Covid-19 itu.<strong> </strong></p>
<p><strong>Pseudosains </strong></p>
<p>Ditinjau dari perspektif filsafat ilmu, teori konspirasi yang berkembang dalam masyarakat tergolong ke dalam pseudosains atau sains semu. Pseudosains terdiri dari pernyataan, keyakinan, atau praktik yang diklaim sebagai ilmiah dan faktual, tetapi tidak sesuai dengan metode ilmiah.</p>
<p>Selain itu pseudosains sering dicirikan oleh klaim yang kontradiktif dan berlebihan, bias konfirmasi; kurangnya keterbukaan untuk evaluasi oleh ahli lain; tidak adanya praktik sistematis saat mengembangkan hipotesis dan kaidah ilmiah lainnya.</p>
<p>Filsuf Karl Popper mengklasifikasi pseudosains sebagai demarkasi <em>good science</em> dan <em>bad science</em>.</p>
<p>Bias konfirmasi dalam pseudosains misalnya merupakan suatu kecenderungan bagi orang-orang untuk mencari bukti-bukti yang mendukung pendapat atau kepercayaannya serta mengabaikan bukti-bukti yang menyatakan sebaliknya.</p>
<p>Kesalahan pemikiran ini menyebabkan penarikan kesimpulan yang salah dan merintangi pembelajaran yang efektif. Bias konfirmasi adalah kecenderungan orang menyukai informasi yang memperkuat keyakinan atau nilai-nilai mereka, dan sulit untuk dihilangkan ketika mereka sudah meyakininya.</p>
<p>Batas antara sains dan pseudosains memiliki implikasi filosofis dan ilmiah. Sementara perbedaan sains dari pseudosains memiliki implikasi praktis seperti dalam kasus perawatan kesehatan, kesaksian ahli, kebijakan lingkungan, dan pendidikan sains sendiri.</p>
<p>Oleh karena itu membedakan fakta dan teori ilmiah dari keyakinan sains semu, seperti yang ditemukan dalam penolakan perubahan iklim, astrologi (ilmu “perbintangan”), alkimia, dan pengobatan alternatif adalah bagian dari pendidikan sains dan literasi ilmiah yang perlu digalakkan di tengah masyarakat (sumber: wikipedia).</p>
<p>Pseudosains memang bisa berbahaya. Bidang kesehatan umpamanya. Jika banyak orang meninggalkan pengobatan medis dan kemudian lari ke pengobatan “alternatif”, seperti kasus gelang anti-corona tempo hari, dalam batas tertentu adalah sebagai bentuk pengaruh pseudosains di tengah masyarakat.</p>
<p>Paling tidak untuk sekarang ini, masih banyaknya orang menganggap Covid-19 sebagai konspirasi juga telah berdampak pada tidak optimalnya tingkat kepatuhan warga pada protokol kesehatan yang diserukan pemerintah maupun WHO.</p>
<p>Dalam konteks ini, kita berharap sewaktu vaksinasi massal nantinya, kepatuhan warga lebih membaik.</p>
<p>Apapun, hasil survei ilmiah, seperti atas kasus Sumbar di atas, dapat menjadi semacam <em>warning</em> tidak hanya bagi warga, tetapi juga otoritas terkait untuk bekerja lebih keras lagi dalam mengedukasi masyarakat di tengah pandemi.</p>
<p>Namun juga harus diingat, edukasi untuk membangun sikap rasional dalam bidang kesehatan masyarakat itu harus simultan dengan upaya membangun rasionalitas dalam bidang kehidupan lainnya, termasuk isu politik. <strong>(*/)</strong></p>
<p><strong>* Dosen Sejarah Universitas Andalas</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pandemi-teori-konspirasi-dan-pseudo-sains/">Pandemi, Teori Konspirasi dan Pseudo-Sains</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">70218</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sejarah FIB Unand Hadirkan Indonesianist asal Australia Robert Cribb dalam Webinar Besok</title>
		<link>https://langgam.id/sejarah-fib-unand-hadirkan-indonesianist-asal-australia-robert-cribb-dalam-webinar-besok/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2020 14:32:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Ilmu Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Andalas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=69002</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Jurusan atau program studi (Prodi) Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand) menggelar Webinar History and Collective Memory Lecturer Program 2, besok, Sabtu (10/10) mulai pukul 09.00-12.00 WIB. Ketua Webinar Yenny Narny mengemukakan pihaknya mengundang Robert Cribb sebagai nara sumber. Cribb merupakan seorang Indonesianis serta dianggap telah mumpuni di bidang sejarah. Selain itu, hasil riset Robert Cribb tentang Indonesia relatif banyak menjadi rujukan bagi para peneliti. &#8220;Kita beruntung beliau mau meluangkan waktu untuk berbagi ilmu kepada para peserta Webinar nantinya, termasuk para mahasiswa yang turut diundang sebagai peserta atau partisipan,&#8221; ujar Yenny Narny melalui rilis, Jumat (9/10)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/sejarah-fib-unand-hadirkan-indonesianist-asal-australia-robert-cribb-dalam-webinar-besok/">Sejarah FIB Unand Hadirkan Indonesianist asal Australia Robert Cribb dalam Webinar Besok</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Jurusan atau program studi (Prodi) Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand) menggelar Webinar History and Collective Memory Lecturer Program 2, besok, Sabtu (10/10) mulai pukul 09.00-12.00 WIB.</p>
<p>Ketua Webinar Yenny Narny mengemukakan pihaknya mengundang Robert Cribb sebagai nara sumber. Cribb merupakan seorang Indonesianis serta dianggap telah mumpuni di bidang sejarah.</p>
<p>Selain itu, hasil riset Robert Cribb tentang Indonesia relatif banyak menjadi rujukan bagi para peneliti.</p>
<p>&#8220;Kita beruntung beliau mau meluangkan waktu untuk berbagi ilmu kepada para peserta Webinar nantinya, termasuk para mahasiswa yang turut diundang sebagai peserta atau partisipan,&#8221; ujar Yenny Narny melalui rilis, Jumat (9/10) malam.</p>
<p>Sejauh ini lanjut Yenny Narny mengenai Lecturer program kali ini merupakan kegiatan baru di Jurusan Sejarah.</p>
<p>Direncanakan kegiatan lecturer program ini akan dilakukan secara continue dengan mengundang para para peneliti baik dari dalam maupun luar negeri.</p>
<p>&#8220;Kami berharap program ini akan memberikan dampak bagi pengembangan ilmu pengertahuan khususnya ilmu sejarah,&#8221; harapnya.</p>
<p>Pihanya juga menginformasi bahwa Jurusan Sejarah FIB Unand bakal mengadakan Internasional Confrence on History of Health in Asia pada 15,16 dan 17 Oktober 2020 mendatang.</p>
<p>Rencananya, akan hadir pada konfensi ini para ahli pada bidang kesehatan khususnya sejarah kesehatan seperti Hans Pols, Dyah Pitaloka, Ravando yang baru saja menerbitkan buku sejarah influenza serta banyak yang lain. <strong>(*/rel/Osh)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/sejarah-fib-unand-hadirkan-indonesianist-asal-australia-robert-cribb-dalam-webinar-besok/">Sejarah FIB Unand Hadirkan Indonesianist asal Australia Robert Cribb dalam Webinar Besok</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">69002</post-id>	</item>
