<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita BMKG Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/bmkg/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/bmkg/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Apr 2026 23:29:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita BMKG Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/bmkg/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Cahaya Berekor di Langit Sumbar, BMKG: Puing Antariksa</title>
		<link>https://langgam.id/cahaya-berekor-di-langit-sumbar-bmkg-puing-antariksa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Irwanda Saputra]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2026 23:29:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=245057</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Benda bercahaya yang melintasi langit di sejumlah daerah di Sumatra Barat (Sumbar) mengejutkan warga, Sabtu (4/4/2026) malam. Warga juga mengabadikan momen tersebut hingga beredar di media sosial.   Fenomena ini menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat. Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Minangkabau Hangra menjelaskan, cahaya itu seperti benda langit yang memasuki atmosfer.&#160;&#160; &#8220;Berdasarkan video, memang seperti benda langit yang memasuki atmosfer. akibat kecepatannya yang tinggi, material tersebut terbakar dan menghasilkan cahaya terang,&#8221; katanya, Sabtu (4/4/2026) malam.&#160; Hangra menyebutkan, untuk jenis benda langitnya tersebut perlu diidentifikasi lebih lanjut. Namun kemungkinan besar cahaya itu adalah puing antariksa atau debris space. &#8220;Berdasarkan video</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/cahaya-berekor-di-langit-sumbar-bmkg-puing-antariksa/">Cahaya Berekor di Langit Sumbar, BMKG: Puing Antariksa</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211;</strong> Benda bercahaya yang melintasi langit di sejumlah daerah di Sumatra Barat (Sumbar) mengejutkan warga, Sabtu (4/4/2026) malam. Warga juga mengabadikan momen tersebut hingga beredar di media sosial.  </p>



<p>Fenomena ini menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat. Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Minangkabau Hangra menjelaskan, cahaya itu seperti benda langit yang memasuki atmosfer.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>&#8220;Berdasarkan video, memang seperti benda langit yang memasuki atmosfer. akibat kecepatannya yang tinggi, material tersebut terbakar dan menghasilkan cahaya terang,&#8221; katanya, Sabtu (4/4/2026) malam.&nbsp;</p>



<p>Hangra menyebutkan, untuk jenis benda langitnya tersebut perlu diidentifikasi lebih lanjut. Namun kemungkinan besar cahaya itu adalah puing antariksa atau debris space.</p>



<p>&#8220;Berdasarkan video yang terbaru, besar kemungkinan ini adalah puing antariksa seperti sisa roket atau satelit lama atau pun puing tidak berguna lainnya,&#8221; ucapnya.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Ia meminta masyarakat jangan khawatir. Puing antariksa akan terbakar habis sebelum sampai permukaan bumi.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>&#8220;Tidak perlu khawatir, normalnya sudah terbakar habis sebelum mencapai permukaan,&#8221; pungkasnya.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/cahaya-berekor-di-langit-sumbar-bmkg-puing-antariksa/">Cahaya Berekor di Langit Sumbar, BMKG: Puing Antariksa</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">245057</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sejumlah Wilayah di Sumbar Berpotensi Diguyur Hujan Lebat 3 Hari ke Depan</title>
		<link>https://langgam.id/sejumlah-wilayah-di-sumbar-berpotensi-diguyur-hujan-lebat-3-hari-ke-depan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Feb 2026 02:46:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Hujan]]></category>
		<category><![CDATA[Hujan Lebat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=243322</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Sejumlah wilayah di Sumatra Barat (Sumbar) berpotensi diguyur hujan sedang hingga lebat selama tiga hari ke depan, Sabtu-Senin (14-16/2/2026). Potensi hujan di sejumlah wilayah di Sumbar ini diketahui dari postingan BMKG Minangkabau di laman Instagramnya, Sabtu (14/2/2026). Berikut peringatan dini hujan di sejumlah wilayah di Sumatra Barat: 1. Sabtu, 14 Februari 2026 Waspada potensi hujan sedang hingga lebat di wilayah Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Agam, Tanah Datar, Pasaman, Limapuluh Kota, Kabupaten Solok, Solok Selatan, Dharmasraya, Pariaman dan sekitarnya. 2. Minggu, 15 Februari 2026 Siaga potensi hujan lebat hingga sangat lebat di wilayah Solok Selatan, Dharmasraya dan sekitarnya. Potensi</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/sejumlah-wilayah-di-sumbar-berpotensi-diguyur-hujan-lebat-3-hari-ke-depan/">Sejumlah Wilayah di Sumbar Berpotensi Diguyur Hujan Lebat 3 Hari ke Depan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211;</strong> Sejumlah wilayah di Sumatra Barat (Sumbar) berpotensi diguyur hujan sedang hingga lebat selama tiga hari ke depan, Sabtu-Senin (14-16/2/2026).</p>



<p>Potensi hujan di sejumlah wilayah di Sumbar ini diketahui dari postingan BMKG Minangkabau di laman Instagramnya, Sabtu (14/2/2026).</p>



<p>Berikut peringatan dini hujan di sejumlah wilayah di Sumatra Barat:</p>



<p><strong>1. Sabtu, 14 Februari 2026</strong></p>



<p>Waspada potensi hujan sedang hingga lebat di wilayah Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Agam, Tanah Datar, Pasaman, Limapuluh Kota, Kabupaten Solok, Solok Selatan, Dharmasraya, Pariaman dan sekitarnya.</p>



<p><strong>2. Minggu, 15 Februari 2026</strong></p>



<p>Siaga potensi hujan lebat hingga sangat lebat di wilayah Solok Selatan, Dharmasraya dan sekitarnya.</p>



<p>Potensi hujan sedang hingga lebat di wilayah Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Agam, Bukittinggi, Tanah Datar, Padang Panjang, Padang Pariaman, Pesisir Selatan, Pasaman, Limapuluh Kota, Sawahlunto, Kabupaten Solok, Solok, Solok Selatan, Sijunjung, Dharmasraya dan sekitarnya.</p>



<p><strong>3. Senin, 16 Februari 2026</strong></p>



<p>Siaga potensi hujan lebat hingga sangat lebat di wilayah Agam, Tanah Datar, Padang Pariaman, Pariaman, Padang, Pesisir Selatan dan sekitarnya.</p>



<p>Waspada potensi hujan sedang hingga lebat di wilayah Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Padang Panjang, Pasaman, Limapuluh Kota, Kabupaten Solok, Solok Selatan, Dharmasraya dan sekitarnya. <strong>(y)</strong> </p>



<p></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/sejumlah-wilayah-di-sumbar-berpotensi-diguyur-hujan-lebat-3-hari-ke-depan/">Sejumlah Wilayah di Sumbar Berpotensi Diguyur Hujan Lebat 3 Hari ke Depan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">243322</post-id>	</item>
		<item>
		<title>BMKG: Sumbar Berpotensi Hujan Sedang-Lebat 3 Hari Depan</title>
		<link>https://langgam.id/bmkg-sumbar-berpotensi-hujan-sedang-lebat-3-hari-depan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 31 Jan 2026 06:15:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Hujan di Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=242725</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Sejumlah wilayah di Sumatra Barat (Sumbar) masih berpotensi diguyur hujan sedang hingga lebat selama tiga hari ke depan, Sabtu (31/1/2026) hingga Senin (2/2/2026). Hal itu diketahui dari peringatan dini hujan wilayah Sumbar yang dikeluarkan BMKG Minangkabau di laman Instagramnya pada Sabtu (31/1/2026). Berikut peringatan dini wilayah Sumbar yang dikeluarkan BMKG Minangkabau: 1. Sabtu, 31 Januari 2026 Waspada potensi hujan sedang hingga lebat di wilayah Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Agam, Tanah Datar, Padang Panjang, Padang Pariaman, Pesisir Selatan, Pasamanm Kabupaten Solok, Solok Selatan, Dharmasraya, dan sekitarnya. 2. Minggu, 1 Februari 2026 Waspada potensi hujan sedang hingga lebat di wilayah</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/bmkg-sumbar-berpotensi-hujan-sedang-lebat-3-hari-depan/">BMKG: Sumbar Berpotensi Hujan Sedang-Lebat 3 Hari Depan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Sejumlah wilayah di Sumatra Barat (Sumbar) masih berpotensi diguyur hujan sedang hingga lebat selama tiga hari ke depan, Sabtu (31/1/2026) hingga Senin (2/2/2026).</p>



