<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Bawang Merah Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<atom:link href="https://langgam.id/tag/bawang-merah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langgam.id/tag/bawang-merah/</link>
	<description>Berita Terkini - Berita Terbaru - Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Tue, 26 May 2026 00:55:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2019/01/cropped-langgam-512a.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Berita Bawang Merah Terbaru Hari Ini &#8211; Langgam.id</title>
	<link>https://langgam.id/tag/bawang-merah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">159480384</site>	<item>
		<title>Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Unand Hadirkan Pompa Irigasi Tenaga Surya untuk Petani Bawang di Alahan Panjang</title>
		<link>https://langgam.id/departemen-teknik-pertanian-dan-biosistem-unand-hadirkan-pompa-irigasi-tenaga-surya-untuk-petani-bawang-di-alahan-panjang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin Palanta]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 May 2026 00:53:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Palanta]]></category>
		<category><![CDATA[Alahan Panjang]]></category>
		<category><![CDATA[Bawang Merah]]></category>
		<category><![CDATA[Fateta Unand]]></category>
		<category><![CDATA[Pengabdian Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=248009</guid>

					<description><![CDATA[<p>PalantaLanggam &#8211; Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Universitas Andalas kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan pada Senin, 25 Mei 2026, di Rimbo Tinggi, Jorong Galagah, Nagari Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Kegiatan ini melibatkan dosen dan mahasiswa bersama Kelompok Tani Kumbang Jantan dengan mengusung tema “Implementasi Teknologi Pompa Air Tenaga Surya untuk Mendukung Ketahanan Air Pertanian Bawang di Nagari Alahan Panjang Kabupaten Solok.” Program pengabdian ini berfokus pada penerapan prototipe Pompa Irigasi Tenaga Surya Portable sebagai solusi terhadap kendala utama yang dihadapi petani bawang merah, yakni keterbatasan akses air dan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/departemen-teknik-pertanian-dan-biosistem-unand-hadirkan-pompa-irigasi-tenaga-surya-untuk-petani-bawang-di-alahan-panjang/">Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Unand Hadirkan Pompa Irigasi Tenaga Surya untuk Petani Bawang di Alahan Panjang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>PalantaLanggam &#8211; Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Universitas Andalas kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan pada Senin, 25 Mei 2026, di Rimbo Tinggi, Jorong Galagah, Nagari Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.</p>



<p>Kegiatan ini melibatkan dosen dan mahasiswa bersama Kelompok Tani Kumbang Jantan dengan mengusung tema “Implementasi Teknologi Pompa Air Tenaga Surya untuk Mendukung Ketahanan Air Pertanian Bawang di Nagari Alahan Panjang Kabupaten Solok.”</p>



<p>Program pengabdian ini berfokus pada penerapan prototipe Pompa Irigasi Tenaga Surya Portable sebagai solusi terhadap kendala utama yang dihadapi petani bawang merah, yakni keterbatasan akses air dan sulitnya pengangkutan pompa berbahan bakar solar ke area perkebunan. Melalui inovasi tersebut, petani diharapkan dapat memperoleh sistem irigasi yang lebih praktis, hemat energi, ramah lingkungan, dan efisien dalam mendukung produktivitas pertanian.</p>



<p>Kegiatan diawali dengan sambutan dari Prof. Dr. Ir. Rusnam, MS. selaku perwakilan Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Universitas Andalas. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghadirkan solusi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.</p>



<p>“Perguruan tinggi tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan dan penelitian, tetapi juga harus hadir memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat melalui inovasi teknologi tepat guna yang mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan,” ujarnya.</p>



<p>Sambutan berikutnya disampaikan oleh penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan perwakilan Kelompok Tani Kumbang Jantan yang menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Para petani berharap inovasi yang diperkenalkan dapat membantu mengatasi persoalan irigasi yang selama ini menjadi tantangan utama, terutama saat musim kemarau.</p>



<p>Selanjutnya, Delvi Yanti selaku dosen Departemen TPB memberikan pemaparan mengenai spesifikasi, fungsi, serta prinsip kerja Pompa Irigasi Tenaga Surya Portable. Dalam sesi tersebut dijelaskan bahwa pemanfaatan energi surya menjadi alternatif yang lebih ekonomis dan berkelanjutan dibandingkan penggunaan bahan bakar fosil.</p>



<p>Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi penggunaan alat secara langsung di kebun salah satu anggota kelompok tani. Demonstrasi yang dipandu oleh mahasiswa Teknik Pertanian dan Biosistem berlangsung dengan baik. Alat mampu menyerap air dari sumur penampungan milik warga dan mengalirkannya ke lahan bawang secara lancar dan optimal.</p>



<p>Selain demonstrasi, tim pengabdian juga memberikan pendampingan teknis kepada petani terkait proses instalasi, pengoperasian, hingga pemeliharaan alat. Kegiatan ini menjadi sarana transfer ilmu pengetahuan dan teknologi dari perguruan tinggi kepada masyarakat, khususnya petani bawang merah di Kabupaten Solok.</p>



<p>Fajrin Uthama Malik selaku perwakilan Kelompok Tani Kumbang Jantan menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi kepada tim pengabdian dari Universitas Andalas atas dukungan dan pendampingan yang diberikan kepada masyarakat.</p>



<p>“Mewakili seluruh anggota Kelompok Tani Kumbang Jantan, kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya dan menyambut baik kehadiran Bapak, Ibu, serta rekan-rekan dari Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Universitas Andalas. Kami merasa sangat terbantu dengan inisiatif dan pendampingan yang diberikan,” ungkapnya.</p>



<p>Ia menambahkan bahwa teknologi pompa air tenaga surya sangat relevan dengan kebutuhan petani di wilayah dataran tinggi seperti Alahan Panjang. Menurutnya, ketersediaan air selama ini menjadi persoalan utama yang memengaruhi keberlangsungan usaha tani bawang merah.</p>



<p>“Dengan adanya teknologi ini, beban operasional kami menjadi lebih efisien dan kekhawatiran akan kekurangan air di lahan pertanian dapat teratasi dengan lebih baik,” tambah Fajrin.</p>



<p>Lebih lanjut, ia berharap kerja sama antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat terus berlanjut melalui berbagai program pendampingan dan inovasi teknologi lainnya.</p>



<p>“Kami menyadari bahwa sinergi antara dunia akademisi dan praktisi di lapangan adalah kunci kemajuan pertanian. Oleh karena itu, kami berharap program ini tidak berhenti sampai di sini saja. Masih banyak potensi dan kendala di lapangan yang dapat kita sinergikan demi meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan anggota kelompok tani,” tuturnya.</p>



<p>Usai demonstrasi, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan alat kepada petani sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pengembangan pertanian berbasis teknologi di Nagari Alahan Panjang. Acara kemudian ditutup dengan sesi dokumentasi bersama antara Tim Pengabdian, anggota kelompok tani, dan penyuluh pertanian, serta makan siang bersama dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.</p>



<p>Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin sinergi yang berkelanjutan antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menghadirkan inovasi teknologi pertanian yang adaptif, efisien, dan mampu memperkuat ketahanan sektor pertanian di Kabupaten Solok.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/departemen-teknik-pertanian-dan-biosistem-unand-hadirkan-pompa-irigasi-tenaga-surya-untuk-petani-bawang-di-alahan-panjang/">Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Unand Hadirkan Pompa Irigasi Tenaga Surya untuk Petani Bawang di Alahan Panjang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">248009</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Samsul, &#8220;Profesor Bawang&#8221; dari Alahan Panjang</title>
		<link>https://langgam.id/samsul-profesor-bawang-dari-alahan-panjang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yose Hendra]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2026 03:54:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Alahan Panjang]]></category>
		<category><![CDATA[Bawang Merah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=241928</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam &#8211; Pagi yang masih basah menyelimuti Rimbo Tinggi, Nagari Galagah Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok. Kabut tipis menggantung rendah, sisa hujan semalam yang belum sepenuhnya pergi. Di tengah hamparan ladang bawang, Suhardi yang biasa dipanggil Samsul menyibak pelan dedaunan muda yang baru tumbuh. Ujung-ujungnya tampak segar, tapi matanya yang terlatih segera menangkap ancaman: kelembapan tinggi bisa memicu jamur. “Kalau kondisi begini, harus cepat diatasi,” katanya lirih, sambil meraba tanah yang masih basah. Dari pengalaman puluhan tahun, ia tahu, sedikit saja terlambat, bawang bisa rusak seluruhnya. Di sinilah kecermatan Samsul diuji. Ia tak sekadar petani, tapi peracik. Pestisida</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/samsul-profesor-bawang-dari-alahan-panjang/">Samsul, &#8220;Profesor Bawang&#8221; dari Alahan Panjang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam &#8211; </strong>Pagi yang masih basah menyelimuti Rimbo Tinggi, Nagari Galagah Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok. Kabut tipis menggantung rendah, sisa hujan semalam yang belum sepenuhnya pergi. Di tengah hamparan ladang bawang, Suhardi yang biasa dipanggil Samsul menyibak pelan dedaunan muda yang baru tumbuh. Ujung-ujungnya tampak segar, tapi matanya yang terlatih segera menangkap ancaman: kelembapan tinggi bisa memicu jamur. </p>