		<item>
		<title>MLI Komisariat Unand Adakan Simposium Bahasa di Era 4.0</title>
		<link>https://langgam.id/mli-komisariat-unand-adakan-simposium-bahasa-di-era-4-0/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2020 15:47:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Ilmu Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Andalas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=47285</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) Komisariat Universitas Andalas akan mengadakan simposium nasional pertama secara daring pada Kamis, 25 Juni 2020. Ketua Jurusan Bahasa Korea, Universitas Gadjah Mada Tri Mastoyo Jati Kesuma, didaulat menjadi keynote speaker dalam simposium yang bertema &#8220;Dinamika Bahasa dalam Era 4.0&#8221; ini. Sebagai asosiasi linguistik, MLI Komisariat Unand akan mengagendakan konferensi atau seminar setiap tahun. Agenda ini mendukung kegiatan akademik MLI Komisariat Unand yang selama ini secara rutin melaksanakan International Seminar on Linguistics (ISOL) sekali dua tahun. Untuk agenda tahunan, pada tahun 2020 ini, simposium diadakan bekerja sama dengan Program Studi Pascasarjana Linguistik Universitas Andalas. “MLI</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mli-komisariat-unand-adakan-simposium-bahasa-di-era-4-0/">MLI Komisariat Unand Adakan Simposium Bahasa di Era 4.0</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) Komisariat Universitas Andalas akan mengadakan simposium nasional pertama secara daring pada Kamis, 25 Juni 2020. Ketua Jurusan Bahasa Korea, Universitas Gadjah Mada Tri Mastoyo Jati Kesuma, didaulat menjadi <em>keynote speaker </em>dalam simposium yang bertema &#8220;Dinamika Bahasa dalam Era 4.0&#8221; ini.</p>
<p>Sebagai asosiasi linguistik, MLI Komisariat Unand akan mengagendakan konferensi atau seminar setiap tahun. Agenda ini mendukung kegiatan akademik MLI Komisariat Unand yang selama ini secara rutin melaksanakan International Seminar on Linguistics (ISOL) sekali dua tahun.</p>
<p>Untuk agenda tahunan, pada tahun 2020 ini, simposium diadakan bekerja sama dengan Program Studi Pascasarjana Linguistik Universitas Andalas.</p>
<p>“MLI Komisariat Unand menggagas ide dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Dari perkembangan linguistik selama ini, jumlah peminat linguistik mikro kurang atau sedikit lebih rendah dari linguistik makro. Rendahnya peminat linguistik mikro karena diangap sulit dan menakutkan. Oleh karena itu, kita mengundang Tri Mastoyo Jaya Kesuma, M.Hum. untuk memberikan pencerahan terkait persoalan linguistik mikro,” ujar Ketua MLI Komisariat Unand Ike Revita.</p>
<p>Sebagai ahli sintaksis, Tri Mastoyo Jaya Kesuma, akan membicarakan linguistik deskriptif bersama dengan peserta simposium.</p>
<p>“Ke depannya, MLI Komisariat Unand akan mengundang pakar linguistik bidang ilmu lainnya,” ungkap Ike.</p>
<p>Ketua MLI Komisariat Unand berharap Tim Simposium Nasional Virtual Pertama (Tim Nasal I) menjadi tim yang sukses melaksanakan kegiatan yang akan rutin dilaksanakan setiap tahun ini.</p>
<p>“Ini akan menjadi wadah rutin bagi anggota MLI membahas persoalan kebahasaan,” tukas Ike.</p>
<p>Meskipun baru perdana dilaksanakan, Ketua MLI Komisariat Unand cukup intensif berkomunikasi dengan Ketua MLI Pusat. Hal ini tampak dari dukungan Ketua MLI Pusat membagikan informasi simposium ini kepada anggota MLI Indonesia.</p>
<p>“Dari data peserta yang masuk, ada anggota MLI yang berasal dari Batam, Medan, Bengkulu, Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Solo, Surakarta, Bali, Kendari, Pare-pare, dan Kalimantan. Selain itu, juga ada peserta nonkomisariat, seperti penerjemah dari Yogyakarta, anggota dari Balai Bahasa dan Dinas Pariwisata.”</p>
<p>Dengan antusiasme tersebut, Ike berharap simposium ini akan menjadi wadah untuk lebih luas mengenalkan MLI Komisariat Unand.</p>
<p>Saat ini jumlah anggota tidak hanya berasal dari Sumatra Barat, tetapi juga berasal dari Jambi, Riau, dan Kepulauan Riau.</p>
<p>Ike Revita menyampaikan bahwa MLI Komisariat Unand akan mewujudkan harapan anggota dengan mengadakan kegiatan rutin yang berhubungan dengan linguistik. Apalagi, jangkauan keanggotaan MLI Komisariat Unand sudah sangat luas yang tidak terbatas pada universitas saja, tetapi juga menjangkau provinsi lain.</p>
<p>Oleh karena itu, MLI akan memberikan kemudahan kepada anggota, baik kesempatan mengikuti seminar nasional atau seminar internasional, maupun kesempatan menulis di Jurnal MLI Pusat atau Jurnal MLI Komisariat Universitas Andalas.</p>
<p>“Jika ingin mengembangkan keilmuan di bidang bahasa, jangan ragu bergabung dengan organisasi profesi MLI. Mulai tahun ini sudah ada kebijakan dari MLI Pusat bahwa akan ditambah jumlah halaman karena jurnal akan diterbitkan dalam bentuk e-jurnal. Dengan e-jurnal, penulis tidak terbebani dengan ongkos kirim dan artikel yang dimuat pun bisa bertambah. Bahkan, anggota MLI seluruh Indonesia akan dilibatkan untuk menjadi reviewer,” ungkap Ike.</p>
<p>Dengan komitmen anggota MLI se-Indonesia dan juga anggota nonkomisariat tersebut, Ketua Panitia Simposium Nasional 2020 Rona Almos, menyatakan saat ini sudah tercatat sebanyak 61 pemakalah dan 101 peserta bergabung dalam simposium ini.</p>
<p>“Alhamdulillah, jumlah peserta cukup banyak dan di luar target panitia. Pada awalnya, ditargetkan sebanyak 30 pemakalah. Namun, kondisi Indonesia yang berada pada masa pandemi covid-19 menyebabkan peserta tidak dapat melaksanakan seminar sebagai luaran rutin penelitian. MLI Komisariat Unand menjadi wadah untuk mewujudkan hal tersebut,” ujar Dosen Jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas ini.</p>
<p>Disampaikan oleh Rona, pemakalah dan peserta seminar akan mendapatkan e-prosiding ber-ISBN dan e-sertifikat. “Simposium daring ini sama dengan simposium tatap muka biasa, hanya saja dilaksanakan secara <em>online</em>. Pemakalah dan peserta pun akan memperoleh e-sertifikat segera setelah mengisi link kehadiran.”</p>
<p>Pemakalah yang berkontribusi sudah dijaring sejak awal tahun dengan mengirimkan tulisan mengenai lima tema yang ditawarkan, yaitu bahasa dan media sosial, bahasa dan lingkungan, bahasa dan politik, bahasa dan budaya, serta bahasa dan bisnis. Pemakalah dan peserta yang sudah mendaftar akan bergabung secara daring melalui aplikasi <em>Zoom</em>.</p>