<p>Hal itu diketahui dari peringatan dini hujan wilayah Sumbar yang dikeluarkan BMKG Minangkabau di laman Instagramnya pada Sabtu (31/1/2026).</p>



<p>Berikut peringatan dini wilayah Sumbar yang dikeluarkan BMKG Minangkabau:  </p>



<p><strong>1. Sabtu, 31 Januari 2026</strong></p>



<p>Waspada potensi hujan sedang hingga lebat di wilayah Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat,  Agam, Tanah Datar, Padang Panjang, Padang Pariaman, Pesisir Selatan, Pasamanm Kabupaten Solok, Solok Selatan, Dharmasraya, dan sekitarnya.</p>



<p><strong>2. Minggu, 1 Februari 2026</strong></p>



<p>Waspada potensi hujan sedang hingga lebat di wilayah Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Agam, Tanah Datar, Padang Panjang, Padang Pariaman, Padang, Pesisir Selatan, Kabupaten Solok, Solok Selatan, Sijunjung, Dharmasraya, dan sekitarnya.</p>



<p><strong>3. Senin, 2 Februari 2026</strong></p>



<p>Waspada potenso hujan sedang hingga lebat di wilayah Kepulauan Mentawia, Pasaman Barat, Tanah Datar, Pesisir Selatan, Limapuluh Kota, Solok Selatan, Sijunjung, Dharmasraya, dan sekitarnya. <strong>(y)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/bmkg-sumbar-berpotensi-hujan-sedang-lebat-3-hari-depan/">BMKG: Sumbar Berpotensi Hujan Sedang-Lebat 3 Hari Depan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">242725</post-id>	</item>
		<item>
		<title>BMKG Ungkap Cahaya di Langit Padang Bukan Aurora: Polusi Cahaya Pantulan di Darat</title>
		<link>https://langgam.id/bmkg-ungkap-cahaya-di-langit-padang-bukan-aurora-polusi-cahaya-pantulan-di-darat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Irwanda Saputra]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2026 07:25:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Padang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=241976</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Pada Rabu (14/1/2026) malam, muncul cahaya di langit Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar) yang disebut-sebut menyerupai fenomena aurora. Kejadian ini jadi perbincangan dan heboh di media sosial. Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau, Decky Irmawan angkat suara terkait kejadian ini. Ia memastikan cahaya yang muncul di langit Kota Padang tersebut bukan sebuah fenomena aurora. Dikatakan Decky, ada beberapa kemungkinan penjelasan ilmiah yang paling logis di antaranya refleksi lampu kota pada awan atau light pillars/light pollution, polusi cahaya. &#8220;Penyebab paling umum untuk fenomena seperti ini adalah pantulan cahaya dari sumber di darat,&#8221; ujar Decky, Kamis (15/1/2026). Ia mengungkap</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/bmkg-ungkap-cahaya-di-langit-padang-bukan-aurora-polusi-cahaya-pantulan-di-darat/">BMKG Ungkap Cahaya di Langit Padang Bukan Aurora: Polusi Cahaya Pantulan di Darat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211;</strong> Pada Rabu (14/1/2026) malam, muncul cahaya di langit Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar) yang disebut-sebut menyerupai fenomena aurora. Kejadian ini jadi perbincangan dan heboh di media sosial.</p>



<p>Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau, Decky Irmawan angkat suara terkait kejadian ini. Ia memastikan cahaya yang muncul di langit Kota Padang tersebut bukan sebuah fenomena aurora.</p>



<p>Dikatakan Decky, ada beberapa kemungkinan penjelasan ilmiah yang paling logis di antaranya refleksi lampu kota pada awan atau light pillars/light pollution, polusi cahaya.</p>



<p>&#8220;Penyebab paling umum untuk fenomena seperti ini adalah pantulan cahaya dari sumber di darat,&#8221; ujar Decky, Kamis (15/1/2026).</p>



<p>Ia mengungkap pantulan cahaya itu bisa bersumber seperti dari lampu stadion, lampu sorot proyek, atau lampu jalan yang sangat terang. Pantulan cahaya itu kemudian ke lapisan awan rendah yang mengandung kristal es atau butiran air yang padat.</p>



<p>&#8220;Mengapa terlihat seperti aurora? Jika awan tersebut bergerak atau memiliki ketebalan yang berbeda-beda, pantulan cahaya akan tampak berpendar, bergoyang, atau memiliki gradasi warna yang menyerupai aurora,&#8221; jelasnya.</p>



<p>Decky menambahkan, pada malam kejadian terpantau dari citra radar cuaca kondisi Kota Padang cerah berawan dan terdapat awan rendah yang merupakan kondisi ideal bagi terciptanya polusi cahaya.</p>



<p>&#8220;Kota Padang seringkali memiliki kelembapan tinggi. Jika terdapat awan altocumulus atau stratus yang tipis namun luas, cahaya dari bawah akan terpantul dengan sangat jelas,&#8221; ungkapnya.</p>



<p>&#8220;Mengingat Padang berada di dekat garis khatulistiwa, sangat kecil kemungkinan itu adalah aurora asli (aurora borealis/australis). Karena aurora hanya terjadi di wilayah kutub bumi,&#8221; sambung Decky. <strong>(*y)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/bmkg-ungkap-cahaya-di-langit-padang-bukan-aurora-polusi-cahaya-pantulan-di-darat/">BMKG Ungkap Cahaya di Langit Padang Bukan Aurora: Polusi Cahaya Pantulan di Darat</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">241976</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Gempa M4,7 Guncang Bonjol Pasaman</title>
		<link>https://langgam.id/gempa-m47-guncang-bonjol-pasaman/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Dec 2025 05:10:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Gempa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=241123</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Gempa bumi tektonik bermagnitudo 4,7 mengguncang wilayah Bonjol, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, pada Minggu (28/12/2025) pagi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Kepala Stasiun Geofisika Padang Panjang Suaidi Ahadi, mengatakan gempa terjadi pada pukul 09.11.35 WIB dengan pusat gempa berada di darat, sekitar 19 kilometer barat daya Bonjol, Pasaman. “Hasil analisis BMKG menunjukkan episenter gempa terletak pada koordinat 0,13 derajat Lintang Selatan dan 100,08 derajat Bujur Timur, dengan kedalaman 10 kilometer,” kata Suaidi. Menurutnya, dengan memperhatikan lokasi dan kedalaman pusat gempa, peristiwa tersebut tergolong&#160;gempa bumi dangkal&#160;yang dipicu oleh aktivitas&#160;Sesar Kajay–Talamau, salah satu</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/gempa-m47-guncang-bonjol-pasaman/">Gempa M4,7 Guncang Bonjol Pasaman</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Gempa bumi tektonik bermagnitudo 4,7 mengguncang wilayah Bonjol, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, pada Minggu (28/12/2025) pagi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.</p>



<p>Kepala Stasiun Geofisika Padang Panjang Suaidi Ahadi, mengatakan gempa terjadi pada pukul 09.11.35 WIB dengan pusat gempa berada di darat, sekitar 19 kilometer barat daya Bonjol, Pasaman.</p>



<p>“Hasil analisis BMKG menunjukkan episenter gempa terletak pada koordinat 0,13 derajat Lintang Selatan dan 100,08 derajat Bujur Timur, dengan kedalaman 10 kilometer,” kata Suaidi.</p>



<p>Menurutnya, dengan memperhatikan lokasi dan kedalaman pusat gempa, peristiwa tersebut tergolong&nbsp;gempa bumi dangkal&nbsp;yang dipicu oleh aktivitas&nbsp;Sesar Kajay–Talamau, salah satu struktur sesar aktif di wilayah Sumatera Barat.</p>



