<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Catatan Sejarah Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/catatan-sejarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/catatan-sejarah/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Mar 2023 12:28:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Catatan Sejarah Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/catatan-sejarah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Robohnya Batu Bata Sejarah</title>
		<link>https://langgam.id/robohnya-batu-bata-sejarah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Donny Syofyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Feb 2023 23:27:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Cagar Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sukarno]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=179528</guid>

					<description><![CDATA[<p>Robohnya rumah singgah Presiden Soekarno yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani nomor 12 Padang menimbulkan kecaman banyak pihak. Yang tersisa adalah sikap saling menyalahkan atau mencari aman. Soehinto, si pemilik rumah yang merobohkan bangunan ini, menyatakan ketidaktahuannya bahwa rumah yang dibelinya dari Andreas Sofiandi pada 2017 silam adalah bangunan cagar budaya. Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang, Yovi Krislova mengatakan pemilik yang baru ini “mungkin tidak mendapat informasi” bahwa rumah itu adalah cagar budaya. Menurut dia, bangunan cagar budaya di Padang telah diberi label pada 1998 (BBC News Indonesia, 22/2/2023). Kini bangunan itu sudah rata dengan tanah.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/robohnya-batu-bata-sejarah/">Robohnya Batu Bata Sejarah</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Robohnya rumah singgah Presiden Soekarno yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani nomor 12 Padang menimbulkan kecaman banyak pihak. Yang tersisa adalah sikap saling menyalahkan atau mencari aman. Soehinto, si pemilik rumah yang merobohkan bangunan ini, menyatakan ketidaktahuannya bahwa rumah yang dibelinya dari Andreas Sofiandi pada 2017 silam adalah bangunan cagar budaya. </p>



<p>Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang, Yovi Krislova mengatakan pemilik yang baru ini “mungkin tidak mendapat informasi” bahwa rumah itu adalah cagar budaya. Menurut dia, bangunan cagar budaya di Padang telah diberi label pada 1998 (BBC News Indonesia, 22/2/2023).</p>



<p>Kini bangunan itu sudah rata dengan tanah. Rencana Pemko Padang untuk membangun replika bangunan ini tidak akan mampu menggantikan nilai sejarah ‘batu bata’ masa lalu tersebut. Gigi palsu tak akan pernah lebih baik dari gigi asli pemberian Tuhan. Sekiranya kehancuran bangunan ini karena faktor alam, semisal banjir atau gempa, masih bisa dipahami. Namun bila ratanya bangunan ini karena kelalaian, kita perlu bertanya ada apa dan bagaimana kepedulian, perhatian dan literasi sejarah pemko Padang?</p>



<p>Sebagai perbandingan, saya ingin menguaraikan bagaimana Australia menyelamatkan penghancuran bangunan dan situs bersejarah oleh masyarakatnya sendiri. Di Australia, para relawan di mendorong untuk melestarikan bangunan bersejarah di banyak kota. </p>



<p>Anggota masyarakat di daerah desa dan perkotaan giat menggalang dana, mengajukan petisi dan mendorong kelompok advokasi seperti National Trusts of Australia untuk membujuk pemerintah negara bagian dan dewan kota untuk menyelamatkan bangunan bersejarah. </p>



<p>Felicity Watson, manajer eksekutif cabang Victoria dari National Trust, mengatakan masyarakat di negara bagiannya melestarikan sekitar 100 bangunan bersejarah setiap tahun. Didirikan di setiap negara bagian, National Trust memiliki suara dan pengaruh kuat yang telah berhasil membantu sukarelawan melindungi dan melestarikan situs dan bangunan sejarah yang berharga lewat upaya-upaya advokasi.</p>



<p>Di Castlemaine negara bagian Victoria, Aula Pasar Castlemaine (Castlemaine Market Hall), sebuah bangunan berusia 158 tahun yang terletak di jantung kota, hampir dihancurkan dua kali. Ia pernah rusak pada abad terakhir, tetapi melalui upaya penduduk dan National Trust of Victoria, bangunan itu diselamatkan dan direnovasi pada tahun 1974. </p>



<p>Aula bersejarah, yang dibangun pada tahun 1862 awalnya merupakan ruangan bagi 22 kios pasar, menjual produk segar dan unggas sambil juga menjadi tuan rumah kegiatan lelang ternak. Sekarang aula ini menjadi pusat informasi wisata kota dan ruang pameran.</p>



<p>Dua orang buyut William Downe, arsitek yang merancang aula pasar, telah menyumbangkan potret dan meja antik kakek mereka ke ruang pameran gedung. Marion Downe, dari Castlemaine, dan Margaret Benady, dari Inggris, mengembalikan pusaka tersebut ketika memperingati kontribusi William Downe terhadap pemandangan jalanan kota.</p>



<p>&#8220;Sangat menyenangkan melihat kakek buyut kami William Downe diakui dan dihormati seperti ini, tetapi ini semua karena upaya masyarakat setempat yang melakukan banyak penggalangan dana dan bekerja sama dengan National Trust untuk menyelamatkannya,&#8221; kata Marion Downe dalam penuturannya ke ABC.</p>



