<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Budaya Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/budaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/budaya/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Jan 2026 13:09:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Budaya Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/budaya/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Mengenal Sosok Abdullah Kamil, Nama Gedung yang Diaktivasi Lagi di Padang</title>
		<link>https://langgam.id/mengenal-sosok-abdullah-kamil-nama-gedung-yang-diaktivasi-lagi-di-padang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yose Hendra]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2026 11:46:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah Kamil]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=242302</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Setelah rampungnya kegiatan Penataan dan Aktivasi Sarana Prasarana Kebudayaan Gedung Abdullah Kamil, yang merupakan bantuan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2025, Gedung Abdullah Kamil dijadwalkan akan diresmikan kembali pada Jumat, 23 Januari 2026. Peresmian ulang gedung bersejarah tersebut akan dilakukan langsung oleh Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon. Rangkaian acara peresmian juga akan diisi dengan Diskusi Panel bertema “Diplomasi Budaya Minangkabau”, yang menghadirkan kalangan budayawan, akademisi, dan pemerhati sejarah. Pekerja budaya yang terlibat dalam aktivasi gedung ini, Edy Utama mengatakan, pemilihan tema diskusi tersebut tidak terlepas dari sosok almarhum Abdullah Kamil, diplomat asal Minangkabau yang menjadi penggagas berdirinya gedung</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengenal-sosok-abdullah-kamil-nama-gedung-yang-diaktivasi-lagi-di-padang/">Mengenal Sosok Abdullah Kamil, Nama Gedung yang Diaktivasi Lagi di Padang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Setelah rampungnya kegiatan Penataan dan Aktivasi Sarana Prasarana Kebudayaan Gedung Abdullah Kamil, yang merupakan bantuan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2025, Gedung Abdullah Kamil dijadwalkan akan diresmikan kembali pada Jumat, 23 Januari 2026.</p>



<p>Peresmian ulang gedung bersejarah tersebut akan dilakukan langsung oleh Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon. Rangkaian acara peresmian juga akan diisi dengan Diskusi Panel bertema “Diplomasi Budaya Minangkabau”, yang menghadirkan kalangan budayawan, akademisi, dan pemerhati sejarah.</p>



<p>Pekerja budaya yang terlibat dalam aktivasi gedung ini, Edy Utama mengatakan, pemilihan tema diskusi tersebut tidak terlepas dari sosok almarhum Abdullah Kamil, diplomat asal Minangkabau yang menjadi penggagas berdirinya gedung tersebut sebagai rumah budaya.</p>



<p>“Gedung Abdullah Kamil sejak awal memang diniatkan sebagai rumah diplomasi budaya. Sosok Abdullah Kamil adalah contoh bagaimana budaya Minangkabau dibawa ke panggung dunia melalui jalur diplomasi,” ujar Edy Utama, Kamis (22/1/2026).</p>



<p>Menurut Edy, Gedung Abdullah Kamil memiliki nilai sejarah yang kuat bagi Sumatera Barat dan Indonesia. Gedung ini mulai dibangun pada akhir tahun 1988 oleh Yayasan Genta Budaya dan secara resmi diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 7 Maret 1992.</p>



<p>“Dengan penataan dan aktivasi yang dilakukan saat ini, kita berharap Gedung Abdullah Kamil tidak hanya menjadi bangunan fisik, tetapi kembali hidup sebagai ruang dialog, ekspresi, dan pengembangan kebudayaan Minangkabau,” kata Edy.</p>



<p>Ia menambahkan, keberadaan gedung tersebut diharapkan dapat berkontribusi bagi kemajuan peradaban, tidak hanya bagi Minangkabau dan Indonesia, tetapi juga dalam konteks budaya dunia.</p>



<p>“Ini adalah warisan pemikiran dan perjuangan almarhum Abdullah Kamil. Sudah sepantasnya kita melanjutkan semangat beliau,” tuturnya.</p>



<p>Menutup pernyataannya, Edy Utama mengajak masyarakat untuk menjadikan momentum peresmian kembali Gedung Abdullah Kamil sebagai refleksi atas pentingnya kebudayaan dalam membangun identitas dan peradaban.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" width="1200" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2026/01/2.jpg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Abdullah Kamil" class="wp-image-242307" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2026/01/2.jpg?resize=1200%2C675&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2026/01/2.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2026/01/2.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2026/01/2.jpg?resize=800%2C450&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2026/01/2.jpg?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2026/01/2.jpg?w=1280&amp;ssl=1 1280w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure>



<p>Mengenal Sosok Abdullah Kamil</p>



<p>Nama Abdullah Kamil kembali bergema di Kota Padang seiring dengan aktivasi gedung di dekat Taman Budaya Sumatra Barat. Penamaannya sebagai nama gedung sejak tahun 1992, merupakan sebuah penghormatan bagi sosok diplomat senior Indonesia yang hidupnya diabdikan untuk diplomasi, pers, dan kebudayaan Minangkabau.</p>



<p>Boleh dikata, Abdullah Kamil adalah contoh langka seorang diplomat yang mengawali kariernya sebagai wartawan. Lahir di Binjai, Sumatera Utara, 27 Desember 1919, Kamil berasal dari keluarga berdarah Minangkabau. Pendidikan dasarnya ditempuh di Khalsa English School, Medan, sebelum melanjutkan ke Senior Cambridge di Kuala Lumpur, Malaysia, dan kemudian Seskoad di Bandung.</p>



<p>Diplomat kawakan Abdullah Kamil wafat di Yogayakarta pada Kamis, 11 Juli 1991, pukul 14.10 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta, dalam usia 72 tahun, setelah dua bulan dirawat karena kanker. Ia meninggalkan empat orang anak, salah satunya Ny. Halimah, istri Bambang Trihatmojo, putra Presiden Soeharto.</p>



<p>Jenazah disemayamkan di rumah duka Jalan Tanjung 23, Jakarta Pusat, dan dimakamkan pada Jumat, 12 Juli, selepas salat Jumat di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.</p>



<p>Mencuplik laporan jurnalistik Marthias Dusky Pandoe untuk Harian Kompas, bagi Abdullah Kamil, dunia jurnalistik menjadi pintu masuknya ke panggung nasional dan internasional. Ia memulai karier sebagai koresponden Kantor Berita Antara dan harian Pewarta Deli. Pada masa sebelum dan selama Perang Dunia II, Abdullah Kamil aktif di berbagai media penting kawasan Asia Tenggara: menjadi koresponden Warta Malaya di Kuala Lumpur (1941), redaktur Berita Malaya dan Semangat Asia di Singapura (1942–1943), hingga konsultan Lembaga Internasional untuk Hubungan Kebudayaan di Tokyo. Setelah Indonesia merdeka, ia tercatat sebagai redaktur Majalah Indonesia (1944–1947).</p>



<p>Jejak jurnalistik itulah yang kemudian mengantarkannya ke dunia diplomasi. Pada periode 1948–1952, Kamil bertugas di Kedutaan Besar Indonesia di Thailand, khususnya di bidang penerangan. Sekembalinya ke Tanah Air, ia dipercaya menjadi Kepala Bagian Penerangan Departemen Luar Negeri di Jakarta (1952–1955).</p>



<p>Karier diplomatiknya terus menanjak. Abdullah Kamil pernah bertugas sebagai Sekretaris Pertama KBRI di Belanda, Konsul RI di Kuala Lumpur, serta pejabat Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1955–1960. Ia kemudian menjabat Kepala Direktorat PBB dan Organisasi Internasional Deplu (1960–1965), penasihat KBRI di Tunisia (1965–1966), dan Kepala Perwakilan Indonesia di PBB (1966–1977). Kepercayaan negara kepadanya ditutup dengan penugasan sebagai Duta Besar RI untuk Yugoslavia, Austria, dan PBB.</p>



<p>Namun, di satu dekade terakhir hidupnya, Abdullah Kamil memilih kembali ke akar budayanya. Ia memusatkan perhatian pada pelestarian kebudayaan Minangkabau. Di Padang, ia mendirikan Yayasan Genta Budaya, sebuah ikhtiar untuk menggali, merawat, dan mengembangkan warisan budaya Minang. Sebuah gedung didirikan untuk menghimpun berbagai dokumen kebudayaan Minangkabau yang ia kumpulkan dari beragam negara, antara lain Belanda, Prancis, dan Amerika Serikat.</p>



<p>Gedung yang kini kembali diresmikan di Padang itu bukan sekadar bangunan fisik. Ia menjadi simbol dedikasi Abdullah Kamil, seorang wartawan, diplomat, dan budayawan yang menjembatani Indonesia dengan dunia, tanpa pernah melepaskan identitas Minangkabaunya.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/mengenal-sosok-abdullah-kamil-nama-gedung-yang-diaktivasi-lagi-di-padang/">Mengenal Sosok Abdullah Kamil, Nama Gedung yang Diaktivasi Lagi di Padang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">242302</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Bergelintinnya Akulturasi Islam dan Adat di Minangkabau, Refleksi Tangkapan Lensa Bung Edy Utama</title>
		<link>https://langgam.id/bergelintinnya-akulturasi-islam-dan-adat-di-minangkabau-refleksi-tangkapan-lensa-bung-edy-utama/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yose Hendra]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Nov 2025 04:20:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Adat Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=237662</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Cahaya lembut berpendar di dinding galeri, memantul pada deretan foto berbingkai yang merekam denyut kehidupan beragama dan beradat di ranah Minang. Dari ritus Manyaratuih Hari hingga balimau menjelang Ramadan, dari gema badikie dan shalawat dulang hingga gerak halus Indang Tuo, semuanya seolah berbicara tentang Islam yang hidup dalam napas budaya. Suasana itu hadir dalam pameran etnografi karya Edy Utama bertajuk “Islam di Minangkabau: Surau dan Ritus Keberagamaan di Sumatera Barat, yang berlangsung selama sepekan (24-31 Oktober 2025) di Galeri Taman Budaya Sumatra Barat. “Ada sekitar 200 foto yang dipamerkan, yang dibuat antara tahun 2005-2025, yang disusun dalam bentuk</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/bergelintinnya-akulturasi-islam-dan-adat-di-minangkabau-refleksi-tangkapan-lensa-bung-edy-utama/">Bergelintinnya Akulturasi Islam dan Adat di Minangkabau, Refleksi Tangkapan Lensa Bung Edy Utama</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Cahaya lembut berpendar di dinding galeri, memantul pada deretan foto berbingkai yang merekam denyut kehidupan beragama dan beradat di ranah Minang. Dari ritus <em>Manyaratuih Hari</em> hingga <em>balimau</em> menjelang Ramadan, dari gema <em>badikie</em> dan <em>shalawat dulang</em> hingga gerak halus <em>Indang Tuo</em>, semuanya seolah berbicara tentang Islam yang hidup dalam napas budaya. Suasana itu hadir dalam pameran etnografi karya Edy Utama bertajuk “Islam di Minangkabau: Surau dan Ritus Keberagamaan di Sumatera Barat<strong>, </strong>yang berlangsung selama sepekan (24-31 Oktober 2025) di Galeri Taman Budaya Sumatra Barat.</p>



<p>“Ada sekitar 200 foto yang dipamerkan, yang dibuat antara tahun 2005-2025, yang disusun dalam bentuk esai-esai foto,” ujar Bung, sapaan akrab Edy Utama.</p>