<p>BMKG mencatat guncangan gempa dirasakan di sejumlah daerah. Wilayah Pasaman, Pasaman Barat, Bukittinggi, dan Agam merasakan getaran pada skala&nbsp;III–IV MMI, di mana getaran dirasakan oleh banyak orang dan terasa nyata di dalam rumah, seolah-olah ada truk melintas. Sementara itu, Padang Panjang dan Payakumbuh merasakan guncangan pada skala&nbsp;II–III MMI, ditandai dengan benda-benda ringan yang digantung bergoyang.</p>



<p>“Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa tersebut,” ujar Suaidi.</p>



<p>BMKG juga melaporkan adanya&nbsp;satu kali gempa susulan (aftershock)&nbsp;hingga pukul 09.33 WIB, dengan magnitudo tercatat 4,7.</p>



<p>Suaidi mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ia menegaskan bahwa informasi resmi terkait aktivitas gempa bumi hanya dikeluarkan oleh BMKG melalui kanal komunikasi yang telah terverifikasi. (*/Yh)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/gempa-m47-guncang-bonjol-pasaman/">Gempa M4,7 Guncang Bonjol Pasaman</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">241123</post-id>	</item>
		<item>
		<title>BMKG: Waspadai Cuaca Ekstrem di Sumbar</title>
		<link>https://langgam.id/bmkg-waspadai-cuaca-ekstrem-di-sumbar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2025 06:19:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca Ekstrem]]></category>
		<category><![CDATA[Editor Choice]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=240083</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id- BMKG memprakirakan intensitas hujan berpotensi meningkat di sebagian wilayah di Sumbar pada Kamis &#8211; Sabtu (11-13/12/2025).  Masyarakat diminta untuk waspadai bencana banjir dan longsor. “BMKG memantau perkembangan Bibit Siklon Tropis 91S yang berada di Samudra Hindia Barat Daya Sumbar yang mengakibatkan terjadinya pertemuan massa udara (konvergensi),” tulis Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau Desindra Deddy Kurniawan dalam siaran persnya. Ia mengatakan, anomali suhu muka laut yang bernilai positif mengindikasikan suplai uap air dan kelembapan relatif yang tinggi di pesisir barat Sumbar. Sehingga mendukung pertumbuhan awan-awan hujan di wilayah Sumbar. Hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi terjadi di Kepulauan Mentawai dan Pesisir</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/bmkg-waspadai-cuaca-ekstrem-di-sumbar/">BMKG: Waspadai Cuaca Ekstrem di Sumbar</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id-</strong> BMKG memprakirakan intensitas hujan berpotensi meningkat di sebagian wilayah di Sumbar pada Kamis &#8211; Sabtu (11-13/12/2025).  Masyarakat diminta untuk waspadai bencana banjir dan longsor.</p>



<p>“BMKG memantau perkembangan Bibit Siklon Tropis 91S yang berada di Samudra Hindia Barat Daya Sumbar yang mengakibatkan terjadinya pertemuan massa udara (konvergensi),” tulis Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau Desindra Deddy Kurniawan dalam siaran persnya.</p>



<p>Ia mengatakan, anomali suhu muka laut yang bernilai positif mengindikasikan suplai uap air dan kelembapan relatif yang tinggi di pesisir barat Sumbar. Sehingga mendukung pertumbuhan awan-awan hujan di wilayah Sumbar.</p>



<p>Hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi terjadi di Kepulauan Mentawai dan Pesisir Selatan.</p>



<p>Sementara hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di Pasaman Barat, Pasaman, Agam, Tanah Datar, Padang Pariaman, Pariaman, Padang, Kab. Solok, Solok Selatan, Sijunjung dan Dharmasraya.</p>



<p><strong>“</strong>Wilayah-wilayah tersebut berpotensi terdampak banjir, banjir bandang, dan longsor bergantung pada tingkat kerawanan masing-masing wilayah,” ujarnya.</p>



<p>Desindra mengimbau masyarakat untuk selalu<strong>&nbsp;</strong>waspada dan mengambil langkah antisipatif agar aktivitas harian tetap dapat berjalan aman dan lancar.</p>



<p>“Masyarakat bisa mendapatkan informasi cuaca secara realtime dari BMKG melalui aplikasi infoBMKG, website www.bmkg.go.id, dan media sosial @bmkgminangkabau,” ujarnya.</p>



<p>Ia mengingatkan masyarakat untuk merujuk kepada informasi resmi dari BMKG dan tidak mudah mempercayai informasi cuaca dari sumber yang tidak resmi.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/bmkg-waspadai-cuaca-ekstrem-di-sumbar/">BMKG: Waspadai Cuaca Ekstrem di Sumbar</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">240083</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Hujan Ekstrem Kembali Guyur Sumbar Pagi Ini, Area Kayu Tanam Tembus 245 mm</title>
		<link>https://langgam.id/hujan-ekstrem-kembali-guyur-sumbar-pagi-ini-area-kayu-tanam-tembus-245-mm/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Nov 2025 01:17:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[banjir bandang]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Galodo]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=239042</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Rentetan cuaca ekstrem di Sumatera Barat belum juga mereda. Setelah tiga hari berturut-turut diguyur hujan ekstrem pada 23–25 November 2025 yang memicu banjir dan longsor di berbagai wilayah, pagi ini, Jumat (28/11/2025), intensitas hujan kembali melonjak tajam hingga memecahkan rekor di sejumlah titik. Sejak dini hari, sistem awan Cumulonimbus bergerak lambat dan bertahan di wilayah pesisir serta dataran tengah Sumbar. Stasiun Klimatologi BMKG Sumbar mencatat hujan yang turun subuh–pagi ini berada pada level ekstrem. Rizky A. Saputra, Pranata Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya Stasiun Klimatologi Sumbar, menyebut kondisi atmosfer hari ini “sangat aktif hingga level yang tidak biasa.”</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/hujan-ekstrem-kembali-guyur-sumbar-pagi-ini-area-kayu-tanam-tembus-245-mm/">Hujan Ekstrem Kembali Guyur Sumbar Pagi Ini, Area Kayu Tanam Tembus 245 mm</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Rentetan cuaca ekstrem di Sumatera Barat belum juga mereda. Setelah tiga hari berturut-turut diguyur hujan ekstrem pada 23–25 November 2025 yang memicu banjir dan longsor di berbagai wilayah, pagi ini, Jumat (28/11/2025), intensitas hujan kembali melonjak tajam hingga memecahkan rekor di sejumlah titik.</p>



<p>Sejak dini hari, sistem awan Cumulonimbus bergerak lambat dan bertahan di wilayah pesisir serta dataran tengah Sumbar. Stasiun Klimatologi BMKG Sumbar mencatat hujan yang turun subuh–pagi ini berada pada level ekstrem.</p>



<p>Rizky A. Saputra, Pranata Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya Stasiun Klimatologi Sumbar, menyebut kondisi atmosfer hari ini “sangat aktif hingga level yang tidak biasa.”</p>



<p>“Ini hujan ekstrem yang sangat liar. Untuk rentang dini hari sampai pagi saja, angka-angka yang muncul sudah melampaui batas aman di banyak titik,” kata Rizky.</p>



<p>Hingga pukul 07.30 WIB, curah hujan tercatat:</p>



<p>Kayu Tanam: 245 mm</p>



<p>Malalo: 212 mm</p>



<p>Tiku: 201 mm</p>



<p>Lubuk Basung: 218 mm</p>



<p>Menurut standar BMKG, kategori ekstrem dimulai dari curah hujan lebih dari 150 mm per hari. Namun sejumlah lokasi di Sumbar hari ini menembus lebih dari 200 mm hanya dalam beberapa jam.</p>



<p>Rentetan Kejadian Ekstrem Sejak 23–25 November</p>



<p>Rizky menjelaskan bahwa cuaca ekstrem yang kembali muncul pagi ini bukan berdiri sendiri, melainkan lanjutan dari rangkaian kejadian hujan ekstrem yang melanda Sumbar sejak 23 November lalu.</p>