<p>Alleyne Hockley dari Castlemaine Historical Society mengatakan bahwa kerja sama antara keluarga besar William Downe dan masyarakat awam terkait dengan bangunan bersejarah ini menjadikan anggota masyarakat merasa lebih terikat dengan sejarah mereka. &#8220;Sangat penting untuk menghubungkan masyarakat dengan anak cucu atau keturunan dari tokoh-tokoh sejarah mereka. Dulu William Downe adalah orang penting di Castlemaine&#8221; ungkap Alleyne Hockley.</p>



<p>Felicity Watson lebih lanjut mengatakan banyak pelbagai dewan kota di daerah Victoria sangat mendengarkan National Trust dan memprioritaskan pemeliharaan bangunan-bangunan bersejarah karena mereka paham bahwa situs-situs tersebut daya tarik nyata untuk pariwisata dan pembangunan ekonomi</p>



<p>Pada tahun 2020, terdapat 34,6 juta pengunjung ke tempat-tempat warisan budaya di seluruh Australia dan mereka menghabiskan AUD 32,2 miliar (IDR 334 triliun) untuk wisata warisan budaya itu.</p>



<p>Jane Alexander dari National Trust cabang Queensland mengatakan ada beberapa faktor yang menyumbang terhadap penyelamatan sebuah bangunan bersejarah, di antaranya undang-undang yang efektif, pemilik yang bersedia kerja sama, sentimen komunitas, dan advokasi dari organisasi semisal National Trust. </p>



<p>Ia mengatakan bahwa National Trust cabang Queensland pernah mengakuisisi sebuah gedung biara abad ke-19 yang langka dan terpencil di Cooktown pada akhir 1960-an, yang sekarang menjadi Museum James Cook. Dibangun pada tahun 1888, biara ini menampung Sisters of Mercy yang memberikan pendidikan kepada siswa dan asrama dari wilayah Cooktown. Selama Perang Dunia II, para suster dan murid-murid mereka pindah ke pedalaman ke Herberton dan tidak kembali. Akibatnya biara ini secara bertahap rusak.</p>



<p>National Trust di Queensland merenovasi dan membuka kembali bangunan ini sebagai Museum Sejarah James Cook (James Cook Historical Museum ) pada tahun 1969. Di Australia Barat, Karl Haynes dari National Trust negara bagian mengatakan lembaga mereka telah mengadakan 50 penggalangan dana setiap tahun guna mencegah hilangnya bangunan dan situs warisan budaya dan sejarah.</p>



<p>Salah satu yang berhasil adalah renovasi Gereja Trinitas Suci (Holy Trinity Church) di Roebourne, yang terletak 1600 kilometer di utara Perth. Gereja yang dibangun pada tahun 1890 ini dirusak oleh topan Christine pada tahun 2013. Dengan dukungan masyarakat, dan hibah dari Dewan Warisan Australia Barat (Heritage Council of Western Australia), National Trust cabang Australia Barat, &nbsp;akhirnya berhasil dikumpulkan lebih dari AUD 400.000 (lebih IDR 4 miliar) buat pemugaran gereja.</p>



<p>Dari pengalaman Australia ini, kita bisa pelajari tiga hal penting dalam upaya mereka menjaga situs dan bangunan warisan budaya dan sejarah. <em>Pertama</em>, masyarakat ikut melestarikan bangunan dan situs bersejarah. </p>



<p><em>Kedua</em>, para relawan aktif menjaga bangunan warisan sejarah melalui kampanye advokasi, dan <em>ketiga</em> organisasi nirlaba semisal National Trust turut meyakinkan dan mendesak pemerintah negara bagian dan dewan kota untuk menerapkan perlindungan atas bangunan bersejarah.</p>



<p><strong>*Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/robohnya-batu-bata-sejarah/">Robohnya Batu Bata Sejarah</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">179528</post-id>	</item>
		<item>
		<title>31 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</title>
		<link>https://langgam.id/31-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2020 15:30:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Data Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Hari ini dalam Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=84191</guid>

					<description><![CDATA[<p>DataLanggam – Sejumlah literatur mencatat tanggal 31 Desember dalam sejarah Sumatra Barat. Pada tanggal tersebut, terjadi sejumlah peristiwa di masa lalu di wilayah Sumbar, salah satunya pada 1948: 31 Desember 1948 Kabinet PDRi Sampai di Kiliran Jao . Sijunjung &#8211; Kabinet Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang bergerilya dari Halaban (Limapuluh Kota), Bangkinang (Riau) dan Teluk Kuantan, sampai di Kiliran Jao (kini di wilayah Sijunjung, Sumbar). Rombongan yang dipimpin Ketua PDRI Mr. Sjafruddin Prawiranegara selanjutnya menuju Sungai Dareh (kini masuk wilayah Dharmasraya, Sumbar) sebelum menuju Bidar Alam (Solok Selatan). . Sumber: Mestika Zed dalam &#8220;Somewhere in The Jungle: Pemerintah Darurat</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/31-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/">31 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><strong>DataLanggam</strong></a> – Sejumlah literatur mencatat tanggal 31 Desember dalam sejarah <a href="http://sumbarprov.go.id">Sumatra Barat</a>. Pada tanggal tersebut, terjadi sejumlah peristiwa di masa lalu di wilayah Sumbar, salah satunya pada 1948:</p>
<p>31 Desember 1948<br />
Kabinet PDRi Sampai di Kiliran Jao<br />
.<br />
Sijunjung &#8211; Kabinet Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang bergerilya dari Halaban (Limapuluh Kota), Bangkinang (Riau) dan Teluk Kuantan, sampai di Kiliran Jao (kini di wilayah Sijunjung, Sumbar). Rombongan yang dipimpin Ketua PDRI Mr. Sjafruddin Prawiranegara selanjutnya menuju Sungai Dareh (kini masuk wilayah Dharmasraya, Sumbar) sebelum menuju Bidar Alam (Solok Selatan).<br />
.<br />
Sumber: Mestika Zed dalam &#8220;Somewhere in The Jungle: Pemerintah Darurat Republik Indonesia&#8221; (1997) hlm 121</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/31-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/">31 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">84191</post-id>	</item>
		<item>
		<title>30 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</title>
		<link>https://langgam.id/30-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2020 16:24:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Data Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Hari ini dalam Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=83964</guid>

