Menyusur Sejarah 4 Sungai, Jalur Dagang Minangkabau ke Timur

Menyusur Sejarah 4 Sungai, Jalur Dagang Minangkabau ke Timur

Ilustrasi peta 4 jalur sungai dari Sumbar ke timur. (Peta: openstreetmap.org)

Langgam.id - Empat jalur sungai yang berhulu di Sumatra Barat dan bermuara di Selat Malaka, menyimpan cerita panjang selama berabad-abad. Kejayaan ekonomi, pembauran budaya dan peradaban adalah sebagian dari catatan di sepanjang jalur transportasi dan perdagangan masa silam itu.

Empat sungai bersejarah itu adalah Rokan, Kampar, Kuantan (Indragiri) dan Batanghari. Jejak sejarahnya sudah ratusan tahun, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengesahkan PP No. 38 Tahun 2011 tentang Sungai.

Peraturan, yang hari penetapannya pada 27 Juli 2011, dijadikan sebagai hari sungai nasional, tepat delapan tahun lalu dari Sabtu (27/7/2019) ini.

Buku Geografi Sejarah Riau (1983) menyebutkan, panjang Sungai Rokan dengan anak sungai Rokan Kiri dan Rokan Kanan mencapai 260 kilometer. Sungai Kampar, dengan hulu sungai Kampar Kiri dan Kampar Kanan lebih panjang, mencapai 325 kilometer.

Sementara, Sungai Indragiri yang di hulu bernama Batang Kuantan dan lebih ke hulu lagi terbagi ke Batang Ombilin dan Batang Sinamar, panjangnya sekitar 250 kilometer.

Sumber lain menyebutkan, panjang Sungai Rokan dan Kampar mencapai 400 kilometer dan Indragiri mencapai 500 kilometer. Sedangkan Batanghari adalah yang terpanjang di antara empat sungai. Panjang sungai ini mencapai 800 kilometer sejak dari hulunya di Kabupaten Solok Selatan, Sumbar sampai ke muaranya dekat Muara Sabak, Jambi.

Sejarawan Universitas Andalas Gusti Asnan kepada Langgam.id menyebutkan, bukti sejarah yang ditemukan di Sumbar, membuktikan sudah ada peradaban di sekitar sungai-sungai tersebut sejak abad ke-7.

"Sungai-sungai tersebut punya peranan besar dalam peradaban awal di Sumbar sebagai jalur transportasi dan perdagangan. Peranannya terus berlanjut ke masa setelah Islam masuk dan pada Zaman Hindia Belanda," katanya.

Di tepi Sungai Batanghari, tepatnya di Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat, ditemukan Arca Amoghapasa. Arca ini dikirim Raja Singosari Kertanegara pada 1286 sebagai hadiah kepada raja dan rakyat Kerajaan Malayu Dharmasraya. Ekspedisi persahabatan tersebut, dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu.

Masih di sekitar lokasi yang sama, juga ditemukan Arca Bhairawa yang dipercaya sebagai wujud Raja Adityawarman. Bambang Budi Utomo dalam Buku 'Atlas Sejarah Indonesia Masa Klasik (Hindu-Buddha), menyebutkan, Adityawarman mulai memerintah di Dharmasraya sejak 1347.

Selain arca, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) juga mencatat temuan candi dan bahkan pecahan keramik yang berasal dari abad ke-7. Hal yang menandakan, sudah ada peradaban di kawasan itu jauh sebelum masa Amogaphasa.

Di tepi hulu Sungai Rokan, yang bernama Batang Sumpur, Kabupaten Pasaman, Bambang mencatat penemuan Situs Tanjung Medan. Di lokasi ini ditemukan kepingan yang berasal dari bentuk sebuah piring emas. Mengutip FDK Bosch, diperkirakan prasasti yang ditulis di kepingan itu berasal dari abad ke-12. Sementara Suleiman dan De Casparis memperkirakan berasal dari abad ke-13 atau 14.

Sementara, di pinggir Sungai Kampar Kanan yang merupakan hulu Sungai Kampar ditemukan Komplek Stupa Muara Takus. Komplek ini terdapat di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Riau, yang letaknya tak jauh dari perbatasan Sumbar.

Wartawan Senior Fachrul Rasyid HF mengatakan, jalur perdagangan tertua yang menghubungkan Minangkabau dengan dunia luar adalah melalui Sungai Kampar.

"Diperkirakan telah bermula sejak Kerajaan Muara Takus sekitar abad ke 7 Masehi. Sejak itu Muara Takus sudah berhubungan dengan Selat Melaka dan berhubungan dengan pedagang asal Cina, India, Arab dan Eropa," tulisnya dalam Artikel 'Sumatera Barat Berkiblat ke Timur' dalam Majalah Rantau Edisi Februari 2010.

Menurutnya, para pedagang menjual hasil hutan seperti kemenyan, damar dan rotan. Hasil hutan itu diangkut dengan perahu kajang ukuran 2x9 meter beratap daun palam diawaki empat sampai enam orang. Perahu ini mampu memuat 2 hingga 3,5 ton barang. Berlayar dari Sibiruang di hulu Sungai Kampar atau Pangkalan di pinggir Batang Mahat, anak sungai Kampar, menuju Selat Melaka.