<p>Bagi Edy, yang telah puluhan tahun memotret denyut kehidupan masyarakat adat dan religius Minangkabau, karya-karyanya adalah rekaman dari pertanyaan-pertanyaan lama: mengapa masyarakat Minang bisa bernegosiasi dengan nilai Islam, dan bagaimana keduanya saling menguatkan tanpa saling meniadakan.</p>



<p>Mengutip Azyumardi Azra (1988), Edy menyebutkan, meski surau adalah warisan Hindu-Budha , namun kemudian diintegrasikan paska masuknya Islam ke Minangkabau. Bahkan dalam perkembangannya, surau adalah lembaga Islam terpenting, yang telah menjadi episentrum pengajaran Islam yang menonjol. Surau juga merupakan titik tolak Islamisasi Minangkabau.</p>



<p>Surau juga mejadi pusat tarekat yang sekaligus memainkan peran sebagai benteng pertahanan Minangkabau dalam merespons berkembangnya dominasi kekuatan kolonial Belanda.</p>



<p>“Surau dikembangkan menjadi lembaga pendidikan agama Islam dan adat Minangkabau. Surau dapat dikatakan sebagai ruang pertemuan yang paling intensif antara adat Minangkabau dan agama Islam,” bebernya.</p>



<p>Melalui pameran ini, masyarakat yang datang bisa melihat visual ‘hidup’ ritual bakaua, arak sadakah padi, doa tulak bala, yang merupakan ritus keberagamaan dalam kehidupan budaya agraris umat muslim Minangkabau.</p>



<p>Ketiga ritus ini memperlihatkan, bagaimana umat muslim Minangkabau bersyukur dan memohon pertolangan Allah SWT secara bersama-sama, agar pertanian mereka berhasil dan terhindar dari marabahaya.</p>



<p>Bertahannya ritus dalam tradisi budaya agraris ini, disebabkan hubungan yang begitu kental antara dunia tarekat dengan budaya agraris. Menurut Cristine Dobbin (1992), di ke-18 banyak guru tarekat yang menjalani hidup sebagai petani. Ritus akhir abad keberagamaan lainnya adalah haul, sebuah ritual memperingati hari wafatnya seorang tokoh agama.</p>



<p>Dalam pameran etnografi kali ini, Bung Edy menghidupkan rekaman peristiwa haul yang disebut basapa dalam lembaran foto. Kegiatan basapa berpusat di makam Syekh Burhanuddin di Ulakan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" width="1200" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-Bang-KW.jpeg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-237677" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-Bang-KW.jpeg?resize=1200%2C675&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-Bang-KW.jpeg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-Bang-KW.jpeg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-Bang-KW.jpeg?resize=800%2C450&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-Bang-KW.jpeg?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-Bang-KW.jpeg?w=1280&amp;ssl=1 1280w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sejumlah pengunjung pameran etnofografi Bung Edy Utama melihat karya-karya yang dipajang.</figcaption></figure>



<p>Menurut Edy, pada puncak basapa, puluhan ribu pengikut tarekat Syattariyah dari berbagai pelosok Minangkabau menziarahi makam Syekh Burhanuddin. Haul berikutnya adalah ziarah kubur ke makam salah seorang tokoh tarekat Naqsyabandiyah Minangkabau, Syekh Maulana Malik Ibrahim AlKhalidi, Surau Batu Kumpulan, Pasaman, yang dikenal dengan panggilan Inyiak nan Balinduang.</p>



<p>Foto menarik lain yang ditampilkan Edy adalah prosesi pengukuhan Pucuak Syarak dengan gelar Kari Ibrahim, yang posisinya berdampingan dengan Pucuak Adat dalam struktur kepemimpinan umat muslim minangkabau.</p>



<p>Selain itu, penikmat karya fotografi bernuansa etnografi juga disuguhi ritus kematian, yang disebut Manyaratuih Hari serta ritus balimau memasuki bulan suci Ramadan.</p>



<p>Ada pula ritus Maulid Nabi, perayaan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW, dengan berbagai atribut seperti bungo lado dan juadah, serta semangat partisipasi masyarakat lokal yang luar biasa. Dihadirkan potret seni bernafaskan Islam seperti badikie, barabano dan shalawat dulang dan Indang Tuo.</p>



<p>Pameran etnofotografi ini juga meluaskan cakrawala dengan menghadirkan kekayaan visual dari ritus serak gulo yang dipraktikkan oleh masyarakat keturunan India di Masjid Muhammadan, Padang, serta tradisi batabuik yang telah mengakar kuat dalam kehidupan budaya masyarakat di Padang Pariaman.</p>



<p>“Kehadiran kedua ritus ini memperkaya narasi pameran tentang praktik ritual dalam kehidupan umat muslim Minangkabau. Undang-undang Pemajuan Kebudayaan No. 5 Tahun 2017, menetapkan ritus sebagai salah satu objek pemajuan kebudayaan (OPK),” ungkap Edy.</p>



<p>Dalam penjelasan undang-undang, ritus antara lain dimaknai sebagai tata cara pelaksanaan upacara yang didasarkan pada nilai tertentu, dilakukan secara terus-menerus dan diwariskan pada generasi berikutnya. Melalui berbagai praktik ritus itulah kita dapat melihat, peran masyarakat adat Minangkabau dalam menopang kegiatan ritual yang dilaksanakan secara berkelanjutan tersebut.</p>



<p><strong>Persoalan Agama di Minangkabau juga Urusan Niniak Mamak</strong></p>



<p>Tema pertautan Islam dan adat di Minangkabau yang diketengahkan Edy dalam bentuk foto, tak terlepas dari kerisauannya soal kehidupan beragama di Sumatra Barat, terutama dalam konteks keminangkabauan. Ia sering dengar kata bid&#8217;ah dilontarkan oleh pemuka agama dalam menyikapi aktivitas keagamaan yang bersinggungan dengan kebudayaan.</p>



<p>Nah, dalam risetnya justru Edy menemukan bagaimana pelbagai ritual atau ritus keagamaan, terlaksana berkat dukungan struktur niniak (ninik) mamak.</p>



<p>“Saya menemukan beberapa kasus, misal peringatan kematian Syekh (Inyiak) Balinduang Surau Batu, setiap tahun ada perayaan dengan nama Alek Surau Batu. Yang kerja keras melayani tamu yang berziarah saat haul Syekh Balinduang adalah 36 penghulu di (Nagari) Koto Kaciak. Masing-masing penghulu wajib menyediakan kancah untuk memasak. Bahkan dalam kenyataannya ada sampai bikin 50 kancah, karena ada beberapa penghulu yang menyediakan lebih dari satu kancah,” ungkap Edy.</p>



<p>Syekh Balinduang Surau Batu adalah&nbsp;gelar untuk Maulana Syekh Ibrahim atau dikenal juga dengan Syekh Kumpulan atau Syekh Ibrahim al-Khalidi.Beliau adalah seorang ulama besar, mursyid tarekat Naqsyabandiyyah dari Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Bonjol, Pasaman. Beliau adalah guru agama bagi banyak ulama lain dan memiliki pengaruh besar dalam pengembangan tarekat Naqshabandiyah di Nusantara.&nbsp;Di samping itu juga berperan dalam palagan Perang Paderi.</p>



<p>Dalam karya-karya yang dipajang Bung Edy, juga tampak perayaan kematian. Misalnya ritus kematian yang disebut Manyaratuih Hari di Solok yang begitu sumarak. Nah, dalam hal ini, perempuan sebagai pihak semenda dari suku yang meninggal yang mengarak juadah (<em>jamba</em>).</p>



<p>“Yang terjadi di Solok, hampir semua orang bawa Jamba atau juadah itu perempuan yang jadi <em>sumando</em> (semenda). Misal yang kawin dengan Chaniago, dia yang bawa juadah atau Jamba. Di sini, niniak mamak sangat berperan,” tukas Edy.</p>



<p>Di Sijunjung, katanya lagi, acara berkaul yang diadakan setiap tahun dilakukan pemotongan seekor kerbau, dimana menjadi tanggung jawab 16 penghulu di sana.</p>



<p>“Apa ini makna ungkapan sarak mangato, adaik mangatai,” ucap Edy dalam sesi diskusi pada pengujung pameran di Galeri Taman Budaya Sumatra Barat, Jumat (31//10/2025).</p>



<p><em>Syarak mangato, adaik mamakai</em> adalah&nbsp;prinsip filosofis Minangkabau yang berarti&nbsp;syariat (ajaran Islam) yang berkata atau memberi perintah, sedangkan adat yang memakai atau melaksanakannya.</p>



<p>“Persoalan agama bukan sekedar persoalan ulama, tapi juga niniak mamak. Saya kira melihat hubungan. Problemnya kerap dicaps bidah dengan melihat praktik di permukaan. Padahal di belakang praktik ritual, hampir semuanya penghulu berperan besar. Ini saya belum tuntas melakukan pengamatan,” terang Edy.</p>



<p>Ketua panitia pameran, Muhammad Taufik, menyebut ketika gagasan pameran etnofotografi Edy Utama muncul, maka pikiran kembali ditarik pada apa yang ditulis Akbar Salahuddin Ahmed, seorang antropolog Muslim asal Pakistan.</p>



<p>Salah satu buku antropolog yang juga dikenal sebagai pengarang cum penyair dan sineas ini adalah <em>Living Islam: From Samarkand to Stornoway</em>. Dalam buku itu, Ahmed menyoroti Living Islam sebagai sebagai fenomena keberadaan dan praktik Islam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat muslim (living Islam) atau Islam sebagai peradaban yang hidup dan berdenyut dalam ruang sosial, budaya dan sejarah.</p>



<p>Fokus Ahmed adalah menyigi Islam dari praktik ke teks, bukan sebaliknya, sebagaimana yang juga dipotret dalam lensa Bung Edy. Artinya Ahmed tidak mendokumentasikan apa yang tertulis dalam fikih. Menariknya Ahmed dalam studi ini satu sisi menyuguhkan Islam realitas (praktik sosial) kemudian membandingkannya dengan islam idealitas. Artinya ia ingin menunjukkan di mana masyarakat muslim mampu hidup dengan ideal dan di mana tidak.</p>



<p>“Namun kekuatan buku ini adalah kemampuan Ahmed menunjukan realitas Islam yang mungkin akan membuat marah Muslim bahkan Nonmuslim karena keitiqamahannya menjaga otentisitas, akurasi bahkan dia tetap mencatat sesuatu yang secara pribadi tidak disetujuinya, tanpa memoles atau menutup-nutupi,” beber Taufik.</p>



<p>Menurut Taufik, karya-karya yang dipentaskan Edy Utama &nbsp;adalah sebagai bentuk living Islam yakni Islam yang hidup di tengah masyarakat, bukan Islam yang berhenti di teks.</p>



<p>“Apa yang dilakukan Bung Edy adalah living Islam dari kacamata lensa kamera. Ia memotret bukan hanya ritual, tapi napas kehidupan, bagaimana Islam di Minangkabau tumbuh bersama adat,” ujar Taufik.</p>



<p>Menurutnya, pameran ini bukan sekadar dokumentasi visual, tetapi ajakan untuk merefleksikan ulang cara pandang terhadap budaya sendiri. “Dari foto-foto itu, kita diajak menyadari bahwa membangun kebudayaan tidak bisa hanya di hilir. Kita harus kembali ke hulunya, ke nilai-nilai, ke spiritualitas yang dulu menjadi sumber kekuatan Minangkabau,” tambahnya.</p>