					<description><![CDATA[<p>DataLanggam – Sejumlah literatur mencatat tanggal 30 Desember dalam sejarah Sumatra Barat. Pada tanggal tersebut, terjadi sejumlah peristiwa di masa lalu di wilayah Sumbar. Peristiwa-peristiwa tersebut, terjadi pada 1947 dan 1948: 30 Desember 1947 Syekh Djamil Djambek Wafat . Bukittinggi &#8211; Ulama Besar Minangkabau Syekh Muhammad Djamil Djambek wafat pada 30 Desember 1947. Sama halnya dengan banyak ulama besar Minangkabau di awal abad ke-20, Syekh Djambek adalah salah satu murid Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Muhammad Djamil lahir pada 2 Februari 1862 atau bertepatan dengan 13 Sya&#8217;ban 1279 H. Ia menguasai ilmu fiqih, tafsir, hadits, sejarah dan ilmu falak. Keahliannya dalam</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/30-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/">30 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><strong>DataLanggam</strong></a> – Sejumlah literatur mencatat tanggal 30 Desember dalam sejarah <a href="http://sumbarprov.go.id">Sumatra Barat</a>. Pada tanggal tersebut, terjadi sejumlah peristiwa di masa lalu di wilayah Sumbar. Peristiwa-peristiwa tersebut, terjadi pada 1947 dan 1948:</p>
<p>30 Desember 1947<br />
Syekh Djamil Djambek Wafat<br />
.<br />
Bukittinggi &#8211; Ulama Besar Minangkabau Syekh Muhammad Djamil Djambek wafat pada 30 Desember 1947. Sama halnya dengan banyak ulama besar Minangkabau di awal abad ke-20, Syekh Djambek adalah salah satu murid Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Muhammad Djamil lahir pada 2 Februari 1862 atau bertepatan dengan 13 Sya&#8217;ban 1279 H. Ia menguasai ilmu fiqih, tafsir, hadits, sejarah dan ilmu falak. Keahliannya dalam ilmu falak, membuat di belakang namanya disematkan nama Al Falaky. Salah satu muridnya, adalah Bung Hatta yang mengaji dengan Inyiak Djambek di Surau Tangah Sawah.<br />
.<br />
Sumber:<br />
&#8211; Zul Afni NN dalam &#8220;Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat&#8221; (1981)<br />
&#8211; Mohammad Hatta dalam &#8220;Memoir&#8221; (1979)</p>
<p>30 Desember 1948<br />
Kabinet PDRI Menuju Sungai Dareh<br />
.<br />
Teluk Kuantan &#8211; Rombongan kabinet Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpin Mr. Sjafruddin Prawiranegara bergerak dari Teluk Kuantan (kini wilayah Riau) menuju Sungai Dareh (kini wilayah Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat) dengan berjalan kaki. Saat menemukan rel kereta yang dibangun Jepang, peralatan radio yang dibawa rombongan ini dibawa dengan menggunakan lori.<br />
.<br />
Sumber: Mestika Zed dalam &#8220;Somewhere in The Jungle: Pemerintah Daruat Republik Indonesia&#8221; (1997) hlm 338</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/30-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/">30 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">83964</post-id>	</item>
		<item>
		<title>29 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</title>
		<link>https://langgam.id/29-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2020 15:16:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Data Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Hari ini dalam Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=83723</guid>