<p>“Kalau kondisi begini, harus cepat diatasi,” katanya lirih, sambil meraba tanah yang masih basah. Dari pengalaman puluhan tahun, ia tahu, sedikit saja terlambat, bawang bisa rusak seluruhnya.</p>



<p>Di sinilah kecermatan Samsul diuji. Ia tak sekadar petani, tapi peracik. Pestisida yang ia gunakan bukan sekadar beli pakai, melainkan hasil formulasi sendiri, diramu dari pemahaman tentang bahan aktif, dosis, dan kondisi cuaca. “Kalau hujan banyak, jamur yang jadi ancaman. Fungisida harus ditambah, insektisida dikurangi. Kalau kemarau, kebalikannya,” ujarnya. Semua itu ia pelajari secara otodidak, lewat percobaan demi percobaan. Tak jarang ia mencoba dulu di satu bedengan kecil. Jika hasilnya bagus, barulah diterapkan ke seluruh lahan.</p>



<p>Keahlian itu tak ubahnya seperti “Profesor Bawang.” Bahkan, pengakuan datang dari kalangan akademisi. “Pernah suatu kali, Pak Helmi, profesor dari Unand bilang ke saya: ‘Pak Samsul, saya profesor, tapi kalau untuk bertani, saya harus belajar ke Pak Samsul’,” kenangnya sambil tersenyum. </p>



<p>Saat itu, cabai bendot yang ditanam Samsul di polybag tumbuh hingga 1,5 meter, jauh melampaui milik sang profesor yang hanya setengah meter. Bagi Samsul, itu bukan soal gelar, tapi soal ketekunan membaca alam.</p>



<p>Bawang, kata Samsul, adalah tanaman yang “manja”. Terlalu banyak air, rusak. Terlalu sedikit, juga tak tumbuh optimal. Dalam dua bulan kemarau, jika perlakuannya tepat, hasilnya bisa bulat sempurna. Ukuran pun jadi tolok ukur keberhasilan: dari kelas satu seperti Ampera, naik ke kelas dua super, hingga kelas tiga yakni super jumbo yang paling dicari pasar. “Itu yang kita kejar,” katanya.</p>



<p>Namun jalan ke sana tidak murah. Untuk satu hektare lahan, ia butuh sekitar satu ton bibit, dengan biaya yang bisa mencapai Rp100 hingga Rp150 juta. Harga bibit bahkan bisa setara dengan harga bawang itu sendiri. Risiko besar, tapi Samsul jarang benar-benar merugi. </p>



<p>“Paling tidak balik modal. Kuncinya perawatan dan ketelitian,” ujarnya. Ia memeriksa ladang setiap hari, membaca perubahan sekecil apa pun, seperti warna daun, tekstur tanah, hingga pola cuaca.</p>



<p>Berbeda dengan tanaman lain seperti cabai atau tomat yang masih bisa tumbuh tunas baru saat batang rusak, bawang tidak memberi kesempatan kedua. Sekali terserang jamur dan membusuk, habislah sudah. Itulah mengapa ketelitian menjadi segalanya. “Kalau bawang, habis ya habis,” katanya tegas.</p>



<p>Di bawah kabut yang perlahan menghilang, Samsul kembali menatap hamparan bawangnya. Daun-daun muda itu mungkin tampak rapuh, tapi di tangan yang tepat, mereka bisa tumbuh menjadi hasil panen bernilai tinggi. Dan di sanalah, di antara tanah basah dan udara lembap, seorang “Profesor Bawang” terus merawat ilmunya, diam-diam, tapi pasti.</p>



<p>Keunggulan Alahan Panjang tak hanya terletak pada luas hamparan, tetapi pada ritme hidup yang tak pernah benar-benar berhenti. “Kalau di Brebes ada musim tunggu bibit sampai dua bulan, kita di sini tidak,” ujarnya. </p>



<p>Di dataran tinggi Solok, siklus itu bergerak lebih cepat, seminggu setelah panen, petani sudah bisa kembali menanam. Kemandirian benih menjadi kunci. Petani tak bergantung pada pasokan luar, sehingga waktu tanam bisa diatur lebih fleksibel. Hasilnya, Alahan Panjang nyaris tak mengenal istilah panen raya dalam arti sesak sekaligus panen berlangsung bergiliran, nyaris setiap hari.</p>



<p>Iklim menjadi sekutu utama. Agroklimatologi Lembah Gumanti memberi ruang bagi bawang untuk tumbuh stabil sepanjang musim. Bagi Samsul, ini bukan sekadar keberuntungan alam, tetapi peluang yang harus dibaca dengan cermat. </p>



<p>“Kita ini didukung alam, tinggal bagaimana kita mengatur,” katanya. Dengan pola tanam yang berjenjang, suplai tetap terjaga, sekaligus menghindari lonjakan produksi yang bisa menjatuhkan harga.</p>



<p>Namun justru di situlah tantangan terbesar: harga. Samsul masih mengingat betul saat 2023, harga bawang sempat jatuh hingga Rp8 ribu per kilogram selama berbulan-bulan. Tahun berikutnya mulai membaik di kisaran Rp14 ribu. Hingga 2025, harga sempat menyentuh titik bawah Rp19 ribu, sebelum kemudian melonjak stabil di atas Rp30 ribu. Fluktuasi itu, bagi Samsul, bukan sekadar angka, melainkan ujian strategi.</p>



<p>“Siasatnya, kita harus lihat pola tanam di Brebes,” ujarnya. Bagi petani seperti dirinya, membaca pergerakan sentra lain sama pentingnya dengan membaca cuaca. Saat Brebes mulai tanam, ia menahan atau mengatur waktu tanamnya. Saat pasokan dari luar menurun, ia justru masuk pasar. Strategi itu membuatnya tetap bertahan di tengah gelombang harga yang naik-turun.</p>



<p>Di tangan Samsul, bertani bawang bukan sekadar kerja fisik, tetapi seni membaca waktu, menghubungkan tanah, cuaca, dan pasar dalam satu tarikan napas. Dan dari situlah, di tengah hamparan luas Alahan Panjang, ia menjaga agar bawang tidak hanya tumbuh subur, tetapi juga bernilai.</p>



<p>Selama lebih dari 30 tahun bertani, Samsul telah melewati berbagai musim, untung dan rugi, gagal dan berhasil. Namun dari tanah yang sama, ia membesarkan keluarganya. Tiga anaknya kini berhasil menempuh pendidikan tinggi, bahkan menjadi dokter. </p>



<p>Baginya, ladang bawang bukan sekadar sumber penghasilan, tapi juga jalan hidup yang membuktikan bahwa ilmu tak selalu lahir dari bangku kuliah.</p>



<p>Bagi Samsul, semua itu terasa nyata di ujung jemarinya setiap pagi. Ia mungkin tak menghitung angka-angka besar itu, tetapi ia tahu betul bagaimana satu petak lahan bisa menghidupi keluarga, menyekolahkan anak hingga menjadi dokter, dan menjaga roda ekonomi tetap berputar. </p>



