<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Digitalisasi Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/digitalisasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/digitalisasi/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Sat, 29 Nov 2025 08:02:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Digitalisasi Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/digitalisasi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Pemprov Sumbar Gaspol Percepatan Roadmap ETPD 2025, Digitalisasi Pembayaran Daerah Mendesak!</title>
		<link>https://langgam.id/pemprov-sumbar-gaspol-percepatan-roadmap-etpd-2025-digitalisasi-pembayaran-daerah-mendesak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Nov 2025 08:02:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bapenda Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Digitalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemprov Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=239172</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) menegaskan komitmen percepatan Roadmap ETPD 2025 dalam High Level Meeting (HLM) TP2DD dan Capacity Building yang digelar di Auditorium Gubernuran Sumbar, Senin (24/11/2025). Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar, Arry Yuswandi, mengatakan bahwa percepatan Roadmap ETPD 2025 menjadi langkah penting untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, sekaligus efisiensi tata kelola keuangan daerah. &#8220;Pemerintah daerah didorong mengoptimalkan PAD dengan pemanfaatan kanal pembayaran nontunai lewat elektronifikasi transaksi,&#8221; katanya dalam sambutan kegiatan tersebut. Sekda mengingatkan seluruh OPD pengelola pendapatan serta pemerintah kabupaten/kota agar mempercepat implementasi kanal digital, mengingat hal tersebut berpengaruh langsung pada peningkatan indeks ETPD dan penilaian TP2DD</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pemprov-sumbar-gaspol-percepatan-roadmap-etpd-2025-digitalisasi-pembayaran-daerah-mendesak/">Pemprov Sumbar Gaspol Percepatan Roadmap ETPD 2025, Digitalisasi Pembayaran Daerah Mendesak!</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211;</strong> Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) menegaskan komitmen percepatan Roadmap ETPD 2025 dalam High Level Meeting (HLM) TP2DD dan Capacity Building yang digelar di Auditorium Gubernuran Sumbar, Senin (24/11/2025).</p>



<p>Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar, Arry Yuswandi, mengatakan bahwa percepatan Roadmap ETPD 2025 menjadi langkah penting untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, sekaligus efisiensi tata kelola keuangan daerah.</p>



<p>&#8220;Pemerintah daerah didorong mengoptimalkan PAD dengan pemanfaatan kanal pembayaran nontunai lewat elektronifikasi transaksi,&#8221; katanya dalam sambutan kegiatan tersebut.</p>



<p>Sekda mengingatkan seluruh OPD pengelola pendapatan serta pemerintah kabupaten/kota agar mempercepat implementasi kanal digital, mengingat hal tersebut berpengaruh langsung pada peningkatan indeks ETPD dan penilaian TP2DD Championship Regional Sumatera.</p>



<p>&#8220;Percepatan Roadmap ETPD 2025 membutuhkan sinergi kuat lintas lembaga,&#8221; katanya.</p>



<p>Senada dengan itu, Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Sumbar, Syefdinon, menegaskan bahwa HLM TP2DD dan kegiatan Capacity Building menjadi momentum penting untuk memperkuat pemahaman aparatur dalam mendorong percepatan elektronifikasi transaksi pemerintah daerah.</p>



<p>Langkah ini sekaligus mengakselerasi penyempurnaan penyusunan Roadmap ETPD Tahun 2025 yang menjadi pedoman utama digitalisasi pembayaran di lingkungan pemerintah daerah.</p>



<p>Menurut Syefdinon, kegiatan ini diarahkan untuk memperluas wawasan aparatur mengenai implementasi pembayaran non-tunai serta memperkuat komitmen semua pihak dalam mengoptimalkan sistem transaksi digital.</p>



<p>“Sasarannya jelas, yakni penyempurnaan Roadmap ETPD 2025, peningkatan penggunaan sistem pembayaran elektronik di seluruh transaksi pendapatan daerah, serta mendorong masyarakat Sumbar semakin terbiasa menggunakan transaksi non-tunai,” ujarnya.</p>