<p>“Selama tiga hari berturut-turut terjadi hujan ekstrem di beberapa wilayah pesisir Sumbar, terutama di Padang Pariaman, Kota Pariaman, Kota Padang, Agam, dan Pasaman Barat,” ujar Rizky, Selasa (25/11/2025).</p>



<p>Pada 23 November, tiga wilayah mencatat hujan ekstrem: Limau Purut, Pariaman, dan Sungai Limau, dengan nilai tertinggi 168 mm di Limau Purut.</p>



<p>Sehari berikutnya, 24 November, intensitas hujan meningkat.<br>“Curah hujan tertinggi kembali tercatat di Limau Purut mencapai 182 mm, dan itu termasuk kejadian ekstrem yang sangat jarang,” kata Rizky. Bungus di Kota Padang juga mengalami hujan ekstrem.</p>



<p>Puncak ekstrem terjadi pada 25 November 2025, ketika Lubuk Minturun, Kota Padang, mencatat 261 mm dalam sehari, memecahkan rekor harian 30 tahun terakhir yang sebelumnya bertahan sejak 17 Juni 2016 (225 mm).</p>



<p>“Ini menjadi rekor tertinggi dalam satu hari untuk wilayah Padang selama lebih dari tiga dekade,” jelasnya.</p>



<p>Menurut BMKG, lonjakan hujan ekstrem selama lima hari terakhir disebabkan oleh kombinasi faktor atmosfer dan oseanografi yang saling menguatkan.</p>



<p>“Dalam lima hari terakhir terjadi perubahan drastis dari kondisi kering menjadi sangat basah. Ini dipicu oleh Indian Ocean Dipole (IOD) negatif, anomali suhu muka laut yang menghangat, serta penguatan angin baratan akibat keberadaan Siklon Tropis 95B di Malaysia,” ujar Rizky.</p>



<p>Kondisi-kondisi tersebut menimbulkan suplai uap air yang sangat besar ke pesisir barat Sumatra dan memicu tumbuhnya awan-awan konvektif berukuran masif.</p>



<p>BMKG mengimbau masyarakat di bantaran sungai, dataran rendah, daerah rawan longsor, dan kawasan hilir DAS agar meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi banjir susulan, banjir bandang, dan tanah longsor, terlebih melihat bahwa pola hujan ekstrem masih mungkin berlanjut dalam beberapa hari ke depan. (*/Yh)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/hujan-ekstrem-kembali-guyur-sumbar-pagi-ini-area-kayu-tanam-tembus-245-mm/">Hujan Ekstrem Kembali Guyur Sumbar Pagi Ini, Area Kayu Tanam Tembus 245 mm</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">239042</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Info Terkini Banjir Bandang Lubuk Minturun: 3 Orang Meninggal</title>
		<link>https://langgam.id/info-terkini-banjir-bandang-lubuk-minturun-3-orang-meninggal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi Langgam]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Nov 2025 05:05:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Update Bencana Alam Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=238976</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Banjir bandang menghantam kawasan Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatra Barat, Kamis (27/11/2025). Banjir bandang berlangsung dari pagi hingga sekitar pukul 10.00 WIB. Laporan yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, hingga siang ini, tercatat 3 orang meninggal dunia akibat banjir bandang tersebut. Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, mengatakan tiga orang meninggal dunia itu ada di sekitar kompleks Lumin Park. Mereka meninggal akibat terseret air bah yang datang tiba-tiba dari bagian hulu sungai Lubuk Minturun. Sementara satu orang berhasil selamat. “Lumin Park menjadi salah satu lokasi terdampak. Dari sana dilaporkan ada 4</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/info-terkini-banjir-bandang-lubuk-minturun-3-orang-meninggal/">Info Terkini Banjir Bandang Lubuk Minturun: 3 Orang Meninggal</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Banjir bandang menghantam kawasan Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatra Barat, Kamis (27/11/2025).  Banjir bandang berlangsung dari pagi hingga sekitar pukul 10.00 WIB. Laporan yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, hingga siang ini, tercatat 3 orang meninggal dunia akibat banjir bandang tersebut.</p>



<p>Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, mengatakan tiga orang meninggal dunia itu ada di sekitar kompleks Lumin Park. Mereka meninggal akibat terseret air bah yang datang tiba-tiba dari bagian hulu sungai Lubuk Minturun. Sementara satu orang berhasil selamat.</p>



<p>“Lumin Park menjadi salah satu lokasi terdampak. Dari sana dilaporkan ada 4 orang korban. 3 orang ditemukan meninggal, satu orang selamat. Tapi kita belum bisa pastikan apakah mereka penghuni klaster Lumin Par. Air bah datang sangat cepat dari arah Lubuk Minturun,” ujar Zulviton, Kamis (27/11/2025) siang.</p>



<p>Selain korban jiwa, banjir bandang turut merusak infrastruktur. Di samping Lubuk Minturun, kata Hendri, banjir bandang juga menghanyam kawasan Gunung Nago, Batu Busuk di Kecamatan Pauh. </p>



<p>&#8220;Jembatan di kawasan Gunung Nago putus. Wilayah Batu Busuk juga terdampak signifikan akibat terjangan arus kuat dan material kayu dari hulu,&#8221; terangnya.</p>



<p>Zulviton menyebutkan, tim BPBD bersama relawan saat ini tengah melakukan penyisiran lanjutan di beberapa titik rawan. Warga di sekitar Lubuk Minturun, terutama yang tinggal di komplek perumahan dekat bantaran sungai, sudah mulai dievakuasi ke tenda darurat.</p>



<p>“Kita fokus pada evakuasi dan pendataan. Kondisi air sempat surut, namun potensi susulan tetap kita waspadai,” kata dia.</p>



<p>BPBD mengimbau masyarakat di sekitar sungai dan dataran rendah agar tetap siaga, mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi berlanjut. (*/Yh)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/info-terkini-banjir-bandang-lubuk-minturun-3-orang-meninggal/">Info Terkini Banjir Bandang Lubuk Minturun: 3 Orang Meninggal</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">238976</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Berikut Wilayah Terpapar Prakiraan Hujan Lebat Menurut BMKG Hingga Beberapa Waktu ke Depan</title>
		<link>https://langgam.id/berikut-wilayah-terpapar-prakiraan-hujan-lebat-menurut-bmkg-hingga-beberapa-waktu-ke-depan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Nov 2025 04:40:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana Alam]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Hujan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=238974</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan sebaran hujan sangat lebat hingga ekstrem yang terjadi hampir merata di Sumatera Barat dalam periode 26 November hingga 27 November 2025 pukul 07.00 WIB. Berdasarkan pemantauan dari 91 pos hujan dan alat otomatis pemantau cuaca (aloptama), hujan intensitas tinggi tercatat mendominasi sejumlah daerah, terutama kawasan pesisir dan dataran tinggi. Pranata Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya Stasiun Klimatologi Sumbar Rizky A. Saputra mengatakan hujan dengan intensitas sangat lebat terukur di sejumlah titik seperti Batipuh (Tanah Datar), Tandikat (Padang Pariaman), Maninjau dan Koto Tuo (Agam), Bonjol (Pasaman), Gunung Tuleh (Pasaman Barat), serta beberapa</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/berikut-wilayah-terpapar-prakiraan-hujan-lebat-menurut-bmkg-hingga-beberapa-waktu-ke-depan/">Berikut Wilayah Terpapar Prakiraan Hujan Lebat Menurut BMKG Hingga Beberapa Waktu ke Depan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan sebaran hujan sangat lebat hingga ekstrem yang terjadi hampir merata di Sumatera Barat dalam periode 26 November hingga 27 November 2025 pukul 07.00 WIB. Berdasarkan pemantauan dari 91 pos hujan dan alat otomatis pemantau cuaca (aloptama), hujan intensitas tinggi tercatat mendominasi sejumlah daerah, terutama kawasan pesisir dan dataran tinggi.</p>