<p>Di Lembah Gumanti, yang dikenal sebagai salah satu kawasan dengan ekonomi paling hidup di Solok, wangi bawang bukan sekadar ciri khas, ia adalah simbol ketahanan, kerja keras, dan masa depan.</p>



<p><strong>Potensi Bawang Solok</strong></p>



<p>Di hamparan yang sama tempat Samsul menekuni ilmunya, aroma bawang tak hanya menyengat hidung, ia juga menggerakkan ekonomi. Samsul juga menggerakkan kelompok petani dengan nama Kumbang Jantan. Kelompok tani ini bernaung sejumlah petani bawang, dan menjadi tempat saling berbagi ilmu, saling belajar, dan menguatkan.</p>



<p>Di Alahan Panjang dan kawasan sekitarnya, bawang merah bukan sekadar komoditas, melainkan denyut kehidupan. Hamparan hijau itu membentang luas, menjadi bagian dari sekitar 13 ribu hektare lahan bawang di Kabupaten Solok, tersebar di sentra-sentra produksi seperti Lembah Gumanti, Danau Kembar, Lembang Jaya, hingga kaki Gunung Talang dan Pantai Cermin. Dari total 25 ribu hektare hortikultura, sekitar 80 persen ditopang oleh bawang, angka yang menunjukkan betapa dominannya komoditas ini dalam struktur ekonomi daerah.</p>



<p>Di tengah geliat itu, varietas lokal SS Sakato menjadi kebanggaan sekaligus kekuatan. Benih yang dimurnikan sejak 2017 dari varietas asal Birma ini dikenal adaptif, bahkan bisa ditanam di dataran lebih rendah. “Rasanya lebih wangi, lebih tajam. Itu yang dicari,” ujar Yulnofrins Nafilus, seorang yang dikenal pegiat pariwisata, tapi kini menyelami gelanggang pertanian bawang di Alahan Panjang.</p>



<p>Di lokasi peladangan bawang Samsul, Nofrins yang terbiasa mempromosikan pariwisata, kini juga mendorong agrowisata di kawasan tersebut. </p>



<p>Ia menyebut, karakter bawang Solok memang berbeda dengan bawang dari daerah lain seperti Brebes yang cenderung lebih kering. Bawang Solok memiliki kadar air lebih tinggi, membuatnya belum sepenuhnya lolos standar ekspor, namun justru memberi keunggulan rasa lebih “nyengit” dan kuat.</p>



<p>Di balik aroma itu, ada perputaran ekonomi yang tak kecil. Satu hektare lahan mampu menyerap hingga 40–45 tenaga kerja hanya dalam dua hari masa panen. Dalam kondisi normal, produksi bisa mencapai 16 hingga 18 ton per hektare.</p>



<p>“Jika dikalikan dengan total luas lahan, produksi Kabupaten Solok diperkirakan menyentuh lebih dari 200 ribu ton per tahun, dengan rata-rata panen harian mencapai 590 ton. Bayangkan jika harga berada di kisaran Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram, uang yang berputar setiap hari menjadi denyut ekonomi yang menghidupi ribuan keluarga,” ungkap Nofrins.</p>



<p>Meski peluang ekspor terbuka, orientasi petani masih bertumpu pada pasar domestik. Permintaan dalam negeri yang tinggi membuat hasil panen nyaris tak pernah lama tersimpan. Bahkan, dalam praktiknya, bawang yang seharusnya dikeringkan hingga dua minggu seringkali sudah diambil tengkulak hanya dalam dua hingga tiga hari. </p>



<p>Untuk mengantisipasi fluktuasi harga, pemerintah daerah mulai menyiapkan infrastruktur seperti <em>cold storage</em> dan memperkuat kelembagaan petani melalui program Champion Bawang Merah.</p>



<p>Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Yeni Rahmi, menyebut Rimbo Tinggi kini menjadi salah satu destinasi pengembangan bawang merah yang terus diperkuat, termasuk sebagai potensi wisata agro. Di sinilah sosok seperti Nofrins mengambil peran menghubungkan pertanian dengan pengalaman wisata, memperkenalkan kepada publik bahwa di balik setiap butir bawang, ada kerja keras, pengetahuan, dan harapan.</p>



<p><strong>Menjadi Ruang Akademi</strong></p>



<p>Nama Samsul tak lagi sekadar dikenal di Rimbo Tinggi. Dari mulut ke mulut, dari satu musim panen ke musim berikutnya, kepiawaiannya merawat bawang menjalar ke berbagai penjuru Sumatra Barat. </p>



<p>Di tengah hamparan ladang yang ia kelola, berdiri sebuah pondok sederhana, ia menamainya SAMSUL Farm. Bukan sekadar tempat berteduh, melainkan ruang belajar terbuka, tempat ilmu lapangan dibagikan tanpa sekat.</p>



<p>Hampir setiap waktu, selalu ada yang datang. Petani dari berbagai daerah, penyuluh, aktivis, hingga kalangan profesional, silih berganti menjejakkan kaki di sana. Mereka datang bukan hanya untuk melihat, tetapi untuk memahami bagaimana tanah, cuaca, dan perlakuan bisa diramu menjadi keberhasilan. Samsul menyambut mereka dengan cara yang sama seperti ia merawat tanamannya: telaten, rinci, dan tanpa menyimpan rahasia.</p>



<p>11 Januari lalu, rombongan dari Tanah Datar tiba di ladang itu. Dipimpin langsung Wakil Bupati Tanah Datar, Ahmad Fadly, sebanyak 18 petani dari kelompok BMC (Bawang Merah Cabai), PMT (Pemuda Mutiara Tani), dan petani milenial Cubadak datang untuk belajar. Di antara barisan tanaman bawang yang rapi, mereka berdiskusi, mencatat, dan sesekali berdebat soal teknik dan pengalaman.</p>



<p>“Harapannya, kelompok petani bisa meningkat ilmunya, hasilnya, dan kekompakannya. Kita ingin lahan tidur kembali hidup,” ujar salah satu peserta. Bagi mereka, datang ke Samsul bukan sekadar kunjungan, melainkan proses berguru. Sosok Samsul sudah dianggap mentor, petani yang ilmunya tumbuh dari pengalaman panjang, bukan sekadar teori.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" width="1200" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2026/01/PAK-sAMSUL-dan-wbup-tanh-datar.jpg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-247604" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2026/01/PAK-sAMSUL-dan-wbup-tanh-datar.jpg?resize=1200%2C675&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2026/01/PAK-sAMSUL-dan-wbup-tanh-datar.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2026/01/PAK-sAMSUL-dan-wbup-tanh-datar.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2026/01/PAK-sAMSUL-dan-wbup-tanh-datar.jpg?resize=1536%2C864&amp;ssl=1 1536w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2026/01/PAK-sAMSUL-dan-wbup-tanh-datar.jpg?resize=800%2C450&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2026/01/PAK-sAMSUL-dan-wbup-tanh-datar.jpg?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2026/01/PAK-sAMSUL-dan-wbup-tanh-datar.jpg?w=1600&amp;ssl=1 1600w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><figcaption class="wp-element-caption">Samsul bersama petani bawang Nofrins, mengajak rombongan Wakil Bupati Tanah Datar Ahmad Fadly yang membawa petani, beserta pejabat Dinas Pertanian Kabupaten Solok, memanen bawang. </figcaption></figure>



<p>Wakil Bupati Ahmad Fadly melihat lebih jauh dari sekadar pelatihan. Ia membayangkan bawang merah dari dataran tinggi seperti Alahan Panjang bisa menembus pasar yang lebih luas, bahkan mendunia. “Kita ingin bawang merah kita punya posisi seperti bawang Bombay atau bawang putih,” ujarnya. </p>



<p>Harapan itu bukan tanpa dasar. Varietas lokal SS Sakato, yang dimurnikan sejak 2017 dari benih asal Birma, terbukti adaptif dan punya karakter rasa yang kuat, modal penting untuk bersaing di pasar.</p>



<p>Di tingkat daerah, keberadaan Samsul juga diakui. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Deslirizaldi, menyebutnya sebagai praktisi bawang yang matang di lapangan. Sementara Kabid Hortikultura, Yeni Rahmi, menegaskan bahwa Rimbo Tinggi kini telah menjadi salah satu destinasi pengembangan bawang merah yang rutin dikunjungi.</p>