<p><strong>Merawat Hulu, Menjernihkan Muara Kebudayaan</strong></p>



<p>Pameran fotografi yang digelar Edy lebih dari sekadar foto, melainkan sebuah renungan: bagaimana menjernihkan hilir kebudayaan dengan memperbaiki hulunya.</p>



<p>“Budaya itu ibarat sungai. Ada hulunya dan ada muaranya. Sekarang kita sibuk mengurus muara seperti atraksi seremonial, festival, promosi, tapi lupa memelihara hulunya, yaitu spiritualitas dan nilai,” ujar Edy Utama dalam pembukaan pameran Etnografi Islam Minangkabau.</p>



<p>“Saya mulai dari kekaguman,” katanya pelan. “Saya menelusuri Tabut, basafa, tarekat Syattariyah berpuluh tahun. Banyak hal yang dianggap kontroversial ternyata dirawat oleh orang Minang dengan penuh kearifan. Inilah kekuatan hulu budaya kita&nbsp; kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan akar.”</p>



<p>Dalam paparannya, Edy Utama menyinggung bahwa banyak kebijakan kebudayaan kini berhenti di tataran diplomasi dan seremonial. Padahal, esensi kebudayaan adalah ketahanan dari dalam, bukan kemegahan di luar.</p>



<p>“Kita sering memainkan budaya untuk kesenangan, bukan untuk ketangguhan. Padahal, silat misalnya, bukan untuk mengalahkan orang, tapi untuk mempertahankan martabat. Itu benteng hidup,” ujarnya tegas.</p>



<p>Ia mengajak pemerintah dan pelaku budaya untuk melihat kebudayaan dengan pendekatan etnografis, menyelami kehidupan masyarakat, bukan sekadar menampilkannya di panggung.</p>



<p>Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menilai karya Edy Utama memberi ruang refleksi bagi pemerintah daerah dalam membangun kebijakan kebudayaan yang lebih bermakna.</p>



<p>“Kita perlu menata kembali kebudayaan dari hulunya. Kekuatan Minangkabau bukan pada simbolnya, tapi pada nilai dan spiritualitasnya,” ujarnya, disela pembukaan pameran etnofotografi Edy Utama.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" width="1200" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-buya-mahyeldi.jpeg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-237673" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-buya-mahyeldi.jpeg?resize=1200%2C675&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-buya-mahyeldi.jpeg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-buya-mahyeldi.jpeg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-buya-mahyeldi.jpeg?resize=800%2C450&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-buya-mahyeldi.jpeg?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-buya-mahyeldi.jpeg?w=1280&amp;ssl=1 1280w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><figcaption class="wp-element-caption">Fotografer Bung Edy Utama menjelaskan ornamen dan pemaknaan arsitektur surau dan masjid kepada Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi.</figcaption></figure>



<p>“Hulu kebudayaan ya Islam itu sendiri, Maka tulah yang apa, adat yang ada di kita disesuaikan dengan hulu itu sendiri, itu makanya Islam di Minangkabaukan,” Mahyeldi menambahkan.</p>



<p>Nah, sambungnya, bagaimana proses hulunya nilai-nilai Islam itu menyatu dalam bentuk kebudayaan, dalam bentuk tulisan, dan kemudian juga dalam bentuk keseharian masyarakat di Minangkabau. “Dan kan itu yang dituangkan dalam falsafah Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) itu sendiri,” ucapnya.</p>



<p>Menurutnya, Edy Utama menghadirkan kelindan akulturasi&nbsp; yang sudah berjalan lama. Misalnya potret masjid atau surau yang ditampilkan Edy Utama.</p>



<p>“Karya yang mengabadikan salah satu masjid menunjukkan ada Eropanya, ada Indianya, ada Turkinya, juga ada Minangnya, semua itu dipadukan,” kata Mahyeldi, disela-sela pembukaan pameran etnofotografi Edy Utama, Jumat (24/10/2025).</p>



<p>Dia juga melihat dalam dunia kesenian yang hidup di Sumatra Barat terutama Padang juga memadukan ragam kebangsaan atau etnis. Di kawasan Pondok misalkan ada seni gambang, kemudian juga ada Balanse Madam kesenian dari suku Nias di Padang.</p>



<p>“Jadi itulah, jadi memang orang Minang ini, memang mengakomodasi, kemudian itu menghadirkan suatu yang menarik. Nah itulah, sudah seperti itu Minangkabau di dalam, makanya dalam faktanya, ketika ada permasalahan bangsa, ini karena Minang yang tampil untuk menyelesaikan. PDRI misalnya kan, itu kan Minang yang tampil,” bilang Mahyeldi.</p>



<p>Kehadiran pameran Bung Edy, Mahyeldi berharap menginspirasi banyak orang dan juga Sumbar sendiri.</p>



<p>“Keanekaragaman dan kemudian itu diinspirasi oleh Indonesia Islam, karena memang juga ya, Islam yang ada ke Nusantara ini kan juga berasal dari daerah-daerah berbeda-beda, nah itu juga dihadirkan di Sumatra,” tukas Mahyeldi.</p>



<p>Sementara itu, tokoh budaya Mak Katik memberikan tanggapan lugas dan hangat.</p>



<p>“Saya sangat setuju dengan Bung Edy. Pejabat kita banyak mengambil muaranya saja &nbsp;seperti rumah gadang, gonjong, songkok. Tapi hulunya, yakni nilai dan keaslian, sering dilupakan. Hulu itulah yang harus kita gali kembali,” tuturnya.</p>



<p>Menariknya, pameran ini juga menyita perhatian mahasiswa internasional asal Nigeria yang tengah belajar di UIN Imam Bonjol Padang.</p>



<p>Ibrahim Ismail, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, mengaku terkesan dengan harmoni antara Islam dan budaya di Sumatra Barat.</p>



<p>“Saya menikmati sekali acara ini. Budaya Islam di sini terasa hidup, penuh keramahan. Di Nigeria, Islam lebih formal. Di sini saya melihat Islam yang menyatu dengan adat. Ini luar biasa,” katanya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="1200" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-mahasiswa-Nigeria.jpeg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-237674" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-mahasiswa-Nigeria.jpeg?resize=1200%2C675&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-mahasiswa-Nigeria.jpeg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-mahasiswa-Nigeria.jpeg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-mahasiswa-Nigeria.jpeg?resize=800%2C450&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-mahasiswa-Nigeria.jpeg?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/Bung-Edy-dan-mahasiswa-Nigeria.jpeg?w=1280&amp;ssl=1 1280w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><figcaption class="wp-element-caption">Mahasiswa asal Nigeria yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol menikmati sajian foto-foto karya Bung Edy Utama</figcaption></figure>



<p>Mahasiswa asal Nigeria lain, Adam Rabiu Awal dan Umarfaruq Muhammad Gambo, menambahkan bahwa pengalaman mereka di Sumatra Barat menunjukkan bagaimana Islam dan budaya bisa saling memperkaya, bukan bertentangan. “Di sini kami melihat Islam yang indah dan manusiawi,” kata Umarfaruq.</p>



<p>Malam itu, di antara foto-foto dan percakapan hangat, tersirat pesan sederhana namun dalam: kebudayaan adalah sungai kehidupan. Jika hulunya kering dan tercemar, maka muaranya tak akan pernah jernih.</p>



<p>“Hulu spiritualitas Minangkabau adalah kekuatan kita,” kata Edy Utama menutup malam itu. “Dan itu mulai kita tinggalkan. Sudah saatnya kita pulang ke hulu, menjernihkan muara kebudayaan yang mulai keruh.”</p>



<p>Pameran etnofotografi Bung Edy berlangsung seminggu dikunjungi ribuan orang. Mulai dari penikmat seni, budayawan, wartawan, akademisi, mahasiswa, hingga para pelajar. Namun, banyak asa yang terbentang dalam diskusi cair yang dibentangkan pada hari terakhir pameran, Jumat (31/10/2025) malam.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="1200" height="518" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/bUNG-Edy-dan-penutupan.jpeg?resize=1200%2C518&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-237678" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/bUNG-Edy-dan-penutupan.jpeg?resize=1200%2C518&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/bUNG-Edy-dan-penutupan.jpeg?resize=300%2C129&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/bUNG-Edy-dan-penutupan.jpeg?resize=768%2C331&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/11/bUNG-Edy-dan-penutupan.jpeg?w=1217&amp;ssl=1 1217w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sejumlah kolega, sanak Bung Edy Utama hadir dalam penutupan yang berbalut diskusi karya-karya Bung Edy Utama di Galeri Taman Budaya Sumatra Barat, Jumat (31/10/2025) malam. </figcaption></figure>



<p>Akademisi dan peneliti asal Sumatra Barat yang mengajar di Universitas Leiden, Belanda, Surya Suryadi menilai karya-karya foto Edy Utama ini penting dalam merawat khazanah budaya Minangkabau. Menurutnya karya pendokumentasian secara visual penting untuk menjadi harta karun sejarah ke depannya. Ia mencontohkan bagaimana Belanda sangat serius untuk pendokumentasian visual, bahkan punya proyek memvideokan aktivitas hari ke hari beberapa kota di Indonesia.</p>



<p>“Mungkin 100 tahun lagi, kalau kita ingin belajar atau meneliti tentang budaya dan sejarah kita, harus ke Leiden, Belanda,” celetuknya.</p>



<p>Ketua Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas &nbsp;Zulqaiyyim misalnya, berharap pameran ini juga di bawa ke tengah gelanggang kampus. Menurutnya, kalau ditampilkan di arena seperti kampus, ini akan membuat orang (mahasiswa) tercengang-cengang, mengingat ini realitas yang terlihat dari perspektif sejarah.</p>



<p>Secara sosiologis, katanya, Islam di Minangkabau ada merasa lebih murni, lebih saleh, lebih beriman, sementara foto-foto yang ditampilkan realita sosial.</p>



<p>“Oleh karena itu, kita menyarankan pameran jangan terbatas di sini, tapi dibawa ke kampus,” pungkasnya.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/bergelintinnya-akulturasi-islam-dan-adat-di-minangkabau-refleksi-tangkapan-lensa-bung-edy-utama/">Bergelintinnya Akulturasi Islam dan Adat di Minangkabau, Refleksi Tangkapan Lensa Bung Edy Utama</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">237662</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Berziarah ke Hulu Budaya</title>
		<link>https://langgam.id/berziarah-ke-hulu-budaya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aidil Aulya]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Oct 2025 10:58:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Tabuik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=237084</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ritus-ritus budaya kerap kali terlupakan karena dianggap usang dan menunggu waktu untuk punah. Pelbagai ruang diskusi dan tulisan-tulisan kritis tentang Minangkabau akhir-akhir ini menyoroti keruhnya muara kebudayaan. Hal itu disimpulkan dari pencermatan orang terhadap tingkah laku orang-orang Minangkabau yang seakan tercerabut dari akar budayanya. Banyak yang menyesalkan, meratapi, dan berhilau seakan budaya Minang hanya tersisa dari ingatan kolektif. Punah tersuruk dalam tingkah laku. Semua itu dibantah oleh seniman dan budayawan terkemuka Minangkabau Bung Edy Utama dalam gelaran pameran Etnofotografi yang bertajuk “Islam di Minangkabau: Surau dan Ritus Keberagamaan di Sumatra Barat” di Taman Budaya Sumatra Barat tanggal 24-31 Oktober 2025.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/berziarah-ke-hulu-budaya/">Berziarah ke Hulu Budaya</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Ritus-ritus</strong> budaya kerap kali terlupakan karena dianggap usang dan menunggu waktu untuk punah. Pelbagai ruang diskusi dan tulisan-tulisan kritis tentang Minangkabau akhir-akhir ini menyoroti keruhnya muara kebudayaan. </p>