					<description><![CDATA[<p>DataLanggam – Sejumlah literatur mencatat tanggal 29 Desember dalam sejarah Sumatra Barat. Pada tanggal tersebut, terjadi sejumlah peristiwa di masa lalu di wilayah Sumbar. Peristiwa-peristiwa tersebut, terjadi pada 1948 dan 1997: 29 Desember 1948 PDRI Ubah Pemerintahan Sipil Jadi Militer . Koto Tinggi &#8211; Panglima Tentara Teritorium Sumatra Kolonel Hidayat datang ke basis Residen Sumatra Barat Mr. Sutan Mohammad Rasjid yang juga menteri Keamanan PDRI di Koto Tinggi, Limapuluh Kota. Hasil rapat kedua pimpinan memutuskan mengubah bentuk pemerintahan sipil menjadi pemerintahan militer untuk memudahkan koordinasi perjuangan. Sehingga, setelah itu pimpinan sipil menjadi gubernur militer, bupati militer, camat militer dan wali</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/29-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/">29 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><strong>DataLanggam</strong></a> – Sejumlah literatur mencatat tanggal 29 Desember dalam sejarah <a href="http://sumbarprov.go.id">Sumatra Barat</a>. Pada tanggal tersebut, terjadi sejumlah peristiwa di masa lalu di wilayah Sumbar. Peristiwa-peristiwa tersebut, terjadi pada 1948 dan 1997:</p>
<p>29 Desember 1948<br />
PDRI Ubah Pemerintahan Sipil Jadi Militer<br />
.<br />
Koto Tinggi &#8211; Panglima Tentara Teritorium Sumatra Kolonel Hidayat datang ke basis Residen Sumatra Barat Mr. Sutan Mohammad Rasjid yang juga menteri Keamanan PDRI di Koto Tinggi, Limapuluh Kota. Hasil rapat kedua pimpinan memutuskan mengubah bentuk pemerintahan sipil menjadi pemerintahan militer untuk memudahkan koordinasi perjuangan. Sehingga, setelah itu pimpinan sipil menjadi gubernur militer, bupati militer, camat militer dan wali nagari berubah jadi wali perang. Sementara, rombongan Ketua PDRI Sjafruddin Prawiranegara yang bergerilya di wilayah Riau menuju Teluk Kuantan. Di pinggir Kota Bukittinggi, tentara Belanda menembaki front pejuang dengan mortir dan meriam.<br />
.<br />
Sumber:<br />
&#8211; Mestika Zed dalam &#8220;Somewhere in The Jungle: Pemerintah Darurat Republik Indonesia&#8221; (1997) hlm 338<br />
&#8211; Abdul Haris Nasution dalam &#8220;Sekitar perang kemerdekaan Indonesia: Perang gerilya semesta II&#8221; (1979) hlm 241</p>
<p>29 Desember 1997<br />
Muchlis Ibrahim Dilantik Jadi Gubernur Sumbar<br />
.<br />
Padang &#8211; Mendagri Yogie SM melantik Mayjen TNI Muchlis Ibrahim menjadi gubernur Sumbar dalam sidang paripurna DPRD Tingkat I. Sebelumnya, sejak Oktober 1993, Muchlis Ibrahim adalah wakil gubernur yang mendampingi Gubernur Hasan Basri Durin. Muchlis lahir di Ampek Angkek, Agam pada 13 Oktober 1942. Ia merupakan alumni Akmil tahun 1965 dan berkarir di TNI hingga menjadi Inspektur Kodam I Bukit Barisan dengan pangkat Brigjen. Muchlis mundur dari jabatan gubernur pada 13 Maret 1999 karena Mendagri Syarwan Hamid tidak menerima usulan wakil gubernur yang diinginkan Muchlis, setelah beberapa usulannya sebelum itu juga tak diindahkan Mendagri.<br />
.<br />
Sumber:<br />
&#8211; Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau dalam &#8220;Ensiklopedi Minangkabau&#8221; (2005) hlm 278<br />
&#8211; Audrey Kahin, dalam &#8220;Dari Pemberontakan ke Integrasi, Sumatra Barat dan Politik Indonesia, 1926-1998&#8221; (2005) hlm 433.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/29-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/">29 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">83723</post-id>	</item>
		<item>
		<title>28 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</title>
		<link>https://langgam.id/28-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2020 15:00:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Data Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Hari ini dalam Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=83507</guid>