<p>Namun bagi Samsul sendiri, semua itu kembali ke hal sederhana: berbagi dan merawat. Di pondok kecilnya, di antara bau tanah dan wangi bawang yang tajam, ia terus menularkan pengetahuan bahwa bertani bukan sekadar pekerjaan, tetapi jalan hidup yang bisa dipelajari, diwariskan, dan dikembangkan. </p>



<p>Dan dari sana, dari sebuah ladang di Alahan Panjang, ilmu itu terus tumbuh, menjalar, dan menghidupkan harapan banyak orang.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/samsul-profesor-bawang-dari-alahan-panjang/">Samsul, &#8220;Profesor Bawang&#8221; dari Alahan Panjang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">241928</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ikhtiar Menguatkan Petani Bawang Alahan Panjang: Setelah Irman Gusman, Dua Mantan Rektor Unand Sambangi Kelompok Tani Kumbang Jantan</title>
		<link>https://langgam.id/ikhtiar-menguatkan-petani-bawang-alahan-panjang-setelah-irman-gusman-dua-mantan-rektor-unand-sambangi-kelompok-tani-kumbang-jantan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 May 2025 10:43:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bawang Merah]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Andalas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=226327</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id – Dukungan terhadap petani bawang merah di Rimbo Tinggi, Jorong Galagah, Nagari Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, terus mengalir. Setelah kunjungan anggota DPD RI Irman Gusman beberapa waktu lalu, dua mantan Rektor Universitas Andalas (Unand) yakni Musliar Kasim dan Werry Darta Taifur turut hadir langsung di tengah-tengah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Kumbang Jantan, Senin (12/5/2025). Mereka hadir persis saat Rahmi Awalina, dosen Fakultas Teknologi Pertanian Unand, tengah diskusi dengan kelompok tani tersebut dalam konteks pengabdian masyarakat secara mandiri. Kehadiran Musliar yang juga pernah menjabat Wakil Menteri Pendidikan dan Kabudayaan 2011-2014 dan Werry serta rombongan, disambut</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ikhtiar-menguatkan-petani-bawang-alahan-panjang-setelah-irman-gusman-dua-mantan-rektor-unand-sambangi-kelompok-tani-kumbang-jantan/">Ikhtiar Menguatkan Petani Bawang Alahan Panjang: Setelah Irman Gusman, Dua Mantan Rektor Unand Sambangi Kelompok Tani Kumbang Jantan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong><em> –</em> Dukungan terhadap petani bawang merah di Rimbo Tinggi, Jorong Galagah, Nagari Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, terus mengalir. Setelah kunjungan anggota DPD RI Irman Gusman beberapa waktu lalu, dua mantan Rektor Universitas Andalas (Unand) yakni Musliar Kasim dan Werry Darta Taifur turut hadir langsung di tengah-tengah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Kumbang Jantan, Senin (12/5/2025).</p>



<p>Mereka hadir persis saat Rahmi Awalina, dosen Fakultas Teknologi Pertanian Unand, tengah diskusi dengan kelompok tani tersebut dalam konteks pengabdian masyarakat secara mandiri.</p>



<p>Kehadiran Musliar yang juga pernah menjabat Wakil Menteri Pendidikan dan Kabudayaan 2011-2014 dan Werry serta rombongan, disambut antusias para petani. Hal ini menandai meningkatnya perhatian kalangan akademisi terhadap sektor pertanian yang selama ini dianggap sebelah mata. Kunjungan ini juga menjadi momentum peluncuran gagasan penguatan petani melalui pendekatan edukatif.</p>



<p>Sementara itu, Rahmi membawa gagasan pembelajaran melalui model sekolah lapangan bagi petani bawang. </p>



<p>“Sekolah lapangan bukan sekadar penyuluhan sesaat. Ke depan kita ingin ada kurikulum sederhana untuk petani, mulai dari memahami iklim, mengenal siklus tanaman, sampai bagaimana menangani panen yang tidak terserap pasar seperti tomat,” jelas Rahmi.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" width="1200" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Rahmi.jpeg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-226343" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Rahmi.jpeg?resize=1200%2C675&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Rahmi.jpeg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Rahmi.jpeg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Rahmi.jpeg?resize=1536%2C864&amp;ssl=1 1536w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Rahmi.jpeg?resize=800%2C450&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Rahmi.jpeg?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Rahmi.jpeg?w=1600&amp;ssl=1 1600w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><figcaption class="wp-element-caption">Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas (Unand) Rahmi Awalina mengenalkan metode Sekolah Lapangan dan pertanian ramah lingkungan kepada petani bawang yang tergabung dalam Kelompok Petani Kumbang Jantan, Senin (12/5/2025). Foto: Yose Hendra</figcaption></figure>



<p>Menurutnya, sekolah lapangan juga akan membahas strategi pascapanen dan hilirisasi. “Kadang tomat dibuang karena kelebihan pasokan. Ini bisa diolah jadi es krim, pasta, saus, atau produk olahan lainnya. Hal serupa juga berlaku untuk bawang. Kita harus dorong pemanfaatan hasil panen secara maksimal,” tambahnya.</p>



<p>Alahan Panjang sendiri dikenal sebagai penghasil bawang merah terbesar kedua di Indonesia. Menurut data BPS 2023, Kabupaten Solok menghasilkan 216.148 ton bawang merah dari luas panen 13.898 hektare, berkontribusi 10,9 persen terhadap produksi nasional. Tiga kecamatan penyumbang terbesar adalah Lembah Gumanti, Lembang Jaya, dan Danau Kembar.</p>



<p>&#8220;Jika dihitung secara kasar dengan harga rata-rata Rp30 ribu per kilogram, sektor ini berpotensi menyumbang triliunan rupiah ke daerah. Namun ironisnya, perhatian pemerintah dinilai masih minim,&#8221; kata Yulnofrins Napilus, salah satu penggiat petani di Alahan Panjang.</p>



<p>Menurut Nofrins, kedatangan dua tokoh akademik itu bukan sekadar silaturahmi, melainkan kepedulian untuk meningkatkan inovasi dan mutu pertanian Alahan Panjang khususnya bawang, dan bagaimana petaninya makmur sejahtera. “Salah satu dari mereka sangat antusias membahas isu pertanian. Ini sinyal positif bahwa pertanian di Alahan Panjang mulai diperhatikan serius,” ujarnya.</p>



<p>Masalah utama yang dihadapi petani bukan soal pasar. “Bawang belum keluar dari ladang, sudah ada yang menunggu. Tapi harga yang jadi soal. Fluktuatif. Ada indikasi permainan harga yang merugikan petani dan menguntungkan tengkulak,” tambahnya.</p>



<p>Petani, lanjut Nofrins, juga masih kekurangan pupuk dan pengetahuan dasar seperti pengolahan tanah, serta penggunaan pestisida dan teknologi pertanian. Sayangnya, masih banyak petani yang berjuang sendiri tanpa dukungan teknologi dan akses informasi. </p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" width="1200" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Nofrins.jpeg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-226344" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Nofrins.jpeg?resize=1200%2C675&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Nofrins.jpeg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Nofrins.jpeg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Nofrins.jpeg?resize=1536%2C864&amp;ssl=1 1536w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Nofrins.jpeg?resize=800%2C450&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Nofrins.jpeg?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Nofrins.jpeg?w=1600&amp;ssl=1 1600w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><figcaption class="wp-element-caption">Yulnofrins Napilus yang selama ini dikenal sebagai penggiat pariwisata, saat sekarang juga sibuk menggiatkan pertanian berkemajuan di kawasan Alahan Panjang. Ia juga bertani bawang di Rimbo Tinggi, Jorong Galagah, Nagari Alahan Panjang, Kabupaten Solok. Foto: Yose Hendra</figcaption></figure>



<p>“Petani di sini sangat mandiri. Tapi dengan keterbatasan pupuk, kesalahan teknik, dan fluktuasi harga, mereka rawan rugi besar. Kalau gagal panen setengah hektare, bisa hilang Rp100 juta. Tapi kalau berhasil, potensi ekonomi sangat besar,” ujarnya.</p>