<p>Pranata Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya Stasiun Klimatologi Sumbar Rizky A. Saputra mengatakan hujan dengan intensitas sangat lebat terukur di sejumlah titik seperti Batipuh (Tanah Datar), Tandikat (Padang Pariaman), Maninjau dan Koto Tuo (Agam), Bonjol (Pasaman), Gunung Tuleh (Pasaman Barat), serta beberapa kawasan Kota Padang, termasuk kawasan tambang Semen Padang, Bandar Buat, Limau Manih–UNAND, Nanggalo, dan Lubuk Minturun.</p>



<p>“Sebaran hujan sangat lebat ini menunjukkan bahwa dalam 24 jam terakhir pembentukan awan hujan cukup masif dan merata, terutama di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan topografi perbukitan dan pesisir barat Sumbar,” jelas Rizky, Kamis (27/11/2025).</p>



<p>Tidak hanya sangat lebat, beberapa wilayah bahkan mencatat hujan kategori ekstrem, yakni dengan intensitas yang jauh di atas ambang normal harian. Lokasi yang terdampak hujan ekstrem antara lain Malalo (Tanah Datar), Sei Geringging, Ulakan Tapakis, BPP Sintuk, Limau Purut (Padang Pariaman), Tiku dan Lubuk Basung (Agam), Kinali (Pasaman Barat), Pariaman Kota, Sungai Limau, hingga Stasiun Klimatologi Padang Pariaman.</p>



<p>Dari semua titik pengamatan, curah hujan tertinggi tercatat di Stasiun Klimatologi Sumatera Barat di Padang Pariaman, mencapai 218 mm dalam 24 jam, yang oleh BMKG dikategorikan sebagai hujan ekstrem.</p>



<p>“Angka 218 mm itu sudah termasuk kategori ekstrem dan berpotensi memicu banjir, banjir bandang, serta longsor di wilayah sekitar. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, mengingat kondisi tanah sudah jenuh oleh air,” kata Rizky.</p>



<p>BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama di daerah rawan seperti bantaran sungai, lereng perbukitan, dan kawasan dengan drainase terbatas. Rizky juga meminta warga mengikuti pembaruan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG.</p>



<p>“Pantau terus peringatan cuaca dan informasi iklim melalui kanal resmi BMKG agar masyarakat dapat mengantisipasi potensi dampaknya,” ujarnya.</p>



<p>BMKG menutup laporan dengan mengajak masyarakat tetap berhati-hati dalam beraktivitas di luar ruangan, mengingat hujan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi di hari-hari berikutnya. (*/Yh)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/berikut-wilayah-terpapar-prakiraan-hujan-lebat-menurut-bmkg-hingga-beberapa-waktu-ke-depan/">Berikut Wilayah Terpapar Prakiraan Hujan Lebat Menurut BMKG Hingga Beberapa Waktu ke Depan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">238974</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Bencana Berulang Kearifan Terlupa, Lalu Alam Menghukum</title>
		<link>https://langgam.id/bencana-berulang-kearifan-terlupa-lalu-alam-menghukum/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yose Hendra]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Nov 2025 13:49:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Alam Pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir Bandang Agam]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Mitigasi Bencana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=238885</guid>

					<description><![CDATA[<p>Amukan Siklon Tropis 95B di wilayah Malaysia yang memiuhkan angin baratan telah menelanjangi kerapuhan sebagian besar wilayah Sumatra Barat dari sisi bencana. Cuaca ekstrem yang menghantam Sumatra Barat sejak tanggal 22 November 2025 hingga 26 November 2025 ini, memicu sejumlah bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, longsor, angin puting beliung di 13 kabupaten/kota. Data Badan Penanggulangan &#160;Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Barat per Rabu, 26 November 2025, melansir ada puluhan ribu warga terdampak, dengan kerugian sementara ditaksir Rp. 5 miliar. Menariknya, sejumlah kawasan diterpa bencana bersifat perulangan. Untuk Kota Padang, kawasan terendam banjir adalah langganan banjir bila diguyur hujan dengan intensitas</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/bencana-berulang-kearifan-terlupa-lalu-alam-menghukum/">Bencana Berulang Kearifan Terlupa, Lalu Alam Menghukum</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>A</strong>mukan Siklon Tropis 95B di wilayah Malaysia yang memiuhkan angin baratan telah menelanjangi kerapuhan sebagian besar wilayah Sumatra Barat dari sisi bencana. Cuaca ekstrem yang menghantam Sumatra Barat sejak tanggal 22 November 2025 hingga 26 November 2025 ini, memicu sejumlah bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, longsor, angin puting beliung di 13 kabupaten/kota. Data Badan Penanggulangan &nbsp;Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Barat per Rabu, 26 November 2025, melansir ada puluhan ribu warga terdampak, dengan kerugian sementara ditaksir Rp. 5 miliar.</p>



<p>Menariknya, sejumlah kawasan diterpa bencana bersifat perulangan. Untuk Kota Padang, kawasan terendam banjir adalah langganan banjir bila diguyur hujan dengan intensitas tinggi berdurasi lama. Misalnya kawasan Nanggalo, Koto Tangah, dan juga di Batu Busuak Kecamatan Pauh. Sementara di daerah lain seperti Palupuah di Agam kerap diterjang longsor. Begitu juga di Malalo, Kabupaten Tanah Datar. Dan teranyar Malalak di wilayah Agam dihantam<em> galodo</em>.</p>



<p>Bambang Istijono (2013), menjelaskan bahwa 87 persen wilayah Sumatra Barat adalah kawasan pegunungan terjal. Dari total luas sekitar 4,23 juta hektare, sebagian besar lahannya merupakan lereng-lereng curam yang menjadi bagian dari pegunungan Bukit Barisan.</p>



<p>Di wilayah yang curam ini, mengalir sekitar 600 sungai yang menghubungkan lereng-lereng bukit dengan pesisir barat dan timur Pulau Sumatra. Kondisi geografis seperti ini menjadikan wilayah ini sangat rentan terhadap aliran puing atau <em>debris flow</em>, apalagi ketika curah hujan tinggi mengguyur kawasan hulu dalam waktu singkat</p>



<p>Perlu disadari, bencana alam seperti banjir, longsor, <em>galodo</em> (banjir bandang), bukan kontemporer saja, tapi sedari dulu sudah ada. Mamangan Minangkabau lainnya, yakni ‘<em>sakali aia gadang, sakali tapian barubah </em>(sekali air besar, sekali tepian berubah), selain bermakna bahwa masyarakat Minangkabau meyakini bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan, juga menggambarkan kesadaran mereka terhadap adanya fenomena alam berupa ‘air besar’ atau banjir.</p>



<p>Sepanjang sejarah, sama halnya dengan gempa bumi, bencana banjir atau pun banjir bandang memang sering terjadi di berbagai tempat di Sumatra Barat. Penelitian pengetahuan lokal kebencanaan masyarakat Sumatra Barat yang penulis lakukan setahun terakhir, menemukan pengalaman diterjang bencana diabadikan menjadi nama tempat (daerah). Misalnya Ampang Gadang, Galudua, Bungo Pasang, Tarandam, Kubang Putiah, Batuhampa, Malalo. Secara lisan juga, gambaran peristiwa banjir juga dikisahkan dalam cerita-cerita kaba.</p>



<p>Selain wujud dalam tradisi lisan, rekaman peristiwa banjir juga dapat ditemukan dalam bentuk tertulis (naskah). Menurut Guru Besar Pakar Kajian Manuskrip dari Universitas Andalas, Pramono, salah satu naskah yang secara khusus mengisahkan tentang bencana banjir di Minangkabau adalah naskah “Syair Nagari Talu Taloe Tarendam 1890”. Rekaman peristiwa banjir tersebut dapat dijadikan sumber untuk memetakan wilayah rawan banjir di Sumatra Barat.</p>