<p>Rona menyatakan, simposium juga akan dilaksanakan langsung melalui link Youtube <a href="https://bit.ly/nasal-unand">https://bit.ly/nasal-unand</a>. “Peserta yang belum mendaftar dapat mengikuti siaran langsung melalui link Youtube tersebut. Peserta juga masih diberi kesempatan untuk mendaftar dan mendapatkan sertifikat dengan mengisi link <a href="https://bit.ly/nasal1unand">https://bit.ly/nasal1unand</a> pada saat simposium berlangsung,” ujarnya. <strong>(Osh)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mli-komisariat-unand-adakan-simposium-bahasa-di-era-4-0/">MLI Komisariat Unand Adakan Simposium Bahasa di Era 4.0</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">47285</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sosok Chairil Anwar di Balik Puisi yang Melegenda</title>
		<link>https://langgam.id/sosok-chairil-anwar-di-balik-puisi-yang-melegenda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Palanta]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2020 16:07:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Ilmu Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Andalas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=38232</guid>

					<description><![CDATA[<p>PalantaLanggam &#8211; Momentum Hari Puisi Nasional yang diperingati tanggal 28 April 1949 sampai sekarang, Hari Puisi Nasional ini awal mulanya diselenggarakan oleh Bagian Kesenian Djawatan Kebudajaan, Kementerian Pendidikan, Pengandjaran dan Kebudayaan (Djakarta, 1953). Hari Puisi Nasional ini merupakan hari memperingati puisi-puisi yang telah melegenda dari seorang penyair terkemuka di Indonesia. fHari Puisi Nasional ini juga diperingati untuk mengenang wafatnya seorang penyair terkemuka di Indonesia yaitu Chairil Anwar yang dijuluki “Si Binatang Jalang” melalui karyanya yang berjudul “Aku”. Nama lengkapnya yaitu Chairil Anwar lahir di Medan tanggal 26 Juli 1922, beliau merupakan seorang penyair terkemuka Indonesia yang  berdarah Minagkabau. Beliau merupakan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/sosok-chairil-anwar-di-balik-puisi-yang-melegenda/">Sosok Chairil Anwar di Balik Puisi yang Melegenda</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PalantaLanggam &#8211; </strong>Momentum Hari Puisi Nasional yang diperingati tanggal 28 April 1949 sampai sekarang, Hari Puisi Nasional ini awal mulanya diselenggarakan oleh Bagian Kesenian Djawatan Kebudajaan, Kementerian Pendidikan, Pengandjaran dan Kebudayaan (Djakarta, 1953).</p>
<p>Hari Puisi Nasional ini merupakan hari memperingati puisi-puisi yang telah melegenda dari seorang penyair terkemuka di Indonesia.</p>
<p>fHari Puisi Nasional ini juga diperingati untuk mengenang wafatnya seorang penyair terkemuka di Indonesia yaitu Chairil Anwar yang dijuluki “Si Binatang Jalang” melalui karyanya yang berjudul “Aku”.</p>
<p>Nama lengkapnya yaitu Chairil Anwar lahir di Medan tanggal 26 Juli 1922, beliau merupakan seorang penyair terkemuka Indonesia yang  berdarah Minagkabau. Beliau merupakan anak satu-satunya dari pasangan Toeloes dan Saleha, kedua orang tuanya berasal dari daerah Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.</p>
<p>Beliau masih memiki ikatan keluarga dengan Perdana Menteri pertama Indonesia, yaitu Sutan Sjahrir, namun Chairil cenderung bersikap keras kepala dan tidak ingin kehilangan apapun tercermin dari kepribadian orang tuanya. Beliau lahir dan dibesarkan di Medan, sebelum pindah ke Batavia (Jakarta) bersama dengan ibunya pada tahun 1940 dimana dia mulai menggeluti dunia Sastra.</p>
<p>Sebagai anak tuggal orang tuanya selalu memanjakannya <em>dari</em> <em>kepribadian</em> orang tuanya. Beliau mulai mengenyam pendidikan di <em>Hollandsch-Inlandsche School </em>(HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda.</p>
<p>Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), namun saat usianya 18 tahun beliau tidak bersekolah lagi.  Beliau mengatakan sejak usia 15 tahun beliau telah bertekad menjadi seorang seniman.</p>
<p>Nama Chairil Anwar mulai terkenal di dunia Sastra setelah pemuatan Puisinya yang berjudul Nisan pada tahun 1942. Hamper semua puisi- puisi yang beliau tulis merujuk pada kematian. Puisi-puisinya beredar diatas kertas murah selama masa pendiudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945.</p>
<p>Karya-karya beliau juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Jerman, Rusia, dan Spanyol, diantaranya “ <em>Chairil Anwar: Selected poems </em>oleh <em>Burton Raffael </em>dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963).</p>
<p>Puisi hasil karya Chairil Anwar sempat dituduh sebagai hasil plagiarisme oleh H.B Jassin. Dalam tulisannya pada mimbar Indonesia yang berjudul Karya Asli, Saduran, dan Plagiat ia membahas tentang kemiripan puisi Karawang-Bekasi dengan The Dead Young Soldiers karya Archibald MacLeish.</p>
<p>Namun, meskipun mirip tetap ada rasa Chairil di dalamnya sedangkan sajak MacLeish hanyalah katalisator penciptaan.</p>
<p>Vitalitas puitis beliau tidak pernah diimbangi dengan kondisi fisiknya, sebelum menginjak usia 27 tahun, sejumlah penyakit telah menimpanya. Beliau meninggal dalam usia muda di Rumah Sakir CBZ (sekarang Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo) Jakarta pada tanggal 28 April 1949. Penyebab kematian beliau tidak di ketahui pasti, namun menurut dugaan lebih karena penyakit TBC.</p>
<p>Selama hidupnya beliau telah menulis sekitar 94 karya, termasuk 70 puisi, kebanyakan tidak di publikasikan. Puisi terakhir beliau berjudul Cemara Menderai Sampai Jauh, ditulis pada tahun 1949, semua tulisannya baik yang asli, modifikasi, atau yang diduga dijiplak, di kompilasi dalam tiga buku yang diterbitkan oleh Pustaka Rakyat. Buku-buku tersebut berjudul Deru Campur Debu (1949), Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus(1949), dan Tiga Menguak Takdir(1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).</p>
<p>Pergaulannya luas, dari golongan tingkat bawah sampai tingkat teratas seperti mantan pemimpin RI yang pertama Soekarno-Hatta. Dikalangan seniman beliau bergaul dengan penyair, penyanyi, pelukis, dramawan/dramawati, dan sebagainya.</p>
<p>Dalam lingkaran pergaulan beliau juga bergaul dengan seniman budayawan bentukan Jepang (Kheimin Bunka Shidoso). Baik atau tidaknya beliau semasa hidupnya banyak pelajaran yang sesungguhnya dapat di petik oleh generasi milenial zaman sekarang.</p>
<p>Beliau memiliki sifat yang patut untuk ditiru dan dicontoh yaitu,</p>
<ol>
<li>sayang ibu</li>
</ol>
<p>Pada tahun 1943 beliau pernah ditahan dan dipenjarakan polisi, dirinya lantas menulis surat pendek untuk ibunya yang diberikan kepada HB Jassin. Surat pendek beliau tersebut merupakan jeritan seorang anak yang sayang kepada ibunya.</p>
<ol start="2">
<li>pejuang cinta</li>
</ol>
<p>Bukan rahasia lagi jika beliau memiliki banyak tambatan hati, setidaknya ada 8 orang wanita yang pernah singgah dihatinya yang bahkan menginspirasinya untuk membuat puisi.</p>
<ol start="3">
<li>multilingual</li>
</ol>