<p>Ia menegaskan bahwa masalah utama petani bukan soal pasar. “Bawang belum keluar dari ladang, sudah ada yang menunggu. Tapi harga bisa dimainkan. Ini yang merugikan,” ucapnya.</p>



<p>Kunjungan dua mantan Rektor Unand dan sejumlah akademisi dinilai membuka ruang baru kolaborasi antara dunia pendidikan dan petani. Suhardi, Ketua Kelompok Tani Kumbang Jantan, menyebut kehadiran para akademisi memberi harapan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="1200" height="675" src="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Samsul.jpeg?resize=1200%2C675&#038;ssl=1" alt="Lampiran Gambar" class="wp-image-226345" srcset="https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Samsul.jpeg?resize=1200%2C675&amp;ssl=1 1200w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Samsul.jpeg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Samsul.jpeg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Samsul.jpeg?resize=1536%2C864&amp;ssl=1 1536w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Samsul.jpeg?resize=800%2C450&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Samsul.jpeg?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/langgam.id/wp-content/uploads/2025/05/Bawang-n-Samsul.jpeg?w=1600&amp;ssl=1 1600w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ketua Kelompok Tani Kumbang Jantan, Suhardi dengan panggilan akrab Samsul. Foto: Yose Hendra</figcaption></figure>



<p>“Semoga kegiatan seperti ini bisa rutin. Kami butuh dukungan ide dan ilmu dari luar untuk maju. Sekolah lapangan itu sangat kami tunggu,” ujar Suhardi.</p>



<p>Dengan sinergi antara petani, akademisi, dan perhatian dari tokoh nasional seperti Irman Gusman, masa depan pertanian Alahan Panjang kian menjanjikan. Sekolah lapangan dan hilirisasi produk menjadi langkah konkret mengangkat harkat petani dari pinggiran ke pusat perhatian. (*/Yh)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/ikhtiar-menguatkan-petani-bawang-alahan-panjang-setelah-irman-gusman-dua-mantan-rektor-unand-sambangi-kelompok-tani-kumbang-jantan/">Ikhtiar Menguatkan Petani Bawang Alahan Panjang: Setelah Irman Gusman, Dua Mantan Rektor Unand Sambangi Kelompok Tani Kumbang Jantan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">226327</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sempat Melonjak, Harga Bawang Merah dan Bawang Putih di Padang Panjang Mulai Turun</title>
		<link>https://langgam.id/sempat-melonjak-harga-bawang-merah-dan-bawang-putih-di-padang-panjang-mulai-turun/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Jun 2024 12:10:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bawang Merah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=206243</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Harga bawang merah dan bawang putih mulai turun harga sesuai Idul Adha di Pasar Pusat Padang Panjang. Sebelumnya, harga komoditas ini mengalami kenaikan jelang hari raya kurban itu. Harga bawang merah turun Rp333 dari Rp48.000 menjadi Rp47,667/kg. Bawang putih turun Rp1.334 dari Rp43.334 menjadi Rp42.000/kg. &#8220;Untuk komoditi lain seperti cabai merah, hijau dan rawit, pada minggu ketiga Juni ini masih alami kenaikan harga yang cukup tinggi. Disebabkan pengaruh Iduladha masih ada dan permintaan masyarakat masih tinggi,&#8221; ujar Kabag Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setdako, Putra Dewangga, dikutip dari Kominfo, Minggu (23/6/2024). Cabai hijau naik Rp6.667 dari Rp52.000 menjadi</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/sempat-melonjak-harga-bawang-merah-dan-bawang-putih-di-padang-panjang-mulai-turun/">Sempat Melonjak, Harga Bawang Merah dan Bawang Putih di Padang Panjang Mulai Turun</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Harga bawang merah dan bawang putih mulai turun harga sesuai Idul Adha di Pasar Pusat Padang Panjang. Sebelumnya, harga komoditas ini mengalami kenaikan jelang hari raya kurban itu.</p>



<p>Harga bawang merah turun Rp333 dari Rp48.000 menjadi Rp47,667/kg. Bawang putih turun Rp1.334 dari Rp43.334 menjadi Rp42.000/kg.</p>



<p>&#8220;Untuk komoditi lain seperti cabai merah, hijau dan rawit, pada minggu ketiga Juni ini masih alami kenaikan harga yang cukup tinggi. Disebabkan pengaruh Iduladha masih ada dan permintaan masyarakat masih tinggi,&#8221; ujar Kabag Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setdako, Putra Dewangga, dikutip dari Kominfo, Minggu (23/6/2024).</p>



<p>Cabai hijau naik Rp6.667 dari Rp52.000 menjadi Rp58.667/kg. Cabai merah naik Rp5.000 dari Rp50.667 menjadi Rp45.667/kg. Cabai rawit naik Rp7.500 dari Rp52.500 menjadi Rp60.000.</p>



<p>&#8220;Terong naik Rp1.000 dari Rp.15.000 menjadi Rp16.000/kg. Seledri naik Rp5.000 dari Rp25.000 menjadi Rp30.000/kg,&#8221; tambah Putra.</p>



<p>Komoditas utama lain relatif stabil. Di antaranya, beras kualitas I stabil Rp17,250/kg. Beras kualitas II Rp16,250/kg. Beras kualitas III Rp18.000/kg. Gula pasir Rp18.000/kg. Tepung terigu Segitiga Biru Rp13.000/kg. Daging sapi Rp141.667/kg.</p>



<p>Daging ayam kampung besar Rp90.000/kg. Daging ayam kampung sedang Rp80.000/kg. Daging ayam kampung kecil Rp70.000/kg. Telur ayam ras Rp29.200/kg. Minyak goreng kemasan sederhana Rp17.000/kg dan minyak goreng kemasan premium Rp20.000/kg. (*/Fs)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/sempat-melonjak-harga-bawang-merah-dan-bawang-putih-di-padang-panjang-mulai-turun/">Sempat Melonjak, Harga Bawang Merah dan Bawang Putih di Padang Panjang Mulai Turun</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">206243</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Harga Bawang di Padang Panjang Turun</title>
		<link>https://langgam.id/harga-bawang-di-padang-panjang-turun/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 May 2024 15:55:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bawang Merah]]></category>
		<category><![CDATA[Padang Panjang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=202410</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Harga bawang merah di Kota Padang Panjang mengalami penurunan Rp1.167 dari Rp52.167 menjadi Rp51.000/kg pada minggu pertama Mei ini. Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setdako Padang Panjang Putra Dewangga mengatakan, penurunan ini menandakan pasokan yang mulai bertambah. “Penurunan harga bawang merah memang belum begitu signifikan. Namun ini menandakan pasokan yang mulai bertambah. Dibandingkan pada minggu sebelumnya,” kata Putra, dicuplik dari Kominfo Padang Panjang, Minggu (4/3/2024). Dikatakannya lagi, ada komoditas utama lain yang mengalami penurunan pada minggu pertama ini. Yaitu daging ayam broiler turun Rp667 dari Rp34.167 menjadi Rp33.500/kg. Ikan kembung turun Rp3.334 dari Rp66.667 menjadi Rp63.333/kg.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/harga-bawang-di-padang-panjang-turun/">Harga Bawang di Padang Panjang Turun</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211; </strong>Harga bawang merah di Kota Padang Panjang mengalami penurunan Rp1.167 dari Rp52.167 menjadi Rp51.000/kg pada minggu pertama Mei ini.</p>



<p>Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setdako Padang Panjang Putra Dewangga  mengatakan, penurunan ini menandakan pasokan yang mulai bertambah.</p>



<p>“Penurunan harga bawang merah memang belum begitu signifikan. Namun ini menandakan pasokan yang mulai bertambah. Dibandingkan pada minggu sebelumnya,” kata Putra, dicuplik dari <em>Kominfo Padang Panjang, </em>Minggu (4/3/2024).</p>



<p>Dikatakannya lagi, ada komoditas utama lain yang mengalami penurunan pada minggu pertama ini. Yaitu daging ayam broiler turun Rp667 dari Rp34.167 menjadi Rp33.500/kg. Ikan kembung turun Rp3.334 dari Rp66.667 menjadi Rp63.333/kg.</p>