<p>Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan HLM dan Capacity Building, terutama Bank Indonesia dan Bank Nagari yang selama ini aktif mendorong digitalisasi daerah.</p>



<p>Menurutnya, sinergi tersebut telah memberi dampak positif pada peningkatan Indeks ETPD serta hasil penilaian TP2DD Championship Regional Sumatera.</p>



<p>“Kolaborasi ini terbukti memperkuat posisi Sumatera Barat dalam percepatan digitalisasi pemerintah daerah,” tambahnya.</p>



<p>Ke depan, Pemprov Sumbar menargetkan penguatan sinergi antara pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota agar pemanfaatan transaksi digital semakin meluas. Upaya ini diharapkan mampu menciptakan tata kelola keuangan yang lebih transparan, efisien, dan modern di seluruh wilayah Sumbar.</p>



<p>Diketahui, kegiatan yang diikuti sekitar 150 peserta, mulai dari kepala daerah kabupaten/kota, Ketua Harian TP2DD, SKPD terkait, Bank Indonesia, hingga Bank Nagari.</p>



<p>Sementara itu, Bank Indonesia memaparkan perkembangan indeks ETPD, capaian TP2DD sepanjang 2024, serta perlunya peningkatan realisasi penggunaan kanal digital seperti QRIS, mobile banking, e-commerce, dan berbagai kanal non-tunai lainnya. Dukungan serupa disampaikan Bank Nagari sebagai pengelola RKUD yang berkomitmen memperluas kanal pembayaran digital di daerah. <strong>(rls)</strong></p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pemprov-sumbar-gaspol-percepatan-roadmap-etpd-2025-digitalisasi-pembayaran-daerah-mendesak/">Pemprov Sumbar Gaspol Percepatan Roadmap ETPD 2025, Digitalisasi Pembayaran Daerah Mendesak!</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">239172</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kehampaan di Tengah Produktivitas</title>
		<link>https://langgam.id/kehampaan-di-tengah-produktivitas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Palanta]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2025 00:40:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Digitalisasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=230293</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Rezkya Afril Apa artinya produktif, jika setiap malam kita merasa kosong dan tak terhubung dengan diri sendiri? Setiap pagi, ketika alarm ponsel berbunyi, tangan saya hampir selalu langsung meraih gawai di samping bantal. Sambungan internet yang menyala semalaman membuat notifikasi berdatangan, mulai dari pesan singkat, pembaruan berita, hingga pengingat target harian. Belum sempat menarik napas panjang atau duduk dengan tenang, saya sudah membuka satu per satu. Hari baru pun dimulai begitu saja. Segalanya berjalan cepat, otomatis dan nyaris tanpa jeda. Dalam kepadatan itu, ada sesuatu yang pelan-pelan hilang. Tubuh saya bergerak mengikuti rutinitas, tetapi jiwa terasa tertinggal entah di</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kehampaan-di-tengah-produktivitas/">Kehampaan di Tengah Produktivitas</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Oleh: <strong>Rezkya Afril</strong> </p>



<p>Apa artinya produktif, jika setiap malam kita merasa kosong dan tak terhubung dengan diri sendiri?</p>



<p>Setiap pagi, ketika alarm ponsel berbunyi, tangan saya hampir selalu langsung meraih gawai di samping bantal. Sambungan internet yang menyala semalaman membuat notifikasi berdatangan, mulai dari pesan singkat, pembaruan berita, hingga pengingat target harian. Belum sempat menarik napas panjang atau duduk dengan tenang, saya sudah membuka satu per satu. Hari baru pun dimulai begitu saja.</p>



<p>Segalanya berjalan cepat, otomatis dan nyaris tanpa jeda. Dalam kepadatan itu, ada sesuatu yang pelan-pelan hilang. Tubuh saya bergerak mengikuti rutinitas, tetapi jiwa terasa tertinggal entah di mana. Saya hadir secara fisik, tetapi tidak sepenuhnya hidup dalam momen yang saya jalani.</p>