<p>Hal itu disimpulkan dari pencermatan orang terhadap tingkah laku orang-orang Minangkabau yang seakan tercerabut dari akar budayanya. Banyak yang menyesalkan, meratapi, dan berhilau seakan budaya Minang hanya tersisa dari ingatan kolektif. Punah tersuruk dalam tingkah laku.</p>



<p>Semua itu dibantah oleh seniman dan budayawan terkemuka Minangkabau Bung Edy Utama dalam gelaran pameran Etnofotografi yang bertajuk “Islam di Minangkabau: Surau dan Ritus Keberagamaan di Sumatra Barat” di Taman Budaya Sumatra Barat tanggal 24-31 Oktober 2025. </p>



<p>Di samping tiang-tiang bangunan gedung kebudayaan yang membelukar dan tak kunjung selesai itu, Bung Edy tidak membantah itu dengan kata-kata retoris, teoretis yang berapi-api dan atau menampilkan visual grafis data serta angka, tetapi dengan bidikan lensanya.</p>



<p>Dengan lensanya Bung Edy tidak hanya memvisualisasikan pertalian adat dan syara’ di Minangkabau. Jauh melebihi itu, Bung membawa kita berziarah pada hulu kebudayaan yang benar-benar hidup dalam praktik budaya masyarakat. Alih-alih mencari alasan pembenaran tentang keruhnya muara, Bung Edy langsung menjawab dengan karyanya bahwa di hulu kebudayaan masih ada orang yang telaten merawat tradisi. </p>



<p>Kekeruhan kebudayaan di muara yang begitu nyata hanya bagian dari kenyataan yang harus disadari. Muara yang keruh merupakan salah satu bentuk kebisingan zaman yang kerap menjadikan agama dan adat sebagai dua entitas yang berhadap-hadapan dan tidak bisa didamaikan. Agama dan adat terkadang diperantukkan oleh orang yang tidak pernah turun langsung ke hulu jantung kebudayaan, yaitu masyarakat. Dari jauh mereka berteriak, peradaban sudah punah, tetapi tak pernah betul-betul paham kalau itu hanya muara. Kebudayaanpun terkadang direduksi hanya untuk berswafoto dan konten media sosial.</p>



<p>Pameran ini merupakan cara Bung Edy untuk mengajak kita berenang melawan arus, kembali ke hulu yang masih jernih. Di hulu kebudayaan, ritus-ritus kebudayaan itu masih sangat terjaga dan menjadi hukum yang hidup dalam keseharian masyarakat. Ritus-ritus kebudayaan yang hidup dalam masyarakat masih terus membuhul erat pertalian adat dan syara’ di Minangkabau. Potret-potret karya Bung Edy terlihat magis dan memberi pesan bahwa keruhnya muara kebudayaan hanya bentuk dari retak-retak mentimun.</p>



<p>Dalam sebuah sudut, Bung Edy begitu piawai memvisualisasikan Tabuik di Pariaman sebagai sebuah ritus budaya. Tabuik bagi Bung Edy adalah perlambang tradisi konflik. Batabuik merupakan penggambaran nyata bagaimana konflik dibangun dan diselesaikan dengan cara damai. Begitulah orang Minang, tidak ada kusut yang tak bisa diurai, tidak ada konflik yang tak bisa diselesaikan tanpa harus menumpahkan darah. </p>



<p>Tabuik sebagai simbolisasi peristiwa Karbala yang dianut oleh Syiah begitu apik dirawat oleh kelompok Islam Sunni di Pariaman. Indah dan mengesankan betul simbol toleransi yang dihadirkan. Di tengah pemberitaan angka-angka statistik tentang Sumatra Barat yang dinilai intoleran, Bung Edy menghadirkan kenyataan. Fakta kebudayaan yang terus tumbuh untuk menampar orang-orang yang hanya melihat Islam di Minangkabau dari permukaan muara saja.</p>



<p>Foto-foto Bung Edy memberi pesan nyata bahwa Minangkabau masih digenggam erat oleh kebudayaan yang diwariskan dan kolektifitas masyarakat yang dengan sadar menjaga harta warisan tersebut. Di salah satu sudut pameran, Bung Edy menyajikan sebuah foto Surau. Foto surau yang ditampilkan Bung Edy bukan sekadar menjadi objek, tetapi muncul sebagai subjek yang menjelaskan bahwa Islam masih hadir di Minangkabau. Gambar Surau tersebut merupakan metafora sederhana untuk ketahanan budaya. Zaman telah memudarkan cat, melapukkan kayu, tetapi surau itu masih berdiri dan jiwa dan semangat keberagamaan di Minangkabau tak pernah pudur dimakan zaman.</p>



<p>Ada kepingan kecil yang saya temukan di saat mendatangi pembukaan pameran tersebut. Di salah satu sudut galeri pameran tesebut, Saya agak tersedak mendengar di depan salah satu foto yang bertajuk “bakaua adat”. Ada seorang akademisi yang bicara bahwa foto-foto ini tidak masuk dalam kategori etnofotografi. </p>



<p>Saya tersedak bukan karena bangunan teori etnofotografi yang dia uraikan, tapi dia luput dari substansi simbolik yang terpampang nyata di mukanya. Sibuk berteori tapi miskin kesadaran. Bagi saya, begitulah cara Bung Edy menguar hulu kebudayaan. Bung tak perlu meliuk-liuk dengan teori dan terjebak dengan kutipan-kutipan asing. Bung muncul dengan originalitas kebudayaan, bukan kulit-kulit yang disamak supaya bernilai.</p>



<p>Ruang pameran etnofotografi Bung Edy lebih dari sekadar menggantung foto itu dalam bingkai demi bingkai. Ini merupakan ikhtiar panjang yang lahir dari ruang spritualitas tinggi dari salah seorang maestro budaya dan seniman Minang untuk menggambarkan bahwa budaya Minangkabau masih bertahan.</p>



<p>Kebudayaan memang terkadang berubah bentuk mengiringi zaman, namun tak pernah punah dimakan peradaban. Selama masih ada penjaga warisan di hulu kebudayaan maka jangan pernah risau dengan keruhnya muara. Ternyata, memang tak semua perlu dijelaskan dengan kata-kata, cukup foto-foto itu saja yang mewakili semuanya. Selamat, Bung. <br>Padang, 25 Oktober 2025</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/berziarah-ke-hulu-budaya/">Berziarah ke Hulu Budaya</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">237084</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Memaksa Orang untuk Tidak Memaksa Tuhan</title>
		<link>https://langgam.id/memaksa-orang-untuk-tidak-memaksa-tuhan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nofel Nofiadri]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Oct 2025 04:32:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Lagu Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=235565</guid>

					<description><![CDATA[<p>Lirik asli lagu tersebut adalah &#8216;Kok ndak jodoh, tuhan kuaso.&#8217; Ini sepertinya ungkapan biasa. Lalu ada ungkapan lain dalam ranah yang sama yaitu &#8220;cinta ditolak, dukun bertindak&#8221;. Jika didampingkan ungkapan pertama dengan ungkapan ke dua maka nilai moralnya menjadi lebih tinggi karena ungkapan kedua merepresentasikan perbuatan syirik. Makna memang sejatinya begitu. Secara teoritis makna ditentukan dari relasi yang dibuat.  Pada dasarnya sesuatu yang ada bersifat netral. Adanya ruang dan waktu memungkinkan segala sesuatu dihubung-hubung-kaitkan. Dimensi ruang dan waktu mengakibatkan relasi dapat dikonstruksi yang kemudian melahirkan makna, nilai, dan seterusnya. Hanya jika ada ruang dan waktu lah tindakan dapat berlaku dan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/memaksa-orang-untuk-tidak-memaksa-tuhan/">Memaksa Orang untuk Tidak Memaksa Tuhan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Lirik asli lagu tersebut adalah &#8216;Kok ndak jodoh, tuhan kuaso.&#8217; Ini sepertinya ungkapan biasa. Lalu ada ungkapan lain dalam ranah yang sama yaitu &#8220;cinta ditolak, dukun bertindak&#8221;. Jika didampingkan ungkapan pertama dengan ungkapan ke dua maka nilai moralnya menjadi lebih tinggi karena ungkapan kedua merepresentasikan perbuatan syirik. Makna memang sejatinya begitu. Secara teoritis makna ditentukan dari relasi yang dibuat. <br><br>Pada dasarnya sesuatu yang ada bersifat netral. Adanya ruang dan waktu memungkinkan segala sesuatu dihubung-hubung-kaitkan. Dimensi ruang dan waktu mengakibatkan relasi dapat dikonstruksi yang kemudian melahirkan makna, nilai, dan seterusnya. Hanya jika ada ruang dan waktu lah tindakan dapat berlaku dan malaikat bekerja mecatat apakah itu termasuk dosa atau termasuk berpahala. Secara alamiah ruang dan waktu menyediakan kebebasan.</p>



<p>Dalam beberapa video unggahan, liriknya diubah menjadi ’kok indak jodoh, tuhan den paso<em>.</em>’ Lagu itu dinyanyikan dalam suasana pertunjukan langsung. Tidak saja di waktu sekarang ini, di ranah digital, di tempat tongkrongan&nbsp;<em>anak simpang</em>&nbsp;pengubahan lirik itu sudah lama terdengar. Orang-orang memiliki kuasa untuk melakukan itu.</p>



<p>Ungkapan yang sama muncul di sebuah konser musik di Payakumbuh. Viral dan menjadi polemik. Setiap orang dapat berkomentar. Seperti hukum tadi, dalam ruang dan waktu, orang bisa berbuat sekehendaknya mengomentari. Malaikat nanti akan mencatatnya.</p>



<p>Ada dua realitas yang perlu dilihat. Pertama realitas asli ketikakonser itu digelar di Payakumbuh yang sejuk di malam hari, diapit gunung Sago dan gunung Bonsu. Realitas kedua adalahrealitas digital. Pada saat ini dua realitas itu harus dibedakan karena sistem pemaknaan yang berlaku akan tidak sama. Walaupun begitu, keduanya dapat disebut sebagai sebuah teks.</p>



<p>Suzzane Eggins mendefinisikan teks sebagai produk interaksisosial yang otentik. Sebagai sebuah semiotika sosial, teks itu bersifat utuh. Ada orang, ada musik, ada lirik, malam hari, di Payakumbuh, ada orang melompat-lompat, dan lain-lain. Itu teks dari realitas pertama.</p>



<p>Kemudian ada realitas teks kedua di ranah digital. Teks itu rekaman pendek dari realitas pertama, momen ketika reff dimana ungkap ’tuhan den paso’ dinyanyikan. Teks itu juga utuh dalam realitas digital. Dia hadir diantara teks lain seperti genosida rakyat Palestina, diantara keracunan makanan di Lubuk Basung, di tengah ramainya postingan orang pergi umroh, dan di tengah algoritme layar masing-masing. Jadi ungkapan ‘tuhan den paso’ ada dalam dua realitas, realitas asli dan realitas turunan.</p>