<p><strong>Toponimi dan Bencana yang Mendekap</strong></p>



<p>Senin, 24 November 2025,<strong> </strong>Nofizar, tetua di Jorong Duo Koto, Nagari Guguak Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, mengabarkan kampungnya diterjang banjir, persisnya sungai Duo Koto meluap. Imbasnya, sejumlah bangunan di pinggir sungai disapu luapan sungai yang berwarna coklat tua.</p>



<p>Malalo utamaya Jorong Duo Koto memang kerap disapa banjir, bahkan banjir bandang. Seperti pada Jumat, 17 Januari 2020, guyuran hujan lebat berjam-jam yang tak berkesudahan, meluruhkan regolit yang mencengkeram bukit-bukit penudung kampung di pinggiran Danau Singkarak itu. Seketika debris menyambangi rumah warga yang berada di bantaran sungai dengan membawa serta daya rusaknya. Setidaknya 8 bangunan terdiri dari 6 unit rumah, 1 unit toko dan 1 bengkel&nbsp;&nbsp;motor turut hanyut bersama 1 mobil dan 1 sepeda motor, puluhan ekor ternak warga.</p>



<p>Pada tahun yang sama, persisnya 5 April 2020, kawasan Malalo kembali diterjang galodo. Kali ini galodo menghantam Nagari Guguak Malalo. Bencana alam ini merenggut nyawa dua orang dengan nama Bainar (75) dan Zulparman alias Ijun (45). (pasbana.com: 2020).</p>



<p>Ditarik lagi pada peralihan abad 20 ke 21 atau disebut milenium, mewariskan jejak galodo atau longsor dahsyat di tanah Malalo. Titimangsa 24 November 2000, hari Jumat, mungkin paling diingat orang Malalo sebagai hari paling kelam. Kala itu, galodo menerjang Jorong Duo Koto, Nagari Malalo, tercatat sebanyak 11 orang meninggal dunia dan 60 rumah rusak, 200 hektare sawah rusak (keterangan Riya Darma (Eri Malalo) Datuak Rang Kayo Endah, niniak mamak Malalo<strong>).</strong></p>



<p>Syahdan, pengalaman bencana menjadi ihwal toponimi Malalo. Secara leksikal dari kata <em>malolo</em> berasal dari kata <em>loloh </em>menurut dialek Malalo, yang artinya longsor &nbsp;atau runtuh. Loloh juga bermakna melorot, yang artinya turun.</p>



<p>Leksikal ini menandakan kawasan bernama Malalo sekarang sering dan rawan longsor. Sayang, dari video yang beredar dari kejadian luapan sungai di Duo Koto, Senin lalu, tampak masih ada bangunan yang berada di bibir sungai. Dan tentu hal ini kurang peka dengan kerentanan Malalo itu sendiri.</p>



<p>Selain di Malalo, Jorong Galudua di Nagari Koto Tuo Agam juga bertoponimi bencana. Menurut tetua di sana, penamaan Galudua bagi kampung di bawah kaki Gunung Singgalang itu karena kejadian galodo (banjir bandang) masa silam. Dan kemudian terbukti, Galudua kembali diterjang galodo pada bulan Mei 2024.</p>



<p>Suatu hari pakar tambo dari Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol, Padang yang kini sudah purnabakti, Sheiful Yazan, mengungkapkan Galudua ini semacam tambo bencana karena ada toponimi (asal muasal nama tempat atau kampung) yang mengajarkan mitigasi bencana.</p>



<p>Ditambahkannya, nama kampung lainnya yang berangkat dari pengalaman bencana selain Galudua, ada Ampang Gadang dan sebagainya. Ada nagari-nagari itu yang menjelaskan kondisi alamnya sekaligus dan jadi mitigasi bencana bagi masyarakatnya.</p>



<p><strong>Tata Ruang dalam Perspektif Tambo</strong></p>



<p>Masyarakat Minangkabau mengenal empat undang-undang, yakni Undang-undang Luhak dan Rantau; Undang-undang Nagari; Undang-undang Saisi Nagari;dan Undang-undang Nan Duo Puluah. Nah, di antaranya ada undang-undang tentang nagari dengan isi soal nagari, perangkat-perangkat nagari. Lalu Undang Luhak yang bicara tentang kepemimpinan luhak dan rantau.</p>



<p>Undang-undang nagari tentang <em>basawah &#8211; bajarami, babalai &#8211; bamusajik, balabuah &#8211; batapian, bagalanggang &#8211; bapamedanan</em>, (memiliki pesawahan, punya pasar dan masjid, punya jalan dan tepian mandi, punya medan gelanggang) merupakan kerangka dasar pembentukan nagari. Nanti di sana ada benda larangan, <em>rimbo</em> (hutan) larangan. Di sanalah terkandung mitigasi bencana yang kemudian dijabarkan dalam petatah petitih.</p>



<p>“Jadi ada turunannya dalam bentuk petatah petitih yang menjadi tuturan sehari-hari. Mungkin kalau dalam undang-undang Indonesia ini petunjuk pelaksanaannya. Seperti <em>banda galudua</em> tidak boleh didiami, apalagi ditanami segala macam. Itu adalah turunan dari banda larangan,” kata Sheiful. Artinya, di dalam muatan undang-undang, salah satunya sudah memikirkan soal mitigasi bencana. Termasuk diingatkan secara toponimi.</p>



<p>Untuk penjabaran mengenai adaptasi dengan lingkungan, maka berlaku mamangan berikut;</p>



<p><em>Nan lereng tanami padi (</em><em>Yang lereng tanami padi)</em></p>



<p><em>Nan tunggang tanami bambu </em>(Yang tunggang tanami bambu)</p>



<p><em>Nan gurun jadikan parak </em>(Yang gurun jadikan kebun)</p>



<p><em>Nan bancah jadikan sawah </em>(Yang basah jadikan sawah)</p>



<p><em>Nan padek ka parumahan </em>(Yang padat untuk perumahan)</p>



<p><em>Nan munggu jadikan pandam </em>(Yang ketinngian jadikan kuburan)</p>



<p><em>Nan gauang ka tabek ikan </em>(Yang berlubuk jadikan tambak ikan)</p>



<p><em>Nan padang tampek gubalo </em>(Yang padang tempat gembala)</p>



<p><em>Nan lacah kubangan kabau </em>(Yang berlumpur kubangan kerbau)</p>



<p><em>Nan rawang ranangan itiek </em>(Yang berawa renangan itik).</p>



<p><em>Mamangan</em> (kiasan) di atas bicara tentang tata ruang yang berlaku di tanah Minang punya perspektif kebencanaan. Keberfungsian tanah sebagaimana yang disampaikan mamangan Minangkabau di atas, adalah bagian tambo, baik tambo alam Minangkabau ataupun tambo luhak dan tambo nagari. <em>Mamangan </em>itu menuturkan tata guna lahan secara rapi; mana yang boleh dipakai, mana yang tidak boleh.</p>



<p>Itu tuturan kata <em>pusako,</em> turunan dari tambo; nan lereng tanami tanaman tua, nan bancah tanami padi, nan tabek untuk berenang itik. Dan itulah cara tambo memberikan pedoman mitigasi bencana agar tidak menggunakan lahan semena-mena.</p>



<p>Tata ruang lebih luas bisa dilihat dalam setiap nagari itu ada wilayah konservasi yang tidak boleh diganggu-gugat. Ada<em> rimbo</em> (hutan) larangan, ada bandar larangan, bahkan laut pun ada yang dibatasi yang tidak boleh dimanfaatkan sebagai konservasi. Nah semua itu adalah cara undang-undang nagari untuk mewajibkan sebuah nagari punya konservasi.</p>



<p>Bahkan untuk penggunaan sumber daya alam seperti mengambil pohon di hutan pun itu harus dengan perhitungan yang lengkap. Seorang tukang yang akan mengambil kayu di hutan harus memperhitungkan tuanya kayu, dan harus memperhitungkan ada kayu yang akan tumbuh penggantinya. Tidak boleh main babat atau main ambil saja.</p>