<p>Adapun cabai merah naik Rp9.166 dari Rp66.834 menjadi Rp76.000/kg. Kenaikan terjadi selama dua minggu berturut-turut, disebabkan kurangnya pasokan dan belum masuknya masa panen tanaman cabai</p>



<p>“Ini perlu dilakukan langkah antisipasi yang tepat agar kenaikan harga tidak berlanjut ke depannya,” pungkasnya. (*/Yh)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/harga-bawang-di-padang-panjang-turun/">Harga Bawang di Padang Panjang Turun</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">202410</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pasokan Bertambah, Harga Bawang Merah di Padang Panjang Turun</title>
		<link>https://langgam.id/pasokan-bertambah-harga-bawang-merah-di-padang-panjang-turun/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 May 2024 09:44:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bawang Merah]]></category>
		<category><![CDATA[Padang Panjang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=202405</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Harga bawang merah di Padang Panjang turun pada minggu pertama Mei ini. Harga bawang turun dari dari Rp52.167 per kg menjadi Rp51.000/kg. Kabag Perekonomian dan Sumber Daya Alam Padang Panjang, Putra Dewangga mengatakan, adanya penurunan harga bawang merah ini menandakan pasokan yang mulai bertambah. “Penurunan harga bawang merah memang belum begitu signifikan. Namun ini menandakan pasokan yang mulai bertambah. Dibandingkan pada minggu sebelumnya,” ujar Putra. Ia mengungkapkan bahwa penurunan harga juga ditemukan pada komoditas utama lainnya. Yaitu daging ayam broiler turun dari Rp34.167 per kg menjadi Rp33.500 per kg. Ikan kembung turun dari Rp66.667 per kg menjadi Rp63.333</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pasokan-bertambah-harga-bawang-merah-di-padang-panjang-turun/">Pasokan Bertambah, Harga Bawang Merah di Padang Panjang Turun</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Langgam.id &#8211;</strong> Harga bawang merah di Padang Panjang turun pada minggu pertama Mei ini. Harga bawang turun dari dari Rp52.167 per kg menjadi Rp51.000/kg.</p>



<p>Kabag Perekonomian dan Sumber Daya Alam Padang Panjang, Putra Dewangga mengatakan, adanya penurunan harga bawang merah ini menandakan pasokan yang mulai bertambah.</p>



<p>“Penurunan harga bawang merah memang belum begitu signifikan. Namun ini menandakan pasokan yang mulai bertambah. Dibandingkan pada minggu sebelumnya,” ujar Putra.</p>



<p>Ia mengungkapkan bahwa penurunan harga juga ditemukan pada komoditas utama lainnya. Yaitu daging ayam broiler turun dari Rp34.167 per kg menjadi Rp33.500 per kg. Ikan kembung turun dari Rp66.667 per kg menjadi Rp63.333 per kg.</p>



<p>Sementara itu, terang Putra, harga cabai merah naik dari Rp66.834 per kg menjadi Rp76.000 per kg. Kenaikan terjadi selama dua minggu berturut-turut disebabkan kurangnya pasokan dan belum masuknya masa panen tanaman cabai</p>



<p>“Ini perlu dilakukan langkah antisipasi yang tepat agar kenaikan harga tidak berlanjut ke depannya,” terangnya. <strong>(*/yki)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pasokan-bertambah-harga-bawang-merah-di-padang-panjang-turun/">Pasokan Bertambah, Harga Bawang Merah di Padang Panjang Turun</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">202405</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Harga Bawang Merah Anjlok Bikin Petani di Solok Menjerit, Evelinda Desak Pemerintah Bergerak</title>
		<link>https://langgam.id/harga-bawang-merah-anjlok-bikin-petani-di-solok-menjerit-evelinda-desak-pemerintah-bergerak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Oct 2023 10:19:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Palanta]]></category>
		<category><![CDATA[Bawang Merah]]></category>
		<category><![CDATA[Evelinda]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Solok]]></category>
		<category><![CDATA[Partai Golkar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=189747</guid>

					<description><![CDATA[<p>Infolanggam- Harga bawang merah masih anjlok. Kondisi ini membuat petani di Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar) menjerit. Pasalnya, bawang merah merupakan komoditi yang paling banyak ditanam petani di daerah penghasil tanaman hortikultura itu. Saat ini, harga bawang merah ukuran dari petani hanya Rp 13 ribu per kilogramnya. Sedangkan harga bawang merah ukuran menengah hanya Rp 6 ribu per kg. Salah seorang petani bawang di Nagari Sungai Nanam, Pendrizal, menyampaikan keluh kesahnya sebagai petani kepada politisi Golkar Evelinda yang berkunjung ke tempatnya, beberapa waktu lalu. Menurutnya, harga bawang merah selalu fluktuatif. Tak jarang petani merugi karena biaya produksi</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/harga-bawang-merah-anjlok-bikin-petani-di-solok-menjerit-evelinda-desak-pemerintah-bergerak/">Harga Bawang Merah Anjlok Bikin Petani di Solok Menjerit, Evelinda Desak Pemerintah Bergerak</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Infolanggam- </strong>Harga bawang merah masih anjlok. Kondisi ini membuat petani di Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar) menjerit. Pasalnya, bawang merah merupakan komoditi yang paling banyak ditanam petani di daerah penghasil tanaman hortikultura itu.</p>



<p>Saat ini, harga bawang merah ukuran dari petani hanya Rp 13 ribu per kilogramnya. Sedangkan harga bawang merah ukuran menengah hanya Rp 6 ribu per kg.</p>



<p>Salah seorang petani bawang di Nagari Sungai Nanam, Pendrizal, menyampaikan keluh kesahnya sebagai petani kepada politisi Golkar Evelinda yang berkunjung ke tempatnya, beberapa waktu lalu.</p>



<p>Menurutnya, harga bawang merah selalu fluktuatif. Tak jarang petani merugi karena biaya produksi jauh lebih mahal dibandingkan hasil pertanian. Dia pun berharap agar pemerintah memperhatikan nasib para petani, terutama soal stabilitas harga.</p>



<p>Evelinda mengaku prihatin dengan kondisi harga bawang merah yang turun drastis sejak 3 bulan belakangan. Menurutnya, salah salah persoalannya adalah karena panen serentak. Namun, jika alurnya stabil, tentu harga bawang merah akan cepat stabil di pasaran.</p>



<p>&#8220;Ada petani yang tidak mau memanennya dan membiarkan bawang mereka di ladang karena harga murah sekali. Ini kan kita kasihan sekali. Sudah berapa mereka habis uang menggarap ladang,&#8221; katanya, Senin (9/10/2023).</p>



<p>Caleg DPR RI Dapil 1 Sumbar itu berharap pemerintah daerah hingga Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI dapat mencarikan solusi jangka panjang untuk mengantisipasi bawang panen petani. Dengan begitu, persoalan berulang seperti hari ini tidak terjadi lagi.</p>



<p>&#8220;Menjaga stabilitas harga produk pertanian ini kerja kolektif. Tidak bisa sendiri-sendiri dan tentu pemerintah dituntut bergerak cepat,&#8221; katanya.</p>



<p>Saat berdialog dengan petani, Evelinda juga mengenalkan teknologi Controlled Atmosphere Storage (CAS) atau penyimpanan dengan udara terkendali (UT). Sistem itu merupakan teknik penyimpanan buah dan sayuran yang dapat mempertahankan mutu buah/sayuran dengan cara memberikan kondisi udara yang berbeda dengan kondisi udara normal, khususnya proporsi O2 dan CO2.</p>



<p>Dengan sistem CAS, kandungan udara dalam ruang simpan dapat dikendalikan hingga memperlambat penuaan komoditas. &#8220;Di Brebes, kalau bawang naik mereka nggak menjualnya. Tapi mereka simpan dalam gudang dengan teknologi CAS dan mereka jual saat harga kembali normal,&#8221; katanya.</p>



<p>Dalam paparannya, jika kelak diamanahkan menjadi anggota DPR RI, Evelinda akan berupaya mendorong sistem pertanian sayur-sayuran di Sumbar menggunakan teknologi CAS. Apalagi, kampung halaamnya, Kabupaten Solok dikenal sebagai sentra produksi tanaman hortikultura.</p>