<p>Untuk mendapatkan pemaknaan yang tepat terhadap teks, penafsir harus mengikutkan semua elemen pembentuk teks. Jika elemennya dipisahkan maka maknanya tidak akan seutuh yang seharusnya. Gabungan elemen-elemen yang membentuk teks itu disebut dengan tekstur.</p>



<p>Tekstur adalah pelibatan dari dua komponen yaitu koherensi dan kohesi. Ungkapan ’tuhan den paso’ itu harus dimaknai dengan menghubungkannya dengan seluruh lirik dalam lagu (kohesi) dan menghubungkannya dengan kontek sosial dan kultural Payakumbuh yang punya sejarah basijontiak (koherensi). Dalam tradisi tafsir juga begitu. Ayat ditafsirkan secara&nbsp;<em>lughowiyah</em>&nbsp;dan juga dikaitkan dengan&nbsp;<em>asbabun nuzulnya</em>(konteks).</p>



<p>Ketika malam semakin pekat di simpang jalan, lirik ’tuhan den paso’ juga keluar dari mulut berasap rokok pemuda-pemuda kampung. Saat itu tidak direkam. Amaknya pun mungkin sudah tidur di rumah. Abaknya mungkin masih di kedai. Itu dulu. Mereka yang ada di tongkorangan itu saja yang memaknai dan memiliki relasi badani dengan ungkapan itu. Ada yang tertawa kecil. Ada yang mengeraskan suara ketika lirik itu disemburkan. Memang relasi antara individu dengan teks tersebut dapat menciptakan pemaknaan yang beragam. Mereka yang sedang putus cinta akan merasuki teks itu lebih dalam.&nbsp;</p>



<p>Realitas digital adalah realitas turunan. Penonton akan menafsirkan apa yang dia tonton di media digital. Dia akan menghubungkan perasaanya, pengetahuannya, kesolehannya, dan latar belakang ekonomi dan lain-lain dengan apa yang sedang dia tonton. Hal yang sama sebenarnya terjadi saat berada di realitas asli. Namun hal yang berbeda adalah keutuhan dari teks yang ditonton.</p>



<p>Ketidaksamaan elemen-elemen pembentuk teks tentu akan berpotensi mempengaruhi hasil pemaknaan. Orang yang pernah pergi umroh dan pernah berada secara fisik di dekat ka’ba memiliki pemaknaan yang berbeda dengan orang yang baru mengalami ka’ba melaluivideo atau gambar di layar hp.&nbsp;</p>



<p>Ranah digital adalah realitas baru. Dia ada dan tidak bisa lagidisebut sebagai dunia maya. Maksiatpun terjadi secara lebihleluasa di ranah digital. Pendakwah pun lebih produktif di ranah-ranah digital. Termasuk para pengajar seperti guru dan dosen, kadang lebih serius di ruang medsos dari pada ruangkelas. Jangan-jangan realitas turunan ini adalah realitas yang lebih nyata. Apa pun itu, ’kok indak jodoh, ndak asi lo paso-paso.’[]</p>



<p><strong><em>Nofel Nofiardi adalah Dosen UIN Imam Bonjol Padang</em></strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/memaksa-orang-untuk-tidak-memaksa-tuhan/">Memaksa Orang untuk Tidak Memaksa Tuhan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">235565</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Bendera Bajak Laut Di Bulan Agustus: Antara Budaya Populer dan Patriotisme</title>
		<link>https://langgam.id/bendera-bajak-laut-di-bulan-agustus-antara-budaya-populer-dan-patriotisme/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 Aug 2025 07:13:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=231249</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Edria Sandika* Belakangan ini ramai pemberitaan mengenai polemik pengibaran bendera bajak laut Jolly Roger dari serial animasi (anime) berbasis komik Jepang (manga) berjudul One Piece karya Eichiro Oda. Simbol bajak laut yang melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan sosial dalam dunia fiksinya diartikan oleh berbagai pihak dengan beragam tanggapan. Tren pengibaran bendera bajak laut ini dianggap kontroversial karena bertentangan dengan semangat nasionalisme yang digambarkan oleh bendera merah putih, apalagi dilakukan di bulan Agustus 2025, pada bulan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia. Sebagai simbol identitas nasional yang merepresentasikan perjuangan dan pengorbanan sejak 17 Agustus 1945, pengibaran bendera merah-putih adalah penanda utama Indonesia telah</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/bendera-bajak-laut-di-bulan-agustus-antara-budaya-populer-dan-patriotisme/">Bendera Bajak Laut Di Bulan Agustus: Antara Budaya Populer dan Patriotisme</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Oleh: Edria Sandika*</strong></p>



<p>Belakangan ini ramai pemberitaan mengenai polemik pengibaran bendera bajak laut Jolly Roger dari serial animasi (<em>anime</em>) berbasis komik Jepang (<em>manga</em>) berjudul One Piece karya Eichiro Oda. Simbol bajak laut yang melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan sosial dalam dunia fiksinya diartikan oleh berbagai pihak dengan beragam tanggapan. Tren pengibaran bendera bajak laut ini dianggap kontroversial karena bertentangan dengan semangat nasionalisme yang digambarkan oleh bendera merah putih, apalagi dilakukan di bulan Agustus 2025, pada bulan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia.</p>



<p>Sebagai simbol identitas nasional yang merepresentasikan perjuangan dan pengorbanan sejak 17 Agustus 1945, pengibaran bendera merah-putih adalah penanda utama Indonesia telah merdeka dan berdaulat di hadapan bangsa-bangsa lainnya. Sesuai aturan yang tertera pada Undang-Undang (UU) no 24 tahun 2009, pasal 21 menegaskan bahwa bendera negara dipasang lebih tinggi, dan pasal 24 bahwa setiap orang dilarang menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan bendera negara. Pelanggaran terhadap UU tersebut dapat dianggap sebagai tindakan tidak menghormati bendera negara dan pemerintah berhak melakukan pelarangan resmi untuk bendera lain berkibar selain bendera merah-putih.</p>



<p>Sementara itu, One Piece adalah salah satu <em>anime</em>&nbsp;yang sangat berpengaruh di budaya populer, terutama di kalangan anak muda Indonesia yang menggemari budaya Jepang. Menurut Guinness World Records, One Piece adalah serial komik dan manga dengan penjualan terbanyak mencapai 520 juta kopi di tahun 2022 yang masih akan terus bertambah karena <em>manga</em>-nya belum tamat dan serial <em>anime</em>-nya masih terus ditayangkan hingga hari ini. Dengan motif petualangan, dunia bajak laut, kedalaman karakterisasi, dan humor, One Piece adalah salah satu judul yang sudah bersifat global dan dikenal luas hingga ke Indonesia, terutama di kalangan generasi muda. Dengan cerita bajak laut yang mengedepankan persahabatan, kebebasan, dan perlawanan terhadap otoritas yang korup dan menindas, One Piece menjadi sorotan karena usulan pengibaran bendera Jolly Roger yang ada dalam cerita <em>anime</em>&nbsp;tersebut sebagai simbol identitas belakangan ini.</p>



<p>Reaksi generasi muda Indonesia yang mengibarkan bendera bajak laut Jolly Roger selain bendera negara merah-putih adalah bentuk negosiasi identitas antara budaya nasional dan budaya global dalam kaitannya dengan hibriditas budaya. Bendera Jolly Roger dari One Piece telah mengalami rekontekstualisasi makna dari sekadar bendera dari <em>anime</em>&nbsp;menjadi ekspresi kekecewaan dan ketidakpuasan terhadap berbagai fenomena keadilan sosial yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia. Konteks bendera Jolly Roger yang tadinya spesifik hanya sekadar bendera pada anime nya berubah menjadi identitas hibrid antara budaya pop Jepang yang mengglobal dengan semangat patriotisme yang ada di Indonesia sehubungan dengan bulan perayaan kemerdekaan.</p>



<p>Di dalam dunia digital yang penuh dengan disrupsi dan perubahan yang begitu cepat, kita memerlukan patriotisme yang lebih inklusif, tidak kaku (<em>rigid</em>), dan memberi ruang terhadap keterlibatan budaya secara global. Tidak seharusnya pengibaran bendera Jolly Roger dianggap sebagai tindakan subversif terhadap negara, melainkan sebagai bentuk ekspresi budaya tanpa kekerasan dalam mengekspresikan kekecewaan, dan bukan sebagai penolakan terhadap nilai-nilai bangsa yang terkandung dalam pengibaran bendera merah-putih. Bagaimanapun juga, pengibaran bendera merah-putih adalah simbol bangsa yang tidak bisa ditawar-tawar, karena sudah ada aturan tegas terkait hal tersebut. Yang diperlukan adalah usaha literasi budaya antara fenomena global dengan respon lokal agar simbol negara, semangat patriotisme di bulan Agustus 2025 ini tidak perlu dicederai oleh pemaknaan provokatif oleh pengibaran bendera Jolly Roger tersebut.</p>



<p>Fenomena pengibaran bendera Jolly Roger dari <em>anime</em> One Piece ini haruslah dilihat sebagai reaksi budaya yang spontan, bukan sebagai ancaman terhadap kedaulatan dan identitas budaya bangsa Indonesia. Fenomena ini mirip dengan ujaran di media sosial bahwa Indonesia disebut “Negara Konoha” karena berbagai kesamaan yang bersifat kebetulan antara Indonesia dengan desa Konohagakure dari <em>anime</em> sejenis berjudul Naruto karya Masashi Kishimoto. </p>



<p>Reaksi budaya yang dihadirkan oleh istilah “Negara Konoha” tersebut lebih bersifat humoris ketimbang harus dimaknai sebagai representasi akurat terhadap negeri ini. Seperti halnya bendera Jolly Roger, penggunaan ujaran “Negara Konoha” adalah bentuk rekontekstualisasi makna dalam integrasi budaya global yang dilokalisasikan. Sehingga, menanggapi pengibaran bendera bajak laut sebagai bentuk ancaman atau hinaan terhadap negara dipandang berlebihan dan kaku dalam memahami identitas budaya yang seharusnya cair (<em>fluid</em>) dan inklusif.</p>



<p>Fenomena bendera bajak laut Jolly Roger dari anime One Piece ini haruslah dilihat sebagai reaksi budaya yang wajar dan direspon dalam konteks budayanya pula. Memahami mentah-mentah sebagai penolakan simbol dan nilai budaya menunjukkan perlunya advokasi dan literasi dari pihak-pihak terkait karena tidak ada indikasi pengibaran bendera bajak laut dari sebuah serial animasi sebagai bentuk ketidakcintaan kepada tanah air. Fenomena ini adalah bagian dari fenomena-fenomena lain yang berkaitan dengan bagaimana budaya populer global mempengaruhi identitas lokal yang tidak berbahaya, tidak mengandung kekerasan, dan bentuk kritik kolektif yang niatnya tetap berbasis patriotisme meskipun dalam lansekap yang berbeda. Fenomena ini menyisakan pertanyaan serius akan seperti apa dinamika identitas budaya lokal yang dipengaruhi budaya populer global di masa depan dan bagaimana pemerintah dan masyarakat Indonesia menghadapinya.</p>