Bila Muara Takus masuk wilayah administrasi Provinsi Riau, Pangkalan masuk wilayah adminisitatif Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar.

Fachrul menulis, para pedagang menghabiskan waktu hampir satu bulan pulang-pergi."Melewati Taratak Buluh, Kuntu, Lipat Kain, Pangkalan Kerinci, Pangkalan Serai, Pangkalan Kapas, Pangkalan Indarung, Pangkalan Bunut, Palalawan sampai ke Kuala Kampar," tulisnya.

Di sini, menurut Fachrul, hasil hutan dijual kepada pedagang dari Arab, India dan Cina. Setelah gambir jadi komoditi andalan di Selat Malaka, pedagang Minangkabau berhubungan langsung dengan Kesultanan Johor yang saat itu membawahi hampir seluruh Semenanjung Malaysia.

Kembali dari 'laut', sebutan Selat Melaka kala itu, para pedagang membawa dagangan seperti garam, tekstil, peralatan rumah tangga, perhiasan, kain sutra dan sebagainya.

Sejarah yang panjang di sepanjang jalur sungai, membuat terjadi pembauran budaya dan juga bahasa. "Salah satu bukti budaya yang bisa kita lihat sampai sekarang, adanya kemiripan logat dan penggunaan kata tertentu di daerah-daerah sepanjang jalur sungai," ujar Fachrul, saat berbincang dengan langgam.id.

Menurutnya, perdagangan di jalur Sungai Kampar mulai sepi setelah penjajah Belanda membangun jalan Kelok Sembilan tahun 1932.

"Setelah menguasai pelabuhan sungai Pangkalan Kotobaru Belanda membuka jalan di sepanjang Sungai Kampar, dari Danau Bingkuang ke Lipat Kain, hinggga ke Logas. Perdagangan jalur Sungai Kampar ke Selat Melaka baru berhenti ketika Jepang menduduki Indonesia dan membangun jalan dari Danau Bingkuang ke Pekanbaru, seperti adanya sekarang."

Selain itu, menurutnya, saat generasi raja-raja Muara Takus beralih ke Siguntur (kini Kabupaten Dharmasraya) keramaian jalur perdagangan sungai beralih ke Sungai Indragiri dan anak-anak sungainya, antara lain Batang Ombilin dan Batang Sinamar.

Siguntur membuat pelabuhan pengumpul terbesar di wilayahnya yang berada di pinggir Batang Ombilin. "Para pedagang lokal mulai dari Sitiung, Jambu Lipo, Lubuk Tarok, bahkan dari Padang Ganting dan Lintau membawa hasil hutan dan tambang ke Siguntur," tulis mantan wartawan Tempo dan Gatra itu.

Pedagang Siguntur, menurutnya, kemudian menjualnya kepada pedagang asal India, Cina, Arab dan Eropa. Atau menggunakan perahu melayari Sungai Indragiri melewati Teluk Kuantan, Cerenti, Rengat, terus ke Tembilahan.

Bersamaan dengan itu, menurut Fachrul, juga berkembang jalur perdagangan lewat jalur Sungai Batanghari. "Pelabuhan satelit di jalur ini adalah Pulau Punjung dan Sungai Dareh. Kedua daerah ini mengumpulkan hasil hutan dan hasil tambang dari pedalaman Minangkabau melalui anak-anak sungai Batanghari," tulisnya.

Jalur sungai lain yang ramai adalah Batang Rokan. Di hulu, sungai ini bernama Batang Sumpur. Berhulu di Kenagarian Jambak, Lubuk Sikaping, terus ke Panti- Rao, lalu perbatasan Sumatera Barat. Sampai di wilayah Kerajaan Rokan, kini Kabupaten Rokan Hulu, terus ke Bagan Siapi-api, Riau, di bibir Selat Melaka, bernama Sungai Rokan.

Perdagangan di jalur Sungai Rokan, menurut Fachrul, berkembang pesat saat jayanya kerajaan Rokan, Kerajaan Rambah dan Kerajaan Tambusai. Masanya, sekitar abad ke 18 hingga pertengahan abad ke 20.

"Kerajaan yang berada di bawah Kerajaan Pagaruyung/ Minangkabau itu menguasai perdagangan hingga ke pedalaman Pasaman dan Tapanuli Selatan, daerah penghasil emas, beras, kopi dan kasiavera," tulisnya.

Sekitar abad ke 19, wilayah tersebut dikuasai Padri dan salah satu penyebab perang berkepanjangan antara Padri dan Pemerintah Hindia Belanda.

Menurutnya, sejarah telah membuktikan kejayaan perdagangan dengan 'kiblat' timur melalui jalur empat sungai. Sehingga, pemerintah daerah saat ini, perlu memperlancar dan membuka jalur darat baru ke arah timur, untuk mengulang sukses sejarah itu. (HM)

Baca Juga

29 November dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat
29 November dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat
27 November dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat
27 November dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat
26 November dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat
26 November dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat
25 November dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat
25 November dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat
23 November dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat
23 November dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat
21 November dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat
21 November dalam Catatan Sejarah Sumatra Barat