<p>Ketika malam tiba dan seluruh aktivitas selesai, keheningan sering kali menjadi ruang bagi pertanyaan-pertanyaan yang tak sempat muncul di tengah riuhnya hari. Dalam diam, saya bertanya kepada diri sendiri: apakah saya benar-benar hadir sebagai manusia?</p>



<p>Kita hidup dalam era yang mengagungkan produktivitas. Rutinitas diatur melalui pengingat digital, target harian ditentukan lewat aplikasi, dan pencapaian dipantau melalui papan tugas daring. Semua tampak sistematis dan efisien. Namun, di balik keteraturan itu, muncul kegelisahan yang sulit ditepis. Mengapa banyak orang tetap merasa hampa, meski nyaris setiap jamnya digunakan untuk sesuatu yang &#8220;bermanfaat&#8221;?</p>



<p>Fenomena ini tidak asing, terutama bagi generasi yang akrab dengan dunia digital. Hari-hari dijalani dalam irama cepat tanpa jeda yang memadai. Pagi dimulai dengan notifikasi, siang diisi rapat atau pertemuan daring, dan malam pun tidak sepenuhnya bebas dari layar. Tubuh terus bergerak, tetapi kesadaran tidak selalu ikut serta. Kita seperti menjalani hidup di atas treadmill: sibuk, tapi tidak ke mana-mana.</p>



<p>Psikologi menyebut kondisi ini sebagai <em>time confetti</em>, yaitu keadaan ketika waktu terpecah menjadi serpihan kecil akibat gangguan digital dan tuntutan multitugas. Kita terus melompat dari satu aktivitas ke aktivitas lain tanpa pernah benar-benar fokus atau hadir sepenuhnya. Akibatnya, bukan hanya kualitas kerja yang terganggu, tetapi juga relasi personal, daya pikir mendalam, bahkan kesehatan mental.</p>



<p>Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi gangguan emosional seperti kecemasan dan depresi di Indonesia meningkat dari 6 persen pada 2013 menjadi hampir 10 persen pada 2018. Itu pun sebelum pandemi melanda. Dalam situasi pascapandemi yang penuh tekanan sosial dan ekonomi, angka ini sangat mungkin melonjak lebih tinggi meski tidak selalu tampak di permukaan. Laporan World Health Organization (WHO) bahkan menyebut bahwa gangguan kecemasan dan depresi secara global naik lebih dari 25 persen setelah pandemi.</p>



<p>Di saat yang sama, studi dari UCLA menyatakan bahwa kebahagiaan tidak semata soal banyaknya waktu luang, tetapi bagaimana waktu itu digunakan. Membaca tanpa gangguan, mengobrol dengan teman, atau sekadar menikmati kopi tanpa gawai terbukti memberikan rasa keterhubungan yang lebih mendalam ketimbang rutinitas multitugas yang membuat kita seolah &#8220;sibuk&#8221;, padahal kosong secara batin.</p>



<p>Sayangnya, budaya produktivitas sering kali menciptakan tekanan untuk selalu tanggap dan responsif. Waktu jeda dianggap tidak efisien, bahkan dipersepsikan sebagai kemalasan. Orang yang memutuskan untuk tidak segera membalas pesan dianggap lamban atau tidak profesional. Padahal, justru di sanalah letak keseimbangan yang hilang.</p>



<p>Saya pernah mencoba sebuah eksperimen sederhana: keluar sebentar untuk membeli nasi bungkus tanpa membawa ponsel. Awalnya, perasaan waswas segera datang. Bagaimana kalau ada pesan penting? Apakah ponsel saya aman ditinggal? Tapi beberapa menit kemudian, rasa cemas itu mereda, tergantikan oleh hal-hal yang lebih nyata, aroma Nasi Padang yang menggoda, obrolan santai tukang ojek di pinggir jalan, aktivitas orang-orang yang biasanya saya lewati begitu saja.</p>