<p><strong>*Dosen Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/bendera-bajak-laut-di-bulan-agustus-antara-budaya-populer-dan-patriotisme/">Bendera Bajak Laut Di Bulan Agustus: Antara Budaya Populer dan Patriotisme</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">231249</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Etos Jalanan dan Ekonomi Tikungan</title>
		<link>https://langgam.id/etos-jalanan-dan-ekonomi-tikungan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Nasir]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Apr 2025 03:46:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Alam Pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=225222</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa waktu terakhir, beredar potongan humor segar dari seorang komika di TikTok yang menyampaikan joke tentang sulitnya orang Minang menjadi pembalap. Bukan karena tidak berani atau kurang keterampilan, tapi karena tiap kali bertemu tikungan, justru berhenti. Bukan pula karena rem blong, tapi karena bisikan hati mengatakan: “Ha&#8230; ini cocok untuk manggaleh!” Begitu juga ketika bermain bola. Tim bola Minang, kata si komika, sulit juara karena pemainnya lebih fokus menatap penonton di tribun ketimbang bola. Dalam benaknya terlintas ide: “Wah, ini saat yang pas untuk jualan aqua, ndeh. Lapuak-lapak jua bali pajatu.” Humor ini tentu tidak dimaksudkan untuk mengecilkan karakter</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/etos-jalanan-dan-ekonomi-tikungan/">Etos Jalanan dan Ekonomi Tikungan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa waktu terakhir, beredar potongan humor segar dari seorang komika di TikTok yang menyampaikan joke tentang sulitnya orang Minang menjadi pembalap. Bukan karena tidak berani atau kurang keterampilan, tapi karena tiap kali bertemu tikungan, justru berhenti. Bukan pula karena rem blong, tapi karena bisikan hati mengatakan: “Ha&#8230; ini cocok untuk manggaleh!”</p>



<p>Begitu juga ketika bermain bola. Tim bola Minang, kata si komika, sulit juara karena pemainnya lebih fokus menatap penonton di tribun ketimbang bola. Dalam benaknya terlintas ide: “Wah, ini saat yang pas untuk jualan aqua, ndeh. Lapuak-lapak jua bali pajatu.”</p>



<p>Humor ini tentu tidak dimaksudkan untuk mengecilkan karakter Minangkabau. Sebaliknya, ini adalah cermin yang jujur dan lucu, sekaligus sarat makna, tentang watak kultural orang Minang yang sangat kuat dalam membaca ruang, momentum, dan peluang ekonomi. Sebuah “etos tikungan” yang mencerminkan kecerdasan spasial dan naluri dagang yang mengakar.</p>



<p>Dalam pandangan Max Weber (1905), etika kerja dan orientasi ekonomi suatu masyarakat sering kali tidak hanya ditentukan oleh sistem ekonomi formal, tetapi juga oleh nilai-nilai budaya yang hidup di dalamnya. Jika masyarakat Protestan Eropa menghasilkan etika kerja rasional dan terstruktur, maka orang Minang mewarisi etos dagang yang luwes, adaptif, dan berbasis pada “bacaan lokal” terhadap keadaan sekitar.</p>



<p>Tidak mengherankan bila orang Minang memaknai segala ruang sebagai potensi. Bahkan, jalan raya sekalipun. Fenomena pengguna jalan yang berkendara perlahan, kadang tampak “berleha-leha” di tikungan, bukan semata perkara etika lalu lintas, tetapi bisa dibaca sebagai ekspresi budaya: jalan sebagai “pusako tinggi” yang sedang dipatut-patut, dicium, diendus, untuk membaca arah usaha. Tak sedikit warung atau kedai muncul “mencium bibir jalan”—tanpa pagar atau batas—sebagai hasil dari proses appraisal alami terhadap alur kendaraan dan keramaian.</p>



<p>Kemampuan ini bersumber dari dua kata kunci dalam pepatah Minang: nak kayo kuek mancari, nak cadiak rajin baguru. Kata “kuek” (kuat) dan “rajin” menyiratkan sebuah etos proses. Orang Minang percaya bahwa kekayaan dan kecerdasan bukan sesuatu yang jatuh dari langit, tapi hasil dari daya tahan dan ketekunan dalam proses membaca, menimbang, dan bergerak.</p>



<p>Dalam hal ini, Clifford Geertz (1973) menyebutnya sebagai bagian dari “cultural system” yang memuat simbol-simbol makna yang diturunkan dan dimaknai secara kolektif. Etos ekonomi tikungan bukan sekadar lelucon, melainkan ekspresi dari sistem simbolis yang berakar dalam pengalaman merantau, berdagang, dan mengelola peluang secara otonom.</p>



<p>Paulo Freire (1970) dalam Pedagogy of the Oppressed juga menekankan pentingnya kesadaran kritis terhadap lingkungan. Dalam konteks Minangkabau, bisa dikatakan bahwa orang Minang telah mengembangkan bentuk kesadaran kritis yang khas: bukan dalam bentuk revolusi sosial, tetapi dalam bentuk kelincahan ekonomi, melalui pengamatan yang tajam terhadap potensi ruang dan waktu.</p>



<p>Fenomena ini tentu bukan tanpa paradoks. Di satu sisi, orang Minang dikenal egaliter, demokratis, dan rasional dalam tata hidup adat. Namun dalam dunia praktik ekonomi, seringkali etos ini tampil dalam bentuk improvisasi yang tak selalu sistematis. Ada daya kreasi tinggi, tapi kadang tidak terstruktur secara jangka panjang.</p>



<p>Lantas, apakah tokoh besar seperti Mohammad Hatta, Buya Hamka, atau Tan Malaka lahir dari etos ini? Hatta, dengan pemikiran ekonominya yang terukur dan sistematik, jelas tampil dalam ranah yang berbeda dari pedagang kaki lima. Namun bukan berarti ia jauh dari watak budaya Minang. Justru karena ia dibentuk dalam tradisi berpikir yang menghargai proses, disiplin, dan ruang dialog, maka ia mampu mengartikulasikan etos Minang dalam kerangka modernisme yang visioner.</p>



<p>Hatta tidak menjual aqua di tribun bola, tetapi ia membaca medan ekonomi nasional dan menyadari bahwa koperasi—lembaga ekonomi berbasis gotong-royong—adalah “tikungan sejarah” yang bisa dipakai untuk melawan dominasi kapitalis. Begitu pula Tan Malaka yang membaca “momentum revolusi” dengan kejelian seorang pemikir jalanan yang pernah mencicipi dunia pendidikan kolonial dan kehidupan buruh di luar negeri.</p>



<p>Dengan kata lain, kemampuan membaca ruang dan momentum—yang dalam humor tadi digambarkan secara ringan—juga muncul dalam ekspresi yang lebih besar dan kompleks dalam diri para pemimpin Minangkabau. Mereka tidak selalu menjelma dalam bentuk pedagang pasar, tapi tetap menunjukkan etos membaca ruang dan mencipta makna.</p>



<p>Jadi, humor tentang pembalap Minang yang berhenti di tikungan, atau pemain bola yang lebih fokus pada peluang jualan ketimbang gol, adalah tafsir cerdas terhadap budaya membaca peluang dalam ruang sempit. Tikungan menjadi metafora tentang cara berpikir: melihat celah di antara batas, bergerak di sela-sela aturan, dan mencipta dalam keterbatasan.</p>



<p>Maka jalan raya, tribun stadion, bahkan lampu merah pun, bisa menjadi ruang kontemplasi ekonomi. Di situlah peran budaya bekerja secara diam-diam, membentuk perilaku yang tampak acak, tapi punya pola batin yang dalam.</p>



<p>Dalam dunia yang semakin rasional dan sistematis, warisan ini bisa jadi terlihat usang atau bahkan mengganggu. Namun dalam pandangan kebudayaan, ia tetap punya nilai penting: sebagai penanda bahwa ekonomi tidak selalu soal angka dan grafik, tetapi juga soal naluri, tafsir, dan keberanian membaca tikungan.</p>



<p><strong><em>Penulis: Muhammad Nasir adalah Pengajar Kebudayaan Minangkabau di Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Imam Bonjol Padang</em></strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/etos-jalanan-dan-ekonomi-tikungan/">Etos Jalanan dan Ekonomi Tikungan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">225222</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Menggali &#8220;Deposit Budaya&#8221;: Kekayaan Tak Ternilai di Sumatra Barat</title>
		<link>https://langgam.id/menggali-deposit-budaya-kekayaan-tak-ternilai-di-sumatra-barat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dharma Harisa]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Oct 2024 02:12:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Pekan Kebudayaan Daerah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=213087</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Dalam pembukaan Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Sumatra Barat 2024, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III Sumatra Barat, Undri, menyampaikan pandangan yang menggugah tentang esensi kebudayaan dalam kehidupan masyarakat. Pidato tersebut bukan sekadar seremonial pembukaan, tetapi sebuah refleksi mendalam yang menantang kita untuk mempertimbangkan apa yang sebenarnya bisa kita banggakan dari tanah Sumatra Barat. Dengan menggunakan metafora &#8220;deposit budaya,&#8221; Undri menggarisbawahi pentingnya warisan budaya sebagai kekayaan sejati yang tidak pernah habis. Jika merunut sejarah, Sumatra Barat pernah mengalami masa kejayaan dengan keberadaan Tambang Batu Bara Ombilin di Sawahlunto. Pada masa keemasannya, tambang ini menjadi sumber kemakmuran bagi wilayah</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/menggali-deposit-budaya-kekayaan-tak-ternilai-di-sumatra-barat/">Menggali &#8220;Deposit Budaya&#8221;: Kekayaan Tak Ternilai di Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Dalam pembukaan Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Sumatra Barat 2024, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III Sumatra Barat, Undri, menyampaikan pandangan yang menggugah tentang esensi kebudayaan dalam kehidupan masyarakat. </p>



<p>Pidato tersebut bukan sekadar seremonial pembukaan, tetapi sebuah refleksi mendalam yang menantang kita untuk mempertimbangkan apa yang sebenarnya bisa kita banggakan dari tanah Sumatra Barat. </p>



<p>Dengan menggunakan metafora &#8220;deposit budaya,&#8221; Undri menggarisbawahi pentingnya warisan budaya sebagai kekayaan sejati yang tidak pernah habis.</p>



<p>Jika merunut sejarah, Sumatra Barat pernah mengalami masa kejayaan dengan keberadaan Tambang Batu Bara Ombilin di Sawahlunto. Pada masa keemasannya, tambang ini menjadi sumber kemakmuran bagi wilayah tersebut. </p>



<p>Namun, seperti halnya sumber daya alam lainnya, kekayaan ini pada akhirnya berkurang. Kini, tambang yang dulu menjadi tulang punggung ekonomi daerah tidak lagi mampu menopang kehidupan masyarakatnya. </p>



<p>Inilah kenyataan pahit dari sumber daya alam: meskipun melimpah pada awalnya, pada satu titik, mereka akan habis dan meninggalkan jejak penyesalan.</p>



<p>Sebaliknya, Undri menekankan bahwa kebudayaan adalah deposit yang tak pernah kering. &#8220;Ada satu yang tidak pernah habis, yaitu deposit budaya,&#8221; ujarnya, Selasa (2/10/2024). </p>



<p>Kekayaan budaya, baik yang bersifat tangible seperti cagar budaya, maupun intangible seperti adat istiadat, merupakan harta yang tak ternilai. Budaya Minangkabau yang hidup di tengah masyarakat Sumatra Barat memiliki potensi yang sangat besar, asalkan dikelola dengan baik dan dilestarikan secara berkelanjutan.</p>