<p>Meski tak beres dakam pendidikannya beliau ternyata seorang multilingual alias menguasai lebih dari satu bahasa, selain bahasa Indonesia bahasa lain yang beliau kuasai yaitu baha Inggris, Belanda, dan Jerman.</p>
<ol start="4">
<li>seniman berdikari</li>
</ol>
<p>Sempat memiliki pekerjaan tetap, namun beliau memilih untuk menjadi manusia merdeka yang bebas berkarya. Tak tergantung siapa pun membuat beliau dinobatkan sebagai sosok seniman berdikari yang tidak bisa dipesan kekuasaan. Meski selalu hidup dalam himpitan ekonomi namun honornya menulis puisi bisa menutupi kekurangannya.</p>
<ol start="5">
<li>urakan yang cinta tanah air</li>
</ol>
<p>Meski dikenal memiliki gaya hidup yang bohemian namun kecintaan beliau kepada bangsanya yang tidak perlu diragukan lagi. Bahkan dirinya turut andil dalam membuat slogan propaganda kemerdekaan Republik Indonesia pada masa penjajahan Jepang.</p>
<p><strong>*Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Unand</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/sosok-chairil-anwar-di-balik-puisi-yang-melegenda/">Sosok Chairil Anwar di Balik Puisi yang Melegenda</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">38232</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Penulisan yang Benar, Ramadan atau Ramadhan?</title>
		<link>https://langgam.id/penulisan-yang-benar-ramadan-atau-ramadhan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Palanta]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2020 15:25:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Ilmu Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Hide]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan 2020]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Andalas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=38081</guid>

					<description><![CDATA[<p>PalantaLanggam &#8211; Puasa ramadan 1441 hijriah jatuh pada tanggal 24 April 2020, tepatnya di hari Jumat. Bulan ramadan adalah bulan yang sangat ditunggu kedatangannya oleh umat islam di dunia. Bulan ini adalah bulan yang penuh berkah dan kesempatan bagi umat muslim untuk berpuasa dan mencari amal kebaikan. Menyambut kedatangan bulan ramadan ini, berbagai ucapan permohonan maaf ataupun ucapan menyambut bulan ramadan semakin ramai. Misalnya, selamat datang bulan suci &#8220;ramadhan&#8221; 1441 hijriah, atau marhaban ya &#8220;ramadhan&#8221;.  Pada ucapan menyambut bulan suci ramadan tesebut, orang-orang lebih akrab menuliskan dengan kata &#8220;ramadhan&#8221;, menggunakan tambahan huruf &#8220;h&#8221; setelah huruf &#8220;d&#8221;. Lalu bagaimana penulisan ramadan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/penulisan-yang-benar-ramadan-atau-ramadhan/">Penulisan yang Benar, Ramadan atau Ramadhan?</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PalantaLanggam &#8211; </strong>Puasa ramadan 1441 hijriah jatuh pada tanggal 24 April 2020, tepatnya di hari Jumat. Bulan ramadan adalah bulan yang sangat ditunggu kedatangannya oleh umat islam di dunia. Bulan ini adalah bulan yang penuh berkah dan kesempatan bagi umat muslim untuk berpuasa dan mencari amal kebaikan.</p>
<p>Menyambut kedatangan bulan ramadan ini, berbagai ucapan permohonan maaf ataupun ucapan menyambut bulan ramadan semakin ramai. Misalnya, <em>selamat datang bulan suci &#8220;ramadhan&#8221; 1441 hijriah, </em>atau <em>marhaban ya &#8220;ramadhan&#8221;.  </em>Pada ucapan menyambut bulan suci ramadan tesebut, orang-orang lebih akrab menuliskan dengan kata &#8220;ramadhan&#8221;, menggunakan tambahan huruf &#8220;h&#8221; setelah huruf &#8220;d&#8221;. Lalu bagaimana penulisan ramadan yang benar?</p>
<p>Berbicara mengenai kata ramadan, banyak orang masih sering mempertanyakan padanan yang tepat untuk kata tersebut.  Di dalam KBBI, arti ramadan adalah bulan ke-9 tahun hijriah.</p>
<p>Lalu mengapa masih banyak orang yang menuliskan kata &#8220;ramadhan&#8221;, jika di dalam KBBI sudah terdapat kata baku yang benar sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia? Hal itu disebabkan oleh banyaknya pendapat yang mengatakan bahwa kata &#8220;ramadan&#8221; tidak sesuai dengan makna yang sebenarnya.</p>
<p>Kata &#8220;ramadhan&#8221; berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata <em>ramidha </em>atau <em>arramadh.</em> Artinya &#8220;panas terik yang intens dan kering&#8221;, sedangkan kata &#8220;ramadan&#8221; artinya &#8220;orang yang sakit mata hendak buta&#8221;.</p>
<p>Perbedaan makna antara &#8220;ramadan&#8221; dan &#8220;ramadhan&#8221; membuat kebanyakan orang lebih memilih untuk menggunakan kata &#8220;ramadhan&#8221; karena sesuai dengan makna yang sebenarnya dari bulan puasa itu.</p>
<p>Lalu mengapa pada KBBI, penulisannya adalah ramadan? Penulisan dalam bahasa Indonesia memiliki kaidah tertentu. Dalam ejaan bahasa Arab, memang terdapat gabungan konsonan, seperti &#8220;dh&#8221;, &#8220;gh&#8221;, &#8220;sh&#8221; dan lainnya.</p>
<p>Namun, dalam bahasa Indonesia tidak terdapat aturan konsonan yang digabung menjadi &#8220;dh&#8221;, &#8220;gh&#8221;, &#8220;sh&#8221; dan sebagainya. Jadi, penulisan yang tepat adalah &#8220;ramadan&#8221;.</p>
<p>Penentuan penulisan kata ramadan itu juga tidak sembarangan. Para ahli bahasa dan alih bahasa juga memiliki pertimbangan untuk menentukan kata baku bahasa Indonesia sesuai dengan ejaan yang baik dan benar dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Berdasarkan kanal <em>ngopibareng</em>, salah satu media daring yang saya telusuri, menuliskan bahwa akun instagram Kementrian dan Kebudayaan (kemdikbud.ri) menyebutkan jika penulisan ramadan yang benar adalah &#8220;ramadan&#8221; tanpa huruf &#8220;h&#8221;.</p>
<p>Pembiasaan menggunakan kata baku yang baik dan benar sesuai dengan ejaan Bahasa Indonesia harus segera digalakkan. Perihal penggunaan kata asing yang diserap ke dalam bahasa Indonsia harus disesuaikan dengan kaidah dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Terkait dengan penggunaan kata &#8220;ramadhan&#8221;, masyarakat lebih sering menggunakan sistem transkipsinya bukan transliterasinya. Transkripsi bahasa berarti pengalihan tuturan yang berwujud bunyi ke dalam bentuk tulisan, sedangkan transliterasi adalah pengalihan suatu jenis huruf ke huruf lainnya.</p>
<p>Setelah mengetahui bagaimana penulisan kata baku &#8220;ramadan&#8221; yang benar, kita harus membiasakan untuk menulisnya sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.</p>
<p>Hal yang lebih penting adalah bahwa kaidah bahasa Indonesia harus ditaati, untuk meminimalisir kesalahan dalam penulisan kata baku yang baik dan benar.</p>