<p>Kejadian sederhana itu menyadarkan saya bahwa menjadi manusia bukan melulu soal pencapaian, melainkan soal kehadiran. Hadir secara utuh. Sadar akan napas yang dihirup. Menatap langit senja tanpa merasa harus memotretnya. Mendengarkan lawan bicara tanpa tergoda membuka gawai. Menikmati pengalaman tanpa buru-buru menjadikannya unggahan di media sosial.</p>



<p>Sejak saat itu, saya mulai mengevaluasi kebiasaan digital yang selama ini saya anggap wajar. Lalu mencoba membangun dua kebiasaan baru. Pertama, menyediakan waktu lima hingga sepuluh menit setiap hari tanpa gawai, hanya untuk diam dan duduk tenang. Bukan untuk produktif, bukan untuk meditasi terstruktur, hanya untuk membiarkan pikiran bernafas. Kedua, mencatat tiga hal kecil yang saya rasakan hari itu bukan sekadar capaian, melainkan pengalaman yang benar-benar menyentuh kesadaran: tertawa bersama teman, mendengarkan lagu sambil berkendara, atau menikmati sore yang sunyi di tepi pantai.</p>



<p>Selain itu, kita bisa mulai menerapkan prinsip <em>digital minimalism</em>, mengatur notifikasi, membatasi waktu layar, dan memilih aplikasi yang benar-benar mendukung tujuan hidup, bukan sekadar menghabiskan perhatian. Menghidupkan kembali ruang bersama tanpa layar, seperti makan malam tanpa gawai atau berjalan kaki sambil mengobrol, juga bisa menjadi langkah sederhana untuk mengembalikan makna interaksi manusiawi.</p>



<p>Saya tidak sedang menawarkan gaya hidup baru, apalagi mengajak untuk meninggalkan teknologi. Dunia digital sudah menjadi bagian dari hidup kita, dan perannya tak bisa disangkal. Namun, saya ingin mengajak kita semua untuk berhenti sejenak dan bertanya: apakah hari ini kita benar-benar hadir?</p>



<p>Hadir, bukan sekadar hadir di ruang fisik atau daring. Hadir dalam arti menyadari keberadaan kita, merasa terhubung dengan diri sendiri dan sekitar, dan mengalami waktu secara utuh, bukan dalam serpihan kecil yang tercerai-berai.</p>



<p>Mungkin, di tengah dunia yang makin cepat, makin bising, dan makin canggih, pertanyaan paling penting yang bisa kita ajukan setiap hari bukanlah “apa target hari ini?”, melainkan “apa yang sungguh-sungguh saya rasakan hari ini?”</p>



<p>Dan siapa tahu, dengan bertanya itu, kita perlahan bisa kembali menemukan makna yang sempat hilang.</p>



<p><em>Dalam dunia yang terus bergerak, barangkali yang paling berani adalah diam sejenak dan benar-benar merasa.</em> (*)</p>



<p><strong>Rezkya Afril</strong> <em>Mahasiswa Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang</em></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kehampaan-di-tengah-produktivitas/">Kehampaan di Tengah Produktivitas</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">230293</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Digitalisasi Aset Pemerintah: Antara Retorika Modernisasi dan Ketidaksiapan Struktural</title>
		<link>https://langgam.id/digitalisasi-aset-pemerintah-antara-retorika-modernisasi-dan-ketidaksiapan-struktural/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Palanta]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Jul 2025 01:30:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Digitalisasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=229987</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Fani Ariani Adanya optimalisasi reformasi birokrasi dan penggunaan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE),  digitalisasi aset baik negara maupun daerah selalu digabungkan menjadi jawaban persoalan lasik untuk pengelolaan barang milik negara (BMN) dan barang milik daerah (BMD). Hal tersebut seakan menjanjikan adanya efisiensi, transparansi dan peningkatan pendapatan negara terlebih pada daerah. Namun setelahnya timbul pertanyaan apakah negara atau daerah siap secara struktural, budaya dan juga politik dalam mendukung digitalisasi tersebut?. Penggunaaan teknologi pada pendataan aset (digitalisasi aset) bukan hanya proses perpindahan data dari fisik menjadi digital, diperlukan komitmen yang kuat terhadap keutuhan data secara terus menerus, integrasi lintas instansi, sumber</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/digitalisasi-aset-pemerintah-antara-retorika-modernisasi-dan-ketidaksiapan-struktural/">Digitalisasi Aset Pemerintah: Antara Retorika Modernisasi dan Ketidaksiapan Struktural</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><em>Oleh: Fani Ariani </em></p>