					<description><![CDATA[<p>DataLanggam – Sejumlah literatur mencatat tanggal 28 Desember dalam sejarah Sumatra Barat. Pada tanggal tersebut, terjadi sejumlah peristiwa di masa lalu di wilayah Sumbar. Peristiwa-peristiwa tersebut, terjadi pada 1947, 1948 dan 1983: 28 Desember 1947 Kadet Penerbang TNI AU Dikirim ke Bukittinggi . Yogyakarta &#8211; Setelah mengikuti latihan terbang, sebanyak 20 kadet calon penerbang TNI AU dikirim dari Yogyakarta pada 28 Desember 1947 dengan pesawat Dakota RI-002 ke Bukittinggi untuk mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran. Pesawat tak bisa mendarat karena cuaca berkabut tebal, sehingga akhirnya mendarat dari Singapura. Dari sana, mereka ke Kuala Lumpur dan menyeberang dengan speed boat ke Sumatra</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/28-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/">28 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><strong>DataLanggam</strong></a> – Sejumlah literatur mencatat tanggal 28 Desember dalam sejarah <a href="http://sumbarprov.go.id">Sumatra Barat</a>. Pada tanggal tersebut, terjadi sejumlah peristiwa di masa lalu di wilayah Sumbar. Peristiwa-peristiwa tersebut, terjadi pada 1947, 1948 dan 1983:</p>
<p>28 Desember 1947<br />
Kadet Penerbang TNI AU Dikirim ke Bukittinggi<br />
.<br />
Yogyakarta &#8211; Setelah mengikuti latihan terbang, sebanyak 20 kadet calon penerbang TNI AU dikirim dari Yogyakarta pada 28 Desember 1947 dengan pesawat Dakota RI-002 ke Bukittinggi untuk mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran. Pesawat tak bisa mendarat karena cuaca berkabut tebal, sehingga akhirnya mendarat dari Singapura. Dari sana, mereka ke Kuala Lumpur dan menyeberang dengan speed boat ke Sumatra Timur. Dari daerah ini, para kadet berjalan kaki kemudian bersambung truk menuju Bukittinggi.<br />
.<br />
Sumber: Irna HN Hadi Soewito dkk dalam &#8220;Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950&#8221; (2008) hlm 56</p>
<p>28 Desember 1948<br />
Komando Tempur Batusangkar Pindah ke Gurun<br />
.<br />
Tanah Datar &#8211; Setelah Batusangkar diduduki tentara Belanda, komando tempur wilayah tersebut pindah ke Gurun (kini wilayah Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar). Pada 28 Desember Komando-Komando Tempur (KKP) yang dihadiri tentara, pejabat pemerintahan dan pimpan rakyar mengadakan rapat di sekitar Gurun. Rapat menyepakati komando front Batusangkar di bawah pimpinan Letnan I Muhammad Jusuf Indra, yang mengkoordinasikan perjuangan militer dan sipil.<br />
.<br />
Sumber: Ahmad Husein dkk dalam &#8220;Sejarah Perjuangan Kemerdekaan R.I. di Minangkabau/Riau, 1945-1950, Volume 2&#8221; (1991) hlm 166</p>
<p>28 Desember 1983<br />
Presiden Soeharto Resmikan PLTA Maninjau<br />
.<br />
Maninjau &#8211; Presiden Soeharto meresmikan PLTA Maninjau dengan kekuatan daya 4&#215;17 MW (68 MW) pada 28 Desember 1983. Dalam pidatonya, Soeharto mengatakan, dengan selesainya pembangunan PLTA ini maka daya terpasang pusat listrik di Sumbar bertambah besar. Ia berharap listrik dapat semakin menjangkau daerah pedesaan di Sumbar. Menurut Gubernur Sumbar Azwar Anas, proyek pembangunan PLTA Maninjau mulai pada 1979. Ir. Januar Muin yang juga sukses membangun sejumlah pembangkit listrik di wilayah Sumbar dan Riau memimpin proyek pembangunannya.<br />
.<br />
Sumber:<br />
&#8211; Sambutan Presiden Soeharto pada 28 Desember 1983 dalam Peresmian PLTA Maninjau sebagaimana dikutip dari soeharto.co<br />
&#8211; Abrar Yusra dalam &#8220;Azwar Anas: Teladan dari Ranah Minang&#8221; (2011) hlm 284</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/28-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/">28 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">83507</post-id>	</item>
		<item>
		<title>27 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</title>
		<link>https://langgam.id/27-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Dec 2020 16:01:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Data Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Hari ini dalam Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=83266</guid>

					<description><![CDATA[<p>DataLanggam – Sejumlah literatur mencatat tanggal 27 Desember dalam sejarah Sumatra Barat. Pada tanggal tersebut, setidaknya terjadi sejumlah peristiwa di masa lalu di wilayah Sumbar. Peristiwa itu terjadi pada 1948 dan 1949: 27 Desember 1948 Kabinet PDRI Tinggalkan Bangkinang . Bangkinang &#8211; Kabinet Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) meninggalkan Bangkinang (kini masuk wilayah Riau) setelah bergerilya dari Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota. Rombongan yang dipimpin Ketua PDRI Sjafruddin Prawiranegara mengarah ke selatan melalui Taratak Buluah. Yang dituju adalah Teluk Kuantan, terus ke Sungai Dareh (kini masuk wilayah Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat) sebelum kemudian menuju basis di Bidar Alam (Solok Selatan). Karena</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/27-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/">27 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><strong>DataLanggam</strong></a> – Sejumlah literatur mencatat tanggal 27 Desember dalam sejarah <a href="http://sumbarprov.go.id">Sumatra Barat</a>. Pada tanggal tersebut, setidaknya terjadi sejumlah peristiwa di masa lalu di wilayah Sumbar. Peristiwa itu terjadi pada 1948 dan 1949:</p>
<p>27 Desember 1948<br />
Kabinet PDRI Tinggalkan Bangkinang<br />
.<br />
Bangkinang &#8211; Kabinet Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) meninggalkan Bangkinang (kini masuk wilayah Riau) setelah bergerilya dari Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota. Rombongan yang dipimpin Ketua PDRI Sjafruddin Prawiranegara mengarah ke selatan melalui Taratak Buluah. Yang dituju adalah Teluk Kuantan, terus ke Sungai Dareh (kini masuk wilayah Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat) sebelum kemudian menuju basis di Bidar Alam (Solok Selatan). Karena tak bisa membawa mobil, sejumlah mobil terpaksa dibenamkan ke Sungai Kampar Kiri, termasuk mobil milik TM Hasan. Sehari sebelumnya, kabinet PDRI dihujani tembakan dan bom oleh pesawat-pesawat Belanda saat berada di Bangkinang.<br />
.<br />
Sumber: Mestika Zed dalam &#8220;Somewhere in The Jungle: Pemerintah Darurat Republik Indonesia&#8221; (1997) hlm 118 dan 338</p>
<p>27 Desember 1949<br />
Pengakuan Kedaulatan, Belanda Serahkan Kota Padang<br />
.<br />
Padang &#8211; Seiring pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Kerajaan Belanda, Residen Belanda di menyerahkan Kota Padang kepada pemerintah Republik pada 27 Desember 1949. Sejak tanggal itu, Gubernur Sumatra Tengah M. Nasrun bertindak sebagai kepala pemerintahan RIS di Padang dan sekitarnya. Beberapa pekan sebelum itu, sejumlah kota di Sumatra Barat sudah ditinggalkan tentara Belanda.<br />
.<br />
Sumber:<br />
&#8211; Departemen Penerangan dalam &#8220;Propinsi Sumatera Tengah&#8221; (1953) hlm 295<br />
&#8211; Gusti Asnan dalam &#8220;Memikir Ulang Regionalisme: Sumatera Barat Tahun 1950-an&#8221; (2007) hlm 94</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/27-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/">27 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">83266</post-id>	</item>
		<item>
		<title>26 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</title>
		<link>https://langgam.id/26-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Dec 2020 15:00:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Data Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Hari ini dalam Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=83200</guid>