<p><strong>*Mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Andalas. Aktif berkegiatan di komunitas literasi Lapak Baca Pojok Harapan</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/penulisan-yang-benar-ramadan-atau-ramadhan/">Penulisan yang Benar, Ramadan atau Ramadhan?</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">38081</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ternyata Menangis Punya Banyak Manfaat</title>
		<link>https://langgam.id/ternyata-menangis-punya-banyak-manfaat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Palanta]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Mar 2020 12:44:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Ilmu Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Andalas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=33341</guid>

					<description><![CDATA[<p>PalantaLanggam &#8211; Menangis adalah hal manusiawi yang pasti pernah dialami setiap orang baik dari anak-anak maupun orang dewasa. Menangis dikenal sebagai suatu ungkapan emosional yang keluar secara alamiah. Menurut Dokter Aaron Neufeld dari Los Altos Optometric Group mengungkapkan ada tiga jenis air mata: Air mata basal yaitu dianggap sebagai air mata fungsional dasar karena bertugas membuat mata jadi lembap. Air mata refleks atau disebut juga sebagai air mata iritasi disebabkan oleh stresor lingkungan seperti embusan angin, asap, atau debu. Air mata psikis adalah air mata yang keluar terkait dengan perasaan dan emosi seseorang. Didalam pembagian tiga jenis air mata tersebut,</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ternyata-menangis-punya-banyak-manfaat/">Ternyata Menangis Punya Banyak Manfaat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #993300;"><a style="color: #993300;" href="https://langgam.id/">PalantaLanggam</a> </span>&#8211; </strong>Menangis adalah hal manusiawi yang pasti pernah dialami setiap orang baik dari anak-anak maupun orang dewasa. Menangis dikenal sebagai suatu ungkapan emosional yang keluar secara alamiah.</p>
<h5><span style="font-size: 12pt;">Menurut Dokter Aaron Neufeld dari Los Altos Optometric Group mengungkapkan ada tiga jenis air mata:</span></h5>
<ol>
<li>Air mata basal yaitu dianggap sebagai air mata fungsional dasar karena bertugas membuat mata jadi lembap.</li>
<li>Air mata refleks atau disebut juga sebagai air mata iritasi disebabkan oleh stresor lingkungan seperti embusan angin, asap, atau debu.</li>
<li>Air mata psikis adalah air mata yang keluar terkait dengan perasaan dan emosi seseorang.</li>
</ol>
<p>Didalam pembagian tiga jenis air mata tersebut, hampir semua orang pernah mengalaminya. Akan tetapi, yang lebih sering dialami setiap orang adalah air mata psikis. Misalnya, menangis karena sering mengalami keadaan seperti perasaan sedih, marah, senang, ataupun tertawa bahagia.</p>
<p>Semua orang berhak menangis dan meneteskan air mata. Akan tetapi banyak pula yang beranggapan bahwa yang sering menangis adalah kaum hawa atau perempuan karena mereka akan lebih mudah menitikkan air matanya jika dibandingankan dengan pria.</p>
<p>Pasalnya, perempuan identik dengan hati yang lembut sehingga lebih mudah tersentuh dan menangis apabila melihat sesuatu hal yang memicu emosinya.</p>
<p>Jika seseorang yang suka menangis dan mengeluarkan air mata, itu sesuatu hal yang wajar dan biasa, namun banyak yang beranggapan kalau orang yang suka menangis adalah seseorang yang cenggeng. Karena hal inilah yang membuat beberapa orang rela menyembunyikannya dan bahkan menahan untuk tidak menangis karena takut dianggap lemah.</p>
<p>Pada penelitian di <span style="color: #000000;"><a style="color: #000000;" href="https://www.usf.edu/">University of South Florida</a></span>, ditemukan bahwa menumpahkan air mata bisa meningkatkan suasana hati hampir 90 persen dari orang yang menangis. Hanya ada delapan persen yang melaporkan menangis membuat mereka merasa lebih buruk.</p>
<h5><span style="font-size: 12pt;">Ternyata menangis mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan antara lain:</span></h5>
<ol>
<li><strong>Menghilangkan Stres</strong></li>
</ol>
<p>Sudah bukan rahasia umum, jika menangis dapat membantu melepaskan luapan emosi. Selain itu, ternyata menangis juga berperan untuk mengurangi rasa galau, stres, tekanan, serta meringankan beban pikiran. Semakin kita sering menahan emosi, maka semakin besar pula kemungkinan untuk lepas kendali.</p>
<p>Oleh sebab itu, maka cara yang terbaik dan termudah untuk menghilangkan semuanya dengan cara menangis. Itu karena ada hormon <em>adrenocorticotropic </em>(ACTH) yang membuat seseorang ingin mengeluarkan air mata.</p>
<p>Menangislah sekencang-kencangnya karena dapat membuat seseorang akan merasa lebih baik. Menurut William H. Frey Ph.D dan Direktur Psychiatry Research Laboratories di St. Paul Ramsey Medical Centre, menangis membuat orang stres lebih tenang dan santai.</p>
<ol start="2">
<li><strong>Memperbaiki Suasana Hati</strong></li>
</ol>
<p>Menangis pun bermanfaat untuk memperbaiki suasana hati (<em>mood</em>) seseorang. Itu karena saat menangis kita akan menarik banyak napas yang cepat, sehingga mengatur dan menurunkan suhu otak.</p>
<ol start="3">
<li><strong>Melegakan Perasaan</strong></li>
</ol>
<p>Setelah menangis akan membuat perasaan menjadi lega. Perasaan lega itu dikarenakan sistem limbik, otak, dan jantung menjadi lebih lancar setelah menangis sepuas-puasnya.</p>
<ol start="4">
<li><strong>Meningkatkan Penglihatan</strong></li>
</ol>
<p>Ternyata menangis juga dapat mengurangi resiko mata rabun atau mata kering dan dapat meningkatkan penglihatan. Karena, dengan menangis mata akan tetap lembab dan dapat mencegah membran mukosa pada mata, agar tidak mengalami kekeringan atau dehidrasi.</p>
<ol start="5">
<li><strong>Melawan Bakteri</strong></li>
</ol>
<p>Cairan <em>lysozyme </em>yang terkandung di dalam air mata dapat berfungsi untuk melawan bakteri dan menjaga kebersihan mata. Dalam beberapa menit, <em>lysozyme</em> mampu membunuh 90-95 persen bakteri dalam tubuh.</p>
<p>Karena itulah, jika merasa ada tekanan emosi yang dapat memicu untuk menangis, maka menangislah jangan pernah ditahan-tahan. Lepaskanlah semuanya supaya mental dan kondisi diri akan menjadi lebih baik.</p>
<ol start="6">
<li><strong>Meningkatkan Kualitas Tidur</strong></li>
</ol>
<p>Menangis dapat meningkatkan kualitas tidur lebih baik terutama pada bayi. Sebuah penelitian menemukan fakta bahwa menangis dapat membantu bayi tidur nyenyak dari biasanya.</p>
<p>Namun, belum ada penelitian terbaru bahwa tentang manfaat menangis terhadap kualitas tidur orang dewasa.</p>
<p>Untuk itu, sebagai makhluk sosial menangislah dan janganlah ditahan-tahan karena itu akan berpengaruh buruk jika selalu ditahan secara terus menerus.</p>