<p>Adanya optimalisasi reformasi birokrasi dan penggunaan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE),  digitalisasi aset baik negara maupun daerah selalu digabungkan menjadi jawaban persoalan lasik untuk pengelolaan barang milik negara (BMN) dan barang milik daerah (BMD). Hal tersebut seakan menjanjikan adanya efisiensi, transparansi dan peningkatan pendapatan negara terlebih pada daerah. Namun setelahnya timbul pertanyaan apakah negara atau daerah siap secara struktural, budaya dan juga politik dalam mendukung digitalisasi tersebut?.</p>



<p><br>Penggunaaan teknologi pada pendataan aset (digitalisasi aset) bukan hanya proses perpindahan data dari fisik menjadi digital, diperlukan komitmen yang kuat terhadap keutuhan data secara terus menerus, integrasi lintas instansi, sumber daya manusia yang mumpuni dan keberanian untuk memberikan akses data aset kepada masyarakat. Tanpa hal tersebut sistem digital yang dilakukan hanya akan menjadi pajangan yang tempang modern dari luar namun kosong di dalam.</p>



<p>Permasalahan manajemen aset di Indonesia tidak jauh dari ketidak adaan data aset yang utuh, seperti yang&nbsp; disampaikan oleh salah satu dosen pengampu mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia dan Aset Dr. Erna Widyastuty “Salah satu permasalahan mendasar dalam manajemen aset kita adalah tidak lengkapnya data aset daerah, baik secara fisik terlebih lagi digital. Pemanfaatan atau pengelolaan aset pun kerap terkendala karena banyak data yang tidak terupdate. Maka dari itu, pendataan yang konsisten dan mutakhir sangatlah penting.” Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa permasalahan utama bukan pada teknologi, melainkan pada konsistensi pengelolaan informasi dasar itu sendiri.</p>



<p><br>Hal tersbeut didukung oleh yang terjadi dilapangan menunjukan penggunaan digital pada manajemen aset daerah sudah diupayakan untuk dilakukan namun pada kenyataanya masih belum merata, Kabupaten Malang misalnya, telah menggunakan sistem &nbsp;e-BMD (Elektronik Barang Milik Daerah) yang menjadi percontohan nasional dan terintegrasi dengan sistem keuangan dan perencanaan, sehingga pada akhir tahun 2024, total aset yang tercatat secara digital telah mencapai 12 triliun. Namun di sisi lain&nbsp; DKI Jakarta yang menyandang status sebagai ibukota negara justru sampai saat ini menurut laporan DPRD aset bernilai RP 500 Triliun belum seluruhnya terdapat dalam sistem digital, hal tersebut berdampak pada sulitnya proses pengawasan dan pemanfaatan aset itu sendiri secara baik dan optimal. Tidak hanya itu ketimpangan juga tercermin pada temuan temuan Indeks Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) tahun 2024, terdapat 66 pemerintah daerah belum mengoptimalkan sistem digital termasuk dalam pengelolaan aset.</p>