<p>Di era modernisasi yang semakin mengikis tradisi, kebudayaan sering kali dilihat sebagai sesuatu yang kuno dan tidak relevan. Namun, pidato Undri mengingatkan bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi identitas dan kesejahteraan masa depan. </p>



<p>Seperti yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, peran penting kebudayaan mencakup perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan.</p>



<p><strong>Paradigma Baru dalam Pemajuan Kebudayaan</strong></p>



<p>Pidato Undri menyoroti empat pilar utama yang harus diperhatikan dalam pemajuan kebudayaan. Pertama, perlindungan terhadap aset budaya. Ini bukan sekadar tugas formalitas, tetapi langkah strategis yang dimulai dari pendokumentasian dan inventarisasi warisan budaya. </p>



<p>Dengan menjaga roh budaya ini, generasi masa depan dapat terus menikmati kekayaan yang ada di tengah-tengah mereka. </p>



<p>&#8220;Bagaimana kita melindungi aset-aset budaya agar roh budaya itu tetap hidup dan berkembang dalam masyarakat?&#8221; tanya Undri retoris.</p>



<p>Pilar kedua adalah pengembangan budaya. Konsep ekosistem kebudayaan yang disebutkan Undri menegaskan bahwa budaya tidak bisa berkembang secara parsial atau terpisah. Dibutuhkan sinergi dari semua pihak—seniman, budayawan, akademisi, dan masyarakat umum—untuk menjaga budaya tetap hidup dan relevan. </p>



<p>Dalam konteks ini, kebudayaan bukan hanya tentang upacara atau festival, melainkan sebuah ekosistem yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.</p>



<p>Pilar ketiga, pemanfaatan, mengajak kita untuk melihat budaya sebagai aset yang dapat memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Melalui kearifan lokal, tradisi, arsitektur, dan teknik-teknik budaya yang ada, masyarakat dapat menciptakan solusi untuk kehidupan yang lebih baik. </p>



<p>i sini, budaya bukan sekadar simbol atau tontonan, tetapi sumber daya yang dapat memberdayakan masyarakat dan memperkuat identitas mereka.</p>



<p>Pilar terakhir adalah pembinaan. Penguatan sumber daya manusia di bidang kebudayaan menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan budaya di masa depan. Dengan memberikan perhatian pada tata kelola yang baik, kebudayaan dapat terus berkembang dan memberi kontribusi signifikan terhadap pembangunan masyarakat.</p>



<p><strong>Kebersamaan dalam Memajukan Kebudayaan</strong></p>



<p>Dalam pidatonya, Undri menegaskan bahwa pelestarian dan pemajuan kebudayaan tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri. &#8220;Kita perlu menciptakan ekosistem kebudayaan,&#8221; tegasnya. </p>



<p>Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan para pemerhati budaya menjadi penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pelestarian kebudayaan.</p>



<p>Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui BPK Wilayah III Sumatra Barat, selalu berkomitmen untuk bersinergi dengan pemerintah daerah dalam upaya memajukan kebudayaan. </p>



<p>&#8220;Sinergi dan komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat akan menciptakan ekosistem yang mendukung pelestarian budaya,&#8221; katanya.</p>



<p>Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Sumatera Barat 2024 yang berlangsung pada 2 hingga 6 Oktober 2024 dengan tema &#8220;Rantak Budaya&#8221; menjadi momen penting untuk merayakan dan memperkuat budaya lokal. </p>



<p>Melalui berbagai pertunjukan seni tradisional dari seluruh kabupaten/kota, acara ini bertujuan untuk memperlihatkan betapa kayanya warisan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat Minangkabau. </p>



<p>Tema &#8220;Rantak Budaya&#8221; menggambarkan semangat kebersamaan, di mana setiap langkah yang serempak menghasilkan harmoni dalam gerakan budaya yang memperkuat akar kebudayaan lokal.</p>



<p>Pada akhirnya, pesan Undri dalam pidato tersebut sangat jelas: kebudayaan adalah kekayaan yang tak ternilai. Jika dikelola dengan baik, deposit budaya ini bisa menjadi sumber kekuatan yang tak hanya menjaga identitas masyarakat, tetapi juga memperkaya kehidupan mereka secara nyata. </p>



<p>Dalam era modern yang sering kali mengancam keberlangsungan tradisi, pidato ini menjadi pengingat bahwa budaya bukan hanya tentang masa lalu, melainkan kunci untuk masa depan yang berkelanjutan. <strong>(yki)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/menggali-deposit-budaya-kekayaan-tak-ternilai-di-sumatra-barat/">Menggali &#8220;Deposit Budaya&#8221;: Kekayaan Tak Ternilai di Sumatra Barat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">213087</post-id>	</item>
		<item>
		<title>SURI Pamerankan &#8220;Batik Sunyi&#8221; Bermotif Iluminasi Manuskrip Minangkabau Karya Teman Tuli</title>
		<link>https://langgam.id/suri-pamerankan-batik-sunyi-bermotif-iluminasi-manuskrip-minangkabau-karya-teman-tuli/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 30 Aug 2024 08:36:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Pameran]]></category>
		<category><![CDATA[Penyandang Disabilitas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=210791</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id – Lembaga Surau Intellectual for Conservation (SURI) menyelenggarakan pameran batik bertajuk &#8220;Batik Sunyi Motif Iluminasi Manuskrip Minangkabau&#8221; di Minangkabau Corner, Lantai III Gedung Perpustakaan Universitas Andalas. Pameran yang berlangsung dari 29 Agustus hingga 29 September 2024 ini menampilkan keunikan motif klasik dari naskah kuno Minangkabau yang dituangkan dalam batik karya teman-teman Penyandang Disabilitas Tuna Rungu (Teman Tuli). Kepala UPT Perpustakaan Universitas Andalas, Yori Yuliandra, menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif ini. Ia menekankan bahwa perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan pengetahuan, tetapi juga sebagai pusat pengetahuan (central knowledge) yang mempertemukan seni, budaya, dan sejarah dalam satu ruang edukatif. Pameran ini</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/suri-pamerankan-batik-sunyi-bermotif-iluminasi-manuskrip-minangkabau-karya-teman-tuli/">SURI Pamerankan &#8220;Batik Sunyi&#8221; Bermotif Iluminasi Manuskrip Minangkabau Karya Teman Tuli</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id – </strong>Lembaga Surau Intellectual for Conservation (SURI) menyelenggarakan pameran batik bertajuk &#8220;Batik Sunyi Motif Iluminasi Manuskrip Minangkabau&#8221; di Minangkabau Corner, Lantai III Gedung Perpustakaan Universitas Andalas. Pameran yang berlangsung dari 29 Agustus hingga 29 September 2024 ini menampilkan keunikan motif klasik dari naskah kuno Minangkabau yang dituangkan dalam batik karya teman-teman Penyandang Disabilitas Tuna Rungu (Teman Tuli).</p>



<p>Kepala UPT Perpustakaan Universitas Andalas, Yori Yuliandra, menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif ini. Ia menekankan bahwa perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan pengetahuan, tetapi juga sebagai pusat pengetahuan (central knowledge) yang mempertemukan seni, budaya, dan sejarah dalam satu ruang edukatif.</p>



<p>Pameran ini dibuka dengan pengguntingan pita yang dilakukan oleh Kepala Perpustakaan Unand, didampingi oleh Ketua Lembaga SURI, Kabid Warisan Budaya dan Permuseuman Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, serta Koordinator Minangkabau Corner.</p>



<p>Pameran ini menampilkan berbagai batik karya Teman Tuli yang mengangkat motif iluminasi dari naskah kuno Minangkabau, serta foto-foto dokumentasi pelatihan membatik yang dilaksanakan oleh SURI dan peralatan membatik yang digunakan.</p>



<p>Salah satu aspek penting dari pameran ini adalah keterlibatan komunitas Teman Tuli dalam proses pembuatan batik. Keterlibatan mereka merupakan bagian dari program inklusi sosial yang digagas oleh SURI, dengan tujuan memberdayakan individu dengan disabilitas pendengaran melalui seni membatik.</p>



<p>Pameran &#8220;Batik Sunyi&#8221; ini terbuka untuk umum setiap Senin-Jumat mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Selain pameran, kegiatan ini juga menawarkan sejumlah aktivitas interaktif bagi pengunjung, termasuk demonstrasi teknik membatik yang dipandu oleh pengrajin berpengalaman. Selain itu, juga diadakan lomba vlog bagi para pengunjung.</p>



<p>Pengunjung juga dapat mengikuti workshop membatik, di mana peserta bisa mencoba langsung membuat batik dengan motif iluminasi di bawah bimbingan instruktur profesional. Karya yang dihasilkan dalam workshop ini dapat dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.</p>



<p>Ketua Lembaga SURI, Surya Selfika, menyatakan bahwa pameran ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Danaindonesiana 2023 yang diperoleh dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek RI. Sebelumnya, SURI telah melaksanakan berbagai kegiatan, mulai dari peningkatan kapasitas lembaga hingga pelatihan membatik bagi Teman Tuli dalam dua gelombang.</p>



<p>&#8220;Kegiatan ini adalah penutup dari serangkaian program yang telah kami laksanakan. Kami berharap pameran ini dapat memperlihatkan hasil kolaborasi antara seni, budaya, dan inklusi sosial yang telah kami jalankan,&#8221; ujar Surya, Jumat (30/8).</p>



<p>Salah seorang pengunjung, Azizah, menyampaikan kekagumannya terhadap pameran ini. &#8220;Pameran ini benar-benar memberikan pengalaman yang unik. Saya bisa melihat langsung proses membatik dan bahkan mencoba membuatnya sendiri. Hasilnya luar biasa, motif-motif iluminasi Minangkabau ini sangat kaya dan artistik,&#8221; ungkapnya.</p>



<p>Pameran ini menjadi salah satu langkah penting dalam melestarikan warisan budaya Minangkabau melalui seni batik, sekaligus membuka ruang bagi komunitas Teman Tuli untuk berkarya dan berkontribusi dalam dunia seni rupa. (*/Yh)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/suri-pamerankan-batik-sunyi-bermotif-iluminasi-manuskrip-minangkabau-karya-teman-tuli/">SURI Pamerankan &#8220;Batik Sunyi&#8221; Bermotif Iluminasi Manuskrip Minangkabau Karya Teman Tuli</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">210791</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pemutaran Film Warisan Budaya Mengakhiri Galanggang Arang Pamenan Anak 2024</title>
		<link>https://langgam.id/pemutaran-film-warisan-budaya-mengakhiri-galanggang-arang-pamenan-anak-2024/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Aug 2024 11:10:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Galanggang Arang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=210430</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Galanggang Arang Pamenan Anak ditutup pada 22 Agustus 2024 dengan pemutaran film bertema warisan budaya di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat. Ada dua film yang diputar yang berjudul yaitu Lia Eeruk – Matotonan dan The Journey of Coal Mining Sawahlunto. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai komunitas anak muda yang ada di kota Padang. “Film Lia Eeruk – Matotonan bercerita tentang ritual masyarakat adat Mentawai untuk membersihkan atau menjauhkan diri dari segala bala atau musibah. Sedangkan The Journey of Coal Mining Sawahlunto menceritakan dengan warisan dunia kota tambang Sawahlunto,” ujar Mahatma Muhammad, kurator Galanggang Arang. Mahatma menyebutkan pemutaran film</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pemutaran-film-warisan-budaya-mengakhiri-galanggang-arang-pamenan-anak-2024/">Pemutaran Film Warisan Budaya Mengakhiri Galanggang Arang Pamenan Anak 2024</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Galanggang Arang Pamenan Anak ditutup pada 22 Agustus 2024 dengan pemutaran film bertema warisan budaya di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat. Ada dua film yang diputar yang berjudul yaitu Lia Eeruk – Matotonan dan The Journey of Coal Mining Sawahlunto. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai komunitas anak muda yang ada di kota Padang.</p>