<p><strong>Mitigasi Kultural</strong></p>



<p>Berangkat dari kejadian bencana akhir-akhir ini, sepertinya kita lupa bahwa ada pengetahuan lokal dalam merespons bencana itu sendiri. Sebagian pengetahuan lokal itu mungkin masih ada ada yang arif mematuhi dan menjalankannya, tapi sebagian besar sudah banyak yang abai.</p>



<p>Ketangguhan dalam menghadapi bencana kalau dilayangkan pandangan jauh ke belakang, tentunya menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri: warga yang hidup berdampingan dengan ancaman bencana. Mendiami wilayah rawan dan ditimpa bencana bertalu-talu, membuat masyarakat Sumatra Barat kenyang dengan pengalaman.</p>



<p>Ketangguhan bencana masyarakatnya terpatri dalam pengetahuan lokal bagaimana bertahan, belajar, dan hidup berdampingan dengan alam. Pengetahuan ini, meski sering terabaikan dalam perencanaan modern, menyimpan pelajaran berharga tentang cara hidup selaras dengan alam.</p>



<p>Adat Minangkabau selalu menganjurkan sifat waspada atau siaga. Pepatah yang mewanti-wanti kesiapsiagaan seperti berikut:</p>



<p><em>Maminteh sabalun anyuik </em>(memintas sebelum hanyut)</p>



<p><em>Malantai sabalun lapuak </em>(dibuat lantai baru sebelum lapuk)<em></em></p>



<p><em>Ingek-ingek sabalun kanai </em>(siaga sebelum kena (bahaya)<em></em></p>



<p><em>Sio-sio nagari alah </em>(sia-sia negeri akan kalah)</p>



<p><em>Sio-sio utang tumbuah </em>(sia-sia hutang timbul)</p>



<p><em>Siang dicaliek-caliek </em>(siang di lihat-lihat (waspada)</p>



<p><em>Malam di danga-danga </em>(malam di dengar-dengar)<em>.</em></p>



<p>Pengetahuan kebencanaan terpumpun dalam labirin tradisi lisan, dengan penguasaan pencerita yang terbatas. Padahal, jika ditilik pengetahuan lokal kebencanaan di Sumatra Barat yang dominan berbasis tradisi lisan, bukan saja mengalirkan kesejarahan, akan tetapi juga memuat pesan kebencanaan dari perspektif keagamaan, nilai-nilai moral, cerita-cerita khayali, mantra, nyanyian, peribahasa, dan adat-istiadat. </p>



<p>Dalam masyarakat adat Minangkabau, terdapat petuah-petuah berbasis &#8220;<em>alam takambang jadi guru</em>” (alam terkembang jadi guru) yang memanfaatkan tanda-tanda alam sebagai panduan menghadapi bencana.</p>



<p>Misalnya, petuah &#8220;<em>badantuang guruah di hulu</em>&#8221; mengartikan petir keras di hulu sebagai sinyal gempa besar, dan &#8220;<em>babunyi gaga di lautan</em>&#8221; berarti gelombang keras dari laut yang merujuk pada tsunami. Tradisi ini diturunkan melalui lisan, membantu masyarakat menafsir tanda-tanda alam sebelum bencana terjadi.</p>



<p>Pentingnya pemanfaatan kearifan lokal dalam mitigasi bencana juga pernah diungkapkan mantan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati. Ia mencontohkan ilmu titen, kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat Jawa, biasanya digunakan masyarakat untuk mengamati dan memahami tanda-tanda alam untuk berbagai kepentingan, seperti menentukan musim tanam, dan lain sebagainya. </p>



<p>Tapi di luar itu, juga bisa digunakan untuk membaca tanda alam yang dapat mengindikasikan potensi bencana.</p>



<p>“Jadi pakai ilmu kearifan dengan melihat sekitarnya, kalau orang Jawa ilmu titen, harus mempunyai kearifan melihat sekitar, biasanya kalau awan sudah tebal, menghitam, itu segera mencari tempat yang aman, masuk ke rumah atau ke gedung ya, karena biasanya akan ada hujan lebat, dapat disertai kilat dan petir, bisa disertai angin puting beliung,” kata Dwikorita di Antara Heritage Center Jakarta Pusat pada Rabu, 5 Februari 2025, dilansir dari <em>Kompas.com.</em></p>



<p>Salah satu contoh tanda alam yang dikenal dalam ilmu titen adalah fenomena awan berekor. Awan yang menunjukkan bentuk ekor atau belalai bisa menjadi indikasi bahwa angin puting beliung sedang terbentuk. “Kalau sampai ada gambar ekor seperti belalai, itu bisa jadi angin puting beliung. Jadi itu kalau ada, segera cari tempat yang aman, jangan berteduh di bawah pohon atau di bawah tegakan-tegakan, itu bisa roboh, bahkan rumah yang tidak kokoh bisa roboh juga,” kata Dwikorita.</p>



<p>Syahdan, demi keselamatan, maka penting kiranya menghindari tempat-tempat yang berpotensi roboh, seperti pohon besar atau bangunan yang tidak kokoh.</p>



<p>Prinsipnya, ilmu titen menempatkan tanda-tanda alam menjadi pedoman dalam mitigasi bencana. Pola-pola ini nyaris sama seperti halnya yang berlaku di Sumatra Barat atau Ranah Minang. Misalnya, ilmu titen bisa digunakan memprediksi bencana di wilayah sungai dan pegunungan. Dalam hal ini, jika cuaca tampak cerah, namun ada tanda-tanda mendung yang muncul di hulu sungai, ini bisa menjadi pertanda bahwa banjir bandang akan terjadi.</p>



<p>Semantik yang sama terungkap dalam <em>mamangan</em> di Minangkabau yakni “<em>c</em><em>ewang di langik tando ka paneh, gabak di ulu tando ka ujan</em>&#8221; dalam bahasa Minangkabau memang bisa diterjemahkan menjadi: &#8220;terang di langit tanda akan panas, mendung di hulu tanda akan hujan.&#8221;</p>



<p>Makna mamangan itu, segera saja keluar dari sungai, meskipun mendungnya itu masih terlihat di hulu. Sebab, bisa terjadi banjir bandang, apalagi kalau air sungai tiba-tiba menjadi keruh.</p>



<p>Hal yang sama berlaku untuk kawasan pegunungan, jika terlihat tanda-tanda retakan atau tanah ambles di lereng gunung, atau bahkan munculnya rembesan air keruh secara tiba-tiba karena ini menunjukkan potensi bencana tanah longsor atau banjir bandang.</p>



<p>Musim penghujan di Minangkabau selalu menjadi momen kewaspadaan. Masyarakat diajarkan untuk bersiap sebelum bencana terjadi, seperti pepatah: <em>sediakan payung sebelum hujan</em>. Hal ini tidak hanya berlaku pada cuaca, tetapi juga pada ekonomi. Misalnya, saat musim penghujan datang, masyarakat dahulu mempersiapkan kebutuhan dengan menjemur gabah dan menumbuk padi sebagai persediaan.</p>



<p>Dalam konteks mitigasi bencana, melalui ingatan bencana banjir itu dapat belajar tentang bagaimana menyikapi dan menghadapi bencana banjir hari ini dan masa yang akan datang. Orang yang arif bijaksana adalah orang yang dapat memahami pandangan orang lain. Dapat mengerti apa yang tersurat dan yang tersirat. Tanggap artinya mampu menangkis setiap bahaya yang bakal datang. Sabar artinya mampu menerima segala cobaan dengan dada yang lapang dan mampu mencarikan jalan keluar dengan pikiran yang jernih.</p>



<p>Ketiga sifat ini termasuk yang dinilai tinggi dalam adat Minang, seperti kata pepatah <em>berikut :</em></p>