<p>Dampingi itu masalah paling sering didapati adalah adanya data aset yang tidak diperbarui secara berkala, pencatatan ganda, aset belum tersertifikasi, sampai belum adanya integrasi sistem lintas perangkat daerah. Kondisi tersebut menggambarkan adanya digitalisasi aset bukan hanya tentang perangkat lunak yang digunakan, tapi juga adanya disiplin pendataan, konsisten dan kemampuan politik untuk berubah.</p>



<p>Selain itu di beberapa kasus digitalisasi hanya menjadi proyek simbolik yang dibangun untuk memenuhi tuntutan reformasi namun sering tidak menyentuh akar dari permasalahan yang ada. Terlebih lagi masyarakat yang tidak dilibatkan pada pengawasan maupun pemanfaatan aset. Seharusnya keterbukaan aset pada publik mendorong adanya pertisipasi masyarakat baik untuk kepelruan sosial budayaterlebih ekonomi. Aset daerah yang tidak terpakai dapat dimanfaatkan sebagai komunitas lokal, tanah tidur bisa dikerjasamakan bersama investor, gedung kosong dapat digunakan oleh UMKM, hal tersebut dalam dilakukan apabila data tersedia secara mudah dan akurat serta transparan.</p>



<p>Oleh karenanya penting untuk benar benar melakukan reformasi yang optimal mengubah cara pandang, dari yang hanya mencatat menjadi mengelola secara strategis, dari simbol modernisasi menjadi alat pemerataan dan kesejahteraan, dari membangun sistem menjadi membangun integritas. Sebagai seorang mahasiswa saya melihat bahwa digitalisasi pemerintah terutama digitalisasi aset sangat penting untuk dilakukan dengan baik, hal ini bukan hanya mendorong untuk pengawasan aset yang ada tapi juga sebagai sumber ekonomi bagi pemerintah terlebih pemerintah daerah, dan hal tersebut bukan hanya soal teknis tepi bagian dari reformasi manajemen publik  yang membutuhkan tata kelola partisipatif, integritas birokrasi, dan sistem pengawasan yang kuat.  Jika tidak, kita hanya akan memindahkan tumpukan masalah dari rak berdebu ke layar komputer—tanpa pernah benar-benar menyelesaikannya. (*)</p>



<p><em>Fani Ariani , Mahasiswa S2 Administrasi Publik, Universitas Andalas</em></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/digitalisasi-aset-pemerintah-antara-retorika-modernisasi-dan-ketidaksiapan-struktural/">Digitalisasi Aset Pemerintah: Antara Retorika Modernisasi dan Ketidaksiapan Struktural</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">229987</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kisah Founder Brand Jamila Humaila Manfaatkan Digitalisasi Bersaing di Pasar Global</title>
		<link>https://langgam.id/kisah-founder-brand-jamila-humaila-manfaatkan-digitalisasi-bersaing-di-pasar-global/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Oct 2024 11:40:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Digitalisasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=214198</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id – Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas andalas mengadakan workshop manajemen komunikasi yang menginspiratif dengan tema &#8220;The Digitalization of Local Brand Products for Targeting Global Market&#8221; bersama Roby Rimeldo, Founder Brand Fashion Muslim Jamila Humaila yang sebagai entrepreneurship inspiratif, sebagai narasumber utama. Roby Rimeldo, seorang entrepreneur sukses, memiliki latar belakang pendidikan yang solid. Ia kuliah di Universitas Negeri Padang dengan jurusan Sastra Inggris dan memiliki pengalaman internasional yang impresif, termasuk menjadi duta wisata dari Kota Sawahlunto dan peserta International Youth Conference Cultural Exchange di Malaysia pada tahun 2010. Selain itu, ia aktif dalam berbagai program sukarela,</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kisah-founder-brand-jamila-humaila-manfaatkan-digitalisasi-bersaing-di-pasar-global/">Kisah Founder Brand Jamila Humaila Manfaatkan Digitalisasi Bersaing di Pasar Global</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> – Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas andalas mengadakan workshop manajemen komunikasi yang menginspiratif dengan tema &#8220;The Digitalization of Local Brand Products for Targeting Global Market&#8221; bersama Roby Rimeldo, Founder Brand Fashion Muslim Jamila Humaila yang sebagai entrepreneurship inspiratif, sebagai narasumber utama.</p>