<p>Menangis adalah sesuatu yang wajar dan biasa, air mata bisa menetes kapan saja, maka lepaskanlah semuanya dengan cara menangis. Karena hal itu, bisa membuat kita jauh lebih baik lagi.</p>
<p><strong>*Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ternyata-menangis-punya-banyak-manfaat/">Ternyata Menangis Punya Banyak Manfaat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">33341</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Hikmah di Balik Wabah Virus Corona</title>
		<link>https://langgam.id/hikmah-di-balik-wabah-virus-corona/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Palanta]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2020 13:04:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Ilmu Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Andalas]]></category>
		<category><![CDATA[Virus Corona]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=33024</guid>

					<description><![CDATA[<p>PalantaLanggam &#8211; Akhir-akhir ini dunia digegerkan dengan munculnya virus yang bernama corona atau covid-19. Wabah ini kali pertama diumumkan pada 31 Desember 2019, bermula muncul dari pasar makanan yang berada di Kota Wuhan, China. Sekarang covid-19 telah merabah hampir ke seluruh dunia termasuk di Indonesia. Indonesia jadikan virus corona sebagai bencana nasional. Banyak orang takut, stress, bahkan frustasi. Virus ini telah memakan banyak korban, virus yang datang tiba-tiba, tidak terduga. Bahkan sulit untuk dideteksi kapan tertular dan siapa yang menularkan. Sungguh covid-19 sangat mengerikan. Virus corona atau covid-19, telah memberikan dampak yang sangat besar terhadap manusia. Salah satunya adalah bagi</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/hikmah-di-balik-wabah-virus-corona/">Hikmah di Balik Wabah Virus Corona</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PalantaLanggam &#8211; </strong>Akhir-akhir ini dunia digegerkan dengan munculnya virus yang bernama corona atau covid-19. Wabah ini kali pertama diumumkan pada 31 Desember 2019, bermula muncul dari pasar makanan yang berada di Kota Wuhan, China.</p>
<p>Sekarang covid-19 telah merabah hampir ke seluruh dunia termasuk di Indonesia. Indonesia jadikan virus corona sebagai bencana nasional. Banyak orang takut, stress, bahkan frustasi.</p>
<p>Virus ini telah memakan banyak korban, virus yang datang tiba-tiba, tidak terduga. Bahkan sulit untuk dideteksi kapan tertular dan siapa yang menularkan. Sungguh covid-19 sangat mengerikan.</p>
<p>Virus corona atau covid-19, telah memberikan dampak yang sangat besar terhadap manusia. Salah satunya adalah bagi pendidikan di Indonesia.</p>
<p>Seperti yang kita ketahui sekarang, covid-19 telah merubah sistem pembelajaran menjadi metode daring atau kuliah dari jarak jauh, tentunya hal itu tidak produktif lagi.</p>
<p>Banyak mahasiswa yang mengeluh tentang cara pembelajaran yang seperti itu. Karena metode pembelajaran ini bukannya mempermudah dan menyenangkan, tetapi malah lebih parah dari biasanya.</p>
<p>Metode ini memberikan tugas yang sangat banyak kepada mahasiswa, biasanya di metode tatap muka tidak pernah ada tugas sebanyak ini. Hal ini membuat sebagian mahasiswa kelelahan dan menjadi sedikit stress.</p>
<p>Dampak lainnya adalah terhadap hak konsumen di Indonesia. Dengan munculnya wabah covid-19 bukanya menjadikan manusia peduli satu sama lain. Tetapi, lebih memikirkan keuntungan masing-masing. Dengan adanya wabah ini orang-orang dianjurkan untuk memakai masker.</p>
<p>Tapi apalah daya, produsen-produsen masker menjadikan musibah ini sebagai ladang keuanggan baginya, mereka dengan seenaknya menaikan harga masker menjadi lebih mahal bahkan ada yang hampir mencapai sepuluh kali lipat dari biasannya.</p>
<p>Dan juga sebagian orang-orang ada yang dengan sengaja menjual kembali masker-masker bekas.</p>
<p>Di balik semua dampak-dampak yang diakibatkan dari musibah covid-19, terdapat kandungan hikmah yang luar biasa dahsyat. Jauh lebih dasyat dari pada sisi musibahnya.</p>
<p>Apa itu?. Yaitu virus corona telah menarik hati kita untuk kembali ke fitrah manusia sebagai makhluk keluarga.</p>
<p>Selama ini seperti yang kita ketahui, globalisasi telah merubah fitrah manusia menjadi orang yang individualis. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing tampa mempedulikan orang lain. Seolah-olah dia menjadi pengusaha dunia.</p>
<p>Manusia selama ini dibutakan dengan harta benda, punya pangkat, punya jabatan dan merasa status sosial tinggi. mereka lupa diri dan terlalu mencintai dunia.</p>
<p>Padahal dunia hanyalah tempat persinggahan sementara, harta benda, pangkat dan jabatan tidak akan berguna kelak kita berada di akhirat.</p>
<p>Sebelum adanya wabah dari virus corona ini, orang selalu keluar rumah dari pagi sampai malam, baik itu orang tua yang mencari nafkah ataupun anak-anak remaja yang sedang menempuh pendidikan. Dulu orang sering berkeliaran kesana kemari, sehingga rumah hanya menjadi tempat untuk tidur dan membuang kotoran.</p>
<p>Seharusnya rumah dibangun untuk tempat berteduh satu anggota keluarga, memberi nasehat dan membagikan informasi satu dengan yang lainnya. Tetapi dunia telah mengalihkan semuanya, orang lebih cinta kepada dunia.</p>
<p>Munculnya musibah dari wabah covid-19  telah membuat kita untuk selalu berada di rumah bersama keluarga, baik dalam melakukan pekerjaan ataupun melakukan pembelajaran untuk anak-anak yang sedang menempuh pendidikan.</p>
<p>Disinilah kesempatan yang sangat berharga bagi semua anggota keluarga, kesempatan yang sudah jarang terjadi. Kalaupun ada waktu dalam berkumpul pasti masing-masing sibuk dengan <em>gadget</em> canggih yang selalu berada di tangan.</p>
<p>Wabah covid-19 ini adalah ujian yang diberikan oleh Tuhan untuk menguji siapa yang lebih baik amalnya. Setiap musibah selalu terdapat banyak hikmah di dalamnya, Tuhan tidak sia-sia memberikan kita musibah.</p>
<p>Kelak badai yang diakibatkan oleh wabah covid-19 ini akan melahirkan sosok yang lebih tangguh dan cerdas. Maka janganlah mengeluh ketika mendapatkan ujian dari Tuhan.</p>
<p><strong>*Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/hikmah-di-balik-wabah-virus-corona/">Hikmah di Balik Wabah Virus Corona</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">33024</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Lawan Virus Corona dengan Mengkonsumsi  Rempah-rempah</title>
		<link>https://langgam.id/lawan-virus-corona-dengan-mengkonsumsi-rempah-rempah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Palanta]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2020 02:45:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Ilmu Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Andalas]]></category>