					<description><![CDATA[<p>DataLanggam – Sejumlah literatur mencatat tanggal 26 Desember dalam sejarah Sumatra Barat. Pada tanggal tersebut, setidaknya terjadi sejumlah peristiwa di masa lalu di wilayah Sumbar. Peristiwa itu terjadi pada 1948 dan 1949: 26 Desember 1948 Kabinet PDRI Diserang Pesawat Belanda di Bangkinang . Bangkinang &#8211; Rombongan kabinet Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang berangkat dari Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota pada 24 Desember, sampai di Bangkinang (kini masuk wilayah Riau) pada 25 Desember 1948. Pada 26 Desember, rombongan yang bersiap rapat di kediaman wedana, tiba-tiba mendapat serangan pesawat-pesawat Belanda. Rombongan tercerai berai mencari tempat berlindung. Beruntung, semua rombongan selamat dari serangan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/26-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/">26 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><strong>DataLanggam</strong></a> – Sejumlah literatur mencatat tanggal 26 Desember dalam sejarah <a href="http://sumbarprov.go.id">Sumatra Barat</a>. Pada tanggal tersebut, setidaknya terjadi sejumlah peristiwa di masa lalu di wilayah Sumbar. Peristiwa itu terjadi pada 1948 dan 1949:</p>
<p>26 Desember 1948<br />
Kabinet PDRI Diserang Pesawat Belanda di Bangkinang<br />
.<br />
Bangkinang &#8211; Rombongan kabinet Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang berangkat dari Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota pada 24 Desember, sampai di Bangkinang (kini masuk wilayah Riau) pada 25 Desember 1948. Pada 26 Desember, rombongan yang bersiap rapat di kediaman wedana, tiba-tiba mendapat serangan pesawat-pesawat Belanda. Rombongan tercerai berai mencari tempat berlindung. Beruntung, semua rombongan selamat dari serangan udara. Rombongan memutuskan tinggalkan Bangkinang menuju ke selatan, arah Taratak Buluah. Sementara, pasukan Belanda menduduki Batusangkar pada hari yang sama setelah kontak tembak dengan para pejuang.<br />
.<br />
Sumber: Mestika Zed dalam &#8220;Somewhere in The Jungle: Pemerintah Darurat Republik Indonesia&#8221; (1997) hlm 116-118</p>
<p>26 Desember 1949<br />
DPR Tanah Datar Terbentuk, Pasukan TNI Masuk Padang<br />
.<br />
Sumbar &#8211; Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kabupaten Tanah Datar resmi terbentuk pada 26 Desember 1949 berdasarkan Instruksi Gubernur Sumatera Tengah No.10/GM/ST/49 tertanggal 9 November 1949. Komposisi DPR pertama setelah masa perang ini, terdiri dari 23 orang. Sementara, pada hari yang sama, sehubungan dengan segera penyerahan Kota Padang kepada pemerintah Republik, pasukan Batalyon Harimau Kuranji dengan kekuatan tiga kompi pasukan di bawah pimpinan Mayor Ahmad Husein memasuki Kota Padang.<br />
.<br />
Sumber:<br />
&#8211; Departemen Penerangan dalam &#8220;Propinsi Sumatera Tengah&#8221; (1959) hlm 368<br />
&#8211; Mestika Zed dan Hasril Chaniago dalam &#8220;Ahmad Husein: Perlawanan Seorang Pejuang&#8221; (2001) hlm 424</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/26-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/">26 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">83200</post-id>	</item>
		<item>
		<title>25 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</title>
		<link>https://langgam.id/25-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Dec 2020 15:38:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Data Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Hari ini dalam Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=83096</guid>