<p>Roby Rimeldo, seorang entrepreneur sukses, memiliki latar belakang pendidikan yang solid. Ia kuliah di Universitas Negeri Padang dengan jurusan Sastra Inggris dan memiliki pengalaman internasional yang impresif, termasuk menjadi duta wisata dari Kota Sawahlunto dan peserta International Youth Conference Cultural Exchange di Malaysia pada tahun 2010. </p>



<p>Selain itu, ia aktif dalam berbagai program sukarela, seperti mengikuti Canada World Youth Program dan mengorganisir proyek kemanusiaan. Kini sebagai pemilik Jamila Humaila, Roby telah membawa brand-nya ke kancah internasional. </p>



<p>Prestasi terbarunya adalah penghargaan Top Seller Brand di Jakarta Muslim Fashion Week Oktober lalu, membuktikan kesuksesan strategi pemasaran digitalnya.</p>



<p>Roby membahas perjalanan Jamila Humaila dari brand lokal yang dapat bersaing secara global, serta menekankan pentingnya digitalisasi dalam meningkatkan daya saing brand lokal di pasar digital. </p>



<p>Kisah inspiratif yang dituangkan Roby Rimeldo memulai perjalanan bisnisnya dari kecil dengan semangat kewirausahaan yang tinggi. Sejak usia dini, ia sudah menyukai aktivitas menjual berbagai barang, mulai dari binder hingga mainan kecil. Pengalaman ini membentuk fondasi bagi kemampuannya dalam berbisnis. </p>



<p>Meski menghadapi banyak tantangan dan kemerosotan dalam hidup, Roby tetap percaya pada kuasa Tuhan dan bertekad untuk bangkit.<br>Dengan kerja keras dan ketekunan, ia mulai mengembangkan usahanya sedikit demi sedikit. </p>



<p>Setiap jatuh bangun yang dialaminya menjadi pelajaran berharga yang membantunya tumbuh dan belajar. Kini, Roby berhasil membangun brand Jamila Humaila yang dikenal luas, bertransformasi dari brand lokal menjadi pemain global. </p>



<p>Ia meyakini bahwa dengan keyakinan dan usaha, setiap orang dapat mencapai impian mereka, terlepas dari rintangan yang ada. Ia menjelaskan strategi penentuan target pasar dan ekspansi internasional yang diterapkan oleh Jamila Humaila, serta bagaimana implementasi strategi digital dapat digunakan untuk promosi global dengan pemanfaatan media sosial, khususnya Instagram, dalam pemasaran produk.</p>



<p>Roby memberikan tips berharga sebagai bentuk motivasi yang dapat memupuk sedikit demi sedikit kesadaran jiwa pengusaha para pendengar. </p>



<p>&#8220;Digitalisasi membuka pintu bagi bagi siapa untuk bersaing di pasar global. Melalui acara ini, saya berharap dapat menginspirasi lebih banyak pengusaha Indonesia untuk berani bermimpi besar dan memanfaatkan teknologi digital,&#8221; ujarnya, Senin (21/10/2024).</p>



<p>Tentunya acara ini ini bertujuan untuk mendorong lebih banyak pelaku usaha terutama audiens yang berada  dilingkungan perkuliahan  untuk memanfaatkan peluang yang ada di era digital saat ini. (<strong>Putri Mutiara Disa</strong>)<br> </p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/kisah-founder-brand-jamila-humaila-manfaatkan-digitalisasi-bersaing-di-pasar-global/">Kisah Founder Brand Jamila Humaila Manfaatkan Digitalisasi Bersaing di Pasar Global</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">214198</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 27/34 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-06-05 14:21:43 by W3 Total Cache
-->