<p>Sebelumnya, Gubernur Sumbar Mahyeldi juga mengerahkan ASN Pemprov Sumbar untuk memborong bawang merah saat digelarnya Bazar Bawang Merah Petani di Kompleks Masjid Raya Sumatera Barat, Minggu (08/10/2023).</p>



<p>&#8220;Sengaja kita meminta ASN di lingkup Pemprov Sumbar, untuk membantu petani bawang merah, dengan membeli hasil pertanian mereka. Kebetulan, hari ini seluruh ASN mengikuti agenda Subuh Mubarakah di Masjid Raya Sumbar, sehingga bazar kita gelar di sini, dan ASN bisa langsung belanja bawang merah seusai Subuh Mubarakah,&#8221; ucap Gubernur Mahyeldi di lokasi gelaran bazar.</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/harga-bawang-merah-anjlok-bikin-petani-di-solok-menjerit-evelinda-desak-pemerintah-bergerak/">Harga Bawang Merah Anjlok Bikin Petani di Solok Menjerit, Evelinda Desak Pemerintah Bergerak</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">189747</post-id>	</item>
		<item>
		<title>5 Tahun Terakhir, Produksi Bawang Merah di Agam Terus Naik</title>
		<link>https://langgam.id/5-tahun-terakhir-produksi-bawang-merah-di-agam-terus-naik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2021 04:30:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bawang Merah]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupate Agam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=95982</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Dalam lima tahun terakhir, produksi bawang merah di Kabupaten Agam meningkat cukup signifikan. Pada 2016 produksi hanya 2.126 ton dari 263 hektare luas panen. &#8220;Selanjutnya, pada 2017 meningkat jadi 3.061 ton dari 366 hektare luas panen,&#8221; ujar Kepala Dinas Pertanian Agam Arief Restu, Senin (22/3/2021). Kemudian terang Arief, pada 2018 , produksi bawang merah 3.365 ton dari 401 hektare luas panen. Di 2019 meningkat jadi 5.168 ton dari 601 hektare luas panen dan 2020 kembali naik  jadi 7.096 ton dari 757 hektare luas panen. Ia menambahkan, 7.096 ton produksi bawang merah pada 2020 tersebut tersebar di 12 dari</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/5-tahun-terakhir-produksi-bawang-merah-di-agam-terus-naik/">5 Tahun Terakhir, Produksi Bawang Merah di Agam Terus Naik</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://langgam.id">Langgam.id</a> &#8211; </strong>Dalam lima tahun terakhir, produksi bawang merah di Kabupaten Agam meningkat cukup signifikan. Pada 2016 produksi hanya 2.126 ton dari 263 hektare luas panen.</p>
<p>&#8220;Selanjutnya, pada 2017 meningkat jadi 3.061 ton dari 366 hektare luas panen,&#8221; ujar Kepala Dinas Pertanian Agam Arief Restu, Senin (22/3/2021).</p>
<p>Kemudian terang Arief, pada 2018 , produksi bawang merah 3.365 ton dari 401 hektare luas panen. Di 2019 meningkat jadi 5.168 ton dari 601 hektare luas panen dan 2020 kembali naik  jadi 7.096 ton dari 757 hektare luas panen.</p>
<p>Ia menambahkan, 7.096 ton produksi bawang merah pada 2020 tersebut tersebar di 12 dari 16 kecamatan yang ada di Agam.</p>
<p>&#8220;Dari 12 kecamatan itu, yang memiliki produksi terbesar yaitu Sungai Pua sebanyak 2.271 ton dengan luas panen 201 hektare,&#8221; sebutnya.</p>
<p>Arief mengungkapkan, adanya peningkatan produksi ini membuktikan bahwa bawang merah menjadi salah satu komoditi yang dilirik petani untuk meningkatkan kesejahteraan di sektor pertanian.</p>
<p>Sebelumnya, Gubernur Sumbar Mahyeldi dorong  wali nagari dan masyarakat agar dapat mengolah lahan-lahan yang terlantar menjadi lahan produktif. Menurutnya, pertanian menjadi usaha yang cukup menjanjikan di masa pandemi ini.</p>
<p>“Bekerja sama dengan pihak perbankan, semoga kedepannya bisa lebih meningkatkan pendapatan para petani,” kata Mahyeldi saat panen perdana bawang Kelompok Tani Boneh Satangkai di Nagari Kamang Mudiak, Kecamatan Kamang Magek, <a href="https://amcnews.co.id/2021/03/22/gubernur-sumbar-pertanian-usaha-yang-menjanjikan/">Agam</a>, Minggu (21/3/2021).</p>
<p>Mahyeldi mengharapkan masyarakat, wali nagari dan camat, agar dapat melihat komoditi-komoditi apa yang cocok di wilayahnya yang bisa menghasilkan lebih cepat.</p>
<p>&#8220;Sehingga kedepannya lahan yang nganggur bisa dimanfaatkan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya kesejahteraan para petani,&#8221; harapnya.</p>
<p>Mahyeldi mengungkapkan,  khusus Nagari Kamang Mudiak, sangat berpotensi dalam pengembangan tanaman bawang. Saat ini di Nagari Kamang Mudiak, dalam satu hektare lahan, bisa menghasilkan sebanyak 10-12 ton bawang.</p>
<p>Ia menambahkan, jika harga bawang Rp20 ribu per kilogram, maka petani bisa menghasilkan lebih kurang sebanyak Rp200 juta perhektare dalam sekali panen, yaitu 80 hari.</p>
<p>“Dalam setahun, bawang bisa panen sebanyak 4 kali, sehingga hasil dari panen bawang dalam setahun mencapai Rp800 juta. Saya kira ini luar biasa untuk pendapatan harian para petani,” ujar Mahyeldi.</p>
<p>Oleh karena itu terang Mahyeldi, pertanian merupakan  usaha yang cukup menjanjikan. Terutama dalam berkebun bawang, ditambah lagi saat ini harga dan kebutuhan bawang sangat tinggi. <strong>(*/yki)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/5-tahun-terakhir-produksi-bawang-merah-di-agam-terus-naik/">5 Tahun Terakhir, Produksi Bawang Merah di Agam Terus Naik</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">95982</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Antisipasi Impor, Dinas Pertanian Ajak Petani di Tanah Datar Tanam Bawang</title>
		<link>https://langgam.id/antisipasi-impor-dinas-pertanian-ajak-petani-di-tanah-datar-tanam-bawang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Oct 2019 02:02:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bawang Merah]]></category>
		<category><![CDATA[bawang putih]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[Tanah Datar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=15522</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id &#8211; Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Tanah Datar mengimbau dan mengajak kelompok-kelompok tani setempat menanam bawang putih dan bawang merah. Hal tersebut untuk mengantisipasi fluktuasi harga di pasaran dan masuknya bawang impor dari negara lain. Pemkab menggelar pencanangan tanam bawang Nagari Koto Laweh Kecamatan X Koto, Sabtu (28/9/2019) lalu. Demikian dilansir Humas Pemkab Dharmasraya, Senin (30/9/2019). Pencanangan itu dihadiri Asisten Ekonomi dan Pembangunan Edi Susanto, Kadis Pertanian Yulfiardi dan Kepala Baperlitbang Alfian Jamrah di hamparan Kelompok Tani Gupisa. Edi Susanto mengatakan, Kementerian Pertanian tahun ini memberikan bantuan bibit bawang putih dan bawang merah, untuk seluruh wilayah Indonesia. &#8220;Tahun ini kita</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/antisipasi-impor-dinas-pertanian-ajak-petani-di-tanah-datar-tanam-bawang/">Antisipasi Impor, Dinas Pertanian Ajak Petani di Tanah Datar Tanam Bawang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id</strong> &#8211; Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Tanah Datar mengimbau dan mengajak kelompok-kelompok tani setempat menanam bawang putih dan bawang merah. Hal tersebut untuk mengantisipasi fluktuasi harga di pasaran dan masuknya bawang impor dari negara lain.</p>
<p>Pemkab menggelar pencanangan tanam bawang Nagari Koto Laweh Kecamatan X Koto, Sabtu (28/9/2019) lalu. Demikian dilansir Humas Pemkab Dharmasraya, Senin (30/9/2019).</p>