					<description><![CDATA[<p>DataLanggam – Sejumlah literatur mencatat tanggal 25 Desember dalam sejarah Sumatra Barat. Pada tanggal tersebut, setidaknya terjadi tiga peristiwa di masa lalu di wilayah Sumbar. Peristiwa itu terjadi pada 1844, 1945 dan 1948: 25 Desember 1844 Belanda Menyerang Tanjung Gadang . Sijunjung &#8211; Pasukan Belanda menyerang Tanjung Gadang, Sijunjung pada 25 Desember 1844 setelah sehari sebelumnya menduduki Timbulun. Awalnya masyarakat Tanjung Gadang melawan dengan sengit, namun karena pasukan Belanda lebih kuat, pasukan masyarakat mundur ke tempat yang lebih aman. Belanda kemudian menyerang kampung-kampung di sekitar Bukit Sebelas, merampasi harta dan memaksa rakyat menyerah. Yang tak mau menyerah mundur ke Solok</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/25-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/">25 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><strong>DataLanggam</strong></a> – Sejumlah literatur mencatat tanggal 25 Desember dalam sejarah <a href="http://sumbarprov.go.id">Sumatra Barat</a>. Pada tanggal tersebut, setidaknya terjadi tiga peristiwa di masa lalu di wilayah Sumbar. Peristiwa itu terjadi pada 1844, 1945 dan 1948:</p>
<p>25 Desember 1844<br />
Belanda Menyerang Tanjung Gadang<br />
.<br />
Sijunjung &#8211; Pasukan Belanda menyerang Tanjung Gadang, Sijunjung pada 25 Desember 1844 setelah sehari sebelumnya menduduki Timbulun. Awalnya masyarakat Tanjung Gadang melawan dengan sengit, namun karena pasukan Belanda lebih kuat, pasukan masyarakat mundur ke tempat yang lebih aman. Belanda kemudian menyerang kampung-kampung di sekitar Bukit Sebelas, merampasi harta dan memaksa rakyat menyerah. Yang tak mau menyerah mundur ke Solok Amba.<br />
.<br />
Sumber: Muhamad Radjab dalam &#8220;Perang Paderi di Sumatera Barat, 1803-1838&#8221; (1964) hlm 464</p>
<p>25 Desember 1945<br />
MIT Menjadi Partai Politik<br />
.<br />
Bukittinggi &#8211; Majelis Islam Tinggi (MIT), badan musyawarah ulama yang berdiri pada zaman Jepang di Sumatra Barat melalui pertemuan pemukanya di Bukittingi disepakati menjadi Partai Politik Islam (PPI) pada 25 Desember 1945. Pada Februari 1946, PPI MIT berfusi dengan Partai Masyumi yang telah terlebih dahulu hadir.<br />
.<br />
Sumber: Departemen Penerangan dalam &#8220;Propinsi Sumatera Tengah&#8221; (1953) hlm 462</p>
<p>25 Desember 1948<br />
Tentara Belanda Bergerak Sampai ke Kelok 44<br />
.<br />
Matur &#8211; Setelah menduduki Bukittinggi, pasukan Belanda melakukan gerakan pertama hingga ke Matur dan Bengkolan 25 (Kawasan Kelok 44) menuju Maninjau menggunakan kendaraan berat. Karena militer dan pemerintahan Republik belum terkonsolidasi, gerakan ini tidak mendapat perlawanan. Belanda kemudian kembali ke Bukittinggi. Untuk menghalangi gerakan kendaraan berat Belanda kembali masuk, pejuang merusak jalan antara Bukittinggi dengan Matur.<br />
.<br />
Sumber: Ahmad Husein dkk dalam &#8220;Sejarah Perjuangan Kemerdekaan R.I. di Minangkabau/Riau, 1945-1950 Volume II&#8221; (1991) hlm 291</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/25-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/">25 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">83096</post-id>	</item>
		<item>
		<title>24 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</title>
		<link>https://langgam.id/24-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2020 15:42:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Data Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Hari ini dalam Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=82890</guid>