<p>“Film Lia Eeruk – Matotonan bercerita tentang ritual masyarakat adat Mentawai untuk membersihkan atau menjauhkan diri dari segala bala atau musibah. Sedangkan The Journey of Coal Mining Sawahlunto menceritakan dengan warisan dunia kota tambang Sawahlunto,” ujar Mahatma Muhammad, kurator Galanggang Arang. </p>



<p>Mahatma menyebutkan pemutaran film ini bertujuan sebagai media edukasi dalam bentuk visual kepada generasi muda terkait warisan budaya. Film Lia Eeruk (2020) diputar untuk memperkenalkan salah satu entitas etnik yang ada di Sumatera Barat. Film ini diproduksi oleh Mancogu dengan sutradara Huddiyal Ilmi. Jadi Sumatera Barat itu didiami oleh banyak etnik, salah satunya Mentawai.</p>



<p>Sedangkan film The Journey of Coal Mining Sawahlunto (2023) diproduksi oleh kuratorial Kaba Baro pada Galanggang Arang. Kedua film ini merupakan bagian dari program Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek.</p>



<p>“Pengetahuan tentang WTBOS harus didistribusikan dengan berbagai cara. Sasarannya adalah anak muda, karena mereka yang menjadi estafet dalam kerja merawat, menjaga dan mengembangkan warisan budaya,” jelas Mahatma</p>



<p>Ossi Dharma, salah satu peserta pemutaran film menyampaikan dari kegiatan ini ia jadi banyak tahu tentang sejarah pertambangan Sawahlunto. “Salah satu penyebab kenapa akhirnya dijadikan warisan dunia karena pada masanya batubara di Sawahlunto menghidupi berbagai aktivitas yang ada di dunia. Pertambangan Batubara Sawahlunto juga ternyata punya hubungan dengan pembangunan jalur perkeretaapian. Dan dibalik itu semua, ada fakta sejarah tentang orang rantai yang menjadi tahanan dan dipekerjakan paksa oleh Belanda,” ujar Ossi.</p>



<p>Helatan ini telah berlangsung selama 6 hari mulai dari tanggal 17 – 22 Agustus 2024 di 2 lokasi yaitu Museum Adityawarman dan Taman Budaya Sumatera Barat (TBSB). Ada berbagai rangkaian kegiatan yang dilaksanakan antara lain Jelajah Galanggang Arang WTBOS, kelas bersama museum, pergelaran seni, kelas menggambar dan kerajinan tangan, kelas bermain permainan tradisional, pemutaran film, serta pameran seni dan foto WTBOS.</p>



<p>Selama 6 hari, ratusan anak dan remaja berkunjung ke pameran seni dan foto WTBOS. Mereka berasal dari puluhan sekolah di Kota Padang dan Padang Pariaman diantaranya SD IT Permata Kita, SMPN 4 Padang, SDN 04 Pasa Gadang, SDN 16 Kp.Pondok, SDN 05 Padang Pasir, SDN 44 Kalumbuk, SMAN 2 Batang Anai, dan lainnya.</p>



<p>“Kami membawa 15 murid ke sini. Mereka selain melihat pameran juga belajar tentang apa itu Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) dan kereta api. Seluruh karya yang dipamerkan anak pada pameran ini merupakan bentuk perasaan dan pemahaman mereka tentang warisan yang sudah diakui dunia ini. Ini juga bentuk apresiasi,” ujar Maryaniyetti Liberti, S.Pd. Guru SMAN 2 Batang Anai.</p>



<p>Maryaniyetii bercerita bahwa muridnya tadi juga ikut kelas menggambar dan menulis, beberapa diantaranya yang terbaik dipamerkan. Ia berharap kegiatan semacam ini berlanjut terus dan makin banyak yang ikut terlibat di kegiatan ini</p>



<p>Calvin (15), siswa SMAN2 menyebutkan baru pertama kali berkunjung melihat pameran karya. Selain melihat pameran, ia juga ikut menggambar di kelas melukis dan menggambar.</p>



<p>“Kegiatan hari ini seru sekali. Saya tadi menggambar situasi hutan yang ditembus oleh rel kereta api. Lalu karya saya dipilih menjadi karya terbaik, dipamerkan dan mendapat hadiah,” ujar Calvin.</p>



<p>Galanggang Arang Pamenan Anak dengan tajuk “Anak-Anak Sumatera Barat Merawat Warisan Dunia” merupakan rangkaian dari program Galanggang Arang yang dirancang oleh Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan (PPK) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Kegiatan ini difokuskan untuk anak-anak Sumatera Barat dan bertujuan untuk memperkenalkan warisan dunia sejak dini kepada anak dengan cara dan bahasa anak. (*/Yh)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pemutaran-film-warisan-budaya-mengakhiri-galanggang-arang-pamenan-anak-2024/">Pemutaran Film Warisan Budaya Mengakhiri Galanggang Arang Pamenan Anak 2024</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">210430</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sumarak Labuah Babudayo Jadi Pembuka Progul Satu Nagari Satu Event Tanah Datar 2024</title>
		<link>https://langgam.id/sumarak-labuah-babudayo-jadi-pembuka-progul-satu-nagari-satu-event-tanah-datar-2024/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Apr 2024 00:28:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[Tanah Datar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=201011</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Bupati Tanah Datar, Eka Putra membuka event Sumarak Labuah Babudayo yang digelar di Nagari Labuah, Kecamatan Lima Kaum, Jumat (12/4/2024). Sumarak Labuah Babudayo ini sendiri merupakan event pembuka Program Unggulan (Progul) Satu Nagari Satu Event Kabupaten Tanah Datar tahun 2024. Dalam event yang pembukannya digelar di Kantor Wali Nagari Labuah ini, menampilkan beragam kegiatan. Yaitu, 1000 rakik maco katumba, tari masal, malam babudayo, Labuah balagak, penampilan kesenian anak nagari. Kemudian juga ada pacu jawi, baolang-olang, maonta pinum kowoa ka sawah, salawek dulang, alek buru babi dan balai UMKM. &#8220;Tahun ini Nagari Labuah menjadi pembuka pelaksanaan Progul Satu Nagari</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/sumarak-labuah-babudayo-jadi-pembuka-progul-satu-nagari-satu-event-tanah-datar-2024/">Sumarak Labuah Babudayo Jadi Pembuka Progul Satu Nagari Satu Event Tanah Datar 2024</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Bupati Tanah Datar, Eka Putra membuka event Sumarak Labuah Babudayo yang digelar di Nagari Labuah, Kecamatan Lima Kaum, Jumat (12/4/2024).</p>



<p>Sumarak Labuah Babudayo ini sendiri merupakan event pembuka Program Unggulan (Progul) Satu Nagari Satu Event Kabupaten Tanah Datar tahun 2024.</p>



<p>Dalam event yang pembukannya digelar di Kantor Wali Nagari Labuah ini, menampilkan beragam kegiatan. Yaitu, 1000 rakik maco katumba, tari masal, malam babudayo, Labuah balagak, penampilan kesenian anak nagari.</p>



<p>Kemudian juga ada pacu jawi, baolang-olang, maonta pinum kowoa ka sawah, salawek dulang, alek buru babi dan balai UMKM.</p>



<p>&#8220;Tahun ini Nagari Labuah menjadi pembuka pelaksanaan Progul Satu Nagari Satu Event. Alhamdulillah, pelaksanaan saya nilai berjalan sukses, baik itu penampilan sanggar tari ataupun persiapan lokasi acara yang memanfaatkan bahan lokal seperti jerami dan bambu,&#8221; ujar Eka Putra dilansir dari laman Facebook Prokopim Setda Tanah Datar, Sabtu (13/4/2024).</p>



<p>Eka mengungkapkan, Progul Satu Nagari Satu Event digelar karena memiliki manfaat yang sangat banyak. Di antaranya menjadi sarana pelestarian budaya, adat dan juga kuliner khas nagari sampai dengan peningkatan roda ekonomi masyarakat.</p>



<p>&#8220;Seperti kita saksikan sebelum memulai acara ada kegiatan serah terima gelanggang, tradisi ini disaksikan langsung generasi muda kita, sehingga mereka tahu dan nantinya ninik mamak juga mentransferkan kepada mereka,&#8221; bebernya. </p>



<p>&#8220;Dan juga ada prosesi masak rakik maco katumba yang merupakan kuliner khas Nagari Labuah yang renyah dan enak untuk di makan langsung ataupun sama nasi,&#8221; sambungnya.</p>



<p>Dan juga yang patut diapresiasi, tambah Bupati, katanya yang menari tari masal ataupun pertunjukkan lainnya merupakan putra dan putri Nagari Labuah.</p>



<p>&#8220;Sebagai bentuk apresiasi dan kebanggaan atas penampilan anak-anak menari, saya akan bantu seragam dan perlengkapannya sebesar Rp25 juta,&#8221; ucapnya.</p>



<p>Ketua Pelaksana yang juga ketua KAN Labuah Munafri Dt. Majo Indo Nan Karuik mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi idaman masyarakat Nagari Labuah, terutama dalam beberapa tahun terakhir. </p>



<p>&#8220;Alhamdulillah tahun ini bisa digelar bahkan menjadi yang perdana di tahun 2024, terima kasih pak Bupati atas kesempatannya,&#8221; ujar Munafri.</p>



<p>Munafri menyebutkan, Nagari Labuah memiliki banyak potensi adat dan budaya yang bisa ditampilkan sehingga dikenal kembali oleh anak kemenakan dan juga masyarakat yang berkunjung.</p>



<p>&#8220;Begitu banyak potensi yang dimiliki, dan saya berharap melalui Program Satu Nagari Satu Event, semua bisa lestari kembali, anak kemenakan, kaum muda dan tua semakin bersatu untuk kesejahteraan Nagari Labuah,&#8221; ucapnya.</p>



<p>Wali Nagari Labuah, Wahyudi Asri mengatakan, elaksanaan Program Satu Nagari Satu Event akan kembali melestarikan adat, budaya dan kuliner khas nagari.</p>



<p>&#8220;Banyak potensi yang dimiliki Nagari Labuah, baik adat, budaya dan kuliner. Seperi ada medan nan bapaneh, surau gadang yang dibangun seorang syech. Dan rakik maco katumba makanan khas kami, tentu saya harapkan bantuan Pemda untuk pangsa pasar, sehingga membantu UMKM kami,&#8221; harapnya. <strong>(*/yki)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/sumarak-labuah-babudayo-jadi-pembuka-progul-satu-nagari-satu-event-tanah-datar-2024/">Sumarak Labuah Babudayo Jadi Pembuka Progul Satu Nagari Satu Event Tanah Datar 2024</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">201011</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 24/112 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-06-25 06:33:48 by W3 Total Cache
-->