		<category><![CDATA[Virus Corona]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=32033</guid>

					<description><![CDATA[<p>PalantaLanggam &#8211; Rempah-rempah tradisional cukup ampuh menjaga daya tahan tubuh, dan menjadi salah stau solusi melawan wabah virus corona (Covid-19) yang semakin agresif. Pemerintah melalui Kementrian Kesehatan terus mengimbau seluruh warga negara Indonesia untuk tetap tenang dan tidak panik. Kita sebenarnya tidak usah terlalu panik, kita hanya perlu menjaga kebersihan dan menjaga daya tahan tubuh kita sendiri. Yang sebaiknya kita lakukan adalah dengan sering mencuci tangan, membersihkan benda-benda yang sering dipakai, dan menghindari kontak langsung dengan orang yang sakit, istirahat yang cukup, serta memenuhi asupan gizi yang seimbang melalui makanan dan minuman yang dikonsumsi. Salah satu cara yang dapat kita</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/lawan-virus-corona-dengan-mengkonsumsi-rempah-rempah/">Lawan Virus Corona dengan Mengkonsumsi  Rempah-rempah</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PalantaLanggam &#8211; </strong>Rempah-rempah tradisional cukup ampuh menjaga daya tahan tubuh, dan menjadi salah stau solusi melawan wabah virus corona (Covid-19) yang semakin agresif.</p>
<p>Pemerintah melalui Kementrian Kesehatan terus mengimbau seluruh warga negara Indonesia untuk tetap tenang dan tidak panik.</p>
<p>Kita sebenarnya tidak usah terlalu panik, kita hanya perlu menjaga kebersihan dan menjaga daya tahan tubuh kita sendiri. Yang sebaiknya kita lakukan adalah dengan sering mencuci tangan, membersihkan benda-benda yang sering dipakai, dan menghindari kontak langsung dengan orang yang sakit, istirahat yang cukup, serta memenuhi asupan gizi yang seimbang melalui makanan dan minuman yang dikonsumsi.</p>
<p>Salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk menjaga daya tahan tubuh atau imunitas adalah dengan menjaga asupan makanan maupun minuman yang bergizi dan bermanfaat untuk tubuh. Baru-baru ini kita mendengar berita, bahwasannya ada pria asal China yang sembuh dari Corona lewat bantuan air putih. Pria asal China itu bernama Chen.</p>
<p>Saat karantina itu Chen mengalami demam tinggi 6 hari 6 malam. Ia lantas disarankan minum banyak air putih untuk mengatasi tenggorokannya yang kering. Akhirnya, Chen rutin minum air hingga 25 liter setiap hari untuk mengatasi tenggorokan kering yang diduga menyebabkan perkembangan virus.</p>
<p>Ajaibnya, kebiasaan Chen minum air putih 25 liter per hari justru membuat kondisi tubuhnya cepat pulih. Pada 26 Januari 2020, hasil tes medis Chen menunjukkan dirinya negatif virus corona dan tidak perlu dikarantina lagi.</p>
<p>“Saya sembuh, saya benar-benar sehat dan bisa meninggalkan rumah sakit,’ kara Chen dikutip oleh worldofbuzz.com. Selain minum air putih yang banyak untuk menjaga tubuh agar terhindar dari dehidrasi. Indonesia mempunyai banyak sekali rempah-rempah yang dapat kita konsumsi untuk menambah daya tahan tubuh.</p>
<p><strong>Berikut ini adalah beberapa rempah yang bisa kita manfaatkan untuk menjaga daya tahan tubuh yaitu :</strong></p>
<ol>
<li><strong>Kunyit</strong></li>
</ol>
<p>Kunyit merupakan salah satu rempah yang memiliki warna kuning yang khas. Rempah satu ini memiliki manfaat sebagai bumbu dapur, bahan pewarna kuning alami juga bahan ramuan jamu.</p>
<p>Menurut Profesor Amir Soebandrio, Direktur Lembaga Biologi Molekuler Ejikman, kandungan kurkumin pada kunyit secara umum bisa meningkatkan daya tahan tubuh.</p>
<p>“Karena ada beberapa kajian bahwa kurkumin punya efek misalnya menurunkan peradangan, ada yang menyebut efek antioksidan, yang berguna untuk meningkatkan kesehatan dan daya tahan tubuh.”</p>
<ol start="2">
<li><strong>Jahe</strong></li>
</ol>
<p>Jahe bisa Anda manfaatkan untuk menjaga daya tahan tubuh.</p>
<p>“Senyawa gingerin pada jahe bisa untuk antiinflamasi atau radang flu, demikian juga beberapa antioksidan pada rempah untuk imunitas tubuh,” kata Profesor Dodik Briawan, ahli gizi masyarakat IPB.</p>
<ol start="3">
<li><strong>Temulawak</strong></li>
</ol>
<p>Temulawak juga mengandung kurkumin yang memberikan warna kuning pada rempah ini. Konsumsi temulawak pun diyakini bisa menyehatkan sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh.</p>
<p>Anda tentu masih ingat resep jamu ala Presiden Jokowi. Resepnya sederhana, yaitu cukup merebus temulawak, kunyit dan jahe. Selain menjaga daya tahan tubuh, temulawak juga mampu melindungi organ hati.</p>
<ol start="4">
<li><strong>Kayu Manis </strong></li>
</ol>
<p>Kayu manis mempunyai aroma yang khas, sehingga banyak dimanfaatkan sebagai campuran masakan maupun kudapan. Kayu manis banyak mengandung kalsium, serat, vitamin B6, magnesium, zat besi, vitamin A, karbohidrat dan vitamin C.</p>
<p>Kayu manis juga dikenal kaya akan antioksidan, antimikroba dan antiimflamasi sehingga rempah ini bisa meningkatkan daya tahan tubuh. Jenis rempah ini biasa dikonsumsi dalam bentuk serbuk sebagai campuran minuman atau makanan. Kayu manis utuh pun bisa dimanfaatkan sebagai campuran pada rebusan jamu.</p>
<ol start="5">
<li><strong>Sereh</strong></li>
</ol>
<p>Daun sereh berkaitan dengan kesehatan. Daun yang kerap dijadikan pelengkap bumbu masakan ini mengandung vitamin B, magnesium, kalium dan zat besi.</p>
<p>Sereh bisa membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Kandungan antioksidannya berperan melawan radikal bebas. Sereh memiliki beberapa jenis antioksidan seperti asam klorogenat, isoorientin, dan swertia japonin.</p>
<p><strong>*Mahasiswa Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/lawan-virus-corona-dengan-mengkonsumsi-rempah-rempah/">Lawan Virus Corona dengan Mengkonsumsi  Rempah-rempah</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">32033</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kesenian Adat Minangkabau di Ambang Kepunahan</title>
		<link>https://langgam.id/kesenian-adat-minangkabau-di-ambang-kepunahan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Palanta]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2020 01:22:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Adat Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Ilmu Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Andalas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=31833</guid>