					<description><![CDATA[<p>DataLanggam – Sejumlah literatur mencatat tanggal 24 Desember dalam sejarah Sumatra Barat. Pada tanggal tersebut, setidaknya terjadi dua peristiwa di masa lalu di wilayah Sumbar. Peristiwa itu terjadi pada 1945 dan 1948: 24 Desember 1945 Rapat Koordinasi untuk Membasmi Tindakan Liar . Bukittinggi &#8211; Residen, badan eksekutif Komite Nasional Indonesia (KNI) Sumatra Barat, pembersar pemerintah, kepala-kepala polisi, para komandan TKR dan pemimmpin rakyat menggelar rapat koordinasi untuk ketertiban hukum. Rapat sepakat akan membasmi dan memberi tindakan tegas bagi tindakan liar dari perseorangan atau golongan yang merugikan negara. Kewenangan untuk melakukan tindakan penangkapan dan tindakan hukum lainnya hanya diberikan kepada polisi</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/24-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/">24 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><strong>DataLanggam</strong></a> – Sejumlah literatur mencatat tanggal 24 Desember dalam sejarah <a href="http://sumbarprov.go.id">Sumatra Barat</a>. Pada tanggal tersebut, setidaknya terjadi dua peristiwa di masa lalu di wilayah Sumbar. Peristiwa itu terjadi pada 1945 dan 1948:</p>
<p>24 Desember 1945<br />
Rapat Koordinasi untuk Membasmi Tindakan Liar<br />
.<br />
Bukittinggi &#8211; Residen, badan eksekutif Komite Nasional Indonesia (KNI) Sumatra Barat, pembersar pemerintah, kepala-kepala polisi, para komandan TKR dan pemimmpin rakyat menggelar rapat koordinasi untuk ketertiban hukum. Rapat sepakat akan membasmi dan memberi tindakan tegas bagi tindakan liar dari perseorangan atau golongan yang merugikan negara. Kewenangan untuk melakukan tindakan penangkapan dan tindakan hukum lainnya hanya diberikan kepada polisi dan TKR.<br />
.<br />
Sumber: Departemen Penerangan dalam &#8220;Propinsi Sumatera Tengah&#8221; (1959) hlm 98</p>
<p>24 Desember 1948<br />
Rombongan PDRI Tinggalkan Halaban<br />
.<br />
Halaban &#8211; Setelah menyusun kabinet dan mengumumkannya melalui radio, para pemimpin PDRI meninggalkan Halaban, Limapuluh Kota pada 24 Desember 1948. Dari sini, rombongan dibagi dua. Sjafruddin Prawiranegara, Teuku Hasan dan sebagian besar menteri PDRI menuju ke arah Bangkinang, Riau untuk kemudian terus ke arah selatan hingga nanti berbasis di Bidar Alam, Solok Selatan. Residen Rasjid menuju Koto Tinggi, Limapuluh Kota, untuk mendirikan basis pemerintahan militer Sumatra Barat. Sementara, rombongan ketiga, Komandan Militer Sumatra Kolonel Hidayat menuju ke arah utara. Semula di Rao, terus menuju Aceh.<br />
.<br />
Sumber: Mestika Zed dalam &#8220;Somewhere in The Jungle: Pemerintah Darurat Republik Indonesia&#8221; (1997) hlm 115 dan 336</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/24-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/">24 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">82890</post-id>	</item>
		<item>
		<title>22 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</title>
		<link>https://langgam.id/22-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2020 15:07:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Data Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Hari ini dalam Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=82416</guid>

					<description><![CDATA[<p>DataLanggam – Sejumlah literatur mencatat tanggal 22 Desember dalam sejarah Sumatra Barat. Pada tanggal tersebut, setidaknya terjadi dua peristiwa di masa lalu di wilayah Sumbar. Peristiwa itu terjadi pada 1784 dan 1948: 22 Desember 1784 Hari Jadi Kota Bukittinggi Bukittinggi &#8211; Para penghulu adat Nagari Kurai pada 22 Desember 1784 menggelar rapat untuk mengganti nama pasar yang telah menjadi urat nadi perekonomian pada waktu itu, dari semula bernamakan “Bukik Kubangan Kabau” menjadi “Bukik nan Tatinggi”. Tanggal ini pada Desember 1988 disepakati oleh DPRD dan wali kota sebagai hari jadi Kota Bukittinggi. Sumber: bukittinggikota.go.id 22 Desember 1948 Kabinet PDRI Terbentuk di</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/22-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/">22 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langgam.id"><strong>DataLanggam</strong></a> – Sejumlah literatur mencatat tanggal 22 Desember dalam sejarah <a href="http://sumbarprov.go.id">Sumatra Barat</a>. Pada tanggal tersebut, setidaknya terjadi dua peristiwa di masa lalu di wilayah Sumbar. Peristiwa itu terjadi pada 1784 dan 1948:</p>
<p>22 Desember 1784<br />
Hari Jadi Kota Bukittinggi</p>
<p>Bukittinggi &#8211; Para penghulu adat Nagari Kurai pada 22 Desember 1784 menggelar rapat untuk mengganti nama pasar yang telah menjadi urat nadi perekonomian pada waktu itu, dari semula bernamakan “Bukik Kubangan Kabau” menjadi “Bukik nan Tatinggi”. Tanggal ini pada Desember 1988 disepakati oleh DPRD dan wali kota sebagai hari jadi Kota Bukittinggi.</p>
<p>Sumber: bukittinggikota.go.id</p>
<p>22 Desember 1948<br />
Kabinet PDRI Terbentuk di Halaban</p>
<p>Halaban &#8211; Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) Sjafruddin Prawiranegara bersama para pemimpin berhasil membentuk kabinet PDRI di Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota, setelah menggelar rapat dengan sejumlah pemimpin di sebuah surau di lereng Gunung Sago tersebut pada 22 Desember 1948. Kabinet ini yang kemudian diumumkan melalui radio, sehingga dunia internasional mengetahui bahwa pemerintah RI masih ada. Kabinet terdiri dari 12 orang, termasuk Sjafruddin. Sementara, di Bukittin</p>
<p>Sumber: Mestika Zed dalam &#8220;Somewhere in The Jungle: Pemerintah Darurat Republik Indonesia&#8221; (1997) hlm 103-105</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/22-desember-dalam-catatan-sejarah-sumatra-barat/">22 Desember dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">82416</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 24/1197 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-04-25 15:32:57 by W3 Total Cache
-->