<p><em>&#8220;Tahu di kilek baliuang nan ka kaki, kilek camin nan ka muka. Tahu jo gabak di ulu tando ka ujan, cewang di langik tando ka paneh. Ingek di rantiang ka mancucuak, tahu di dahan ka maimpok. Tahu di unak ka manyangkuik. Pandai maminteh sabalun anyuik.” </em>(Tahu kilat beliung arah ke kaki, kilat cermin arah ke muka. Tahu mendung di hulu tanda akan hujan, cerah di langit tanda akan panas. Ingat ranting yang akan menusuk, tahu dahan yang akan menimpa. Tahu duri yang akan menyangkut. Pandai memintas sebelum hanyut)</p>



<p>Mamangan ini secara sempit berartikan jangan sampai beliung (alat pertukangan yang tajam) melukai kaki, waspada apabila kilat cermin sampai ke wajah. Tahu dengan tanda-tanda alam bila akan hujan dan cerah. Bila berjalan, waspada juga bila ada ranting yang akan menusuk, dahan kayu yang akan menimpa atau duri yang akan membuat tersangkut. Pandai juga memintas atau mencegah sebelum segala sesuatu yang penting dan berharga hanyut oleh air.</p>



<p>Secara luas, kiasan ini mengandung makna mendalam tentang kebijaksanaan dan kehati-hatian dalam menghadapi berbagai situasi. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;</p>



<p>Kala didera hujan lebat berkepanjangan, masyarakat Tanjung Sani di tepian Danau Maninjau, lazimnya dulu mempedomani gelagat alam terutama kondisi bukit-bukit curam yang mengurung nagari sebagai sebuah kesiapsiagaan.</p>



<p>Bila intensitas hujan meningkat, warga mulai berjaga dan memperhatikan kondisi tali-tali air atau bandar-bandar yang mengiris kontur perbukitan. Perubahan warna atau bau pada aliran air menjadi sinyal awal bagi mereka untuk waspada. Menurut seorang warga Tanjung Sani yang bergiat sebagai aktivis kebencanaan, Hafizul Hamdi, mitigasi berbasis pengetahuan lokal ini terbukti efektif.</p>



<p>Ia mencontohkan, longsor pada 2 Desember 1980, dengan korban meninggal puluhan orang. Korban yang berjatuhan pada longsor perbukitan Leter W di pinggiran Danau Maninjau kawasan Tanjung Sani, disinyalir tak memerhatikan tanda-tanda longsor yang menjadi alarm bagi masyarakat setempat secara turun temurun. (Hamdi: Wawancara pada 23 Maret 2025).</p>



<p>Kejadian serupa pun terulang pada awal Oktober 2009, dan juga di tahun 2010. Tahun 2010, seorang ibu dan anak meninggal diterjang longsor. Hafizul mengatakan, beberapa waktu sebelum longsor menujam, ada imbauan untuk meninggalkan lokasi. Rumah korban terletak persis di pinggir aliran banda, dan saat bencana terjadi, sang ibu sempat keluar namun kembali masuk ke rumah untuk mengambil pakaian dan selimut anaknya, lalu tertimbun longsor. </p>



<p>Masih di Tanjung Sani, ketika tanah di tepi danau mulai retak, itu menjadi pertanda bahaya. Warga tahu, mereka harus bersiap. Sampan dan biduk menjadi sarana penyelamatan. Saat gempa 2009 mengguncang, banyak warga yang melarikan diri ke keramba di tengah danau. Informasi disebarkan terlebih dahulu oleh Kepala Jorong dengan memukul canang, sebagai tanda siaga. Pola bunyi canang menandakan tingkat bahaya.</p>



<p>Tanjung Sani dulunya telah menyiapkan alat evakuasi berupa Biduak Pincalang dalam merespons ancaman longsor. Biduk pencalang adalah sejenis perahu besar yang terbuat dari sebatang kayu panjang sepanjang 10 – 12 meter dan dapat menampung hingga 10 – 15 orang. Dalam kondisi genting, seperti saat musim hujan disertai gelombang dan riak air danau, muatan aman hanya sekitar 8 orang.</p>



<p>Sejak beberapa dasawarsa terakhir, pencalang sudah sulit dijumpai. Terlebih, dibukanya akses jalan lingkar danau tahun 1983, memudahkan aksesibilitas ke Tanjung Sani via darat. Dan masyarakat lebih memilih moda transportasi kendaraan bermotor ketimbang pencalang yang mesti mengayuhnya di danau.</p>



<p>Menurut Hafizul, masa jayanya, setiap kampung biasanya memiliki 2 hingga 3 unit pencalang, namun penggunaannya lebih dikenal dan lazim di Nagari Tanjuang Sani dibandingkan wilayah lain di sekitar danau. Meski pencalang sudah jarang ada, namun masyarakat Tanjung Sani tetap menjadikan bibir danau sebagai pilihan untuk lokasi evakuasi. Hanya saja bentuknya berubah.</p>



<p>Sekaitan dengan mitigasi bencana, konsep <em>palangkahan</em> pun bisa bersisian dengan pedoman cuaca versi BMKG. Logikanya, BMKG yang senantiasa memprediksi waktu setiap hari, bahkan tiap jam, juga menaruh perhatian pada gejala atau kondisi alam sebagai sebuah strategi berbasis kearifan lokal (<em>palangkahan</em>).</p>



<p><em>Palangkahan</em> itu ibarat pedoman, prediksi waktu bagi masyarakat Minangkabau untuk mencari hari baik, bulan baik, dalam berkegiatan.</p>



<p>M. Yunis dari Universitas Andalas yang mengkaji dalam soal <em>palangkahan </em>menyebut<em>,</em> <em>palangkahan</em> itu sesuatu yang berulang nan bersifat alamiah. Misal keluarnya hewan buas dari habitatnya, itu mesti dipahami suatu strategi mereka mengamankan diri. Harimau menampakkan diri adalah petanda alam, bukan prediksi waktu. “Penampakan harimau seperti itu adalah pengalaman berulang-ulang sebelumnya, bagian dari <em>palangkahan</em> yang langsung dari tanda alam, bukan metode melihat prediksi berbasis waktu,” kata Yunis.</p>



<p>Artinya, binatang buas yang turun dari gunung ke arah pemukiman dalam jumlah banyak misalnya, diposisikan sebagai isyarat akan terjadi sesuatu seperti letusan gunung api. Sebagai pemberi tanda, maka kapan? Kisaran tanggalnya? Hari apa? Bisa dilihat dalam rumusan <em>palangkahan</em>.</p>



<p>Menurut Yunis, erupsi dahsyat Gunung Marapi tanggal 3 Desember 2023 yang menyebabkan 24 orang pendaki meninggal dunia, memunculkan simbol ‘silang’ dalam tanda waktu “kalender <em>palangkahan</em>”.</p>



<p><em>Palangkahan</em> sebagai bagian mitigasi bencana, tentu bisa meminalisir korban lebih banyak. Meski bencana (alam), suatu hal yang tidak bisa ditolak, namun korban bisa ditekan dengan memahami kalender simbol <em>palangkahan</em>. Caranya, pada hari tertentu yang ditemukan dalam <em>palangkahan</em> bersifat buruk, maka hindari beraktivitas dan buat keramaian pada hari itu.</p>



<p>Dengan demikian, tanda-tanda alam sejatinya adalah alarm bagi masyarakat dalam mengantisipasi potensi bencana, sebagai upaya mengurangi risiko kerusakan atau korban jiwa. Artinya, pada tiap bencana alam, kehancuran fisik dan risiko kehilangan nyawa bisa saja suatu keniscayaan, namun jika digali lebih dalam, mungkin ada adaptasi terhadap ancaman bencana melalui inisiatif lokal sebagai bentuk ketangguhan.</p>



<p><strong>*Periset dan Penulis Sejarah Kebencanaan | Patahan Sumatra Institute</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/bencana-berulang-kearifan-terlupa-lalu-alam-menghukum/">Bencana Berulang Kearifan Terlupa, Lalu Alam Menghukum</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">238885</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 27/86 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-04-24 17:49:17 by W3 Total Cache
-->