					<description><![CDATA[<p>PalantaLanggam &#8211; Kalau kita berbicara tentang tanah Minangkabau, Sumatra Barat, apa sih yang kamu pikirkan? Mungkin hal pertama yang ada di pikiran kamu yaitu randang, nasi Padang, rumah gadang, Jam Gadang dan perantauan. Budaya, adat dan logat yang kental membuat dimanapun orang Minang berada, pasti bakal keliatan jelas bahwa dia itu orang Minang. Dan uniknya mereka ada di banyak kota di Indonesia. Minangkabau merupakan satu-satunya suku yang menganut sistem matrilineal di Indonesia. Maksudnya, setiap anak lahir baik laki-laki maupun perempuan secara langsung akan menjadi anggota keluarga suku ibu, karena di Minangkabau garis keturunan ditarik berdasarkan keluarga ibu. Orang Minangkabau juga</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kesenian-adat-minangkabau-di-ambang-kepunahan/">Kesenian Adat Minangkabau di Ambang Kepunahan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PalantaLanggam &#8211; </strong>Kalau kita berbicara tentang tanah Minangkabau, Sumatra Barat, apa sih yang kamu pikirkan? Mungkin hal pertama yang ada di pikiran kamu yaitu randang, nasi Padang, rumah gadang, Jam Gadang dan perantauan.</p>
<p>Budaya, adat dan logat yang kental membuat dimanapun orang Minang berada, pasti bakal keliatan jelas bahwa dia itu orang Minang. Dan uniknya mereka ada di banyak kota di Indonesia.</p>
<p>Minangkabau merupakan satu-satunya suku yang menganut sistem matrilineal di Indonesia. Maksudnya, setiap anak lahir baik laki-laki maupun perempuan secara langsung akan menjadi anggota keluarga suku ibu, karena di Minangkabau garis keturunan ditarik berdasarkan keluarga ibu.</p>
<p>Orang Minangkabau juga sering pergi merantau. Mereka berani pergi merantau karena sudah dibekali dengan ajaran silat dan iman yang kuat. Oleh sebab itu orang Minang dikenal sebagai muslim yang taat.</p>
<p>Seni tradisional berasal dari kata seni dan tradisional. Seni artinya keindahan, tradisional artinya kebiasaan yang biasa berlaku dalam adat. Jadi, seni tradisional Minangkabau berarti ungkapan rasa keindahan yang bersumberbdari kebiasaan adat dan budaya orang Minangkabau.</p>
<p>Rasa indah itu bagi masyarakat Minangkabau biasanya bersumber dari alam sekitar, baik gerak, bunyi dan bentuk yang dilihatnya. Ungkapan adat menyatakan :</p>
<p><em>Panakiak pisau sirauik</em></p>
<p><em>Panungkek batang lintabuang</em></p>
<p><em>Salodang ambiak ka niru</em></p>
<p><em>Satitiak jadikan lauik</em></p>
<p><em>Sakapa jadikan gunuang</em></p>
<p><em>Alam takambang jadikan guru</em></p>
<p>Ungkapan adat tersebut mengisyaratkan bahwa setiap orang harus mampu mempetinggi rasa, memberi nilai tambah, serta menggunakan akal pikiran untuk mengembangkan kesenian yang bersumber dari alam Minangkabau.</p>
<p>Keindahan dan keberagaman kesenian Minangkabau merupakan warisan yang dapat menyokong dan melengkapi kesenian lain yang berada di Indonesia. Kesenian-kesenian ini berupa tari-tarian yang terdiri dari Tari Piring, Tari rantak, Tari Randai, Tari Indang, Tari Payung, dan lainnya.</p>
<p>Selain itu juga ada kesenian pantun dan sambah-manyambah. Ada kesenian musik dengan alat musik, saluang, gandang tabuik, rebana dan lain-lainnya.</p>
<p>Budaya Minangkabau juga melahirkan banyak etnis alat musik dan lagu. Di antaranya yaitu alat musik khas Minangkabau adalah saluang, talempong, rabab, serta bansi. Keempat alat musik ini biasanya dimainkan dalam pesta adat dan perkawinan. Kini musik Minang tidak terbatas dimainkan dengan menggunakan empat alat musik tersebut.</p>
<p>Perkembangan zaman pada saat ini memberi efek memprihatinkan terhadap kebudayaan minangkabau. Semakin lama eksitensi Minangkabau semakin memudar saat banyak dari generasi muda yang mulai melupakan budaya mereka sendiri. Generasi muda kian tak acuh terhadap seluk beluk kebudayaan Minangkabau seperti kesenian yang ada di dalamnya. Kebanyakan generasi muda Minangkabau sekarang banyak yang malu akan kebudayaan yang ia miliki.</p>
<p>Ia lebih senang dengan kebudayaan orang luar seperti Kpop, dan hal lainnya. Ia juga lebih senang memainkan tik tok dari pada memainkan permainan Minangkabau. Ia lebih senang mendengarkan musik Korea, Jepang, dan Indonesia.</p>
<p>Generasi muda Minangkabau sekarang lebih senang dengan meekspresikan hal yang ia sukai dengan berbahasa asing dibandingkan dengan bahasa daerahnya sendiri. Sehingga membuat kesenian minangkabau terlupakan dan tidak ada yang mau melestarikannya kembali.</p>
<p>Generasi muda sekarang bisa dikatakan sangat minim dengan nilai moral serta nilai kebudayaan berkesenian. Generasi muda sekarang lebih rawan maksiat, sebut saja sederatan arti-artis Korea, boyband dan grilband ia mengetahui hal tersebut, bahkan sampai kesejarahan masa lalu tentang Minangkabu ia tidak mengetahuinya.</p>
<p>Keadaan ini tentu begitu mengiris hati dan perasaan, ketika para perantau Minangkabau diseluruh penjuru negeri ibu pertiwi berusaha untuk melestarikan variasi budaya minangkabau, namun usaha itu seakan-akan sia-sia karena masyarakat daerah Minangkabau itu sendiri tidak mampu melestarikan budayanya sendiri.</p>
<p>Dan ketika budaya minangkabau dikalim oleh negara lain, lucunya pemuda minangkabau merasa begitu geram.</p>
<p>Pada masa sekarang banyak kita lihat tidak begitu banyak adanya penampilan kesenian yang ada di Minangkabau. Jika ada kesenian minangkabau yang kita lihat pada saat ini yaitu berupa tari-tarian yang di tampilkan pada saat acara pesta.</p>
<p>Serta lagu-lagu Minang yang dinyanyikan ketika acara pesta atau acara-acara tertentu. Dulu orang-orang Minangkabau dimana saja kita berada kesenian minaag selalu kita dengar melalui alat musik seperti Pupuik, Saluang, dan Rabab.</p>
<p>Kini jarang kita temui lagi orang yang memainkan pupuik dan saluang. Media penyampaian kesenian tersebut sudah terbatas dan banyak orang-orang menyampaikan kesenian tersebut di tempat-tempat seperti di Pertamina, Di lampu merah, dan di tempat lainnya.</p>
<p>Kita sebagai generasi muda harus melestarikan, membudayakan dan menghormati kesenian yang sudah ada sejak zaman dahulu. Agar tidak punah dizaman modern ini, juga untuk menjaga sebaik-baiknya agar tidak direbut/diklaim oleh orang luar, dan yang paling utama adalah selalu memegang teguh amanat dari para pendahulu untuk generasi penerus yang semua kesenian dan kebudayaan ini menjadi akar dari semua kehidupan.</p>
<p>Hendaknya para penerus generasi sekarang ini membulatkan tekadnya untuk dapat menyatukan visi bersama untuk menjaga adat dan kesenian budaya agar tetap utuh di dalam keseharian masyarakat. Bukan seperti saat ini, pemuda banyak tidak peduli dan masih mengedapankan sikap individualisme dan apatis.</p>
<p><strong>*Mahasiswi Sastra Minangkabau, Universitas Andalas</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kesenian-adat-minangkabau-di-ambang-kepunahan/">Kesenian Adat Minangkabau di Ambang Kepunahan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">31833</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 26/79 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-07-17 06:41:58 by W3 Total Cache
-->