<p>Pencanangan itu dihadiri Asisten Ekonomi dan Pembangunan Edi Susanto, Kadis Pertanian Yulfiardi dan Kepala Baperlitbang Alfian Jamrah di hamparan Kelompok Tani Gupisa.</p>
<p>Edi Susanto mengatakan, Kementerian Pertanian tahun ini memberikan bantuan bibit bawang putih dan bawang merah, untuk seluruh wilayah Indonesia.</p>
<p>&#8220;Tahun ini kita Kabupaten Tanah Datar mendapat bantuan untuk pengembangan bawang putih dan bawang merah seluas 125 hektar. Hal ini juga sekaitan dengan diversifikasi ekonomi di bidang pertanian,&#8221; ucapnya.</p>
<p>Yulfiardi mengatakan untuk kebutuhan benih bawang putih secara nasional tahun 2021 sebanyak 20 ribu hektar. Tanah Datar mendapat alokasi sekitar 12 hektar lahan yang akan dikembangkan lagi.</p>
<p>Mengingat bantuan ini merupakan dana APBN, Yulfiardi berharap pada kelompok tani untuk mengembangkan tanaman bawang putih ini secara baik.</p>
<p>Edi Susanto mengatakan, hasil pertanian yang berhasil dapat mengendalikan inflasi daerah, terutama di Tanah Datar.</p>
<p>Menurutnya, Tanah Datar terkhusus Kecamatan X Koto memiliki hawa yang sejuk dan tanah yang subur sehingga sangat cocok untuk bertanam sayur-sayuran.</p>
<p>&#8220;Saat ini kita lakukan penanaman bawang putih dan bawang merah di kelompok tani Gupisa Panyalaian Nagari Koto Laweh sekaligus pencanangan. Kita berharap ini dapat memovifasi keltan lain di wilayah Tanah Datar,&#8221; katanya.</p>
<p>Kepala Baperlitbang Alfian Jamrah gerakan tersebit sangat bermanfaat bagi Kabupaten Tanah Datar, maupun Provinsi Sumatera Barat. &#8220;Diharapkan nanti dapat meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi,&#8221; ucapnya.</p>
<p>Alfian pencanangan dimulai dari Kecamatan X Koto karena wilayah tersebut merupakan sentra sayuran. Namun tidak menutup kemungkinan penanaman bawang ini juga dapat menyebar keseluruh wilayah Tanah Datar, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.</p>
<p>Alfian juga memuji hamparan Kelompok Tani Gupisa ini yang memiliki hawa yang sejuk dan pemandangan yang indah, sehingga menurutnya juga dapat dijadikan sebagai objek wisata agro. (*/SS)</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/antisipasi-impor-dinas-pertanian-ajak-petani-di-tanah-datar-tanam-bawang/">Antisipasi Impor, Dinas Pertanian Ajak Petani di Tanah Datar Tanam Bawang</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">15522</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pemkab Pessel Targetkan Bawang Merah Jadi Komoditi Andalan</title>
		<link>https://langgam.id/pemkab-pessel-targetkan-bawang-merah-jadi-komoditi-andalan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Furqan]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Sep 2019 23:00:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bawang Merah]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[Pesisir Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[petani]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langgam.id/?p=14099</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langgam.id – Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatra Barat menargetkan sektor pentanian menjadi program unggulan, salah satunya Bawang Merah. Dikatakan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultutra Pessel, Nuzirwan menyebutkan, upaya meningkatkan program unggulan pertanian agar ekonomi dan kesejahteraan masyarakat semakin meningkat. “Saat ini, tercatat masyarakat yang menggantungkan hidup sebagai petani masih di atas angka 65 persen dari jumlah total keseluruan mayrakat Pessel, yaitu sebanyak 564 ribu jiwa,” ujar Nuzirwan melalui rilis yang diterima Langgam.id, Selasa (10/9/2019). Agar pencapaian target bahwa sektor pertanian akan dijadikan program andalan, kata Nuzirwan, Pemkab Pessel juga menyalurkan berbagai bantuan, baik berupa bibit, pupuk ataupun peralatan</p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pemkab-pessel-targetkan-bawang-merah-jadi-komoditi-andalan/">Pemkab Pessel Targetkan Bawang Merah Jadi Komoditi Andalan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Langgam.id – </strong>Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatra Barat menargetkan sektor pentanian menjadi program unggulan, salah satunya Bawang Merah.</p>
<p>Dikatakan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultutra Pessel, Nuzirwan menyebutkan, upaya meningkatkan program unggulan pertanian agar <a href="https://langgam.id/jaga-kestabilan-perekonomian-daerah-pessel-perkuat-lumbung-pangan-berbasis-masyarakat/">ekonomi dan kesejahteraan masyarakat</a> semakin meningkat.</p>
<p>“Saat ini, tercatat masyarakat yang menggantungkan hidup sebagai petani masih di atas angka 65 persen dari jumlah total keseluruan mayrakat Pessel, yaitu sebanyak 564 ribu jiwa,” ujar Nuzirwan melalui rilis yang diterima <a href="http://www.langgam.id"><strong>Langgam.id</strong></a>, Selasa (10/9/2019).</p>
<p>Agar pencapaian target bahwa sektor pertanian akan dijadikan program andalan, kata Nuzirwan, <a href="https://langgam.id/?s=Pessel">Pemkab Pessel</a> juga menyalurkan berbagai bantuan, baik berupa bibit, pupuk ataupun peralatan pertanian.</p>
<p>“Untuk percepatan pertumbuhan perekonomian petani, itu ada empat produk unggulan, yaitu Bawang Merah, Padi, Jagung dan Cabai,” jelasnya.</p>
<p>Khusus untuk Bawang Merah, Nuzirwan mengklaim sudah mulai mengembangkan di lahan seluas ratusan hektar, dikelola oleh kelompok tang yang tersebar di sebelas kecamatan.</p>
<p>Dikatakannya, dalam pengembangan komoditi tersebut, disediakan anggaran pada masing-masing komoditi, itu akan digunakan untuk membeli bibit, pupuk dan kebutuhan lainnya oleh petani.</p>
<p>“Ini upaya agar pengembangan dilakukan benar-benar tepat sasaran. Petani juga selalu diawasi oleh petugas di lapangan,” jelasnya.</p>
<p>Menurut Nuzirwan, pengembangan Bawang Merah di <a href="https://langgam.id/?s=Pessel">Pessel</a>, yaitu membudidayakan Bawang Merah dataran rendah yang berada di Bayang Utara, Bayang, Batang Kapas, Sutera dan Lengayang.</p>
<p>“Jenis bawang di dataran rendah sudah dikembangkan sejak beberapa tahun terakhir. Beberapa kali penanaman, hasil yang diperoleh cukup memuaskan,” ucapnya.</p>
<p>Diketahui, <a href="https://langgam.id/?s=Pessel">Pemkab Pessel</a> juga terus mendorong petani agar terus melakukan budidaya. “Kita menilai, <a href="https://langgam.id/?s=Pessel">Pessel</a> memiliki potensi untuk pengembangan Bawang Merah dataran rendah yang cukup luas, yaitu mencapai 2.500 hektar,” katanya.</p>
<p>Lalu, kebutuhan konsumsi masyarakat terhadap Bawang Merah di daerah itu, mencapai 18.750 ton dalam satu tahun. “Jika Bawang Merah dikembangkan di lahan seluas 2.500 hektar, maka kebutuhan akan tercapai,” ujarnya. <strong>(*/ZE)</strong></p>
<p>The post <a href="https://langgam.id/pemkab-pessel-targetkan-bawang-merah-jadi-komoditi-andalan/">Pemkab Pessel Targetkan Bawang Merah Jadi Komoditi Andalan</a> appeared first on <a href="https://langgam.id">Langgam.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">14099</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 24/98 objects using Redis
Page Caching using Disk: Enhanced 
Content Delivery Network Full Site Delivery via cloudflare
Fragment Caching 3/5 fragments using Redis

Served from: langgam.id @ 2026-06-07 04:22:55 by W3 Total Cache
-->